|
Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
https://sabda.org/https://sabda.org/publikasi/e-konsel/176 |
|
e-Konsel edisi 176 (15-1-2009)
|
|
_______________________________e-KONSEL_______________________________
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
_____________________________________________________________________
EDISI 176/15 Januari 2009
Daftar Isi:
= Pengantar: Masa Transisi
= Cakrawala: Konseling dan Masalah-Masalah Remaja
= Tips: Konseling Remaja
= Info Situs: Walking-Wounded.Net
PENGANTAR ____________________________________________________________
Salam sejahtera,
Masa remaja adalah masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa
awal. Ciri-ciri dari masa transisi sangat mudah dikenali. Biasanya,
anak-anak remaja cenderung menunjukkan sikap yang mudah terpengaruh,
kesulitan dalam menentukan sikap, penampilan yang tampak berbeda,
dan emosi yang labil.
Pada masa-masa transisi ini pula, remaja rentan terhadap
permasalahan sehari-hari, baik masalah dengan orang tua, sekolah,
lingkungan pergaulan, dan teman. Oleh sebab itulah, pendampingan
terhadap mereka sangat diperlukan supaya mereka tidak larut lebih
dalam lagi pada masalah-masalah saat masa transisi ini. Yang menjadi
tantangan adalah bagaimana supaya remaja ini tidak menjadi terganggu
dengan pendampingan yang kita lakukan.
Sajian artikel dan tips berikut ini, sedikit banyak akan memperlebar
lagi wawasan kita tentang konseling pada remaja dan permasalahannya.
Silakan simak, kiranya menjadi berkat.
Pimpinan Redaksi e-Konsel,
Christiana Ratri Yuliani
CAKRAWALA ____________________________________________________________
KONSELING DAN MASALAH-MASALAH REMAJA
Masalah-masalah remaja bisa diselesaikan dengan dua cara, yaitu
dengan mengonseling para remaja dan dengan membantu orang tua. Dalam
kedua kasus ini, konselor harus menunjukkan bahwa dia memunyai
pemahaman yang luas tentang perjuangan-perjuangan para remaja ini
dan pengetahuan tentang berbagai tekanan yang terbentuk, baik dalam
diri konseli maupun dalam rumah mereka. Sering kali, orang tua dan
remaja dibingungkan, dikecewakan, dan terluka karena ketegangan
interpersonal dan tekanan-tekanan remaja yang telah terbentuk.
Biasanya ada kemarahan, kehilangan harga diri, kecemasan akan masa
depan, dan perasaan bersalah di masa lalu. Konselor yang memahami
dan menerima masalah-masalah tersebut tanpa memihak, bisa
mendapatkan dampak penting, baik dari orang tua maupun remaja.
Dampak itu bahkan bisa lebih besar bila konselor cukup peka, tenang,
penuh belas kasih, dan tangguh dalam menoleransi kritik dan pujian,
yang kadang-kadang muncul dalam sesi konseling. Remaja dan orang tua
mereka membutuhkan orang yang peduli, bijaksana, dan percaya diri,
yang dapat memberikan tuntunan yang tenang dan menyejukkan di saat
masalah berkecamuk.
1. Konseling Orang Tua
a. Dukungan dan Semangat
Saat masalah remaja muncul, orang tua sering kali menyimpulkan
bahwa merekalah yang salah, bahwa mereka bukanlah orang tua
yang baik, atau bahwa merekalah yang menjerumuskan anak-anak
mereka kepada suatu masalah tertentu. Konselor tidak dapat
membantu bila mereka mengabaikan atau menjelaskan
perasaan-perasaan yang muncul itu, tetapi akan ada manfaatnya
bila seorang konselor meyakinkan dan memberi dorongan kepada
orang tua. Hampir semua anak-anak -- bahkan anak-anak dari
orang tua yang efektif sekalipun -- mengalami masa-masa di
mana mereka marah, memberontak, menarik diri, depresi, dan
mengkritik. Kita tahu bahwa pada mulanya Allah, satu-satunya
Orang Tua yang sempurna, memunyai anak-anak yang memberontak
kepada-Nya. Hal ini bisa menenangkan para orang tua karena Dia
juga mengalami hal yang sama dan memahami perjuangan mereka.
Hal ini juga menolong kita untuk mengingatkan para orang tua
bahwa mereka bukanlah satu-satunya orang yang memengaruhi
perilaku para remaja dan anak muda. Di rumah, orang tua perlu
bersantai, mendengarkan, dan mencoba memahami anak-anak remaja
mereka. Yang terpenting adalah terus mencari pertolongan
sehari-hari dan meminta tuntunan Tuhan yang menuntun dan
mengetahui cara terbaik untuk mengatasi masalah-masalah yang
ada, termasuk masalah-masalah remaja sekalipun.
b. Konseling Keluarga
Orang tua tidak seharusnya disalahkan atas semua stres yang
dialami oleh para remaja, tetapi hal ini tidak berarti bahwa
orang tua tidak pernah salah. Saat seorang remaja atau
beberapa anggota lain dalam keluarga itu memiliki masalah,
akar masalah yang sebenarnya sering kali terletak pada
kegagalan keluarga itu. Misalnya, saat orang tua punya masalah
pernikahan yang serius, anak-anak bisa bertindak berlebihan,
melarikan diri, atau mengembangkan perilaku-perilaku yang
menuntut perhatian. Hal ini mengalihkan perhatian orang tua
dari masalah pernikahan mereka, menyatukan mereka untuk
memfokuskan perhatian pada masalah remaja dan kadang-kadang
memberi jalan keluar kepada remaja untuk melepaskan diri dari
suasana rumah yang tidak bisa dikendalikan lagi.
Beberapa konselor meminta seluruh keluarga untuk mengikuti
konseling, bahkan saat anak laki-laki atau perempuan mereka
yang masih remaja diketahui sebagai orang yang bermasalah.
Orang yang bermasalah bisa benar-benar mencerminkan masalah
rumah dengan lebih dalam. Kadang-kadang, bila keluarga dapat
dibantu supaya berfungsi dengan lebih baik, masalah remaja
pulih secara dramatis.
c. Tetapkan batas.
Beberapa konflik di rumah yang dialami oleh remaja dikarenakan
anak-anak muda ini meminta kebebasan lebih dari yang diberikan
oleh orang tua, setidaknya pada awalnya. Saat remaja berlaku
menentang atas batasan yang ditetapkan, orang tua bisa memberi
respons yang berbeda. Beberapa orang tua mulai bertanya-tanya
apakah mereka kaku dan tidak masuk akal. Beberapa merasa
terancam dan berlebihan. Yang lainnya merespons dengan
memperketat aturan-aturan dan menolak untuk bernegosiasi atau
mengalah. Banyak pula yang menanyakan kemampuan mereka sebagai
orang tua.
Daripada mengabulkan permintaan remaja (suatu tindakan yang
biasanya akan memicu permintaan lain lagi), orang tua bisa
dibantu untuk mengetahui bahwa seluruh anggota keluarga
memiliki hak dalam rumah tangga. Untuk memastikan hak ini,
beberapa batasan harus dibuat dan dirawat, dengan mengabaikan
tekanan remaja dan lingkungan tetangga, tetapi juga harus ada
keleluasaan, komunikasi, dan diskusi. Melalui kata-kata dan
tindakan mereka, orang tua bisa menunjukkan kasih, penerimaan,
dan menghargai satu dengan yang lainnya dan seluruh anggota
keluarga lainnya. Contoh seperti ini tampaknya lebih efektif
daripada mengomeli, mengkritik, atau memberikan nasihat. Saat
remaja itu semakin dewasa, mereka harus diberi kebebasan yang
lebih besar lagi, tetapi harus selalu ditekankan pada hak dan
minat orang lain. Konselor bisa membantu orang tua membuat
batasan yang praktis, peka terhadap kebutuhan anak muda, dan
sesuai dengan standar Alkitab. Kadang-kadang orang tua tahu
apa yang harus dilakukan, tetapi mereka perlu seseorang yang
memberikan dukungan, khususnya pada saat keluarga mengalami
stres.
d. Tuntunan Rohani
Merton Strommen adalah seorang peneliti yang telah
menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari remaja dan
orang tua mereka. Beberapa dari penelitiannya menyimpulkan
bahwa remaja cenderung mengabaikan agama keluarga mereka bila
iman orang tua berdasarkan aturan-aturan, daripada nilai-nilai
Kristen yang berupa penerimaan dan pengampunan. Bila orang tua
kaku dan taat hukum, atau bila keluarga itu benar-benar
memerhatikan status, penerimaan dalam masyarakat, atau
persaingan, maka anak-anak muda akan lebih senang memberontak.
Akhirnya, perilaku-perilaku orang tua ini benar-benar menjadi
dasar atas ketidakamanan dan kecemasan. Konseling atas masalah
ini sangat menolong, tetapi ada juga nilai dalam menolong
orang tua tumbuh secara rohani, membangun nilai-nilai yang
alkitabiah, dan terus hidup dalam gaya hidup Kristen.
Konseling yang seperti ini memberi manfaat baik bagi orang tua
maupun anggota keluarga yang secara tidak langsung juga
terbantu.
2. Konseling Remaja
Mungkin tugas yang paling sulit dalam konseling remaja adalah
membangun hubungan yang saling percaya dan membantu konseli muda
mengenali kebutuhannya untuk ditolong. Beberapa konseli datang
dengan sukarela meminta bantuan, tetapi sering kali remaja merasa
tidak membutuhkan konseling dan mereka dikirim oleh orang tua,
guru, atau hakim. Saat hal itu terjadi, konselor dipandang
sebagai sekutu orang tua, dan penolakan pun muncul di awal
pertemuan.
a. Membuat Rapor Perkembangan
Kejujuran dan hormat, dipadu dengan belas kasih dan
kelemahlembutan, semuanya penting, khususnya saat konseling
baru dimulai. Bila ada perlawanan, hadapilah secara langsung
dan berikan kesempatan kepada konseli untuk memberikan
respons. Anda bisa bertanya, "Bisakah kamu jelaskan apa yang
menyebabkan kamu ada di sini?" Bila konseli tidak memberikan
respons, tanyakan: "Orang lain pasti ingin kamu datang kemari.
Saya yakin kamu pasti punya beberapa alasan." Tunjukkan hormat
pada konseli dan hindari memberi pertanyaan dengan cara yang
menunjukkan penghakiman atau kritikan. Hal ini justru
menimbulkan perlawanan dan meningkatkan pembelaan dirinya.
Berusahalah untuk memfokuskan diskusi pada masalah tertentu
secara konkret, dengarkan dengan cermat apa yang dikatakan
konseli, izinkan konseli untuk mengungkapkan perasaannya, dan
secara berkala tunjukkan apa yang sedang terjadi secara
emosional selama wawancara berlangsung. "Kamu kelihatannya
sangat marah," atau "Saya rasa kamu sangat bingung sekarang
ini," adalah contoh komentar-komentar yang mendorong perasaan
untuk berdiskusi. Cobalah untuk menjaga suasana tetap santai,
tidak resmi, pada tahap berbincang-bincang.
b. Pemindahan
Kata pemindahan ini merujuk pada kecenderungan beberapa
individu untuk memindahkan perasaan tentang seseorang di masa
lalu ke seseorang di masa kini. Contoh, seorang konseli muda
yang membenci ayahnya bisa memindahkan kebenciannya kepada
konselor pria. Konselor harus mengetahui bahwa dia sering kali
akan dimusuhi, dicurigai, ditakuti, atau dibanggakan terutama
karena sang konselor mirip dengan orang dewasa lainnya.
Konselor mungkin ingin mendiskusikan pemindahan perasaan ini
dengan konseli mereka. Kadang-kadang hal ini berujung pada
wawasan dan perilaku bermanfaat yang dapat diterapkan pada
sesi konseling.
Sebagai seorang konselor, cobalah untuk tidak memberi respons
seperti orang tua konseli, pahlawan, atau orang lain yang
kepadanya Anda disejajarkan. Selain itu, waspadalah pada
pemindahan balik. Hal ini merujuk pada kecenderungan konselor
untuk melihat kesamaan antara konseli dan beberapa orang
lainnya. Bila konseli mengingatkan Anda pada anak Anda
sendiri, misalnya, atau bila Anda menjadi ingat pada tetangga
Anda yang suka membuat masalah, perasaan Anda pada orang-orang
ini bisa dipindahkan kepada konseli dan memengaruhi
objektivitas Anda sebagai penolong. Sebaiknya tidak
memperlihatkan hal ini kepada konseli, tetapi Anda akan sangat
terbantu bila Anda mendiskusikan hal ini dengan konselor lain.
c. Mengenali Masalah
Sangat sulit untuk menolong bila Anda tidak dapat mengenali
masalahnya. Karena konseli remaja kadang-kadang menyangkali
bahwa mereka punya masalah, maka konseling bisa menjadi suatu
tantangan. Daripada mencoba untuk mengelompokkan atau
mendiagnosa masalah, akan lebih menolong bila mendorong remaja
untuk membicarakan masalah-masalah mereka, misalnya tentang
sekolah, kegiatan di waktu luang, minat, apa yang disukai dan
tidak disukai, orang tua, teman-teman, rencana masa depan,
agama, kencan, seks, kekhawatiran, dan masalah-masalah serupa
lainnya. Mulailah dengan hal-hal yang relatif tidak mengancam
(misalnya, "Ceritakan tentang sekolahmu atau keluargamu";
"Hal-hal yang baru-baru ini terjadi dan menarik perhatianmu")
dan kemudian bergeraklah ke hal-hal yang sensitif. Dalam
melakukan semua hal ini, Anda seharusnya menunjukkan bahwa
Anda benar-benar ingin mendengarkan. Cobalah untuk menjadi
teman, bukan penyidik. Beberapa pertanyaan umum mungkin
diperlukan untuk memulai prosesnya, tetapi ketika konseli
mulai berbicara dan Anda menunjukkan keinginan untuk memahami,
konseli remaja mungkin mulai mengungkapkan ketakutannya,
perasaan-perasaannya, perilakunya, kekhawatirannya, kata
hatinya, tekanan interpersonal, pembelaan diri, dan hal-hal
penting lainnya.
d. Menentukan Tujuan
Setelah Anda membuat rapor perkembangan, mulai mengenali
masalah, dan mendapatkan beberapa pandangan mengapa rencana
tindakan semula tidak berhasil, maka ada baiknya untuk
menyusun beberapa tujuan.
Dalam berbagai kondisi konseling, tujuan harus sespesifik
mungkin. Bila Anda dan konseli Anda memiliki tujuan yang
berbeda, ketidakcocokan ini harus diselesaikan. Kemudian, saat
tujuan yang jelas dan bisa diterima oleh kedua belah pihak
sudah terbentuk, konseli harus ditolong untuk mengambil
tindakan untuk mencapai tujuan ini. Langkah ini dianggap
sebagai tahap yang penting sekali dalam konseling; point
kritis di mana kegagalan dalam proses konseling paling mungkin
terjadi. Mudah bagi setiap orang untuk setuju pada tujuan yang
ditetapkan, tetapi lebih sulit untuk membuat perubahan yang
akan terus bergerak setahap demi setahap sampai tujuan
akhirnya.
Akhirnya, konselor Kristen membantu anak muda ini tumbuh
dewasa dan menjadi orang dewasa yang menghormati Kristus
melalui gaya hidup, kepercayaan, ketenangan diri, dan hubungan
pribadi mereka. Untuk menolong konseli mencapai tujuan ini,
perlu fokus pada masa sekarang, masalah-masalah yang lebih
mendesak. Kadang-kadang hal ini dilakukan dengan menuntun
konseli ketika mereka mengubah pikiran, pandangan, dan
perilaku mereka. Ada saat-saat di mana Anda mungkin ingin
mengadakan konseling kelompok. Konseling kelompok ini bisa
menjadi pertolongan istimewa bagi remaja yang memunyai masalah
interpersonal, kecenderungan untuk menarik diri, atau
masalah-masalah yang dibagikan oleh orang lain, misalnya
pelecehan dalam keluarga, orang tua pemabuk, atau kerabat yang
punya penyakit parah. Hubungan dan "sharing" yang saling
menguntungkan yang ada dalam konseling kelompok bisa
memberikan semangat dan mengajarkan remaja pentingnya
pelajaran tentang bagaimana berhubungan dengan orang lain
secara efektif. Sering kali, hal ini membebaskan mereka untuk
bertumbuh secara rohani yang membawa jawaban akhir atas
masalah-masalah kehidupan. (t/Ratri)
Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
Judul buku: Christian Counseling: A Comprehensive Guide
Judul asli artikel: Counseling and the Problem of Adolescents
Penulis: Gary R. Collins, Ph.D.
Penerbit: Word Publishing, Dallas, London, Vancouver, Melbourne 1988
Halaman: 175 -- 178
TIPS _________________________________________________________________
KONSELING REMAJA
Sekitar tahun 1950-an, pengaruh terbesar dalam hidup remaja adalah
rumah. Berikutnya adalah sekolah, gereja, teman sebaya, dan
televisi. Suatu survei di tahun 1990 membuktikan bahwa teman sebaya
kini menjadi pengaruh terbesar bagi remaja, diikuti kemudian oleh
musik rap, televisi, rumah, dan sekolah. Gereja bahkan tidak ada
dalam daftar tersebut!
Selain berita ini, sebagian besar anak muda (92%) ingin belajar
lebih dalam lagi tentang nilai-nilai. Hal ini tampaknya menunjukkan
bahwa anak-anak muda ini secara intuitif memahami bahwa
masalah-masalah besar, seperti kekerasan, seks bebas, ketidakhadiran
orang tua, penyalahgunaan obat-obatan, dan kehamilan di usia muda
akan lebih mudah diselesaikan bila nilai-nilai moral diajarkan dan
dipercayai.
Namun, pendeta yang mengonseling para remaja harus memahami bahwa
remaja generasi sekarang ini adalah generasi yang pesimis. Banyak
anak remaja yang memandang warisan mereka sebagai dunia yang
terpolusi dan masyarakat yang terpecah-pecah karena ras yang
sebagian besar tertekan oleh masalah-masalah sosial yang
bertumpuk-tumpuk. Mereka merasa dicurangi dan dikhianati oleh
kemungkinan bahwa masa-masa emas suatu era akan berakhir. Generasi
baru anak-anak muda ini mempertanyakan kekuasaan dan membawa
penghinaan yang dapat dilihat secara hierarki. Dalam beberapa hal,
anak-anak muda ini terus bergerak, sangat ingin berkembang tetapi
takut pada konsekuensi-konsekuensi.
Berbicara dengan Anak Remaja
Meski situasinya buruk, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan.
Berikut beberapa saran yang bisa menolong kita melayani dengan
efektif remaja-remaja masa kini yang terluka.
1. Hindari berlaku seperti seorang remaja supaya bisa menjalin
relasi dengan mereka.
Ini adalah kesalahan yang umum terjadi secara terus-menerus.
Seorang konselor tidak perlu mengenakan pakaian model terbaru,
mendengarkan musik, atau menggunakan bahasa gaul (yang
kelihatannya aneh) untuk bisa menjalin relasi dengan anak muda.
2. Menjadi pendengar yang ahli.
Dengarkan anak-anak remaja dengan apa yang disebut Theodore Reik
sebagai "telinga ketiga". Konseling akan mati bila dilakukan
tanpa mendengarkan hati yang terluka -- kecemasan, kesedihan,
rasa malu, kesepian -- yang ada di balik anak muda yang tampaknya
biasa-biasa saja. "Cepatlah untuk mendengar tetapi lambat untuk
berkata-kata." (Yakobus 1:19)
3. Tunjukkan peliknya masalah-masalah yang ditunjukkan oleh para
remaja.
Gunakan alat-alat penilaian, misalnya "Helping the Strugling
Adolescent: A Counseling Guide" (Zondervan). Sumber bahan ini
berisi formulir-formulir dan tuntunan-tuntunan untuk menilai
suatu masalah -- depresi, rasa bersalah, kecemasan, dukacita,
penyalahgunaan obat-obatan, kelainan makan, dan masalah-masalah
lainnya -- dengan cepat.
4. Tantanglah kata-kata yang berlebihan dalam percakapan.
Beberapa remaja menjelaskan suasana hidup mereka dalam ungkapan
yang global, misalnya "Semuanya berantakan", "Tidak ada yang
benar", "Ayah benar-benar bodoh". Selama mereka terus melihat
dunia dengan cara yang seperti ini, mereka tetap akan terpojok.
Bekerja keraslah untuk menyingkirkan ungkapan-ungkapan yang tidak
masuk akal ini.
5. Biasakanlah diri dengan hal-hal yang mereka hadapi.
Remaja zaman sekarang membutuhkan konselor yang tidak malu
terhadap masalah-masalah seperti masturbasi, penggunaan obat
terlarang, perceraian orang tua, kematian teman, perkosaan, atau
masalah-masalah seksual lainnya. Dengan atau tanpa bantuan,
anak-anak remaja akan menghadapi masalah-masalah itu.
6. Mintalah bantuan pada sebuah badan atau kelompok-kelompok
pendukung.
Mereka yang tidak punya pengalaman secara khusus menangani
masalah anak-anak muda bisa mengarahkan para remaja ini kepada
seseorang yang sudah berpengalaman dalam menangani masalah
remaja. Remaja yang berjuang terhadap pelecehan yang dilakukan
orang tua, depresi yang berat, bunuh diri, masalah makanan,
fobia, masalah tidur, atau kecanduan obat-obatan, bisa
disembuhkan dengan bantuan seorang ahli. Pendeta tidak akan dapat
membantu setiap remaja yang bergumul.
Buddy Scott, penulis "Relief for Hurting Parents", mendirikan dan
memimpin suatu agensi yang menolong keluarga dari para remaja.
Kelompok pendukungnya, "Parenting Within Reason", adalah sumber yang
sangat baik bagi orang tua dan penolong-penolong lainnya.
Sayangnya, tidak ada formula yang universal atau sederhana tentang
menyelesaikan masalah-masalah anak muda sekarang yang begitu
kompleks. Bila kita membuat sesuatu yang berbeda dalam hidup mereka,
kita akan perlu melakukan prinsip-prinsip yang telah terbukti secara
psikologi kontemporer ini dengan tetap bersandar pada teologi
alkitabiah, dan mencari pimpinan Roh Kudus dalam setiap usaha kita.
(t/Ratri)
Diterjemahkan dari:
Judul buku: Leadership Handbook of Outreach and Care
Judul asli artikel: Adolescent Counseling
Penulis: Les Parrott III
Penerbit: Bakers Book, Michigan 1994
Halaman: 318 -- 319
INFO SITUS ___________________________________________________________
WALKING-WOUNDED.NET
Situs ini dibangun untuk memenuhi beberapa tujuan, yakni mendorong,
menyediakan sumber bahan, dan membantu orang-orang Kristen dan
lainnya yang sedang mengalami masa-masa sulit dalam hidup --
kesulitan dalam hal emosi, keuangan, dan lainnya. Tujuan-tujuan
tersebut diupayakan terwujud dengan menyediakan artikel yang sudah
dikategorikan dengan rapi, tautan situs terkait, dan juga layanan
doa. Dan meski berkantor pusat di Inggris dan kebanyakan tautan
situsnya berhubungan dengan Inggris, namun situs ini diperuntukkan
bagi orang-orang Kristen di seluruh dunia.
Penggerak dan pembangun situs ini percaya bahwa kebanyakan dari kita
pasti pernah mengalami masa kelam dan sulit dalam hidup, dan hal
tersebut dapat teratasi saat ada orang-orang yang berdoa bagi kita,
serta dengan mendengar pengalaman orang lain. Namun, terlebih dari
itu, ada Yesus yang menjadi sumber pengharapan dan kekuatan kita
dalam masalah dan pergumulan kita.
==> http://www.walking-wounded.net/
Oleh: Dian Pradana (Staf Redaksi)
_______________________________e-KONSEL ______________________________
Pimpinan Redaksi: Christiana Ratri Yuliani
Staf Redaksi: Tatik Wahyuningsih dan Dian Pradana
Penanggung Jawab Isi Dan Teknis Yayasan Lembaga SABDA
INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR Sistem Network I-KAN
Copyright(c) 2009
YLSA -- http://www.ylsa.org/
Katalog -- http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Anda punya masalah/perlu konseling? atau ingin mengirimkan
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
silakan kirim ke:
konsel(at)sabda.org atau owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
ARSIP: http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
Situs C3I: http://c3i.sabda.org/
Network Konseling: http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_konseling
______________________________________________________________________
|
|
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |