|
Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
https://sabda.org/https://sabda.org/publikasi/e-binaanak/33 |
|
e-BinaAnak edisi 33 (7-6-2001)
|
|
><> Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak <><
Daftar Isi: Edisi 033/Juni/2001
-----------
o/ SALAM DARI REDAKSI
o/ ARTIKEL : Menjadi Seorang Guru Sekolah Minggu
o/ TIPS MENGAJAR : Pengkaderan Guru Sekolah Minggu
o/ SERBA SERBI : Sekolah Laboratori
o/ DARI MEJA REDAKSI : Sharing Pengalaman Guru SM
***********************************************************************
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi di:
Meilania <submit-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak@xc.org>
***********************************************************************
o/ SALAM DARI REDAKSI
Salam Sejahtera dalam Kristus,
Edisi e-BinaAnak kali ini akan secara khusus menyoroti tema "Guru
Sekolah Minggu". Harapan kami bahwa artikel yang kita bahas dalam
edisi ini akan membantu guru-guru SM untuk semakin menyadari
tanggungjawabnya dalam mewujudkan diri menjadi guru sebagaimana yang
Tuhan kehendaki.
Selain itu akan dibahas juga masalah yang sering dihadapi oleh
gereja, yaitu kegagalan gereja dalam menyiapkan kader-kader guru SM.
Sajian kami ini akan memberikan beberapa tips bagaimana mengatasi
masalah pengkaderan guru tsb. supaya tidak terjadi lagi. "Sekolah
Laboratori" dalam kolom OPINI adalah sajian artikel yang terakhir
dalam edisi ini. Sesudah itu jangan lupa menyimak surat "DARI MEJA
REDAKSI" Selamat melayani!
Staf Redaksi
"Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita,
sebagai rasul dan sebagai guru." (2 Timotius 1:11)
< http://www.bit.net.id/SABDA-Web/2Ti/T_2Ti1.htm 1:11 >
**********************************************************************
o/ ARTIKEL
MENJADI SEORANG GURU SEKOLAH MINGGU
===================================
Apakah anda menyadari bahwa semua orang di seluruh muka bumi ini,
pada setiap zaman, dari lahir sampai matinya, terlibat dalam proses
belajar mengajar? Proses belajar mengajar adalah proses seumur hidup,
berawal dari kehidupan seorang bayi mungil yang belajar melalui
orangtua dan lingkungannya, sampai menjadi seorang dewasa yang terus
menerus menjalani proses pembentukan, baik melalui pendidikan formal
(sekolah atau institusi pendidikan lainnya) maupun non formal
(keluarga, masyarakat, lingkungan, dsb.).
Proses belajar mengajar ini juga dialami oleh Tuhan Yesus, meskipun
Dia adalah Sang Guru Agung.
1. Tuhan Yesus: Guru Agung
--------------------------
Yesus lahir dalam sebuah keluarga Yahudi yang saleh, dimana dalam
setiap keluarga Yahudi seorang anak diajar oleh orangtuanya
mengenal Firman Tuhan (Ul 6:7-9).
Dalam masyarakat Yahudi, dimana ada 10 keluarga Yahudi, maka harus
didirikan sebuah sinagoge, rumah untuk mengajar dan berbakti. Jika
ada 25 orang anak, maka di situ harus ada 1 sekolah. Sebagai seorang
anak laki-laki Yahudi, Yesus juga bersekolah di sinagoge di Nazaret.
Bersama dengan anak-anak lain Dia belajar Kitab Suci. Pada usia 12
tahun Yesus sudah mampu bersoal-jawab dengan para Ahli Taurat di Bait
Allah.
Pada usia 30 tahun, Yesus memulai pelayanan-Nya dengan mengajarkan
Firman Tuhan dari satu tempat ke tempat lainnya. Tuhan Yesus lebih
dikenal sebagai GURU daripada pengkotbah. Murid-murid-Nya dan orang-
orang yang mendengar pengajaran-Nya memanggil-Nya GURU. Secara
pribadi, Yesus pun mengakui diriNya sebagai GURU dan TUHAN (Yohanes
13:13).
Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya di dunia dengan memilih para murid
untuk diajar, dan mengakhiri pelayanan-Nya dengan sebuah Amanat
Agung: "Pergilah ... jadikanlah semua bangsa MURIDKU ... dan AJARlah
mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu." (Matius
28:20).
Dengan kata lain, Yesus yang adalah Guru Agung meminta kita, murid-
murid-Nya untuk juga menjadi guru, meneruskan Firman Tuhan yang sudah
kita terima dari-Nya dan membagikannya pada orang lain (termasuk pada
anak-anak).
2. Kenalilah keduanya: "Alkitab dan Anak"!
------------------------------------------
Meski adalah kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anaknya, kita
sebagai Guru Sekolah Minggu memiliki panggilan yang khusus dan serius
untuk membawa anak-anak mengenal Kebenaran.
Tugas Guru Sekolah Minggu bukan sekedar melontarkan/memberikan Firman
Tuhan kepada anak-anak, melainkan kita sendirilah yang harus
"membawa" Firman Tuhan itu kepada mereka. Tidaklah cukup hanya
memberi pelajaran, sebagai Guru Sekolah Minggu kita harus mau memberi
DIRI kita sendiri.
Syarat yang paling penting untuk menjadi seorang Guru Sekolah Minggu
BUKANLAH dengan memiliki pengetahuan yang luas, mempunyai ketrampilan
mengajar yang menakjubkan, atau mempunyai kharisma memenangkan
perhatian anak, MELAINKAN mengasihi Tuhan dengan segenap hati, DAN
mengasihi anak-anak seperti diri kita sendiri (Ulangan 6:5).
Mengasihi Tuhan berarti juga mengenal Firman-Nya, dan Firman inilah
yang harus kita nyatakan pada anak-anak dari dalam hati kita, bukan
hanya dari otak kita.
Mengasihi anak berarti kita terpanggil untuk menyampaikan Firman
Tuhan pada anak-anak, meski dengan konsekuensi yang tidak gampang.
Sebagai Guru Sekolah Minggu kita harus banyak memperlengkapi diri
dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan untuk dapat menyelami
dan memahami alam pikiran dan jiwa anak-anak.
Keyakinan bahwa Berita yang ingin kita sampaikan adalah Berita yang
Sangat Penting, tentunya kita sebagai Guru Sekolah Minggu akan
menyambut setiap langkah persiapan, latihan/training, seminar, dsb.
sebagai kesempatan untuk memperlengkapi diri dalam panggilan kita
sebagai Guru Sekolah Minggu.
3. Memutuskan untuk Menjadi Guru Sekolah Minggu
-----------------------------------------------
Sebenarnya ada banyak "daftar" bagaimana menjadi Guru Sekolah Minggu
yang ideal. Dr. Mary Go Setiawani, dalam bukunya yang berjudul
"Pembaruan Mengajar" menyebutkan sedikitnya ada 8 syarat untuk
menjadi Guru Sekolah Minggu, yaitu:
a. Seorang yang telah lahir baru/diselamatkan.
b. Seorang Kristen yang bertumbuh.
c. Seorang Kristen yang setia terhadap gereja.
d. Seorang yang memahami bahwa pelayanan pendidikan adalah panggilan
Allah.
e. Seorang yang suka pada objek yang dididiknya.
f. Seorang yang baik dalam kesaksian hidupnya.
g. Seorang yang telah menerima latihan dasar sebagai guru.
h. Seorang yang melayani dengan bersandar pada kuasa Roh Kudus.
Sementara dalam buku "Penuntun Sekolah Minggu" disebutkan ada 5
sifat yang diperlukan oleh seorang Guru Sekolah Minggu, yaitu:
a. Keyakinan dan Ketegasan
b. Kesabaran
c. Fantasi
d. Cinta Kasih
e. Mengenal dan mengajarkan Alkitab
Dan daftar di atas bisa saja bertambah panjang bila kita mau
mengutip berbagai buku yang ditulis untuk para Guru Sekolah Minggu.
Meski semua hal di atas penting untuk dimiliki seorang guru,
janganlah hal tersebut justru akan "mengecilkan hati" atau malah
"mematahkan semangat" para calon Guru Sekolah Minggu. Namun yang
dibutuhkan sebenarnya adalah kerinduan seseorang untuk membagikan
Kasih Yesus yang dimilikinya pada anak-anak. Sama seperti Petrus
berkata kepada orang timpang di pintu gerbang: "Apa yang kupunyai,
kuberikan kepadamu." (Kisah 3:6), demikian pula seharusnya seorang
calon Guru Sekolah Minggu memulai pelayanannya.
Dengan memberikan apa yang ada pada diri kita, apa yang kita miliki
SEKARANG, itu sudah cukup untuk mengawali langkah menjadi seorang
Guru Sekolah Minggu. Dengan berlalunya waktu, kita akan melihat
bagaimana Tuhan Yesus, Sang Guru Agung akan memperlengkapi pelayanan
kita dengan berbagai hal yang kita perlukan.
Memiliki banyak pengetahuan dan kemampuan memang baik, asal semuanya
itu disertai kerendahan hati. Yang sungguh-sungguh dituntut dari
seorang pengajar/guru Kristen adalah kekudusan dalam hidupnya
sebagai orang Kristen.
Jika kita benar-benar berhasrat untuk membawa anak kepada Kristus,
baiklah kita mulai dengan memberikan apa yang kita miliki saat ini.
Tuhan memberkati dan menyertai Saudara!
Bahan ini dirangkum dari:
1. Judul : Penuntun Sekolah Minggu
Penerbit: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF
Halaman : 10-17
2. Judul : Pembaruan Mengajar
Penulis : Dr. Mary Go Setiawani
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup
Halaman : 7-9
3. Judul : Pedoman Pelayanan Anak 2
Penulis : Ruth Laufer & Anni Dyck
Penerbit: Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia
Halaman : 115-117
**********************************************************************
o/ TIPS PELATIHAN
PENGKADERAN GURU SEKOLAH MINGGU
===============================
Tiap tahun selalu terjadi regenerasi di Sekolah Minggu, paling tidak,
inilah yang dialami oleh anak Sekolah Minggu. Tiap tahun pasti ada
anak yang naik ke kelas yang lebih tinggi, ada anak yang baru masuk,
bahkan anak yang telah "lulus" dari Sekolah Minggu dan melanjutkan
pembinaan rohani di gereja pada Kelas Remaja.
Di kalangan Guru Sekolah Minggu dapat pula terjadi regenerasi atau
"turn-over", dimana guru baru datang, guru lama pergi, atau guru
tiba-tiba berhenti mengajar karena alasan tertentu. Ada banyak
faktor yang menjadi pemicu terjadinya perubahan di atas. Ada faktor
yang bisa dikendalikan pihak Pembina Sekolah Minggu, ada pula yang
tidak. Beberapa contoh faktor yang berada di luar kendali misalnya:
karena guru yang bersangkutan akan melanjutkan studi atau pindah
kerja di luar kota.
Pembina Sekolah Minggu perlu memikirkan dan mempersiapkan para Guru
maupun Calon Guru demi kelangsungan serta kelancaran pelayanan di
Sekolah Minggu dengan bertanggung jawab. Di sinilah perlunya
perencanaan yang baik dalam Program Pengkaderan Guru.
1. Bagaimana mencari dan menemukan Calon Guru?
----------------------------------------------
Sebelum mencari calon guru, langkah awal yang perlu dilakukan adalah
melakukan pendataan jumlah Anak Sekolah Minggu, jumlah Guru, dan
deskripsi singkat mengenai pengalaman mengajar masing-masing Guru.
Misalnya: berapa jumlah guru yang dapat mengajar di kelas kecil,
kelas besar, dst, berapa jumlah guru "senior" (dalam kuantitas
maupun kualitasnya) dan berapa jumlah guru yang masih tergolong
"pemula".
Selanjutnya perlu dipertimbangkan, berapa banyak anak dapat diajar
secara efektif dan efisien oleh seorang guru. Pada umumnya, untuk
10-15 anak perlu ada 1 orang guru, tapi untuk anak kelas kecil 7-10
anak dibutuhkan 1 orang guru, sementara untuk anak kelas balita
setiap 4-5 anak perlu didampingi 1 orang guru.
Setelah kebutuhan guru diketahui dengan jelas, barulah Pembina
Sekolah Minggu mulai mencari calon guru di antara anggota jemaat
gereja. Setidaknya ada 4 golongan yang dapat dipertimbangkan:
a. Kaum muda (16-25 tahun)
b. Kaum dewasa muda (25-33 tahun) atau telah berumah tangga
c. Kaum dewasa madya (33-55 tahun) (biasanya anak keluarga ini
telah memasuki usia remaja/pemuda)
d. Kaum lansia (55 ke atas) (biasanya anak telah mandiri dan
tidak lagi menjadi tanggung jawab orang tua)
Tentunya setiap golongan tersebut memiliki keunikan sendiri.
Kaum muda lebih mudah dan lebih cepat digerakkan untuk suatu tugas
baru, dan umumnya memiliki semangat dan mobilitas yang tinggi.
Tetapi, ada sedikit kendala bila mereka akan melanjutkan studi,
kerja, atau menikah, apalagi bila hal tsb akan membawa mereka pindah
ke kota lain.
Kaum dewasa muda biasanya termasuk golongan yang paling sulit diajak
pelayanan. Umumnya waktu dan perhatian mereka banyak tersita untuk
urusan pekerjaan (biasanya kaum pria) dan mengasuh anak (biasanya
kaum wanita). Tetapi, jika mereka mau menerima pelayanan sebagai
guru Sekolah Minggu, kualitas mereka sebagai seorang pengajar dan
pendidik pada umumnya baik sekali.
Kaum dewasa dan lansia sebenarnya adalah calon guru yang baik, asal
mereka masih mau mengerti dunia anak yang sangat berbeda dengan dunia
mereka sendiri, demikian juga dengan masa kanak-kanak mereka puluhan
tahun silam. Keuntungan mendapatkan guru dari kelompok umur ini
adalah: biasanya mereka memiliki pribadi yang lebih matang dan
mantap, dan biasanya pula mereka sudah tidak lagi akan berpeluang
berpindah gereja atau kota lain. Umumnya mereka juga sudah "dikenal"
dan "punya pengaruh" di kalangan jemaat, dan hal ini dapat memberi
keuntungan bagi Sekolah Minggu dalam menjalankan program-programnya.
Hanya saja, mungkin ada sedikit masalah bila orang-orang dari
kelompok ini cenderung untuk "menggurui" mereka yang lebih muda.
Pendekatan yang dilakukan bisa dilakukan dalam berbagai cara, baik
melalui pendekatan PRIBADI, dimana Pembina Sekolah Minggu mengajak
calon guru tsb berbicara dari hati ke hati mengenai beban pelayanan
anak, atau pendekatan KELOMPOK, misalnya melalui ceramah atau
presentasi program pada masing-masing kelompok persekutuan (kaum
muda, kaum wanita/bapak, kaum lansia, dsb).
2. Bagaimana merencanakan Program Pengakaderan Guru Baru?
Sebenarnya tidak ada pendekatan yang seragam mengenai hal ini. Tiap
Sekolah Minggu biasanya memiliki kebijakannya sendiri mengenai
bagaimana mempersiapkan calon guru/guru baru untuk mulai memasuki
ladang pelayanannya.
Beberapa hal yang biasa dipratekkan adalah:
a. Memberikan Kursus Dasar
Dimana para calon guru akan dibekali oleh visi dan misi mengenai
pelayanan anak, berbagai pengetahuan dan ketrampilan dasar untuk
mengajar anak (misalnya: diperkenalkan dengan berbagai metode/
teknik mengajar, psikologi perkembangan, dsb).
b. Memberikan kesempatan untuk observasi
Para calon guru diminta untuk mengikuti berbagai kelas Sekolah
Minggu (sebagai peserta atau pengamat saja) dimana mereka belajar
dari guru-guru lain bagaimana cara memimpin sebuah kelas. Pada
akhirnya para calon guru tsb dengan dibimbing oleh Pembina Sekolah
Minggu akan menentukan kelas mana yang tepat bagi dirinya.
c. Dilibatkan bersama dengan guru senior
Di sini para calon guru langsung praktek mengajar bersama (atau
lebih tepat disebut: sebagai asisten) guru senior. Mereka belajar
dari rekan yang lebih senior dan mengajar anak pada saat yang
bersamaan.
d. Dilatih dalam Kelas Laboratori
Dalam hal ini calon guru dilatih dengan menggunakan Kelas
Laboratori, dimana mereka berlatih/praktek mengajar di hadapan
rekan-rekan guru dan bukan langsung dengan anak. Melalui kelas
latihan ini, mereka dipersiapkan untuk nantinya dapat terjun
mengajar anak dengan lebih siap diri. Pembahasan lebih lanjut
mengenai Kelas Laboratori akan dibahas dalam kolom Serba Serbi.
Program Pengkaderan Guru mutlak diterapkan oleh Sekolah Minggu yang
mau bertumbuh dan berkembang. Program ini juga harus berdampingan
dengan program pembinaan guru, sehingga tidak hanya para calon guru
yang perlu mendapat pelatihan dan persiapan, para guru senior pun
harus disegarkan kembali, harus terus dibina dan dikembangkan
potensi serta keahliannya dalam melayani anak-anak.
Bahan ini diambil dan diedit dari:
Judul : Pedoman Pelayanan Anak 2
Penulis : Ruth Laufer & Anni Dyck
Penerbit: Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia
Halaman : 126-131
**********************************************************************
o/ OPINI
SEKOLAH LABORATORI
==================
Sekolah Laboratori adalah suatu kegiatan belajar mengajar untuk
melatih para pengajar/guru agar memberi hasil maksimal TANPA
berinteraksi langsung dengan murid yang akan diajar. Dengan kata
lain, Sekolah Laboratori ini adalah semacam kelas pelatihan/praktek
bagi para calon guru dimana mereka berlatih mengajar dengan
menggunakan sesama calon guru sebagai murid mereka.
Untuk mengadakan Sekolah Laboratori dibutuhkan Pembimbing yang
trampil mengajar (yang dapat dijadikan teladan dalam hal
pengajarannya).
Pelaksaan Sekolah Laboratori adalah sebagai berikut:
1. Tahap Pertama: Tugas Observasi
Para calon guru diminta untuk ikut masuk dalam kelas Sekolah Minggu
tertentu dan mendapat tugas melakukan observasi terhadap guru yang
mengajar di kelas tersebut serta mencatat hasil pengamatannya.
Kehadiran mereka di kelas hanya sebagai pengamat, dan tidak boleh
berinteraksi dengan siapa pun (baik guru, murid, maupun sesama
rekan calon guru) selama proses belajar mengajar berlangsung.
Seusai kelas, para calon guru berkumpul bersama dengan didampingi
Pembimbing untuk melakukan evaluasi terhadap jalannya pengajaran
yang baru saja mereka amati.
Hal ini mereka ulangi selama beberapa kali dengan memasuki berbagai
kelas yang berbeda. Sehingga melaluinya, para calon guru punya
bayangan bagaimana cara mengajar di berbagai kelas dengan tingkatan
usia yang berbeda.
2. Tahap Kedua: Persiapan Mengajar
Para calon guru dibagi menjadi beberapa kelompok, dimana setiap
kelompok memiliki beberapa anggota (misal ada 4 kelompok dengan
jumlah anggota masing-masing 6 orang).
Tiap kelompok dengan didampingi seorang pembimbing berusaha membuat
1 bahan pelajaran secara utuh, mulai dari pujian, ayat hafalan,
materi Firman Tuhan hingga aktivitasnya. Lalu mereka juga berbagi
tugas di antara mereka siapa yang akan memimpin pujian, menyampaikan
Firman Tuhan, memimpin aktivitas, dsb.
Sesudah masing-masing anggota mempersiapkan diri, Pembimbing melatih
mereka sesuai dengan rencana pelajaran yang telah disiapkan dalam
kelompok masing-masing. Jadi, masing-masing kelompok saling tidak
mengetahui persiapan kelompok lainnya.
3. Tahap Ketiga: Praktek Mengajar
Tibalah waktunya para calon guru mulai praktek mengajar. Sebelum
mulai, ruangan telah disiapkan seperti kondisi kelas yang
sesungguhnya, semua alat peraga dan alat bantu lainnya disediakan
pada tempatnya, dan kursi-kursi telah siap diduduki oleh para murid.
Bedanya adalah: para murid di Sekolah Laboratori adalah para calon
guru, dan bukan murid yang sesungguhnya akan diajar (anak-anak
sekolah minggu).
Tiap kelompok diminta untuk tampil mempraktekkan hasil persiapan
mereka dan "para murid" (yang adalah sesama calon guru) akan
memberikan evaluasi atas jalannya proses belajar mengajar.
Pada akhir kegiatan, Pembimbing akan memimpin evaluasi bersama
dan memberi kesempatan pada masing-masing peserta untuk berbicara.
Dengan demikian setiap calon guru mendapat kesempatan untuk melatih
diri sekaligus memberikan masukan bagi sesama rekannya.
KESIMPULAN
----------
Sekolah Laboratori memberi pengalaman berharga dan dapat menambah
semangat serta keyakinan kepada para calon guru. Dengan mencoba
praktek mengajar, mereka akan lebih percaya diri dan berani mengajar
di hadapan murid-murid yang sesungguhnya.
Sekolah Laboratori memberi kesempatan yang baik untuk dapat saling
belajar dan mengajar bersama rekan lain, memberi serta menerima
evaluasi dalam suasana rohani yang terbuka, yang diharapkan akan
dapat menunjang dan saling menguatkan para pesertanya.
Selamat mencoba!
Bahan ini diambil dan diedit dari:
Judul : Pedoman Pelayanan Anak 2
Penulis : Ruth Laufer & Anni Dyck
Penerbit: Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia
Halaman : 132-139
**********************************************************************
o/ DARI MEJA REDAKSI
Kami yakin, dari sekian banyak guru-guru SM/Pelayan Anak yang
tergabung menjadi anggota/pembaca e-BinaAnak, pasti ada banyak
pengalaman (baik atau buruk) yang terjadi di sepanjang pelayanan
masing-masing. Oleh karena itu melalui kesempatan ini Redaksi
e-BinaAnak ingin mengundang para guru SM/Pelayan Anak untuk
memberikan kontribusi dengan men-sharingkan pengalaman-
pengalaman tsb. kepada anggota lain. Sharing itu bisa berupa:
- pengalaman-pengalaman menarik dalam mengajar
- pengalaman-pengalaman lucu bersama anak-anak didik
- pengalaman-pengalaman "menyakitkan/memalukan"
- pengalaman-pengalaman tak terlupakan
- dll.
Sharing tsb. akan kami muat dalam edisi-edisi e-BinaAnak yang akan
datang. Untuk itu kami persilakan anda untuk menulis/mengirimkan
kontribusi anda tsb. ke alamat Redaksi di:
< sharing-BinaAnak@sabda.org >
Untuk kesediaannya kami mengucapkan banyak terima kasih dan kami
tunggu kiriman anda!!
**********************************************************************
Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke: <unsubscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
Untuk arsip: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-BinaAnak
**********************************************************************
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-BinaAnak 2001 YLSA
|
|
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |