|
Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
https://sabda.org/https://sabda.org/publikasi/e-penulis/40 |
|
e-Penulis edisi 40 (20-2-2008)
|
|
______________________________________________________________________
e-Penulis
Menulis untuk Melayani
Edisi 040/Februari/2008
NILAI-NILAI YANG HARUS DIPEGANG OLEH SEORANG PENULIS KRISTEN
= DAFTAR ISI =
* Dari Redaksi : Standar Tinggi untuk Para Penulis Kristen
* Mutiara Penulis
* Artikel : Alkitab dan Penulis
* Tips : Sepuluh Perintah Allah dan Satu Korintus Tiga
Belas bagi Jurnalis Kristen
* Tokoh Penulis : Sesempurnanya Hidup dan Mati
* Pojok Bahasa : Pemakaian Tanda Titik (.)
* Seputar Pelitaku: Forum Diskusi Topik Edisi Publikasi E-Penulis
dan Seputar E-Penulis
* Stop Press! : Pembukaan Kursus Baru PESTA: Kursus Pernikahan
Kristen Sejati (PKS)
____________________________DARI REDAKSI______________________________
STANDAR TINGGI UNTUK PARA PENULIS KRISTEN
Kita boleh menulis apa saja yang kita inginkan, sesuai dengan ide,
ketertarikan, atau minat kita pada bidang tertentu. Tetapi para
Sahabat Penulis hendaknya mengingat bahwa setiap torehan kata harus
dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan maupun sesama.
Sahabat Penulis, karena Anda adalah calon atau seorang penulis
Kristen, itu berarti ada nilai-nilai dan tanggung jawab ekstra saat
menuliskan kata demi kata dalam tulisan Anda. Setiap tulisan
hendaknya seturut dengan isi hati-Nya. Allah dan para pembaca
menuntut standar tinggi dalam hal integritas dan kejujuran di setiap
tulisan Anda. Jika setiap penulis Kristen menetapkan standar nilai
yang tinggi dalam setiap tulisannya, tentu akan ada peningkatan
standar mutu/kualitas pula dalam penerbitan Kristen. Dengan semua
harapan yang dituntut dari para penulis Kristen di atas, bagaimana
Sahabat Penulis dapat mulai menulis sehingga setiap kata dapat
mencerminkan isi hati Allah?
Redaksi mengajak Sahabat Penulis sekalian untuk menyimak setiap
sajian e-Penulis di bulan Februari ini. Mulailah menulis berdasarkan
konsep-konsep dalam Alkitab, bukan hanya untuk tulisan rohani saja,
tetapi juga tulisan umum. Silakan simak uraiannya dalam kolom
Artikel. Jangan lupa untuk menengok kolom Tips karena ada beberapa
panduan alkitabiah bagi para jurnalis Kristen.
Oke, biarlah setiap sajian dalam edisi ini semakin memantapkan
langkah kita untuk terus menjadi seorang "penulis Kristen".
Selamat menulis bagi kemuliaan nama-Nya.
Staf Redaksi e-Penulis,
Davida Welni Dana
___________________________MUTIARA PENULIS____________________________
SANGATLAH PENTING MELIBATKAN PERASAANMU DALAM TULISANMU
_______________________________ARTIKEL________________________________
ALKITAB DAN PENULIS
Mencari nafkah hanya dari tulisan kristiani tidaklah mungkin untuk
saat ini. Tetapi untuk menjadi penulis yang profesional bukanlah
suatu hal yang mustahil. Dalam pertemuan-pertemuan penulis Kristen,
yang tidak boleh dilupakan ialah bagaimana menyampaikan firman Allah
dalam bahasa yang dipahami oleh manusia pada zaman ini. Bagaimana
caranya menggunakan alat tulis untuk menghasilkan tulisan yang baik,
yang memberikan pedoman hidup bagi umat manusia tanpa memberi kesan
menggurui atau mengkhotbahi. Teknik-teknik penulisan umum dan
kristiani tidak jauh berbeda. Tetapi penulisan kristiani berangkat
dari suatu konsep yang sudah pasti. Sedangkan menulis untuk majalah
umum tidak selamanya demikian. Banyak tulisan yang dibuat penulis
hanya sekadar untuk menyenangkan hati atau memuaskan intelek, emosi,
atau kepentingan lainnya.
Penulis Kristen sangat mengutamakan kebenaran, kebenaran yang
terdapat di dalam kehidupan dan kebenaran di dalam wujud firman yang
telah menjadi Manusia. Kebenaran yang sejati itulah yang menjadi
pokok pemikiran penulis kristiani.
1. Menulis dengan menggunakan kisah dari Alkitab.
Para penulis dunia yang terkenal menimba inspirasinya dari
kisah-kisah dalam Kitab Suci. Para penyair sangat berutang budi
kepada Alkitab atas tema-tema besar yang mengilhami mereka. Ada
beribu-ribu cerita yang ditulis orang setelah membaca kisah
tentang Anak yang Hilang. Beribu-ribu artikel ditulis tentang
kisah itu. Kisah kehidupan Daud, Elia, Yusuf, dan Yesus Kristus
sendiri, telah melahirkan jutaan artikel yang ditulis orang
sepanjang masa. Para penulis menafsirkan kembali kisah-kisah
mereka dan menuliskan tanggapannya dalam bahasa yang sesuai
dengan zamannya.
Melalui cerita-cerita itu, bermunculan para penulis yang tangguh
sepanjang kehidupan manusia.
2. Kata kunci yang menjadi pegangan para penulis.
Banyak judul buku dan artikel yang dibuat berdasarkan frasa dari
Alkitab. Kata-kata kunci yang menjadi latar belakang pemikiran
dan kemudian dikembangkan sesuai dengan perkembangan pengetahuan
modern. Para penulis karangan kristiani menggunakan konkordansi
untuk memperkaya kata kunci yang dipilihnya, bilamana menulis
berdasarkan topik tertentu. Dan tulisan yang menurut topik itu
semakin berwarna dan segar di tangan penulis yang kreatif. Ia
merangkai sesuatu masalah yang terdapat di dalam Alkitab dengan
menggunakan disiplin, daya khayal, dan pengetahuan yang memadai
untuk itu.
Kisah robohnya tembok Yerikho dapat merangsang seorang penulis
untuk membahas sebagian kecil saja dari peristiwa itu, tetapi
mendalam dan menarik. Misalnya, berapa tebalkah tembok Yerikho
itu? Kalau ia mengadakan penelitian atas topik ini, hasilnya
pasti menarik bagi seorang editor dan bagi para pembaca pada
umumnya. Begitu pula tulisan mengenai Roh Kudus, masih belum
banyak dilakukan orang, padahal pokok mengenai masalah itu
banyak dibahas di dalam Kitab Suci.
Tentu saja penggalian dalam bidang ini memakan waktu yang cukup
banyak. Penulis yang telah memiliki disiplin akan tekun
menelusuri buku sumber dari berbagai perpustakaan, membaca
pelbagai ensiklopedi Alkitab, hasil penelitian para arkeolog,
dan sebagainya.
3. Menulis untuk mempertahankan Kitab Suci.
Kehadiran Kitab Suci di tengah-tengah umat manusia telah
menunjukkan ketahanannya sendiri. Banyak penulis yang menjadikan
Kitab Suci sebagai pokok masalah penulisan. Mereka menulis dan
membantah keterangan yang terdapat di dalamnya dengan bukti-bukti
yang berdasarkan "ilmu dan pengetahuan" manusia modern. Tetapi
sampai kini Alkitab tetap merupakan sebuah kitab yang paling
banyak dicetak dan diterjemahkan di seluruh permukaan dunia ini
dan sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Alkitab telah membuktikan kehadirannya sendiri. Alkitab telah
berjuang untuk dirinya dan ternyata tetap hidup di dalam hati
manusia. Kitab yang hidup di dalam hati manusia adalah kitab yang
tidak akan pernah dihapuskan. Apalagi di dalamnya terkandung
kebenaran yang sejati dan kebenaran yang mendatangkan kehidupan
yang kekal.
Sayangnya, banyak juga penulis yang mengutip ayat-ayat Alkitab
dan mengacaukan isinya hanya sekadar untuk menunjukkan betapa
kitab itu tidak lagi relevan dengan pengetahuan masa kini. Di
samping mengacaukan, juga untuk mengatakan bahwa kitab itu sudah
kuno. Ayat-ayat Kitab Suci ditafsirkan di luar konteksnya!
Tetapi Alkitab tetap berdiri tegar di tengah-tengah manusia.
Allah sendiri mengatakan bahwa tidak ada kata-kata yang
diucapkan-Nya kembali dengan sia-sia atau hampa (Yesaya 55:11).
4. Tulisan berdasarkan kesaksian yang bermakna.
Artikel bukanlah sebuah khotbah. Dan khotbah bukanlah sebuah
artikel. Tetapi kedua-duanya sesungguhnya menghadirkan misi yang
tidak berbeda, hanya penampilan saja yang agak berbeda. Oleh
karena itu, seorang penulis yang memiliki kesaksian dari ayat
Alkitab, yang sangat bermakna baginya, dapat dituangkan dalam
bentuk artikel untuk menjadi kesaksian bagi orang lain.
Pengalaman pertobatan yang bermakna itu bila diramu dengan wadah
yang tepat akan menarik bagi penerbit.
Banyak sekali ayat Alkitab yang hidup di dalam diri para penulis
terkenal atau di dalam diri tokoh masyarakat yang masyhur
sepanjang zaman. Ikhwal mereka itu menarik untuk dibahas dalam
artikel yang kristiani.
Diambil dari:
Judul buku : Bagaimana Menjadi Penulis Kristen yang Sukses
Judul artikel: Alkitab dan Penulis
Penulis : Drs. Wilson Nadeak
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1989
Halaman : 68 -- 71
_________________________________TIPS_________________________________
SEPULUH PERINTAH ALLAH DAN SATU KORINTUS TIGA BELAS
BAGI JURNALIS KRISTEN
SEPULUH PERINTAH ALLAH BAGI JURNALIS
Jika umat Kristen memiliki "Sepuluh Perintah Allah" untuk ditaati
dan dilakukan, setiap jumalis Kristen pun perlu menaati dan
melakukan "Sepuluh Perintah Allah bagi Jurnalis" yang penulis
adaptasi dari tulisan Lee Wyndham, yaitu: (1) Kasihi bidang ini;
(2) Kasihi pembaca Anda; (3) Jangan mulai menulis sebelum didahului
dengan perenungan; (4) Anda harus tahu karakter tulisan Anda
sendiri; (5) Anda harus tahu tujuan tulisan Anda; (6) Anda harus
berhenti jika tujuan itu sudah tercapai; (7) Anda jangan menyembah
tulisan Anda seperti patung berhala; (8) Anda harus menulis dengan
jelas; (9) Anda harus mempelajari pasar dan baru mengirimkan tulisan
Anda; dan (10) Anda jangan berhenti sampai di situ, tetapi
menulislah terus demi sesama dan kemuliaan Tuhan.
SATU KORINTUS TIGA BELAS BAGI JURNALIS
Jika Rasul Paulus menulis tentang "kasih" yang luar biasa kepada
jemaat di Korintus, jurnalis Kristen pun perlu memiliki kasih di
dalam 1 Korintus 13 yang penulis sadur dari karya Marian Brincken
Forschler, yakni: (1) Sekalipun aku telah lulus Sekolah Tinggi
Komunikasi Massa atau Sekolah Tinggi Publisistik serta mengikuti
berbagai seminar literatur maupun training jurnalistik, tetapi jika
aku tidak memunyai kasih, tulisanku akan sama seperti gong yang
berkumandang dan carang yang gemerincing serta diejek orang sebagai
tong kosong yang nyaring bunyinya; (2) Sekalipun aku memunyai
karunia menulis dan talenta mengarang dan menguasai berbagai bahasa,
dan sekalipun aku memiliki segudang buku tulis-menulis dan
kewartawanan, jika aku tidak memunyai kasih, aku sama sekali tidak
berguna; (3) Dan sekalipun aku membagi-bagikan ilmu tulis-menulisku,
bahkan menerjuni dunia pelayanan literatur secara sepenuh waktu,
tetapi jika aku tidak memunyai kasih, sedikit pun tidak ada
faedahnya bagiku; (4) Kasih itu sabar menghadapi atasan yang rewel;
kasih itu murah hati untuk menyisihkan honor tulisan bagi pekerjaan
Tuhan; kasih itu tidak cemburu melihat wartawan lain menulis dengan
lebih baik. Kasih itu tidak memegahkan diri dan tidak sombong kalau
tulisannya berhasil menyabet Sea Write Award atau bahkan Pulitzer
Award; (5) Kasih itu tidak melakukan sesuatu yang tidak sopan, tidak
menghalalkan segala cara untuk mencari kepentingan sendiri, atau
tidak marah dan menyimpan kesalahan orang lain ketika melakukan
tugas peliputan; (6) Kasih itu tidak bersukacita jika tulisan
wartawan lain ditolak oleh redaktur; (7) Kasih itu menerapkan
prinsip: jika tidak memiliki bukti, ia percaya yang paling baik;
jika buktinya bertentangan, ia mengharapkan yang paling baik; jika
harapan itu dikecewakan, ia tetap sabar menantikan agar narasumber
itu bertobat; (8) Kasih itu tidak marah jika kesibukan kita diganggu
dan tulisan kita dikritik dengan tajam; (9) Sebab pengetahuan kita
terbatas dan kemampuan kita di bidang jurnalistik pun tidak
sempurna; (10) Tetapi jika kita tekun berlatih, tulisan kita makin
lama makin baik, dan tulisan yang tidak sempurna akan lenyap; (11)
Ketika aku belajar, tulisanku seperti anak-anak, karena aku berpikir
dengan pola pikir anak-anak. Sekarang aku menjadi dewasa, dan
tulisanku pun makin matang dan berbobot karena aku meninggalkan gaya
kekanak-kanakan itu; (12) Karena sekarang kita belum membayangkan
bagaimana karier dan masa depan kita nantinya, seperti melihat dalam
cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi dengan jaminan
keselamatan, kita akan memetik buah dan mahkota kehidupan yang Allah
sediakan bagi hamba-Nya yang setia; dan (13) Demikianlah tinggal
ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling
besar di antaranya ialah kasih. Kasih kepada Allah, kasih kepada
keluarga, kasih kepada atasan, kasih kepada sesama wartawan, kasih
kepada pembaca.
Diambil dari:
Judul buku : Menulis dengan Cinta
Judul bab : Bahan Pengajaran Jurnalistik Kristen
Judul artikel: Sepuluh Perintah Allah bagi Jurnalis dan Satu
Korintus Tiga Belas bagi Jurnalis
Penulis : Xavier Quentin Pranata
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 2005
Halaman : 82 -- 85
____________________________TOKOH PENULIS_____________________________
SESEMPURNANYA HIDUP DAN MATI
Setiap orang pergi dengan takdirnya sendiri.
Siang itu, usai berbicara dalam simposium "Meningkatkan Buku dalam
Upaya Membentuk Masyarakat Baru Indonesia" yang diselenggarakan
Yayasan Obor Indonesia di Hotel Le Meridien, Romo Mangun berjalan
menghampiri rekannya, Mohammad Sobari. Namun, begitu tiba di sisi
kolumnis itu, tubuhnya limbung. Sobari segera menyangga dan
membaringkannya di lantai Ruang Puri. Tanpa sempat berpamitan, pada
pukul 13.55 WIB, 10 Februari 1999, Romo berpulang.
Semua orang, apalagi pribadi sebaik Romo Mangun, meninggal di
pelukan Tuhan, tulis Sobari di Kompas keesokan harinya.
Setiap orang memang pergi dengan takdirnya sendiri. Romo Mangun di
ujung usianya itu sedang giat menggeluti pendidikan. Yayasan
Dinamika Edukasi Dasar yang ia dirikan sejak tahun 1980-an sedang ia
bangun lagi. Ini semata karena kekangenan.
Saya rindu menjadi guru SD, katanya dalam sebuah wawancara, 19 Mei
1994. Ia pun terjun mengajar dan juga belajar. Ia yakin bahwa
interaksi saling ajar antara guru dan murid adalah hal yang paling
menentukan keberhasilan pendidikan.
Biar pendidikan tinggi berengsek dan awut-awutan, namun jangan
telantarkan pendidikan dasar, ucapnya. Ia yakin, pendidikan dasar
yang benar akan melahirkan generasi yang cerdas.
MENIKAHI PUTRI AYU
Romo Mangun bukan orang miskin. Ayahnya menjabat Ketua DPRD Magelang
di zaman Belanda. Akan tetapi, sepanjang hidupnya orang miskin
memang selalu di dekatnya dan selalu ia bela. Yang paling dibutuhkan
orang miskin adalah harga diri, katanya dalam buku "Apa dan Siapa
Sejumlah Orang Indonesia", 1985-1986.
Ia lahir pada 6 Mei 1929 di Ambarawa sebagai sulung dengan sebelas
adik, dengan nama Yusuf Bilyarta. Ia menamatkan SD di Magelang pada
tahun 1943, SMP di Yogyakarta (1947), dan SMA di Malang (1951). Ia
juga bekerja sambilan sebagai Tentara Pelajar Brigade XVII, Kompi
Kedu. Ia pernah menjadi pengantar makanan Danyon Mayor Soeharto di
front Mranggen, Semarang.
Visi kerakyatannya terbentuk setelah ia mendengar pidato Danyon
Tentara Rakyat Indonesia Pelajar (TRIP), Mas Imam, saat dielukan
rakyat ketika memasuki Malang.
Jangan elukan kami, kami bukan pahlawan, tangan kami penuh lumuran
darah. Yang layak disebut pahlawan adalah rakyat yang terjajah dan
teraniaya.
Romo tersentak. Ia kemudian masuk seminari. Tahun 1959 ia
ditahbiskan sebagai Pastor Projo yang memimpin paroki dan
mendampingi masyarakat.
Cita-cita saya dulu jadi insinyur, menikah dengan putri ayu, punya
rumah, dan kalau malam minggu bisa piknik. Itu saja, tidak luar
biasa, kenangnya saat diwawancarai Forum Keadilan, edisi 4 Agustus
1994.
Gelar insinyur ia capai dengan belajar di Jurusan Arsitektur ITB
(1959-1960) dan berlanjut ke Sekolah Teknik Tinggi Rhein, Westfalen,
Aachen, Republik Federasi Jerman. Ia tamat pendidikan Teknik Sipil
tahun 1966. Akan tetapi, sebagai pastor, tentu ia tidak bisa
menyunting putri ayu, punya rumah, dan piknik di malam Minggu. Ia
justru membangun rumah yang lain, kompleks peziarahan Sendangsono,
Gedung Keuskupan Agung Semarang, Bentara Budaya Jakarta, dan
mendapat beberapa penghargaan arsitektur dunia.
Sejak tahun 1986, ia mendampingi masyarakat Kedungombo yang
menggugat karena waduk itu menggusur tanah mereka tanpa ganti rugi
berarti. Namun, pendampingan itu dicap sebagai upaya Romo untuk
melakukan kristenisasi. Ia bergeming. Pada tanggal 5 Juli 1994, MA
mengabulkan tuntutan kasasi 34 warga Kedungombo dengan ganti rugi
yang besar sekali.
Kedekatannya dengan rakyat melahirkan banyak inspirasi untuk
karyanya. Ia melahirkan novel Romo Rahardi (1981) yang bagi sebagian
pengamat merupakan citra diri Romo sendiri. Lalu trilogi novel
sejarah, Roro Mendut, Gendhuk Duku, dan Lusi Lindri. Karya terakhir,
Pohon-Pohon Sesawi, terbit setahun setelah kematiannya.
Karya Romo tidak terbilang banyak, tetapi juga tidak sepi dari
penghargaan. "Burung-burung Manyar" mendapat hadiah dari Ratu
Sirikit melalui "The South East Asia Write Award" pada tahun 1983
dan juga meraih penghargaan "The Professor Teeuw Award" di Leiden,
1996.
Karyanya kaya narasi filsafat, peleburan dikotomi Timur-Barat,
informasi teknologi, industri, dan tentu moralitas. Ia juga
mengeksplorasi bahasa Indonesia dengan kalimat yang panjang,
berbelit, nyaris melupakan titik, lewat novelnya Durga Umayi.
Tulisan saya menggambarkan realitas, kompleks, tak sederhana, tak
satu dimensi, canggih, rumit, banyak segi. Kalimat juga semestinya
begitu, katanya.
Kalau Anda membaca karya sastra saya yang kompleks, memang Anda
harus punya waktu, punya energi, punya niat untuk membaca sastra.
Kalau tidak, ya jangan membaca buku saya. Kalau merasa bodoh, ya
sorry, itu bukan untuk Anda. Jangan menyalahkan kalimat yang
kompleks, ucapnya dalam Forum Keadilan, edisi 4 Agustus 1994.
Keteladanan, ketekunan, dan jalan kebenaran yang ia tempuh
membuatnya jadi panutan, tidak hanya untuk orang seagama.
Saya mengenal Romo Mangun sebagai pejuang yang cinta perdamaian,
yang memberi perhatian khusus pada umat manusia, lebih khusus lagi
pada orang-orang yang menderita yang butuh perhatian, kata Presiden
Habibie saat mengantar persemayaman di Gereja Katedral Jakarta, 10
Februari 1999.
Saya merasa kehilangan seorang tokoh yang pemikirannya sangat
konstruktif bagi bangsa, ucap Agum Gumelar. Dia seorang pastor yang
tidak hanya dicintai umatnya, tetapi juga seluruh umat manusia
Indonesia, khususnya yang tertindas, kata sosiolog UGM, Loekman
Soetrisno, yang kini pasti tengah berdiskusi dengan Romo di alam
sana.
Bakdi Soemanto, budayawan yang menjadi sahabatnya, punya istilah
yang lain. Romo menganut filsafat lilin, sekitarnya harus terang,
meski ia harus hancur karenanya.
Romo memang telah tiada. Akan tetapi, seperti kata Faruk H.T. dalam
Gatra, secara maknawi, ia masih tetap hidup karena sesungguhnya Romo
memang tidak pernah pergi, ia masih berada di sini, di sisi paling
dalam orang-orang miskin dan terpinggirkan.
Romo memang sempurna memilih takdirnya sendiri.
Diambil dari:
Judul buku : Bayang Baur Sejarah
Judul artikel: Sesempurnanya Hidup dan Mati
Penulis : Aulia A. Muhammad
Penerbit : Tiga Serangkai, Solo 2003
Halaman : 184 -- 187
_____________________________POJOK BAHASA_____________________________
PEMAKAIAN TANDA TITIK (.)
Tanda titik tidak hanya dipakai untuk mengakhiri kalimat yang bukan
seruan atau pertanyaan saja.
Misalnya:
Ayahku tinggal di Solo.
Biarlah mereka duduk di sana.
Dia menanyakan siapa yang akan datang.
Hari ini tanggal 6 April 1973.
Marilah kita mengheningkan cipta.
Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.
Berikut ini pemakaian tanda titik untuk hal lainnya:
1. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam satu
bagan, ikhtisar, atau daftar.
Misalnya:
a. III. Departemen Dalam Negeri
A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
B. Direktorat Jenderal Agraria
1. ...
b.1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1. Gambar Tangan
1.2.2. Tabel
1.2.3. Grafik
Catatan: Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf
dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu
merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.
2. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik
yang menunjukkan waktu.
Misalnya:
Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik
yang menunjukkan jangka waktu.
Misalnya:
1.32.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)
4. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang
tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat
terbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltervreden: Balai
Poestaka.
5. a. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya.
Misalnya:
Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.
b. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan
atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
Nomor gironya 5645678.
6. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala
karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
Misalnya:
Acara Kunjungan Adam Malik
Bentuk dan Kebudayaan (Bab 1 UUD,`45) Salah Asuhan
7. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan
tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.
Misalnya:
Jalan Diponegoro 82
Jakarta
1 April 1991
Yth. Sdr. Moh. Hasan
Jalan Arif 43
Palembang
Kantor Penempatan Tenaga
Jalan Cikini 71
Jakarta
Diedit dari :
Judul buku : Pedomam Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan dan Pedomam Umum Pembentukan Istilah
Judul bab : Pemakaian Tanda Baca
Judul artikel: Tanda Titik (.)
Penulis : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen
Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Penerbit : Yrama Widya, Bandung 2006
Halaman : 41 -- 43
___________________________SEPUTAR PELITAKU___________________________
FORUM DISKUSI TOPIK EDISI PUBLIKASI E-PENULIS DAN SEPUTAR E-PENULIS
Tahukah Anda jika situs Pelitaku memunyai sebuah forum diskusi?
Melalui forum ini, Anda dapat berdiskusi dengan anggota lainnya
mengenai hal-hal seputar dunia tulis-menulis. Di antara sembilan
topik yang ada, kami ingin mengangkat dua topik, yaitu:
- EDISI PUBLIKASI E-PENULIS
Di sini kita dapat membahas lebih lanjut topik yang diangkat
di edisi e-Penulis tiap bulannya.
http://pelitaku.sabda.org/forum?fid=23
- SEPUTAR E-PENULIS
Bagi Anda yang memiliki komentar, saran, maupun kritik, termasuk
kesulitan yang berhubungan dengan milis publikasi e-Penulis,
silakan posting di sini.
http://pelitaku.sabda.org/forum?fid=24
Agar dapat berdiskusi bersama di sini, silakan terlebih dahulu
mendaftar menjadi anggota. Caranya mudah, silakan masuk ke menu
Daftar menjadi Pengguna dan silakan ikuti instruksi yang ada. Jangan
tunda lagi, ayo saling membangun dan belajar menulis lewat fasilitas
yang sudah disediakan di situs Pelitaku ini.
Mari terus menulis untuk melayani.
_____________________________STOP PRESS!______________________________
PEMBUKAAN KURSUS BARU PESTA:
KURSUS PERNIKAHAN KRISTEN SEJATI (PKS)
< http://www.pesta.org/pks_sil >
Anda ingin memerkaya hidup pernikahan Anda? Kabar gembira! Sebuah
kursus tentang pernikahan telah dibuka oleh Pendidikan Elektronik
Studi Teologia Awam (PESTA). Kursus yang bernama Pernikahan Kristen
Sejati (PKS) ini berisi pelajaran-pelajaran dasar tentang hidup
pernikahan Kristen dan bagaimana membangun rumah tangga Kristen yang
memuliakan Tuhan. Selain mempelajari bahan-bahan yang diberikan,
Anda juga dapat mendiskusikan bahan-bahan tersebut dengan
pasangan-pasangan lain dalam sebuah kelas diskusi. Kursus ini akan
dibuka pada periode Maret/April 2008.
Bagaimana cara mengikuti kursus yang diadakan secara GRATIS oleh
PESTA < http://www.pesta.org > dan terbuka untuk umum ini? Beberapa
ketentuan di bawah ini yang harus Anda perhatikan.
1. Peserta adalah seorang Kristen yang sudah percaya pada Tuhan
Yesus Kristus.
2. Diutamakan untuk Anda yang sudah menikah, karena pasangan Anda
juga diharapkan dapat ikut terlibat dalam kelas diskusi.
3. Peserta harus mendaftarkan diri dengan mengisi Formulir
Pendaftaran Kursus yang ada di bawah ini atau mengisinya lewat
http://www.pesta.org/formulir_pendaftaran_pks.
4. Setelah mendaftar Anda akan mendapatkan modul PKS yang harus Anda
pelajari dan tugas-tugas tertulis yang harus Anda kerjakan. Tugas
tertulis tersebut harus sudah selesai dikerjakan sebelum kelas
diskusi dimulai (tgl. 1 April 2008). Anda juga bisa mengunduh
sendiri modul PKS ini di alamat: http://www.pesta.org/pks_sil
dengan berbagai pilihan format unduh, yaitu TEXT, HTML, dan PDF.
5. Peserta harus bersedia mematuhi semua peraturan yang berlaku
dalam kelas PESTA. Dapat dilihat di http://pesta.org/petunjuk.
Untuk kelas PKS ini, peserta tidak harus mengikuti kelas DIK
terlebih dahulu.
Tunggu apa lagi? Segeralah mendaftarkan diri karena kelas hanya
akan menampung dua puluh pasangan saja. Isi dan kirimkan formulir di
bawah ini ke: < kusuma(at)in-christ.net >
======> Potong di sini <==============================================
FORMULIR PENDAFTARAN KURSUS PERNIKAHAN KRISTEN SEJATI
[Catatan: Diperbolehkan mengisi formulir oleh salah satu pasangan
saja.]
Nama Kelas: Pernikahan Kristen Sejati (PKS)
Nama lengkap:
Nama [istri/suami]:
Alamat e-mail:
Alamat pos:
Kota tinggal:
Provinsi:
Negara:
Kode pos:
Telepon/HP:
Tempat lahir:
Tanggal lahir:
Pendidikan terakhir:
Pekerjaan:
Talenta/keterampilan:
Gereja:
Jabatan pelayanan:
Komputer yang dipakai: [rumah/kantor/warnet]*
Pernah mengikuti kursus PESTA sebelumnya: [ya/tidak]*
(* pilih salah satu)
Jawablah pertanyaan berikut ini:
--------------------------------
1. Apakah Anda sudah menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dan
Tuhan secara pribadi?
- Ya
- Tidak
2. Apakah Anda percaya bahwa Alkitab seluruhnya adalah Firman Tuhan?
- Ya
- Tidak
3. Apakah pasangan Anda juga seorang yang percaya Tuhan Yesus?
- Ya
- Tidak
4. Berapa lama Anda sudah menikah? ............ tahun
5. Berapa anak yang Anda miliki dari hasil perkawinan Anda?
........... anak.
Sebagai persetujuan Anda untuk mengikuti Kursus PESTA, mohon
memberikan pernyataan di bawah ini:
"Dengan mengisi Formulir Pendaftaran PESTA ini berarti saya,
_______________________________ (nama lengkap) dengan keinginan
sendiri telah memutuskan akan mengikuti Kursus PESTA hingga
selesai dan mau menaati peraturan yang ada dan bersedia untuk saling
membangun iman sesama peserta dalam kasih."
======> Potong di sini <==============================================
Isi dan kirimkan formulir ini ke: < kusuma(at)in-christ.net >
Jika ada pertanyaan lain, silakan menghubungi Staf Admin PESTA di:
< kusuma(at)in-christ.net >
______________________________________________________________________
Pemimpin Redaksi : Puji Arya Yanti
Staf Redaksi : Davida Welni Dana
Berlangganan : Kirim e-mail ke
subscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Berhenti : Kirim e-mail ke
unsubscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Kirim bahan/tanya : Kirim e-mail ke
penulis(at)sabda.org
Arsip e-Penulis : http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
Situs Pelitaku : http://pelitaku.sabda.org/
Forum Penulis : http://pelitaku.sabda.org/forum
______________________________________________________________________
Melayani sejak 3 November 2004
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
Copyright(c) e-Penulis 2008
YLSA -- http://www.ylsa.org/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
|
|
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |