Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-leadership/163

e-Leadership edisi 163 (20-5-2014)

Kepemimpinan Model Gembala (I)

==========MILIS PUBLIKASI E-LEADERSHIP EDISI MEI 2014============
                  Kepemimpinan Model Gembala (I)

e-Leadership -- Kepemimpinan Model Gembala (I)
Edisi 163, 20 Mei 2014

Shalom,

Saat ini, ada begitu banyak model kepemimpinan yang dikembangkan. 
Penerapan model bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh gaya 
kepemimpinan terhadap orang-orang yang dipimpin. Dalam edisi ini, kita 
akan belajar meneladani model kepemimpinan gembala. Artikel yang kami 
sajikan ini ditulis oleh Pdt. Daniel Ronda yang menjelaskan tentang 
kepemimpinan gembala, yang mencakup prinsip hamba dan karakter untuk 
membangun kepemimpinan yang berhasil. Kiranya, sajian e-Leadership ini 
dapat menolong Anda untuk mempraktikkan prinsip yang diajarkan Tuhan 
Yesus tentang kepemimpinan gembala. Selamat menyimak.

Pemimpin Redaksi e-Leadership,
Ryan
< ryan(at)in-christ.net >
< http://lead.sabda.org >


Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-
domba-Ku mengenal Aku. (Yohanes 10:14) 
< http://alkitab.mobi/tb/Yoh/10/14/ >


               ARTIKEL: KEPEMIMPINAN MODEL GEMBALA

Pendahuluan

Saat ini, gaya kepemimpinan menjadi isu yang hangat dibicarakan. Dalam 
kajian soal kepemimpinan umat, para pemimpin gereja saat ini banyak 
dikeluhkan soal kepemimpinan yang bukan memimpin dengan hati gembala 
(herding leadership), melainkan memimpin dengan gaya "herder". Masalah 
ini banyak terjadi di gereja atau institusi di mana banyak pemimpin 
menjadi putus asa terhadap penerapan prinsip kepemimpinan dan memilih 
jalan pintas, yaitu dengan gaya autokrasi bahkan kekerasan (gaya 
"herder"). Sonny Eli Zaluchu menuliskan, "Kelemahan kepemimpinan 
gembala biasanya ditandai dengan sejumlah aktivitas yang cenderung 
memaksakan kehendak, gaya penggembalaan yang tidak berkenan, mulut 
yang tidak terkontrol, menguatnya pengaruh dan intervensi orang-orang 
tertentu dalam keputusan gembala (orang kuat, anak, menantu), visi 
yang lemah, doa yang kurang, dan sikap yang mencerminkan kekunoan 
(seperti plinplan, tidak mau mengakui kesalahan, dan sikap tidak mau 
tahu). Hal yang paling utama adalah gembala yang tidak mau berubah dan 
selalu tertutup untuk menerima masukan karena menganggap diri benar."

Jalan ini sering kali diambil karena paling "aman", yaitu adanya 
anggapan bahwa mereka (baca: pengikut atau jemaat) tidak perlu tahu. 
Namun, model kepemimpinan "herder" ini menghasilkan kehancuran, baik 
pada diri sendiri maupun organisasi yang dipimpin.

Lawan dari kepemimpinan otoriter adalah kepemimpinan dengan hati 
gembala, yang berbicara tentang melayani, menuntun, mengarahkan, 
menantang, dan membantu untuk bertumbuh. Kepemimpinan gembala tidak 
berbicara soal aktivitas manajemen belaka, tetapi menumbuhkan orang 
yang dipimpin. Itu sebabnya, mengawasi dan menuntun yang dipimpin akan 
lebih mudah dan akan menunjukkan hasil yang berbeda. Sudah dibuktikan 
bahwa orang yang dipimpin tidak dapat digerakkan atau dimotivasi oleh 
sebuah birokrasi atau prosedur, sebagaimana teori manajemen. Orang 
hanya digerakkan oleh visi, nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan 
keyakinan tentang diri. Anthony D`Souza memberikan uraian tentang 
kepemimpinan gembala:

"Bagi pemimpin gembala, produknya adalah para pengikut. Bukan 
keuntungan, bukan pangsa pasar. Para pengikut itu sendiri yang menjadi 
tujuan dan produk dari upaya pemimpin gembala. Dan, karena itu, ketika 
dombanya tetap hidup menghadapi berbagai bahaya dalam perjalanan, 
ketika mereka bertambah kuat, gembala dengan setia menunaikan 
tugasnya. Domba memang harus dibimbing, didorong, dan dimotivasi untuk 
mencapai kinerja terbaik. Namun, domba-domba inilah yang memenuhi 
pemimpin gembala ketika tidur di malam hari dan yang pertama dicari 
ketika sinar mentari pagi menandai setiap hari baru. Gembala benar-
benar merupakan pelayan domba-dombanya. Pertumbuhan dan pemeliharaan 
terhadap mereka menjadi tugas dan agendanya dalam mencapai 
kesuksesan."

Akan tetapi, dalam pengamatan saya, masalah terbesar yang dihadapi 
beberapa pemimpin Kristen adalah memiliki minat yang rendah kepada 
orang-orang dan tidak memiliki kemampuan menjalin hubungan dengan 
rekan-rekan (interpersonal relationship) serta tidak peduli pada 
masalah-masalah emosional orang yang dipimpinnya. Hal lain adalah 
adanya sikap pesimis terhadap kehidupan di depan sehingga menurunkan 
semangat organisasi yang dipimpinnya. Ciri lainnya yang paling banyak 
muncul dalam kepemimpinan adalah bersikap antisosial, skeptis, kurang 
senyum, suka mendominasi, dan agresif terhadap kepemimpinan berhati 
gembala.

Fakta lain adalah pemimpin, apa pun jenisnya, senang pendidikan 
formal, training, menghargai prinsip-prinsip kepemimpinan, dan juga 
kemampuan manajemen. Namun, ada kelemahan mendasar kalau tidak 
memiliki kepemimpinan gembala, yaitu hubungan (relationship). Padahal, 
kepemimpinan yang efektif, sebagaimana yang ditemukan dalam riset 
pakar kepemimpinan, Kouzes dan Posner, adalah "hubungan" (leadership 
is a relationship). Mereka berdua berkata, "Kepemimpinan adalah sebuah 
hubungan. Kepemimpinan merupakan hubungan antara mereka yang 
terpanggil untuk memimpin dan mereka yang memilih untuk mengikuti".

Dr. Stacy Rinehart dalam bukunya, "Upside Down", menuliskan, "Sebagian 
besar orang percaya familier dengan resep Yesus untuk keberhasilan 
kepemimpinan (Markus 10:43-44), tetapi ketika tiba saatnya untuk 
mempraktikkan hal itu, banyak pemimpin meninggalkan nasihat Yesus di 
jalanan, di Galilea, dan mengikuti tren kepemimpinan masyarakat." 
Banyak pemimpin mencoba mengikuti tren kepemimpinan dan melupakan 
prinsip Yesus tentang kepemimpinan gembala.

Oleh karena itu, penulis akan mengkaji model kepemimpinan Kristen dan 
mencoba menemukan signifikasi, modifikasi, dan formulasi ulang konsep 
kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam konteks kepemimpinan Kristen 
yang dikaji secara hermeneutika dan teoretis.

Prinsip-Prinsip Kepemimpinan Gembala

Pada bagian ini, penulis membahas hasil konsep kepemimpinan gembala 
yang juga sudah banyak diadopsi oleh tren teori kepemimpinan secara 
umum.

Prinsip Kebaikan

Memimpin dengan kebaikan harus berpola pada kebaikan hati Allah. Dalam 
teologi, kata "kebaikan" ("goodness" atau "chrestotes") diidentikkan 
dengan kemurahan Allah (di bawah pembahasan Allah Mahakasih). Albert 
Barnes (teolog) memberikan arti kata ini sebagai "kindness" yaitu 
kebaikan hati, keramahan, perbuatan baik, kasih sayang. Allah itu 
baik, Ia penuh belas kasih, baik hati, penuh anugerah, mementingkan 
kepentingan orang lain (altruisme) sehingga Allah yang penuh dengan 
kebaikan berarti Allah yang mengasihi umat-Nya, Allah yang lemah 
lembut, baik hati, dan selalu memberikan anugerah, dari zaman 
Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Kasih setia Allah dicurahkan 
kepada umat-Nya, Israel, meskipun mereka terus berdosa. Ketika Allah 
harus menghukum Israel karena kebebalan hati mereka yang terus 
menyembah berhala, Ia tetap mengasihi mereka sehingga setelah mereka 
bertobat, Allah tetap mengasihi dan memulihkan keadaan mereka. Namun, 
kebaikan Allah tidak pernah boleh dipisahkan dengan keadilan-Nya.

Konsep kebaikan ini dapat diaplikasikan dalam kepemimpinan Kristen. 
Sifat moral Allah yang Mahabaik menantang pemimpin Kristen untuk 
memiliki kebaikan moral dan semangat "altruisme" dalam karakternya.

Prinsip Ketulusan Hati

Kajian hermeneutika tentang ketulusan hati berbicara tentang 
integritas seorang pemimpin. Raja Daud dalam Kitab Suci dikatakan, "Ia 
menggembalakan umat Israel dengan ketulusan hatinya, dan menuntun 
mereka dengan kecakapan tangannya." (Mazmur 78:72) Itu sebabnya, 
memiliki kompetensi saja dalam sebuah kepemimpinan tidaklah cukup, 
dibutuhkan juga ketulusan hati.

Rendahnya integritas telah menjadi masalah kepemimpinan, termasuk 
dalam kepemimpinan Kristen. John Maxwell berkata, "Menurut survei di 
Amerika yang dilakukan terhadap sekitar 1.300 pimpinan perusahaan dan 
pejabat di pemerintahan, ketika ditanya kualitas apakah yang paling 
penting dimiliki untuk sukses menjadi pemimpin, sebanyak 71% dari 
mereka memilih integritas.

Kata "integritas" berarti keadaan yang sempurna, perkataan dan 
perbuatan menyatu dalam diri seseorang. Seseorang yang memiliki 
integritas tidak meniru orang lain, tidak berpura-pura, tidak ada yang 
disembunyikan, dan tidak ada yang perlu ditakuti. Kehidupan seorang 
pemimpin adalah seperti surat Kristus yang terbuka (2 Korintus 3:2).

Integritas sebagai karakter bukan dilahirkan, melainkan dikembangkan 
setahap demi setahap dalam hidup kita melalui kehidupan yang mau 
belajar dan keberanian untuk dibentuk Roh Kudus. Itu sebabnya, seorang 
pemimpin terkenal berani berkesimpulan bahwa karakter yang baik akan 
jauh lebih berharga dan dipuji orang daripada bakat atau karunia yang 
terhebat sekalipun. Kegagalan sebagai pemimpin bukan terletak pada 
strategi dan kemampuannya dalam memimpin, melainkan pada tidak adanya 
integritas pada diri pemimpin.

Prinsip Kecakapan

Memimpin dengan kecakapan berarti memiliki kompetensi. Menurut Dr. 
Yakob Tomatala, kompetensi meliputi banyak hal, yaitu kompetensi 
karakter, pengetahuan, dan keahlian. Dalam tulisan ini, penulis khusus 
mengambil dua hal dari kompetensi keahlian yang menolong menguatkan 
kepemimpinan gembala kita, yaitu kecakapan hubungan antarmanusia 
(relationship) dan kecakapan keahlian teknis. Ada dua kompetensi 
kepemimpinan. Pertama, kecakapan yang berkenaan dengan "hubungan 
antarmanusia" atau disebut juga "keterampilan atau kecakapan sosial". 
Seorang pemimpin yang baik tidak hanya menyadari bahwa ia membutuhkan 
orang lain, tetapi juga dengan penuh tanggung jawab dapat membina 
hubungan baik dengan orang lain yang menjamin kerja sama yang baik dan 
keberhasilan kerja. Hubungan baik dengan orang lain harus dimulai oleh 
pemimpin. Ia harus memiliki tekad untuk menyukainya, dan menghidupinya 
dengan penuh tanggung jawab. Prinsip kepemimpinan Tuhan Yesus tetap 
berlaku di sini, yaitu: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya 
orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka ...." 
(Matius 7:12) Tekanan utama yang diberikan di sini adalah bahwa apa 
saja yang dilakukan oleh seorang pemimpin mencerminkan apa saja yang 
akan/telah diperbuat orang kepadanya. Apabila pemimpin menghendaki dan 
melaksanakan/membina hubungan baik dengan siapa saja, ia pun akan 
menerima kebaikan dari tindakannya.

Kedua, kecakapan yang berkaitan dengan "hubungan pelaksanaan tugas", 
yaitu seorang yang disebut ahli, tahu dan dapat melakukan tugasnya 
dengan baik dan benar. Keterampilan, keahlian, atau kecakapan tugas 
berkaitan erat dengan hal-hal praktis yang bersifat teknis sehingga 
dapat juga disebut keahlian teknis/praktis. Keahlian ini berkaitan 
erat dengan "bagaimana melaksanakan tugas", yang harus dilaksanakan 
dengan baik dan pemimpin harus memiliki keahlian khas, khususnya yang 
berkenaan dengan kecakapan memimpin.

Itu sebabnya, dalam memimpin, seseorang tidak boleh pernah berhenti 
belajar, baik dalam bentuk formal maupun informal. Pembelajaran yang 
terus-menerus akan menghasilkan kecakapan yang lebih banyak lagi. 
Pembelajaran tidak berfokus pada gelar, namun pada pemenuhan salah 
satu kunci sukses pemimpin gembala, yaitu cakap, yang meliputi cakap 
mengajar, cakap berelasi, dan cakap memimpin.

Prinsip Kesetiaan dalam Kebenaran

Kajian hermeneutika terhadap kata "kesetiaan" adalah penting dalam 
kosakata teologi Kristen dan juga pemimpin gembala. Setidaknya, baik 
dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, pemimpin dituntut Tuhan 
untuk mencintai kesetiaan (love mercy), di samping adil dan hidup 
dengan rendah hati di hadapan Allah (Mikha 6: 8). Kesetiaan harus 
ditunjukkan di samping kasih sayang kepada masing-masing karena Tuhan 
akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran (Zakharia 7:9 
dan 8:8). Setidaknya, ada tiga alasan mengapa kesetiaan itu penting. 
Pertama, kesetiaan adalah yang terpenting dalam Hukum Taurat (Matius 
23:23); 
kedua, kesetiaan merupakan salah satu buah Roh Kudus yang 
harus ada dalam kehidupan kita (Galatia 5:22); ketiga, kesetiaan 
merupakan salah satu yang harus dikejar di samping keadilan, kasih, 
dan damai (2 Timotius 2:22).

Menurut pengamatan saya, banyak ahli kepemimpinan, dalam buku mereka, 
tidak menyukai kata "kesetiaan" karena sering kali, kata itu 
disalahgunakan sebagai tameng untuk berlindung dari kegagalan 
memimpin. Walaupun demikian, kesetiaan tidak boleh dihilangkan dalam 
kamus pemimpin gembala karena tanpa kesetiaan, kita tidak berhak 
menuntut loyalitas yang sama dari pengikut kita. Justru ini yang 
menjadi kunci keberhasilan pemimpin gembala.

Kesimpulan

Tren kepemimpinan telah berkembang sangat pesat dan dapat dengan mudah 
dipelajari secara mandiri. Bahkan, nilai dan prinsip biblika telah 
mewarnai semua lini prinsip ilmu kepemimpinan. Namun, dalam lini 
praktika, gereja diperhadapkan pada kompleksitas kultural, masalah 
sosial, dan konteks yang sangat beragam. Saat ini, pemimpin tidak 
boleh berhenti dengan penerapan kepemimpinan dalam kehidupan. Ada 
banyak keunikan yang akan ditemukan di lapangan. Seperti kata Robert 
Clinton, pemimpin sedang memasuki "university of life", tempat 
penerapan nilai kepemimpinan tidak pernah berhenti. Nilai-nilai itu 
harus terus digali.

Salah satu hal yang menjadi solusi dalam kepemimpinan saat ini adalah 
perlunya pengembangan kepemimpinan yang berhati gembala. Nilai ini 
bersumber dari Yesus sendiri, melalui hidup dan pengajaran-Nya. 
Prinsip itu didasarkan pada kebaikan, ketulusan hati, kecakapan, dan 
kesetiaan dalam kebenaran. Prinsip ini kekal, tetapi penerapannya 
membutuhkan waktu dan kerja keras dalam konteks masyarakat pascamodern 
ini.

Hal ini ditegaskan oleh pernyataan Anthony D`Souza tentang hasil dalam 
menerapkan pemimpin gembala, "Gembala adalah model bagi para pemimpin 
dari segala organisasi, termasuk perusahaan industri dan komersial. 
Pemimpin dituntut untuk bertindak sebagai gembala sejati atas 
organisasinya, yang pertama-tama dan terutama dilihat sebagai 
komunitas manusia. Dengan demikian, pemimpin semacam ini akan 
memperoleh loyalitas dan komitmen dari para pegawai dan pelanggan; dan 
pada gilirannya, akan meraih apa yang tidak pernah dapat diperintahkan 
oleh pemimpin lain."

*) Catatan: Untuk melihat daftar pustaka, silakan melihat sumber 
aslinya.

Disunting dari:
Nama situs: Daniel Ronda
URL situs: http://danielronda.com/index.php/kepemimpinan/55-kajian-atas-kepemimpinan-model-gembala-.html
Judul asli artikel: Kajian atas Kepemimpinan Model Gembala
Penulis: Daniel Ronda
Tanggal akses: 7 Maret 2014


                             KUTIPAN

Kalau seseorang mau sukses dalam kehidupan ini di hadapan Tuhan, ia 
harus berani menanggalkan cara hidup yang salah; berani tidak 
mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. (Erastus Sabdono)


               INSPIRASI: GEMBALA HIDUP KITA

Nas: Mazmur 23

Sadar atau tidak, setiap orang mempunyai gembala dalam hidupnya. 
"Gembala" dalam arti sesuatu yang menggerakkan, memotivasi, 
mengarahkan, dan memengaruhi pola pikir, prioritas, perilaku, dan 
keputusan-keputusan dalam hidup seseorang. Gembala itu bisa berwujud 
uang, jabatan, popularitas, tokoh yang dikagumi, bisa juga akar pahit 
atau pengalaman traumatis di masa lalu.

Sesungguhnya, hal-hal tersebut bukanlah gembala yang baik. Sebaliknya, 
malah akan menjerumuskan dan mencelakakan; baik diri sendiri maupun 
orang lain. Tidak sedikit tragedi di dunia ini yang dipicu dan dipacu 
oleh orang-orang yang hidupnya dikendalikan oleh uang atau jabatan, 
misalnya.

Gembala yang baik adalah Tuhan sendiri. Ini yang dialami dan dihayati 
oleh Daud. Daud sungguh-sungguh merasakan Tuhan membimbing, menuntun, 
dan memeliharanya. Ia memang tidak selalu bergelimang kesuksesan. Ia 
pun kerap hidup dalam kesulitan; pernah dibenci setengah mati dan 
dikejar-kejar oleh Saul (1 Samuel 19), pernah dikudeta oleh Absalom, 
anaknya, dan terlunta melarikan diri (2 Samuel 15). Namun, Daud 
merasakan betapa Tuhan tidak pernah jauh darinya. Pun dalam saat-saat 
tergelap hidupnya, saat-saat kritis. Tuhan mencukupkan segala 
kebutuhannya. Tuhan membimbingnya ke jalan yang benar. Tuhan 
menyegarkan jiwanya. Ia sungguh merasakan jejak-jejak kasih dan 
pemeliharaan Tuhan dalam setiap jengkal hidupnya.

Bagaimana dengan kita? Pertanyaan penting yang perlu kita renungkan 
adalah apakah Tuhan sudah menjadi gembala dalam hidup kita, sebagai 
prioritas dan dasar dari segala tindakan kita?

Diambil dan disunting dari:
Nama situs: SABDA
Alamat URL: http://sabda.org/publikasi/e-rh/2008/02/01/
Penulis: AYA
Tanggal akses: 11 Maret 2014


Kontak: leadership(at)sabda.org
Redaksi: Ryan, Berlin B., dan S. Setyowati
Berlangganan: subscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org
Arsip: sabda.org/publikasi/e-leadership/
BCA Ps. Legi Solo; No. 0790266579 a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2014 Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org