|
Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
https://sabda.org/https://sabda.org/publikasi/e-konsel/144 |
|
e-Konsel edisi 144 (15-9-2007)
|
|
Edisi (144) -- 15 September 2007
e-KONSEL
======================================================================
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
======================================================================
Daftar Isi:
= Pengantar :
= Cakrawala : Masalah-masalah Sekitar Cacat Tubuh
= Tips : Menolong Para Penyandang Cacat
= Kesaksian : Terus Berkarya dengan Kaki Palsu
= Tanya-Jawab: Putra Saya Cacat
= Info : 40 Hari Mengasihi Bangsa dalam Doa
========== PENGANTAR REDAKSI ==========
Sebuah iklan produk susu bagi ibu hamil menjanjikan kesempurnaan
fisik dari bayi yang akan dilahirkan bila mengonsumsi susu tersebut.
Rupanya teknologi yang ada sekarang ini semakin menggerakkan pikiran
dan akal manusia untuk bisa mencegah terjadinya hal-hal yang tidak
diinginkan. Wajar saja bila upaya ini dilakukan manusia karena
hingga saat ini penampilan secara fisik masih menjadi prioritas
dalam berbagai bidang.
Meskipun demikian, kenyataannya Tuhan juga menciptakan manusia yang
memiliki kekurangan secara fisik atau yang kita sebut penyandang
cacat. Kondisi ini bisa terjadi pada seseorang, baik sejak lahir,
maupun saat dewasa, sebagai akibat dari kecelakaan. Keadaan yang
berbeda dengan orang-orang pada umumnya ini sering kali menyebabkan
mereka merasa tersisih sehingga menyulitkan mereka untuk bergaul
dengan orang lain. Di sinilah peranan gereja dan saudara-saudara
seiman diperlukan untuk menguatkan mereka dengan memberikan
perhatian dan melibatkan dalam kegiatan-kegiatan gereja.
Melalui edisi kali ini, Redaksi mengajak pembaca untuk melihat
bagaimana kita bisa menjangkau mereka dan bagaimana seharusnya kita
bersikap terhadap mereka. Selamat membaca, Tuhan memberkati.
Pimpinan redaksi e-Konsel,
Christiana Ratri Yuliani
========== CAKRAWALA ==========
MASALAH-MASALAH SEKITAR CACAT TUBUH
Belas kasihan dari Tuhan Yesus sering kali dinyatakan kepada mereka
yang menderita cacat tubuh. Ia disaksikan melayani dan menyembuhkan
orang-orang buta, bisu, tuli, lumpuh, dan sebagainya. Pada zaman
modern ini, kita sebagai orang-orang Kristen jarang sekali menaruh
perhatian untuk melayani dan menolong mereka.
Orang-orang yang cacat tubuhnya adalah mereka yang tubuhnya tidak
normal sehingga sebagian besar kemampuannya untuk berfungsi di
masyarakat terhambat. Orang-orang lumpuh kaki misalnya, terpaksa
duduk terus di kursi roda. Meskipun mereka lumpuh, kita tidak boleh
lupa bahwa mereka masih dapat berpikir normal, memakai tangan
mereka, melihat, mendengar, dan sebagainya. Jadi, sementara ada
bagian-bagian tertentu yang tidak sanggup mereka lakukan, ada juga
bagian-bagian lain yang masih sanggup mereka lakukan. Ini hal yang
penting sekali diingat pada saat kita melayani mereka.
Memang sangat menyakitkan memunyai tubuh yang cacat, tetapi perlu
diingat bahwa beberapa dari mereka tidak merasakan seperti yang kita
duga karena mungkin sejak lahir mereka sudah cacat, sehingga mereka
tidak pernah mengalami hidup dengan tubuh yang normal.
Tidak diragukan lagi bahwa situasi akan sangat berbeda jikalau
seseorang mengalami cacat tubuh, misalnya karena kecelakaan. Sering
kali mereka melewati empat fase pergumulan yang sulit sekali.
1. "Shock" pada saat pertama kali cacat tersebut disadari.
2. Menyembunyikan diri di balik mekanisme-mekanisme pertahanannya.
Ini memungkinkan dirinya untuk mampu melupakan akibat-akibat yang
sesungguhnya dari cacat tersebut untuk sementara.
3. Menerima realita tersebut di mana seseorang mulai berani
memikirkan akibat-akibat yang sesungguhnya dari cacat yang
dialaminya.
4. Menyesuaikan diri dengan keadaannya yang cacat.
Kadang-kadang reaksi emosi ini disebutkan dengan istilah "three D-A
Clusters", berupa hal-hal berikut.
1. Depresi, kemarahan dan rasa kecewa yang mendalam disertai dengan
kedengkian dan permusuhan. Orang tersebut begitu susah dan
frustasi atas cacat yang dialami.
2. Penyangkalan dan penerimaan, atau suatu keadaan emosi yang
mencerminkan suatu pergumulan yang diakhiri dengan penyerahan.
Ada saat-saat di mana individu tersebut menolak untuk mengakui
realita cacat yang telah terjadi meskipun lambat laun ia akan
menerimanya.
3. Meminta dan menolak belas kasihan dari sesama. Ini adalah fase
di mana individu tersebut mencoba menyesuaikan diri untuk dapat
hidup dengan kondisinya yang sekarang. Ada saat-saat ia ingin
tidak bergantung, ada saat-saat ia betul-betul membutuhkan
bantuan sesamanya. Keseimbangan ini kadang-kadang sulit dicapai.
Individu-individu yang mengalami cacat tubuh biasanya harus dapat
mencapai penyesuaian-penyesuaian mental yang tidak pernah dihadapi
oleh mereka yang normal. Misalnya, penyesuaian dalam hubungan dengan
sikap orang-orang lain terhadap dirinya. Anak-anak kecil melihat
mereka dengan pandangan yang penuh perhatian, sedangkan orang-orang
dewasa mengekspresikannya secara lebih tersembunyi dengan
menghindarkan diri dari keterlibatan dengan mereka. Seperti halnya
dengan orang-orang yang lain, para penderita cacat tubuh ingin
diperlakukan dengan baik, merasakan dirinya berharga. Hal ini
merupakan sasaran yang sulit dicapai dalam pelayanan bagi mereka.
Coba perhatikan, dengan keterbatasan dalam kemampuan fisiknya,
terdapat kegiatan dan pekerjaan yang tertutup baginya. Sekalipun ia
telah mendapatkan pekerjaan, belum tentu ia akan dipekerjakan karena
banyak hal yang tidak mungkin dapat dilakukannya, misalnya
turun-naik tangga. Begitu juga dengan hal-hal lain seperti dalam
hubungan dengan kebutuhan seksnya, di mana dengan kebutuhan yang
normal, kesempatan untuk mendapatkan penyaluran yang wajar,
terhambat. Sulit baginya untuk dapat berpacaran dan membina hubungan
sampai dengan jenjang pernikahan.
Pelayanan Konseling pada Penderita Cacat Tubuh
----------------------------------------------
Tugas utama dalam pelayanan konseling bagi para penderita cacat
tubuh adalah membina hubungan baik dan kepercayaan terhadap diri
konselor. Untuk itu, kita harus memperlakukan mereka sebagai
individu yang berharga dengan bakat-bakat yang dihargai, dengan
keunikan perasaan yang dapat diekspresikan, dengan
kebutuhan-kebutuhan pribadi yang patut dipenuhi, dan dengan perasaan
frustasi yang dapat diatasi. Sikap ini tidaklah cukup hanya dengan
menjabat tangan mereka setelah kebaktian dengan segala basa-basinya.
Kalau konselor sulit untuk menerimanya sebagai individu yang
berharga, pertama-tama konselor sendirilah yang harus memeriksa diri
sendiri. Tuhan Yesus begitu memerhatikan dan menghargai mereka, kita
pun tentunya juga demikian.
Di samping itu, konselor juga harus menolong mereka untuk dapat
menerima dirinya sendiri, secara realistis mengevaluasi
kelemahan-kelemahannya sendiri dan belajar mengatasinya sehingga
dapat berfungsi dengan baik dalam kehidupannya. Mereka harus
ditolong untuk menyadari bahwa bagaimanapun keadaan mereka, mereka
adalah individu-individu yang dikasihi Allah dan untuk mereka juga
Tuhan Yesus datang. Kita harus membimbing mereka dalam pertumbuhan
rohani mereka dan dalam melaksanakan apa yang dikehendaki Allah atas
mereka. Di samping itu, kita harus berani membicarakan pertanyaan
hidup mereka yang utama, yaitu "mengapa?" dan menolong mereka dapat
menerima keadaan dan kesulitan-kesulitan hidup yang ada secara
realistis.
Menarik sekali bahwa rupanya konselor-konselor Kristen bukanlah
satu-satunya yang tertarik dalam menolong penderita cacat tubuh.
Orang tua (yang membutuhkan pengertian dan dukungan dalam
pergumulan-pergumulan, baik dengan perasaannya sendiri maupun dengan
tuntutan pelayanan dari anaknya yang cacat), dokter, guru, ahli ilmu
jiwa, spesialis dalam rehabilitasi, dan sebagainya, semua dapat
bekerja sama dalam tugas pelayanan bagi para penderita cacat tubuh
ini. Begitu juga, anggota-anggota jemaat mereka dapat dilibatkan
dalam pelayanan bagi penderita cacat, dalam menerima mereka sebagai
manusia seutuhnya, menolong mereka untuk dapat ikut berbakti di
gereja, bahkan menolong mereka dalam pertumbuhan rohani, emosi, dan
kehidupan sosial mereka.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku: Pengantar Pelayanan Konseling Kristen yang Efektif
Penulis : DR. Gary R. Collins
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang 1998
Halaman : 173 -- 176
========== TIPS ==========
MENOLONG PARA PENYANDANG CACAT
Seperti Yesus yang melayani semua orang, kita pun dipanggil untuk
melayani kebutuhan rohani maupun fisik dari orang-orang di sekitar
kita. Bagi para penyandang cacat, kebutuhan rohani dan fisik adalah
penting bila kita benar-benar membedakan kehidupan mereka.
Bagaimana kita bisa mulai menolong mereka?
------------------------------------------
Ketika kita terpanggil untuk melayani para penyandang cacat,
beberapa langkah praktis berikut bisa membantu kita.
1. Lakukan penelitian.
Sering kali, gereja tidak memerhatikan jemaat atau warganya yang
menyandang cacat. Adakan penelitian untuk mengetahui siapa saja
yang menyandang cacat dan cacat apa.
2. Buatlah strategi penjangkauan.
Hanya sedikit penyandang cacat yang mau menghadiri kebaktian di
gereja (kira-kira 10 -- 20 orang). Jadi, kira-kira 10 -- 17%
anggota gereja adalah penyandang cacat. Beberapa penyandang cacat
mau menghadiri kebaktian di gereja bila mereka diundang atau bila
mereka merasa diterima. Satu tim sukarelawan bisa dibentuk untuk
mengadakan penjangkauan dan pelayanan kepada penyandang cacat
ini.
3. Jangan lupakan keluarganya.
Sering kali, keluarga adalah perawat utama dari orang yang
menyandang cacat. Stres merupakan masalah utama dari keluarga
ini, seperti yang terlihat dari tingginya angka perceraian mereka
yang luar biasa (85%) dan tindakan-tindakan pelecehan fisik,
emosional, dan seksual. Terpisah dari gereja dan masyarakat
merupakan hal yang biasa dihadapi oleh keluarga ini. Membantu
menjaga dan merawat di malam hari atau menawarkan bantuan untuk
membelanjakan kebutuhan sehari-hari bisa menjadi cara untuk
menyatakan bahwa mereka diterima.
4. Dukunglah pelayanan ini dari mimbar.
Ini bukanlah pelayanan yang bisa bertahan tanpa dukungan dari
pendeta. Pelayanan ini sulit dan tidak biasa. Seorang pendeta
yang bersedia memopulerkan pelayanan ini dan memberi respons yang
hangat kepada para penyandang cacat akan membangkitkan dukungan
dari para jemaat.
5. Mulailah dengan kepedulian terhadap penyandang cacat.
Meskipun pelayanan ini didukung oleh pendeta yang benar-benar
berkomitmen, tim sukarelawan yang terlatih, dan bangunan yang
mudah dijangkau, gereja bisa saja menjadi tempat yang tidak
menyenangkan bagi para penyandang cacat dan keluarganya.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa "bagaimana bersikap" itu
lebih penting daripada "bagaimana Anda berpenampilan". Rencana
untuk mengadakan Minggu Peduli Penyandang Cacat dan menggunakan
buku-buku tuntunan untuk mendampingi penyandang cacat, misalnya
Hearts in Motion (Agoura Hills, Cal.: JAF Ministries) bisa
membantu jemaat memahami dunia penyandang cacat dan bagaimana
seharusnya orang Kristen merespons mereka.
6. Buatlah rencana pelayanan tahunan.
Rencana ini harus mencerminkan tujuan dan sasaran selama setahun.
Hindari hanya berfokus pada satu jenis kecacatan saja karena hal
ini cenderung mengucilkan penyandang cacat lainnya. Sebaliknya,
buatlah pelayanan yang mencakup berbagai jenis kecacatan,
misalnya "respite care" (rawat inap) dan kelompok pendukung.
Rencana ini harus didukung oleh banyak orang, yang artinya
partisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan dalam
komunitas orang-orang normal.
Tips bagi Para Pelayan
----------------------
Untuk memajukan sisi pribadi pelayanan ini, kita harus meneliti
beberapa prinsip hubungan tertentu berikut ini.
1. Pada saat pertama kali bertemu dengan seorang penyandang cacat,
perlakukan mereka sama seperti Anda memperlakukan orang lain.
2. Lakukan kontak mata saat berbicara dengan penyandang cacat.
3. Ajukan pertanyaan mengenai kecacatan mereka hanya bila perlu
saja, bukan karena keingintahuan yang tidak wajar.
4. Dalam menjalin hubungan, sesuaikan dengan usia orang tersebut.
5. Perlakukan orang itu dengan sopan, hormati ruang geraknya (dan
peralatannya).
6. Akuilah bila Anda tidak tahu bagaimana menolongnya, lalu katakan
"..., tapi saya akan mencobanya.", 7. Hindari memberikan julukan kepada seseorang berdasarkan pada
kecacatannya; gunakan kata "penyandang cacat" daripada "si
cacat" atau "orang cacat".
8. Dengarkan dia meskipun rasanya sulit dan membosankan.
9. Jadilah peka; kadang-kadang mereka mengatakan "tidak" hanya untuk
mengatakan, "Saya tidak mau menganggu Anda.", 10. Selingilah dengan humor.
(t/Ratri)
Diterjemahkan dari:
Judul buku : Leadership Handbook of Outreach and Care
Judul asli artikel: Ministries for Those with Disabilities
Penulis : Conrad Mandsager
Penerbit : Baker Books, Michigan 1994
Halaman : 168 -- 169
========== KESAKSIAN ==========
TERUS BERKARYA DENGAN KAKI PALSU
"Amputasi? Saya nggak normal lagi? Kenapa saya? Kenapa? Tidak hanya
kaki saya yang hancur, hati saya juga hancur! Saya mencoba untuk
mengerti kejadian itu. Namun, sulit saya pahami. Saya ngambek sama
Tuhan, tapi nggak lama. Saya gelisah, pikiran nggak tenang hampir
sebulan nggak ke gereja. Hati saya berkata, apa pun yang terjadi,
saya anak Yesus," kata Bernadus Setiawan (30 th) korban bom di
Gereja Katolik Santa Anna, Duren Sawit, Jakarta Timur.
Bom Pagi Saat Homili
--------------------
Jakarta, 22 Juli 2001
Bernad tak sabar menunggu pagi. Sudah tiga bulan ia tidak ke Gereja
St. Anna karena mengikuti pendidikan SATPAM di Lido. "Minggu itu
saya berangkat bersama tunangan. Dia sebenarnya mengajak ibadah
siang, tapi saya sudah kangen banget menyambut tubuh dan darah
Kristus. Lagian kalau sudah ke gereja, perasaan saya enak. Saya
datang dengan kegembiraan penuh damai," tutur mantan Satpam SMA
Tarakanita, Kebayoran Baru Jakarta Selatan itu.
Seperti biasa suasana hening, umat mengikuti misa dengan khidmat. Di
tengah Rm. Suryo Suryatma, SJ memberikan homili (khotbah -- red)
terdengar bummm!!!! Ledakan bom amat dahsyat disusul teriakan umat.
Sekejap mata, semua berubah. Tangis, jeritan, teriakan histeris, dan
kebingungan menjadi satu.
"Beberapa saat ada peristiwa yang tidak bisa saya ingat, tiba-tiba
saja seorang gadis remaja membangunkan saya, rambutnya menutupi
wajah saya, "Kak, kak!" Dia histeris karena melihat kakinya yang
hancur. Saya segera membantu dia, mengangkatnya ke luar. Hati saya
tak tega melihatnya. Dalam hati saya sempat terpikir, bagaimana
kalau mengalami seperti dia.
Amputasi
--------
Bernad merasakan sesuatu yang tidak beres di kakinya. Hah? Telapak
kaki kanan terkelupas tak karuan, darah terus mengalir. Nyeri
sekali. "Saya melihat tulang telapak kaki saya hancur, separuh
telapak kaki kanan hilang, sisanya pun luka bakar. Bentuknya aneh.
Saat itu, nggak cuma kaki saya yang hancur, hati saya juga hancur.
Saya down. Tiba-tiba saya tak ingat apa-apa, pingsan."
Setelah sadar, Bernad memandangi dan mengelus-elus kakinya. Telapak
kaki kanannya tampak sangat mengerikan.
"Seorang teman yang selamat menolong dan membawa saya ke RS Harum
untuk mendapat pertolongan pertama saja. Seterusnya, saya dibawa ke
RSCM."
"Darah saya ditampung di plastik, hampir tiga plastik kiloan. Dari
RSCM, akhirnya seluruh korban dipindahkan ke RS St. Carolus. Di
sana, kami mendapat pelayanan yang baik dan cepat. Saya langsung
diperiksa, dokter pun langsung konsultasi dengan orang tua. Intinya,
kaki kanan saya tidak dapat diperbaiki. Demi kesehatan saya, jalan
keluarnya, kaki saya harus dipotong, amputasi. Saya sangat sedih,"
ujar pria kelahiran Jakarta, 7 September 1974.
Terbayang di mata Bernad, selama ini bermain sepak bola bersama
teman-temannya atau kadang jadi wasit dalam permainan itu. Terbayang
pula, pekerjaannya sebagai SATPAM. Bagaimana juga dengan rencana
pernikahan? Ahhh, kenapa harus terjadi?
Sebelum operasi dilakukan, Bernad menerima sakramen perminyakan,
"Itu diberikan pada orang-orang yang kondisinya sangat berat,
misalnya orang yang sekarat dan hendak menemui ajal. Saya pasrah.
Saat saya salaman dengan Bapak, Ibu, kakak, saya sampaikan
permohonan maaf atas kesalahan-kesalahan saya. Saya seperti orang
pamitan. Teman-teman banyak mendoakan saya, seorang suster berkata,
`Jangan khawatir, tumbuhkan imanmu.` Yah, saya relakan untuk
menjalani operasi."
"Selama 23 hari di rumah sakit, banyak orang membesuk saya. Teman
gereja, tetangga, bahkan jemaat gereja lain yang nggak saya kenal.
Saya terharu juga meskipun masih ada perasaan marah sama Tuhan atas
kejadian ini," kenang anak pasangan Albertus Moeki dan Christina Sih
Prihatini ini. Sementara tunangannya, Theresia Tri Suhartati telah
sembuh total setelah mengalami kebutaan selama 12 jam.
Setelah amputasi, ia menggunakan tongkat untuk berjalan. Perubahan
besar di kaki kanannya itu mengaburkan harapannya akan masa depan.
Bernad kerap merenung, mereka-reka apa yang bakal terjadi pada hari
depannya. Dengan keadaan kaki seperti itu, rasanya tidak mungkin
melanjutkan pekerjaan sebagai SATPAM.
Marah Sama Tuhan
----------------
Lembaga tempat Bernad bekerja memberi bantuan honor lima bulan kerja
dan membiayai kursus komputer. "Suster memanggil saya dan bilang
bahwa di tata usaha sudah ada tenaga. Karena dianggap sudah bisa
cari pekerjaan lain, saya dilepas. Meskipun berat, saya mengerti."
Kadang kala, rasa marah atas kejadian yang mengakibatkan cacat,
timbul tenggelam. "Saya ngambek sama Tuhan. Saya bilang sama Tuhan,
saya belum bisa menemui-Mu. Sebulan saya nggak ke gereja. Pikiran
saya kacau, hati saya gundah. Saat saya merenungkan kisah Tuhan
Yesus dan sabda-Nya, saya nggak tahan. Hati saya menjerit, `Maaf
..., maaf ya Tuhan atas pikiran dan perasaan jelek saya terhadap-Mu.
Padahal Engkau memikul salib untuk menyelamatkan jiwa saya.` Saya
ingat-ingat kembali penderitaan dan pengorbanan-Nya. Saya nggak
tahan, akhirnya saya mengambil keputusan, `Tuhan, apa pun yang
terjadi, aku tetap anak-Mu. Tuhan, saya terima pemberian-Mu ini.`
Minggu berikutnya saya ke gereja."
Tak lama kemudian Bernad, mendapat sumbangan dua kaki palsu dari
pundi amal SCTV dan gereja. Ia belajar berjalan dan juga naik motor
dengan kaki palsunya. "Dulu beberapa orang menjanjikan pekerjaan
untuk saya, tapi terus terang saja nggak ada yang menjadi kenyataan.
Saya melamar ke mana-mana belum dapat. Susah juga mencari pekerjaan
karena kaki begini."
Hidup Baru dengan Kaki Baru
---------------------------
Hidup terus berjalan dan Bernad tidak bisa terus-menerus memikirkan
kesedihan. Ia harus mencari jalan keluar bagi pekerjaannya. Punya
pekerjaan tanpa proses lamaran yang "menyakitkan", tanpa penolakan
karena cacat. Bernad pun terpikir usaha sendiri, dagang! Itu bukan
pekerjaan baru baginya. Kala SMA, ia pernah berjualan koran. Ia juga
pernah berjualan madu.
"Saya lalu menelepon yang punya madu, saya bilang kalau saya mau
dagang lagi. Lalu beberapa waktu kemudian, saudara saya di Solo
memodali makanan kering seperti abon, usus, cakar, lele, semuanya.
Nah ..., seperti ini," kata Bernad sambil membuka boks plastik besar
berisi aneka makanan. Teman saya di gereja juga membuat kacang
goreng, biji ketapang, dan saya ikut menjualnya. Saya juga menjual
majalah. Itulah pekerjaan saya keliling Jakarta dengan motor yang
ada di depan itu. Sehari tak kurang menempuh 100 km," jelas Bernad
sambil menunjuk motor di teras rumahnya.
Pernikahan yang Mengharukan
---------------------------
Selain pekerjaan, yang mengganggu pikiran Bernad ketika diamputasi
adalah kelanjutan hubungannya dengan Tri. "Keluarga besarnya
keberatan kalau Tri menikah dengan saya. Yahhh ..., saya kan nggak
seperti dulu. Saya cacat. Mereka tentu berpikir bagaimana saya bisa
punya pekerjaan dengan keadaan seperti ini. Laki-laki kan kepala
keluarga. Harus bisa memberi nafkah."
Cinta mereka pun diuji. Syukurlah, Tri dan orang tuanya tidak
mempersoalkan kondisi Bernard. Situasi seperti itu toh bisa menimpa
siapa saja. Lebih-lebih Tri melihat sendiri kejadian itu. "Lewat
proses yang agak panjang, kami menikah. Wah ..., haru banget.
Sekarang kami sedang berdoa supaya Tuhan kasih momongan," tutur
Bernad tersenyum. Di Altar Gereja Khatolik Santa Anna, 9 Februari
2003, gereja tempat Bernard kehilangan sebagian kakinya, mereka
mengucapkan janji nikah yang agung. Janji setia dalam suka dan duka,
dalam miskin dan kaya, dalam sakit dan sehat, sampai maut
memisahkan.
Bernard juga merasa sedang diuji, seberapa besar kasihnya pada
Tuhan. Akankah gelombang hidup yang menerpanya dapat merobohkan
imannya? Atau sebaliknya, ia semakin kokoh dengan kesulitan dan
penderitaan yang dihadapinya? "Saya mau lebih mendekatkan diri sama
Tuhan. Saya sering bilang dalam doa, `Aku ini anak-Mu. Apa pun yang
terjadi, aku ini anak-Mu.` Saya tak akan lari dari Kristus. Saya
berserah penuh pada-Nya."
Pesona Sang Juruselamat, Sang Penebus dari Nazaret telah terpatri di
hati Bernad. Ia patut menjagainya sepanjang hidup.
Bahan diambil dan diedit seperlunya dari sumber:
Judul buku : Karena Dia
Penulis : Niken Maria Simarmata
Penerbit : ANDI
Halaman : 31 - 39
========== TANYA-JAWAB ==========
PUTRA SAYA CACAT
Pertanyaan
==========
Bapak Palau, anak saya lahir dalam keadaan cacat. Kakinya pendek
sebelah. Setahun setengah kemudian, ia kehilangan tiga jari
tangannya dalam sebuah kecelakaan. Walaupun demikian, ia dapat
menulis dengan baik, dapat bermain-main, dan sangat aktif. Tetapi,
kelak bila ia dewasa, saya pikir ia akan menderita secara psikologis
sebab ia cacat. Bagaimanakah saya dapat menolong anak saya?
Jawaban
=======
Anda tadi mengatakan bahwa keadaan cacat jasmani anak Anda tidak
menghalangi dia unggul dalam beberapa kegiatan fisik. Bapak senang
mendengarnya. Tetapi, Anda belum memberitahu saya apa yang membuat
anak Anda cacat sejak lahir dan berapa umurnya. Kedengarannya anak
Anda dapat dengan baik mengatasi keadaannya yang cacat.
Sudahlah lumrah bila seseorang yang cacat berusaha menutupi
kekurangannnya sampai-sampai ia menjadi lebih unggul daripada yang
lain. John Powell memberi beberapa contoh di dalam bukunya, "Why Am
I Afraid To Tell You Who I Am?" (Mengapa Saya Takut Memberitahu Anda
Siapa Saya?).
Glenn Cunningham adalah pelari jarak jauh pertama Amerika yang
terkenal. Ia menjadi jagoan mungkin karena usahanya yang tangguh
menguatkan kakinya. Kakinya menjadi pincang pada usia tujuh tahun.
Pada waktu itu, ia nyaris tewas dalam musibah kebakaran.
Charles Atlas menjadi bina ragawan (body builder) pertama yang
terkenal sebab ketika remaja ia malu dengan keadaan tubuhnya yang
lemah dan kecil.
Saya yakin Anda sependapat dengan saya bahwa Anda tidak khawatir
akan keadaan fisik anak Anda. Yang mengkhawatirkan Anda ialah
kalau-kalau jiwanya akan menderita karena tubuhnya cacat. Sedikit
banyak, kita semua juga mengalami penderitaan mental dan emosi.
Efek dari penderitaan itu lebih berkaitan dengan keadaan batin kita
daripada keadaan fisik kita.
Konon, setiap ketidakberuntungan memunyai imbangan keuntungan yang
sama besarnya atau bahkan lebih besar lagi. Saya menyetujuinya.
Keadaan fisik anak Anda sebenarnya dapat menolong dia menjadi lebih
kuat secara psikologis. Berilah dorongan agar ia juga unggul secara
intelektual, moral, dan sosial.
Mertua perempuan saya terkena penyakit polio pada usia 42 tahun.
Sampai sekarang ia sudah 20 tahun menggunakan kursi roda, tetapi ia
tidak membiarkan keadaannya yang cacat itu membatasi perkembangan
kepribadiannya ataupun hubungannya dengan orang lain. Sebagai
contoh, setiap hari Rabu ia memimpin kelompok kaum pemudi. Ia
membawa dampak yang baik bagi mereka.
Ada banyak contoh tentang orang-orang yang menjadi unggul kendati
keadaan tubuh mereka cacat. Doronglah anak Anda untuk membaca kisah
kehidupan orang-orang seperti Florence Nightingale (yang
mengorganisasi kembali rumah-rumah sakit Inggris sementara ia
sendiri sedang terbaring sakit di tempat tidur), Franklin D.
Roosevelt (yang memimpin Amerika Serikat menuju kemenangan dalam
Perang Dunia II sementara ia sendiri terbatas ruang geraknya pada
kursi roda), dan Helen Keller (yang berhasil mengatasi keadaannya
yang cacat dan menjadi seorang dosen dan pengarang yang disegani).
Ada satu buku istimewa yang saya ingin Anda dan putra Anda baca.
Saya yakin Anda berdua akan terkesan sewaktu membacanya. Buku itu
ditulis oleh seorang wanita yang pada usia delapan belas tahun
mengalami kecelakaan ketika berenang. Tulang lehernya patah sehingga
ia menjadi cacat; ia lumpuh dari bagian leher ke bawah.
Nama wanita itu Joni Eareckson Tada; bukunya berjudul Joni. (Sudah
terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul "Joni di Balik Awan"
terbitan Gandum Mas. -- Red) Di dalam buku itu, ia dengan jujur
mengutarakan bagaimana Tuhan menolong dia mengatasi keterbatasan
jasmaninya dan bagaimana Tuhan memimpin dirinya menjalami kehidupan
yang aktif, produktif, dan memuaskan.
Diambil dari:
Judul buku: Pertanyaan yang Sulit Akan Dijawab Oleh Luis Palau
Penerbit : Lembaga Literatur Baptis (Yayasan Baptis Indonesia),
Bandung 1999
Halaman : 11 -- 14
========== INFO ==========
40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA
Dengan mendekatnya bulan puasa, hati kita diketuk untuk mengingat
mereka yang belum mengenal kasih Tuhan. Adakah Anda tergerak untuk
berdoa bersama-sama menjelang dan selama bulan Ramadhan ini? Bahan
pokok doa yang disebut ",40 Hari Mengasihi Bangsa Dalam Doa", telah
kami persiapkan untuk Anda yang terbeban berdoa. Silakan
menghubungi kami untuk mendapatkan bahan pokok doa ini lewat e-mail.
Anda juga bisa mendaftarkan teman-teman Anda supaya mereka pun bisa
berdoa dengan memakai bahan doa ini. Kirimkan surat Anda ke:
==> < doa(at)sabda.org >
Mengirimkan bahan ",40 Hari Doa" menjelang dan selama bulan Ramadhan
secara elektronik telah menjadi tradisi tahunan yang dikerjakan
oleh Yayasan Lembaga SABDA dengan bekerja sama dengan pelayanan ",40
Hari Doa". Untuk tahun 2007, 40 hari doa akan dilakukan tanggal 3
September - 12 Oktober 2007.
------------------------- potong di sini --------------------------
Bagi Anda yang berminat untuk mendapatkan versi kertasnya, silakan
menghubungi: Mengasihi Bangsa dalam Doa
P.O. Box 7332 JATMI JAKARTA 13560
Email : < a40hdbb(at)yahoo.com >
Harap permohonan pengiriman buku mencantumkan:
Nama jelas :
Alamat lengkap :
Kota dan kode pos:
Propinsi :
Nama lembaga :
No telp./HP :
E-mail :
------------------------- potong di sini --------------------------
Marilah kita berpuasa dan berdoa bersama untuk Indonesia. Biarlah
tangan Tuhan yang penuh kuasa itu menolong dan menggugah hati nurani
para pemimpin bangsa ini untuk bertekad dan bersatu mengeluarkan
bangsa kita dari kemelut berbagai masalah yang berkepanjangan.
Selamat menjadi "penggerak doa" di tempat di mana Anda berada dan
biarlah karya Tuhan terjadi di antara umat-Nya, khususnya bangsa
Indonesia.
============================== e-KONSEL ==============================
PIMPINAN REDAKSI: Christiana Ratri Yuliani
PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
Yayasan Lembaga SABDA
INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
Sistem Network I-KAN
Copyright(c) 2007 oleh YLSA
http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
======================================================================
Anda punya masalah/perlu konseling?
atau ingin mengirimkan Informasi/artikel/bahan/
sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
silakan kirim ke: konsel(at)sabda.org
atau owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berhenti : unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
ARSIP : http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
Situs C3I : http://c3i.sabda.org/
======================================================================
|
|
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |