Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binaanak/406

e-BinaAnak edisi 406 (5-11-2008)

Hubungan Gereja dengan Sekolah Minggu

 

___e-BinaAnak (Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak)____

  DAFTAR ISI EDISI 406/NOVEMBER/2008

  - SALAM DARI REDAKSI
  - ARTIKEL: Sekolah Minggu (Tidak) Penting?
  - TIPS: Cara Agar Pelayanan Anak Memberi Manfaat bagi Gereja
  - BAHAN MENGAJAR: Di Manakah Yesus Sebelum Dia Dilahirkan?
  - WARNET PENA: Situs Sunday School Sites: Memberikan Link Situs 
                 Sekolah Minggu Lengkap
  - MUTIARA GURU

______________________________________________________________________
o/ SALAM DARI REDAKSI o/

  Salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus,

  Terkadang, keberadaan sebuah pelayanan anak di beberapa gereja bisa 
  disikapi dengan cara yang berbeda. Jika ada gereja yang berpandangan 
  bahwa sekolah minggu dijalankan dengan rumus "asal" -- asal sekolah 
  minggu jalan atau asal anak-anak tidak mengganggu kebaktian orang 
  dewasa, maka hal tersebut akan menghambat perkembangan kerohanian 
  anak dan menimbulkan dampak lebih besar lagi bagi gereja. Lalu apa 
  yang bisa para pelayan anak lakukan dalam menyikapi hal tersebut? 
  Semoga sajian kali ini akan menjawab permasalahan itu.

  Selain tantangan kurang adanya perhatian dari gereja, masih ada lagi 
  tantangan-tantangan lain yang kerap kita jumpai dalam pelayanan 
  sekolah minggu. Bulan November ini, kami mengajak para Pelayan Anak 
  sekalian untuk membahasnya agar kita dapat menghadapi setiap 
  tantangan tersebut dengan penuh kemenangan. Berikut topik-topik yang 
  menjadi pembahasan e-BinaAnak sepanjang bulan November ini.
  
  1. Hubungan Gereja dengan Sekolah Minggu, 2. Motivasi dan Panggilan Guru Sekolah Minggu, 3. Keterbatasan Guru Sekolah Minggu; dan
  4. Memertahankan Murid Sekolah Minggu.

  Selamat mengikuti serangkaian sajian tersebut, semoga Tuhan Yesus 
  senantiasa memampukan hidup dan pelayanan kita. Jika ada rekan-rekan 
  yang memiliki kesaksian dalam menghadapi setiap tantangan dalam 
  pelayanan sekolah minggu, kami sangat menantikan kiriman e-mail Anda 
  agar dapat jadi berkat pula bagi rekan-rekan yang lain, yang juga 
  menghadapi tantangan yang sama. Kirimkan kesaksian anda ke:
  
  ==> binaanak(at)sabda.org

  Selamat membaca!

  Staf Redaksi e-BinaAnak,
  Kristina Dwi Lestari

   Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia
           yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
                           (Yohanes 4:34)
             < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Yohanes+4:34 >

______________________________________________________________________
o/ ARTIKEL o/

                  SEKOLAH MINGGU (TIDAK) PENTING?

  Jika kita bertanya kepada orang kristiani dewasa, "Apakah sekolah 
  minggu perlu atau penting?", apakah kira-kira jawaban mereka? 
  Kemungkinan besar jawabannya berkisar antara: "Oh, sangat perlu", 
  "Ya, anak-anak harus diajar mengenal Tuhan sejak kecil", atau 
  "Sekolah minggu harus diadakan". Pada dasarnya, mereka menganggap 
  pelayanan sekolah minggu perlu dan penting.

  Namun, apakah sikap yang memandang penting pelayanan anak itu
  terwujud dalam kenyataan? Dari pengamatan terhadap beberapa gereja,
  diketahui bahwa pada tataran praktik, keadaannya tidak seperti yang
  diungkapkan dengan kata-kata. Berikut adalah beberapa hal yang masih
  (kalau tidak mau dikatakan sangat sering) dijumpai di gereja-gereja
  berkaitan dengan pelayanan anak (sekolah minggu).

  1. Pelayanan Anak Diadakan Agar Anak-Anak Tidak Mengganggu Kebaktian
     Orang Dewasa

     Sikap seperti ini mungkin muncul dari praanggapan bahwa anak-anak
     tidak atau belum bisa berbakti. Sikap semacam ini memunyai
     implikasi de facto bahwa kebaktian anak tidaklah penting. Dengan
     kata lain, kebaktian orang dewasa teramat sangat penting,
     sehingga sedikit pun tidak diizinkan ada gangguan dari anak-anak.
     Mereka dipisahkan dari kebaktian orang dewasa bukan supaya dapat
     berbakti dengan lebih baik, melainkan agar kebaktian orang dewasa
     tidak terganggu. Lalu, apabila tempat kebaktian anak dekat dengan
     tempat kebaktian orang dewasa, maka anak-anak itu tidak diizinkan
     untuk memuji Tuhan dengan suara keras (yang menunjukkan kebebasan
     untuk memuji Tuhan) karena akan mengganggu kebaktian orang
     dewasa. Namun, apakah pernah terpikir bahwa puji-pujian dari
     kebaktian orang dewasa yang begitu keras bisa mengganggu      
     anak-anak untuk belajar firman Tuhan? Di sini tampaklah 
     ketidakadilan yang dilihat nyata oleh anak-anak.

  2. Fasilitas untuk Pelayanan Anak Tidak Memadai

     Ruangan yang dipakai untuk kebaktian anak kerap kali sempit dan
     tidak memadai. Bahkan ada gereja yang mengadakan kebaktian anak
     di bawah pohon. Atau di ruang bawah tanah (basement) yang
     merupakan tempat parkir sebuah hotel. Sedangkan kebaktian untuk
     orang dewasa diadakan di ruangan hotel yang luas dan nyaman
     karena adanya penyejuk ruangan.

     Selain itu, jarang ada alat musik untuk anak-anak. Sementara pada
     kebaktian orang dewasa, alat musik serta sistem suaranya sangat
     baik dan lengkap. Bukankah ini salah satu bentuk diskriminasi?
     Dalam kenyataannya, pelayanan anak dinomorsekiankan.

     Bangku-bangku yang digunakan di kebaktian anak biasanya juga
     bangku bekas yang sudah tidak dipakai lagi di kebaktian dewasa.
     Demikian juga peralatan musiknya. Bila kenyataannya demikian,
     bagaimana kita bisa mengajar anak-anak bahwa kebaktian itu
     menyenangkan?

  3. Pengajar Kurang Kompeten

     Banyak orang tidak mau mengajar di kebaktian anak. Itu sebabnya
     gereja sering kekurangan guru, padahal anggota jemaat banyak
     sekali. Dari antara mereka yang mau dan memiliki beban yang besar
     untuk pelayanan anak, banyak yang pengetahuan dan keterampilannya
     kurang memadai. Selain itu, banyak guru yang menyampaikan firman
     Tuhan tanpa persiapan.

     Memang sangat baik bila seseorang memiliki beban yang besar untuk
     pelayanan, apalagi pelayanan anak. Akan tetapi, para guru harus
     diperlengkapi atau memperlengkapi diri dengan keterampilan atau
     pengetahuan agar dapat menyampaikan berita sukacita kepada 
     anak-anak dengan lebih baik lagi.

  Masih ada banyak hal yang menunjukkan bahwa anak-anak tidak begitu
  diperhatikan. Pelayanan anak biasanya diberi prioritas terakhir di
  antara pelayanan-pelayanan yang lain. Inti masalah yang sebetulnya
  adalah pada cara memandang anak-anak yang kurang tepat. Banyak orang
  dewasa (dalam hal ini pengajar, gembala sidang, majelis gereja,
  dll.) yang memandang bahwa anak-anak belum bisa apa-apa: belum bisa
  mengerti firman Tuhan, belum bisa memuji Tuhan.

  Cara pandang seperti ini termanifestasi pada sikap atau kondisi guru 
  yang mengajar tanpa persiapan, tidak adanya pemikiran untuk menambah 
  fasilitas pelayanan anak, atau tidak adanya pemikiran untuk 
  mengadakan retret khusus untuk anak-anak. Yang diajarkan kepada anak 
  hanyalah cerita-cerita yang tidak membuat mereka mengenal Tuhan 
  lebih dalam atau menyadarkan kebutuhan mereka akan Juru Selamat.

  Cara pandang seperti ini perlu diubah karena masa kanak-kanak 
  merupakan masa yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Apa yang 
  diberikan atau dialami anak-anak dalam masa kanak-kanak bisa 
  berdampak sangat serius untuk anak itu kelak bila dewasa. Banyak 
  orang tua yang mengusahakan pendidikan formal sebaik mungkin untuk 
  anak-anak -- dimasukkan ke sekolah yang baik, dibelikan buku 
  pelajaran yang lengkap, dll.. Akan tetapi, apakah sikap memandang 
  penting pendidikan ini juga diterapkan dalam hal rohani? Kita harus 
  ingat bahwa anak-anak itu adalah calon-calon pemimpin bangsa dan 
  juga masa depan gereja. Kepemimpinan gereja di masa yang akan datang 
  ada di tangan mereka.

  Pandangan umum bahwa pelayanan anak kurang begitu penting juga
  memengaruhi pandangan orang terhadap pelayan anak. Suatu kali,
  MEBIG Jepang dan MEBIG Indonesia diminta untuk melayani KKR anak di
  suatu kota besar. Seusai acara, semua panitia sepertinya terpaku
  pada acara sehingga melupakan kami yang telah melayani. Setelah
  turun dari panggung pun, tidak ada yang menyalami dan mengucapkan
  terima kasih. Lalu kami menunggu panitia yang akan mengantar pulang
  ke penginapan, tetapi tak seorang pun muncul. Kemudian kami menunggu
  di tempat parkir sambil harus mengisap asap knalpot yang tebal,
  namun tetap tidak ada seorang pun yang datang. Akhirnya kami mencoba
  menghubungi saudara kami yang juga menjadi panitia (pada seksi lain,
  bukan transportasi), dan meminta agar seseorang dapat mengantar kami
  dengan mobilnya. Sampai kami berangkat ke kota lain untuk pelayanan
  berikutnya, tak seorang pun panitia yang datang untuk mengucapkan
  terima kasih dan melepas kami dengan ucapan selamat jalan. Baru saat
  kami sudah ada di dalam mobil yang kami sewa sendiri, ada telepon
  yang masuk ke telepon genggam kami, dari salah seorang panitia
  tersebut.

  Saat itu, kami sebagai orang Indonesia merasa malu kepada mitra
  pelayanan kami yang jauh-jauh datang dari Jepang dengan biaya
  sendiri untuk melayani kita orang Indonesia. Kami membayangkan
  seandainya kami adalah rombongan pembicara untuk orang dewasa yang
  sudah terkenal, mungkin banyak orang akan menemui kami untuk
  mengajak makan atau menginap di rumahnya.

  Menurut Pendeta Gonbei, hal menomorsekiankan pelayanan anak mungkin
  timbul karena gereja memegang konsep praktis yang umum dipegang oleh
  kalangan di luar gereja, yaitu tidak membiarkan adanya pemborosan
  dan kerugian.

  Tidak Membiarkan Adanya Pemborosan

  Secara sadar atau tidak, banyak gereja beranggapan bahwa
  mengeluarkan banyak uang untuk pelayanan anak merupakan pemborosan.
  Mengeluarkan banyak uang untuk menyediakan alat musik, ruang kelas
  yang memadai, dan juga hal lain untuk pelayanan anak adalah
  pemborosan. Mengeluarkan banyak uang untuk menyelenggarakan retret
  anak-anak adalah pemborosan. Sikap yang tidak mengizinkan adanya
  "pemborosan" ini pun kita temukan pada Markus 14:4, yaitu ketika
  seorang perempuan mencurahkan minyak narwastu ke kepala Yesus. Waktu
  itu ada orang yang gusar dan berkata, "Untuk apa pemborosan minyak
  narwastu ini?" Di sini tampak jelas bahwa masalah ekonomi bisa
  mengalahkan urusan yang berdampak pada kekekalan.

  Terlalu Perhitungan

  Sikap terlalu perhitungan sering menghinggapi gereja. Segala sesuatu
  selalu didasarkan pada prinsip untung dan rugi. Berdasarkan prinsip
  ini, jelas pelayanan anak adalah pelayanan yang merugi secara
  ekonomi. Berapa banyak uang persembahan anak-anak? Sudah pasti
  jumlahnya tidak cukup untuk menyewa ruangan yang baik, membeli
  gitar, atau membiayai hamba Tuhan.

  Karena kontribusi persembahan anak-anak ini sangat kecil untuk
  gereja, maka dapatkah gereja disalahkan jika menyediakan fasilitas
  sesuai dengan kontribusinya? Tentu tidak salah jika acuannya adalah
  berapa banyak keuntungan yang dapat diberikan anak-anak melalui
  pelayanan anak. Namun, benarkah demikian seharusnya kita mengelola
  pelayanan ini?

  Sikap seperti ini memang sering mewarnai gereja yang ditebus oleh
  Tuhan Yesus. Jika tidak memberikan kontribusi yang layak, maka tidak
  perlulah terlalu diperhatikan. Semua tindakan harus dilakukan
  berdasarkan perhitungan untung rugi. Namun, bagaimana seandainya
  Yesus juga melakukan analisis untung rugi (cost benefit analysis)
  sebelum Dia mau disalibkan, apakah kita akan diselamatkan?

  Lihat saja dalam kehidupan sehari-hari. Untuk urusan sekolah,
  orang tua mau mengeluarkan banyak uang untuk membeli buku, membayar
  guru privat, membeli komputer, dll.. Dalam hal ini, apakah orang tua
  menggunakan perhitungan untung rugi secara murni? Tentu tidak.
  Mereka melihat masa depan yang akan dijalani oleh anak-anak itu.
  Mereka harus diberi bekal agar kelak dapat menghidupi dirinya dan
  keluarganya. Bukankah pelayanan untuk anak-anak juga harus dipandang
  demikian? Anak-anak harus dipersiapkan untuk menerima Yesus Kristus,
  yang akan sangat memengaruhi masa-masa setelah hidupnya di dunia
  ini berakhir. Berapa lamakah kehidupan setelah kematian bila
  dibandingkan dengan kehidupan di dunia ini? Bila untuk kehidupan di
  dunia yang rentang waktunya tidak panjang seseorang mau berkorban
  banyak, bukankah seharusnya kita mau berkorban untuk kehidupan yang
  kekal?

  Cara pandang yang meremehkan anak-anak atau pelayanan anak ini perlu
  diubah. Jika tidak, gereja akan kehilangan berkat Tuhan. Sikap
  munafik, yaitu lain di mulut lain di hati, atau lain di tindakan,
  harus segera dihentikan. Tuhan tidak menyukai sikap seperti ini
  dalam gereja-Nya.

  Pelayanan anak memiliki nilai yang strategis dan karena itu perlu
  dilakukan. Beberapa nilai penting dalam pelayanan anak dapat
  dijelaskan sebagai berikut.

  1. Program untuk Penginjilan

  Pelayanan anak jelas berkaitan dengan program penginjilan.
  Sebagaimana halnya orang dewasa, anak-anak juga membutuhkan
  Juru Selamat. Oleh karena itu, pelayanan anak perlu dilakukan dengan
  serius karena berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia. Ingat,
  anak-anak juga seorang manusia yang utuh walaupun belum dewasa.

  Berkaitan dengan itu, maka pelaksanaan kebaktian anak harus 
  diusahakan sedemikian rupa sehingga anak-anak dapat mendengar firman 
  Tuhan dengan baik. Dari situ, mereka diarahkan kepada keyakinan 
  bahwa mereka adalah orang berdosa yang membutuhkan Juru Selamat, 
  yakni Yesus Kristus. Pengajaran yang hanya berkisar pada masalah 
  moral atau menekankan segi pengetahuan saja, tidak akan membawa 
  anak-anak menyadari perlunya Juru Selamat. Pengetahuan secara 
  intelektual tidak akan membuat anak-anak berubah. Manusia, termasuk 
  anak-anak, dapat mengalami perubahan hidup apabila disentuh oleh 
  kasih Tuhan dan mengetahui bahwa dirinya dikasihi Tuhan.

  Selain itu, anak-anak dapat menjadi pemberita Injil bagi orang-orang 
  di keluarganya. Apa yang didengar anak-anak di sekolah minggu bisa 
  diceritakannya kembali kepada orang tua, nenek kakek, dan   
  saudara-saudaranya di rumah. Dengan cara seperti ini, orang tua yang 
  tidak pernah ke gereja atau yang tidak pernah mendengar berita 
  tentang Yesus dapat mendengarnya dari mulut anak-anak ini.

  Acara-acara lain yang dilakukan dalam pelayanan anak dapat pula
  menjadi arena penyampaian berita sukacita. Gereja Baptis Airin, di
  Sapporo, memunyai program operet setiap tahun. Dalam setiap
  pementasan, acara ini bisa dihadiri oleh ribuan orang dewasa yang
  kebanyakan adalah orang tua atau keluarga anak-anak sekolah minggu.
  Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang nonkristiani.

  2. Program untuk Pertumbuhan

  Program ini ditujukan untuk membantu anak-anak bertumbuh secara
  rohani. Seperti pada segi fisik, pertumbuhan rohani anak-anak
  biasanya juga lebih cepat daripada orang dewasa. Mereka dapat
  dilatih untuk memiliki kebiasaan membaca firman Tuhan, berdoa, dan
  memuji Tuhan. Anak-anak yang sudah besar bisa diminta untuk membaca
  Alkitab sendiri di kebaktian anak. Mereka juga bisa diminta membantu
  melakukan sesuatu untuk anak-anak yang lebih kecil atau tugas lain.
  Dengan kata lain, mereka dapat dijadikan mitra pelayanan guru-guru.

  3. Program Penyerahan Diri

  Banyak orang tidak percaya bahwa anak-anak juga dapat menyerahkan 
  diri untuk melayani Tuhan. Di Gereja Airin, Sapporo, Jepang, yang 
  memperkenalkan metode pelayanan MEBIG (Memory, Bible, Game) ini, 
  anak-anak dapat menjadi pemimpin pujian atau MC (Master of Ceremony) 
  dalam kebaktian. Mereka bisa melayani dengan cara membagi traktat 
  dan membersihkan gereja. Selain itu, di gereja ini juga selalu 
  diadakan retret untuk anak-anak. Dari acara inilah lahir jiwa-jiwa 
  yang menetapkan hati untuk menjadi pendeta atau penginjil setelah 
  dewasa.

  Pelayanan anak sangatlah penting, karena pelayanan ini akan menjadi 
  dasar bagi perkembangan kerohanian seorang anak yang kelak menjadi 
  dewasa. Pelayanan anak yang dilaksanakan dengan baik akan 
  menyediakan sumber daya yang penting bagi gereja. Pelayanan anak 
  yang dilaksanakan dengan baik akan menyediakan calon-calon pemimpin 
  bagi pertumbuhan dan penyelenggaraan gereja. Anak-anak adalah masa 
  depan gereja. Jika pelayanan anak dilakukan dengan baik, maka 
  pelayanan-pelayanan lain sesudah masa kanak-kanak, seperti remaja, 
  pemuda, dan dewasa, akan lebih mudah dilaksanakan.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Menciptakan Sekolah Minggu yang Menyenangkan
  Penulis: Sudi Ariyanto & Helena Erika
  Penerbit: Gloria Graffa, Yogyakarta 2005
  Halaman: 38 -- 50

______________________________________________________________________
o/ TIPS o/

  Tips berikut memaparkan pentingnya pelayanan anak bagi perkembangan 
  gereja. Kiranya beberapa masukan praktis akan membantu para pelayan 
  anak, pendeta, dan jemaat untuk semakin memberikan perhatian penuh 
  bagi perkembangan pelayanan anak di tempat Anda. Selamat mencoba!

        CARA AGAR PELAYANAN ANAK MEMBERI MANFAAT BAGI GEREJA

   1. Pelayanan anak membantu gereja untuk menguatkan iman. Pelayanan
      anak bisa membantu gereja untuk mengajar generasi penerus secara
      langsung.
      Tips: Bekerja samalah dengan pendeta Anda untuk membuat rencana  
            yang luas dan urutan yang panjang saat Anda membahas 
            kurikulum sekolah minggu.

   2. Pelayanan anak bisa membawa keluarga-keluarga baru ke gereja.
      Tips: Pahami peranan pelayanan dalam membuka pintu bagi
            demografis ini dan buatlah tujuan untuk setiap program.

   3. Pelayanan anak memberi kesempatan kepada kita untuk menggunakan
      talenta dan karunia rohani kita. Membuat pelayanan yang 
      potensial untuk orang awam sering kali menjadi kunci bagi 
      pertumbuhan gereja.
      Tips: Libatkan sukarelawan baru di gereja dalam pelayanan.
            Latihlah mereka, doronglah dan lihatlah karya Allah dalam
            mereka.

   4. Pelayanan anak melatih pemimpin gereja di masa yang akan datang.
      Kita harus mengharapkan anak-anak yang tumbuh dalam pelayanan
      kita, akan menjadi pemimpin di gereja dan di dunia.
      Tips: Libatkan anak-anak dalam kesempatan pelayanan. Libatkan
            anak-anak dalam pelayanan lain sesering mungkin.

   5. Pelayanan anak menyediakan pembelajaran yang diperlukan setiap
      saat untuk pelayanan para sukarelawan. Kadang-kadang orang
      dewasa belajar sebanyak anak-anak.
      Tips: Doronglah orang dewasa untuk belajar satu alasan mengapa
            mereka melakukan pelayanan.

   6. Pelayanan anak meningkatkan kepedulian komunitas gereja melalui
      kegiatan-kegiatan istimewa.
      Tips: Pemahaman yang mendalam tentang kegiatan-kegiatan yang
            diadakan bisa menciptakan hal-hal positif bagi gereja
            secara keseluruhan.

   7. Pelayanan anak menolong gereja untuk berjalan dengan lebih baik.
      Pelayanan anak yang berkualitas memberi kesempatan kepada orang
      tua untuk berpartisipasi secara penuh di pelayanan kebaktian di
      gereja. Sedangkan pelayanan kita lebih dari sekadar perawatan
      anak, maka ini merupakan manfaat yang jelas bagi gereja.
      Tips: Berikan pelayanan yang terbaik untuk membantu orang tua
            bisa banyak terlibat di gereja.

   8. Pelayanan anak membantu membangun pelayanan pemuda yang kuat.
      Kita harus berharap bahwa anak-anak yang bertumbuh di pelayanan
      kita, akan menjadi pemimpin dalam pelayanan anak.
      Tips :Jalinlah kerja sama yang erat dengan pelayanan pemuda
            dengan tujuan-tujuan yang umum dan rencana pemuridan yang
            luas.

   9. Hadirnya anak-anak membantu pendeta untuk tetap menyampaikan 
      kabar sukacita dengan sederhana. Khotbah yang Anda sampaikan 
      akan bermanfaat bila disampaikan kepada anak-anak.
      Tips: Sediakan waktu rutin saat anak-anak datang mengikuti
            kebaktian.

  10. Kehadiran anak-anak membawa sukacita ke seluruh jemaat.
      Anak-anak merupakan anugerah dari Tuhan dan teman-temannya akan
      menghidupkan persekutuan.
      Tips: Libatkan anak-anak dalam kehidupan gereja, khususnya
            dalam bagian kebaktian pujian.

  11. Kehadiran anak-anak mengingatkan jemaat bahwa semua orang
      diciptakan segambar dengan Allah. Keluguan dan kreativitas
      anak-anak mengingatkan kita semua bahwa manusia diciptakan untuk
      menjadi kudus dan bahagia.
      Tips: Ajaklah anak-anak untuk menampilkan musik istimewa atau
            berdoa di depan jemaat.

  12. Kehadiran anak-anak memberi contoh kepada orang dewasa beberapa
      kenyataan hidup dari iman anak.
      Tips: Ceritakan tentang anak-anak dan kepercayaan mereka yang
            polos kepada Tuhan. Ini akan menjadi pendorong bagi orang
            percaya segala usia.

  13. Kehadiran anak-anak membantu gereja belajar mengadakan jenis
      musik yang berbeda. Ini merupakan satu langkah terhadap
      keberagaman jenis musik.
      Tips: Bantulah koordinator musik memilih lagu-lagu yang disukai
            anak-anak.

  14. Kehadiran anak-anak memberikan rasa kekaguman dan harapan akan
      masa depan.
      Tips: Buatlah suatu visi mengenai betapa Allah memberkati
            generasi yang akan datang.

  15. Pelayanan anak membawa sukacita bagi gereja. Setiap orang senang
      melihat anak-anak bertumbuh. Pelayanan anak membantu pertumbuhan
      itu bila kita terus mengajak anak-anak untuk berada di dalam
      jemaat.
      Tips: Gunakan majalah dinding untuk menunjukkan pertumbuhan
            sekolah minggu Anda melalui foto-foto kegiatan sekolah
            minggu.

  16. Pelayanan anak memberi kesempatan kepada orang dewasa untuk
      menjadi kakek atau nenek rohani.
      Tips: Rencanakanlah acara khusus atau adakan program kakek atau
            nenek rohani.

  17. Pelayanan anak memberi jalan bagi gereja-gereja untuk saling
      bekerja sama.
      Tips: Pertimbangkan untuk membuat rencana kerja sama. Misalnya,
            tim bola basket atau sekolah Alkitab liburan dengan
            gereja-gereja di sekitar Anda.

  18. Para sukarelawan mendapat manfaat dari persekutuan dengan jemaat
      lain. Bekerja sama dalam suatu program pelayanan membantu orang
      lain menjalin hubungan.
      Tips: Jadikan persekutuan sebagai kunci utama dalam pertemuan
            dengan mereka yang terlibat dalam pelayanan Anda.
            Doronglah para sukarelawan untuk bersama-sama melakukan
            pelayanan yang terus berkembang dari tahun ke tahun.

  19. Sukarelawan menerima pelatihan formal dan pengetahuan tambahan
      dalam bidang pastoral.
      Tips: Sediakan waktu dan tenaga untuk mengadakan pelatihan.
            Ajaklah mereka untuk bersedia datang.

  20. Pelayanan anak memberi konteks bagi wanita untuk menggunakan
      karunia mengajar dan kepemimpinan mereka.
      Tips: Doronglah seluruh sukarelawan Anda (termasuk para wanita)
            untuk benar-benar membangun kemampuan mengajar mereka.

  21. Pelayanan anak mendorong orang-orang yang artistik untuk
      membagikan talenta mereka.
      Tips: Doronglah sukarelawan yang bisa menolong dalam membuat
            kerajinan untuk mengadakan suatu proyek lebih lanjut.

  22. Pelayanan anak memberi kesempatan kepada mereka yang berbakat
      dalam bidang musik untuk membagikan kemampuan mereka. Pelayanan
      anak membutuhkan kesabaran yang besar dan karisma untuk memimpin
      anak-anak menyembah Tuhan melalui musik.
      Tips: Carilah orang-orang berbakat yang Tuhan tunjuk di jemaat
            Anda yang ingin terlibat dalam pelayanan anak.

  23. Pelayanan anak memberi kesempatan kepada mereka yang berbakat
      dalam memasak untuk membagikan karunia mereka.
      Tips: Rencanakan untuk membuat kue ulang tahun untuk anak-anak
            sekolah minggu.

  24. Pelayanan anak membantu mereformasi keluarga dan gereja.
      Tips: Sediakan sumber-sumber yang berkualitas untuk keluarga,
            misalnya panduan penyembahan untuk ibadah keluarga dan
            katekisasi. (t/Ratri)

  Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
  Nama situs: Children’s Ministry Online
  Judul asli artikel: 24 Ways Children’s Ministry Benefits The Church
  Penulis: Tony Kummer
  Alamat URL: http://ministry-to-children.com/benefits/

______________________________________________________________________
o/ BAHAN MENGAJAR o/

               DI MANAKAH YESUS SEBELUM DIA DILAHIRKAN?

  Pada hari Natal, kita menyanyikan lagu yang menyatakan bahwa Yesus
  lahir di sebuah palungan, dan kita membaca bagaimana para malaikat
  dan gembala dan orang majus begitu gembira karena Ia lahir.

  Tetapi apakah kamu tahu bahwa Yesus telah hidup dan ada bersama
  Bapa-Nya di surga selama jutaan tahun sebelum Dia lahir di
  Bethlehem pada malam itu? Dia telah ada di surga bersama Allah
  karena Dia adalah Allah. Di surga ada jutaan malaikat yang tunduk
  kepada-Nya, menyanyikan lagu-lagu yang indah bagi-Nya atas kemuliaan
  dan kebaikan-Nya.

  Suatu hari, saat Dia ada di surga, Dia menciptakan dunia; dan di 
  hari lain, Dia menciptakan Adam dan Hawa. Tetapi Adam dan Hawa tidak 
  taat kepada Allah dan menjadi berdosa. Mereka harus dihukum, tetapi 
  Yesus tidak ingin mereka dihukum. Dia tidak ingin kamu dihukum. Dia 
  berkata, "Aku akan turun ke bumi dan mati, dan dihukum atas dosa 
  mereka."

  Hari itu akhirnya tiba saat Tuhan Yesus meninggalkan surga dan
  jutaan malaikat yang mengasihi Dia, dan Dia turun ke dunia ini dan
  dilahirkan. Tetapi dia tidak benar-benar seperti bayi lainnya karena
  Dia adalah Allah. Betapa Yesus mengasihi kita sehingga Ia mau
  menjadi bayi kecil, tumbuh besar, lalu mati untuk bagi kita!

  Seorang pria berusia lebih dari 90 tahun bertanya kepada pendetanya,
  "Temanku, apakah engkau mengasihi Yesus?"

  Pria berwajah keriput itu tersenyum, karena dia telah mengasihi
  Yesus selama 67 tahun. Dia memegang tangan pendetanya dan berkata,
  "Oh, aku bisa mengatakan yang lebih baik kepadamu."

  Pendeta itu bertanya, "Apa itu?"

  "Pak, Dia mengasihi saya. Dia mengasihi saya saat Dia ada bersama
  Allah di surga sebelum Dia datang lahir sebagai bayi di Bethlehem.
  Dia mengasihi saya sekarang, dan Dia akan mengasihi saya selamanya,
  setelah saya mati dan ke surga bersama dengan Dia."

  Ayat bacaan: Yohanes 14:1-12

  Pertanyaan:
  -----------
  1. Apakah kamu tahu berapa tahun yang lalu Yesus dilahirkan di
     Bethlehem, di pagi hari, pada Natal yang pertama? Bila tidak,
     tanyakan pada ayah dan ibumu.
  2. Di manakah Yesus sebelum Dia dilahirkan?
  3. Mengapa Yesus memutuskan untuk meninggalkan surga, kemudian 
     datang, dan lahir di dunia?
  4. Apakah Yesus mengasihimu?
  5. Apakah kamu mengasihi Yesus?

  Doa
  ---
  Tuhan Yesus, terima kasih Engkau dari surga-Mu datang ke dunia dan
  berada di dunia ini selama beberapa tahun. Terima kasih Engkau mau
  datang dan mati bagi kami. Tolong kami supaya kami bisa hidup untuk
  Engkau. Di dalam nama-Mu kami berdoa. Amin. (t/Ratri)

  Diterjemahkan dari:
  Judul buku: Devotions for the Children`s Hour
  Judul asli artikel: Where Was Jesus Before He Was Born
  Penulis: Kenneth N. Taylor
  Penerbit: Moody Press, Chicago 1977
  Halaman: 73 -- 75

______________________________________________________________________
o/ WARNET PENA o/

                     SITUS SUNDAY SCHOOL SITES:
             MEMBERIKAN LINK SITUS SEKOLAH MINGGU LENGKAP
                  http://littleblots.com/TopSites/

  Untuk menambah referensi Anda tentang situs penyedia bahan pelayanan 
  anak, situs Sunday School Sites menyediakan beberapa link situs 
  penyedia bahan sekolah minggu bagi Anda. Referensi situs yang 
  diberikan cukup lengkap, di antaranya situs Children`s Church 
  Ministry, situs Ministry-To-Children.com, situs Cyberspace     
  Ministry-Free Christian Games, dan sembilan belas link situs 
  pelayanan anak lainnya. Untuk melihat selengkapnya, silakan 
  berkunjung ke alamat di atas.

  Oleh: Kristina (Redaksi)

______________________________________________________________________
o/ MUTIARA GURU o/

                Anak-anak adalah masa depan gereja!

______________________________________________________________________

Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke redaksi:
<binaanak(at)sabda.org> atau <owner-i-kan-binaanak(at)hub.xc.org>
______________________________________________________________________

Pemimpin Redaksi: Davida Welni Dana
Staf Redaksi: Kristina Dwi Lestari dan Christiana Ratri Yuliani
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2008 -- YLSA
http://ylsa.org/ ~~ http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________

Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan: <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Alamat berhenti: <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Arsip e-BinaAnak: http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen: http://pepak.sabda.org/

Bergabunglah dalam Network Anak di Situs In-Christ.Net:
http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_anak

______________PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN GURU_______________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org