Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/51

e-Leadership edisi 51 (30-7-2009)

Melihat Masa Depan (II)

 
==============MILIS PUBLIKASI E-LEADERSHIP EDISI JUNI 2009============

                        MELIHAT MASA DEPAN (II)

                     e-Leadership 51 -- 30/07/2009

  DAFTAR ISI 
  EDITORIAL 
  ARTIKEL: Mendapatkan Tinjauan ke Masa Depan 
  KUTIPAN 
  JELAJAH BUKU: 21 Kualitas Kepemimpinan Sejati 
  PERISTIWA

==================================**================================== 
EDITORIAL

  Shalom,

  "Sebenarnya, mereka (pemimpin) memiliki sumber-sumber yang 
  membantu mereka dalam mengambil keputusan yang tepat, yang 
  membuatnya seolah-olah memiliki indra keenam."

  Sepenggal kalimat yang dikutip dari editorial edisi e-Leadership 50 
  di atas, kiranya cukup mengingatkan Anda bahwa pemimpin bukannya 
  memiliki indra keenam sehingga ia seolah-olah dapat melihat masa 
  depan. Ia seolah-olah dapat melihat masa depan dan mampu mengambil 
  keputusan yang tepat karena ia memiliki sumber data atau informasi 
  yang cukup.

  Nah, pada edisi ini kita akan dibawa lebih jauh lagi untuk memahami 
  mengapa seorang pemimpin seolah-olah memiliki indra keenam. Sumber 
  data atau informasi memang diperlukan untuk seorang pemimpin dapat 
  meninjau apa yang mungkin terjadi pada masa depan, namun itu saja 
  tidak cukup. Ada hal pokok lain yang memungkinkan seorang pemimpin 
  dapat melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada masa depan, 
  dari apa yang dilakukannya pada masa kini. Apa itu? Silakan simak 
  artikel yang telah kami siapkan di bawah ini.

  Kiranya artikel tersebut, beserta informasi-informasi lainnya, dapat 
  menjadi berkat bagi Anda.

  Pimpinan Redaksi e-Leadership, Dian Pradana 
  http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/arsip/ 
  http://lead.sabda.org/

==================================**================================== 
ARTIKEL

                   MENDAPATKAN TINJAUAN KE MASA DEPAN

  Tinjauan ke masa depan melibatkan sikap hati dan kebebasan pikiran. 
  Hal ini berkaitan dengan kesediaan menjalankan tujuan jangka panjang 
  dan kemampuan memahami implikasi jangka panjang; dedikasi dan 
  intuisi. Hal ini membutuhkan komitmen untuk melakukan sesuatu dan 
  ketajaman untuk mengetahui, yang pada akhirnya membuat Anda menjadi 
  lebih berani dan bijaksana.

  Meninjau masa depan berarti memahami implikasi masa depan dari 
  tindakan masa kini. Hal ini menyiratkan bahwa bagaimana Anda 
  menjalani hidup Anda sekarang adalah sesuatu yang penting karena hal 
  itu dapat memiliki implikasi yang sifatnya multigenerasi. Karena 
  itu, meninjau masa depan harus dimulai dengan sebuah komitmen untuk 
  menjalani masa kini demi masa depan. Sikap melayani yang meninjau ke 
  depan akan memampukan pemimpin yang berani untuk mulai memiliki 
  penglihatan mengenai kemungkinan-kemungkinan masa depan. Tinjauan ke 
  masa depan lahir dari komitmen untuk melayani generasi-generasi 
  selanjutnya. Pemimpin yang berani tidak hanya hidup untuk 
  generasinya sendiri, namun melaksanakan visi yang Tuhan taruh dalam 
  terang kekekalan.

  Allah memiliki komitmen yang sifatnya multigenerasi. Saat Ia menemui 
  Musa melalui semak yang terbakar, Ia menyatakan Diri-Nya sebagai 
  "Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub" (Kel 3:6), sebutan 
  ilahi yang disebutkan berulang kali dalam Alkitab. Komitmen-Nya yang 
  bersifat multigenerasi kepada Abraham dan keturunannya berujung pada 
  proyek yang paling mengubah dunia sepanjang sejarah.

  Allah memerintahkan umat-Nya untuk memahami perspektif 
  multigenerasi. Berkali-kali, Ia mengingatkan umat-Nya bahwa tindakan 
  mereka -- baik atau buruk -- memiliki konsekuensi tidak hanya 
  terhadap generasi ketiga dan keempat (Kel. 20:5, 34:7; Bil. 14:18; 
  Ul. 5:9), namun lebih dari itu. Apa yang kita pikirkan dan lakukan 
  sekarang benar-benar memengaruhi masa depan (Ef. 5:15-17).

  Apa yang terjadi jika kita gagal untuk hidup dan berpikir secara 
  multigenerasi? Hizkia, salah satu pemimpin besar Israel, adalah 
  contoh yang tepat. Dalam banyak hal, ia adalah sosok pemimpin yang 
  berani (2 Raj. 18:5-7). Namun, Hizkia memiliki cacat yang serius: ia 
  tidak memerhatikan masa depan. Meski ia melayani Allah dengan setia 
  dan sepenuh hati (2 Raj. 20:3), komitmennya bersifat jangka pendek. 
  Ia hidup hanya untuk generasinya. Menjelang akhir pemerintahannya, 
  ia bertindak ceroboh dan dengan bangga memamerkan segala kekayaannya 
  kepada para perwakilan Babilon, yang pada saat itu masih merupakan 
  bangsa kecil namun sedang bertumbuh. Berkali-kali, ia tidak 
  memerhatikan tanda-tanda yang muncul dan melakukan kesalahan dalam 
  menilai. Alkibatnya, Yesaya menghampirinya dan meramalkan 
  kebangkitan Babilon dan kehancuran Yudea -- sebuah ramalan kematian 
  dan kehancuran yang luar biasa. Namun, respons Hizkia adalah 
  kemasabodohan yang tidak disertai dengan pemikiran ke depan. 
  Kurangnya perhatian Hizkia kepada generasi mendatang adalah salah 
  satu kisah paling menyedihkan dalam Alkitab. "Sungguh baik firman 
  TUHAN yang engkau ucapkan itu!" Tetapi pikirnya: `Asal ada damai dan 
  keamanan seumur hidupku!`" (2 Raj. 20:19). Ia tidak peduli dengan 
  masa depan selama keberadaannya aman. Tragedi terjadi, karena 
  pemimpin yang baik menuju kepada kehancuran saat ia gagal hidup 
  untuk masa depan. Pemimpin yang baik menyambut kehancuran saat ia 
  gagal meninjau masa depan.

  Bagaimana akhirnya? Anak Hizkia, Manasye menjadi raja terburuk pada 
  sepanjang sejarah Yudea. Ia sengaja mengadakan kembali hal-hal buruk 
  yang dulu dimusnahkan ayahnya. Ia bahkan mengorbankan anaknya, cucu 
  Hizkia, dalam sebuah persembahan kepada berhala Molokh (2 Raj. 21:2-
  6). Keadaan memburuk, dan dalam waktu 80 tahun sejak ramalan Yesaya, 
  semua kehancuran yang diramalkan menjadi kenyataan.

  Bagaimana kita menghindari kesalahan yang Hizkia lakukan? Membuat 
  komitmen kepada generasi selanjutnya (Maz. 48:13, 71:18, 78:4, 6) 
  dan berusaha mengembangkan keterampilan berpikir yang bersifat 
  implikasi. Kita dapat mengembangkan cara berpikir seperti itu dengan 
  memahami bagaimana Allah memerintah keturunan Abraham.

  Esensi wahyu Allah pada orang Yahudi adalah Sepuluh Perintah Allah 
  (Kel. 20:1-17; Ul. 5:6-21). Saat kita melihat Sepuluh Perintah 
  Allah, kita cenderung menganggapnya hanya sebagai hukum moral dan 
  dekrit judisial. Namun, bagi orang Yahudi, hukum itu adalah fondasi 
  dasar Taurat, yang berarti bahwa meski hukum-hukum itu memiliki 
  implikasi legal, tujuan utama hukum-hukum itu bersifat memerintah. 
  Sepuluh Perintah Allah didesain untuk mendisiplinkan bangsa demi 
  masa depan. Hukum-hukum itu bukan hanya sekumpulan aturan baik yang 
  diberikan begitu saja, namun merupakan sebuah instruksi dalam 
  prinsip-prinsip pemikiran yang bersifat implikasi sehingga orang-
  orang Yahudi menjadi "umat yang bijaksana dan berakal budi" (Ul. 
  4:6). Hukum itu adalah hukum yang harus direnungkan dengan saksama, 
  bukannya diterima begitu saja secara pasif dan tidak direnungkan.

  Melalui Sepuluh Perintah Allah, Allah sang Guru Besar melatih 
  umatnya bagaimana berpikir, menuntun mereka dari praktik kepada 
  ajaran, dari konkret menjadi abstrak. Sepuluh Perintah Allah disusun 
  untuk menuntun kita melalui sebuah proses pemikiran, menekan kita 
  untuk mengikuti latihan pikiran melalui konklusi dan aplikasinya 
  yang pokok. Untuk melatih diri berpikir implikatif, seseorang harus 
  belajar untuk terampil bertanya mengapa. Mari kita bahas enam hukum 
  terakhir -- hukum-hukum yang berkaitan dengan relasi horisontal kita 
  dengan sesama -- untuk menggambarkan poin ini.

  Perintah yang kelima memerintahkan kita untuk menghormati ayah dan 
  ibu kita. Mengapa? Karena melalui merekalah kita hidup, dan hidup 
  harus dihargai. Untuk itu, mereka harus dihormati.

  Perintah keenam memerintahkan kita untuk tidak membunuh. Mengapa? 
  Sekali lagi, jika hidup itu berharga, mengambil hidup seseorang 
  berarti menghancurkan sesuatu yang sangat berharga. Jika Anda 
  mengasihi sesama, Anda tidak mungkin merampas kehidupannya.

  Perintah ketujuh secara logika sama. Perintah ini memerintah kita 
  untuk tidak berzinah. Mengapa? Pada titik ini, Anda harus berpikir 
  agak keras. Jika mengambil hidup orang lain itu salah, maka 
  mengambil apa yang berharga di hidup orang lain, yang berkaitan erat 
  dengan kehidupan orang lain -- pasangannya -- adalah hal yang salah.

  Hukum yang kedelapan menekan kita setahap lebih jauh. Hukum ini 
  mengajar kita untuk kita tidak mencuri. Mengapa tidak boleh? Barang 
  bukan makhluk hidup? Bagaimana hukum ini mengikuti implikasi dari 
  hukum-hukum sebelumnya? Barang mewakili hidup. Misalnya, pikirkan 
  apa yang dibutuhkan untuk membeli sebuah televisi. Seseorang harus 
  membayar sejumlah uang. Uang itu mewakili (tegantung pendapatan 
  seseeorang) mungkin 2 minggu atau 4 bulan kehidupan yang seseorang 
  habiskan untuk mencari uang yang cukup untuk membeli televisi. 
  Pencuri yang mencuri televisi berarti mencuri bagian hidup korbannya 
  -- berminggu-minggu dan berbulan-bulan kerja. Secara tingkatan 
  memang berbeda dengan hukum-hukum yang sebelumnya, namun secara 
  esensi sama. Jika kehidupan tidak boleh dibunuh, maka logikanya 
  tidak satu pun bagian dari kehidupan yang boleh dihancurkan melalui 
  pencurian. Jika apa yang paling berharga bagi seseorang tidak boleh 
  dihancurkan melalui perzinahan, maka logikanya segala sesuatu yang 
  berharga dalam kehidupan seseorang juga tidak boleh dihancurkan 
  melalui pencurian.

  Hukum kesembilan bahkan membawa kita lebih jauh lagi, mendorong 
  implikasi-implikasi dari apa yang udah dipelajari dalam dunia objek 
  konkret menuju dunia dengan konsep yang abstrak. Hukum ini 
  mengatakan, "Jangan bersaksi dusta." Mengapa hal ini salah? Saat 
  seseorang berbohong tentang orang lain, reputasi orang lain tersebut 
  dicuri, dicemarkan, atau bahkan dihancurkan. "Nama baik lebih 
  berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari 
  pada perak dan emas" (Amsal 22:1). Jika pencurian terhadap barang 
  itu tidak benar, maka pencurian nama baik melalui kata-kata dusta 
  dan tidak jujur juga demikian -- tidak benar. Proses berpikir secara 
  implikasi telah membawa kita kepada tingkat pemahaman yang baru. Hal 
  ini akan membentuk bagaimana kita memimpin hidup kita.

  Sekarang, meski hukum-hukum yang telah tersebut di atas hampir dapat 
  ditemukan dalam undang-undang di semua negara, hukum yang 
  selanjutnya, sekaligus yang terakhir, tidak ditemukan dalam sistem 
  perundangan negara mana pun. Hukum ini adalah proses puncaknya, 
  pemahaman puncak dari pemikiran yang implikatif. Hukum ini berbunyi, 
  "Jangan mengingini milik orang lain." Mengapa? Karena sikap 
  spiritual internal ini adalah benih yang yang menghasilkan buah 
  fisik eksternal -- berdusta, mencuri, berzinah, dan membunuh. 
  "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, 
  perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat" (Matius 
  15:19). Wahyu puncak dari Sepuluh Perintah Allah adalah bahwa jika 
  Anda benar-benar menghargai hidup, Anda tidak seharusnya mengingini 
  milik orang lain, karena jika Anda melakukannya, Anda akan berjalan 
  menuju kepada kehancuran.

  Pemahaman implikatif seperti ini adalah dasar dari pikiran 
  aplikasional. Karena berpikir implikatif, maka Yesus dapat mengajar 
  seperti yang Ia lakukan di atas bukit. Yesus mengajarkan benih-benih 
  kebenaran implikatif yang telah ditanam sebelumnya. Yesus melatih 
  murid-murid-Nya untuk berpikir implikatif (Matius 5:21-43). Yesus 
  mengambil benih-benih kebenaran Perjanjian Lama, menyimpulkannya, 
  dan menerapkannya dalam cara yang benar-benar baru dan mengubahkan.

  Pemikiran yang gigih, jelas, dan implikatif yang dibangun di atas 
  kebenaran Allah adalah dasar untuk meninjau masa depan. Para 
  pemimpin yang berani, berusaha untuk mengolah kemampuan ini setiap 
  hari. Mereka berdoa seperti doa Musa. "Ajarlah kami menghitung hari-
  hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana" (Maz. 
  90:2), karena tinjauan ke masa depan adalah buah dari hati yang 
  terlatih dalam disiplin hikmat Allah. Karena itu, "Belilah kebenaran 
  dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan 
  pengertian" (Amsal 23:23). Lihat juga Amsal 4:5-7, 16:16, 9:10. 
  Sekali lagi kita diingatkan bahwa kepemimpinan yang bijaksana dan 
  berani dimulai dari relasi yang benar dengan Allah.

  Meninjau masa depan menghasilkan hikmat, mempertimbangkan tindakan 
  dan motif, menelusurinya sampai implikasi terakhirnya. Memahami 
  bahwa "apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya" 
  (Galatia 6:7). Memahami implikasi pilihan hari ini terhadap 
  kenyataan pada masa depan membantu kita membuat pilihan yang 
  bijaksana. Tinjauan ke masa depan seperti ini adalah inti dari 
  banyak pernyataan alkitabiah, seperti yang terlihat pada kata-kata 
  terakhir Musa (lihat Ulangan 30:15-20).

  Berulang kali firman Tuhan membantu kita mendapatkan tinjauan ke 
  masa depan dengan mempertentangkan yang benar dan yang salah. Contoh 
  seperti itu banyak terdapat di Amsal. Itulah mengapa salah satu 
  pemimpin besar yang berani, Billy Graham, mendisiplinkan dirinya 
  untuk membaca satu pasal Amsal setiap hari dalam hidupnya sejak ia 
  muda. Jika kita tidak melatih diri untuk meninjau masa depan, 
  seperti yang ditemukan dalam Amsal, dengan mudah seseorang dapat 
  salah menilai dan salah menanggapi sebuah situasi. Mazmur 73 
  misalnya. Sang penulis mengatakan bahwa ia mengeluh melihat 
  kesuksesan dan kekayaan seseorang yang jahat "sampai ia masuk ke 
  dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka" (Maz. 
  73:17). Persekutuan yang segar dengan Tuhan memberinya pandangan 
  baru akan masa depan yang memampukannya menjalani hidupnya lebih 
  bijaksana pada masa kini.

  Ayat tersebut menggambarkan kebenaran penting. Meski tinjauan ke 
  masa depan dibangun atas pemikiran implikatif dan pertimbangan akan 
  konsekuensi masa depan dari tindakan masa kini, proses pemikiran 
  manusia saja tidak cukup untuk melakukannya. Bahkan jika Anda 
  melatih diri Anda untuk berpikir implikatif, Anda akan menemui diri 
  Anda berada dalam situasi yang tidak dapat Anda perkirakan (Yesaya 
  47:11), karena masa depan mengandung banyak variabel yang tidak 
  diketahui. Di sinilah terletak masalah yang kekal. "Sesungguhnya, ia 
  tak mengetahui apa yang akan terjadi, karena siapakah yang akan 
  mengatakan kepadanya bagaimana itu akan terjadi?" (Pengkhotbah 8:7). 
  Melihat bola kristal tidak akan membantu. Melihat bintang dan 
  membaca horoskop tidak akan membantu. Tidak ada guru yang dapat 
  membantu. Kita perlu mendengar dari Allah yang hidup. Ia adalah 
  satu-satunya yang dapat "memberitahukan dari mulanya hal yang 
  kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana" (Yesaya 
  46:10).

  Sekali lagi, realita ini membimbing pemimpin yang berani untuk 
  secara sengaja mencari Tuhan. Ketergantungan kepada-Nya adalah kunci 
  mendapatkan tinjauan ke masa depan. Adalah perlu untuk secara benar 
  menafsirkan tanda-tanda zaman. Tanpa hikmat-Nya, semua data dan 
  informasi yang kita miliki hanya akan membuat kita bingung. Apakah 
  Anda tidak yakin akan masa depan? Berserulah kepada Tuhan (Yesaya 
  30:19,21).

  Doa adalah kunci meninjau masa depan. Banyak orang kagum akan 
  tinjauan masa depan Yesus yang luar biasa dalam pemilihan dua belas 
  rasul. Bagaimana ia dapat melihat jiwa kepemimpinan yang berani 
  dalam diri para nelayan yang kasar dan tidak berpendidikan itu? 
  Bagaimana ia tahu seorang pemungut cukai yang licik bisa menjadi 
  pengubah dunia? Kuncinya adalah Ia tidak membuat keputusan sendiri. 
  Meskipun Ia adalah anak Allah, setiap keputusan diambil melalui 
  konsultasi yang intim dengan Bapa-Nya. Kita tahu bahwa "pada waktu 
  itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam- malaman Ia 
  berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya 
  kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang 
  disebut-Nya rasul" (Lukas 6:12-13). Bahkan, dalam kesempatan lain, 
  Ia berkata kepada Bapa-Nya tentang para rasul, "Engkau telah 
  memberikan mereka kepada- Ku" (Yohanes 17:6). Ia benar-benar sadar 
  bahwa tinjauan ke masa depan-Nya dalam memilih kedua belas rasul 
  bukan berasal dari-Nya, melainkan dari Bapa-Nya. Jika bagi Yesus 
  saja seperti itu, apalagi kita! Keintiman dengan Allah adalah 
  sesuatu yang diperlukan agar kita dapat meninjau masa depan.

  Sungguh, tinjauan ke masa depan yang paling benar terbentuk dalam 
  hadirat Allah. Saat kita berada di hadirat-Nya, kita dapat melihat 
  sekilas pendangan-Nya akan masa depan. Adalah saat kita datang ke 
  hadirat-Nya, kita bisa mendapatkan pandangan kekekalan yang benar. 
  Pada saat itulah kita memiliki cukup tinjauan ke depan untuk 
  menjalani hidup dengan benar. Para pemimpin yang berani harus hidup 
  dalam terang kuasa kekal-Nya. Cara hidup yang lain tidak cukup untuk 
  menghadapi tuntutan hidup sekarang ini, karena Allah "memberikan 
  kekekalan dalam hati mereka" (Pengkhotbah 3:11). Dan saat para 
  pemimpin yang berani melihat kepada takhta yang kekal itu, apa yang 
  mereka lihat? Yohanes memberitahu kita apa yang ia lihat: "Kemudian 
  dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang 
  banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan 
  suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan 
  Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di 
  tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: `Keselamatan 
  bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!`" 
  (Wahyu 7:9-10)

  Itulah visi pokok yang harus memotivasi dan mengendalikan setiap 
  pemimpin yang berani. Perspektif ini memberikan tinjauan ke masa 
  depan yang jauh terbentang untuk menjalani hidup dengan berani. 
  Dalam terang visi pokok ini, tugas seorang pemimpin adalah menarik 
  masa depan kepada masa kini, untuk membuat visi yang sudah terlihat 
  menjadi realita yang dapat dilihat. Saat para pemimpin dapat dengan 
  jelas melihat masa depan, mereka dapat menjalani hidup dalam suatu 
  cara yang seturut dengan doa Yesus: "datanglah Kerajaan-Mu, jadilah 
  kehendak-Mu di bumi seperti di sorga" (Matius 6:10). (t/Dian)

  Diterjemahkan dan disesuaikan dari: 
  Judul buku: Courageous Leaders 
  Penulis: James Halcomb, David Hamilton, dan Howard Malmstadt 
  Penerbit: Youth With A Mission Publishing, Seattle 2000 
  Halaman: 221   -- 229

==================================**================================== 
KUTIPAN

  Melihat masa depan dapat dilakukan saat kita mampu berpikir implikatif.

==================================**================================== 
JELAJAH BUKU

                   21 KUALITAS KEPEMIMPINAN SEJATI

  Judul asli buku: The 21 Indispensable Qualities of A Leader 
  Penulis: John C. Maxwell 
  Penerjemah: Drs. Arvin Saputra 
  Penerbit: Interaksara, Batam 2001 
  Ukuran: 11 x 18 cm 
  Tebal: 219 halaman

  Siapa yang tidak tahu John C. Maxwell, pendiri INJOY Group --
  organisasi yang diarahkan untuk membantu manusia memaksimalkan 
  potensi pribadi serta potensi kepemimpinan. Dunia, khususnya 
  Amerika, mengenalnya sebagai pakar bidang kepemimpinan. Ia 
  memengaruhi kehidupan lebih dari satu juta orang melalui seminar, 
  buku-buku, serta kaset-kasetnya. Maxwell juga adalah seorang penulis 
  yang sukses, buku-bukunya selalu menjadi buku terlaris di pasaran. 
  Karyanya antara lain: "Mengembangkan Kepemimpinan di Sekeliling 
  Anda", "Mengembangkan Kepemimpinan dalam Diri Anda", "Mengembangkan 
  Sikap Pemenang", "Mengubah Kegagalan Menjadi Batu Loncatan", dan 
  lain-lain, termasuk buku ",21 Kualitas Kepemimpinan Sejati ini".

  Seperti judulnya, buku ini terdiri dari 21 bab kecil yang mengangkat 
  tema yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Maxwell membahas 
  banyak hal, dari karakter, karisma, komunikasi, hingga visi. Yang 
  menjadi ciri khas buku ini adalah pemaparannya. Penulis selalu 
  mendahului dengan teori yang tersurat atau tersirat dari ilustrasi 
  yang digunakan, dilanjutkan dengan tips dan trik untuk mengungkapkan 
  teori yang sudah dipaparkan, menstimulasi pembaca untuk merenungkan 
  teori, serta memberikan langkah praktis untuk diterapkan dan 
  mendorong pembaca untuk merespons teori itu dengan mempraktikkannya 
  setiap hari.

  Bahasa yang digunakan dalam menjelaskan teori dan langkah-langkah 
  praktis yang ada dalam buku ini, sangat lugas. Kesalahan cetak 
  maupun kesalahan pemilihan kata nyaris tidak ada. Jika Anda ingin 
  menjadi seorang pemimpin yang berdikari, sebaiknya Anda membaca buku 
  ini hingga tuntas. Selamat menggali potensi kepemimpinan Anda!

  Ditulis oleh: Sri Setyawati

==================================**================================== 
PERISTIWA

  29 Juli ... 1. 1883 - Benito Mussolini, seorang diktator Italia yang 
  menganut Fasisme, dilahirkan. 2. 1890 - Vincent van Gogh, salah satu 
  pelukis terbesar dalam sejarah seni Eropa, meninggal dunia. 3. 1947 
   ENIAC (Electronic Numerical Integrator And Computer), komputer 
  elektronik multifungsi pertama di dunia, mulai dioperasikan.

  Sumber: http://id.wikipedia.org/

==================================**================================== 
Berlangganan: subscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org 
Berhenti: unsubscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org 
Kontak e-Leadership: leadership(at)sabda.org 
Arsip e-Leadership: http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/arsip/ 
Situs Indo Lead: http://lead.sabda.org/ Network 
Kepemimpinan: http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_kepemimpinan/ 
______________________________________________________________________ 
Redaksi e-Leadership: Dian Pradana dan Sri Setyawati 
e-Leadership merupakan kerjasama antara Indo Lead, YLSA, dll. 
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN 
Bahan ini dapat dibaca secara on-line di: http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/ 
Copyright(c) 2009 oleh YLSA 
http://www.ylsa.org/ ~~ http://katalog.sabda.org/ 
Rekening: BCA Pasar Legi Solo 
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

Kunjungi Blog SABDA di http://blog.sabda.org/
==================================**==================================

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org