|
Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
https://sabda.org/https://sabda.org/publikasi/e-konsel/370 |
|
e-Konsel edisi 370 (10-3-2015)
|
|
______________________________e-KONSEL________________________________
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
______________________________________________________________________
e-Konsel -- Keterampilan Penting bagi Konselor
Edisi 370/Maret 2015
Salam konseling,
Bagi seorang konselor, mengembangkan diri merupakan suatu keharusan.
Semua pengalaman, pendidikan, dan pengetahuan konseling yang sudah
didapatkan konselor bisa menimbulkan rasa puas. Hal ini bisa
menimbulkan pemikiran bahwa kebutuhan untuk selalu mengembangkan diri
dalam bidang konseling bukanlah suatu keharusan atau kebutuhan
mendesak bagi mereka.
Edisi ini bermaksud menggugah para konselor untuk menyadari betapa
pentingnya terus menambah keterampilan diri sebagai konselor. Sebagai
langkah awal, konselor dapat belajar meningkatkan kepeduliannya pada
konseli, dan pada lingkungan tentunya. Lalu, keterampilan lain apa
yang perlu ditingkatkan oleh seorang konselor? Silakan simak
selengkapnya pada edisi ini. Kiranya ini menjadi berkat bagi Anda
semua.
Staf Redaksi e-Konsel,
Berlin B.
< http://c3i.sabda.org/ >
TIP: KONSELING YANG BERHASIL
Jika Anda adalah orang yang peduli, Anda pasti memberi konseling.
Apabila Anda berkata, "Saya tidak pernah bisa memberi konseling," ini
bisa diartikan bahwa Anda tidak mau mendengarkan orang yang berbeban
berat, yang datang kepada Anda untuk meminta pertolongan. Memang ada
banyak alasan, Anda mungkin malu, merasa tidak mampu, dst.. Akan
tetapi, sebagai orang Kristen, kita seharusnya memiliki kerinduan
untuk mau peduli dan menjangkau orang-orang yang terluka daripada
menyembunyikan diri, walaupun ini berarti kita harus berbagi "beban"
dengan mereka. "Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan
berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap
semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu." (1 Tesalonika
3:12)
Ketika seseorang memiliki kepedulian, ia dapat memberikan konseling
dengan baik. Dalam sebuah penelitian, beberapa peneliti mendapati
bahwa para dosen lebih berhasil dalam menolong para mahasiswa yang
bermasalah daripada para konselor profesional. Sekalipun para konselor
profesional memiliki pengetahuan lebih banyak dan teknik-teknik
konseling yang lebih baik, tetapi para mahasiswa lebih memilih
berkonseling dengan dosen mereka. Hal ini karena mereka memiliki
relasi yang baik dengan para dosen.
Orang yang memilih berkonseling dengan seorang pendeta, dan khususnya
dengan istri pendeta, biasanya juga berdasarkan relasi. Konseling
semacam ini cenderung berhasil.
"Perjalanan hidup adalah suatu rangkaian kegentingan yang beberapa di
antaranya dapat diprediksi dan diduga, dan beberapa di antaranya
benar-benar mengejutkan," kata Norman Wright dalam buku "Crisis
Counseling". Krisis-krisis kehidupan mendorong orang datang kepada
keluarga besar dan teman-teman mereka untuk meminta bantuan. Sebab,
mereka itulah yang biasanya mau mendengarkan dan mengasihi serta
memberi penghiburan dan dukungan.
Berikut ini adalah lima rahasia untuk melakukan konseling yang baik:
1. Belajar untuk mendengar. Ketika kita mau mendengarkan konseli,
terutama pada awal pertemuan, kita akan mendapatkan banyak hasil yang
baik, antara lain: - konseli merasa bahwa Anda peduli. Dengarkanlah
apa pun yang disampaikan konseli, sekalipun mungkin terdengar
berlebihan. Itulah cara meluapkan apa yang dipikirkan dan
dirasakannya. Karena didengarkan, konseli merasa bahwa ada orang yang
peduli kepadanya.
- konseli berkesempatan berbicara. Berbicara adalah terapi yang ampuh
karena ketika berkata-kata, seseorang beralih dari tingkat emosional
ke tingkat yang lebih rasional. Ini seumpama menjemur baju di atas
tali jemuran, dengan menggelarnya satu per satu, baju yang awalnya
berkerut dan tak berbentuk karena diperas, menjadi tampak jelas.
Pikiran, perasaan, masalah, dan kebutuhan, terlihat begitu rumit.
Namun, dengan mengungkapkannya lewat kata-kata, banyak hal akan mulai
terlihat jelas.
- kita dapat mempelajari masalah konselor. Saat kita berbicara, kita
tidak belajar. Demikian juga, saat kita sibuk memikirkan jawaban, kita
mungkin bisa salah memahami bagian dari pertanyaan-pertanyaan konseli.
Karena itu, kita perlu banyak mendengar untuk belajar.
Cara-cara yang bisa kita gunakan untuk mendorong konseli berbicara
adalah dengan tersenyum, mengangguk, mencondongkan badan kepada
konseli, dan menunjukkan perhatian. Biarkan konseli berbicara dengan
leluasa, dengan memberikan penguatan positif kepadanya.
Dalam pertemuan awal, kita juga perlu memastikan apakah yang kita
dengar sesuai dengan apa yang disampaikan konseli. Terkadang, apa yang
Anda dengar tidak seperti yang ia katakan. Terkadang, apa yang ia
katakan bukanlah apa yang benar-benar ia rasakan. Karena itu, kita
perlu bertanya seperti ini, "Benarkah apa yang saya dengar, Anda
mengatakan bahwa ketika suami Anda lembur bekerja setiap malam, Anda
merasa tertolak?" Dan, dapatkan konfirmasi dari konseli.
Dalam memberi konseling, perhatikan hal-hal ini.
- Jangan mudah terkejut. Saat kita tampak terkejut karena pernyataan
konseli, ia mungkin akan merasa terancam dan enggan untuk terbuka
lebih jauh. Mintalah Allah untuk menolong kita menerima seseorang
meskipun apa yang dilakukan orang itu mungkin tidak kita sukai. Di
sisi lain, Anda tidak perlu mendorongnya untuk bercerita dengan
detail.
- Mendengarlah dari dua sisi. Ingatlah bahwa apa yang Anda dengar dari
satu sisi belum tentu akurat atau objektif. Mungkin saja konseli kita
hanya menceritakan apa yang dipandangnya benar. Cobalah untuk melihat
dari sisi orang lain dan jika memungkinkan, berbicaralah dengan orang
yang terkait masalah dengan konseli.
- Jangan menghakimi. Jadilah seperti apa yang Yesus lakukan terhadap
wanita yang ketahuan berzina (Yohanes 8:11). Untuk konseling suami
istri, ada baiknya kita melakukan konseling secara terpisah karena
beberapa orang biasanya merasa terintimidasi di hadapan pasangan yang
dominan.
2. Fokus pada solusi, bukan masalah! Setengah jam pertama pada
pertemuan pertama sudah cukup untuk mendengarkan masalah. Beberapa
konseli senang menceritakan masalahnya, tetapi tidak mau mengerjakan
solusi. Mereka mengharapkan simpati dan perhatian untuk terus datang
kepada konselor. Jika kita membiarkan konseli seperti ini, kita tidak
hanya membuang-buang waktu, tetapi juga melukai konseli karena kita
memberikan simpati yang berlebihan. Anda akan menjadi tongkat mereka,
tetapi tidak membiarkan mereka berjalan. Semua masalah bisa
dikomunikasikan. Dengan penjelasan yang cepat dan terbuka, maka kita
bisa segera beralih pada solusi!
Kita tidak bisa mengubah orang lain, cara kristiani untuk mengubah
orang lain adalah dengan mengubah diri sendiri. Untuk mengetahui bahwa
konseli ingin ditolong adalah dengan mencari tahu apakah ia benar-
benar mau membuat perubahan dalam tingkah lakunya. Sering kali,
konseling pastoral dilakukan oleh seseorang yang memiliki berbagai
masalah dengan pasangan dan mencoba menarik simpati. Banyak sekali
sesi konseling yang berakhir dengan doa yang memohon pertolongan Tuhan
untuk mengubah pasangan. Ini sama sekali bukan konseling Kristen! Cara
Kristen untuk mengubah orang lain adalah mengubah dirinya sendiri.
Sebagai konselor, janganlah membiarkan konseli pergi dengan merasa
bersalah atas semua kesalahan yang diperbuatnya. Akan tetapi, di sisi
lain, pengudusan adalah pertumbuhan dalam kasih yang mengarah kepada
Allah dan sesama. Karena itu, kita harus menolong orang menerapkan
kekristenan bagi masalah-masalah mereka dengan mengarahkan mereka
untuk melihat bagaimana Kristus dapat mengubah sikap dan tingkah laku
mereka sendiri, dan bagaimana mereka dapat menggunakan kasih kristiani
dalam memotivasi pasangan untuk berubah.
Jangan berusaha mengatasi masalah orang lain. Bantulah mereka untuk
memahami masalah mereka yang sebenarnya, lalu kerjakan cara-cara
mereka dalam mengatasinya. Bimbinglah mereka dalam memutuskan
perubahan apa yang Kristus kehendaki untuk mereka lakukan untuk
memulihkan relasi.
Jangan memberi konseling "instan", khususnya jika Anda menangani
konseling pernikahan. Operasi besar mungkin diperlukan! Namun, satu
pertemuan biasanya tidak bisa langsung mengatasi masalah-masalah
pernikahan. Yang membahayakan adalah ketika Anda menolong para konseli
untuk mengurangi gejala-gejala, mereka sudah merasa lebih baik dan
menganggap semuanya baik-baik saja. Padahal, masalahnya belum tuntas.
Sebuah relasi biasanya memerlukan waktu yang lama untuk hancur dan
memerlukan waktu yang lama untuk membangunnya kembali.
Apabila sebuah pasangan mendesak untuk mengakhiri konseling,
hentikanlah, tetapi usahakan untuk memberi mereka sebuah buku tentang
memberi konseling yang baik kepada diri sendiri seperti "How to Have A
Happy Marriage" karya David dan Vera Mace. Buku ini diuraikan dalam
program 6 minggu, yang menolong pasangan mempelajari keterampilan
dalam berkomunikasi, berkonfrontasi, dan menghargai.
3. Tolonglah konseli untuk membuat rencana. Para konseli lebih mudah
memikirkan pilihan solusi yang beragam saat berkonseling dengan Anda.
Karena itu, tolonglah mereka untuk memutuskan pilihan yang
kelihatannya paling baik, lalu susunlah rencana untuk melibatkan
mereka dalam pelaksanaannya. Tugas utama Anda adalah mendorong mereka
mengimplementasikan keputusan mereka sendiri.
Apabila Anda menghadapi konseli yang terus-menerus menelepon Anda dan
mengangkat beberapa masalah lama, bertanyalah, "Apakah Anda sudah
mengusahakan apa yang kita putuskan?" Jika ia menghindar, doronglah
dia untuk mencobanya sebelum Anda kembali mendiskusikan masalahnya.
Yakinkan dia bahwa Anda masih memperhatikannya, lalu dengan senang
hati dan dengan berani, tutuplah percakapan dan tutuplah telepon Anda.
Namun, jika ia tidak mau menolong dirinya sendiri, Anda tidak dapat
menolongnya.
Jika Anda merasa banyak konseli telah mengganggu waktu doa dan waktu
berkualitas Anda, cobalah mengikuti kelas training ketegasan. Dalam
sebuah koran yang berjudul "Mengapa Seorang Istri Pendeta Kepayahan?"
Roy Oswald, dari Institut Alban, menyatakan bahwa para istri pendeta
sering kali meyakini bahwa jemaat mengharapkan mereka menjadi orang
yang pasif dan tidak memedulikan kebutuhan mereka sendiri. Akhirnya,
kebiasaan pasif membuat para istri pendeta kehilangan kontrol atas
diri mereka sendiri.
Sebenarnya, kebiasaan agresif berarti mengeksploitasi atau memaksa
orang lain, sedangkan kebiasaan tegas kristiani adalah perasaan jelas
tentang siapa Anda dan apa yang dapat dan tidak dapat Anda berikan.
Anda boleh menerima penelepon yang benar-benar membutuhkan bantuan,
tetapi jangan membiarkan agenda siapa pun mendominasi Anda.
4. Ketahuilah kapan harus mengarahkan. Sambil mendengarkan, amatilah
respons-respons yang kurang tepat seperti pengutaraan lisan yang tidak
logis, emosi yang tak terkontrol, mata yang melihat ke mana-mana atau
tidak fokus, depresi ekstrem, ketidakmampuan untuk membuat keputusan
sederhana, keyakinan bahwa orang lain tidak dapat memahami mereka,
kehilangan kontrol untuk makan, dst.. Hal-hal tersebut bisa menjadi
gejala gangguan psikis, dan orang-orang yang memperlihatkan hal itu
harus diarahkan pada konselor profesional atau psikiater yang
terlatih. Jika perlu, carilah bantuan yang tersedia di daerah Anda
untuk menolong Anda. Anda juga dapat mencari bantuan ke departemen
kesehatan mental di negara Anda.
5. Jagalah rahasia dengan sungguh-sungguh. Ketika seseorang membuka
rahasia hatinya kepada Anda, Anda mendapatkan tanggung jawab besar
untuk menjaga rahasianya dengan sungguh-sungguh! Jika Anda tidak dapat
menjaga kepercayaan, jangan memberi konseling. Lebih baik beri tahukan
kepada seseorang yang datang kepada Anda bahwa Anda tidak pintar dalam
menjaga rahasia. Saya mengenal salah satu istri pendeta yang meminta
suaminya dan orang lain untuk tidak menceritakan rahasia apa pun
kepadanya. Itulah cara yang sengaja ia berikan agar rahasia mereka
terjaga.
Berhati-hatilah dengan orang yang suka bergosip karena mereka lebih
senang memancing-mancing. Misalnya, seseorang mungkin berkata kepada
Anda, "Saya tahu Mary sedang memikirkan tentang perceraian." Orang
yang suka bergosip ini melihat Mary berkonseling dengan Anda di kantor
gereja, dan ia melihat suami Mary tidak bersama dengannya baru-baru
ini. Ia tidak benar-benar mengetahui bahwa Mary berpikir tentang
perceraian, ia hanya ingin mencari tahu! Jika Anda mengira ia tahu dan
menjawab ya, Anda sudah membocorkannya. Jangan kaget jika seseorang
yang berkonseling dengan Anda selanjutnya menghindari Anda karena
relasi Anda sudah berubah.
Selanjutnya, ajaklah orang yang berkonseling dengan Anda untuk berdoa
karena doa dapat memfokuskan perhatiannya pada Sumber pertolongan yang
sejati -- Allah.
Apabila Anda peduli, kembangkanlah keterampilan konseling yang baik,
dan sediakan waktu untuk memberi konseling. Anda dapat menjadi
penolong yang hebat untuk suami Anda. Konseling yang Anda lakukan
mungkin cukup berarti dan meringankan beban baginya. Mungkin Anda
dapat tawar-menawar dengannya, memintanya untuk sepakat meluangkan
waktu bersama Anda dan keluarga Anda. Jika konseling adalah karunia
yang Allah berikan kepada Anda, gunakanlah itu untuk memuliakan Dia.
(t/S. Setyawati)
Diterjemahkan dari:
Nama situs: Ministry
Alamat URL: https://www.ministrymagazine.org/archive/1987/04/successful-counseling
Judul asli artikel: Successful Counseling
Penulis artikel: Ellen Bresee
Tanggal akses: 21 Oktober 2014
POKOK DOA: STAF BARU
Pada tahun 2015, YLSA membutuhkan beberapa staf baru, termasuk staf
divisi Publikasi. Untuk itu, kami mohon dukungan doa dari Anda agar
Tuhan Yesus mengirimkan staf-staf baru ke YLSA sehingga pelayanan-
pelayanan YLSA terus berjalan dan semakin berkembang. Atas perhatian
Anda, redaksi mengucapkan terima kasih. Informasi mengenai lowongan di
YLSA dapat Anda akses di: http://ylsa.org/lowongan
Bagi Pelanggan e-Konsel yang membutuhkan dukungan doa, silakan
kirimkan pokok doa Anda ke Redaksi e-Konsel dengan alamat kontak di
bawah ini. Terima kasih.
Kontak: konsel(at)sabda.org
Redaksi: S. Setyawati, Berlin B., dan N. Risanti
Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/e-konsel/arsip/
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2015 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >
|
|
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |