|
Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
https://sabda.org/https://sabda.org/publikasi/e-konsel/86 |
|
e-Konsel edisi 86 (3-5-2005)
|
|
><> Edisi (086) -- 01 Mei 2005 <><
e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Daftar Isi:
- Pengantar : Bagaimana Mengatasi Rasa Bersalah?
- Cakrawala : Guilt (Rasa Bersalah)
- Bimbingan Alkitabiah : Rasa Bersalah
- Tanya Jawab : Bagaimana Mengatasi Rasa Bersalah yang
Mendalam?
- Surat : Masalah Transeksual
*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*
-*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-
"Mengapa saya masih terus merasa bersalah meskipun saya telah
minta ampun kepada Tuhan?"
Pertanyaan itu sering melintas saat seseorang melakukan perbuatan
yang melanggar norma-norma tertentu, baik norma agama maupun
masyarakat. Tidak semua orang bisa mengatasi perasaan bersalahnya
dengan mudah. Ada tipe orang yang masih terus berkutat dengan
perasaan bersalahnya meskipun peristiwanya sudah lama berlalu.
Bahkan, fakta bahwa dia telah menerima pengampunan dari Tuhan dan
orang yang disakitinya pun belum bisa membantu dia mengampuni
dirinya sendiri. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana
caranya mengatasi perasaan bersalah yang mendalam itu dengan sikap
yang benar?
e-Konsel edisi ini hadir untuk menjawab pertanyaan tersebut. Topik
mengenai perasaan bersalah dan bagaimana cara mengatasi perasaan
bersalah tersebut secara alkitabiah dikupas tuntas dalam sajian-
sajian berikut ini. Apakah Anda ingin membantu orang-orang di
sekitar Anda yang sedang bergumul dengan perasaan bersalahnya?
Silakan menikmati sajian kami dan temukan cara untuk menolong teman/
rekan dalam mengatasi perasaan bersalah yang mereka alami. (End)
Redaksi
*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*
-*- GUILT (RASA BERSALAH) -*-
Apa itu Guilt?
--------------
G. Belgum dengan tepat mengatakan bahwa "guilt" adalah sesuatu
dimana agama dan psikologi paling sering bertemu (Guilt: Where
Religion and Psychology Meet, Minneapolis: Augsburg, 1970). Mungkin
tidak ada topik persoalan manusia yang mendapatkan perhatian yang
begitu banyak, baik oleh teolog-teolog maupun konselor-konselor
lebih daripada persoalan ini.
Jikalau kita mau berbicara dengan orang-orang yang depresi,
kesepian, yang bergumul dengan masalah-masalah dalam hidup
pernikahan, para homoseks, orang-orang yang sedang dilanda
kesusahan, dsb., maka kita akan menemukan bahwa guilt adalah bagian
dari pergumulan dan persoalan mereka.
Bruce Narramore, bahkan mengatakan bahwa guilt ada dalam setiap
masalah psikologis yang dihadapi setiap orang (Guilt: Where Theology
and Psychology Meet, Journal of Psychology and Theology 2, 1974, pp.
18-25).
Ada dua kategori yang berbeda tentang guilt, yaitu:
a. Objective guilt
------------------
Ini adalah guilt yang menjadi masalah oleh karena ada peristiwa
pelanggaran hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.
Meskipun demikian, orang yang melakukan pelanggaran itu sendiri
mungkin tidak merasa guilty.
Ada 4 macam guilt yang objektif, yaitu:
---------------------------------------
1. Legal-guilt, yaitu guilt yang menjadi masalah oleh karena
pelanggaran terhadap hukum yang berlaku dalam masyarakat.
Pembunuhan, pencurian, dll. menimbulkan masalah guilt meskipun
tidak semua orang yang melakukan merasa guilty.
2. Social-guilt, yaitu guilt yang menjadi masalah jikalau ada
pelanggaran terhadap hukum yang tidak tertulis yang berlaku dalam
masyarakat. Misalnya: penghinaan, ancaman terhadap sesama
manusia, dsb. yang mungkin tidak ada bukti-bukti konkrit yang
memungkinkan untuk dibawa ke pengadilan, bahkan mungkin tidak ada
hukum tertulis yang menggariskan tentang hal-hal itu, tetapi
muncul masalah guilt.
3. Personal-guilt, yaitu guilt yang menjadi masalah jikalau terjadi
pelanggaran terhadap "conscience" atau kesadaran akan kebenaran
yang ada di dalam hati orang yang bersangkutan. Misalnya: guilt
yang muncul karena orangtua memukul anaknya tanpa alasan yang
benar; suami yang makan malam di luar sendiri meskipun tahu bahwa
istrinya menantikan dia, dan sebagainya.
4. Theological-guilt, yaitu guilt yang menjadi masalah jikalau
terjadi pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah. Alkitab
memberikan standar-standar tingkah laku manusia, jikalau itu
dilanggar, baik dengan pikiran maupun perbuatan, maka muncullah
masalah guilt walaupun orang yang bersangkutan tidak guilty
(Wahyu 20:21b). Bahkan Alkitab menyaksikan bahwa kita semua
guilty di hadapan Allah (Roma 3:23).
Kebanyakan orang merasa gelisah, bahkan mungkin merasa bersalah,
jikalau melakukan pelanggaran-pelanggaran di atas. Meskipun
demikian, banyak pula yang begitu keras hati sehingga mematikan
perasaan bersalahnya. Banyak juga orang Kristen yang melakukan
banyak pelanggaran terhadap hukum Allah namun tidak merasa guilty,
hal ini mungkin disebabkan keberhasilannya dalam mematikan guilty-
feelingnya atau mungkin juga disebabkan kurangnya pengenalan
terhadap kebenaran Allah jadi hanya pelanggaran-pelanggaran tertentu
yang menimbulkan guilty feeling.
b. Subjective-guilt
-------------------
Ini adalah guilt yang menimbulkan perasaan bersalah dan sesal dalam
diri orang yang bersangkutan. Bahkan, orang yang bersangkutan bisa
merasakan ketakutan, putus asa, cemas, dan terus-menerus
menyalahkan diri sendiri oleh karena perbuatan atau pemikiran, yang
dianggapnya melanggar prinsip-prinsip kebenaran yang selama ini ia
yakini. Mungkin, apa yang ia lakukan atau pikirkan sebenarnya tidak
melanggar kebenaran yang sesungguhnya berlaku di masyarakat dsb.,
namun orang itu merasakan guilty.
Narramore membagi subjective-guilt ini dalam tiga bagian, yaitu:
1. A fear of punishment (takut akan hukuman)
2. A loss in self-esteem (perasaan kehilangan harga diri).
3. A feeling of loneliness, rejection or isolation (perasaan
kesepian, penolakan, atau pengasingan).
Guilty feeling yang semacam ini tidak selamanya buruk, karena
merupakan dorongan untuk memperbaiki tingkah laku dan menimbulkan
dorongan serta kebutuhan untuk mendapatkan pengampunan dari Allah.
Meskipun tidak jarang guilty feeling yang semacam ini juga bisa
menjadi hal yang merusak.
Subjective-guilt bisa begitu kuat, bisa juga lemah; bisa
"appropriate" dan memang sesuai atau beralasan, bisa juga
"inappropriate" dimana untuk pelanggaran yang besar seorang tidak
merasa guilty, untuk pelanggaran kecil (bahkan mungkin tidak sama
sekali) seseorang merasakan amat bersalah.
Apa yang Alkitab Katakan tentang Guilt?
---------------------------------------
Kalau Alkitab menyebut tentang "guilt" atau "guilty", maka itu
hampir selalu menunjuk pada theological-guilt, yaitu guilt yang
timbul sebagai akibat dari pelanggaran terhadap hukum Allah. Alkitab
rupanya tidak pernah memisahkan secara mutlak antara "guilt" dan
"sin" (L.R. Keylock, "Guilt", in the Zondervan Pictorial
Encyclopedia of the Bible, ed. Merril C. Tenney, Grand Rapids:
Zondervan, 1975, 2:852). Dan hal ini penting sekali untuk diketahui
oleh konselor-konselor Kristen bahwa Alkitab tidak menekankan
tentang guilty feeling (perasaan bersalah yang seringkali subjektif
dan tidak berdasar) tapi guilty karena dosa. Oleh karena itu,
konselor-konselor Kristen harus waspada agar jangan mencoba
menciptakan guilty feeling sebagai alat untuk memudahkan cara
mengubah dan memotivasi seseorang. Guilty feeling hanya boleh ada
sebagai reaksi normal terhadap kesadaran akan realita dosa. Untuk
itu konselor Kristen harus dapat membedakan dua hal berikut ini:
1. Constructive-sorrow (dukacita yang positif)
-------------------------------------------
Ini adalah istilah yang dipakai oleh Bruce Narramore (Guilt:
Christian Motivation or Neurotic Masochism, Journal of Psychology
and Theology, 2:1974, pp. 182-189), yang didasarkan pada
2Korintus 7:8-10. Dalam bagian ini Paulus membedakan antara
"dukacita dunia" yang kira-kira sama dengan sekadar "perasaan
bersalah yang subjektif" dengan "dukacita yang konstruktif", yang
positif yang menghasilkan perubahan sikap hidup yang membangun.
Misalnya, seorang sopir yang menabrak orang, bisa menunjukkan:
1. Dukacita dunia: merasa bersalah, mengutuki diri sendiri, dan
selama-lamanya tidak mau memegang kemudi.
2. Constructive sorrow: merasa bersalah, rela dihukum, tahu
kesalahannya, dan berusaha memperbaikinya.
Memang dunia sering lebih menyukai "dukacita dunia" karena dunia
terikat dengan nafsu balas dendam sehingga orang baru puas kalau
orang yang bersalah menerima hukuman yang fatal. Tetapi realita
ini tidak boleh menjadi alasan untuk kita memilih cara guilty
seperti itu.
2. Divine forgiveness (pengampunan Allah)
--------------------------------------
Salah satu tema besar dalam Alkitab adalah pengampunan Allah.
Tuhan Yesus datang sebagai domba Allah yang menghapus dosa dunia
(Yohanes 1:29) supaya manusia mendapat pengampunan dan
diperdamaikan dengan Allah (Kisah Para Rasul 5:30-31; Kolose
1:14; Efesus 1:7). Alkitab seringkali menekankan bahwa
pengampunan dari Allah menyangkut beberapa hal yang penting
seperti:
a. Pertobatan: 1Yohanes 1:9, tanpa pertobatan tidak ada
pengampunan (Amsal 28:13).
b. Pengampunan terhadap sesama manusia: Matius 6:12, 18:21,
menekankan bahwa tanpa kesediaan mengampuni
kesalahan sesama tidak ada pengampunan dari
Allah.
Memang, iman itu anugerah (Efesus 2:8; Roma 12:3) dan anugerah Roh
Kudus yang melahirkan iman adalah peristiwa kelahiran baru (Yohanes
3:3) yang menjadi satu-satunya modal bagi pertobatan. Tanpa
kelahiran baru, maka tidak ada pertobatan (kesadaran akan dosa dan
kebutuhan akan pengampunan Allah). Tanpa pertobatan tidak ada
pengampunan dosa.
Bukti dari pertobatan adalah kehidupan dalam pimpinan Roh Kudus yang
membuahkan kebaikan, kemurahan, kesabaran, dsb. (Galatia 5:16,22),
yaitu unsur-unsur utama yang menandai peristiwa pengampunan. P.H.
Monsma, dalam tulisannya yang berjudul "Forgiveness" mengatakan:
"A person who seeks forgiveness but doesn`t forgive others hardly
knows what he is asking for and is not worthy of it." (Zondervan
Pictorial Encyclopedia of the Bible, ed. Merril C. Tenney,
2:599.)
Bruce Narramore dalam tulisannya yang berjudul "Guilt: Christian
Motivation or Neurotic Masochism" (Journal of Psychology and
Theology, 2:1974, p. 188) memberikan bagan perbandingan antara
psychological guilt dan constructive sorrow, sbb.:
____________________________________________________________________
Psychological guilt Constructive sorrow
____________________________________________________________________
1. Pusat perhatian dirinya sendiri Allah dan sesamanya
yang bersangkutan
2. Pemikiran atas fokus pada kesalah- fokus pada akibat
masalahnya an yang telah diper- kesalahan yang telah
buat diperbuat dan
langkah-langkah
perbaikan yang
akan diambil
3. Motivasinya di untuk membebaskan untuk mendorong
belakang tindak- diri dari gangguan orang lain tumbuh
an yang diambil rasa bersalah (guilt dan melakukan ke-
feelings) hendak Allah (love
feelings)
4. Sikap terhadap marah, benci, dan mengasihi diri sen-
diri sendiri frustrasi diri sehingga
mengusahakan yang
terbaik.
5. Hasil/akibat - perubahan luar kehidupan yang baru
yang sementara
- menarik diri dari
tanggung jawab
yang lebih besar.
- kegagalan terulang
lagi.
- self-hatred/membenci
diri sendiri.
____________________________________________________________________
Dengan melihat perbedaan di atas, antara "psychological guilt" dan
"constructive sorrow", maka jelaslah yang manusia butuhkan adalah
constructive sorrow dimana hal ini tidak pernah sempurna dalam
pergumulan seseorang tanpa orang tsb. diperdamaikan dengan Allah.
Memang manusia bisa mengusahakan "constructive sorrow" tapi tanpa
pertobatan dan diperdamaikan dengan Allah, "constructive sorrow"
tersebut tidak berdasar dan tidak punya tujuan yang jelas sehingga
tidak memberikan jaminan penyelesaian persoalan guilt-nya.
Seperti yang ditulis dalam Nyanyian Rohani 138:1,
"Memburu-buru berlelah, kutuntut hidup suci, tetapi kesalahanku
tak dapat aku cuci. Kucoba dengan giatku membuat kebenaran wahai
segala dosaku menjadi penegahan." (I.S. Kijne, "Mazmur dan
Nyanyian Rohani", BPK Gunung Mulia, 1978, p. 226).
Alkitab menekankan jelas sekali mengenai kesia-siaan dari orang yang
berbuat baik di luar anugerah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus
(Roma 3:20, 9:32, 11:6; Galatia 2:16; Efesus 2:9; 2Timotius 1:9;
Titus 3:5).
-*- Sumber diambil dari: -*-
Judul Buku : Pastoral Konseling, Jilid 2
Judul Artikel: Guilt
Penulis : Yakub B. Susabda
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996
Halaman : 79 - 82
*BIMBINGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*--*-*-*-*-*-*-*-*-* ALKITABIAH*
-*- RASA BERSALAH -*-
AYAT ALKITAB
============
Roma 8:1 Yesaya 44:22
Yohanes 8:36 Filipi 3:13-14
Roma 7:18-25
LATAR BELAKANG
==============
Rasa bersalah adalah suatu perasaan berdosa, bersalah atau gagal
memenuhi standar hidup tertentu. Allah menciptakan di dalam kita
suatu hati nurani, suatu kemampuan untuk menilai benar atau salahnya
tindakan-tindakan moral kita. Ada dua jenis rasa bersalah: Rasa
bersalah karena melakukan pelanggaran moral dan rasa bersalah karena
sesuatu yang tidak jelas.
Pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan mengakibatkan rasa bersalah.
Ini adalah dosa. Karena orang yang berdosa tidak bersedia
menyelesaikan dosanya seperti yang Allah kehendaki agar dia
memperoleh kelepasan, akibatnya dia mengalami akibat-akibat buruk.
Adam dan Hawa di taman Eden adalah contoh terbaik tentang rasa
bersalah akibat pelanggaran dosa ini. Dosa (ketidaktaatan) mereka
menyebabkan rasa bersalah. Hubungan mereka dengan Allah putus;
mereka sadar tentang itu, lalu terjadilah keterasingan dan perasaan
tertuduh. Mereka lari dari Allah, berusaha menyembunyikan diri agar
mereka tidak usah menghadapi akibat-akibat tindakan mereka. Tentu
saja, Allah berhasil menemukan mereka. Mereka berusaha menyangkal
pertanggungjawaban mereka. Adam menyalahkan Hawa ("Perempuan yang
Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu
kepadaku, maka kumakan."), dan Hawa menyalahkan ular ("Ular itu yang
memperdayakan aku, maka kumakan."). Mereka telah berusaha menutupi
keadaan mereka dengan membuat cawat dari daun pohon ara, tetapi
Allah mengepung mereka dengan pertanyaan: "Siapakah yang
memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang?" Allah memaksa
mereka untuk membereskan masalah rasa bersalah mereka. Korban
tebusan pun kemudian dibuat untuk dosa mereka, sebagai dasar dari
prinsip korban tebusan seterusnya (Kejadian 3:21).
Contoh lain tentang cara mengatasi masalah rasa bersalah karena
dosa ialah teguran terbuka Natan terhadap Daud yang telah melakukan
perzinahan dan pembunuhan. Teguran terbuka itu mengakibatkan
pertobatan dan pengakuan (2Samuel 11:1-12,25; Mazmur 51:1-19).
Rasa bersalah yang tidak disebabkan oleh dosa, biasanya berhubungan
dengan gangguan emosional yang berasal dari pengalaman-pengalaman
negatif, khususnya di masa kecil. Bahkan, orang Kristen yang sudah
memiliki keyakinan bahwa Allah telah mengampuni mereka dan bahwa
mereka adalah anak-anak-Nya pun, masih bisa mengalami "rasa
bersalah" yang keliru ini. Orang yang demikian biasanya memiliki
citra diri yang rendah, selalu merasa kurang (tidak pernah benar dan
tak mampu), menderita depresi, dan sebagainya. Mereka tidak pernah
bebas dari rasa bersalah ini, walaupun mereka mencarinya, persis
seperti Esau yang "tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki
kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata"
(Ibrani 12:17).
Orang yang tertindih oleh rasa bersalah yang keliru ini, sering
diikuti oleh beberapa ciri yang rumit seperti berikut:
1. Depresi yang dalam akibat terus-menerus menyalahkan diri
sendiri.
2. Rasa letih dan sakit kepala yang kronis, atau penyakit-
penyakit lainnya.
3. Penyangkalan diri ekstrim sampai ke bentuk penghukuman diri.
4. Merasa terus-menerus diawasi dan dikritik orang lain.
5. Terus mengkritik dosa dan kekurangan orang lain.
6. Karena menanamkan sikap kalah, dia akan benar-benar tenggelam
dalam dosa yang lebih dalam, supaya mengalami perasaan
bersalah yang lebih hebat.
--------------------------Kutipan-----------------------------------
Menurut Billy Graham:
"Rasa bersalah adalah suatu masalah yang sangat rumit. Hati nurani
manusia sering di luar jangkauan psikiater. Dengan segala teknik
yang dimilikinya, dia tidak mampu mengukur kerusakan nurani manusia
ataupun kedalamannya. Terlepas sendiri di bawah gerogotan hati yang
bersalah dan tertekan oleh beban dosa yang berat, manusia tidak
berdaya. Tetapi di mana manusia gagal, di sana Allah berhasil."
----------------------Kutipan_Selesai-------------------------------
STRATEGI BIMBINGAN
==================
Untuk yang non-Kristen:
-----------------------
1. Tawarkan harapan baginya dengan menegaskan bahwa Allah
memperhatikan setiap masalah yang dimilikinya. Allah bukan saja
bisa mengampuni, melainkan juga mampu menghapuskan dosa dan rasa
bersalah kita.
2. Jangan sedikit pun memaafkan atau meringankan dosa-dosa yang
diungkapkannya. Di dalam setiap kita, ada ketidaktaatan dan
kelakuan berdosa yang harus dibereskan menurut cara Allah, yaitu
pengakuan dosa. Kita tidak akan pernah menemukan penyelesaian
terhadap rasa bersalah, jika kita berusaha menutup-nutupi dosa.
"Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi
siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi." (Amsal
28:13)
3. Tanyakan apakah dia pernah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan
dan Juruselamatnya. Jelaskan "Damai dengan Allah" [["Damai
dengan Allah" -- Traktat untuk menolong/menuntun orang non-
Kristen agar dapat menerima Kristus (dari LPMI/PPA); atau Buku
Pegangan Pelayanan, halaman 5; CD-SABDA: Topik 17750]].
Tegaskan bahwa kebebasan dari rasa bersalah, sudah terhisap dalam
karya penebusan Salib Kristus, tetapi dia harus mempercayai Dia
untuk menyucikannya.
4. Dorong dia untuk membaca dan mempelajari Alkitab, mulai dengan
Injil. Tawarkan "Hidup dalam Kristus" [["Hidup dalam Kristus" --
Traktat yang berisi pelajaran-pelajaran dasar tentang prinsip
memulai Kehidupan Kristen (dari LPMI/PPA); CD-SABDA: Topik
17453]] yang akan menolongnya memulai penyelidikan Alkitab.
5. Anjurkan dia untuk mengembangkan kebiasaan doa tiap hari. Sampai
di sini, dia dapat mengakui dosa-dosanya, meminta pengampunan dan
penyucian. Dia harus mensyukuri Allah yang telah mengangkat dosa
dan rasa bersalahnya, sambil mengingat-ingat bahwa dosa-dosa kita
telah diangkat-Nya.
6. Anjurkan dia untuk mencari suatu gereja yang mementingkan Firman
Tuhan dan terlibat di dalamnya. Di sana dia dapat bersekutu,
mendengar dan mempelajari Firman secara teratur dengan sesama
Kristen lainnya.
7. Berdoalah bersamanya agar dia memperoleh kelepasan dan damai di
hatinya. "Dialah damai sejahtera kita" (Efesus 2:14).
8. Jika orang yang Anda layani masih tidak mampu menanggapi apa yang
Anda saksikan tentang Kristus, dan terus saja bergumul dengan
rasa bersalahnya, anjurkan dia untuk menemui pendeta yang akan
memberinya bantuan lebih lanjut. Mungkin, ada saatnya dia akan
mampu memberi respon. Berikan kesan tentang pentingnya mengambil
inisiatif menemui pendeta.
Untuk yang Kristen:
-------------------
Jika dia seorang Kristen yang kembali mengalami gangguan rasa
bersalah, jelaskan hal-hal berikut:
1. Yakinkan dia tentang kasih dan pengampunan Allah. Dia dapat
menyucibersihkan rasa bersalah! Jika Allah telah mengampuni, dia
harus belajar mengampuni diri sendiri. Seorang Kristen memiliki
hak untuk menuntut kebenaran yang dinyatakan dalam 1Yohanes 1:9.
Kristus Juruselamat kita, menghapuskan segala dosa kita -- baik
yang di masa lampau, masa kini maupun nanti -- melalui karya
sempurna-Nya di salib.
2. Anjurkan dia untuk membaca, mempelajari, dan merenungkan bagian-
bagian Firman seperti Mazmur 103:1-6, 51:1-19; Yesaya 53:1-12;
dan Yohanes 18:1-40, 19:1-42. Mintalah dia mencatat supaya kelak,
dia dapat membaca dan mempelajari sendiri bagian-bagian Firman
tadi. Dia bisa memiliki keyakinan bahwa kelepasan dari rasa
bersalah akan dialaminya, bila dia menyambut korban Kristus dan
janji pengampunan serta penyucian-Nya.
3. Anjurkan dia untuk berdoa secara jelas dan setia, meminta "suatu
hati nurani yang bersih di hadapan Allah dan manusia" (Kisah Para
Rasul 24:16). Dia harus terus berdoa, sampai damai dialaminya.
4. Usulkan dia menghubungi pendeta yang dapat melayaninya lebih
lanjut.
-*- Sumber diambil dari: -*-
Judul Buku: Buku Pegangan Pelayanan
Penulis : Billy Graham
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA)
Halaman : 219 - 222
CD-SABDA : Topik 17704
*TANYA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* JAWAB*
-*- BAGAIMANA MENGATASI RASA BERSALAH YANG MENDALAM? -*-
Pertanyaan:
-----------
Bu, terus terang, saat ini saya tidak tahu persis apa yang harus
saya katakan. Saya bingung, takut, sedih, merasa sangat bersalah,
campur aduk.
Saya anak pertama dari 3 bersaudara. Ayah sangat ingin saya
menggantikannya dan meneruskan pekerjaan di toko kelontongnya yang
cukup laku. Saya tidak mau, bahkan tidak menyukai pekerjaan seperti
itu. Kami sering bertengkar, dan untuk menghindarinya saya jarang di
rumah, kebanyakan ke gereja atau main dengan teman. Hubungan saya
dengan ayah memang tidak dekat.
Bu, tiba-tiba ayah saya meninggal, katanya serangan jantung, tetapi
saya kira dia meninggal karena saya. Malam itu saya diminta untuk
menjaga toko, tetapi saya tidak mau. Memang dia diam saja, rupanya
dia asyik membaca koran dan saya langsung pergi karena sudah ada
janji dengan teman. Tahu-tahu malam itu saya dicari ke mana-mana
karena ayah masuk rumah sakit. Jam 22.00 WIB saya baru kembali dan
ayah sudah tidak ada.
Bu, saya anak durhaka, ayah meninggal karena saya. Ibu dan adik-adik
semua marah kepada saya. Saya tidak tahu, Bu, sekarang saya harus
bagaimana?
Jawab:
------
Saya bisa memahami perasaan campur aduk, khususnya rasa bersalah
yang Anda alami karena suara hati nurani yang terus-menerus menuduh
Anda. Meskipun secara rasionil Anda bisa mengemukakan berbagai
alasan, di pihak lain Anda tahu ada banyak kebaikan yang sebetulnya
dapat Anda lakukan untuk menyenangkan hati ayah. Sebagian besar
keinginan ayah sebenarnya dapat Anda penuhi, tetapi Anda berkeras
hati dan selalu tidak memenuhinya. Itulah sebabnya, sekarang Anda
merasa sangat bersalah. Apalagi orang yang membuat Anda memiliki
rasa bersalah itu tidak dapat dihidupkan lagi. Kemungkinan, untuk
bersujud dan meminta maaf kepadanya, seolah-olah sudah tertutup
selamanya. Bahkan Anda merasa ikut andil dalam kematian ayah.
Meskipun demikian, saya harap Anda berhati-hati dengan sikap Anda
terhadap diri sendiri. Perasaan Anda di tengah kondisi yang seperti
ini harus diwaspadai karena Anda berada di persimpangan jalan. Anda
bisa berdukacita dengan "godly sorrow"/dukacita surgawi sehingga
menghasilkan pertobatan (2Korintus 7:10) atau Anda bisa berduka
dengan dukacita orang yang tak berpengharapan (1Tesalonika 4:13).
Dukacita yang kedua ini hanyalah menifestasi self-
blaming/menyalahkan diri seperti yang dikatakan John Donne
bahwa "...any man`s death diminishes me, because I am involved in
mankind"[1]/setiap kematian menekan saya, karena saya terlibat
dalam kehidupan manusia.
Pada akhirnya, dengan dukacita yang keliru ini Anda akan tenggelam
dalam kesedihan dan menghukum diri sendiri. Semoga Anda tidak
melakukan hal ini, karena Anda bisa membuka diri untuk gejala lain
yang lebih buruk yang Freud sebut pathological[2]/tidak sehat lagi.
Yang terpenting bagi Anda sekarang ini adalah membuktikan diri bahwa
Anda mencintai ibu dan adik-adik. Kekuatiran dan kebingungan Anda
memang wajar karena Anda masih bingung, peran apa yang akan Anda
ambil sekarang ini. Anda belum biasa memikul tanggung jawab seorang
dewasa, oleh sebab itu mulailah dengan langkah-langkah pertama yang
konkrit dulu, yaitu mengisi peran ayah dan mengupayakan supaya toko
kelontong yang ayah banggakan itu tidak hancur. Olin & Olin
mengatakan dengan tepat bahwa "the transition from having little
awareness and then acceptance of owning up to the responsibility of
directing one`s life is a gradual process. Bereavement can enhance
this process"[3]/dukacita yang sehat seharusnya menghasilkan proses
kehidupan yang baik, yaitu transisi dari kurangnya kesadaran sampai
kemudian bisa menerima serta memiliki tanggung jawab dalam
kehidupan.
Anda belum terlambat, dan jangan menolak kesempatan yang Tuhan
berikan pada Anda untuk menunjukkan tanggung-jawab pada seluruh
keluarga. Kiranya Tuhan menolong dan menguatkan Anda pada masa-masa
yang sulit ini.
-*- Sumber diambil dari: -*-
Judul Buletin: Parakaleo, Edisi Januari-Maret 2002, Vol. IX/1
Penulis : Esther Susabda, P.D.
Penerbit : Departemen Konseling STTRI, Jakarta, 2002
Halaman : 3 - 4
*SURAT*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-DARI Anda-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*SURAT*
Dari: Agus <agus@>
>Salam damai dalam Tuhan Yesus Kristus,
>Saya sungguh terberkati dengan membaca artikel-artikel di e-Konsel.
>Semuanya yang dipaparkan itu benar-benar mencerahkan pandangan
>saya, dan tentunya menambah semangat saya untuk belajar Firman-Nya
>Bahasa tentang homoseksualitas Bulan April ini sangat bagus. Tapi
>saya juga penasaran dengan masalah trans-seksual. Apakah masalah
>transeksual ini sama gawatnya dengan homoseksual. Kalau iya,
>barangkali bisa dibahas. Terima kasih.
Redaksi:
Kami senang sekali ketika membaca e-mail Anda, kami juga bersyukur
bisa menjadi saluran berkat bagi Anda. Bersyukur juga kami bisa
menambah semangat Anda untuk mempelajari Firman Tuhan. Untuk topik
Transeksual yang Anda usulkan, kami akan usahakan untuk mencari
bahan-bahannya dan mungkin bisa kami sajikan di e-Konsel tahun
depan. Sekali lagi, terima kasih untuk usulan Anda.
e-KONSEL*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*e-KONSEL
STAF REDAKSI e-Konsel
Ratri, Tesa, Evie, Lisbeth
PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
Yayasan Lembaga SABDA
INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
Sistem Network I-KAN
Copyright(c) 2005 oleh YLSA
http://www.sabda.org/ylsa/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Anda punya masalah atau perlu konseling? <masalah-konsel@sabda.org>
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
dapat dikirimkan ke alamat: <owner-i-kan-konsel@xc.org>
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: subscribe-i-kan-konsel@xc.org
Berhenti: Kirim e-mail kosong: unsubscribe-i-kan-konsel@xc.org
Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
ARSIP publikasi e-Konsel: http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
|
|
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |