|
Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
https://sabda.org/https://sabda.org/publikasi/e-konsel/143 |
|
e-Konsel edisi 143 (1-9-2007)
|
|
Edisi (143) -- 01 September 2007
e-KONSEL
======================================================================
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
======================================================================
Daftar Isi:
= Pengantar : Bila Puber Kedua Menyapa
= Cakrawala (1) : Bahaya Puber Kedua
= Cakrawala (2) : Cinta pada Pandangan Setengah Baya
= TELAGA : Pubertas Kedua: Mitos Atau Realitas?
= Bimbingan Alkitabiah: Ketika Anda Merasa Lemah
= Info : Publikasi e-BinaAnak
========== PENGANTAR REDAKSI ==========
Masa transisi merupakan hal yang wajar terjadi dan dialami oleh
setiap makhluk hidup. Sebagai contoh, lihat saja proses kehidupan
kupu-kupu yang awalnya berasal dari seekor ulat. Demikian pula
dengan manusia, berkembang dari embrio menjadi bayi. Pertambahan
usia membawanya dari anak-anak menjadi remaja, kemudian menjadi
orang dewasa hingga akhirnya memasuki masa tua.
Pada setiap masa transisi pun sudah pasti terjadi gejolak dan dampak
dalam diri orang yang mengalaminya. Dalam siklus kehidupan manusia,
masa yang paling bergejolak dan berdampak adalah pada saat beranjak
remaja (atau masa puber) dan pada saat beranjak paruh baya, atau
lebih sering disebut puber kedua. Puber kedua inilah yang sering
kali menimbulkan masalah karena biasanya orang yang mengalami masa
ini adalah mereka yang sudah berumah tangga. Meskipun tidak semua
orang mengalami gejolak puber kedua, namun penting bagi kita untuk
mengetahui tanda-tanda dan gejolak apa saja yang akan muncul.
Bila saat ini Anda atau pasangan Anda sudah mulai menginjak
usia-usia "rawan" puber kedua ini, berikut kami sajikan bahan-bahan
yang kiranya bisa menjadi bekal bagi Anda untuk menghadapi gejolak
puber kedua. Silakan simak, semoga dapat memperkaya wawasan kita.
Pimpinan redaksi e-Konsel,
Christiana Ratri Yuliani
========== CAKRAWALA (1) ==========
BAHAYA PUBER KEDUA
Saat ini ketika jalan-jalan di mal, banyak terlihat orang setengah
baya yang jika dilihat dari belakang tampak seperti anak-anak
remaja. Mereka mengenakan baju dan berpotongan rambut masa kini yang
luar biasa model maupun warnanya. Tak jarang pemandangan lucu
tersebut membuat orang yang berpapasan tersenyum kala melihat
seorang ibu dengan perut yang tidak lagi langsing mengenakan blus
pendek yang memperlihatkan pusarnya, dengan polesan bedak tebal
seolah memakai topeng. Wah, apa gerangan yang terjadi?
Begitu juga yang terjadi belakangan ini dengan Taty yang bingung
sendiri melihat tingkah suaminya yang "agak lain" dari biasanya.
Tadinya suaminya malas sekali kalau diajak menemani ke salon,
sekarang malah dia yang rajin ke sana. Pulang kerja langsung ke
salon atau ke spa untuk perawatan rambut, muka, badan. Juga
refleksi kaki dan sebagainya. Mula-mula Taty curiga, jangan-jangan
itu hanya alasan. Mungkin suaminya punya pacar baru dan ketemunya di
salon, spa, atau mal.
Taty sampai menyewa detektif amatiran, yaitu anaknya sendiri, untuk
menguntit sang suami yang kelihatan jadi ganjen (genit) sekali. Dan
sang anak melaporkan hasil kuntitannya. Demikian bunyinya, "Ibu,
ternyata ayah beneran ke salon untuk merawat rambutnya yang rontok,
terus minta dicat. Katanya sudah banyak yang putih. Lalu ke spa
minta dilulur. Katanya, supaya kulit keriputnya hilang. Terus ke
toko pilih baju. Katanya, warna baju yang di rumah semuanya kuno,
ingin diganti dengan yang model dan warnanya ok punya! Ha ...
ha ...." Sang anak terbahak-bahak mengakhiri cerita tentang ayahnya
yang lagi "GR" (gede rasa) dan mendadak jadi pesolek berat. Sang ibu
yang mendapat laporan seperti itu hanya bisa menarik napas panjang
dan geleng-geleng kepala menandakan bingung.
Menghadapi keadaan suami atau istri yang mendadak bertingkah seperti
ABG (Anak Baru Gede) memang sangat membingungkan. Belum lagi
biasanya sifat pasangan yang mudah curiga kalau-kalau sang suami
atau istri punya "daun muda". Karuan saja hal ini bisa membuat
suasana rumah yang tadinya adem nyaman menjadi sedikit bergejolak
dan panas. Tak jarang menjurus menjadi pertengkaran hebat yang
berujung pada perpisahan.
Nah, mengapa sang suami atau istri yang mulai memasuki usia empat
puluh tahun bisa berubah serta bertingkah dan berpenampilan seperti
layaknya anaknya yang SMU? Ternyata menurut para ahli jiwa, hal itu
merupakan masa tahapan puber, yaitu transisi tahapan untuk pindah ke
tahapan berikutnya. Kita mengenal dua tahapan yang mudah dilihat dan
dirasakan, yaitu masa puber pertama dan masa puber kedua.
Puber pertama, masa seorang anak berpindah ke tahap menjadi masa
remaja di mana di masa-masa ini seorang anak ingin secepatnya
menjadi orang dewasa yang memunyai "kewenangan" lebih, baik dari
segi penampilan maupun keingintahuan. Pokoknya dalam masa ini,
seseorang pada tahap menjadi berani. Kiasannya "tidak takut mati".
Pada masa inilah seorang anak yang biasanya lembut bisa berubah
menjadi pemberontak, segala aturan diterjang, sikapnya semau gue dan
maunya benar sendiri. Dalam tahapan ini, seorang anak remaja berada
pada masa rawan karena mudah dipengaruhi pergaulan negatif. Maka
perhatian serta kasih sayang orang tualah yang sangat dibutuhkan
untuk memberi bimbingan yang benar. Orang tua pun harus berusaha
merangkul sang anak dengan menghindari sikap otoriter yang gemar
mendikte atau memerintah. Sebaiknya sikap orang tua lebih bersifat
berteman.
Puber kedua adalah tahapan dari seorang dewasa berpindah menjadi
tua. Berbeda dengan masa puber pertama yang super berani, masa puber
kedua justru menjadi masa-masa di mana seseorang dihinggapi rasa
takut, yaitu takut menjadi tua, takut menjadi tidak menarik lagi,
takut mati, takut tidak berguna lagi, takut tidak kuat lagi, dan
sebagainya. Maka dalam tahapan ini kelakuan seorang dewasa tampak
menjadi aneh, yaitu bertingkah seperti anak baru gede, baik dari
segi penampilan maupun perilakunya, sebagai bayarannya (kompensasi)
untuk menutupi ketakutannya itu. Semakin dia takut, kelakuan dan
penampilannya menjadi semakin aneh. Nah, pada masa-masa ini
seseorang menjadi demikian rapuh, mudah tersinggung. Di sinilah
peran pasangannya harus lebih toleran dan mencoba memahami apa yang
ditakutkannya. Misalkan, dia takut dikatakan tua karena fisiknya
yang memang sudah menurun vitalitasnya. Maka pasangannya mencoba
menghindari untuk menyinggung masalah fisik. Sebaiknya, cobalah
untuk memuji dan membesarkan hatinya bahwa dia tetap sebagai orang
yang disayangi.
Hal yang berbahaya dalam tahapan ini adalah seseorang justru ingin
menutupi ketakutannya dengan perilaku yang berbahaya. Misalnya,
akibat takut dikatakan tidak menarik lagi dan sudah menurun
vitalitasnya dalam berhubungan seks, dia akan mencoba untuk
menutupinya dengan berhubungan dengan orang yang lebih muda, dengan
harapan dia bisa bersaing dengan yang muda. Dalam tahapan ini,
seseorang sering jatuh dalam percintaan semu sehingga menjadi
masalah dalam rumah tangga. Di sinilah saatnya pasangan -- terutama
seorang istri -- harus bisa menyelaraskan keadaan dengan melakukan
"penyegaran" dengan berlaku seperti masa-masa pengantin baru atau
masa-masa pacaran. Misalnya, pergilah menonton berdua, jalan-jalan
berdua, bersikap lebih mesra, atau berdandan lebih muda dari
biasanya supaya sang suami juga merasa dirinya kembali muda. Dan
tunjukkan bahwa Anda sangat membutuhkannya dan tetap mengaguminya.
Karena masa puber adalah gejala yang dialami semua orang,
bersikaplah arif dalam menjalaninya. Pada masa puber kedua ini,
banyak hal yang ikut menyumbangkan ketakutan, seperti daya ingat
yang melemah, belum lagi masa pensiun yang mulai menghadang dan
anak-anak yang sedang membutuhkan biaya besar untuk pendidikan dan
kebutuhan hidup. Semua itu memacu timbulnya depresi dan membuat daya
tahan tubuh serta daya pikir semakin berkurang kemampuannya sehingga
berefek ke masalah stamina, baik pada saat keseharian maupun pada
saat berhubungan intim.
Semua orang mengalami tahapan ini, tapi setiap orang berbeda
kondisinya sebab seorang yang lebih percaya diri, perilaku
kompensasinya tidak terlalu parah. Sebaiknya pasangan bersiap untuk
menjadi penolong untuk siapa yang lebih dulu merasakan atau
mengalaminya, entah sang istri atau sang suami. Jadilah penolong
untuk pasangan dengan mencoba memupuk rasa kebersamaan yang lebih
sering lagi. Komunikasi yang baik di antara pasangan akan sangat
berguna untuk meredam efek-efek negatif yang ditimbulkan pada
masa-masa ini.
Sama seperti orang tua yang menghadapi anaknya pada saat melakoni
puber pertama, begitu juga kita pada saat menghadapi pasangan yang
melakoni puber kedua ini. Sikap berteman dan komunikasi yang baik
akan sangat bermanfaat. Hindari sikap menghakimi dan marah, dan
segalanya akan berjalan lebih lancar, damai dan baik-baik saja.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Nama situs : Suara Pembaruan
Judul asli artikel: Bahaya Puber Kedua
Penulis : Lianny Hendranata
Alamat URL : http://www.suarapembaruan.com/News/2003/11/09/
========== CAKRAWALA (2) ==========
CINTA PADA PANDANGAN SETENGAH BAYA
Akhirnya saya lulus juga! Kemarin istri saya baru saja memberikan
sebuah kartu kepada saya yang melukiskan keadaan pernikahan kami
belakangan ini. Dalam satu kata, ia merasa "bahagia". Saya juga!
Beberapa hari yang lalu, kami sempat membincangkan apakah sebenarnya
yang membuat kami tetap mencintai satu sama lain setelah enam belas
tahun menikah. Kesimpulan kami adalah ketekunan, yakni sikap pantang
menyerah dan niat terus mencoba memperbaiki relasi kami.
Seperti pasangan nikah lainnya, kami pun pernah merasa kecewa satu
sama lain, pernah merasa sedih akibat perbuatan masing-masing,
bahkan pernah cukup sering marah karena ulah masing-masing, dan
pernah menyesal mengapa memilih satu sama lain. Namun, kami tidak
berhenti pada perasaan-perasaan itu saja; kami berjalan terus,
berusaha menyelesaikan yang belum terselesaikan, dan mengoreksi
perbuatan yang menimbulkan bencana.
Bak petani yang telah bersusah payah menabur, sekarang kami mulai
menuai hasilnya. Pengertian kami terhadap satu sama lain makin
bertambah sehingga kami lebih dapat "memadamkan api sebelum
kebakaran". Kami pun makin menikmati kebersamaan kami sehingga
keterpisahan sungguh menyengsarakan, baik itu keterpisahan geografis
akibat jarak maupun keterpisahan emosional karena pertengkaran.
Suatu keadaan sebaik apa pun tidak akan terus bertahan dengan
sendirinya. Demikian pula dengan pernikahan; kita harus terus
menjaganya dengan hati-hati. Pernikahan ibarat gelas; kita dapat
menggunakannya untuk minum sebanyak mungkin, namun dengan satu
syarat: kita harus tetap memegangnya. Kenikmatan yang kita peroleh
dari pernikahan harus disertai usaha untuk menjaganya. Perasaan
harus dijaga, kebutuhan harus dipenuhi, pengertian harus diberikan,
mulut harus dikekang, komunikasi harus dilancarkan. Semua ini adalah
"tangan" yang memegang gelas; tanpa itu, "gelas pernikahan" kita
niscaya jatuh dan pecah.
Jika Saudara bertanya, "Apa itu yang membedakan cinta pada masa
berpacaran dan cinta pada masa sekarang pada usia kami yang separuh
baya?" Saya akan menjawabnya seperti ini: pada masa berpacaran, saya
mencintai istri saya karena dia menarik; sekarang saya
"tergila-gila" padanya; sekarang jika dia tidak di samping saya,
rasanya saya seperti orang "gila."
Waktu tidak memusnahkan cinta; waktu mentransformasi cinta.
Berangkat dari rasa tertarik, berakhir dengan rasa sayang karena dia
begitu berharga. Dimulai dengan tergila-gila, diakhiri dengan
"seperti orang gila kalau harus hidup tanpanya". Yang menentukan
adalah perjalanan di tengahnya, di antara titik berangkat dan titik
akhir. Kalau kita berhenti berusaha dan menyerah, ujung akhirnya
sudah pasti bukanlah rasa sayang karena dia berharga. Apabila kita
tidak menjaga dan memegang gelas pernikahan kita, akhir perjalanan
kita bukanlah keutuhan dan kenikmatan.
Amsal 16:31 mengingatkan kita, "Rambut putih adalah mahkota yang
indah, yang didapat pada jalan kebenaran." Salah satu terjemahan
bahasa Inggris lebih menekankan maknanya, yakni "... if it is found
in the way of righteousness". Dengan kata lain, masa tua titik akhir
atau ujung perjalanan pernikahan kita hanyalah akan bertransformasi
menjadi mahkota yang indah bila kita menjalaninya dalam kebenaran.
Teruslah berjalan, teruslah perbaiki, makin hari makin benar di
bawah terang Kebenaran. Pada akhirnya, kita akan memetik buahnya
yang manis dan mulia.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buletin: Parakaleo (Edisi Jan. -- Mar. 2001, Vol. VIII, No. 1)
Penulis : Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.
Penerbit : Departemen Konseling STTRII
Halaman : 3 -- 4
Artikel ini dapat pula Anda dapatkan di situs C3I dengan URL:
==> http://c3i.sabda.org/artikel/isi/?id=89&mulai=150
========== TELAGA ==========
PUBERTAS KEDUA: MITOS ATAU REALITAS?
Begitu banyak masalah pernikahan yang terjadi dalam kurun usia
tertentu, tepatnya usia 40 -- 60. Pada umumnya, kita mengaitkan
gejala itu dengan pubertas kedua. Pertanyaannya adalah apakah ada
pubertas kedua, dan jika ada, apakah yang dapat kita lakukan untuk
mencegah terjadinya masalah dalam pernikahan?
Fakta
-----
1. Sesungguhnya, masalah yang dikaitkan dengan pubertas adalah
masalah-masalah perubahan akibat perkembangan fisik. Masa remaja
adalah masa pubertas yang sarat dengan perubahan fisik yang
menyebabkan munculnya perubahan cara berpikir, keterampilan
menjalin relasi, dan pengelolaan emosi. Dalam pengertian ini,
kita dapat menyandingkan pengalaman usia paruh baya dengan usia
remaja di mana pada usia paruh baya terjadi banyak perubahan
fisik pula. Perbedaannya, perubahan fisik pada usia paruh baya
ditandai dengan penyusutan kapasitas, sedangkan pada masa remaja,
karakter utama perubahan fisik adalah penambahan kapasitas.
2. Perubahan fisik pada usia paruh baya memunculkan pembatasan
aktivitas fisik. Ada yang dapat menerimanya, namun ada pula yang
tidak dapat menerimanya. Perilaku kita yang tidak dapat
menerimanya ditandai dengan bertambahnya upaya untuk melestarikan
usia muda, misalnya meningkatkan frekuensi berolah raga,
memerhatikan berat tubuh, mengurangi kerut wajah, dan sebagainya.
Kerap kali perilaku inilah yang dikaitkan dengan perilaku "genit"
dan pubertas kedua, padahal motif utama di sini adalah
memperlambat proses penuaan.
3. Namun, apakah ada yang bertambah genit dalam artian yang
sesungguhnya sebagai akibat proses penuaan ini? Jawabnya, ada.
Jika kita tidak dapat menerima proses penuaan ini, mungkin saja
kita lari kepada faktor daya pikat terhadap lawan jenis. Kita
terperangkap ke dalam perilaku menguji "kesaktian": apakah lawan
jenis masih tertarik kepada kita? Dalam pengertian ini, memang
ada kesamaan antara masa remaja dan masa paruh baya di mana pada
kedua kurun ini ada kebutuhan untuk mendapatkan peneguhan
identitas diri.
4. Bertambah rawannya usia paruh baya terhadap godaan selingkuh juga
disebabkan oleh bertambah mapannya kita secara sosial dan
ekonomi. Kemapanan ini menambah daya tarik sebab cukup banyak
lawan jenis dari usia yang lebih muda yang mendambakan kemapanan
sosial dan ekonomi.
5. Bertambahnya godaan selingkuh juga ditimbulkan oleh bertambah
matangnya emosi dan proses berpikir kita. Pada umumnya, di usia
paruh baya kita telah mencapai kematangan yang membuat kita lebih
bijak dan stabil dalam menghadapi hidup. Ini adalah daya tarik
bagi sebagian lawan jenis dari usia yang lebih muda. Mereka
merindukan ketenteraman dan kita menawarkan hal tersebut.
6. Perubahan pada usia paruh baya dapat pula mendatangkan hal yang
sebaliknya, bukan kemapanan yang kita cicipi, melainkan
kejatuhan. Biasanya ini disebabkan oleh PHK atau kebangkrutan
yang sudah tentu dampaknya dapat berbeda pula. Di tengah proses
penuaan dan penyusutan kapasitas fisik, kejatuhan ekonomi membawa
perubahan sosial yang besar. Tiba-tiba kita kehilangan lingkup
pertemanan, baik karena perubahan lingkup kerja maupun karena
inisiatif pribadi untuk menarik diri.
7. Selain menarik diri, ada pula orang yang melarikan diri ke
hal-hal negatif. Salah satunya adalah penerimaan lawan jenis dan
kepuasan seksual sesaat. Di saat krisis, kelemahan purbakala
cenderung muncul kembali dan daya tahan untuk mengatasi godaan
cenderung menurun.
8. Godaan untuk selingkuh bertambah besar pada usia paruh baya
karena faktor kebosanan dan perbedaan biologis antara pria dan
wanita. Pada usia paruh baya, aktivitas seksual mulai kehilangan
kesegarannya. Tanpa kasih dan komitmen yang kuat, perubahan
ini membuka peluang masuknya godaan. Juga ada masalah perubahan
biologis yang dialami wanita akibat proses menopause sehingga
tidak jarang gairah seksual berkurang dan kenikmatan seksual
terganggu akibat rasa sakit. Tidak jarang pada masa ini pria
tergoda mencari wanita lain untuk memenuhi kebutuhan seksualnya
dan wanita menerima uluran tangan pria lain karena kesepian dan
haus kasih sayang serta perhatian.
9. Godaan untuk selingkuh juga bertambah seiring dengan mengendurnya
ikatan keluarga-anak menginjak akil balig dan ketika orang tua
telah tua atau meninggal. Perubahan ini menciptakan kebebasan.
Jika tidak hati-hati, rasa bertanggung jawab akan merosot pula.
Kesimpulan
----------
1. Setiap perubahan menuntut penyesuaian, tidak terkecuali perubahan
pada masa paruh baya. Penyesuaian menuntut kerendahan hati dan
kesabaran. Tanpa kerendahan hati kita tidak akan bersedia
menyesuaikan diri. Dan tanpa kesabaran, kita hanya menuntut orang
lain untuk menyesuaikan diri dengan kita.
2. Setiap perubahan memunculkan krisis, baik dalam kadar yang kecil
maupun besar. Setiap krisis harus dilalui dengan ketabahan dan
kerja sama. Krisis menimbulkan rasa sakit dan tidak berdaya,
namun di saat ini kita mesti tabah alias bertahan dalam suasana
yang tidak nyaman. Di masa krisis, kita pun cenderung menyalahkan
orang lain. Padahal yang sebenarnya diperlukan adalah kerja
sama.
Firman Tuhan: "Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala
keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu
kelimpahan .... Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang
memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:11-13)
Sajian di atas kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. T178B
yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan.
Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat
e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org>
atau: < TELAGA(at)sabda.org >
atau kunjungi situs TELAGA di:
==> http://www.telaga.org/ringkasan.php?pubertas_ke_ii_mitos_atau_realitas_ii.htm
========== BIMBINGAN ALKITABIAH ==========
Berada di masa transisi adalah saat-saat ketika kita mudah sekali
jatuh ke dalam godaan. Terlebih bila saat ini kita sudah berada pada
kematangan hidup. Satu-satunya cara untuk bisa melewati masa
peralihan ini adalah dengan selalu mengandalkan kekuatan dari Tuhan.
Ayat-ayat berikut ini menuntun kita mendapatkan kekuatan untuk
menghadapi godaan yang mungkin terjadi di masa puber kedua.
KETIKA ANDA MERASA LEMAH
Mazmur 29:11
Yesaya 40:29-31
Mazmur 18:8-9, 37:39
Amsal 10:29, 3:26
Mazmur 18:2, 27:1
2Samuel 22:33
Yesaya 41:110
2Korintus 12:9
2Timotius 1:7
Yesaya 42:6
Ulangan 33:25
Filipi 4:13
Keluaran 11:7
Diambil dari:
Indeks Masalah Sehari-hari (CD SABDA 2.0)
Nomor topik: 09734
Copyright : Yayasan Lembaga SABDA [Versi Elektronik (SABDA)]
========== INFO ==========
PUBLIKASI E-BINAANAK
Melayani Tuhan melalui anak-anak yang Dia kasihi tentu saja
memerlukan perlengkapan yang cukup. Selain melalui firman Tuhan,
sumber-sumber lain sebagai pelengkap untuk mengembangkan kemampuan
dan wawasan dalam melakukan pelayanan anak tentunya sangat
diperlukan. Salah satu sumber yang dapat digunakan para pelayan anak
untuk memperlengkapi diri adalah publikasi e-BinaAnak. Melalui
publikasi ini, Anda bisa mendapatkan berbagai artikel, tips
mengajar, bahan-bahan mengajar, kesaksian pelayanan, tautan ke
sumber-sumber lain, dan bahan-bahan lain. Jika saat ini Anda merasa
kekurangan sumber informasi atau masih memerlukan lebih banyak
sumber lagi untuk mengembangkan diri dalam bidang pelayanan anak,
kami mengundang Anda untuk bergabung bersama lebih dari tiga ribu
pelayan anak yang lain dalam milis publikasi ini. Anda akan
dipuaskan dengan berbagai informasi dari e-BinaAnak yang dikirimkan
ke alamat e-mail Anda setiap minggu . Tertarik? Bergabung yuk?
Untuk berlangganan, silakan kirimkan e-mail Anda ke:
==> <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Untuk melihat arsip-arsip edisi terdahulu, silakan akses:
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Untuk melihat ribuan informasi lain seputar pelayanan anak, silakan
akses:
==> http://pepak.sabda.org/
============================== e-KONSEL ==============================
PIMPINAN REDAKSI: Christiana Ratri Yuliani
PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
Yayasan Lembaga SABDA
INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
Sistem Network I-KAN
Copyright(c) 2007 oleh YLSA
http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
======================================================================
Anda punya masalah/perlu konseling?
atau ingin mengirimkan Informasi/artikel/bahan/
sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
silakan kirim ke: konsel(at)sabda.org
atau owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berhenti : unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
ARSIP : http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
Situs C3I : http://c3i.sabda.org/
======================================================================
|
|
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |