Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2017/05/15

Senin, 15 Mei 2017 (Minggu Paskah ke-5)

1 Tawarikh 29:1-30
Harta dan Takhta

Dalam 1Taw. 29:28 tertulis, "Kemudian matilah ia pada waktu telah putih rambutnya, lanjut umurnya, penuh kekayaan dan kemuliaan". Demikianlah penulis 1 Tawarikh melukiskan kematian Daud-kaya, terhormat, dan usia lanjut. Dan pada akhir hidupnya Daud setidaknya melakukan tiga hal penting.

Pertama, Daud menyadari bahwa meski dia telah menyiapkan segala sesuatu bagi pembangunan Bait Suci, namun semuanya itu masih belum cukup. Pekerjaan pembangunan Bait Suci merupakan pekerjaan besar berdasarkan prinsip bahwa Bait Suci itu dibuat bukan untuk manusia, melainkan untuk TUHAN (2). Dan karena itu, pada akhir hidupnya Daud masih melakukan penggalangan dana di kalangan umat Israel. Daud menjadikan dirinya teladan dengan mempersembahkan 3.000 talenta (sekitar 100 ton) emas Ofir dan 7.000 talenta (sekitar 240 ton) perak murni. Itu jugalah yang mendorong umat rela mempersembahkan apa yang mereka miliki kepada TUHAN. Dan mereka semua bersukacita karena telah melakukannya.

Kedua, Daud mengajak umat Israel bersyukur atas aksi penggalangan dana itu. Daud maupun umat sama-sama mengakui bahwa semua yang mereka persembahkan berasal dari Allah. Karena itu mereka rela mengembalikannya lagi kepada Allah (14, 16). Daud juga memohon kepada Allah agar senantiasa memelihara hati umat dan anaknya Salomo untuk terus mengarahkan hati mereka kepada Allah. Kerinduan memberi sebenarnya karya Allah pula.

Ketiga, Daud mengadakan pelantikan terhadap Salomo sebagai raja Israel. Biasanya raja baru diangkat setelah seorang raja mangkat. Daud berbeda. Dia tidak ingin menjadi raja seumur hidup. Daud agaknya tipe manusia yang rela melepaskan takhtanya sewaktu masih hidup.

Ketiga hal yang dilakukan Daud memperlihatkan dia bukan tipe orang yang sudah duduk lupa berdiri. Daud agaknya memahami bahwa baik harta maupun kuasa pada dasarnya merupakan pemberian Allah. Karena itu, dia tidak mati-matian mempertahankannya. Sebab semuanya pada dasarnya milik Allah semata. [YM]

Pengantar 2 Tawarikh

Kitab 2 Tawarikh masih mencatat kelanjutan kisah dari kesatuan kerajaan pada zaman Daud, yang dimulai dari 1Taw. 10:13-29:30. 2 Tawarikh juga mencatat aktivitas Salomo setelah ia menjadi raja yang bijak dan berkuasa. Mulai pasal 1 sampai 9 adalah catatan tentang kejayaan dan keagungan kerajaan kesatuan Israel. Salomo mendapatkan kesempatan yang istimewa karena ia dipilih oleh Tuhan untuk membangun Bait Suci. Selain Bait Suci, Salomo juga membangun istana yang megah dan mewah. Hampir setengah dari masa pemerintahan Salomo (8:1; bdk 9:30) dipakai untuk pembangunan.

Penulis kitab Tawarikh mencatat tentang kelangsungan perjanjian kerajaan antara Tuhan dengan Daud dan keturunannya. Pada masa pemerintahan Daud, Tuhan memberikan kemenangan kepada Daud atas musuh-musuhnya. Ia juga diberi kemampuan oleh Tuhan untuk menata kerajaannya dan memerintah rakyat Israel dengan teratur. Lalu Daud mempersiapkan pembangunan Bait Allah dan mengangkat Salomo sebagai raja atas Israel. Di bawah kepemimpinan Salomo, kerajaan Daud mencapai puncak kemuliaannya.

Setelah kematian Salomo, masa kejayaan Israel semakin memudar dan terpecah menjadi dua kerajaan, yakni Kerajaan Utara (10 suku) dan Kerajaan Selatan (2 suku). Kerajaan Utara dipimpin oleh Yerobeam seorang Efraim, pegawai Salomo. Sedangkan Rehabeam, keturunan Salomo, yang menjadi raja atas Kerajaan Selatan (suku Yehuda dan Benyamin). Kemerosotan bangsa Israel bertambah rusak karena kecenderungan hati mereka bukan pada kebenaran Allah, melainkan pada perilaku yang jahat. Meskipun pernah terjadi reformasi, namun hal itu tidak menyeluruh dan berlangsung lama. Pemberontakan dan ketidaksetiaan kepada Tuhan terus-menerus terulang dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Akhirnya Tuhan menghukum bangsa Israel ke pembuangan, yaitu: Kerajaan Utara dibuang ke Asyur dan Kerajaan Selatan dibuang ke Babilonia.

Satu catatan yang sangat istimewa dalam kitab 2 Tawarikh adalah mengenai Raja Koresy, dari kerajaan negeri Persia. Tuhan memakai Koresy sebagai alat penghukuman atas Babilonia dan alat pembebasan bagi Israel dari pembuangan untuk pulang ke negerinya demi membangun rumah Allah di Yerusalem.

 

Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks.
Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org