Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binaanak/242

e-BinaAnak edisi 242 (18-8-2005)

Kehidupan Rohani Anak dalam Pembacaan Firman Tuhan

     ><>  Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak  <><
          ==================================================

Daftar Isi:                                     Edisi 242/Agustus/2005
----------
  o/ SALAM DARI REDAKSI
  o/ ARTIKEL (1)         : Hambatan bagi Anak dalam Memahami Alkitab
  o/ ARTIKEL (2)         : Alkitab dan Anak-anak
  o/ TIPS                : Mengajarkan Kebenaran Alkitab
  o/ DARI ANDA UNTUK ANDA: Tanya Arsip e-BinaAnak
  o/ MUTIARA GURU

o/----------------------------------------------------------------o/
 Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
  <staf-BinaAnak(at)sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
______________________________________________________________________
o/ SALAM DARI REDAKSI --------------------------------------------o/

  Salam kasih dalam penyertaan Yesus Kristus,

  Jika Anda ingin menumbuhkan kesukaan anak untuk membaca Firman
  Tuhan, maka ada harga yang harus dibayar, karena kesukaan membaca
  Firman Tuhan tidak dapat tumbuh dengan sendirinya. Sebagai langkah
  pertama, mereka harus terlebih dahulu belajar untuk mengenal
  Alkitab, sebisa mungkin harus dimulai sejak masih kecil, bahkan
  sebelum bisa membaca. Tapi, mungkin Anda berkata, "Saya sudah
  mencobanya, tapi tidak berhasil." Nah, bagi para guru dan orangtua
  yang mengalami hal yang sama, seluruh sajian edisi e-BinaAnak minggu
  ini akan mengajak kita semua, para pendidik Kristen, guru SM,
  orangtua, ataupun guru agama Kristen untuk melihat faktor-faktor
  yang menjadi hambatan dan juga apa saja yang perlu diperhatikan
  ketika kita mengajarkan dan mengenalkan Alkitab kepada anak-anak.
  Harapan kami, dengan mempelajari bahan-bahan ini Anda akan semakin
  trampil untuk membawa anak-anak mengenal Firman Tuhan lebih dekat
  lagi, dan tidak memperlakukan Alkitab sekadar sebagai bacaan biasa.
  Selamat mengajar! (Dav)

  Tim Redaksi

    "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk
       mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki
         kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."
                           (2Timotius 3:16)
         < http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=2Timotius+3:16 >

______________________________________________________________________
o/ ARTIKEL (1) ---------------------------------------------------o/

          -o- HAMBATAN BAGI ANAK DALAM MEMAHAMI ALKITAB -o-
              =========================================

  Anak-anak dapat dengan mudah mengembangkan perasaan positif mengenai
  Alkitab meskipun mereka amat sedikit memahaminya. Anak-anak
  diberitahu bahwa Alkitab itu penting, dan mereka menerima penilaian
  orang dewasa. Namun, istilah-istilah simbolis seperti "pelita",
  "pedang", dan "roti", yang tertulis dalam Alkitab, sering
  menimbulkan kesukaran bagi anak-anak. Mereka cenderung berpikir
  secara harafiah. Anak-anak yang agak besar pun mudah bingung kecuali
  diberi penjelasan. Seringkali anak memilih faktor-faktor yang tidak
  penting sebagai ciri utama. Penampilan Alkitab secara fisik,
  usianya, bahasa yang dipakainya di gereja, semua itu bagi anak
  merupakan suatu kualitas unik dan membuat Alkitab itu menjadi begitu
  penting. Anak memiliki pengertian minim atau bahkan sama sekali
  tidak mengenai bagaimana terjadinya Alkitab, kecuali pengertian yang
  samar bahwa Allah yang menulisnya. Karena Alkitab merupakan sarana
  yang dipakai untuk mengkomunikasikan konsep-konsep kekristenan
  kepada anak, maka kekeliruan konsep mengenai Alkitab dapat
  mempengaruhi konsep-konsep dan perasaan lainnya.

  Satu masalah dalam penggunaan Alkitab bagi anak-anak kecil muncul
  karena usaha-usaha untuk mengajarkan Alkitab sebagai suatu pokok
  yang terpisah. Orang dewasa sering memaksatanamkan kesan pada anak
  akan pentingnya informasi tertentu. Jadi, cerita-cerita dan
  pernyataan-pernyataan dalam Alkitab sering diberi kata pengantar
  atau komentar agar anak-anak memperhatikan dengan sungguh-sungguh
  apa yang dikatakan. Dalam banyak hal, mungkin cukup efektif jika
  hanya dinyatakan bahwa peristiwa itu sungguh-sungguh terjadi, dan
  biarkan cerita Alkitab menyatakan kebajikannya sendiri. Lebih dari
  itu, yakni menyelubungi kisah-kisah dalam Alkitab dengan menjadikan
  tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa begitu uniknya, sehingga anak
  tidak dapat mengidentifikasikan dirinya dengan semua itu, sering
  membuat anak menganggap bahwa tokoh-tokoh dalam Alkitab berbeda
  dengan yang selama ini mereka ketahui.

  KESENJANGAN SEJARAH DAN BUDAYA

  Hambatan utama bagi anak kecil untuk memahami Alkitab adalah adanya
  kesenjangan sejarah dan budaya yang amat besar antara pengalaman
  anak masa kini yang terbatas dengan kejadian dalam cerita-cerita
  Alkitab. Misalnya, kebanyakan anak yang berusia di bawah enam tahun
  sukar untuk mengingat peristiwa yang baru mereka alami sendiri.
  Karena itu, meminta mereka memiliki gambaran akurat secara mental
  mengenai kisah-kisah Alkitab merupakan tuntutan yang berlebihan.
  Anak, yang pola pikirnya cenderung berpusat pada diri sendiri,
  menganggap setiap orang juga hidup seperti yang dialaminya. Ia juga
  merasa yakin bahwa orang lain memandang semua situasi dengan cara
  pandang yang sama dengan dirinya. Terkadang usaha untuk menjelaskan
  beberapa perbedaan gaya hidup, perilaku, dan cara berpikir hanya
  akan menambah masalah, karena anak cenderung memutarbalikkan
  informasi untuk disesuaikan dengan pandangan hidupnya.

  Misalnya, banyak cerita Alkitab yang terjadi di sekitar sumur,
  kehilangan maknanya bagi anak yang tidak dapat membayangkan apa itu
  sumur karena ia hidup dengan air ledeng. Juga, kebanyakan keluarga
  yang ada dalam Alkitab tampaknya agak kurang nyata bagi anak-anak
  yang pengalaman keluarganya terbatas pada pola keluarga kecil dengan
  sedikit anak, ibu yang bekerja, dan seringkali, tidak adanya ayah
  dalam keluarga itu. Upacara persembahan korban di Tabernakel atau
  Bait Suci amat asing bagi anak zaman sekarang. Dan, kesan serta
  pelajaran apa yang bisa diterima anak usia empat tahun mengenai
  cerita peperangan di kitab-kitab Perjanjian Lama?

  Menggabungkan budaya yang berbeda merupakan hal yang amat sukar bagi
  anak yang belum mengerti mengenai kurun waktu. Bagi anak yang
  menggabungkan semua ingatannya dalam istilah "kemarin" atau "kemarin
  malam", ruang lingkup kronologi Alkitab sungguh amat rumit baginya.
  Anak yang kehidupannya didominasi oleh masa kini dan memiliki
  kesadaran yang amat minim akan kehidupannya sendiri sejak bayi,
  sukar untuk berpikir tentang Yesus sebagai bayi, lalu tumbuh menjadi
  anak dan laki-laki dewasa. Anak kecil yang mencoba menggambarkan
  bayi Musa, sang pemimpin bangsa Israel menyeberangi Laut Merah dalam
  keranjang yang dibuat oleh ibunya, harus memakai semua kekuatan
  mental untuk membuat setiap informasi yang diperolehnya cocok.
  Bahkan, sampai usia Sekolah Dasar, anak-anak masih sukar memahami
  tokoh dan kejadian mana yang terjadi sebelum atau sesudah Yesus,
  apalagi perbedaan yang amat besar dalam hal adat istiadat, nilai-
  nilai, dan pola-pola ibadah dalam periode sejarah Alkitab yang
  berbeda-beda.

  PERBENDAHARAAN KATA

  Kesukaran lain bagi anak adalah masalah perbendaharaan kata yang ada
  dalam Alkitab. Nama-nama Alkitab, misalnya, seringkali membuat
  tokoh-tokohnya tampak aneh bagi anak. Juga, susunan kata-kata kuno
  dalam Alkitab versi King James cenderung membuat orang-orang dan
  peristiwa-peristiwa menjadi kabur. Banyak kata dalam Alkitab yang
  sebenarnya penting, tetapi sukar dimengerti anak.

  Seorang guru sedang bercerita kepada sekelompok anak usia lima tahun
  tentang kisah orang Samaria yang baik hati. Untuk melibatkan mereka,
  ia bertanya apakah mereka tahu apa yang dimaksud dengan "perampok".
  Setiap tangan diacungkan, karena mereka semua mendengar istilah itu
  berulang kali di televisi. Namun, tak seorang anak pun dapat
  memberikan jawaban yang benar. Guru itu merasa heran dan bingung,
  karena "perampok" bukanlah kata yang sukar dalam kisah itu. Tetapi
  nyatanya, tak seorang anak pun mengerti istilah itu. Dengan
  demikian, mereka kehilangan banyak makna mengenai kisah tersebut.

  Kesalahpahaman semacam ini menimbulkan persoalan lain, yaitu
  kemampuan yang tampaknya bisa dikuasai anak, ternyata tidak dipahami
  sepenuhnya. Anak memiliki keinginan untuk dapat tetap hidup dalam
  dunia yang berada jauh di luar kemampuan berpikirnya. Dan, keadaan
  ini tampaknya telah memaksa anak untuk mengembangkan keahlian
  beraktingnya, sehingga ia dapat bersikap seolah mengerti sesuatu
  padahal sebenarnya tidak. Kelompok paduan suara dapat menggambarkan
  hal ini. Tiap anak bisa tampak ikut menyanyi dengan bersemangat,
  dengan suara yang tampak sudah terlatih baik. Tetapi, dengan
  memisahkan setiap orang dari kelompok itu, seringkali baru diketahui
  kalau ada anak yang tidak bisa menyanyi dengan baik. Anak yang tidak
  tahu syairnya, dapat mengeluarkan suara yang terdengar sama seperti
  yang dinyanyikan anak-anak lain. Yang mengherankan, anak itu dapat
  tampil sedemikian yakin dan tidak tampak bahwa sebenarnya ia tidak
  dapat menyanyi dengan baik.

  Di lingkungan Kristen kesalahpahaman ini merupakan masalah yang
  serius. Anak, karena tidak mampu memahami arti sebuah kata, frasa,
  atau gagasan, namun tidak sadar bahwa ia keliru, akan menjawab
  dengan kata-kata yang pernah didengarnya dari orang dewasa atau anak
  lain. Orangtua dan guru menunjukkan rasa senang ketika mendengar
  anak bisa mengucapkan kata dengan susunan yang benar. Mereka jarang
  mendesak lebih jauh untuk menemukan apakah anak itu benar-benar
  mengerti apa yang diucapkannya atau tidak.

  PROSES MENGHAFAL

  Menghafal tanpa berpikir juga dapat menambah kesukaran anak dalam
  memahami Alkitab. Orang dewasa yang rajin dan penuh semangat
  seringkali berusaha keras memaksa anaknya menghafal sesuatu "yang
  akan dimengertinya kelak". Atau, mereka menganggap anak itu mengerti
  karena bagi mereka arti ayat-ayat itu begitu jelas. Oleh karena
  itulah, si anak dapat mengucapkan kata-kata itu. Orang dewasa merasa
  bangga. Tetapi anak itu mungkin tidak memiliki pemahaman yang
  sesungguhnya. Kata-kata, ungkapan, dan gagasan yang tak ada
  hubungannya dengan pengalaman anak pada saat itu, memiliki sedikit
  arti, atau bahkan tidak sama sekali, baik pada saat itu maupun pada
  masa yang akan datang.

  SIMBOLISME

  Simbolisme atau perumpamaan merupakan kesukaran lain bagi anak dalam
  memahami Alkitab. Banyak konsep Alkitab yang diungkap melalui
  perumpamaan dan alegori yang bagi orang dewasa memiliki arti
  penting, namun bagi anak-anak sering menimbulkan kebingungan sebab
  pikiran mereka didominasi oleh pengertian secara harfiah. Misalnya,
  anak yang masih mencari konsep diri, ide yang menyamakan dirinya
  sebagai domba atau carang tampaknya amat tidak menyenangkan. Ide-ide
  itu bahkan sering tidak pernah terpikir olehnya. Mungkin ia
  menikmati saat disuruh berpura-pura menjadi sesuatu yang lain. Ia
  gembira karena ia tahu bahwa itu hanya pura-pura. Konsep yang
  sungguh-sungguh yang diberikan dengan lambang-lambang biasanya
  mengandung gagasan yang serius, tetapi bagi anak, hal itu diartikan
  secara main-main dan harfiah.

  Kesukaran anak dalam memahami simbolisme menunjukkan bahwa anak
  jarang berpikir melampaui arti simbol harafiah untuk dapat memahami
  pengertian yang kaya yang tersirat di balik simbol itu. Karena
  Alkitab sering memakai simbolisme untuk mengungkapkan suatu gagasan,
  maka anak mengalami kesukaran besar untuk memahaminya. Tetapi sekali
  lagi, ini merupakan masalah yang tidak diketahui anak.

  Misalnya, banyak perumpamaan Yesus -- contoh ajaran yang baik sekali
  melalui simbolisme yang disalah mengerti oleh anak. Meskipun mereka
  dapat menikmati cerita tentang domba yang hilang, uang logam yang
  hilang, biji sesawi, atau perumpamaan tentang penabur, mereka
  cenderung memandang cerita itu semata-mata sebagai cerita yang
  menarik tentang domba, koin, dan benih. Kemampuan untuk melihat diri
  sendiri yang digambarkan Yesus melalui simbol-simbol tersebut, belum
  berkembang.

  Usaha-usaha untuk menerapkan konsep cerita semacam ini ke dalam
  pengalaman hidup anak-anak amatlah sukar. Bahkan, anak-anak yang
  lebih besar pun mengalami kesulitan dalam mengambil gagasan dari
  suatu peristiwa dan menerapkannya pada situasi yang lain. Kisah yang
  gamblang sekali dari perumpamaan tentang orang Samaria yang baik
  hati, yang dengan jelas menggambarkan seseorang yang menolong orang
  lain yang membutuhkan, sering disalahtafsirkan oleh anak-anak usia
  11-12 tahun saat diminta untuk menerapkannya ke situasi yang
  berbeda. Betapa lebih sukarnya lagi jika hal ini harus diberikan
  kepada anak-anak di bawah usia 6 tahun!

  MUJIZAT

  Mujizat di dalam Alkitab seringkali merupakan hal yang sulit
  dimengerti oleh anak kecil. Bukan masalah ia dapat mempercayainya
  atau tidak, sebab anak kecil selalu siap menerima hal-hal yang
  ajaib. Masalahnya terletak pada soal melakukan mujizat itu.
  Misalnya, seorang guru Sekolah Minggu menceritakan kepada kelompok
  anak usia empat tahun tentang beberapa anak yang amat jengkel karena
  gara-gara hujan, piknik yang sudah direncanakan batal. Ia bertanya,
  apa yang dapat mereka lakukan untuk mengatasi hal ini. Dengan suara
  bulat, anak-anak itu menyimpulkan bahwa mereka harus berdoa dan
  memohon kepada Allah untuk menghentikan hujan. Dan seorang anak
  laki-laki menambahkan, "Seperti yang Yesus lakukan di perahu dulu
  ketika terjadi angin ribut."

  Anak itu berpikir logis, "Karena Allah mengasihi saya dan memiliki
  kuasa, Dia pasti bersedia memakai kuasa-Nya untuk memecahkan masalah
  saya." Dan, karena ia merasa yakin tak ada yang lebih penting
  daripada persoalan yang dihadapinya saat ini, maka ia berharap Allah
  juga merasakan hal yang sama. Anak kecil cenderung memandang mujizat
  sebagai peristiwa yang dapat terjadi setiap hari, karena hubungan
  sebab-akibat masih sukar dimengerti olehnya. Cara kerja mesin mobil
  sama misteriusnya seperti Laut Merah yang terbelah. Anak mengalami
  kesukaran untuk menarik garis batas antara yang alami dan
  adikodrati. Seorang anak yang mendengar peristiwa mujizat dalam
  Alkitab menerimanya tanpa bertanya-tanya; seperti halnya berbagai
  peristiwa di dunia yang tampak terjadi secara mengagumkan.

  Mungkin hal yang terpenting bagi seorang anak berkenaan dengan
  perbuatan mujizat dalam Alkitab adalah memahami tujuan dari tindakan
  Allah. Peristiwa kesembuhan secara fisik, misalnya, dapat dipakai
  secara efektif untuk menunjukkan kasih Yesus kepada seseorang.
  "Yesus menolong orang buta untuk melihat karena Dia mengasihinya"
  adalah hal yang sangat logis dan mudah dipahami anak.

  "Yesus mengasihi teman-teman-Nya. Yesus tidak ingin teman-teman-Nya
  takut. Dia menolong mereka dengan menghentikan angin ribut."
  Penekanan ini memusatkan perhatian anak pada perbuatan Yesus. Apa
  yang dilakukan Yesus bukan merupakan tujuan akhir, melainkan dengan
  tindakan itu Dia ingin menunjukkan kasih dan belas kasihan-Nya
  kepada teman-teman yang mengalami kesulitan.

  Bahan diedit dari sumber:
  Judul Buku        : Mengenalkan Allah Kepada Anak
  Judul Artikel Asli: Anak dan Alkitab
  Penulis           : Wes Haystead
  Penerbit          : Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1998
  Halaman           : 90 - 96

______________________________________________________________________
o/ ARTIKEL (2) ---------------------------------------------------o/

                    -o- ALKITAB DAN ANAK-ANAK -o-
                        =====================

  Anak-anak perlu mengetahui apa yang Alkitab katakan, memahami apa
  maksudnya, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemajuan
  mereka tergantung pada seberrapa kuat langkah awal mereka dan
  halangan yang semakin sedikit di setiap langkah adalah lebih baik.

  Seorang guru yang bijaksana akan mengajarkan konsep Alkitab yang
  sesuai dengan usia muridnya. Guru yang demikian juga akan mencari
  dan memilih versi Alkitab yang paling jelas sebagai bahan bacaan dan
  hafalan. Jika seorang anak membaca sebuah ayat Alkitab dan mendapati
  artinya tidak jelas karena kata-kata, urutan kata, simbol-simbol
  atau konteks budayanya tidak mereka kenal, maka anak tersebut akan
  kesulitan dalam menerapkan artinya (dan pada akhirnya ia akan
  menerapkannya dalam tingkah lakunya).

  Beberapa abad yang lalu, penerjemahan Firman Allah ke dalam bahasa-
  bahasa umum dianggap sebagai penghujatan. Anggapan ini berakhir pada
  zaman Reformasi dimana Alkitab tersedia berbagai bahasa lain selain
  bahasa Ibrani, Yunani, dan Latin. Para penerjemah diburu dan dibakar
  di tiang gantungan karena pekerjaan mereka tersebut. Beberapa
  penerjemah meninggal dunia demi menyediakan Firman Allah dalam
  bahasa yang umum digunakan sehingga orang-orang dapat membaca dan
  memahaminya.

  Saat ini guru-guru Alkitab perlu memiliki semangat yang kuat untuk
  mengungkapkan kemurnian kebenaran Allah. Paulus mengajak Timotius
  untuk menjadi seorang guru yang "memberitakan perkataan kebenaran"
  (2Timotius 2:15). Para guru harus mengetahui usia murid-muridnya.
  Terjemahan yang paling tepat untuk digunakan bersama anak-anak
  adalah terjemahan yang memberikan makna yang sesungguhnya dari suatu
  teks sesuai dengan tingkat kosakata anak usia tersebut.

  Paulus terus mengingatkan Timotius muda, "Segala tulisan yang
  diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan
  kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam
  kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah
  diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2Timotius 3:16-17)
  Semua kitab tentu saja berguna untuk mengajar, tetapi Paulus sendiri
  tahu dan menggunakan konsep teknik pembangunan yang tepat. Contohnya
  pada saat menghadapi jemaat Korintus yang belum matang secara
  rohani, Paulus mengatakan, "Susulah yang kuberikan kepadamu,
  bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan
  sekarang pun kamu belum dapat menerimanya." (1Korintus 3:2)

  Para guru harus mendorong anak-anak supaya menghafal Alkitab, namun
  hanya ayat-ayat yang mudah dipahami saja. Menghafal ayat yang
  memberi kekuatan, yang memiliki pengertian teologikal penting
  mungkin harus menunggu beberapa tahun jika ayat ini tidak dapat
  dipahami oleh seorang murid pada tingkat perkembangannya saat ini.

  Untuk bacaan di kelas, gunakan Alkitab untuk anak-anak (satu versi)
  yang tidak hanya menampilkan penafsiran yang jelas namun juga
  cetakan dan ilustrasi yang besar dan bantuan-bantuan dalam
  mempelajarinya. Jika Alkitab tidak menyertakan peta-peta dan sumber-
  sumber lainnya, pastikan bahan-bahan tersebut tersedia di kelas.
  Jika kata-kata sukar terdapat dalam pelajaran Alkitab, buatlah suatu
  kegiatan yang akan membawa murid-murid pada kosakata Alkitab.
  Doronglah anak-anak supaya membaca Alkitab pribadi mereka di rumah.

  Untuk anak-anak yang masih terlalu kecil, penerbit-penerbit
  menyediakan buku-buku cerita Alkitab yang menampilkan ringkasan
  cerita-cerita Alkitab yang biasa didengar dan beragam ilustrasi yang
  berwarna. Buku-buku ini seringkali berguna di kelas dan merupakan
  hadiah yang bagus untuk digunakan keluarga-keluarga di rumah.

  Jika murid-murid mendekati tingkat tiga dan empat, mereka memiliki
  jangkauan sejarah dan geografi yang cukup untuk memahami sedikit
  arkeologi yang terdapat dalam Alkitab. Pelajaran yang menarik bagi
  anak-anak pada usia ini adalah eksplorasi bagaimana Alkitab bisa
  sampai kepada kita secara turun-temurun. Agen-agen misi sering
  mengirimkan kepada para guru bahan-bahan mengajar bagaimana Firman
  Tuhan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sejarah Alkitab penuh
  dengan petualangan, intrik, dan eksplorasi. Seorang anak yang
  menerima Alkitab begitu saja dapat belajar menghargai Alkitab ketika
  ia menapatkan warisan yang berharga ini.                      (t/Ra)

  Bahan diterjemahkan dari sumber:
  Judul Buku        : Handbook for Children`s Ministry
  Judul Artikel Asli: The Bible and Children
  Penulis           : Dr. Robert J. Choun dan Dr. Michael S. Lawson
  Penerbit          : Thomas Nelson Publishers, USA, 1993
  Halaman           : 78 - 80

______________________________________________________________________
o/ TIPS ----------------------------------------------------------o/

                -o- MENGAJARKAN KEBENARAN ALKITAB -o-
                    =============================

  Membimbing anak-anak di usia-usia awal adalah suatu tugas yang
  mengagumkan. Membantu anak mempelajari dasar kebenaran alkitabiah
  adalah sangat penting. Syukurlah, Tuhan tidak membiarkan kita
  menyelesaikan tugas ini dengan kemampuan kita sendiri. Ia memberi
  instruksi kepada kita melalui Roh Kudus janji akan tuntunan-Nya:
  "Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia
  memintakannya kepada Allah, -- yang memberikan kepada semua orang
  dengan murah hati." (Yakobus 1:5)

  Dengan jaminan tuntunan ini, bagaimanakah seseorang mengajarkan
  kasih Allah kepada anak-anak? Bagaimana kita mengabarkan kebenaran
  Alkitab dengan menggunakan bahasa yang bisa dipahami anak-anak?

  BELAJAR DENGAN MELAKUKAN

  Kekristenan yang kita bagikan kepada anak-anak harus lebih dari
  sekadar kata-kata atau pengetahuan. Bagi anak-anak mendengarkan
  Firman Tuhan saja, atau bahkan menghafalnya saja tidaklah cukup.
  Anak-anak harus melakukannya. Ketrampilan tangan adalah cara yang
  paling efektif bagi anak-anak untuk belajar. Anak-anak belum dapat
  menggunakan ide-ide; anak-anak harus menggunakan bahan-bahan. Anak-
  anak harus menggunakan semua inderanya -- melihat, menyentuh,
  merasakan, membau/mencium, dan mendengarkan. Oleh karena itu, kita
  harus menolong anak-anak mempelajari kebenaran-kebenaran Alkitab
  melalui permainan yang aktif. Ketika anak menggambar atau menyusun
  balok-balok atau meletakkan bonekanya di tempat tidur, seorang guru
  dapat menghubungkan kegiatan-kegiatan itu dengan kata-kata dalam
  Alkitab dan peristiwa-peristiwa, membuat suatu pelajaran yang
  efektif yang lebih dari sekadar "permainan".

  Contohnya adalah permainan kantong kacang yang sederhana, masukkan
  pelajaran Alkitab dengan pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar
  seperti berikut ini: "Asley, kamu melemparkan kacang itu ke dalam
  keranjang! Saya ingat ketika kamu masih terlalu kecil untuk
  melakukannya. Sekarang kamu sudah lebih tinggi dan kuat, seperti
  yang Tuhan rencanakan. Kamu, bahkan sudah cukup besar untuk belajar
  berbaik hati kepada orang lain. Kamu sudah cukup besar untuk
  bergantian melemparkan kacang itu. Bergantian adalah salah satu cara
  untuk berbuat baik. Alkitab kita mengatakan, "Kasihilah sesamamu."

  SIKAP DAN KOMITMEN

  Meskipun demikian, metode pengajaran yang terbaik hanya akan efektif
  ketika kasih dan berkomitmen kekristenan guru terpancar. Apakah Anda
  menyadari betapa Yesus mengasihi anak-anak? Apakah Anda mau
  mensharingkan kasih Allah kepada anak-anak untuk membantu mereka
  membuat permulaan yang baik? Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak
  dapat dinilai dengan ukuran, keuangan, program-program, dan
  fasilitas-fasilitas. Mereka adalah pertanyaan-pertanyaan tentang
  sikap dan komitmen. Membantu anak merubah sikap dan membuat komitmen
  hanya bisa terjadi melalui doa yang sungguh-sungguh.

  Tiga orang tukang batu ketika ditanya apa yang sedang mereka
  kerjakan menjawab sebagai berikut:
  "Meletakkan sebuah batu," kata orang yang pertama.
  "Membuat sebuah tembok," kata orang yang kedua.
  "Membangun sebuah gereja," kata orang yang ketiga.

  Tiga orang guru SM ditanya apa yang sedang mereka kerjakan:
  "Menjaga anak-anak ini," kata guru yang pertama.
  "Mengasuh anak-anak ini," kata guru yang kedua.
  "Membagikan kasih Allah," jawab guru yang ketiga.

  Pandangan Anda tentang apa yang sedang Tuhan kerjakan melalui Anda
  dapat menambah semangat Anda dan merubah sikap Anda! Mintalah
  pandangan itu kepada Tuhan.                                   (t/Ra)

  Bahan diterjemahkan dari sumber:
  Judul Buku        : Sunday School Smart Pages
  Judul Artikel Asli: Teaching Bible Truths to Young Children
  Penulis           : Wes dan Sheryl Haystead
  Penerbit          : Gospel Light, USA, 1992
  Halaman           : 45

______________________________________________________________________
o/ DARI ANDA UNTUK ANDA ------------------------------------------o/

  Dari: Edho Golan <edhoedho(at)>
  >Salam dalam kasih Kristus,
  >Nama saya Reynardo Nainggolan. Sekarang saya adalah Guru Sekolah
  >Minggu HKBP Jati Asih. Para Penatua dan Guru Sekolah Minggu sangat
  >rindu untuk meningkatkan kualitas hati dan teknik pengajaran kami
  >kepada anak sekolah minggu. Kami meminta ijin untuk melihat bahan-
  >bahan yang ada dalam arsip untuk peningkatan kualitas kami baik
  >hati maupun teknik.
  >
  >Kami juga ingin bertanya di manakah kami dapat membeli buku-buku
  >yang dijadikan referensi penulisan artikel, misalkan Buku Pintar
  >Sekolah Minggu Jilid 1 Penerbit Gandum Mas.

  Redaksi:
  Anda bisa mengakses arsip e-BinaAnak dengan gratis di:
  ==>  http://www.sabda.org/pepak/e-binaanak/pepak/
  ==>  http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/

  Buku-buku yang kami ambil sebagai referensi dalam e-BinaAnak
  sebagian besar bisa Anda dapatkan di toko-toko buku Kristen. Jadi,
  silakan kunjungi toko buku Kristen terdekat di kota Anda, termasuk
  jika ingin mendapatkan Buku Pintar Sekolah Minggu.

______________________________________________________________________
o/ MUTIARA GURU --------------------------------------------------o/

   Kepada guru-guru Kristen dipercayakan suatu tanggung jawab kudus
             untuk menyelidiki dan mengenal Firman Allah.
                       - Wayne E. Buchanan Jr. -

o/----------------------------------------------------------------o/
               Staf Redaksi: Davida, Ratri, dan Lisbet
       Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
             Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                 Copyright(c) e-BinaAnak 2005 -- YLSA
      http://www.sabda.org/ylsa/  ~~ http://www.sabda.org/katalog/
                     Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                  No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
o/----------------------------------------------------------------o/
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke:   <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Untuk Arsip e-BinaAnak:    http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen:  http://www.sabda.org/pepak/
><> --------- PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN ANAK --------- <><

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org