Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2017/11/11

Sabtu, 11 November 2017 (Minggu ke-22 sesudah Pentakosta)

Yesaya 12:1-6
Nyanyian Kegembiraan

Apa yang dijanjikan Tuhan disambut umat dengan nyanyian syukur. Umat bersyukur karena kemarahan Tuhan sudah reda. Sekarang Tuhan berjanji akan memberikan penghiburan kepada mereka (1). Dia menjadi kekuatan dan keselamatan umat (2). Derita telah berakhir, bagai air sejuk yang menghapus air mata (3). Dengan penuh sukacita umat memuji akan kebaikan Tuhan. Tindakan umat ini menunjukkan perbuatan-Nya yang baik kepada segala bangsa (5).

Madah syukur kerap kali digunakan sebagai ungkapan kegembiraan umat Israel. Biasanya ungkapan syukur dinyanyikan selepas melewati masa sukar. Lewat madah ini Yesaya mengajak umat melihat ke belakang dan belajar dari kemarahan sekaligus kemurahan Allah. Belajar dari kemarahan Allah agar umat tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Apa yang telah dilakukan umat sangat menjijikkan di mata Allah. Karena itulah mereka menerima hukuman Allah. Sekalipun hukuman terasa berat, namun hal itu bukan akhir dari karya Allah. Itulah sebabnya mereka diajak juga belajar dari kemurahan Allah agar mampu bergembira karena kebaikan dan keselamatan yang dikerjakan Tuhan bagi mereka.

Kemurahan hati dan tangan perkasa-Nya yang membuat umat mampu terbebaskan dari derita pembuangan dan disatukan kembali menjadi satu bangsa, setelah terserak ke berbagai penjuru. Dalam kemurahan-Nya, Allah menjanjikan penyertaan-Nya hingga mereka akan menjadi bangsa yang besar dan setia kepada-Nya. Kegembiraan inilah yang perlu menjadi bagian dari keseharian umat melalui mazmur syukur. Lewat kegembiraan itulah kebaikan Tuhan didengar oleh bangsa-bangsa lain.

Belajar dari ungkapan syukur Israel, pemberitaan kebaikan Tuhan justru dilakukan melalui hidup yang penuh kegembiraan. Namun, bukan berarti penderitaan tidak pernah mendera kita. Sebaliknya di tengah derita yang dialami, kita masih mampu bergembira karena Tuhan menyertai dan mendatangkan kebaikan dan damai sejahtera-Nya dalam kehidupan umat-Nya. [ASP]


Baca Gali Alkitab 2

Yesaya 11:11-16

Kekalahan kerajaan Yehuda dan Israel bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan tempur di medan perang. Kekalahan mereka disebabkan oleh murka Tuhan atas segala pelanggaran umat-Nya. Itu sebabnya Tuhan menyerahkan umat-Nya dikalahkan dan menjadi budak bangsa-bangsa lain. Namun Tuhan yang sama juga akan menyatukan kaum sisa yang terserak ke segala penjuru untuk dipulihkan kembali.

Apa saja yang Anda baca?
1. Siapa yang mengangkat tangan untuk menebus kaum sisa Israel? Di manakah kaum sisa itu tersebar (11)?
2. Apa yang akan dilakukan Tuhan terhadap rencana-Nya itu (12)?
3. Apa konflik yang terjadi di antara Efraim dan Yehuda dan bagaimana Tuhan mengatasinya (13)?
4. Apa yang akan diberikan Tuhan kepada umat-Nya atas bangsa-bangsa lain yang selama ini bersukacita atas penderitaan Israel (14)?
5. Apa yang akan terjadi pada kerajaan Mesir (15)?
6. Apa yang akan terjadi pada kerajaan Asyur (16)?

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Mengapa sampai begitu lamanya Tuhan baru mau memulihkan umat-Nya?
2. Mengapa Tuhan menghukum juga bangsa-bangsa lain yang pernah dipakai oleh Allah untuk mendidik umat-Nya?

Apa respons Anda?
1. Apa yang akan dilakukan ketika Anda melakukan pelanggaran dan ternyata Tuhan menghukum Anda?

Pokok Doa:
Agar kita melihat hukuman Tuhan sebagai bentuk kasih terhadap orang yang dikasihi-Nya.

Pengantar Kitab Ratapan

Kitab Ratapan adalah puisi kuno yang disebut dirge (nyanyian pemakaman). Kitab, yang menurut tradisi ditulis Yeremia ini, terdiri atas lima syair yang meratapi jatuhnya Yerusalem ke tangan Babel pada 586 sM, kehancuran dan masa pembuangan sesudah itu.

Dalam Septuaginta-terjemahan Yunani dari Perjanjian Lama-terdapat catatan bahwa Yeremia mengucapkan ratapan-ratapan ini ketika duduk di sisi bukit sembari memandang Yerusalem yang telah menjadi puing-puing. Dan berabad-abad kemudian Yesus Orang Nazaret pun melakukan hal yang sama ketika Dia menangisi Kota Yerusalem.

Menurut Ray C. Stedman, setiap pasal menekankan aspek khusus dari kesedihan. Pasal 1 menggambarkan kesedihan mendalam; pasal 2 menggambarkan mutlaknya hukuman Allah atas ketidaksetiaan umat; pasal 3 menyatakan reaksi Yeremia sendiri; pasal 4 berisi penyangkalan akan hancurnya Yerusalem; dan pasal 5 berisi kehinaan mutlak dari hukuman, mereka sungguh merasa dipermalukan dan memohon pemulihan Allah.

Kitab Ratapan mengajar kita bahwa manusia sejatinya memang lemah, terbatas, dan cenderung berbuat jahat. Dan karena itulah, meratap merupakan tindakan yang wajar, bahkan sudah semestinya. Meski hati kita ingin berbuat baik, tetapi yang jahatlah yang kita perbuat. Dan itu pulalah yang dikeluhkan Paulus: "Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka!" (Rm. 7:22-24).

Ketika manusia melihat dirinya, maka meratap merupakan keniscayaan. Tetapi, di dalam ratapan itu kita juga bisa memohon belas kasihan Allah. Dan itulah yang dilakukan Yeremia ketika berkata, "Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Rat. 3:21-23). Dan itulah modal utama umat Allah hingga kini!

 

Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks.
Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org