Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-leadership/66

e-Leadership edisi 66 (10-3-2010)

Pelajaran Kepemimpinan dari Nehemia (I)

============MILIS PUBLIKASI E-LEADERSHIP EDISI MARET 2010=============

                 PELAJARAN KEPEMIMPINAN DARI NEHEMIA (I)

                      e-Leadership 66 -- 10/03/2010

   DAFTAR ISI
   EDITORIAL
   ARTIKEL: Profil Kepemimpinan Nabi Nehemia (Bagian I)
   INSPIRASI: Yes, We Can!
   JELAJAH SITUS: Christian Leaders Forum

==================================**==================================
EDITORIAL

   Shalom,

   Kami memakai bulan Maret ini untuk menyajikan pelajaran-pelajaran
   dari kepemimpinan Nehemia. Selama bulan Maret ini, kami sudah
   menyiapkan sebuah artikel menarik yang mengulas karakter
   kepemimpinan Nehemia secara lengkap.

   Mengingat ukuran artikel yang cukup panjang, kami membaginya menjadi
   dua bagian. Bagian pertama dapat dibaca pada edisi kali ini,
   sedangkan bagian kedua dipublikasikan pada edisi berikutnya, 2 pekan
   mendatang.

   Pada bagian pertama ini, kita akan mempelajari integritas dan sikap
   Nehemia sebagai seorang pemimpin visioner.

   Selamat menyimak, semoga menjadi berkat.

   Pimpinan Redaksi e-Leadership,
   Dian Pradana
   http://lead.sabda.org/
   http://fb.sabda.org/lead

==================================**==================================

"Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya,
dan Ia akan bertindak;" (Mazmur 37:5)
< http://alkitab.sabda.org/?Mazmur+37:5 >

==================================**==================================
ARTIKEL

                    PROFIL KEPEMIMPINAN NABI NEHEMIA
                                (BAGIAN I)

   Nehemia adalah salah seorang pemimpin yang inspirasional di dalam
   Alkitab. Kadang metode-metodenya tampak tidak masuk akal, namun
   Tuhan menggunakan metode-metode itu untuk menghasilkan reformasi
   kehidupan bangsa Israel dalam waktu yang singkat. Analisis terhadap
   kepribadian dan metode-metodenya mengungkapkan bahwa efektivitas
   metode-metode itu bergantung pada kualitas karakter [Nehemia]
   sendiri.

   Setelah penulis membaca kitab Nehemia, profil Nehemia menunjukkan ia
   seorang yang tekun berdoa, artinya, ia seorang yang rendah hati.
   Nehemia juga seorang yang berani menghadapi bahaya, serta perhatian
   dan tanggap terhadap kesejahteraan orang lain. Ia juga seorang yang
   memiliki visi, dapat mengambil keputusan yang jelas, dan seorang
   yang realistis.

   Sesungguhnya, dari beberapa profil Nehemia tersebut, dapat dikatakan
   bahwa perbuatan yang dilakukan Nehemia berabad-abad yang lampau
   dapat dijadikan salah satu teladan untuk memajukan para calon
   pemimpin Kristen hebat pada masa sekarang. Semoga.

   Profil Kepemimpinan Nabi Nehemia

   1. Integritas

   Nehemia seorang yang tekun berdoa. Bagi Nehemia, doa merupakan
   bagian hidup dan kerja sehari-hari. Doa adalah reaksinya yang
   pertama ketika ia mendengar kesulitan para emigran di Yerusalem.
   Nehemia juga bukan seorang yang asing di takhta kasih karunia
   (Nehemia 1:4, 6, 2:4, 9, 5:19, 6:14, 22, 29) [1].

   Seorang pemimpin Kristen yang efektif haruslah seorang yang sudah
   dilahirkan baru di dalam Kristus, yang bersih dalam moral, dan
   menjaga standar kebenaran menurut Tuhan [2]. Kristus datang ke dunia
   untuk membawa manusia dari kegelapan menuju terang. Kegelapan telah
   melingkupi watak dan karakter manusia karena Iblis senantiasa
   berusaha merusak moralitas manusia. Tidak mengherankan bahwa sudah
   terlampau banyak pemimpin Kristen dan non-Kristen abad sekarang,
   yang ternyata sudah menyakiti hati rakyatnya dengan tidak
   memedulikan keadilan dan kesejahteraan. Salah satu sifat penting
   kepemimpinan Kristen yang efektif ialah kemampuan untuk menyesuaikan
   bentuk kepribadian seseorang dengan situasi tertentu [3]. Karakter
   dan moral yang sudah mulai rusak harus dipulihkan kembali melalui
   pendamaian oleh Tuhan Yesus, supaya bersih dan dilayakkan untuk
   menjadi seorang pemimpin umat manusia. Nehemia adalah seorang pendoa
   karena dia sudah lahir baru. Kebijaksanaan dan hikmat bersumber dari
   Allah. Sesungguhnya, agar seseorang dapat memimpin atau memberi
   pengaruh secara rohani kepada orang lain, ia harus memperdalam
   hubungannya dengan Tuhan [4]. Komunikasi yang dijalin terus-menerus
   dengan Allah merupakan hubungan yang bersifat supernatural, yang
   dapat menghasilkan perubahan kepada para pemimpin dalam mengambil
   keputusan yang bijaksana. Kalau seorang pemimpin putus hubungan
   dengan Allah dan orang-orangnya, ia kehilangan sifat rela-diajarnya
   [5].

   Orang Kristen yang bijaksana adalah orang yang memiliki pandangan
   yang tepat mengenai anugerah Tuhan. Paulus menekankan hal ini ketika
   dia menulis kepada Titus: "Karena kasih karunia Allah yang
   menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita untuk
   meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya
   kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang
   ini." (Titus 2:11- 12)

   Pemimpin yang bijaksana adalah seorang yang suka berdoa. Ia akan
   berlutut dalam doa penyembahan yang penuh kerendahan hati. Kemudian,
   ia akan naik ke tingkatan yang baru dalam hidup kudus dan benar [6].
   Petrus mengatakan hal ini ketika ia menasihati pengikut-pengikutnya:
   "... kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa."
   (1 Petrus 4:7).

   Salah satu tantangan besar bagi banyak pemimpin Kristen adalah
   penggunaan kepemimpinan yang tegas. Kebanyakan pemimpin Kristen yang
   berhati lembut ingin menunjukkan belas kasihan dan cinta seperti
   seorang hamba. Meskipun kepemimpinan itu di dalam gereja, namun
   gereja juga adalah satu medan perjuangan rohani dan sering
   memerlukan kekuatan kepemimpinan yang tidak selazim di dunia
   sekuler.

   Konflik dalam pelayanan mungkin merupakan suatu fakta, tetapi [fakta
   itu] tidak seharusnya menjadi tidak tertangani [7]. Agar dapat
   bertahan, para pemimpin harus memandang kesulitan sebagai sesuatu
   yang biasa, bahwa kompleks itu normal [8]. Alkitab mencatat bahwa
   Tuhan Yesus sendiri datang untuk merobohkan dinding permusuhan. Dia
   melakukan yang terbaik untuk mempersatukan orang-orang. Dalam Efesus
   2:14, "Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan
   kedua pihak, dan yang telah merobohkan tembok pemisah, yaitu
   perseteruan," Dia menyadari bahwa Ia tidak dapat dan memang tidak
   [datang] untuk memenangkan mereka semua. Sementara itu,
   keinginan-Nya untuk mendatangkan kedamaian bagi semua manusia
   membuat Dia harus mengurbankan nyawa-Nya, dan itu merupakan tujuan
   yang berharga dan tetap demikian sampai hari ini, untuk kita semua
   yang memimpin.

   Karakter kepemimpinan Kristen adalah kesaksian dan pelayanan yang
   digerakkan oleh belas kasih Allah. Dengan demikian, dituntut
   kerendahan hati, kesediaan berkurban, pengosongan diri, penyangkalan
   diri, dan kerelaan mengutamakan kepentingan orang lain di atas
   kepentingan diri sendiri [9].

   Nehemia seorang yang realistis. Ia mengetahui bahwa banyak tantangan
   akan dihadapinya saat ia memimpin pembangunan kembali tembok
   Yerusalem (4:1-3). Nehemia merendahkan diri di hadapan Tuhan Allah
   dan meminta pertolongan (4:4-5). Seorang pemimpin pasti akan
   berhadapan dengan para penentang, sebab ia mengusulkan pembuatan
   sesuatu yang berbeda. Konflik muncul ketika pemimpin harus
   menetapkan suatu pilihan [10].

   Seorang pemimpin harus rendah hati dan realistis, bahwa ia bukanlah
   Tuhan yang sanggup membuat keputusan tepat. Dia harus mampu meminta
   saran-saran yang dapat memberi pencerahan. Salomo mengatakan,
   "Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana
   kalau penasihat banyak." (Amsal 15:22) Seorang yang bijaksana
   menyadari bahwa ia memunyai pengertian yang terbatas. Ia mengetahui
   kebutuhan dirinya akan pertolongan. Melibatkan orang lain untuk
   membicarakan bersama pengambilan suatu keputusan memang bermanfaat
   [11]. Jika orang mengetahui bahwa mereka memunyai andil dalam proses
   pengambilan keputusan itu, mereka akan lebih bekerja sama dalam
   pelaksanakan keputusan itu. Banyak keterangan akan diperoleh jika
   lebih dari satu orang ikut memberikan pertimbangan mereka.

   Tuhan memanggil kita ke sejenis kepemimpinan yang berbeda di antara
   umat-Nya - dengan satu pendekatan, bahwa para pemimpin hadir untuk
   melayani. "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah
   ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka
   di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya." (Markus
   10:43b-44) Kepemimpinan yang melayani bersumber pada serangkaian
   nilai, asumsi, dan prinsip yang bertentangan dengan dunia sekuler
   [12]. Integritas berhubungan dengan nilai. Nilai adalah prinsip
   dasar subjektif, yang berakar pada pengalaman-pengalaman khas yang
   nyata, memengaruhi, dan yang diturunkan, serta kemudian dibakukan
   menjadi prinsip atau filsafat hidup. [Ia] berperan sebagai landasan
   untuk paradigma, perspektif, cara bernalar, dan memotivasi, yang
   dengan sendirinya mengendalikan kebiasaan, sikap, dan tindakan.
   Nilai-nilai itu serta-merta menentukan kadar dan bobot etika, moral,
   kebiasaan, sikap, serta perilaku setiap orang. Nilai turut
   memengaruhi visi pribadi dan visi kepemimpinan setiap orang [13].

   Nehemia memiliki sesuatu yang khas di dalam dirinya [14]. Ia seorang
   yang peduli kepada orang lain. Tampak jelas, ia memerhatikan
   kesejahteraan orang lain secara tulus, dan para musuhnya pun
   mengetahui hal itu (2:10). Ia mengekspresikan perhatiannya dengan
   berpuasa, berdoa, dan menangis (1:4-6). Ia menempatkan dirinya
   bersama dengan bangsanya yang menderita karena dosa-dosa mereka
   (1:6).

   Nehemia bukan hanya seorang yang berkharisma, ia juga berkarakter
   baik. Pada masa kini, banyak pemimpin berkharisma tetapi tidak
   memiliki karakter. Kharisma adalah pesona dan daya tarik pribadi
   yang besar, tetapi karakter adalah kekuatan moral, etika, dan
   integritas [15]. Karakter itu terungkap pada saat kita melakukan
   sesuatu tanpa kehadiran orang lain yang memperhatikan. Karakter juga
   tampak ketika kita melakukan sesuatu yang benar bagi orang lain
   walaupun kita sendiri tidak mengalami kebaikannya. Itulah yang Tuhan
   Yesus lakukan di dalam 1 Petrus 2:22-23, "Ia tidak berbuat dosa, dan
   tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak
   membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak
   mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi
   dengan adil."

   Karakter yang baik dan teguh akan mendukung keberhasilan seorang
   pemimpin. John C. Maxwell [16] mengajukan empat cara untuk membuat
   kita mendapatkan simpati dari orang yang kita pimpin, yakni: jika
   Anda terlebih dulu menggerakkan orang-orang dengan perasaan, mereka
   akan lebih bersedia bertindak; jika Anda terlebih dahulu memberi,
   orang-orang akan membalas pemberian Anda; jika Anda menarik simpati
   perseorangan, Anda akan segera diperhatikan orang banyak; jika Anda
   mengulurkan tangan kepada orang-orang Anda, mereka akan membalas
   uluran tangan Anda.

   Panggilan tertinggi bagi para pemimpin sekarang ialah panggilan
   untuk saling mengasihi dengan tulus hati, sebagaimana kita telah
   saling mengasihi dan mengampuni. Iman membangun iman. Pesimisme
   berubah menjadi iman [17]. Tugas utama kepemimpinan rohani adalah
   pembangunan iman orang lain. Kita sering sulit mendengarkan Roh
   Kudus membisikkan panggilan ini ke dalam hati kita bila kita telah
   terlatih lebih mendukung sistem-sistem yang membenarkan dirinya
   sendiri alih-alih yang lain [18].

   2. Pemimpin Visioner

   Nehemia adalah seorang yang berpandangan jauh ke depan. Ia
   mengetahui bahwa pasti akan bangkit perlawanan, jadi ia meminta sang
   raja memberikan mandat tertulis agar perjalanannya aman dan ia
   mendapat dukungan untuk menyelesaikan mandat tersebut, "... memasang
   balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk
   tembok kota ..." (2:8) Ia merencanakan strateginya dengan cermat.
   Tuhan memakai seorang biasa yang awam, yang memiliki tujuan dan visi
   yang tidak biasa [19]. Nehemia mengungkapkan visinya dengan istilah
   yang sesederhana mungkin. Sasaran bangsa itu adalah pembangunan
   kembali tembok Yerusalem [20].

   Setiap calon pemimpin harus memunyai visi. Tanpa visi, ia tidak
   mungkin bisa mencapai tujuan. Visi yang jelas akan memungkinkan
   seorang pemimpin percaya dan yakin. Visi berkaitan dengan penciptaan
   sesuatu yang baru, tidak mengabaikan yang lampau, tetapi membangun
   di atas fondasi sebelumnya dan yang akan muncul sebagai realitas
   yang lebih baik dibanding realitas sekarang. Bila diwujudkan secara
   penuh, visi itu akan membawa kita lebih dekat pada cita-cita kita
   [21]. Visi memerlukan tindakan nyata. Pemimpin yang luar biasa
   bangun pada pagi hari dengan sebuah rencana dan mengerjakannya.
   Mereka tidak selalu meminta izin sebelum bergerak. Kepemimpinan
   adalah memproduksi hasil [22]. Visi kepemimpinan adalah kemampuan
   pemimpin untuk melihat dan memahami keinginan suci yang ditulis oleh
   Allah di dalam batinnya bagi organisasi serta kepemimpinannya. Di
   dalam visi itu, terdapat kehendak Allah yang khusus bagi
   kepemimpinan seorang pemimpin [23].

   Nehemia memiliki sasaran kepemimpinan. Sasaran Nehemia adalah
   pembangunan kembali tembok Yerusalem yang telah runtuh dan terbakar
   (1:3, 2:17). Nehemia mengajak penduduk dan mereka mendukungnya.
   Mengapa pemimpin perlu memunyai sasaran? Paling sedikit terdapat
   tiga alasan, antara lain [24]:

     1. Pengarahan. Pemimpin memerlukan sasaran untuk mengarahkan
        kehidupannya. Tidak mungkin seseorang terus melangkah maju
        menuju tujuan jika ia tidak memunyai tujuan tertentu.

     2. Kemajuan. Sasaran itu penting untuk memastikan bahwa akan ada
        suatu kemajuan. Jika gereja tidak memiliki suatu sasaran utama,
        yang dijadikan tujuan dan diperjuangkan oleh seluruh orang
        percaya di dalam jemaat itu, gereja mungkin seolah-olah tampak
        sibuk dengan program itu, tetapi sebenarnya tidak mengalami
        kemajuan apa pun.

     3. Hasil yang dicapai. Pelaksanakan sasaran itu sampai selesai
        penting untuk memberikan suatu hasil. Jika tidak ada sasaran
        tertentu, tidak akan pernah diketahui keberhasilan atau
        ketidakberhasilan pelaksanaan program itu. Setelah penentuan
        sasaran, dilanjutkan dengan pelaksanaan. Jika tidak ada
        pelaksanaan, sasaran itu hanya sekadar satu ide mistik saja.
        Kekristenan bukan sebuah filsafat yang sebatas ide saja,
        melainkan suatu cara hidup yang harus diterapkan dan
        dilaksanakan [25].

   Daftar Pustaka:

   Barna, George. 2002. "Leaders On Leadership". Malang: Gandum Mas.

   Eims, Leroy. 2003. ",12 Ciri Kepemimpinan yang Efektif". Bandung:
     Kalam Hidup, 2003.

   Gangel, Kenneth O. 1998. "Membina Pemimpin Pendidikan Kristen".
     Malang: Gandum Mas.

   Gordon, Bob. 2000. "Visi Seorang Pemimpin". Jakarta: Nafiri Gabriel,
     2000.

   Harefa, Andrias. 2001. "Kepemimpinan Kristiani". Jakarta: UPI STT,
     2001.

   Maxwell, John C. 2002. ",21 Menit Paling Bermakna dalam Hari-hari
     Pemimpin Sejati". Batam Centre: Interaksara.

   Meyer, Joyce. 2002. "Membangkitkan Roh Kepemimpinan". Jakarta:
     Trinity Publishing.

   Rinehart, Stacy T. 2003. "Paradoks Kepemimpinan Pelayan". Jakarta:
     Immanuel.

   Sanders, Oswald, J. 2002. "Kepemimpinan Rohani". Batam Centre:
     Gospel Press.

   Sinamo, Jansen H. 2001. "Kepemimpinan Kristiani". Jakarta: UPI STT,
     2001.

   Tomatala, Yacob. 2005. "Anda Juga Bisa Menjadi Pemimpin Visioner".
     Jakarta: YT Leadership Foundation.

   Zenger, John H., and Joseph Folkman. 2004. "The Handbook For
     Leaders". New York: McGrawHill.

   Catatan Kaki:

   [1] J. Oswald Sanders, Kepemimpinan Rohani. (Batam Centre: Gospel
       Press, 2002, hlm. 280.)
   [2] George Barna, Leaders On Leadership. (Malang: Gandum Mas,
       2002, hlm. 103.)
   [3] Kenneth O. Gangel, Membina Pemimpin Pendidikan Kristen. (Malang:
       Gandum Mas, 1998, hlm. 104.)
   [4] Stacy T. Rinehart, Paradoks Kepemimpinan Pelayan. (Jakarta:
       Immanuel, 2003, hlm. 114.)
   [5] John C. Maxwell, 21 Menit Paling Bermakna dalam Hari-hari
       Pemimpin Sejati. (Batam Centre: Interaksara, 2002, hlm. 123.)
   [6] George Barna, Op. Cit., hlm. 108.
   [7] George Barna, Ibid., hlm. 146.
   [8] J. Oswald Sanders, Op. Cit. hlm. 228.
   [9] Andrias Harefa, Kepemimpinan Kristiani. (Jakarta: UPI STT, 2001,
       hlm. 34.)
   [10] George Barna, Op. Cit., hlm. 141.
   [11] Leroy Eims, 12 Ciri Kepemimpinan yang Efektif. (Bandung: Kalam
        Hidup, 2003, hlm. 149-150.)
   [12] Stacey T. Rinehart, Op. Cit, hlm. 38-39.
   [13] Yacob Tomatala, Anda Juga Bisa Menjadi Pemimpin Visioner.
        (Jakarta : YT Leadership Foundation, 2005, hlm. 56-57.)
   [14] J. Oswald Sanders, Op. Cit., hlm. 280.
   [15] Joyce Meyer, Membangkitkan Roh Kepemimpinan. (Jakarta: Trinity
        Publishing, 2002, hlm. 304.)
   [16] John C. Maxwell, Op. Cit, hlm. 194-195.
   [17] J. Oswald Sanders, Op. Cit., hlm. 282.
   [18] George Barna, Op. Cit., hlm. 94-95.
   [19] Joyce Meyer, Op. Cit., hlm. 353.
   [20] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 84.
   [21] George Barna, Op. Cit., hlm. 56.
   [22] John H. Zenger and Joseph Folkman, The Handbook For Leaders.
        (New York : McGrawHill, 2004, hlm. 13-14.)
   [23] Yacob Tomatala, Op. Cit., hlm. 24.
   [24] Leroy Eims, Op. Cit., hlm. 124-125.
   [25] Bob Gordon, Visi Seorang Pemimpin. (Jakarta : Nafiri Gabriel,
        2000, hlm. 84.)

   Diambil dan disunting seperlunya dari:
   Nama situs: Wisdom from Heaven
   Pengirim: Jonni Arifson Gultom, M. Th.
   Alamat URL: http://jonarifgultom.blogspot.com/2007/11/
               profil-kepemimpinan-nabi-nehemia.html

==================================**==================================
KUTIPAN

   Seorang pemimpin yang bijaksana akan berlutut dalam doa penyembahan
   yang penuh kerendahan hati. Kemudian, ia naik ke tingkatan baru
   dalam hal hidup kudus dan benar.

==================================**==================================
INSPIRASI

                               YES, WE CAN!

   Barrack Obama memenangi Pemilihan Presiden di Amerika Serikat karena
   menjanjikan perubahan. Ia berhasil meyakinkan publik bahwa di bawah
   kepemimpinannya, negeri yang terpuruk itu bisa kembali bangkit. Para
   pendukungnya pun sangat optimis. Dalam setiap kampanye, mereka
   berseru-seru penuh semangat: "Yes, we can!" -- "Ya, kita bisa!"
   Bersama Obama, masa kejayaan Amerika Serikat pasti akan datang lagi.

   Nehemia juga memunyai optimisme seperti itu ketika akan membangun
   kembali tembok Yerusalem. Bedanya, optimisme Nehemia bersumber pada
   Tuhan. Bersama rekan sebangsanya yang ikut membangun, ia maju dengan
   prinsip: "Bersama Tuhan, kita bisa!" Prinsip ini terbukti ampuh
   ketika muncul gangguan dari Sanbalat dan Tobia. Keduanya mengatai
   para pekerja itu lemah, tidak akan sanggup membangun tembok yang
   sudah hancur total. Kalau pun bisa, perlu waktu lama dan hasilnya
   tidak akan sekokoh tembok sebelumnya. Keduanya berusaha mematahkan
   semangat Nehemia dan kawan-kawan. Namun, Nehemia tidak ambil pusing.
   Ia mengadukan semuanya kepada Tuhan, lalu ia terus bekerja. Ia
   meyakini penyertaan Tuhan akan memampukan mereka berbuat melebihi
   perhitungan manusia. Akhirnya, Tuhan membuat mereka berhasil dan
   menggagalkan rencana jahat para pengganggu.

   Banyak "Sanbalat dan Tobia" di sekitar kita. Gambaran buruk atau
   anggapan negatif yang bisa membuat kita pesimis dan putus asa. Jika
   kita menanggapinya, kita akan kalah sebelum berperang. Oleh sebab
   itu, pakailah prinsip Nehemia. Yakinilah penyertaan Tuhan, lalu maju
   dan katakanlah: "Bersama Tuhan, kita bisa!"

   Diambil dan disunting seperlunya dari:
   Nama publikasi: e-RH
   Penulis: JTI
   Alamat URL: http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2009/04/01/

==================================**==================================
JELAJAH SITUS

                         CHRISTIAN LEADERS FORUM

   Christian Leaders Forum diadakan untuk memperlengkapi dan
   memfasilitasi para pemimpin gereja dari berbagai denominasi agar
   mereka dapat mengembangkan gereja-gereja lokal yang sehat, berpusat
   pada Kristus, dan berfokus pada misi. Dengan kantor pusatnya di
   Inggris bagian timur laut, forum ini berfokus utama pada penyatuan
   pemimpin gereja lokal di wilayah timur laut.

   Setidaknya, situs ini menyediakan lima topik forum, yakni
   Kepemimpinan (Leadership), Berkhotbah dan Mengajar (Preaching and
   Teaching), Serambi (The Lounge), Situs (The Site), Diskusi Teologi
   (Theological Discussion), dan Pemimpin Pemuda (Youth Leaders). Anda
   dapat berpartisipasi dalam forum-forum itu, baik dengan memberikan
   komentar maupun untuk memulai diskusi baru, tanpa harus mendaftar
   menjadi anggota terlebih dahulu.

   Meskipun berlabel "forum", situs ini tidak murni berisi forum. Di
   sini, Anda juga dapat menemukan artikel-artikel yang bermanfaat.
   Anda tertarik? Silakan kunjungi alamat di bawah ini. (DP)

   ==> http://www.christianleadersforum.com/

==================================**==================================
Berlangganan: < subscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org >
Pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-leadership(at)hub.xc.org >
Kontak e-Leadership: leadership(at)sabda.org
Arsip e-Leadership: http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/arsip
Situs Indo Lead: http://lead.sabda.org/
Facebook e-Leadership: http://fb.sabda.org/lead
______________________________________________________________________
Redaksi e-Leadership: Dian Pradana, Sri Setyawati, dan Desi Rianto
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN

Copyright(c) e-Leadership 2010 / YLSA -- http://www.ylsa.org/
Katalog SABDA: http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
==================================**==================================

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org