|
Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
https://sabda.org/https://sabda.org/publikasi/e-sh/2025/12/19 |
|
Jumat, 19 Desember 2025 (Minggu Adven ke-3)
|
|
|
Kitab Ulangan pasal 26 mengajarkan tentang persembahan hasil pertama atau sulung (1-11), persepuluhan (12-15), dan janji serta berkat Allah bagi umat-Nya (16-19). Menariknya, bagian ini menegaskan siapa yang berhak atas persembahan sulung dan persepuluhan, yaitu kaum Lewi, orang asing, anak yatim, dan janda (11-12). Prinsip mendasar dari persembahan sulung dan persepuluhan adalah umat diajar menyadari bahwa Allah adalah sumber rezeki yang melimpahkan berkat bagi umat Nya. Berkat yang melimpah itu tecermin dalam pemberian bagi kelompok atau orang yang membutuhkan, baik di dalam Bait Allah (orang Lewi) maupun di luar Bait Allah (orang asing). Suku Lewi adalah suku yang tidak memperoleh bagian tanah pusaka di Israel. Sedangkan orang asing diartikan sebagai etnis atau bangsa di luar Yahudi. Orang asing hidup sebagai pendatang, dan tentunya mereka tak memiliki lahan. Karena itulah Allah menyediakan berkat bagi suku Lewi, orang asing, anak yatim, dan janda melalui kepedulian umat-Nya. Memberi persembahan adalah cara Tuhan mengajar kita untuk bersyukur. Di sisi lain ada pengajaran untuk mengikis ketamakan atau keserakahan. Tamak berarti cinta yang berlebihan atas harta dan kekayaan; tak peduli kepada orang lain yang berkekurangan. Perlu diingat bahwa ketamakan dan kepedulian tak dapat berjalan berdampingan. Tamak adalah kekejian bagi Tuhan karena ketamakan menjadikan orang merasa bahwa rezeki yang diterima adalah hasil usaha dan jerih lelah sendiri, dan tak jarang dinikmati sendiri. Allah menyediakan sarana atau wadah bagi kita untuk memberikan persembahan, baik melalui rumah Allah (gereja) atau dapat diberikan langsung kepada yang membutuhkan. Allah menempatkan mereka di sekitar kita, untuk mendidik dan menumbuhkan kepedulian kita sebagai anak-anak-Nya. Dalam setiap rezeki yang kita terima, ada bagian yang menjadi hak orang lain atau kelompok yang hidupnya berkekurangan. Jadi, marilah kita belajar peduli dan berbagi sehingga kita tak menjadi pribadi yang tamak. [MKD]
Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
|
|
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |