Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/38

e-Leadership edisi 38 (14-1-2009)

Apa yang Diperlukan Untuk Memimpin Gereja (I)

 

===========MILIS PUBLIKASI E-LEADERSHIP EDISI JANUARI 2009===========

            APA YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMIMPIN GEREJA (I)

                   e-Leadership 38 -- 14/01/2009

  DAFTAR ISI
  EDITORIAL
  ARTIKEL: Apa yang Diperlukan untuk Memimpin Gereja
  KUTIPAN
  INSPIRASI: Mengidentifikasi Nilai-Nilai Inti
  JELAJAH SITUS: Equip

==================================**==================================
EDITORIAL

  Shalom Pembaca sekalian,

  Menapaki tahun baru 2009 ini, e-Leadership tampil dengan format dan
  jadwal terbit baru. Jika sebelumnya e-Leadership mengetengahkan satu
  topik kepemimpinan dalam satu edisi setiap bulannya, kini
  e-Leadership akan menyajikan sebuah topik kepemimpinan dalam dua
  edisi setiap bulan, yaitu setiap hari Rabu minggu ke-2 dan minggu
  ke-4. Hal ini memungkinkan kami untuk menyajikan suatu topik
  kepemimpinan secara lebih mendalam serta menambah ragam jenis bahan
  yang ada di publikasi ini. Semoga perubahan-perubahan ini dapat
  membuat e-Leadership menjadi lebih segar dan memberkati Anda.

  Sebagai edisi awal tahun baru, Redaksi e-Leadership mengetengahkan
  topik "Apa yang Diperlukan untuk Memimpin Gereja". Menjadi pemimpin
  gereja tentunya tidak mudah. Layaknya mempekerjakan seorang sopir
  bus, harus ada seleksi terlebih dahulu untuk menentukan apakah
  seseorang pantas memegang posisi kepemimpinan dalam gereja atau
  tidak. Lalu, seperti apa sebenarnya seseorang yang patut memimpin
  gereja, dan apa kaitan antara supir bus dan pemimpin gereja? Bahasan
  dalam Artikel 1 di bawah ini akan menjawabnya. Tidak ketinggalan,
  kami juga menghadirkan kolom Inspirasi dan Jelajah Situs yang
  diharapkan dapat menjadi inspirasi dan pelengkap bagi Anda dalam
  menapaki dunia kepemimpinan Kristen.

  Jangan lewatkan bahasan mengenai stamina yang diperlukan untuk
  memimpin gereja di edisi selanjutnya dengan topik yang sama,
  tepatnya di kolom Artikel, yang akan terbit pada Rabu terakhir bulan
  ini.

  Selamat menyimak. Tuhan memberkati.

  Pimpinan Redaksi e-Leadership,
  Dian Pradana

  "Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan
  paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan
  jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian
  diri." (1 Petrus 5:2)
  < http://sabdaweb.sabda.org/?p=1Petrus+5:2 >

==================================**==================================
ARTIKEL

               APA YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMIMPIN GEREJA

  Perumpamaan

  Izinkan saya memulai tulisan saya ini dengan perumpamaan
  kepemimpinan gereja. Katakan saja tugasnya bukan melatih para
  pemimpin, namun melatih para sopir bus untuk sebuah sekolah dasar
  yang cukup besar. George adalah yang bertanggung jawab melakukannya;
  ia harus mencari beberapa sopir bus untuk tahun ajaran baru. Maka
  George mulai melakukan tanggung jawabnya. Pertama, ia menulis
  persyaratan utama untuk menjadi sopir bus sekolah dasar:

  1. Penuh gairah dan bersemangat. Namun harus memiliki motivasi,
     harus ada keingingan untuk menjadi lebih dari hanya sekadar
     seorang sopir bus.
  2. Berpengalaman. Sopir baru tidak memiliki cukup pengalaman untuk
     mengemban tugasnya.
  3. Tidak memiliki catatan kriminal; diutamakan yang tidak memiliki
     catatan pelanggaran lalu lintas. Bukan kesempurnaan yang
     diharapkan, namun ketaatan dan wawasan akan hukum.
  4. Pernah sesekali atau tidak pernah mengalami kecelakaan. Sekali
     lagi, bukan kesempurnaan yang diharapkan, namun ketaatan dan
     wawasan akan hukum yang berlaku.
  5. Terlatih. Hal ini memerlukan rasa hormat pada otoritas,
     kerendahan hati, dan kesediaan untuk diajar dan belajar. Pada
     akhirnya, hal ini berujung pada wawasan dan keterampilan.
  6. Menyayangi anak-anak. Sopir bus yang baik pastilah penuh belas
     kasih dan pemahaman, toleran, dan tidak mudah bingung.
  7. Pikiran tidak mudah kacau. Sopir yang baik adalah sopir yang tahu
     rutenya dan tetap pada jalurnya. Ia tidak menyimpang ke kiri dan
     ke kanan. Kasihnya pada anak-anak diwataki oleh tugasnya untuk
     mengantar anak-anak selamat sampai tujuan. Singkatnya, ia tahu ke
     mana ia pergi dan mampu membawa anak-anak bersamanya.
  8. Mengemudi dengan aman dan dapat dipercaya. Baik anak-anak dan
     orang tua mereka percaya kepadanya karena mereka tahu ia mengerti
     pekerjaannya.

  Lalu George mulai mencari orang-orang yang cocok. Ia memasang iklan
  di koran lokal. Iklan itu akan menarik mereka yang berkeinginan
  untuk menjadi sopir bus. Namun dalam prosesnya, George segera
  menemui bahwa beberapa kandidat dimotivasi oleh hal yang salah.
  Jadi, karakter moral mereka harus disaring dengan saksama. Namun,
  George kehabisan waktu. Pelatihannya membutuhkan beberapa minggu,
  demikian juga proses penyaringan karakter moralnya. Jadi, ia
  mempersingkat kedua proses persiapan sopir bus itu agar bisa
  mendapatkan enam sopir bus yang ia butuhkan sesuai tenggat waktunya.

  Hasilnya bervariasi. Tiga sopir bus menjalankan tugasnya dengan
  baik. Karakter mereka luar biasa, mereka mengikuti pelatihan dengan
  baik (dua di antaranya bahkan pernah menjadi sopir truk), dan mereka
  memenuhi syarat yang George butuhkan. Beruntung baginya, para sopir
  bus itu adalah "hasil temuan", bukan "hasil pelatihan".

  Namun, salah satu sopir bus adalah seorang pelajar SMA. Ia terlalu
  muda dan belum cukup dewasa untuk pekerjaan itu. Hal ini memengaruhi
  keamanan berkendara, tingkat kepercayaan orang tua, dan
  konsentrasinya sendiri dalam bus yang penuh dengan suara bising
  anak-anak. Tragedi terjadi saat bus itu selip dan menabrak pohon.
  Memang tidak ada anak-anak yang luka parah, tapi siapa yang tahu
  akan efek psikologis kejadian itu pada anak-anak.

  Sopir bus yang lainnya terlalu sayang kepada anak-anak hingga
  mengesampingkan tugasnya. Pernah dalam suatu perjalanan mengantar
  anak-anak, ia berhenti dan membelikan anak-anak es krim. Akibatnya,
  semua orang tua khawatir karena anak-anaknya terlambat pulang. Hal
  itu berlangsung terus, dan ia pun rutin terlambat dalam mengantar
  anak-anak, baik ke sekolah maupun ke rumah masing-masing anak.

  Pengemudi yang terakhir terbukti berbahaya. Ia memiliki catatan
  kriminal. Motivasinya uang. Ia juga tidak menghormati otoritas.
  George tidak mengenal sifat asli sopir ini karena terburu-buru dalam
  prosesnya, dan lagi tampaknya ia baik. Awalnya, ia dapat merebut
  hati anak-anak. Namun, suatu hari ia menculik anak-anak dan meminta
  uang tebusan. Semua anak selamat, dan sopir itu tidak pernah
  ditemukan.

  Selama setahun pertama, George berpikir serius tentang program
  pelatihannya. Awalnya, dia berpikir, "Yah, tiga sopir dari enam
  sopir baik. Aku rasa program pelatihanku berjalan sukses." Namun,
  itu adalah pikiran yang sempit; hanya untuk menekan kata hati. Saat
  dia memikirkan harga nyawa-nyawa yang menjadi tanggung jawabnya dan
  apa tugasnya yang sebenarnya, ia menyadari bahwa ia telah
  mengecewakan anak-anak dan orang tua mereka. Dan lagi, ia gagal
  mendapatkan sopir bus yang baik karena tidak melatih dan menyaring
  mereka dengan benar. Semua itu dapat terhindarkan andaikata George
  tidak mempersingkat programnya. Ia menyadari bahwa asumsi pertamanya
  salah: ia tidak harus memenuhi tenggat waktu. Akan lebih baik untuk
  anak-anak berjalan kaki ke sekolah daripada nyawa mereka terancam.
  Jadi pelajaran paling berharga yang George pelajari adalah jangan
  memberi tanggung jawab kepada seseorang untuk mengemudi bus sebelum
  ia benar-benar diperiksa dan dilatih dengan baik.

  Kepemimpinan Gereja

  Oke, saya tahu itu adalah perumpamaan yang panjang! Namun, saya
  yakin Anda dapat melihat keterkaitannya dengan kepemimpinan dalam
  gereja. Para pemimpin harus dapat dipercaya; bukan hanya sekadar
  memiliki semangat. Dan meski mereka mengasihi domba-dombanya, kasih
  yang tidak berlabuh pada kebenaran akan merosot menjadi
  sentimentalitas belaka. Kita dapat mengetahui dengan mudah sopir bus
  seperti apa yang dibutuhkan karena kita dapat dengan mudah melihat
  apa yang menjadi tujuan utama sopir bus: mengantar anak-anak sampai
  ke sekolah dengan selamat dan tepat waktu. Analoginya, alasan
  mengapa kita tidak yakin seperti apa pemimpin gereja itu seharusnya
  adalah karena kita tidak tahu tujuannya.

  Jelas sudah, tugas kita pada akhirnya adalah memuliakan Tuhan, baik
  secara individual maupun bersama-sama.

  Memuliakan Tuhan memerlukan pengetahuan akan Dia dan kehendak-Nya.
  Bagi pemimpin gereja, dasar pengetahuan Alkitab dan doktrin Alkitab
  adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. (Seorang
  pemimpin gereja harus mengembangkan kebiasaan melakukan disiplin
  spiritual selama hidupnya, makan makanan rohani -- firman-Nya,
  melakukan firman-Nya setiap waktu, dan mampu mencurahkan apa yang ia
  pelajari kepada orang lain.) Jika tidak, pemimpin tidak akan mampu
  mengerti saat domba-dombanya menyimpang. Bahkan, malah ia yang
  dipimpin oleh para pengikutnya! Sejalan dengan itu, pemimpin juga
  harus tahu kebenaran mana yang pokok dan yang tidak. Seorang
  pemimpin yang dewasa adalah seseorang yang mengerti kebenaran mana
  yang diperlukan bagi kehidupan gereja, dan mana yang termasuk dalam
  kategori "sapiential preference", yakni penglihatan yang lahir dari
  hikmat seseorang yang berjalan dengan Tuhan, namun mungkin salah.
  Untuk ini, diperlukan kerendahan hati yang amat sangat.

  Bersamaan dengan pengetahuan Injil adalah dua elemen: komitmen
  kepada otoritas Injil dalam setiap bidang yang diajarkannya, dan
  penghargaan kepada orang lain dalam persekutuan atas keragaman
  pandangan dan talenta. Tidak ada ruang bagi peremehan dan
  intimidasi.

  Terlebih lagi, pengetahuan dasar itu harus berujung pada perubahan
  iman dan karakter. Penerapan kebenaran alkitabiah harus dalam wujud
  tingkah laku. Alkitab adalah lebih tentang perubahan iman daripada
  tentang perubahan sikap. Sikap akan dipengaruhi oleh iman. Saat kita
  kurang beriman, maka hal itu akan memengaruhi sikap kita.

  Untuk mengatasinya, kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati,
  jiwa, pikiran, dan kekuatan kita (Mat. 22:34-40). Setiap aspek
  kehidupan kita -- baik secara individu maupun persekutuan --
  haruslah menjadi subjek keilahian Tuhan.

  Iman dan karakter kita harus dapat ditransfer. Seorang pemimpin
  harus bersedia dan mampu menduplikasikan dirinya sendiri dalam diri
  orang lain: "kasihi sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu
  sendiri" (Mat. 22:39). Hal ini memerlukan komitmen radikal kepada
  sesama, menganggap mereka lebih penting daripada diri sendiri (Fil.
  2:1-11). Dan hal ini memerlukan pengajaran kebenaran yang dari-Nya
  (2 Tim. 2:2). Singkatnya, pemimpin harus mampu "berpegang kepada
  kebenaran dalam kasih" (Ef. 4:15).

  Komitmen kita pada Injil Kristus membuat seorang pemimpin bersedia
  untuk keluar dari zona nyamannya. Paulus rela melakukan apa saja
  bagi semua orang -- sesuatu yang sulit bagi mantan seorang Farisi --
  agar ia dapat memenangkan jiwa. Injil membutuhkan fleksibilitas kita
  yang luar biasa, khususnya dalam ranah lintas budaya. Hal itu bukan
  hanya berarti kita harus bersedia membagikan iman kita, namun juga
  pengenalan bahwa gereja pada dasarnya bersifat heterogen. Artinya,
  setiap ekspresi lokal tubuh Kristus harus melampaui batasan ras,
  ekonomi, pendidikan, usia, dan kelamin (Gal. 2:1, 3:28; Ef. 2:11-22, 4:1-6). Sifat supernatural tubuh Kristus paling jelas terlihat saat
  keberadaan dan kesatuannya tidak dapat dijelaskan secara alamiah.
  Sekarang ini, sedikit sekali gereja yang menerapkan hal ini dengan
  benar. Bahkan, metode pertumbuhan gereja paling populer saat ini
  adalah pendekatan homogen. Sebagian motivasi dalam memakai
  pendekatan ini adalah asumsi bahwa pertumbuhan yang cepat adalah
  sesuatu yang bagus, benar, dan penting. Namun, bagaimana sebuah
  gereja berkembang jauh lebih penting daripada seberapa cepat gereja
  itu berkembang. Gereja yang kehilangan prinsip ini layaknya bayi
  baru lahir yang sehat, namun mengidap penyakit bawaan yang belum
  terindentifikasi. Cepat atau lambat, penyakit itu akan berkembang
  dan anak itu akan menderita kesakitan, dan bahkan kematian. Memang
  benar bahwa gereja yang sehat adalah gereja yang bertumbuh; namun
  kebalikannya belum tentu benar -- gereja yang bertumbuh belum tentu
  adalah gereja yang sehat.

  Sebuah gereja yang alkitabiah harus heterogen dan bertumbuh oleh
  penggandaan dan kedalaman daripada oleh penambahan dan kedangkalan.
  Pada akhirnya, sebuah gereja yang bergerak dalam jalur ini akan
  mengalami pertumbuhan dahsyat (karena penggandaan pada akhirnya
  menyamai dan kemudian melampaui penambahan) yang berakar kuat.
  Daunnya akan hijau dan bertahan saat keadaan tak menentu karena
  gereja itu berakar dalam.

  Kepemimpinan alkitabiah tidak dapat dilakukan dari jarak jauh.
  Kepemimpinan ini membutuhkan keterlibatan pribadi. Kebenaran abstrak
  teologi harus dibuat konkret dan personal dalam pemuridan ilahi yang
  intim. Penghindaran konflik atau ketakutan untuk terlibat tidak
  boleh mengarakterisasi pemimpin sejati dalam gereja. Selain itu,
  pemimpin gereja juga harus dapat mengajar dengan suatu cara yang
  bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan. Intinya, jumlah banyak
  tidak membuat sebuah gereja itu hebat. Orang kuduslah yang membuat
  gereja hebat.

  Akhirnya, seorang pemimpin haruslah terhormat, menerima kritik,
  sederhana, dan toleran. Orang yang sederhana bersedia belajar dari
  orang lain, menyadari bahwa ia tidak selalu benar. Dan karena ia
  tidak mahatahu, ia toleran dan menghormati mereka yang bertentangan
  dengannya. Tidak ada arogansi dalam pelayanan. Dan lagi, seorang
  percaya yang dewasa belumlah sempurna. Semakin ia dapat mengakui hal
  itu kepada diri sendiri dan orang lain, maka orang lain akan semakin
  bersedia mengikutinya, karena mereka akan melihatnya sebagai
  seseorang yang patut diikuti. Sifatnya yang mudah dikritik
  menjaganya tetap autentik dan memberinya daya pikat yang harus
  dihargai dalam diri orang percaya.

  Saat kepemimpinan gereja berjalan, maka berjalanlah gereja. Jika
  tujuan gereja pragmatis, programatis, organisasional, numerikal,
  atau menghibur, hasilnya tidak akan menyenangkan Tuhan. Intinya,
  pemimpin haruslah orang-orang yang mengabdikan seluruh hidupnya
  kepada Tuhan, yang mereka layani.

  Kesimpulan

  Persyaratan penting untuk menjadi pemimpin gereja terbaik adalah
  sebagai berikut.

  1. Memandang budaya dari perspektif menyeluruh orang Kristen.
  2. Memiliki fokus hidup, baik secara individu maupun dalam
     persekutuan dengan orang lain, untuk memuliakan Tuhan.
  3. Memiliki wawasan Alkitab yang melibatkan sebuah hierarki doktrin,
     komitmen pada otoritas mutlak Alkitab, dan rasa hormat yang besar
     pada orang lain yang mungkin tidak setuju dengan interpretasinya
     yang mungkin keliru.
  4. Penyerahan seluruh aspek kehidupan kepada Kristus -- termasuk
     karakter, iman, dan sikap -- secara progresif.
  5. Hidup yang mengubahkan, kerinduan untuk tidak hanya
     mengomunikasikan kebenaran, namun kebenaran yang menghasilkan
     buah dalam hidup orang lain.
  6. Kesediaan untuk keluar dari zona nyaman demi kepentingan Injil.
     Hal ini membutuhkan kesediaan untuk mengembangkan gereja menurut
     cara Tuhan dan mengenali sifat gereja yang pada dasarnya
     heterogen.
  7. Komitmen untuk terlibat secara pribadi dengan orang lain.
     Hidupnya haruslah hidup yang dapat dipertanggungjawabkan pada
     tingkat ilahi yang paling intim.
  8. Seorang pemimpin haruslah mudah menerima kritik, sederhana, dan
     toleran. (t/Dian)

  Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
  Nama situs: Bible.org
  Judul asli artikel: What it Takes to Lead the Church
  Penulis: Daniel B. Wallace, Th.M., Ph.D.
  Alamat URL: http://www.bible.org/page.php?page_id=415

==================================**==================================
KUTIPAN

       Bukan jumlah jemaat yang membuat sebuah gereja hebat,
   namun pemimpinnyalah yang membuat sebuah gereja menjadi hebat.

==================================**==================================
INSPIRASI

                   MENGIDENTIFIKASI NILAI-NILAI INTI

  Mengindentifikasikan nilai-nilai inti yang mendefinisikan organisasi
  Anda adalah salah satu fungsi terpenting dari kepemimpinan. Sukses
  gagalnya proses ini benar-benar dapat membuat organisasi berhasil
  atau gagal.

  Umpamanya, coba lihat Disney. Organisasi ini telah
  mengidentifikasikan empat nilai untuk taman-taman tematiknya, yaitu
  keselamatan, kesopanan, hiburan (entah Mickey Mouse atau pemeriksa
  karcis), dan efisiensi. Bukan hanya mereka telah mengidentifikasikan
  nilai-nilai mereka, melainkan juga telah menatanya dengan saksama.
  Mengapakah hal ini penting? Manajer yang berorientasi pada
  keuntungan mungkin hanya akan menekankan efisiensi sehingga
  membahayakan tiga nilai lainnya.

  Sebaiknya Anda memprioritaskan upaya mengidentifikasikan nilai-nilai
  inti organisasi Anda. Dan janganlah mencoba melakukannya sendirian.
  Manfaatkanlah sumber-sumber daya yang ada di sekeliling Anda.
  Libatkanlah semua orang -- semua orang seharusnya merasa memiliki
  dalam proses ini. Ingatlah bahwa aturan-aturan bisa saja
  diberlakukan, namun nilai-nilai tidak. Libatkanlah semua orang dalam
  proses ini sedini mungkin.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Hati Seorang Pemimpin
  Judul asli buku: The Heart of A Leader
  Penulis: Ken Blanchard
  Penerjemah: Drs. Arvin Saputra
  Penerbit: Interaksara, Batam Centre 2001
  Halaman: 143

==================================**==================================
JELAJAH SITUS

                                 EQUIP
                         http://www.iequip.org/

  "Equipping leaders to reach our world" adalah motto yang terpampang
  di halaman depan situs ini. Situs Equip khusus bergerak di bidang
  kepemimpinan Kristen dan memunyai misi melengkapi secara efektif
  para pemimpin Kristen bagi pelayanan tubuh Kristus di seluruh dunia.
  Dalam situs yang didirikan oleh Dr. John C. Maxwell ini, Anda bisa
  menemukan artikel atau pun tulisan tentang kepemimpinan di menu
  "Tools and Resources". Menu "Leadership Q"amp;A" menampilkan lima belas
  pertanyaan atau permasalahan beserta jawabannya yang sering muncul
  dalam pelatihan kepemimpinan yang diadakan di berbagai negara.
  Kumpulan artikel di bagian "Articles" dikelompokkan berdasarkan
  penulisnya, yaitu Doug Carter, Tim Elmore, dan Dr. John C. Maxwell.

  Diambil dari:
  Nama publikasi: ICW (Indonesian Christian Webwatch)
  Edisi: 1073 (13-7-2006)
  Alamat URL: http://www.sabda.org/publikasi/icw/1073/?kata=kepemimpinan

==================================**==================================
Berlangganan: subscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org
Kontak e-Leadership: leadership(at)sabda.org
Arsip e-Leadership: http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/arsip
Situs Indo Lead: http://lead.sabda.org/
Network Kepemimpinan: http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_kepemimpinan
______________________________________________________________________
Redaksi e-Leadership: Dian Pradana dan Sri Setyawati
e-Leadership merupakan kerjasama antara Indo Lead, YLSA, dll.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Bahan ini dapat dibaca secara on-line di:
http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/
Copyright(c) 2009 oleh YLSA
http://www.ylsa.org/ ~~ http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
==================================**==================================

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org