Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-leadership/52

e-Leadership edisi 52 (12-8-2009)

Memimpin Dengan Kasih (I)

 
DIKIRIM KEPADA: $subst(`Recip.EmailAddr`)

===========MILIS PUBLIKASI E-LEADERSHIP EDISI AGUSTUS 2009============

                       MEMIMPIN DENGAN KASIH (I)

                     e-Leadership 52 -- 12/08/2009

  DAFTAR ISI
  EDITORIAL
  ARTIKEL: Cintailah Kawan dan Musuhmu
  KUTIPAN
  INSPIRASI: Mengasihi Tuhan dan Sesama
  JELAJAH SITUS: Daniel Ronda Ministries
  STOP PRESS: 40 Hari Mengasihi Bangsa dalam Doa

==================================**==================================
EDITORIAL

  Shalom,

  Matius 5:44 mengatakan, "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah
  musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." Saya rasa
  ayat itu sudah jelas. Tuhan menuntut kita untuk kita mengasihi Allah
  dan sesama kita, tak terkecuali musuh kita, atau orang-orang yang
  mungkin tidak kita sukai.

  Hal itu juga berlaku bagi seorang pemimpin. Mungkin saja, ada
  kalanya seorang pemimpin harus bekerja dengan orang-orang yang tidak
  ia sukai. Nah, kalau demikian, apa yang harus ia lakukan?
  Menjatuhkannya atau malah mengasihinya? Sebagai orang Kristen, saya
  yakin Anda pasti sudah tahu jawabannya, tapi mari kita coba simak
  artikel yang sudah siap dibaca berikut ini. Kiranya semakin menambah
  dalam pengetahuan Anda, dan pada akhirnya memampukan Anda untuk
  memimpin dengan penuh kasih.

  Selamat menyimak, Tuhan memberkati!

  Pimpinan Redaksi e-Leadership,
  Dian Pradana
  http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/
  http://lead.sabda.org/

  "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
  jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama
  dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah:
  Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum
  inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
  (Matius 22:37-40)
  < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Matius+22:37-40 >

==================================**==================================
ARTIKEL

                      CINTAILAH KAWAN DAN MUSUHMU

  "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan
  bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan
  berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian
  kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan
  matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan
  hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu
  mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah
  pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi
  salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada
  perbuatan orang lain?" (Matius 5:43-47)

  Sekali lagi, Yesus mengambil sikap yang sangat menantang. Di antara
  beberapa inti pesan-Nya berupa cinta, Ia mengajarkan bahwa kita
  harus menawarkan hadiah berharga bagi setiap orang, bahkan kepada
  orang-orang yang tidak terbayangkan untuk kita cintai. Di sini,
  Yesus berkhotbah tentang pelajaran serius mengenai cinta, yaitu
  dalam perbedaan nyata bahwa cinta disuguhkan dengan cara yang
  sembrono dalam kebudayaan kita. Cinta pun sangat sering dipandang
  sebagai "komoditas sehari-hari" yang bisa ditukar dan digunakan
  dalam mengejar banyak keinginan dan kesenangan kita.

  Gagasan ini dikarikaturkan oleh iklan bir terkenal yang menceritakan
  seseorang laki-laki yang menginginkan merek bir tersebut di atas
  segala-galanya. Ia mencoba sejumlah strategi untuk mendapatkan apa
  yang dia inginkan, hingga ketika semuanya gagal, ia berhenti pada
  kata-kata terakhir. Dengan emosi berlebihan, dia hanya berkata,
  "Saya mencintaimu." Beberapa iklan komersial terlihat merusak
  hubungan positif di antara anggota masyarakat. Saya percaya reaksi
  ini menunjukkan bahwa bagi kita, cinta telah menjadi sesuatu yang
  teramat sering digunakan untuk menerima pamrih pada kemudian hari.
  Iklan tersebut sukses dan terkesan lucu dari perilaku nonverbal yang
  ditunjukkan oleh aktor pencari bir itu. Bagaimanapun juga, kata-kata
  yang digunakannya adalah satu di antara kata-kata yang paling ampuh
  dan banyak didengar di antara kita, yaitu, "Aku cinta kamu."
  Mungkin, penggunaan kata-kata ampuh itu adalah sesuatu yang keluar
  dari mulut seseorang secara wajar, seperti iklan bir yang
  menciptakan perbedaan yang teramat tajam, sehingga sangat sulit
  untuk tidak menertawakannya.

  Dalam pelajaran ini, Yesus menantang kita untuk menghadapi
  kontradiksi yang lebih dramatis. Dia mengarahkan kita untuk
  mencintai tidak hanya teman dan tetangga kita, tetapi juga
  musuh-musuh kita. Mungkin jika Ia menggunakan kata toleransi atau
  bahkan meminta kita untuk "menyukai" musuh kita, maka hal itu tidak
  akan sulit dilakukan. Namun, Ia mengatakan, jika kita hanya
  mencintai orang yang menjamu kita dengan baik, kita tidak akan lebih
  baik daripada pemungut cukai (sebuah kelompok yang pada masa Yesus
  merupakan kelompok paling hina).

  Mengapa Yesus memerintahkan kita untuk melakukan tindakan yang
  nampaknya tidak biasa dan hampir tidak mungkin untuk dilakukan?
  Beberapa orang mungkin dapat memaksakan diri mereka mengorbankan
  sesuatu untuk orang yang mereka kasihi, namun mengorbankan sesuatu
  untuk musuh nampaknya mustahil. Bagaimanapun juga, Yesus menawarkan
  beberapa petunjuk mengapa hal-hal ini penting walaupun terkesan
  sebagai suatu pencarian tujuan yang aneh. Ada sebuah nasihat yang
  memancarkan cahaya dalam pelajaran menantang ini. Dia berkata:

    "Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama 
    dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan 
    engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada 
    pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata 
    kepadamu: sesungguhnya engkau tidak akan dapat keluar dari sana, 
    sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas." (Matius 5:25-26)

  Ironisnya, ajaran Yesus ini sering kali pada akhirnya menguntungkan
  kita, walaupun pada awalnya sepertinya menguntungkan pihak musuh.
  Dalam kasus ini, Dia mengajarkan bahwa kita harus berdamai dengan
  musuh kita sehingga mereka tidak akan menyerang kita pada kemudian
  hari. Nasihat-Nya ini sangat jelas dan masuk akal.

  Seorang rekan konsultan saya mempelajari ajaran ini ketika ia
  membimbing sebuah perusahaan untuk mengubah operasi pergudangannya
  dari struktur manajemen tradisional menuju tim kerja yang berdaya
  guna. Awalnya, beberapa manajer merasa terancam dengan adanya
  perubahan itu dan menolak usulan sang konsultan. Seorang manajer
  dengan terang-terangan bersikap kasar. Dia percaya bahwa sistem yang
  baru akan mengancam posisinya di dalam perusahaan sehingga ia akan
  kehilangan pekerjaannya. Akibatnya, ia menentang keras rencana
  perubahan itu, bahkan berkonfrontasi dengan konsultan itu. Ketika
  perubahan itu disetujui oleh manajemen yang lebih tinggi, manajer
  itu bereaksi dan melempar pemantik apinya di ruangan.

  Bisa saja konsultan itu punya alasan jelas untuk tidak menyukai
  manajer yang satu itu dan berharap dia akan dikeluarkan dari
  perusahaan. Namun, dia justru mencoba untuk meyakinkan kembali
  manajer itu dengan memberitahukan kepadanya bagaimana sistem itu
  akan menguntungkan dia. Dia berusaha memisahkan manajer itu dari
  atasannya dan memastikan bahwa sistem yang baru tidak akan mengancam
  pekerjaannya. Manajer itu pun bergabung lagi. Dia menjadi pendukung
  kuat dari sistem itu dan memberi beberapa kontribusi untuk membantu
  kesuksesan tim. Dia menjadi instrumen penting dalam membantu
  pengembangan bahasa baru untuk peraturan baru, yaitu sebagai
  fasilitator. Untuk ini, dia mendapat julukan "Wordman" dari
  rekan-rekannya. Dia juga minta maaf atas sikapnya sebelumnya kepada
  konsultan itu di hadapan rekan-rekannya. Dia berubah dari seorang
  musuh menjadi sekutu yang kuat bagi konsultan itu.

  Masih banyak lagi yang dapat dipetik dari pelajaran ini selain
  panggilan untuk membangun hubungan eksternal dengan orang-orang yang
  memiliki perilaku menyulitkan. Kenyataannya, bentuk hubungan itu, di
  mana kita sering mengubahnya menjadi musuh terburuk, merupakan
  pengalaman yang biasa terjadi dan telah memberi kontribusi pada
  kebijakan konvensional. Jika kita memusatkan perhatian pada
  pertengkaran, bahkan pada kebencian dan hal-hal lain yang menjadi
  masalah kita, maka kita menciptakan masalah serius pada kesehatan
  kita sendiri serta pada proses menjadi orang yang baik dan
  berkualitas. Telah terbukti jelas bahwa hubungan yang saling
  mendukung dan mencintai amat penting untuk kesehatan mental dan
  fisik kita. Bahkan, memberi dan memperoleh afeksi dari binatang
  piaraan dapat memberi manfaat yang besar. Jelasnya, sering
  bertengkar dengan orang lain bertentangan langsung dengan tujuan
  pengetahuan ini, yang menganjurkan kita menjaga sikap demi kebaikan
  kita sendiri. Selain itu, manakala kita membalas perlakuan buruk
  orang lain, kita sebenarnya menjadi semakin erat terikat dengan
  mereka. Frustrasi dan dendam akan cenderung membusuk jika kita
  bersikeras mengingat-ingat kesalahan yang dilakukan orang pada masa
  lalu.

  Hal ini tidak berarti kita membiarkan orang lain menyiksa kita,
  melainkan kita membiarkan masa lalu berlalu. Menyimpan dendam akan
  menggerogoti batin kita dan membuat kita tetap berfokus pada orang
  yang ingin kita lupakan. Kita cenderung asyik dengan pemikiran atas
  besarnya pengaruh orang lain pada diri kita. Akibatnya, orang-orang
  itu cenderung menjadi pusat kehidupan mental kita. Ironisnya, orang
  yang sangat tidak kita inginkan memunyai hubungan dengan kita justru
  menghantui pikiran, menjadi fokus kita lebih daripada orang-orang
  yang sungguh-sungguh kita cintai. Masuk akal jika kita akhirnya
  menjadi musuh yang menyakiti diri kita sendiri. Pikiran negatif
  menyerang dari dalam diri kita sendiri.

  Kebalikannya, dengan belajar mencintai walaupun orang itu adalah
  musuh kita, kita tidak saja dibebaskan dari keterikatan pada objek
  kefrustrasian yang ada dalam diri kita, namun juga dimampukan untuk
  menciptakan satu lagi sumber dukungan positif dan kebahagiaan dalam
  hidup kita. Intinya, dengan mengekspresikan cinta pada musuh-musuh
  kita, maka kita menciptakan kondisi yang dapat mengubah musuh
  menjadi teman. Hal ini tampak sebagai tindakan yang penuh kekuatan
  dari mencintai diri kita sendiri. Tema umum buku ini adalah
  bagaimana kita dapat memberdayakan orang lain untuk memimpin diri
  mereka sendiri. Dengan adanya kesabaran dan penghiburan untuk
  menolong orang yang sulit berkembang padahal mereka mampu untuk itu,
  kita melayani diri kita sebaik orang-orang yang kita bantu untuk
  lebih berdaya.

  Saya sering kali menikmati manfaat dari pendekatan yang bijaksana
  ini. Selama hidup saya, ada saat-saat ketika saya diingatkan tentang
  atasan yang baru maupun yang sekarang, rekan, bawahan, pelanggan,
  atau para mahasiswa. Di lain waktu, saya melihat perilaku sinis atau
  sikap menjengkelkan dari orang-orang yang berinteraksi dengan saya.
  Sering kali, jika saya menolak orang-orang ini dan menghindari
  mereka, bukannya berusaha membangun pikiran positif dan hubungan
  yang saling mendukung, ternyata hasilnya mengejutkan saya. Banyak
  pengalaman berelasi terbaik saya berasal dari usaha membangun
  hubungan persahabatan dan rekanan dengan orang-orang yang semula
  saya pikir adalah orang-orang yang menyulitkan. Sekarang, jika saya
  diberi peringatan untuk menghindari seseorang, saya malah menjadi
  lebih ingin mengenal dia. Saya mengira-ngira, apakah ini akan
  menjadi sebuah kesempatan untuk menolong seseorang dan diri saya
  sendiri untuk memiliki pengalaman pribadi yang positif. Saya juga
  berharap orang lain akan melakukan seperti apa yang saya lakukan
  jika suatu saat saya bertingkah menjengkelkan.

  Dunia berisikan bermacam-macam orang. Ada beberapa orang yang bentuk
  keterikatannya berupa pertentangan dengan kita, yang memiliki
  nilai-nilai motivasi-motivasi dan tujuan-tujuan konflik. Namun
  bagaimanapun juga, mereka adalah bagian nyata dari dunia kita.
  Pernah suatu kali saya dinasihati agar kita mencari orang-orang yang
  tidak kita sukai karena mereka bisa mengungkapkan sesuatu dalam diri
  kita. Mereka bisa mencerminkan hidup kita, memantulkan beberapa
  aspek diri kita yang tidak kita sukai atau yang membuat kita merasa
  tidak nyaman. Akibatnya, dengan semangat belajar yang tinggi, saya
  bertemu dengan orang-orang yang membuat saya merasa tidak nyaman.
  Kami berjanji bertemu pada saat makan siang atau berbincang-bincang.
  Saya menemukan bahwa kegiatan ini bernilai tinggi dan telah
  mencerahkan saya. Akhirnya, saya sering kali tidak berhenti bertemu
  dengan orang-orang seperti ini.

  Dengan mencari dasar yang sama dengan orang-orang yang bekerja dan
  hidup bersama dengan kita, kita membantu diri sendiri untuk
  membangun kehidupan yang lebih baik dalam pekerjaan dan hidup
  sehari-hari. Biasanya, jika kita membantu orang lain untuk menemukan
  diri mereka, membuat mereka menjadi tidak lagi begitu frustrasi dan
  lebih memiliki makna dalam hidup mereka, maka mereka akan dengan
  mudah menemukan pemberdayaan diri yang mereka butuhkan untuk menjadi
  orang yang lebih baik. Kita juga dapat menemukan bahwa kita lebih
  sering memusuhi mereka dibanding yang mereka lakukan terhadap kita.

  Yesus mencoba mengajarkan pada kita bahwa ketika kita mencintai
  orang lain, khususnya orang yang kita benci, sama seperti kita juga
  mencintai diri kita. Bagi para pemimpin yang ingin memengaruhi
  secara positif semua orang yang bekerja bersama dengannya, gagasan
  tentang cinta adalah sumber kekuatan dari kebijaksanaan. Pertanyaan
  seperti, "Apakah kepemimpinan saya dalam situasi ini konsisten
  dengan gagasan mengungkapkan cinta sejati yang sangat besar
  manfaatnya bagi orang-orang yang saya pimpin?" mungkin saja
  merupakan bimbingan utama untuk menjadi seorang pemimpin yang baik.
  Hal ini sungguh benar khususnya ketika kita memimpin orang yang
  tidak kita sukai. Akhirnya, kepemimpinan yang bijaksana membimbing
  kita untuk mendapatkan manfaat bagi diri kita sendiri.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: The Leadership Wisdom of Jesus: Panduan Praktis Mengenai 
  	      Kepemimpinan Masa Kini yang Berlandaskan pada Ajaran 
  	      Kristus
  Judul asli buku: The Leadership Wisdom of Jesus: Practical Lessons 
                   For Today
  Penulis: Charles C. Manz
  Penerjemah: Rene Johanes
  Penerbit: PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta 2004
  Halaman: 61 -- 66

==================================**==================================
KUTIPAN

     Kepemimpinan sejati dibangun di atas pengungkapan cinta untuk
                 kepentingan semua orang yang terlibat.

==================================**==================================
INSPIRASI

                       MENGASIHI TUHAN DAN SESAMA

  Seorang ahli Taurat bertanya untuk mencobai Isa Almasih, "Guru,
  hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Isa,
  "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
  jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama
  dan yang pertama. Hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah:
  Kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum
  inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

  Kisah ini sangat menyentuh hati saya. Hal yang paling memilukan
  ialah ketika melihat orang berperang atas nama agama. Kita semua
  tahu bahwa agama bukanlah Tuhan. Sayang, banyak orang yang menyembah
  agama, bukannya Tuhan. Padahal setiap kitab suci ada penafsirannya,
  dan penafsiran setiap orang belum tentu sama. Sekarang, yang
  terpenting ialah bagaimana kita mengimplementasikan ajaran luhur
  agama dalam kehidupan nyata. Seorang guru spiritual dengan tegas
  mengatakan, "Adalah seorang pendusta jika seseorang berkata ia
  mencintai Tuhan sementara ia tidak mencintai sesamanya. Bagaimana
  mungkin kita dapat mencintai sesuatu yang tidak kelihatan sementara
  yang kelihatan di depan mata kita saja tidak kita cintai?" Semoga
  kita bisa menarik pelajaran berharga hari ini. Amin.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: The Leadership Wisdom
  Penulis: Paulus Winarto
  Penerbit: PT. Elex Media Komputindo, Jakarta 2006
  Halaman: 59

==================================**==================================
JELAJAH SITUS

                      DANIEL RONDA MINISTRIES

  Situs ini merupakan blog pribadi Dr. Daniel Ronda, yang saat ini
  menjabat sebagai Rektor dan Dosen Teologi di STT Jaffray, Makasar.
  Tujuan dibangunnya blog ini adalah untuk membagikan tulisan, materi
  kuliah, dan makalah beliau, serta informasi pelayanan di seputar
  pendidikan teologi dan pelayanan pastoral gereja. Dengan membagikan
  bahan-bahan tersebut, ia berharap pemimpin dapat bertumbuh dan
  menjadi efektif!

  Seperti tujuan dibangunnya blog ini, sebagian besar isinya adalah
  tulisan-tulisan Dr. Daniel Ronda yang berupa makalah, materi kuliah,
  maupun materi seminar. Namun tidak hanya itu saja, ada pula
  informasi-informasi pelayanan dan kegiatan beliau. Seluruh tulisan
  yang ada dapat ditelusuri pula dari menu Blog Archive. Jika melihat
  padatnya jadwal kegiatan beliau, beliau pantas untuk diacungi jempol
  karena masih sempat membangun sebuah blog. Semoga saja isinya dapat
  terus diperbarui, meski sampai ulasan ini diturunkan, update
  terbarunya adalah pada bulan Mei 2009. Di tengah langkanya
  situs-situs khusus kepemimpinan Kristen dalam bahasa Indonesia, blog
  ini akan sangat membantu pengembangan pelayanan kepemimpinan. (DWD)

  Diambil dari:
  Nama publikasi: ICW (Indonesian Christian Webwatch)
  Penulis: Davida Welni Dana
  Alamat URL: http://www.sabda.org/publikasi/icw/1122/

==================================**==================================
STOP PRESS

                   40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA

  Apakah Anda terbeban untuk menanam lutut Anda bagi bangsa-bangsa
  yang belum mengenal Kristus? Kami mengajak Anda meluangkan waktu
  sejenak untuk berdoa bagi saudara-saudara kita, khususnya mereka
  yang akan melaksanakan ibadah puasa.

  Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun 2009 ini kita akan kembali
  bersatu hati berdoa selama bulan puasa, yaitu terhitung mulai 12
  Agustus -- 20 September 2009. Jika Anda rindu untuk turut ambil
  bagian berdoa bagi bangsa, kami akan mengirimkan pokok-pokok doa
  dalam versi e-mail untuk menjadi pokok doa kita bersama. Untuk
  berlangganan, silakan kirimkan e-mail ke:

  ==> subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org

  Bagi Anda yang ingin agar teman-teman Anda pun bisa ikut berdoa
  dengan memakai bahan pokok doa ini, silakan kirimkan alamat e-mail
  mereka ke alamat e-mail redaksi di:

  ==> doa(at)sabda.org

  Untuk mendapatkan bahan pokok doa versi kertas, silakan menghubungi:
     Mengasihi Bangsa dalam Doa
     P.O. Box 7332 JATMI JAKARTA 13560
     E-mail: < pray40daysindo(at)yahoo.com >

  Catatan: [Ganti (at) dengan (@) saat mengirim e-mail]

  Harap pemohon pengiriman bahan pokok doa versi kertas mencantumkan:
  Nama jelas:
  Alamat lengkap:
  Kota dan Kode Pos:
  Provinsi:
  Nama Lembaga:
  No. Telp./HP:
  E-mail:

  Marilah kita bersama berpuasa dan berdoa untuk Indonesia agar tangan
  Tuhan yang penuh kuasa menolong dan menggugah hati nurani para
  pemimpin bangsa ini untuk bertekad dan bersatu mengeluarkan bangsa
  ini dari kemelut berbagai masalah yang berkepanjangan. Selamat
  menjadi "penggerak doa" di mana pun Anda berada dan biarlah karya
  Tuhan terjadi di antara umat-Nya, khususnya bangsa Indonesia.
  Selamat berdoa.

==================================**==================================
Berlangganan: subscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org
Kontak e-Leadership: leadership(at)sabda.org
Arsip e-Leadership: http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/arsip
Situs Indo Lead: http://lead.sabda.org/
Network Kepemimpinan: http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_kepemimpinan
______________________________________________________________________
Redaksi e-Leadership: Dian Pradana dan Sri Setyawati
e-Leadership merupakan kerjasama antara Indo Lead, YLSA, dll.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Bahan ini dapat dibaca secara on-line di:
http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/
Copyright(c) 2009 oleh YLSA
http://www.ylsa.org/ ~~ http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
==================================**==================================

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org