Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/bio-kristi/55

Bio-Kristi edisi 55 (11-10-2010)

Bonifasius dan Robert Lowry

 
                           Buletin Elektronik
                    BIO-KRISTI (Biografi Kristiani)
_________________________Edisi 055, Oktober 2010______________________

Isi Edisi Ini:
- Pengantar
- Riwayat: Bonifasius: Misionaris yang Gigih
- Karya: Robert Lowry: Pengalaman Hidupnya Melatarbelakangi Himne-Himnenya
- Tahukah Anda: Lagu Himne yang Diciptakan untuk Para Korban Tsunami
- Apa Kata Mereka: Trivia Asyik FB Bio-Kristi
- Sisipan: Baru dari YLSA: Publikasi KADOS (Kalender Doa SABDA)

+ Pengantar __________________________________________________________

  Salam sejahtera,

  Tatkala kita membaca dan menyimak karakter para tokoh ternama di
  dunia, ingin rasanya kita berjuang seperti mereka. Meskipun
  terhalang oleh berbagai cobaan dan kesulitan, semangat mereka seakan
  tidak pernah surut sedikit pun. Tak terkecuali ketika kita membaca
  kisah Bonifasius dan Robert Lowry di kolom Riwayat dan Karya. Mereka
  adalah orang-orang yang pantang menyerah dalam melayani Tuhan dan
  mengabdikan diri untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Apa yang
  Anda pelajari dari kedua tokoh dalam edisi Bio-Kristi kali ini
  sekiranya dapat memicu dan memacu semangat Pembaca untuk terus
  berjuang bagi Tuhan, bangsa, dan negara. Setelah itu, simaklah info
  istimewa di kolom Tahukah Anda, Apa Kata Mereka, dan Sisipan. Jangan
  sampai ada yang terlewat.

  Pimpinan Redaksi Bio-Kristi,
  Sri Setyawati
  < setya(at)in-christ.net >
  http://biokristi.sabda.org
  http://fb.sabda.org/biokristi
______________________________________________________________________

            "Aku tahu Allah tidak akan memberikan kepadaku
             sesuatu yang tidak bisa kupertanggungjawabkan.
                             Aku berharap
      semoga Allah tidak terlalu memercayakan banyak hal kepadaku."

                       Bunda Teresa -- Biarawati
+ Riwayat_____________________________________________________________
675 -- 754 Misionaris

                   BONIFASIUS: MISIONARIS YANG GIGIH

  Hampir seperti Elia di atas bukit Karmel, Bonifasius, misionaris
  berdarah Sakson dari Inggris, melawan kekafiran di jantung negeri
  Jerman.

  Di hadapannya ada Pohon Petir yang besar, sebuah tanda
  perbatasan setempat yang dikeramatkan bagi dewa petir oleh
  orang-orang kafir. Bahkan sebagian orang yang sudah bertobat dan
  menjadi Kristen karena ajaran-ajaran Bonifasius, diam-diam masih
  menyembah pohon tersebut.

  Dengan berani Bonifasius menentang penyembahan sesat ini. Ia
  memunyai sebuah kapak di tangannya. Sebagai wakil Allah yang sejati
  bagi orang-orang Kristen, ia memusnahkan lambang Iblis tersebut. Ia
  menebang "pohon suci" tersebut dengan kapaknya dan Pohon Petir itu
  pun tumbang dengan suara gemuruh.

  Itulah legendanya, benar atau tidak, sekurang-kurangnya
  cerita ini mengungkapkan keberanian dan iman yang ditampilkan
  Bonifasius melawan kepercayaan yang salah.

  Bonifasius dilahirkan dalam keluarga Kristen di Wessex pada tahun
  680. Nama aslinya ialah Winfred. Ia dilatih di sebuah biara
  Benediktus dan ditahbiskan pada usia 30 tahun. Ia dianugerahi
  keterampilan untuk belajar dan memimpin. Sebenarnya, ada peluang
  baginya di Inggris untuk belajar, mengajar, dan mungkin juga
  memimpin sebuah biara, namun ia merasa terpanggil untuk orang-orang
  yang belum mengaku percaya kepada Kristus. Beribu-ribu orang Sakson
  di wilayah Belanda dan Jerman sangat membutuhkan Injil.

  Pada tahun 716, Winfred berangkat ke Frisia, tempat para misionaris
  Inggris telah mengerjakan ladang berpuluh-puluh tahun lamanya. Raja
  Frisia, Radbod, menentang kekristenan. Tekanan di situ sangat kuat
  dan Winfred pun kembali ke Inggris. Inilah kegagalan misinya yang
  pertama.

  Teman-temannya di biara Benediktus memintanya menjadi kepala biara.
  Setelah pengalaman yang menyakitkan di Frisia, ia mungkin saja
  tergiur dengan tawaran ini, tetapi visi Winfred masih mengarah ke
  luar. Ia pergi ke Roma pada tahun 718, dan di sana ia menerima tugas
  misionaris dari Sri Paus. Ia ditugaskan untuk pergi lebih jauh,
  melewati Sungai Rhein, dan mendirikan gereja di antara orang Jerman
  di sana.

  Jerman umumnya telah terbuka untuk kekristenan jenis apa pun, namun
  tidak ada gereja yang kuat di sana. Pada abad keempat, suku-suku
  Jerman terikat dengan Arianisme yang mereka campurkan dengan
  takhayul mereka sendiri. Kemudian, para misionaris bangsa Kelt telah
  memenangkan sejumlah jiwa, tetapi mereka tidak pernah ada di bawah
  naungan organisasi gereja yang kuat. Sri Paus ingin sekali
  menghadirkan gereja yang kokoh di sana.

  Mula-mula, Winfred mendatangi Thuringia untuk menghidupkan gereja
  yang mulai melemah di sana. Kemudian setelah ia mendengar bahwa
  musuhnya, Radbod, telah mati, ia kembali ke Frisia. Otoritas Sri
  Paus agaknya telah memberikan Winfred wibawa atas pemerintah
  setempat. Di sana ia bekerja selama 3 tahun, kemudian berpindah ke
  arah tenggara, ke Hesse.

  Ia kembali ke Roma pada tahun 723 dan diangkat sebagai uskup. Itulah
  saatnya ia menerima nama barunya -- Bonifasius. Ia juga diberikan
  surat perkenalan untuk Charles Martel, raja suku Franka. Ketangkasan
  Charles di bidang militer sangat terkenal (ia yang memukul mundur
  pasukan Islam di Tours [di tengah-tengah negara Perancis modern,
  Red.]). Perlindungannya memberikan dukungan kuat bagi Bonifasius.
  Sekembalinya dari Hesse, Bonifasius melanjutkan pemusnahan kekafiran
  dan mendirikan gereja. Hal ini terjadi ketika ia menumbangkan Pohon
  Petir yang dianggap suci tersebut. Mungkin saja ketakutan warga pada
  Charles Martel yang mencegah mereka menjatuhkan Bonifasius, namun,
  hasil yang tampak ialah bahwa kekristenan menjadi kekuatan baru yang
  harus diperhitungkan di Jerman. Jika pohon suci mereka saja tidak
  dapat dilindungi para dewa orang Jerman, maka mereka tidak memiliki
  apa pun untuk dibandingkan dengan Allahnya Bonifasius.

  Bonifasius menjadi daya tarik bagi sejumlah misionaris dari Inggris.
  Para biarawan dan biarawati ingin sekali melayani bersamanya. Dengan
  bantuan mereka, ia mendirikan organisasi gereja yang kuat di seluruh
  kawasan itu. Ironisnya, pelindungnya, Charles Martel sedang
  mengupayakan perubahan gereja di antara orang-orang Franka. Charles
  mengambil kuasa atas gereja-gereja di sana dengan merampas tanah
  mereka dan menjual instansi-instansi gereja. Hanya setelah ia wafat,
  pada tahun 741, Bonifasius dapat memulihkan gereja Franka tersebut.

  Pada tahun 747, Bonifasius sekali lagi ke Roma. Di sana ia diangkat
  menjadi Uskup Agung Mainz dan pemimpin spiritual seluruh Jerman.
  Namun, setelah melewati umur 70 tahun, ia berkeinginan untuk
  menyelesaikan pekerjaannya yang tertinggal. Setelah mengundurkan
  diri dari jabatan uskup agungnya pada tahun 753, ia kembali ke
  Frisia, tempat ia memulai karya misionarisnya. Di sana ia memanggil
  kembali orang-orang yang telah ia baptis dan yang sekarang telah
  kembali ke kekafiran, kemudian ia melanjutkan perjalanan ke
  daerah-daerah yang belum dijangkau.

  Pada hari Minggu Pentakosta tahun 755 di Dokkum, di sepanjang Sungai
  Borne, ia merencanakan kebaktian di tempat terbuka untuk mengajar
  dan meneguhkan orang-orang percaya baru. Ketika sedang berdiri di
  tepi sungai, sambil menyiapkan kebaktian, segerombolan penjahat
  kafir menyerangnya. Orang-orang yang ada di pihaknya mencoba melawan
  mereka, tetapi Bonifasius berteriak: "Hentikanlah dari pertikaian,
  anak-anakku. Janganlah kamu takut kepada mereka  yang dapat membunuh
  tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Terimalah dengan
  tenang serangan maut sesaat ini, agar engkau dapat hidup dan
  memerintah bersama-sama Kristus selama-lamanya." Menurut saksi mata
  ia mati dengan Injil di tangannya.

  Tidak ada yang dapat meragukan kesalehan, keberanian, ataupun
  kesetiaan pelayanan Bonifasius. Seperti yang ditulis sejarawan
  Kristen Kenneth Scott Latourette, "Tidak banyak, jika pun ada,
  misionaris Kristen yang telah menyajikan dengan lebih tepat,
  idealisme iman mereka yang hendak disebarluaskan dengan perilaku
  mereka. Rendah hati, meskipun ada kesempatan yang menggiurkan untuk
  mendapatkan posisi gerejawi yang tinggi; tanpa cacat skandal;
  seorang yang mandiri dan tekun berdoa; berani; mengorbankan diri
  sendiri; dan adil. Bonifasius adalah salah seorang panutan yang luar
  biasa bagi kehidupan Kristen."

  Diambil dan disunting dari:
  Judul artikel: 716: Bonifasius Berangkat sebagai Misionaris
  Judul buku: 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen
  Penulis: A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang, Randy Petersen
  Penerbit: PT BPK Gunung Mulia, Jakarta
  Halaman: 41 -- 43
_____________________________________________________________________

    Kunjungi Facebook Bio-Kristi di: http://fb.sabda.org/biokristi

+ Karya ______________________________________________________________
1826 -- 1899  Pengkhotbah dan Penulis Himne

                             ROBERT LOWRY:
          PENGALAMAN HIDUPNYA MELATARBELAKANGI HIMNE-HIMNENYA

  Robert Lowry adalah nama yang terkenal hampir di setiap tempat
  puji-pujian dinyanyikan. Setiap kali menyebut namanya, ada kobaran
  simpati dan sukacita di hati ribuan orang-orang Kristen yang
  terbiasa menyanyikan himnenya.

  Robert Lowry lahir di Philadelphia, Pennsylvania, AS, pada tanggal
  12 Maret 1826. Kesukaannya terhadap musik telah terlihat sejak dia
  masih muda. Sebagai seorang anak, dia tertarik dengan berbagai alat
  musik yang dipegangnya.

  Pada saat berumur 17 tahun, dia bergabung dengan First Baptist
  Church of Philadelphia, dan kemudian menjadi pelayan yang aktif di
  sekolah minggu sebagai guru dan pengurus paduan suara. Pada usia 22
  tahun, dia berkomitmen untuk mengambil bagian dalam pelayanan, dan
  mengambil studi di Universitas Lewisburg, Pennsylvania. Pada usia 28
  tahun, dia lulus dengan nilai tertinggi di kelasnya. Pada tahun yang
  sama, dia mulai terjun ke dunia pelayanan. Dia melayani sebagai
  pendeta di West Chester, Pennsylvania (1854-1858); New York
  (1859-1861); Brooklyn (1861-1869); dan Lewisburg, Pennsylvania
  (1869-1875). Selain itu dia juga menjadi profesor sastra fiksi di
  universitas dan mendapat titel D.D. [Doctor of Divinity, Red.] pada
  tahun 1875. Kemudian dia pergi ke Plainfield, New Jersey. Di sana
  dia menjadi pendeta Park Avenue Church. Setiap ladang pelayanannya
  ditandai dengan kesuksesan.

  Dr. Lowry adalah seorang yang tidak begitu memiliki kemampuan
  administrasi, tapi khotbah-khotbahnya luar biasa. Dia adalah seorang
  mahasiswa yang begitu tekun mempelajari Alkitab secara keseluruhan.
  Entah di altar ataupun di mimbar, ia selalu menjadi pembicara yang
  pintar dan menarik. Dia memiliki watak yang ramah dan menyenangkan.
  Selera humornya yang tinggi menjadi salah satu karakternya yang
  paling menonjol. Orang yang memiliki kemampuan yang besar dalam
  melukis dengan imajinasi hanya sedikit. Namun Dr. Lowry bisa
  menggetarkan pendengar dengan penggambarannya yang hidup dan
  memberikan inspirasi kepada orang lain dengan pemikiran yang sama
  yang telah menginspirasinya.

  Lagu-lagu yang diciptakannya dinyanyikan di mana-mana, dan banyak
  dari himnenya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa,
  [termasuk bahasa Indonesia]. Sementara itu, mengajarkan Injil, yang
  adalah sukacitanya yang terbesar, merupakan pekerjaannya seumur
  hidup. Musik dan ilmu yang mempelajari himne merupakan studi
  favoritnya. Hal lain yang disukainya: rekreasi.

  Tahun 1880, dia mengambil cuti selama 4 tahun untuk berkunjung ke
  Eropa. Tahun 1885, dia merasa perlu beristirahat dan mengundurkan
  diri dari kepastoriannya di Plainfield. Kemudian dia mengunjungi
  negara-negara bagian di bagian selatan dan barat AS, serta menetap
  beberapa waktu lamanya di Meksiko. Setelah itu, dengan kesehatan
  yang membaik dia kembali mengerjakan pelayanannya di Plainfield.

  Saat dia mendapatkan tanggung jawab untuk memperbaiki karya-karya
  yang berhubungan dengan musik, dia pun mempelajari musik dengan
  sungguh-sungguh dan berburu banyak buku dan karya seni yang memiliki
  komposisi musik yang tinggi. Bahkan, perpustakaannya menjadi salah
  satu perpustakaan musik terbaik di negaranya. Perpustakaannya itu
  penuh dengan karya-karya filsafat dan ilmu suara musik. Dia juga
  memiliki beberapa karya musik yang berusia lebih dari 150 tahunan.

  Ketika seorang wartawan menanyakan metode mengarangnya, ia menjawab,
  "Saya tidak memiliki metode. Kadang musik muncul lebih dulu baru
  syairnya mengikuti, yang terdengar harmoni dengan melodinya;
  tergantung suasana hati. Saat sesuatu mengejutkanku, entah syair
  atau musik, dan tidak peduli di mana pun saya berada, di rumah atau
  di jalan, saya mencatatnya. Bagian pinggir koran atau belakang
  amplop sering saya jadikan tempat mencatat. Otak saya ini seumpama
  mesin pintal, pikir saya, karena musik mengalun di benak saya setiap
  waktu. Saya tidak menciptakan musik dengan kunci-kunci alat musik.
  Nada-nada dari hampir semua himne yang saya tulis sudah terbentuk
  sebelum saya mencobanya dengan organ. Biasanya syair himne dan musik
  ditulis pada saat yang sama."

  Dr. Lowry sering mengatakan bahwa dia menjadikan "Weeping Will Not
  Save Me" sebagai himne penginjilan yang paling bagus dan paling
  panjang yang pernah dia tulis. Berikut ini beberapa lagu gerejawi
  yang terkenal dan berkesan: "Shall We Gather at the River?" [NKB No.
  114 Apa Kita `kan Berhimpun], "One More Day`s Work for Jesus",
  "Where is My Wandering Boy Tonight?", "I Need Thee Every Hour"
  [Tuhan Harapanku], "The Mistakes of My Life", "How Can I Keep from
  Singing?", dan masih banyak lagi yang lain.

  Dr. Lowry pernah berkata, "Saya lebih suka mengajarkan Injil kepada
  jemaat yang menghargai dan menerima saya daripada membuat himne."
  Namun, himnenya terus muncul, diterjemahkan ke banyak bahasa.
  Melalui karyanya, Dr. Lowry mengajar, menenangkan beribu-ribu jiwa,
  serta membakar semangat untuk menyatakan pujian dan rasa syukur
  mereka kepada Allah atas kebaikan-Nya terhadap anak manusia.

  Rev. Robert Lowry, D.D. meninggal di tempat tinggalnya di
  Plainfield, New Jersey, pada tanggal 25 November 1899. Akan tetapi,
  hidup dan ceramahnya seputar lagu-lagu rohani akan masih terus
  terdengar dan dinyanyikan. (t/Setya)

  Diterjemahkan dan dirangkum dari:

  1. Judul artikel: Robert Lowry
     Nama situs: NetHymnal
     Penulis: Tidak dicantumkan
     Alamat URL: http://www.cyberhymnal.org/bio/l/o/w/lowry_r.htm
     Tanggal akses: 1 Juli 2010

  2. Judul artikel: Robert Lowry
     Nama situs: Wholesome Words
     Penulis: Jacob Henry Hall
     Alamat URL: http://www.wholesomewords.org/biography/biorplowry.html
     Tanggal akses: 1 Juli 2010
______________________________________________________________________

     Kunjungi Facebook Bio-Kristi di: http://fb.sabda.org/biokristi

+ Tahukah Anda________________________________________________________

          LAGU HIMNE YANG DICIPTAKAN UNTUK PARA KORBAN TSUNAMI

  Ketika bantuan uang, makanan, obat-obatan dan lain-lainnya terus
  mengalir dari organisasi-organisasi kemanusiaan kepada jutaan korban
  tsunami yang telah kehilangan segalanya, sebuah organisasi dari
  gabungan Gereja Metodis mempersembahkan sebuah lagu himne yang
  khusus diciptakan untuk mengenang tragedi tsunami.

  Salah satu lagu himne tersebut berjudul "When Innocence is
  Fractured", yang ditulis oleh Pdt. Gareth Hill beberapa hari setelah
  bencana tsunami terjadi. Lagu himne ini diciptakan untuk membantu
  kita untuk berdoa lebih tenang ketika kita tidak bisa berdoa
  sendiri, begitulah tutur Dean Mclntyre, pimpinan bidang musik dari
  Gabungan Gereja Metodis. Lagu himne ini juga bisa membantu
  penyembuhan batin secara lebih mendalam, dan dapat menjadi inspirasi
  pribadi dan ketenangan jiwa.

  Beberapa pelayanan dan anggota gabungan Gereja Metodis, menulis lagu
  himne untuk pertama kalinya untuk menyatakan rasa empati kepada para
  korban. Selain itu, melalui lagu ini mereka juga ingin memberikan
  harapan baru kepada para korban untuk kembali membangun kekuatan
  dari Tuhan.

  Sumber:
  Nama situs: Kristiani Pos
  Penulis: Tidak dicantumkan
  Alamat URL: http://www.christianpost.co.id/culture/music/20050204/1501/lagu-hymne-diciptakan-untuk-para-korban-tsunami/index.html
  Tanggal akses: 8 Juli 2010

+ Apa Kata Mereka_____________________________________________________

                     TRIVIA ASYIK FB BIO-KRISTI

  Mulai tahun 2010, pelayanan Bio-Kristi sudah merambah ke tautan
  jejaring sosial Facebook dan lebih mengaktifkan forum diskusi
  In-Christ.Net (ICN). Untuk menindaklanjuti perluasan pelayan ini,
  publikasi Bio-Kristi pun menambah sebuah kolom tak tetap yang akan
  memberitakan perkembangan aktivitas di FB atau forum diskusi tersebut.

  Untuk semakin menghidupkan kolom ini, kami mengundang Anda untuk
  bergabung dan berinteraksi dalam Facebook Bio-Kristi dan Forum
  ICN Bio Tokoh.

  Facebook Bio-Kristi
  ==> http://fb.sabda.org/biokristi

  Forum ICN Bio Tokoh
  ==> http://www.in-christ.net/forum/index.php?board=33.0

  Dinding Facebook Bio-Kristi, 28 Juni 2010:
  Ada yang tahu tidak, siapakah orang yang rela mati membela imannya
  dalam Kristus selain Stefanus?

  Komentar:

  Fritz Gwan Nehemnya: Petrus iya bukan?
  Avniel de Laurist: Theodora dan kekasihnya, Didimus
  Valentina Sinaga: I.L. Nomensen
  Rumeni Christiane: Ada banyak, baca aja Batu-Batu Tersembunyi, OK
  Elya Susanti: Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Yakobus, Yakobus anak
                Zebedeus, Petrus, Yudas saudara Takobus, Bartolomeus (
                Natanael), Andreas, Thomas, Matias pengganti Yudas
                Iskariot & Paulus. Is it true?
  Avniel de Laurist: Saya pernah baca, itu ada di buku pelajaran, jadi
                     bukan tafsiran. :)

  Alamat URL:
  http://fb.sabda.org/biokristi?story_fbid=134224476602043

+ Sisipan_____________________________________________________________

            POKOK-POKOK DOA DARI KALENDER DOA SABDA (KADOS)

  Puji Tuhan, satu lagi milis publikasi baru diterbitkan oleh Yayasan
  Lembaga SABDA (YLSA). Publikasi yang diberi nama KADOS
  (singkatan dari Kalender Doa SABDA) ini lahir dari kerinduan YLSA
  untuk membagikan pokok-pokok doa harian bagi para pendoa syafaat
  yang terbeban berdoa bagi Indonesia dan pelayanan YLSA. Semoga
  melalui kesatuan hati untuk berdoa ini, Tuhan akan melawat umat-Nya
  dan nama-Nya dimuliakan.

  Publikasi KADOS terbit secara mingguan dan bersifat terbuka
  untuk semua denominasi gereja. Dengan menjadi pelanggan KADOS,
  maka secara otomatis Anda juga menjadi pelanggan e-Doa, Open Doors,
  dan 30 Hari Doa. Jadi, bagi pendoa-pendoa Kristen Indonesia yang
  ingin dibekali untuk menjadi pendoa yang setia dan memiliki visi,
  segera daftarkan nama Anda dan jadilah berkat.

  Kontak redaksi:
  ==> < doa(at)sabda.org >

  Untuk berlangganan, kirimkan email kosong ke:
  ==> < subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >

  Jika Anda memiliki pokok-pokok doa syafaat yang ingin didoakan, Anda
  dapat mengirimkan pokoh-pokok doa tersebut melalui Facebook e-Doa
  atau melalui situs Doa.

  Facebook e-Doa:
  ==> http://fb.sabda.org/doa

  Situs Doa:
  ==> http://doa.sabda.org/node/add/content-permohonan-doa
______________________________________________________________________
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Berlangganan via email: < subscribe-i-kan-bio-kristi(at)hub.xc.org >
Berhenti berlangganan < unsubscribe-i-kan-bio-kristi(at)hub.xc.org >
Kontak redaksi: < biokristi(at)sabda.org >
Alamat situs: http://biokristi.sabda.org
Alamat forum: http://biokristi.sabda.org/forum
Arsip Bio-Kristi: http://www.sabda.org/publikasi/Bio-Kristi
Blog SABDA: http://blog.sabda.org
Fan Page Bio-Kristi di Facebook : http://fb.sabda.org/biokristi
Twitter Bio-Kristi: http://twitter.com/sabdabiokristi
______________________________________________________________________
Pimpinan redaksi: Sri Setyawati
Staf redaksi: Kusuma Negara
Isi dan bahan menjadi tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright (c) Bio-Kristi 2010 / YLSA -- http://www.ylsa.org
Situs Katalog -- http://katalog.sabda.org
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org