Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-doa/145

e-Doa edisi 145 (22-3-2018)

Majalah Publikasi Tim Pembinaan YLSA

Majalah Publikasi Tim Pembinaan YLSA -- Edisi Khusus Paskah

Majalah Publikasi Tim Pembinaan YLSA Edisi Khusus Paskah | Maret 2018

Dari Redaksi

Salam dalam kasih Kristus,

Apa kabar pelanggan publikasi Tim Pembinaan di mana pun Anda berada? Seluruh redaksi Tim Pembinaan YLSA berharap Anda semua senantiasa berada dalam kasih karunia-Nya.

Berawal dari kerinduan untuk menampilkan sebuah majalah dengan konsep menggabungkan artikel-artikel dari semua publikasi Tim Pembinaan dalam satu tema utama, kami pun tergerak untuk menyusun dan menerbitkan majalah publikasi ini. Paskah menjadi tema utama dalam edisi perdana kami untuk menampilkan artikel-artikel Paskah dari publikasi e-Doa, e-JEMMi, dan e-Reformed yang dahulu pernah diterbitkan. Hadir juga dalam edisi kali ini sebuah renungan Paskah yang kiranya akan memberi kita motivasi untuk semakin menumbuhkan kerendahan hati dalam diri kita masing-masing. Sebagai informasi, majalah ini tidak akan terbit secara rutin setiap bulan, tetapi pada waktu-waktu tertentu. Pada bulan mendatang, Anda akan menerima kembali terbitan publikasi dari kami seperti biasanya. Nah, untuk mengenal lebih dekat Tim Pembinaan YLSA, silakan menyaksikan video profil pelayanan kami.

Akhir kata, terimalah sajian majalah publikasi perdana dari kami, kiranya menjadi berkat bagi Anda semua. Selamat Paskah 2018. Soli Deo gloria!

N. Risanti

Koordinator Tim Pembinaan,
N. Risanti

Renungan Paskah Bertumbuh dalam Kerendahan Hati

Gambar: Memikul Salib

Tidak ada cara lain untuk mencapai kerendahan hati selain memandang kepada Yesus. Paulus berkata kepada kita, "Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati -- bahkan sampai mati di kayu salib" (Filipi 2:8). Anak Allah merendahkan diri-Nya sendiri. Itu adalah sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi, masih ada lagi. Dia dijadikan sama dengan manusia. Anak Allah lahir di kandang, popok-Nya diganti, dan tubuh-Nya dimandikan dan diberi makan oleh seorang ibu muda, Maria. Dan, masih ada lagi. Dia mengambil rupa seorang hamba. Allah membasuh kaki. Namun, masih ada lagi. Sebagaimana Donald Macleod nyatakan dalam A Faith to Live By:

"Apa yang dipikirkan oleh para malaikat tentang semua ini? Pada suatu hari, mereka berkedip dalam rasa heran saat mereka melihat Pencipta mereka yang agung ada di dalam sebuah palungan di Betlehem. Pastilah mereka tidak bisa memahami apa yang mereka lihat. Lalu, hari berganti hari dan tahun berganti tahun, mereka menyaksikan sebuah drama terkuak yang pastinya memberatkan semua sirkuit dalam komputer mereka. Pada suatu hari, dikatakan bahwa Tuhan mereka ada di Getsemani, dan salah satu dari mereka diutus untuk menguatkan Dia. Beberapa jam kemudian, bahkan disampaikan kabar yang lebih mengejutkan: Dia berdarah-darah di atas kayu salib di Kalvari. Hal itu, tentunya, adalah yang paling rendah: yang paling buruk! Tetapi tidak! Hal berikutnya adalah Bapa meninggalkan Dia! Allah yang seharusnya seluruh hati-Nya tergerak untuk menyeka air mata dari umat-Nya, ternyata tidak menyeka air mata Anak-Nya sendiri! Begitulah dari awal hingga akhir kehidupan-Nya di bumi: turun! Langkah dahsyat dari takhta menuju kandang, kemudian perjalanan luar biasa dari kandang menuju salib, dan lebih daripada itu perjalanan salib itu sendiri adalah dari pengorbanan sampai ditinggalkan sendirian. Para malaikat pasti berkata, 'Apakah ini tidak akan pernah berakhir? Seberapa rendah yang harus Dia lalui? Seberapa rendah yang harus Dia lalui?' "

Perhatikan tiga hal tentang susunan komentar Paulus mengenai kerendahan hati.

Pertama, "Dia merendahkan diri-Nya." Yesus cukup sengaja mengambil setiap langkah sendiri. Dengan kata lain, hanya ada satu dasar (platform) dan kemudian satu langkah turun ke bawah dari takhta menuju penebusan kita. Tidak. Ada sebuah tangga yang turun ke bawah dan ke bawah, dan di setiap langkah tertulis kata-kata seperti: di dalam kandungan, lahir, kandang, kelemahan kanak-kanak, mengungsi di Mesir, tempat tukang kayu, pembaptisan, pencobaan di padang gurun, Iblis, bepergian terus-menerus, tidak berhenti mengajar, penyembuhan yang melelahkan, pengkhianatan, Getsemani, pencambukan, penyaliban, ditinggalkan, kematian, penguburan. Kristus turun ke bawah dan ke bawah. Pada kayu salib, Dia betul-betul ada di kedalaman danau api saat Dia masuk ke dalam tempat pembakaran dosa kosmik bernama Golgota.

Kedua, Paulus mengatakan bahwa Yesus "taat sampai mati". Kata kunci di sini adalah "taat". Penderitaan Kristus bukanlah nasib. Bukan seperti roda besar berputar yang datang menghampiri dan menghancurkan kehidupan Yesus, dan Dia tidak berdaya terhadapnya. Ini bukan malapetaka. Bukan penderitaan yang kebetulan. Ini adalah ketaatan atas urapan Allah yang menjadikan Dia sebagai Anak Domba Allah yang akan menanggung dosa dunia. Jadi, ini adalah ketaatan atas semua implikasinya -- penangkapan, persidangan, kutukan, penghinaan, dan rasa sakit yang tidak tertahankan.

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Korintus 5:21), dan kita mengatakan bahwa di setiap langkah, Sang Anak taat. Adam pertama tidak bisa menaati perintah sederhana untuk tidak memetik buah dari satu pohon di Taman Eden. Adam terakhir menunjukkan ketaatan yang begitu mahal tahun berganti tahun di hutan belantara dunia. Melalui ketidaktaatan satu orang, banyak orang jadi berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang, banyak yang dibenarkan.

Dari Betlehem ke Golgota, Allah-manusia melakukan ketaatan. Ini adalah ketaatan yang dilakukan demi orang lain, dan ketaatan Kristus itu adalah pembenaran orang berdosa yang mau percaya. Kita dipenuhi dengan semua kebaikan, semua perkataan, dan semua pemahaman tentang ketaatan Anak Allah yang tidak putus-putus mulai dari tempat lahir sampai kayu salib. Tidak ada momen dalam seluruh pengalaman itu yang Dia bukanlah Sang Penebus. Tidak ada hari dalam seluruh hidup-Nya yang Dia tidak bertindak dalam ketaatan. Setiap momen mengandung kemuliaan anugerah dan kebenaran serta kemuliaan ketaatan yang mengguncangkan dari inkarnasi Allah. Itulah yang dikaitkan pada kita agar kita dipenuhi dengan kebaikan dan kebenaran-Nya.

Yang terakhir, kita diberi tahu bahwa Yesus "taat sampai mati -- bahkan sampai mati di kayu salib". Ada kematian, dan kemudian ada kematian. Itulah yang disebut Wahyu sebagai kematian kedua, tetapi ada kematian untuk orang Kristen yang tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus. Ada antisipasi kematian yang artinya lepas dari tubuh dan bersama dengan Tuhan. Kematian itu tidak memiliki sengat, tidak memiliki laknat dan kutukan. Akan tetapi, itu bukan kematian yang dimaksud di dalam Filipi 2. Kematian di Filipi 2 adalah kematian yang dikutuk, kematian kedua. Dia yang tidak mengenal dosa mati sebagai orang yang bersalah dan hinaan diberikan kepadanya. Dia mati membayar upah dosa. Dia mati sebagai orang yang dijadikan berdosa dan tidak dilepaskan. Dia mati dengan integritas mutlak Allah yang melawan Dia, dan tidak ada keringanan. Allah tidak berkata, "Betapa Dia telah taat, maka Aku akan melepaskan Dia." Allah tidak melepaskan Dia. Semua yang seharusnya ditanggung karena dosa kita, ditanggungkan kepada jiwa-Nya dalam kematian ini. Semua kesadaran akan kemurahan ilahi ditarik dari pada-Nya.

Inilah teladan Kristus. Karena itu, kita harus memiliki pikiran yang sama, kasih yang sama. Kita tidak boleh melihat kepentingan diri sendiri, tetapi kita harus memperhatikan kepentingan orang lain. Kasih yang mahal. Kasih yang menyakitkan. Kasih Golgota. Kasih Hamba. Dunia harus melihat kasih itu di dalam komunitas Kristen, dan hal itu akan membawa dampak tersendiri bagi mereka. (t/Jing-Jing)

Audio: Bertumbuh dalam Kerendahan Hati

Diambil dari:
Nama situs : Paskah
Alamat situs : http://paskah.sabda.org/bertumbuh_dalam_kerendahan_hati
Judul asli artikel : Bertumbuh dalam Kerendahan Hati
Penulis artikel : Geoffrey Thomas
Tanggal akses : 17 Januari 2017

e-Reformed Penderitaan Sang Juru Selamat

Sejumlah hal perlu ditekankan berkenaan dengan penderitaan Kristus.

A. Ia menderita seumur hidup-Nya di dunia.

Gambar: e-Reformed

Berkenaan dengan kenyataan bahwa Yesus mulai membicarakan penderitaan yang akan dialami-Nya menjelang akhir hidup-Nya, kita sering cenderung untuk berpikir bahwa penderitaan-Nya di atas kayu salib merupakan penggenapan dari seluruh penderitaan-Nya. Akan tetapi, sesungguhnya keseluruhan hidup-Nya adalah penderitaan. Ia harus mengambil rupa seorang hamba, padahal Ia adalah Allah semesta langit. Ia yang tidak berdosa setiap hari harus berhubungan dengan manusia berdosa. Hidup-Nya yang kudus harus menderita di dalam dunia yang terkutuk karena dosa. Jalan ketaatan menjadi milik-Nya bersamaan dengan jalan penderitaan-Nya. Ia menderita karena gangguan Iblis yang datang berulang kali, dari kebencian dan ketidakpercayaan umat-Nya, dan dari perlawanan musuh-musuh-Nya. Oleh karena Ia harus masuk ke dalam pemerasan anggur itu sendiri, kesendirian-Nya pastilah merupakan suatu tekanan bagi-Nya, dan rasa tanggung jawab-Nya menghancurkan. Penderitaan-Nya adalah penderitaan yang disadari, makin lama makin berat, semakin Ia mendekati akhirnya. Penderitaan yang dimulai sejak inkarnasi akhirnya mencapai titik puncak dalam passio magna (penderitaan terbesar) pada akhir hidup-Nya. Kemudian, murka Allah atas dosa segera menghambur ke arah-Nya.

Selengkapnya »


e-Doa Doa-Doa di Atas Kayu Salib

Gambar: e-Doa

Kedukaan salib Yesus sering begitu mendalam sehingga ketika kita merenungkannya, kita tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Kita menemukan bahwa kita berada dalam dunia yang sunyi saat Allah mengajar pikiran dan roh kita tentang nilai dari perkataan Kristus yang sedang sekarat. Karena di atas kayu salib itulah, kata-kata terakhir dari kehidupan manusia Yesus diucapkan. Seperti di setiap kata yang diucapkan oleh Yesus, ada banyak hal yang bisa dipelajari di sini. Kata-kata terakhir ini berupa doa-doa. Dengan mempelajari doa-doa ini, kita bisa belajar mengenai nilai sebenarnya dari segala doa. Yesus adalah Anak Allah, tetapi Ia juga Manusia. Kenyataan bahwa kata-kata yang diucapkan-Nya saat sedang sekarat adalah doa, menunjukkan kehidupan yang berkomitmen pada doa. Ia tahu ini bukan komitmen yang mudah. Tidak ada yang bisa mengalami kehidupan doa sejati yang berarti, tanpa adanya komitmen yang mendalam. Hal ini terlihat jelas dalam doa Yesus "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Lukas 23:46). Yesus menyerahkan diri-Nya untuk kehidupan doa yang baru. Setiap hari dalam kehidupan kita, Yesus berdoa untuk Anda dan saya. Kita merasa tenang mengetahui bahwa kita berada dalam doa-Nya, dalam persiapan untuk kehidupan doa yang baru ini, yang kita baca dalam Alkitab tentang Yesus yang berdoa (Lukas 11:1; Yohanes 17). Dalam Yohanes 17:20-24, Yesus berdoa untuk kita, bahkan sebelum disalib, ketika Ia berdoa "... juga bagi mereka yang akan percaya kepada-Ku (Yesus), melalui pemberitaan mereka" (Yohanes 17:20).

Selengkapnya »


e-JEMMi Empat Gaya Hidup Kristen Paskah

Gambar: Roh Kudus

Ketika seseorang mengenal Yesus dengan benar, maka hidupnya pasti akan terus-menerus berubah dan menjadi Kristen sejati. Artinya, kalau dahulunya hanya Kristen biasa-biasa saja, setelah mengalami kuasa kebangkitan Yesus, maka hidupnya menjadi luar biasa. Mengapa demikian? Jawabannya adalah "karena kuasa kebangkitan yang hebat itu telah mengerjakan sesuatu yang ajaib dalam dirinya" (Efesus 1:19). Kuasa itu sungguh hebat sehubungan dengan kuasa kebangkitan ini, maka minimal ada empat ciri gaya hidup orang yang telah mengalami kuasa kebangkitan.

Selengkapnya »

Kutipan

“Di dalam inilah kasih itu: bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allahlah yang mengasihi kita dan mengirimkan Anak-Nya sebagai kurban pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1 Yohanes 4:10, AYT)
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi Tim Pembinaan.
Redaksi
N. Risanti, Amidya, Davida, Joy, Margaretha I., Odysius,
Markus, Maskunarti, Santi T., Yulia Oeniyati
Arsip e-Reformed | Arsip e-Doa | Arsip e-JEMMi
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2018 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org