Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-leadership/193

e-Leadership edisi 193 (18-10-2016)

Memimpin dari Bawah (II)

e-Leadership -- Edisi 193, 18 Oktober 2016
 
Memimpin dari Bawah (II)
e-Leadership -- Edisi 193, 18 Oktober 2016
 
e-Leadership

Salam kasih,

Kepemimpinan merupakan tanggung jawab dalam memimpin sekelompok orang. Semakin besar jumlah orang yang harus dipimpin, maka semakin besarlah tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin. Idealnya, agar seseorang semakin terampil dan terasah sifat-sifat kepemimpinannya, maka ia haruslah memimpin dari jumlah yang lebih kecil, atau dari bawah, yang kemudian akan semakin meningkat seiring dengan kapasitasnya. Seperti dinyatakan dengan jelas dalam Lukas 16:10 (AYT), "Siapa pun yang setia dalam hal-hal yang kecil, ia juga setia dalam hal-hal yang besar ...." Demikian juga hendaknya setiap orang menggunakan kesempatan untuk memimpin dalam kelompok kecil dengan potensi terbaiknya sebelum melangkah kepada tanggung jawab yang lebih besar. Apa pun pengalaman dan keterampilan yang diperolehnya sebagai pemimpin di kelompok kecil, tentu akan sangat berguna dalam jenjang kepemimpinannya selanjutnya.

Masih terkait dengan tema "Memimpin dari Bawah", publikasi e-Leadership kali ini akan menyajikan tip yang berguna bagi Anda dalam memimpin kelompok kecil. Sebelum dipercaya untuk berada di posisi yang lebih tinggi, kita harus memulainya dari bawah terlebih dahulu bukan, yaitu dengan kelompok kecil? Harapan kami, kita akan semakin belajar banyak dalam membentuk kapasitas kepemimpinan melalui sajian ini. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.

N. Risanti

Staf Redaksi e-Leadership,
N. Risanti

 

TIP: LIMA TIP UNTUK MEMIMPIN KELOMPOK KECIL ANDA

Saat sekolah dimulai kembali, saat itu juga akan ada banyak kelompok kecil yang disponsori oleh dan terkait dengan gereja. Beberapa akan mempelajari Alkitab, lainnya akan membaca buku Kristen bersama-sama. Hampir semua akan memiliki seorang pemimpin atau beberapa orang pemimpin yang ditunjuk. Meskipun mempelajari Alkitab Anda dan memiliki karakter seperti Kristus adalah faktor yang lebih penting, ada juga sejumlah keterampilan yang diperlukan dalam memimpin sebuah kelompok kecil yang efektif.

1. Berkomunikasilah di awal dan sering, dan kemudian menindaklanjuti.

Seorang pemimpin yang baik selalu memimpin. Jika Anda menunggu sampai ada pertemuan untuk memimpin, mungkin itu akan menjadi terlalu terlambat. Dalam era komunikasi yang mudah ini, tidak ada alasan bagi pemimpin untuk tidak bisa mengingatkan kelompok tentang tanggal dan tugas yang akan datang. Pastikan semua orang tahu mengenai apa yang diharapkan. Menyimpulkan setiap pertemuan dengan menyoroti apa yang berikutnya -- Apa yang harus dibaca? Kapan pertemuan kelompok akan diadakan? Di mana mereka akan bertemu? Siapa yang akan memimpin diskusi? Kemudian, sebelum pertemuan berikutnya, kirimkan email pengingat (atau telepon atau SMS atau tweet atau posting Facebook). Orang-orang bisa lupa. Orang-orang bisa malas. Orang-orang bisa sibuk. Orang-orang membutuhkan banyak pengingat yang ramah untuk tetap pada tugas -- terutama para siswa.

Mengenai pertemuan itu sendiri, hargailah waktu orang lain. Mulailah dengan tepat dan akhiri sesuai waktu yang telah disepakati. Tentu, keadaan darurat bisa saja terjadi. Ada pengecualian untuk hampir semua aturan. Namun, orang-orang perlu tahu bahwa mereka dapat mengandalkan Anda agar pertemuan dimulai dan berakhir tepat waktu.

Bila mungkin, lakukan hal-hal dengan konsisten. Mengubah tanggal dan waktu hampir selalu mengarah ke jumlah yang semakin sedikit.

Mintalah orang-orang untuk komitmen yang khusus. Jangan melakukan semuanya sendiri. Tunjuk seseorang untuk membawa camilan, orang lain untuk mengatur acara barbeque yang akan datang, dan orang lain untuk membuka dalam doa minggu depan. Hal ini tidak hanya membangun orang lain, tetapi juga akan mendorong partisipasi yang lebih besar. Meminta komitmen lebih baik daripada mengajak secara umum.

2. Pikirkan dengan saksama pertanyaan Anda sebelumnya.

Jika kelompok Anda hanya terdiri dari orang-orang Kristen yang sangat matang yang sudah saling kenal selama bertahun-tahun, Anda mungkin dapat lolos walaupun dengan sedikit persiapan. Namun, sebagian besar kelompok tidak dibentuk dari orang-orang semacam itu saja (dan jika demikian, ini mungkin waktunya untuk sedikit berbenah demi para pendatang baru dan mereka yang baru mulai menjadi pengikut Kristus). Pastikan pertanyaan Anda tajam dan jelas. Jika Anda tidak yakin dengan apa yang Anda tanyakan, sudah pasti tidak ada orang lain yang juga yakin.

Jika pilihan Anda yang sedang Anda pelajari (dalam Alkitab atau dalam sebuah buku) sulit untuk dipahami, Anda mungkin memerlukan sejumlah pertanyaan pengetahuan. Jangan membuat pertanyaan-pertanyaan tersebut begitu tidak jelas sehingga hanya orang Kristen yang terlatih di seminari yang akan tahu jawabannya. Namun, jangan membuat pertanyaan-pertanyaan itu terlalu jelas (misalnya, pertanyaan-pertanyaan isian) sehingga setiap orang merasa malu untuk memberikan jawaban.

Jangan menetap di tingkat pengetahuan saja. Ajukan pertanyaan yang membutuhkan analisis, sintesis, dan evaluasi. Siapkan pertanyaan akhir yang menyentuh hati.

Jadilah kreatif dalam cara Anda mengungkapkan pertanyaan Anda. Jangan hanya berkata, "Apakah menurut Anda?" atau "Bagaimana perasaan Anda tentang hal ini?" atau bahkan "Bagaimana kita bisa menerapkan ini untuk hidup kita?"

Ajukanlah pertanyaan seperti:

  • Satu perubahan apa yang Anda ingin lihat dalam hidup Anda sebagai hasil dari studi ini?
  • Janji baru apa yang dapat Anda bawa selama seminggu ke depan?
  • Apa yang Anda pelajari tentang Allah?
  • Di mana Anda telah melihat hal-hal ini berjalan dengan baik?
  • Bagaimana hal ini berhubungan dengan salib?
  • Bagaimana ini menyerupai gereja kita, baik untuk hal yang baik maupun yang buruk?
  • Di mana hal ini menjadi pergumulan Anda dalam pernikahan Anda?
  • Apa yang membuat Anda sulit memercayai firman Allah?

Anda mendapatkan gambarannya. Ada ratusan pertanyaan baik yang dapat Anda ajukan kapan pun setiap minggunya. Beberapa dari pertanyaan itu akan muncul saat itu juga, tanpa persiapan.

3. Perhatikan dinamika kelompok.

Menjadi pemimpin adalah lebih dari sekadar membuka dan menutup dalam doa. Anda harus melakukan apa pun yang Anda bisa untuk menumbuhkan lingkungan yang hangat, ramah dalam kelompok Anda. Ini berarti terutama memperhatikan orang-orang baru. Tiga puluh menit waktu nongkrong sebelum pelajaran dimulai mungkin menyenangkan untuk orang-orang lama, tetapi untuk orang-orang baru itu pasti membuat mereka merasa cemas dan canggung. Sebagai seorang pemimpin, Anda harus melakukan apa pun yang Anda bisa untuk membuat mereka merasa nyaman. Beri mereka pertanyaan. Perkenalkan kelompok. Persiapkan untuk mendorong kelompok saling berbagi. Semakin sedikit orang mengenal satu sama lain, semakin banyak struktur yang dibutuhkan.

Perlu diingat bahwa pendatang baru mungkin tidak tahu sejarah Anda, selera humor Anda, atau teologi Anda. Saya pernah membuat kesalahan dengan menggoda salah seorang anggota lama kelompok kecil kami yang belum yakin tentang baptisan anak/bayi. Itu olok-olok lucu antara saya dan teman-teman ini, tetapi bagi orang-orang yang baru datang, hal itu memberi mereka sinyal (yang salah) bahwa golongan credobaptists (orang-orang yang hanya meyakini baptis dewasa saja - Red.) tidak diterima di sini. Saya kemudian meminta maaf dan menjelaskan bahwa saya hanya bercanda dengan teman-teman saya dan bahwa kami senang memiliki mereka (pasangan baru tersebut) dalam kelompok kami. Itu adalah kesalahan saya.

Salah satu hal paling sulit dan paling penting yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin adalah mencoba untuk melibatkan orang sebanyak mungkin dalam diskusi kelompok. Jelas, tujuannya adalah untuk tidak membuat anggota yang pendiam merasa malu, tetapi sering kali anggota yang pendiam hanya perlu ditanyai. Seorang pemimpin yang baik tidak akan membiarkan setiap diskusi didominasi oleh dua atau tiga orang yang sama. Dia secara khusus akan memanggil orang-orang yang tidak banyak bicara. Dia mungkin harus dengan lembut menambahkan dari waktu ke waktu, "Saya akan melihat apakah orang lain memiliki sesuatu untuk ditambahkan sebelum saya kembali kepada Anda."

Seorang pemimpin yang baik akan peka terhadap suasana hati kelompok, cerdas apakah ada yang terluka, bingung, sedih, atau frustrasi yang perlu ditangani. Jangan hanya berperan jadi polisi lalu lintas. Jadilah seorang gembala.

4. Tahu bagaimana menangani konflik.

Ketakutan terburuk dari sebagian besar pemimpin kelompok kecil adalah bahwa mereka akan dipanggil untuk memadamkan kobaran api perselisihan yang membara. Untungnya, sebagian besar kelompok Kristen (dalam pengalaman saya) bermain dengan cukup baik (hampir tidak bercacat). Konflik dengan kemarahan jarang terjadi, tetapi itu terjadi. Tergantung pada keadaan, berikut adalah beberapa hal yang barangkali bisa Anda katakan di tengah-tengah perselisihan:

  • Sam, sepertinya Anda mencoba untuk mengatakan XYZ. Apakah saya mendengar Anda dengan benar?
  • Amanda memberikan interpretasi yang berbeda. Apa yang kalian pikirkan? Bagaimana seharusnya kita menafsirkan ayat ini?
  • Saya tahu sulit untuk berbicara tentang topik yang kontroversial atau menyakitkan seperti itu, tetapi menurut saya kita tidak harus lari dari konflik yang membangun. Saya akan senang mendengar apa yang orang lain pikirkan.
  • Ini adalah diskusi yang penting, tetapi tidak benar-benar melibatkan seluruh kelompok. Akan baik sekali jika Anda berdua bisa bertemu dan melanjutkan percakapan ini di lain waktu.
  • Kedengarannya seperti saya mungkin telah melakukan sesuatu yang membuat Anda kesal. Bagaimana kalau kita membicarakan hal itu seusai pertemuan?
  • Teman-teman, saya senang kita memiliki perbedaan pendapat dalam kelompok ini. Namun, itu terdengar pribadi. Mari kita mencoba untuk menjadi lembut, bahkan ketika kita menggebu-gebu.

Mungkin ada saat-saat ketika seorang pemimpin perlu bersikap lebih blak-blakan. Anda mungkin harus menghentikan percakapan, secara eksplisit memperbaiki interpretasi yang salah, atau menegur seseorang karena berbicara dengan cara yang kasar dan tidak membangun. Sementara kita tidak menginginkan seorang pemimpin berkepala panas yang membuat konflik menjadi lebih buruk, kita juga tidak menginginkan "pemimpin" pasif yang menempatkan sifat "ingin menyenangkan orang-orang" dan sifat "takut kepada manusia"nya di atas kebaikan seluruh kelompok.

5. Rencana untuk berdoa.

Jika Anda berharap doa terjadi begitu saja, itu akan hampir tidak terjadi. Tidak ada yang salah dengan 60 detik doa untuk memulai dan mengakhiri pertemuan, kalau itu rencana Anda. Ketahuilah bahwa tanpa persiapan, itulah yang akan hampir selalu terjadi. Waktu doa yang efektif -- baik pendek atau panjang -- membutuhkan perencanaan yang disengaja. Apakah Anda akan meminta permohonan doa? Jika demikian, bagaimana memastikan waktu "doa" Anda tidak terlalu banyak dipakai untuk berbagi cerita sampai-sampai hampir tidak ada waktu untuk berdoa? Apa permohonan doa dari minggu-minggu sebelumnya yang perlu ditindaklanjuti? Berapa lama Anda ingin doa itu berlangsung? Berapa banyak orang yang Anda harapkan akan http://doa.sabda.org/tujuan_utama_berdoa_0">berdoa?

Memimpin dalam doa membutuhkan arah yang jelas. Jangan takut untuk menunjuk orang-orang tertentu untuk berdoa (biasanya bukan pendatang baru). Ingatkan orang-orang bahwa doa-doa mereka boleh pendek (bahkan, Anda mungkin ingin mendorong mereka untuk berdoa pendek). Bimbing orang-orang melalui topik yang berbeda-beda (keluarga, gereja, bangsa, dunia, dll.). Jika waktu doa Anda umumnya singkat, pertimbangkan untuk menyisihkan pertemuan setiap beberapa bulan hanya untuk berdoa. Kami sudah sering melakukan ini dalam kelompok kami, biasanya dengan memisahkan kaum pria dan http://wanita.sabda.org/">wanita untuk waktu berbagi cerita dan doa yang diperpanjang ini.

Perbedaan terbesar antara sebuah kelompok kecil yang membangun iman secara rohani, relasional, dan alkitabiah dengan kelompok yang terasa seperti buang-buang waktu yang canggung adalah pada kepemimpinannya. Para pemimpin yang baik tidak selalu mendapatkan pengikut yang baik. Namun, hampir tidak pernah terjadi bahwa Anda mendapati kelompok-kelompok kecil yang baik tanpa laki-laki dan perempuan yang setia, bijaksana, dan terampil sebagai pemimpin mereka. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat URL : https://blogs.thegospelcoalition.org/kevindeyoung/2014/09/02/five-tips-for-leading-your-small-group/
Judul asli artikel : Five Tips for Leading Your Small Group
Penulis artikel : Kevin DeYoung
Tanggal akses : 16 April 2016
 

KUTIPAN

Kita bukanlah datang untuk saling bersaing, melainkan untuk saling melengkapi.
(Bill McCartney)

 

JELAJAH SITUS CHRISTIAN LEADERSHIP CONCEPTS Peresensi: N. Risanti

Gambar: Christian Leadership Concepts
Christian Leadership Concepts

Situs Christian Leadership Concepts (CLC) adalah situs yang memiliki misi untuk memperlengkapi para pria agar dapat menjadi pemimpin yang membuat dampak bagi Allah, di dalam rumah tangga, gereja, pekerjaan, dan masyarakat mereka. Berasal dari organisasi pria yang berkomitmen untuk melatih para pemimpin Kristen, situs ini berbeda dari situs kepemimpinan lain yang menjadi situs penyedia bahan. Situs CLC memiliki tujuan untuk menjadi fasilitator pertemuan dari kelompok pria yang bersedia untuk bertemu dan bekerja bersama dalam mempelajari kurikulum yang akan membantu mereka dalam wilayah-wilayah tertentu dalam kehidupannya. Meskipun kegiatan mereka tampak sulit untuk dijangkau bagi kita, tetapi kita dapat mengunjungi situs mereka untuk mempelajari visi, misi, kegiatan, sejarah, serta beberapa video kesaksian yang disediakan dalam situs ini. Dengan berselancar ke dalam situs mereka, kita dapat memperkaya wawasan untuk memulai suatu gerakan kepemimpinan yang berlandaskan pada firman Tuhan di gereja atau komunitas pelayanan.

Penasaran? Segera kunjungi situs CLC di: http://christianleadershipconcepts.org/clc/

 
Stop Press! Bergabunglah dalam Kelas PESTA Online - Kelas Natal

Promosi Kelas Natal

Natal bukan sekadar perayaan dan sukacita merayakan kelahiran sang Penebus. Natal adalah perayaan momen saat Allah Mahatinggi dan Mahasuci turun ke bumi untuk melayani dan menebus manusia yang berdosa. Bagaimana kita dapat memaknai Natal sesuai dengan kebenaran firman Tuhan? Bergabunglah dalam kelas Natal untuk tahun 2016 ini. Pendaftaran peserta kelas Natal 2016 sudah dibuka dan kelas diskusi akan berlangsung pada bulan November/Desember 2016. Peserta kelas Natal dari periode sebelumnya sudah merasakan berkat dari kelas ini. Mereka mendapatkan peningkatan pemahaman dan pengertian yang benar tentang hakikat Natal sehingga makin bersyukur akan kasih Allah yang begitu berharga melalui peristiwa Natal. Bagaimana dengan Anda?

Silakan hubungi Kusuma untuk mendaftarkan diri. Jangan lupa untuk mencantumkan subjek email [DAFTAR -- KELAS NATAL].

Informasi:
Situs PESTA
kusuma@in-christ.net
PESTA
@sabdapesta
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-Leadership.
leadership@sabda.org
e-Leadership
@sabdaleadership
Redaksi: Santi T., Aji, Ariel, dan N. Risanti
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2016 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org