Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-leadership/85

e-Leadership edisi 85 (22-12-2010)

Pelajaran Kepemimpinan dari Petrus (II)

==========MILIS PUBLIKASI E-LEADERSHIP EDISI DESEMBER 2010============

                PELAJARAN KEPEMIMPINAN DARI PETRUS (II)

                     e-Leadership 85 -- 22/12/2010

  DAFTAR ISI
  EDITORIAL
  ARTIKEL: Kunci Kepemimpinan Petrus
  KUTIPAN
  ARTIKEL KHUSUS: Silsilah yang "Cacat"
  JELAJAH BUKU: Be the Leader You Were Meant to Be (Jadilah Pemimpin
                Sejati)
  PERISTIWA

==================================**==================================
EDITORIAL

  Shalom,

  Perjalanan kehidupan Petrus penuh dengan lika-liku yang akhirnya
  menghantarkan dia menjadi seorang pemimpin yang kuat dan sangat
  tangguh dalam menghadapi setiap tantangan. Meskipun ia sempat jatuh
  bangun dalam setiap penggemblengan yang diterimanya sewaktu ia
  menjadi seorang murid, namun saat ini siapa yang tidak mengingatnya
  sebagai pemimpin yang mampu memberikan dampak yang luar biasa bagi
  perkembangan gereja mula-mula.

  Nah, untuk menutup tahun ini, e-Leadership sudah menyiapkan artikel
  kunci kepemimpinan Petrus dan sebuah renungan bertemakan Natal dalam
  memperingati perwujudan kasih Allah melalui kelahiran Kristus Yesus
  di dalam dunia ini. Semoga kedua artikel ini menolong kita untuk
  semakin mengerti kasih dan anugerah Allah serta rancangan-Nya yang
  luar biasa pada setiap orang percaya.

  Selamat Natal 2010 dan selamat menyambut Tahun Baru 2011. Biarlah
  dalam memperingati Natal tahun ini kita memiliki "terang hidup" yang
  menyinari kegelapan manusia. Natal tidak memiliki makna yang
  sesungguhnya bagi dunia yang gelap, apabila kita tidak menyatakan
  kehidupan yang berada di dalam terang-Nya. Tuhan memberkati.

  Pimpinan Redaksi e-Leadership,
  Desi Rianto
  < ryan(at)in-christ.net >
  http://lead.sabda.org
  http://fb.sabda.org/lead

==================================**==================================

  Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang
     kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan
         perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah
   memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.
                             (1 Petrus 2:9)
               < http://alkitab.sabda.org/?1Petrus+2:9 >

==================================**==================================
ARTIKEL

                      KUNCI KEPEMIMPINAN PETRUS
               Dirangkum oleh: Truly Almendo Pasaribu

  Banyak orang menyimpulkan bahwa pemimpin itu tergolong "makhluk
  langka". Cuma bisa dilahirkan, tidak mungkin dibentuk. Kemunculan
  seorang pemimpin yang memiliki atribut pemberani, bijak, visioner
  hanya bisa ditunggu, tidak mungkin direncanakan atau diusahakan.

  Akan tetapi, tahukah Anda bahwa Allah tidak selalu memilih pemimpin
  berdasarkan atribut-atribut tersebut? Dia memakai orang yang mau
  dibentuk karakternya. Lihatlah kehidupan Petrus yang awalnya tidak
  memunyai kriteria pemimpin yang didambakan banyak orang. Petrus
  hanyalah seorang nelayan yang tidak berpendidikan. Dia bukanlah
  orang yang sangat religius seperti ahli-ahli Taurat pada zamannya.
  Terlebih lagi karakternya bukanlah karakter idaman -- dia sombong,
  tidak sabaran, dan sering sesumbar. Namun demikian, Allah memakainya
  dan menjadikannya tokoh pemimpin yang hebat pada masa gereja
  mula-mula. Mengapa Yesus bersedia menyerahkan tugas kepemimpinan
  kepada Petrus? Ada tiga alasan yang mendasari pilihan Yesus

  1. Petrus Belajar Melayani

     Bayangkan Anda sedang bekerja, kemudian sekonyong-konyong
     seseorang mengajak Anda untuk mengikuti dan melayani bersamanya.
     Apakah Anda bersedia? Barangkali banyak orang yang merasa dirinya
     tidak cukup layak melayani. Ada juga yang dihinggapi banyak
     pertimbangan sosial dan ekonomi. Tidak sedikit juga orang yang
     barangkali acuh tak acuh dengan tawaran seperti itu. Akan tetapi,
     Petrus tidak seperti kebanyakan orang:

     Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan
     Kujadikan penjala manusia." Lalu [Petrus dan Andreas] segera
     meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia." (Matius 4:19-20)

     Tanpa pikir panjang Petrus bersedia meninggalkan pekerjaannya dan
     mengikuti Yesus untuk melayani-Nya. Bersama Yesus, Petrus
     menyaksikan banyak mukjizat yang luar biasa. Petrus tidak hanya
     berkesempatan menyaksikan pelayanan Yesus, dia bersama
     murid-muridnya yang lain juga ditunjuk Yesus untuk melayani
     setiap kota dan tempat yang hendak Yesus kunjungi (Lukas 10:1).

     Perjalanan bersama Yesus mengubah kepribadian Petrus secara
     total. Dia beserta murid-murid Yesus yang lainnya belajar
     melayani saat diberi kuasa untuk menyembuhkan banyak orang sakit
     dan menaklukan setan-setan (Lukas 10). Kisah Para Rasul 1-2
     menonjolkan kualitas Petrus sebagai pemimpin yang melayani.
     Petrus dipakai Allah secara luar biasa sehingga dia berani
     melayani di depan banyak orang. Menariknya lagi, saat menjadi
     seorang pemimpin, Petrus tidak hanya melayani kaumnya sendiri,
     dia juga merasa bebas untuk melayani orang-orang bukan Yahudi
     sesuai dengan visi Allah (Kisah 10).

     Petrus memunyai konsep "kepemimpinan yang melayani". Menurut Eka
     Damaputra dalam bukunya "Kepemimpinan dalam Perspektif Alkitab",
     seseorang yang telah teruji sebagai pelayan yang baik adalah
     orang yang telah terbukti mampu menguasai dan mengendalikan diri
     sendiri. Hanya orang yang mampu mengendalikan dirinya sendiri
     yang layak diberikan kepercayaan untuk mengendalikan, memimpin,
     dan menguasai orang lain.

  2. Petrus Belajar Taat

     Alkitab mengatakan bahwa murid-murid Yesus, khususnya Petrus,
     adalah orang-orang yang bersedia untuk belajar (Matius 5:1-2).
     Petrus, yang dulunya tidak sabaran dan sesumbar, belajar
     mendengarkan serta menaati Yesus. Eka Damaputra menyebutkan bahwa
     kepemimpinan diinspirasi oleh rasa takut dan taat akan Tuhan.
     Inspirasi ini dimiliki Petrus. Petrus adalah orang yang
     berorientasi kepada Allah dan sungguh-sungguh menaati-Nya.
     Ketaatannya tampak jelas dalam Lukas 5:5-7.

     Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras
     dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau
     menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah mereka
     melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala
     mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada
     teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang
     membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama
     mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

     Tanggapan Petrus terhadap perintah Allah sungguh mengagumkan. Dia
     tidak membantah arahan Yesus. Dia tidak mengatakan, "Yesus, ini
     akan sia-sia saja." Walaupun Petrus tidak mengerti apa maksud
     dari perintah Yesus, dia tidak mempertanyakan atau meragukan
     perintah itu, dia hanya menaati-Nya karena dia percaya kepadanya.

     Petrus bertindak dengan tepat. Dia membuktikan diri sebagai
     pengikut Yesus yang baik. Menurut Eka Damaputra, sifat ketaatan
     seperti ini dibutuhkan oleh setiap pemimpin. "Barangsiapa setia
     dalam perkara-perkara kecil," kata Yesus, "ia setia juga dalam
     perkara-perkara besar." (Lukas 16:10)

  3. Petrus Berserah kepada Allah

     Russel Betz mengatakan bahwa Petrus adalah orang yang mengerti
     arti "berserah kepada Allah". Pertama-tama, dia siap menyerahkan
     segalanya untuk mengikuti Yesus. Dalam Matius 19:27, Petrus
     mengatakan kepada Yesus bahwa dia telah meninggalkan segala
     sesuatu dan mengikut Yesus.

     Kedua, Petrus menyerahkan kegagalan masa lalunya kepada Allah.
     Salah satu senjata setan untuk menjatuhkan manusia adalah
     menyalahkan manusia atas kesalahan-kesalahannya di masa lalu.
     Tidak sedikit korban yang menjadi budak masa lalu, lalu putus
     asa. Petrus sendiri menorehkan noda hitam ketika menyangkal Yesus
     sebanyak tiga kali karena ketakutannya. Akan tetapi, alih-alih
     tenggelam dalam penyesalan seperti Saul dan Yudas, Petrus
     menyesal, menyerahkan masa lalunya, dan bangkit untuk menjalin
     hubungan yang lebih baik dengan Allah.

     Dia juga berserah kepada panggilan Yesus untuk menggembalakan
     domba-domba-Nya. Dia membiarkan Allah memproses segala kekurangan
     dan kelebihannya untuk kemuliaan-Nya. Dia mengikuti mandat Allah
     untuk melayani orang banyak (1 Petrus 5:2) serta mengajar mereka
     untuk menjadi teladan bagi banyak orang (5:2-3).

  Petrus belajar melayani, taat dan menyerahkan hidupnya dalam
  pimpinan Allah. Maxwell mencatat bahwa dia adalah pemain yang paling
  berkembang dan pemimpin yang berubah 180 derajat. Allah mengubah
  hidup Petrus dan memakainya sebagai salah satu pemimpin yang
  berhasil mengubah dunia.

  Dirangkum dari:

  1. Judul artikel: Lessons from Simon Peter’s Life: Let God Use You
     Nama situs: Cerrogordocob.com
     Penulis: Russell Betz
     Alamat URL: http://www.cerrogordocob.com/sermons/Peter1.pdf
     Tanggal akses: 23 Oktober 2010

  2. Judul artikel: Peter Shows Us How to Serve the Lord
     Nama situs: NewHopeLutheran.net
     Penulis: Pastor Raether Dale
     Alamat URL: http://www.newhopelutheran.net/Serve-the-Lord.php
     Tanggal akses: 23 Oktober 2010

  3. Judul buku: Kepemimpinan dalam Perspektif Alkitab
     Penulis: Eka Darmaputra
     Penerbit: Kairos, Yogyakarta

  4. Judul buku: The Maxwell Leadership Bible
     Penulis: John C. Maxwell
     Penerbit: Thomas Nelson Publishers, Tennessee

==================================**==================================
KUTIPAN

  Masa depan hanyalah milik orang-orang yang percaya pada keindahan
                mimpi-mimpi mereka (Eleanor Roosevelt)

=================================**===================================
ARTIKEL KHUSUS

                        SILSILAH YANG "CACAT"

    "Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham... Ishak
    memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara -
    saudaranya, Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, ...
    Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari
    Rut, ... Daud memperanakkan Salomo dari istri Uria, ... Yosia
    memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu
    pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya
    memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel, ...
    Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang
    disebut Kristus." (Matius 1:1-16)

  Berapa banyak pengkhotbah Kristen yang mengikuti jejak Matius sang
  penulis Injil pertama - mengawali paparan Injilnya dengan silsilah
  Yesus Kristus? Saya yakin, selain Ulrich Zwingli - sang pemrakarsa
  Reformasi Prostestan dari Swiss -, sedikit sekali yang melakukannya!

  Mengapa? Mungkin, karena silsilah itu dianggap cuma pelengkap
  tradisional dari suatu paparan kuno. Fungsinya menginformasikan
  asal-usul sang tokoh utama. Tidak lebih. Atau, semacam kata
  pengantar dari sebuah buku, yang biasanya dianggap bisa diabaikan
  atau dilewatkan begitu saja. Dengan kata lain, tidak ada pesan yang
  terlalu penting di dalamnya!

  Padahal, seperti kata Zwingli, silsilah itu sebenarnya mengandung
  pokok utama dari Teologi Reformasi: "sola gratia", keselamatan yang
  bersumber dari anugerah Allah semata. Silsilah itu menunjukkan
  betapa jauhnya pemahaman Gereja perdana tentang Injil - kabar baik
  tentang keselamatan bagi para pendosa!

  Lihat saja nama-nama yang tercantum dalam silsilah tersebut!
  Berbagai macam manusia hadir di sana. Mulai dari yang paling saleh
  sampai yang paling fasik! Dari yang berlatar belakang cerah sampai
  gelap! Dan, dari yang sangat populer sampai yang ... ssst ... nyaris
  tak terdengar debutnya!

  Siapa yang tidak kenal dengan Abraham, Ishak, Yakub, Daud dan
  Salomo? Mereka tokoh-tokoh yang sangat populer. Alkitab memberikan
  ruang cukup besar untuk mengisahkan hidup dan prestasi mereka!
  Namun, siapa yang mengenal tokoh-tokoh seperti Peres, Hezron, Ram,
  Aminadab, Nahason, Salmon, Obed, Abihud, Elyakim, Azor, Zadok,
  Akhim, Eliud, Eleazar, Matan, dan Yakub (ayah Yusuf suami Maria)?
  Saya yakin, tidak ada, karena memang kisah mereka tidak dicatat sama
  sekali di dalam Alkitab! Mereka cuma orang-orang biasa dengan
  prestasi rata-rata!

  Siapa yang belum pernah mendengar kesalehan Boas, Hizkia, Yosia,
  Zerubabel, dan Yusuf suami Maria? Sikap dan perilaku mereka
  benar-benar patut diteladani! Namun, siapa yang tidak pernah merasa
  "geregetan" dengan kefasikan Yehuda, yang pernah menjual adiknya
  sendiri, Yusuf, kepada para pedagang budak? Atau kefasikan para
  penguasa Kerajaan Yehuda seperti Rehabeam, Yoram, Ahazia, Ahas,
  Manasye, Amon, dan Yoyakhin? Mereka tidak lebih daripada
  penyembah-penyembah berhala yang sombong dan politikus-politikus
  yang kotor! Mereka pendosa-pendosa besar! Gara-gara semua ulah dan
  kejahatan merekalah Israel kehilangan negeri mereka!

  Belum lagi munculnya empat nama wanita dalam silsilah Kristus, yaitu
  Tamar, Rahab, Rut, dan istri Uria. "Yehuda memperanakkan Peres dan
  Zerah dari Tamar" (1:3). "Salmon memperanakkan Boas dari Rahab"
  (1:5). "Boas memperanakkan Obed dari Rut" (1:5). "Daud memperanakkan
  Salomo dari istri Uria" (1:5). Pernyataan-pernyataan ini benar-benar
  mencoreng-moreng silsilah Kristus dan mewarnainya dengan
  skandal-skandal yang memalukan. Pasalnya, tiga dari empat tokoh
  wanita tersebut memiliki latar belakang atau catatan hidup yang
  gelap. Tamar pernah menyaru sebagai pelacur dan bersetubuh dengan
  mertuanya sendiri, Yehuda (Kejadian 38:12). Rahab merupakan pelacur
  tulen dari Kanaan (Yosua 2:1b). Dan istri Uria tidak lain dari
  Batsyeba yang pernah berzinah dengan Daud (2 Samuel 11:3). Memang,
  Rut tercatat di Alkitab sebagai perempuan baik-baik, namun ia tetap
  seorang Moab alias kafir (Rut 1:22). Keempatnya memiliki latar
  belakang atau catatan hidup yang gelap!

  Akhirnya, singgungan tentang masa pembuangan ke Babel turut
  memperparah "cacat"-nya silsilah Kristus. Sejak masa itu, Israel
  tidak pernah kembali berjaya seperti dulu. Bayangkan, nenek moyang
  sang Mesias tidak lebih daripada bangsa pecundang!

  Mengapa semua "cacat" tersebut dipaparkan penulis Injil pertama?
  Bukankah semua itu akan menjatuhkan pamor Yesus sebagai Kristus,
  dengan demikian bersifat kontraproduktif terhadap tujuan
  penulisannya? Jawabannya: sama sekali tidak! Dengan membeberkan
  semua "cacat" tersebut, penulis justru bermaksud untuk menyingkapkan
  suatu kebenaran yang sangat agung tentang Allah dan karya
  keselamatan-Nya. Allah senantiasa berkarya secara bebas, menurut
  kehendak-Nya yang rahmani. Ia bebas memilih siapa saja yang
  dikehendaki-Nya untuk mengerjakan agenda-Nya. Bukan hanya yang
  saleh, tapi yang fasik dan kafir pun dilibatkan-Nya dalam pemenuhan
  rencana keselamatan-Nya bagi umat-Nya. Dengan begitu, silsilah
  Kristus turut memekikkan pokok teologis: "sola gratia"!

  Selain itu, silsilah yang "cacat" ini juga mengantisipasi pemaparan
  selanjutnya tentang sepak terjang Yesus, sang Kristus. Siapa yang
  akan dilayani dan diselamatkan-Nya? Bukan orang benar, tapi orang
  berdosa: pemungut cukai, pelacur, kafir, dan pecundang. Kepada para
  pemimpin agama yang mempertanyakan, mengapa Ia makan dengan pemungut
  cukai dan orang berdosa, Yesus menjawab, "Bukan orang sehat yang
  memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah
  arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan
  persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
  melainkan orang berdosa" (Matius 9:12-13). Yesus adalah Kristus,
  Mesias, Juru Selamat, bagi para pendosa! Silsilahnya, yang penuh
  dengan nama para pendosa, mengantisipasi dan mengumandangkan
  kebenaran ini!

  Silsilah Yesus memang "cacat". Sangat "cacat"! Garis nenek moyang
  Yesus penuh dengan nama para pendosa. Namun, itulah yang membuatnya
  bagian utuh dari Injil -- kabar baik tentang keselamatan bagi para
  pendosa. Itulah yang membuatnya sangat relevan bagi kita. Karena
  siapa pun kita, saleh atau fasik, berlatar belakang cerah atau
  gelap, populer atau tidak, kita akan menemukan diri kita dalam
  silsilah tersebut ... dalam diri para pendosa yang namanya tercantum
  di sana!

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul artikel: Silsilah yang "Cacat"
  Judul buku: Harta Karun Natal
  Penulis: Erick Sudharma
  Penerbit: Mitra Pustaka dan Perkantas, Bandung 2005
  Halaman: 13 -- 18

======================================================================
JELAJAH BUKU

  Judul Buku: Jadilah Pemimpin Sejati
  Judul Asli Buku: Be The Leader You Were Meant to Be
  Penulis: LeRoy Eims
  Penerjemah: Drs. Arvin Saputra
  Penerbit: Gospel Press, Batam 2001
  Ukuran: 11 x 18 cm
  Tebal: 265 halaman

  Perjalanan kepemimpinan yang kita miliki tidak selalu berjalan mulus
  dan bisa dilewati dengan mudah. Semua masalah yang muncul seringkali
  menjadi tantangan yang mematahkan semangat. Sementara itu, setiap
  pemimpin tentu berharap potensi kepemimpinan yang dimilikinya dapat
  berkembang dan semakin baik dari hari ke hari. Namun, untuk menjadi
  seorang pemimpin sejati kita harus mau dan mampu menghadapi berbagai
  kesulitan. Sebenarnya ada banyak cara untuk menggali sumber daya
  kepemimpinan dalam diri kita supaya dapat berkembang dengan baik.
  Salah satunya adalah mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan dunia
  kepemimpinan yang bisa didapatkan melalui tokoh-tokoh kepemimpinan
  di internet maupun literatur kepemimpinan.

  Buku yang berjudul "Be the Leader You Were Meant to Be" merupakan
  buku yang membahas prinsip-prinsip kepemimpinan serta manajemen yang
  luar biasa yang didasarkan pada kebenaran Alkitab. LeRoy Eims
  melakukan pendekatan yang berbeda dalam mencermati dan mengulas
  setiap bab dan topik yang ada dengan sangat lugas dan jelas. Selain
  itu, buku ini memperlihatkan metode kepemimpinan yang diikuti dengan
  contoh-contoh konkrit menurut Alkitab maupun pengalaman pribadi si
  penulis. Buku ini memuat 12 bab yang memiliki topik-topik penting
  yang bisa memberikan pengetahuan baru bagi Anda. Beberapa topik
  menarik yang dikupas dalam buku ini adalah Kehidupan Batin Seorang
  Pemimpin, Bagaimana Caranya Memberikan Dampak, Mengatasi Berbagai
  Kesulitan, Memenuhi Kebutuhan Kelompok, dan Komunikasi. Hal menarik
  lain dari buku ini setiap penjelasan dilengkapi dengan ilustrasi,
  sehingga kita mudah menyerap ilmu dari buku ini.

  Apakah Anda ingin menjadi seorang pemimpin yang berhasil dalam
  memotivasi dan menjalankan tugas Anda sebagai seorang pemimpin?
  Alangkah baiknya apabila setiap pemimpin Kristen mau membaca serta
  menerapkan dasar-dasar kepemimpinan rohaniah yang ada di dalam buku
  ini. Di sisi lain buku ini juga dapat menjadi panduan bagi para
  pemimpin untuk melatih dan membimbing orang lain dalam mengembangkan
  potensi dan kemampuan kepemimpinan.

  Diulas oleh: Desi Rianto

======================================================================
PERISTIWA

  22 Desember ...

  1. 1885 - Ito Hirobumi, menjadi Perdana Menteri Jepang pertama
  2. 1948 - Syafruddin Prawiranegara memimpin Pemerintahan Darurat
            Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat
  3. 1990 - Lech Walesa terpilih menjadi Presiden Polandia

  Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/22_Desember

======================================================================
Berlangganan via email: < subscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org >
Berhenti berlangganan: < unsubscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org >
Pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-leadership(at)hub.xc.org >
Kontak e-Leadership: leadership(at)sabda.org
Arsip e-Leadership: http://lead.sabda.org/epublish/3
Situs Indo Lead: http://lead.sabda.org
Facebook e-Leadership: http://fb.sabda.org/lead
Twitter e-Leadership: http://twitter.com/sabdaleadership
______________________________________________________________________
Redaksi e-Leadership: Desi Rianto dan Sri Setyawati
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright (c) 2010 e-Leadership / YLSA -- http://www.ylsa.org
Katalog SABDA: http://katalog.sabda.org
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
==================================**==================================

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org