Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binasiswa/27

e-BinaSiswa edisi 27 (4-11-2013)

Remaja dan Guru (1)

e-BinaSiswa -- Remaja dan Guru (1)
Edisi 27/November 2013

DAFTAR ISI:
ARTIKEL: MASALAH REMAJA DI SEKOLAH DAN PENTINGNYA KONSELOR GURU
KIAT PEMBINA: MENUMBUHKAN ASPEK INTELEKTUAL SEORANG GURU DAN PENGAJAR ROHANI
STOP PRESS: BERGABUNGLAH DENGAN FACEBOOK E-BINASISWA

Syalom,

Peran seorang guru Kristen yang bertumbuh sebagai "orang tua kedua" bagi para 
siswa di sekolah sangatlah diperlukan. Ia tidak hanya berkesempatan mengajarkan 
ilmu pengetahuan kepada anak didiknya, tetapi juga menjadi konselor atau 
"sahabat" yang mendampingi dan membimbing mereka menurut iman Kristen di tengah 
permasalahan yang sedang dihadapi. Menangani remaja dengan setiap masalahnya 
yang "khas" memang memerlukan pendekatan khusus. Artikel edisi e-BinaSiswa kali 
ini akan membahas mengenai perlunya seorang konselor guru di sekolah. Di samping 
itu, guru yang baik adalah guru yang mau terus belajar dan bertumbuh. Bagaimana 
terus menumbuhkan aspek intelektual sebagai seorang guru dan pembina siswa? 
Simak selengkapnya di kolom Kiat Pembina kali ini.

Pada kesempatan kali ini, saya juga ingin memperkenalkan diri saya, Adiana, yang 
menggantikan Doni K. sebagai Pemimpin Redaksi e-BinaSiswa mulai bulan November 
2013. Mari menjadi pengajar yang terus diperlengkapi! Tuhan Yesus memberkati.

Pemimpin Redaksi e-BinaSiswa,
Adiana
< ade(at)in-christ.net >
< http://remaja.sabda.org >


ARTIKEL: MASALAH REMAJA DI SEKOLAH DAN PENTINGNYA KONSELOR GURU
Ditulis oleh: Amidya

A. Latar Belakang

Masa remaja merupakan sebuah masa transisi dengan setiap masalah dan 
pergumulannya masing-masing. Beberapa masalah itu muncul, mulai dari 
permasalahan di rumah, di sekolah, hingga di setiap lingkungan tempat mereka 
berinteraksi. Khususnya di sekolah, beberapa remaja bahkan memerlukan 
pendampingan khusus karena di sana mereka akan diperhadapkan pada beban studi, 
teman sebaya, kakak kelas, dan juga guru-guru yang akan memungkinkan mereka 
menghadapi beberapa masalah. Masalah-masalah ini tentunya tidak dapat dibiarkan 
begitu saja karena akan memengaruhi perkembangan remaja ke depannya. Oleh karena 
itu, peran guru sebagai konselor sangatlah diperlukan untuk mengarahkan, 
membimbing, dan mendampingi siswa dalam menghadapi masalah-masalah tersebut di 
sekolah.

B. Masalah-Masalah Remaja di Sekolah

Pada umumnya, masalah remaja di sekolah, baik di tingkat SMP maupun SMA, 
berkenaan dengan perilaku. Berikut beberapa masalah remaja di sekolah:

1. Perilaku Bermasalah (Problem Behavior)

Masalah perilaku yang dialami remaja di sekolah dapat dikatakan masih dalam 
kategori wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Dampak 
perilaku bermasalah yang dilakukan remaja akan menghambat dirinya dalam proses 
sosialisasi dengan remaja lain, guru, dan masyarakat. Perilaku malu dalam 
mengikuti berbagai aktivitas yang digelar sekolah, misalnya, termasuk dalam 
kategori perilaku bermasalah yang menyebabkan seorang remaja menjadi kurang 
pengalaman. Jadi, perilaku bermasalah ini akan merugikan remaja di sekolah 
secara tidak langsung akibat perilakunya sendiri.

2. Perilaku Menyimpang (Behavior Disorder)

Perilaku menyimpang pada remaja merupakan perilaku yang kacau dan menyebabkan 
seorang remaja kelihatan gugup (nervous) serta perilakunya tidak terkontrol 
(uncontrol). Memang diakui bahwa tidak semua remaja mengalami perilaku ini. 
Seorang remaja mengalami hal ini jika ia merasa tidak tenang dan tidak bahagia 
sehingga menyebabkan hilangnya konsentrasi diri. Perilaku menyimpang pada remaja 
akan mengakibatkan munculnya tindakan tidak terkontrol yang mengarah pada 
tindakan kejahatan. Penyebab behaviour disorder lebih banyak karena persoalan 
psikologis yang selalu menghantui dirinya.

3. Penyesuaian Diri yang Salah (Behaviour Maladjustment)

Perilaku tidak sesuai yang dilakukan remaja biasanya didorong oleh keinginan 
mencari jalan pintas dalam menyelesaikan sesuatu tanpa mendefinisikan secara 
cermat akibatnya. Perilaku menyontek, membolos, dan melanggar peraturan sekolah 
merupakan contoh penyesuaian diri yang salah pada remaja di sekolah menengah.

4. Perilaku Tidak Dapat Membedakan Benar atau Salah (Conduct Disorder)

Kecenderungan pada sebagian remaja adalah tidak mampu membedakan antara perilaku 
yang benar dan perilaku yang salah. Wujud dari conduct disorder adalah munculnya 
cara berpikir dan perilaku yang kacau dan sering menyimpang dari aturan yang 
berlaku di sekolah. Penyebabnya adalah karena sejak kecil, orang tua tidak bisa 
membedakan perilaku yang benar dan yang salah pada anak. Seharusnya, orang tua 
mampu memberikan hukuman (punishment) saat anak berperilaku salah dan memberikan 
pujian atau hadiah (reward) saat anak berperilaku baik atau benar. Seorang 
remaja di sekolah dikategorikan dalam conduct disorder apabila ia memunculkan 
perilaku antisosial, baik secara verbal maupun secara nonverbal, seperti melawan 
aturan, tidak sopan terhadap guru, dan mempermainkan temannya.

5. Perilaku Berkaitan dengan Perhatian (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

Perilaku berkaitan dengan perhatian adalah anak yang mengalami defisiensi dalam 
perhatian dan tidak dapat menerima impuls-impuls sehingga gerakan-gerakannya 
tidak dapat terkontrol dan menjadi hiperaktif. Remaja di sekolah yang hiperaktif 
biasanya mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat 
menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya atau tidak dapat berhasil 
dalam menyelesaikan tugasnya. Jika diajak berbicara, remaja yang hiperaktif 
tidak akan memperhatikan lawan bicaranya dan cepat terpengaruh oleh stimulus 
yang datang dari luar.

C. Guru Sebagai Konselor

Guru tidak hanya bertugas untuk menyampaikan ilmu kepada siswa, tetapi juga 
mempunyai peran lainnya, yaitu menjadi orang tua kedua bagi siswa dan berperan 
sebagai konselor. Peran guru sebagai konselor sesungguhnya bukan hanya tugas 
guru Bimbingan Konseling (BK), tetapi juga tugas setiap guru wali kelas, 
termasuk guru Pendidikan Agama Kristen. Guru sebagai konselor akan menolong 
setiap murid yang sedang bermasalah dan jika memungkinkan dapat memberikan 
solusi sehingga mereka dapat keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi.

Guru beragama Kristen, khususnya, dapat membimbing siswa dengan memberikan 
nasihat yang berdasar pada kebenaran firman Tuhan, sekalipun ia bukan guru 
Bimbingan Konseling. Sebab, firman Tuhan itulah yang menjadi penuntun di setiap 
kehidupan kita. Seorang remaja yang sedang ada di masa transisi sangat 
membutuhkan pengenalan akan Tuhan kita, Yesus Kristus, nasihat-nasihat tentang 
kehidupan, dan pertolongan, agar mereka mengerti apa yang benar di hadapan 
Tuhan.

D. Cara Mengatasi Masalah-Masalah Perilaku Remaja

1. Dialog Antara Orang Tua dan Anak

Cara pertama untuk mengatasi masalah perilaku pada siswa, yaitu perlunya peran 
orang tua. Mengapa peran orang tua sangat dibutuhkan? Karena orang tua 
seharusnya menjadi orang yang paling dekat dengan anak, dan keluarga merupakan 
tempat pertama bagi anak untuk bertumbuh dan bersosialisasi. Biasanya, saat anak 
menginjak masa remaja, anak akan enggan berkomunikasi dengan orang tua, 
khususnya bagi remaja pria, mereka lebih suka bergabung dan lebih terbuka kepada 
kelompoknya. Sedangkan remaja putri lebih senang berada di rumah dan 
menghabiskan waktu di kamar. Di sinilah, orang tua harus lebih memperhatikan 
anak-anak remaja mereka dan harus lebih sering bertanya kepada anak dan 
memberikan nasihat serta masukan.

2. Menasihati Anak untuk Menjalin Pertemanan yang Sehat

Baik orang tua maupun guru sebaiknya menasihati anak untuk menjalin pertemanan 
yang sehat. Memang, sejak kecil anak sudah diajar untuk tidak memilih-milih 
teman, tetapi Alkitab memberikan nasihat-nasihat dalam menjalin sebuah 
persahabatan. Biasanya, siswa mengalami masalah yang berkaitan dengan perilaku 
karena terus bergaul dengan teman sekelompoknya. Oleh sebab itu, baik orang tua 
maupun guru hendaknya mendorong anak-anak untuk masuk di lingkungan pertemanan 
yang sehat sehingga dapat menjalin persahabatan di komunitas yang sehat pula.

3. Memberikan Pendampingan, Perhatian, dan Kasih yang Tulus

Ketika beranjak dewasa, anak-anak akan menghabiskan waktunya di sekolah. Guru 
harus menjadi konselor dan motivator yang baik bagi siswa-siswa di sekolah. 
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, guru tidak hanya menyampaikan ilmu, 
tetapi juga membagikan nasihat kehidupan, ajaran, keterampilan, dan pengalaman 
kepada siswa. Jika guru menunjukkan pendampingan, perhatian, dan kasih yang 
tulus kepada siswa, tentu siswa akan merasa dihargai dan memiliki semangat 
belajar yang tinggi di sekolah. Proses konselor yang baik oleh para guru ini 
dapat mengantisipasi adanya permasalahan perilaku pada siswa dan juga mencegah 
terjadinya kenakalan remaja.

Sumber bacaan:
1. Dunn, R. Richard. "Membentuk Kerohanian Anak Muda". Literatur Perkantas, Surabaya 2012
2. Heagy, C. Ronald. "Dunia yang Mulai Liar". Pustakaraya, Jakarta 2006
3. __________. "Konselor Pendidikan". Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Konselor_pendidikan


KIAT PEMBINA: MENUMBUHKAN ASPEK INTELEKTUAL SEORANG GURU DAN PENGAJAR ROHANI
Diringkas oleh: Adiana

"Jika Anda berhenti bertumbuh hari ini, Anda akan berhenti belajar esok hari." 
Begitulah prinsip sederhana bagi seorang pengajar, khususnya "guru rohani" atau 
pembina rohani. Jika kita tidak mengetahui sesuatu dengan sungguh-sungguh, tentu 
kita tidak dapat menyampaikan apa pun. Namun, perlu diperhatikan bahwa 
pertumbuhan rohani bukanlah satu-satunya hal yang harus dikejar oleh para 
pembina rohani. Kita tidak akan dapat bertumbuh sepenuhnya secara rohani jika 
tidak menumbuhkan juga aspek-aspek kehidupan lainnya, seperti aspek fisik, 
intelektual, dan sosial. Berikut ini adalah saran bagi Anda, sebagai guru dan 
pembina rohani, untuk terus menumbuhkan aspek intelektual Anda.

1. Pertahankan kegiatan belajar dan membaca yang konsisten.

Pahamilah bahwa pemimpin adalah pembaca dan pembaca adalah pemimpin. Jika selama 
ini Anda merasa tidak mendapatkan banyak manfaat dari membaca, solusi berikut 
ini mungkin dapat menolong Anda. Jika Anda menyediakan waktu satu jam untuk 
membaca, berusahalah membaca pada setengah jam pertama dan pakailah setengah jam 
berikutnya untuk merenungkan apa yang Anda baca. Perhatikanlah perbedaannya. 
Anda hanya akan terlalu banyak membaca jika Anda sedikit merenungkannya. Selain 
itu, janganlah bergaul dengan banyak buku bacaan saja, tetapi bergaullah juga 
dengan orang-orang yang suka membaca. Dua faktor yang akan memengaruhi kehidupan 
Anda di masa mendatang adalah buku-buku yang Anda baca dan orang-orang di 
sekitar Anda. Jika sedang bersama dengan orang yang tahu lebih banyak, ajukanlah 
pertanyaan yang bermutu, seraplah pengetahuannya, dan ambillah manfaat dari 
segala sesuatu yang mereka ketahui.

2. Ikutilah program-program pendidikan yang berkelanjutan.

Program-program yang dimaksud adalah program yang tidak hanya meningkatkan 
pemahaman Anda, tetapi juga keterampilan Anda. Sekarang ini, sudah ada banyak 
kesempatan baik semacam ini yang dapat memperkaya pemahaman Anda dan 
mengembangkan talenta Anda seperti: seminar, kelas-kelas bagi pembina rohani, 
dan sebagainya. Tetapi, "program" yang paling penting adalah pemahaman Alkitab 
pribadi Anda. Aspek intelektual terhadap pemahaman Alkitab berarti memiliki 
pemahaman firman Tuhan yang kuat, dan kita menjadikan diri kita berada "dalam" 
firman itu dengan masuk ke dalamnya dan membiarkannya masuk ke dalam kita. 
Ketika firman Allah menjadi pusat pelayanan pengajaran, dampak yang 
ditimbulkannya sungguh luar biasa. Paulus mengingatkan kita tentang hal ini 
dalam 2 Timotius 2:2. Ia berkata kepada Timotius, "Apa yang telah engkau dengar 
dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang 
dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain. Inilah pelayanan 
pelipatgandaan. Setiap kali Anda mengajar, sebenarnya Anda sedang memulai suatu 
proses yang idealnya tidak pernah berakhir, dari generasi ke generasi.

3. Kenalilah murid-murid Anda.

Jadilah pakar yang mengerti berbagai kebutuhan dan karakteristik kelompok usia 
tertentu secara umum. Tetapi, jangan hanya itu. Kenalilah juga murid-murid Anda. 
Cari tahulah tentang diri mereka sebanyak mungkin. Ada sebuah pengalaman 
menarik. Seorang guru mempunyai buku kecil berwarna hitam. Di setiap halaman 
buku itu terdapat gambar kecil seorang anak, dan di bawah nama anak itu ada 
catatan-catatan seperti: "punya masalah dengan matematika", atau "datang ke 
gereja tanpa persetujuan orang tua", atau "ingin menjadi misionaris, tetapi 
merasa tidak mampu". Guru itu mendoakan halaman-halaman buku itu setiap hari. 
Sebagai seorang guru, kita sering kali menjuluki murid kita, "ia tidak pernah 
bicara", "ia pembuat onar," dan seterusnya. Namun, jangan pernah memberikan 
label anak seperti itu di leher seseorang.

Diringkas dari:
Judul buku: Mengajar untuk Mengubah Hidup
Judul bab: Hukum Pengajar (Teacher)
Judul asli artikel: Dimensi Intelektual
Penulis: Dr. Howard G. Hendriks
Penerbit: Gloria Graffa, Yogyakarta 2009
Halaman: 30 -- 34


STOP PRESS: BERGABUNGLAH DENGAN FACEBOOK E-BINASISWA

Apakah Anda rindu untuk mengetahui lebih dalam tentang dunia anak muda? Silakan 
bergabung dengan Facebook e-BinaSiswa. Anda akan mendapatkan berbagai informasi 
menarik seperti renungan, dan bisa saling berbagi pengalaman seputar pelayanan 
Pemuda dan Remaja. Penasaran?

Jadilah salah satu penggemar Facebook e-BinaSiswa dengan bergabung di 
< http://fb.sabda.org/binasiswa >


Kontak: binasiswa(at)sabda.org
Redaksi: Adiana, Bayu, dan Amidya
Berlangganan: subscribe-i-kan-untuk-siswa(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-untuk-siswa(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/e-binasiswa/arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2013 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org