Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/45

e-Leadership edisi 45 (29-4-2009)

Manajemen Waktu Seorang Pemimpin (II)

 
============MILIS PUBLIKASI E-LEADERSHIP EDISI APRIL 2009=============

        	Manajemen Waktu Seorang Pemimpin (II)

                    e-Leadership 45 -- 29/04/2009

  DAFTAR ISI
  EDITORIAL
  ARTIKEL: Waktu Kekinian
  KUTIPAN
  ARTIKEL TERKAIT: Artikel Seputar Waktu dan Kepemimpinan
  JELAJAH BUKU: Manajemen dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah
  PERISTIWA

==================================**==================================
EDITORIAL

  Seorang pemimpin, selain memiliki manajemen waktu yang baik, 
  diharapkan pula mengerti waktu kekiniannya dengan baik --
  menggunakannya untuk mengerti apa yang terjadi pada masa lampau, 
  melakukan apa yang dapat diterapkan pada kini, serta menggunakan 
  kekiniannya itu untuk memikirkan waktu yang akan datang. Karena itu, 
  simak artikel yang telah kami siapkan di bawah ini. Kami harap, 
  artikel ini, berserta dengan bahan lainnya seperti kutipan dan 
  resensi buku, bisa menjadi berkat bagi Anda.

  Pimpinan Redaksi e-Leadership,
  Dian Pradana
  http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership
  http://lead.sabda.org/

==================================**==================================
ARTIKEL

                          WAKTU KEKINIAN

  Mengapa kita harus peka terhadap waktu kekinian?

  Seorang yang tidak peka terhadap kekinian tidak mungkin realistis.
  Ia tidak mungkin bekerja dengan baik dalam sistem atau kelembagaan.
  Peka terhadap kekinian senantiasa membuat kita siap menghadapi
  tantangan.

  Keberhasilan Raja Daud sebagai pemimpin ditentukan oleh kepekaannya 
  terhadap kekinian. Tidak dapat disangkal bahwa ia juga belajar dari 
  masa lampaunya dan melalui sejarah bangsa Israel. Tetapi yang 
  terpenting dari pelajaran masa lampaunya ialah pertobatan ketika ia 
  gagal dalam hidup pribadi dengan seorang wanita. Hal tersebut 
  mendorong dia lebih peka terhadap kekiniannya. Ia datang dalam 
  kekinian dan mengaku kepada Allah Bapa-Nya bahwa ia telah berdosa. 
  Bahkan dalam Mazmur 51, ia berdoa: "Tuhan, kalau Engkau mau ambil 
  semua yang lain, tetapi satu hal aku minta, jangan Engkau mengambil 
  Roh-Mu dari padaku." Menyadari keberadaannya dalam kekinian, penting 
  baginya untuk maju. Karena ia senantiasa peka terhadap kekinian, ia 
  juga dapat menempatkan diri dalam kontrol Tuhan, di bawah pengurapan 
  dan pimpinan-Nya.

  Kalau sebagai pemimpin kita tidak peka terhadap kekinian, pasti kita 
  akan kehilangan banyak kesempatan. Atau kesempatan datang pada saat 
  kita lengah, akibatnya kita tidak dapat memakai kesempatan itu. 
  Izinkan saya bertanya kepada para pemimpin: "Apakah Saudara peka 
  terhadap kekinian Saudara? Jangan kita bergantung pada masa lalu, 
  apalagi kalau kita pernah gagal. Bangkitlah dari kegagalan untuk 
  menyadari kekinian dan masuk di dalamnya. Seperti Raja Daud yang 
  menang terhadap tantangan, kita juga dapat memasuki tantangan itu 
  dengan kemenangan Tuhan.

  Dalam sejarah gereja, ada dua faktor yang terdapat dalam pengertian
  kekinian.

  1) Kesempatan pintu terbuka bagi pekabaran Injil.
     Sebagaimana diuraikan sebelumnya, kita boleh bersyukur bahwa 
     faktor pintu terbuka telah memungkinkan perkembangan pemberitaan 
     Injil di Indonesia sampai sekarang.

  2) Kesempatan pintu tertutup.
     Kita masih dalam kekinian. Tetapi kesempatan pertama sudah 
     berlalu. Salah satu contoh dalam hal ini ialah apa yang terjadi 
     dalam kehidupan Musa sebagai pemimpin Israel. Musa kurang peka 
     terhadap kekiniannya. Ia bersandar kepada laporan orang lain. 
     Akibatnya, ia tidak diperkenankan masuk ke tanah Kanaan.

     Dalam Ulangan 1 dan Bilangan 13, Tuhan Allah berfirman kepada 
     Musa, "Masuklah ke Tanah Kanaan! Aku memberikannya kepadamu 
     sekarang." Tapi Musa tidak menerimanya dengan iman, ia tidak 
     memeluk janji Tuhan itu. Sekarang ia kehilangan kesempatan. Pada 
     saat Musa memanggil suku Israel, mereka mengadakan konferensi 
     yang menghasilkan orang yang akan diutus untuk menyelidiki tanah 
     Kanaan. Tetapi tidak semua orang yang diutus itu orang beriman. 
     Mereka kembali dan melaporkan:

     "Tanah itu penuh madu dan susu, tapi tentaranya besar dan orang-
     orangnya perkasa. Karena itu kita tidak masuk ke dalamnya."

     Saudara, karena Musa berkompromi dengan orang yang tidak beriman 
     maka ia kehilangan kesempatan pada kekiniannya. Sementara Saudara 
     membaca buku ini, berdoalah! Minta kepada Tuhan agar Ia 
     membukakan rahasia-Nya dalam kekinian dan Saudara masuk dalam 
     kesempatan itu tanpa terlambat. Jangan sampai Saudara menyesal 
     dan berkata: "Saya menyesal karena waktu pintu terbuka saya tidak 
     masuk.", 1. Pengertian Dasar Menghadapi Kekinian

  Menghadapi dunia yang sedang berputar ini, ada tiga pengertian dasar
  yang penting diperhatikan!

  a. Kita tidak dapat hidup dalam angan-angan masa lalu.
     Pengalaman dan sejarah masa lampau hanya perlu menolong kita 
     dalam mengerti kekinian. Tetapi cara menganalisa situasi kekinian 
     dan dunia kekinian tidak boleh seperti tempo dulu.

  b. Kita tidak boleh hidup dalam dunia impian, seolah-olah tidak
     berdiri di bumi.
     Tentang masa depan yang indah dan penuh bahagia, tidak boleh 
     hanya "bermimpi" tanpa masuk dan ambil bagian di dalam kekinian. 
     Tanpa usaha yang sungguh-sungguh, masa depan yang bahagia 
     hanyalah sesuatu bayangan yang kosong.

     Tidak bisa mengharapkan Indonesia menjadi negara yang makmur, 
     adil, dan sejahtera kalau masyarakatnya tidak ambil bagian dalam 
     perjuangan bersama pemerintahnya membangun negara Indonesia. 
     Demikian pula dalam pelayanan dan pekerjaan Tuhan, tidak cukup 
     hanya berdoa dan menantikan Tuhan bekerja sendiri. Melainkan 
     harus masuk dan ambil bagian dalam pekerjaan-Nya secara 
     sungguh-sungguh. Karena itu, mengharapkan masa depan yang indah 
     tanpa usaha yang sungguh-sungguh merebutnya adalah sikap yang 
     pincang.

  c. Menyadari kekinian.
     Sikap yang tepat ialah menyadari kekinian, yaitu saat sekarang 
     dan di mana tempat saya berada. Dalam gerak maju dunia yang cepat 
     dan membawa perubahan mendasar, di situlah saya berada.

     Menghadapi dunia dalam segala pergolakannya sangat memengaruhi 
     semua segi kehidupan manusia. Oleh karena itu, kita harus 
     menyadari kekinian di sini dan memasukinya dengan iman. Kita 
     benar-benar berpacu dengan kesempatan dan tantangan. Karena itu, 
     Tuhan menempatkan kita sebagai orang beriman untuk memilih sikap 
     yang tepat.

  2. Sikap Dasar Menghadapi Kekinian

  Dalam menghadapi waktu kekinian, ada tiga sikap manusia yang perlu 
  kita ketahui sehubungan dengan pengertian dasar di atas:

  a. Sikap tidak peduli.
     Sikap ini ialah sikap orang yang masa bodoh terhadap segala 
     sesuatu yang sedang terjadi di dunia. Ada pemimpin lembaga 
     gerejawi dan pemimpin Kristen lainnya yang kurang peduli terhadap 
     perkembangan politik, sosial budaya, maupun perkembangan ekonomi 
     bangsa. Memang tugas utama kita melayani jiwa, membawa mereka 
     kepada Tuhan. Tetapi sebagai pemimpin, tidak benar kalau kita 
     tidak mempelajari dan berusaha mengerti segala perubahan yang 
     terjadi dan berpartisipasi dalam pembangunan manusia seutuhnya. 
     Sikap yang tidak peduli membuat pemimpin-pemimpin Kristen 
     tercecer. Mereka tidak dapat turut serta dalam perkembangan yang 
     sedang berlangsung. Itulah sebabnya para pemimpin dituntut agar 
     masuk dalam percaturan dunia dengan berdiri pada satu jarak 
     tertentu agar dapat secara objektif bertindak sebagai orang yang 
     dipanggil Tuhan dengan tugas kenabian di tengah-tengah dunia.

  b. Sikap ikut-ikutan.
     Yakni sikap yang tenggelam dalam situasi dunia. Ada pemimpin 
     lembaga gereja tenggelam dalam dunia politik sehingga ia 
     kehilangan identitas sebagai hamba Tuhan dan pemimpin rohani. 
     Orang yang ikut-ikutan akan kehilangan identitas, sebab ia 
     tenggelam dalam arus dunia. Sikap seperti ini tidak layak menjadi 
     pemimpin rohani. Sikap yang tepat ialah sikap berdiri dalam 
     terang Injil Yesus Kristus dan dari sini dapat mengikuti 
     perkembangan dunia, dapat menilai liku-liku hidup manusia dalam 
     arus perubahan dunia yang serba cepat.

  c. Sikap positif.
     Yaitu sikap yang dapat membawa kita kepada empat langkah yang 
     tepat dalam menghadapi dunia ini.

     1) Sikap Iman atau Sikap Positif (Rm. 8:28)

     Kita percaya segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk 
     mendatangkan kebajikan bagi orang yang mengasihi Tuhan. Jadi 
     sikap ini memandang positif terhadap perkembangan dunia. Kita 
     percaya bahwa Allah membawa kita melalui segala pergolakan dunia 
     kepada sikap yang lebih mengasihi Allah dan orang berdosa.

     Yang terpenting ialah karena kita mengasihi Tuhan dan 
     pekerjaan-Nya yang dipercayakan kepada kita, maka Ia membawa kita 
     kepada jalan ke luar yang terbaik. Kalau kita percaya Allah 
     menguasai dan mengontrol sejarah, maka apa pun yang terjadi, pada 
     akhirnya akan menyatakan kuasa kebajikan Allah dan membawa 
     kebajikan itu pula kepada hidup manusia.

     2) Sikap Kreatif (Yoh. 9:4)

     Firman Tuhan berkata: "Bekerja selama waktu masih siang". Bekerja 
     karena Tuhan sedang membuka kesempatan. Juga di dalam Ef. 2:10, 
     "masuk dalam pekerjaan yang Tuhan persiapkan terlebih dahulu". 
     Untuk mendorong kita lebih kreatif, sebagai pemimpin kita perlu 
     memiliki sikap hati sebagai berikut.

     a) Meyakini bahwa pekerjaan itu berasal dari Tuhan.
        Maksudnya: bagi Saudara yang bekerja sebagai pemimpin 
        pekerjaan Tuhan, pertama kali harus menyadari bahwa itulah 
        pekerjaan yang Tuhan siapkan bagi Saudara. Bukan Saudara yang 
        memilihnya, melainkan Tuhan sendiri yang memilih Saudara. 
        Adakah Saudara meyakini pilihan itu dalam pekerjaan yang 
        Saudara pimpin sekarang? Kalau tidak, Saudara akan mudah 
        diombang-ambingkan oleh arus yang berusaha melanda hidup 
        Saudara.

     b) Memakai sarana yang ada secara efektif (Luk. 19:13).
        Kreativitas kita ialah berdasarkan firman Tuhan yang 
        mengatakan, "Pakailah mina ini sampai Aku datang kembali." 
        Bekerja sampai Yesus datang kembali, sampai langit dan bumi 
        baru datang.

        Kita bekerja seakan-akan tahu bahwa dunia tidak akan kiamat. 
        Dengan kata lain, kita bekerja sambil menyadari bahwa Allah 
        yang menguasai kosmos, Allah yang menguasai 24 jam perputaran 
        bumi terus-menerus. Dengan demikian, kita telah bekerja 
        berdasarkan iman memasuki langit dan bumi yang baru.

  d. Sikap kritis (Ef. 5: 10).
     "dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan". Melalui ayat ini, 
     Tuhan telah memberikan kepada kita satu barometer untuk mengukur 
     semua kejadian di dunia ini, yaitu firman Tuhan dan pimpinan Roh 
     Kudus.

     Dalam urapan Roh Kudus yang terus-menerus, kita percaya Tuhan 
     membuka pengertian kita terhadap situasi dunia yang sedang 
     berlangsung. Sebagaimana Tuhan memanggil Yehezkiel dan berkata; 
     "bukalah mulutmu, makanlah gulungan surat yang Aku berikan 
     kepadamu, lalu pergilah kepada bangsa ini dan berkata:

     "Seorang nabi ada ditengah-tengah bangsa ini sedang berbicara 
     kepada bangsa yang membelot dan murtad ini." (Yeh. 2-3)

     Wibawa yang Tuhan berikan kepada Yehezkiel ialah wibawa rohani. 
     Ini membuat Yehezkiel dapat berbicara kepada bangsanya sebagai 
     seorang nabi. Ia dapat menganalisa situasi dan hidup bangsa itu. 
     Ia berdiri pada satu jarak tertentu sehingga ia dapat melihat 
     dunia ini. Terang Tuhan membuat kita dapat melihat dan menilai 
     dunia dan segala fenomena yang ada. "Ujilah", kata perintah 
     Tuhan. Ujilah hal-hal yang berkenan kepada Tuhan.

     Sekarang ini, dunia sedang menantikan suara kenabian dari seorang
     pemimpin yang rohani. Yaitu suara yang dapat menganalisa dunia
     ini. Saya percaya dan menantikan suara kenabian itu di
     tengah-tengah dunia yang sedang bergolak ini.

  e. Sikap yang realistis (Mat. 10:16).
     Sikap ini ialah sikap yang tulus seperti merpati. Di balik sikap
     tulus, perlu juga sikap cerdik seperti ular. Seorang pemimpin
     rohani senantiasa berada di antara kedua sisi ini. Pada satu 
     sisi, dia harus cerdik dalam menghadapi situasi dunia yang selalu
     berubah, tapi juga harus tulus menyatakan kehadirannya sebagai
     hamba Tuhan. Pemimpin harus cerdik agar dengan kecerdikan itu ia
     dapat mengerti liku-liku dunia ini, seperti seorang nahkoda kapal
     yang mahir mengemudikan kapal di atas laut lepas dengan olah
     gerak yang tangkas memasuki pelabuhan secara tepat.

     Banyak contoh yang kita temukan dalam hidup sehari-hari. Sering 
     kali kita diperhadapkan dengan situasi yang berat. Kita dituntut 
     mengatasinya dengan tetap pada garis rohani yang tulus seperti 
     merpati, tapi juga harus mengerti dunia yang sedang bergolak 
     serta memahami keadaan manusia yang belot dan murtad. Menghadapi 
     situasi yang demikian ruwet, menuntut satu keputusan yang 
     realistis. Dengan beberapa pokok ini, marilah kita menggumuli 
     waktu kekinian di Indonesia, supaya kita menjadi pemimpin yang 
     dapat berdiri pada kekinian tapi juga memikirkan waktu yang akan 
     datang. Firman Tuhan berkata: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, 
     maka Aku pun bekerja juga" (Yoh. 5:17). Sebagaimana Tuhan masih 
     bekerja terus, marilah kita bekerja sungguh-sungguh untuk Dia 
     sampai Tuhan Yesus datang kembali.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Manajemen dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah
  Penulis: DR. P. Octavianus
  Penerbit: Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Batu dan
            Gandum Mas, Malang 1986
  Halaman: 48 -- 55

==================================**==================================
KUTIPAN

      Kalau sebagai pemimpin kita tidak peka terhadap kekinian,
            pasti kita akan kehilangan banyak kesempatan.
             
==================================**==================================
ARTIKEL TERKAIT

                ARTIKEL SEPUTAR WAKTU DAN KEPEMIMPINAN

  Berikut ini adalah tautan dua artikel lain yang berkaitan dengan
  waktu dan kepemimpinan. Semoga bermanfaat bagi Anda.

  1. Apakah Anda Punya Waktu?
     ==> http://lead.sabda.org/apakah_anda_punya_waktu

  2. Hukum yang Tepat Waktu
     ==> http://lead.sabda.org/hukum_yang_tepat_waktu

==================================**==================================
JELAJAH BUKU

             MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN MENURUT WAHYU ALLAH

  Penulis: DR. P. Octavianus
  Penerbit: Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Batu dan
            Gandum Mas, Malang 1986
  Ukuran: 14 x 21 cm
  Tebal: xvi + 273 halaman

  Tidak semua pemimpin berhasil dalam manajemennya. Atau sebaliknya, 
  ada pemimpin yang baik dalam manajemen, tapi gagal dalam 
  kepemimpinannya. Buku yang dikarang oleh DR. P. Octavianus ini 
  menawarkan panduan praktis sehingga Pembaca bisa berhasil dalam hal 
  manajemen maupun kepemimpinan. DR. P. Octavianus adalah pendiri dan 
  Ketua Umum Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII) di 
  Batu. Buku-buku lain yang ditulis beliau antara lain "Buah yang 
  Tinggal Tetap", "Rahasia Kemenangan Atas Dosa", dan "Membangun Rumah 
  Tangga yang Bahagia". Selain itu, beliau juga menulis makalah dengan 
  bahasa Inggris seperti "An Evaluation of the Missionary Movement in 
  Indonesia", "Frontier Mission Structure", dsb..

  Berbeda dengan buku yang ada di pasaran, buku ini memiliki 
  keistimewaan, yaitu "pendekatan" yang dihubungkan dengan wahyu Allah 
  yang dimiliki penulis. Melalui buku ini, Pembaca diyakinkan kembali 
  bahwa keberhasilan pemimpin terletak pada kehendak Allah, terpanggil 
  dan terpilih oleh Allah dan dalam waktu Tuhan.

  Buku ini juga sangat bermanfaat untuk dibaca oleh siapa pun, baik 
  mahasiswa, pemimpin gereja, maupun pengusaha. Dengan kalimat yang 
  sederhana tapi berbobot dan berlandaskan firman Tuhan, buku ini 
  dijamin bisa memperkaya pemahaman kita tentang manajemen dan 
  kepemimpinan yang alkitabiah walaupun tahun terbitnya sudah beberapa 
  tahun yang lalu. Pembaca penasaran? Silakan membaca buku ini.

  Ditulis oleh: Sri Setyawati

==================================**==================================
PERISTIWA

  29 April ...
  1. 1945 - Tentara Amerika membebaskan kamp konsentrasi Dachau, dekat 
     München.
  2. 1988 - Peminpin Soviet, Mikhail Gorbachev menjanjikan kebebasan 
     beragama.
  3. 1990 - Tembok Berlin mulai dihancurkan.

Sumber: http://id.wikipedia.org/

==================================**==================================
Berlangganan: subscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org
Kontak e-Leadership: leadership(at)sabda.org
Arsip e-Leadership: http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/arsip
Situs Indo Lead: http://lead.sabda.org/
Network Kepemimpinan: http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_kepemimpinan
______________________________________________________________________
Redaksi e-Leadership: Dian Pradana dan Sri Setyawati
e-Leadership merupakan kerjasama antara Indo Lead, YLSA, dll.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Bahan ini dapat dibaca secara on-line di:
http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/
Copyright(c) 2009 oleh YLSA
http://www.ylsa.org/ ~~ http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
==================================**==================================

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org