Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/bio-kristi/3

Bio-Kristi edisi 3 (30-10-2006)

Martin Luther dan Batu Penjuru Gereja


                          Buletin Elektronik
______________________________BIO-KRISTI______________________________
                          Biografi Kristiani
                          ==================
                       Edisi 003, Oktober 2006


Isi Edisi Ini:
- Pengantar
- Riwayat        : Martin Luther
- Karya          : Batu Penjuru Gereja
- Tahukah Anda?
- Apa Kata Mereka: Meneladani Johannes Kepler
- Undangan Berpartisipasi
- Sisipan        : SABDA Space: Wadahnya Blogger Kristen

+ Pengantar __________________________________________________________

  Salam sejahtera,

  Seperti Anda ketahui, pada bulan Oktober ini, tepatnya tanggal 31
  Oktober, gereja akan memperingati Hari Reformasi Gereja yang ke-489.
  Betul, 489 tahun yang lalu, Martin Luther, dengan 95 dalilnya
  membongkar kebobrokan gereja yang mengesahkan surat penghapusan
  dosa. Inilah awal dimulainya gerakan reformasi gereja yang kemudian
  ditetapkan sebagai Hari Reformasi. Perjuangan serta keberaniannya
  dalam mempertahankan kebenaran iman Kristen memang pantas diacungi
  jempol. Simaklah kolom Riwayat berikut ini yang akan mengajak sidang
  pembaca menelusuri perjalanan hidup salah satu tokoh Reformasi ini.

  Perjuangan-perjuangan untuk mengembalikan gereja kepada dasar yang
  sejati ini juga menjadi inspirasi bagi Samuel J. Stone untuk
  menorehkan karyanya dalam bentuk himne. Dalam kolom Karya di edisi
  ini, silakan menyimak perjalanannya dalam menuliskan himne yang
  hingga kini masih sering kita dengar dan kita nyanyikan.

  Selamat menyimak!

  Staf Redaksi Bio-Kristi,
  Ratri

+ Riwayat ____________________________________________________________
1483--1546

                            MARTIN LUTHER


  Dilahirkan pada 10 Nopember 1483 dalam sebuah keluarga petani di
  Eisleben, Thuringen, Jerman, Luther beroleh nama Martinus pada 11
  Nopember 1483 ketika ia dibaptiskan. Ayahnya bernama Hans Luther dan
  ibunya bernama Margaretta. Keluarga Luther adalah keluarga yang
  saleh seperti umumnya golongan petani di Jerman.

  Luther mendapatkan pendidikan dasarnya di Mansfeld, sebuah kota di
  mana ayahnya terpilih sebagai anggota Dewan Kota Mansfeld, setelah
  pindah ke sana pada 1484. Pendidikan menengah dikecapnya di
  Magdeburg di sebuah sekolah yang diasuh oleh "saudara-saudara yang
  hidup rukun" (Broederschap des gemenen levens).

  Pada tahun 1501 Luther memasuki Universitas Erfurt, suatu
  universitas terbaik di Jerman pada masa itu. Di sini ia belajar
  filsafat terutama filsafat Nominalis Occam dan teologia skolastika,
  serta untuk pertama kalinya Luther membaca Alkitab Perjanjian Lama
  yang ditemukannya dalam perpustakaan universitas tersebut. Orang
  tuanya menyekolahkan Luther di sekolah ini untuk persiapan memasuki
  fakultas hukum. Mereka menginginkan agar anak mereka menjadi seorang
  ahli hukum.

  Pada tahun 1505 Luther menyelesaikan studi persiapannya dan sekarang
  ia boleh memasuki pendidikan ilmu hukumnya. Namun, pada 2 Juni 1505
  terjadi suatu peristiwa yang membelokkan seluruh kehidupannya. Dalam
  perjalanan pulang dari Mansfeld ke Erfurt tiba-tiba turun hujan
  lebat yang disertai dengan guntur dan kilat yang hebat. Luther
  sangat ketakutan. Ia merebahkan dirinya ke tanah sambil memohon
  keselamatan dari bahaya kilat. Luther berdoa kepada Santa Anna,
  yaitu orang kudus yang dipercayai sebagai pelindung dari bahaya
  kilat sebagai berikut.

  "Santa Anna yang baik, tolonglah aku! Aku mau menjadi biarawan."

  Pada 16 Juli 1505 ia memasuki biara Serikat Eremit Augustinus di
  Erfurt dengan diiringi oleh sahabat-sahabatnya. Orang tuanya tidak
  turut mengantarkannya karena mereka tidak menyetujui keputusan
  Luther tersebut.

  Luther berusaha untuk memenuhi peraturan-peraturan biara melebihi
  para biarawan lainnya. Ia banyak berpuasa, berdoa, dan menyiksa diri
  sehingga terlihat paling saleh dan rajin di antara semua biarawan
  lain. Ia mengaku dosanya di hadapan imam setidaknya sekali seminggu.
  Dalam setiap ibadah doa, Luther mengucapkan 27 kali doa Bapa Kami
  dan Ave Maria. Luther membaca Alkitab dengan rajin dan teliti. Semua
  itu diperbuatnya untuk mencapai kepastian tentang keselamatannya.
  Sebenarnya, Luther mempunyai pergumulan yang berat, yaitu bagaimana
  memperoleh seorang Allah yang rahmani. Gereja mengajarkan bahwa
  Allah adalah seorang hakim yang akan menghukum orang yang tidak
  benar dan melepaskan orang yang benar. Luther merasa ia tidak
  mungkin menjadi orang yang benar. Ia pasti mendapat hukuman dari
  Allah yang akan bertindak sebagai hakim itu. Meski telah menjadi
  biarawan, pergumulan rohani itu tidak kunjung selesai. Pergumulannya
  ini diceritakannya kepada pimpinan biara di Erfurt, yaitu Johann von
  Staupitz. Johann von Staupitz menasihatkannya agar tidak memikirkan
  apakah ia diselamatkan atau tidak. Yang penting adalah percaya
  kepada rahmat Kristus dan memandang pada luka-luka Kristus.

  Sementara Luther bergumul mencari Allah yang rahmani itu, Luther
  ditahbiskan menjadi imam pada 2 Mei 1507. Orang tua serta beberapa
  sahabatnya hadir pada upacara penahbisan tersebut, serta menerima
  ekaristi pertama yang dilayani oleh Martin Luther. Kemudian Johann
  von Staupitz mengirim Luther untuk belajar teologia di Wittenberg
  sambil mengajar filsafat moral di sana. Itulah sebabnya, Luther
  dipindahkan ke biara Augustinus di Wittenberg pada tahun 1508. Namun
  setahun kemudian, ia kembali lagi ke Erfurt untuk mengajar
  dogmatika.

  Di biara Erfurt, Luther mendapat kepercayaan dari pimpinan biara di
  Jerman untuk membahas peraturan-peraturan serikatnya di Roma pada
  tahun 1510. Luther sangat gembira karena dengan demikian ia akan
  berhadapan muka dengan Bapa Suci di Roma, serta berziarah ke
  tempat-tempat kudus dan berdoa di tangga Pilatus untuk pembebasan
  jiwa kakeknya dari api penyucian.

  Luther yang ditemani oleh seorang biarawan serta seorang bruder,
  berjalan kaki dari Erfurt ke Roma. Di Roma Luther tinggal selama
  empat minggu lamanya. Luther mengunjungi tempat-tempat kudus dan
  dengan lutut yang telanjang merangkak naik Scala Santa sambil
  mendoakan jiwa kakeknya di api penyucian. Scala Santa ini adalah
  sebuah tangga yang terdiri dari 28 anak tangga yang dipercayai
  sebagai tangga Pilatus yang dipindahkan dari Yerusalem ke Roma.

  Di Roma Luther melihat keburukan-keburukan yang luar biasa. Para
  klerus hidup seenaknya saja. Nilai-nilai kekristenan sangat merosot
  di kota suci ini. Dalam kekecewaannya Luther berkata, "Jika
  seandainya ada neraka, berarti Roma telah dibangun di dalam neraka."
  Luther telah mempunyai kesan bahwa dahulu Roma adalah kota yang
  tersuci di dunia, namun kini menjadi yang terburuk. Roma
  dibandingkannya dengan Yerusalem pada zaman nabi-nabi. Sekalipun
  demikian, kepercayaan Luther terhadap Gereja Katolik Roma tidak
  tergugat.

  Setelah kembali dari Roma, Luther pindah ke biara di Wittenberg pada
  tahun 1511. Ia tinggal di sini sampai ia meninggal. Atas dorongan
  Johann von Staupitz, Luther belajar lagi sampai memperoleh gelar
  doktornya pada tahun 1512. Johann von Staupitz melihat bahwa Luther
  adalah seorang yang sangat pandai sehingga dianggap cocok untuk
  menjadi mahaguru. Di Wittenberg telah dibuka sebuah universitas baru
  oleh Frederick III yang Bijaksana pada tahun 1502. Frederick
  bersimpati dengan Luther tatkala ia mendengar khotbah Luther
  sehingga ia mengangkat Luther menjadi mahaguru pada universitasnya
  itu. Selain itu, Luther diangkat menjadi pengawas dan pengurus dari
  sebelas biara serikatnya di Jerman.

  Di Universitas Wittenberg Luther mulai mengajarkan tafsiran kitab
  Mazmur, kemudian surat Roma, Galatia, dan surat Ibrani. Sementara
  itu, pergumulan rohaninya mencari Allah yang rahmani terus berjalan.
  Barangkali pada tahun 1514, Luther menemukan jalan ke luar dari
  pergumulannya itu. Ia menemukan pengertian yang baru tentang
  perkataan-perkataan Paulus dalam Roma 1:16-17. Luther mengartikan
  kebenaran Allah sebagai rahmat Allah yang menerima orang-orang yang
  berdosa serta berputus asa terhadap dirinya, tetapi yang menolak
  orang-orang yang menganggap dirinya baik. Kebenaran Allah adalah
  sikap Allah terhadap orang-orang berdosa yang membenarkan manusia
  berdosa karena kebenaran-Nya. Tuhan Allah mengenakan kebenaran
  Kristus kepada manusia berdosa sehingga Tuhan Allah memandang
  manusia berdosa sebagai orang-orang benar. Tentang penemuannya itu
  Luther menulis, "Aku mulai sadar bahwa kebenaran Allah tidak lain
  daripada pemberian yang dianugerahkan Allah kepada manusia untuk
  memberi hidup kekal kepadanya; dan pemberian kebenaran itu harus
  disambut dengan iman. Injillah yang menyatakan kebenaran Allah itu,
  yakni kebenaran yang diterima oleh manusia, bukan kebenaran yang
  harus dikerjakannya sendiri. Dengan demikian, Tuhan yang rahmani itu
  membenarkan kita oleh rahmat dan iman saja. Aku seakan-akan
  diperanakkan kembali dan pintu firdaus terbuka bagiku. Pandanganku
  terhadap seluruh Alkitab berubah sama sekali karena mataku sudah
  celik sekarang." Luther menyampaikan penemuannya itu di dalam
  kuliah-kuliahnya.

  Penemuan Luther ini tidak menjadi titik meletusnya gerakan reformasi
  Luther. Titik meletusnya gerakan reformasi Luther adalah masalah
  penjualan Surat Indulgensia (penghapusan siksa) pada masa
  pemerintahan Paus Leo X untuk pembangunan gedung Gereja Rasul Petrus
  di Roma dan pelunasan hutang Uskup Agung Albrecht dari Mainz. Dengan
  memiliki Surat Indulgensia, dengan cara membelinya, seseorang yang
  telah mengaku dosanya di hadapan imam tidak dituntut lagi untuk
  membuktikan penyesalannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan para
  penjual Surat Indulgensia (penghapusan siksa) melampaui batas-batas
  pemahaman teologis yang benar dengan mengatakan bahwa pada saat mata
  uang berdering di peti, jiwa akan melompat dari api penyucian ke
  surga, bahkan dikatakan juga bahwa surat itu dapat menghapuskan
  dosa.

  Luther tidak dapat menerima praktik seperti itu dengan berdiam diri
  saja. Hatinya memberontak. Itulah sebabnya ia mengundang para
  intelektual Jerman untuk mengadakan perdebatan teologis mengenai
  Surat Indulgensia. Untuk maksud itu Luther merumuskan 95 dalil yang
  ditempelnya di pintu gerbang gereja istana Wittenberg, 31 Oktober
  1517. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai Hari Reformasi.

  Dalil-dalil Luther sudah tersebar di seluruh Jerman hanya dalam
  sebulan. Akibatnya, Surat Indulgensia tidak laku lagi dan Luther
  dianggap sebagai penyebabnya. Paus Leo X menuntut agar Luther
  menarik kembali ajarannya yang sesat itu. Luther membalas permintaan
  Paus dengan memberi penjelasan setiap dalilnya dengan penuh
  penghormatan. Namun, Paus memerintahkan Luther untuk menghadap
  hakim-hakim Paus di Roma dalam waktu enam puluh hari. Ini berarti
  Luther akan dibunuh.

  Beruntunglah Frederick yang Bijaksana melindungi mahagurunya. Ia
  meminta kepada Paus agar Luther diperiksa di Jerman dan permintaan
  ini dikabulkan. Paus mengutus Kardinal Cajetanus untuk memeriksa
  Luther pada tahun 1518. Cajetanus meminta Luther menarik kembali
  dalil-dalilnya, namun Luther tidak mau. Cajetanus pun gagal dalam
  misinya.

  Gerakan Reformasi Luther berjalan terus. Banyak kota dan wilayah
  Jerman memihak kepada Luther dan nama Luther mulai terkenal di luar
  Jerman. Kaum humanis, para petani Jerman bersimpati kepadanya.
  Perdebatan teologis tentang Surat Indulgensia sebagaimana
  dimaksudkan dengan dalil-dalilnya tidak terjadi. Perdebatan itu baru
  terjadi pada bulan Juni 1519, di Leipzig. Dalam perdebatan ini
  Luther berhadapan dengan Johann Eck disertai oleh Carlstadt, rekan
  mahagurunya di Wittenberg. Dalam perdebatan ini Luther mengatakan
  bahwa paus-paus tidak bebas dari kesalahan-kesalahan. Konsili pun
  tidak luput dari kekeliruan-kekeliruan. Luther menunjuk kepada
  Konsili Constanz yang memutuskan hukuman mati atas Johanes Hus.
  Johann Eck menuduh Luther sebagai pengikut Johanes Hus. Dalam
  perdebatan ini pokok perdebatan telah bergeser dari Surat
  Indulgensia ke kekuasaan Paus. Menurut Luther, yang berkuasa di
  kalangan orang-orang Kristen bukanlah Paus atau konsili, tetapi
  firman Allah saja. Kini Luther sudah siap untuk menerima kutuk dari
  Paus.

  Sementara menunggu kutuk Paus, Luther menulis banyak karangan yang
  menjelaskan pandangan-pandangan teologianya. Tiga karangannya yang
  terpenting adalah "An den christlichen Adel deutscherNation: von des
  christlichen Standes Bessening" (Kepada kaum Bangsawan Kristen
  Jennan tentang perbaikan Masyarakat Kristen), 1520; "De Captivitate
  Babylonica Ecclesiae" (Pembuangan Babel untuk Gereja), Oktober 1520;
  "Von der Freiheit eines Christenmenschen" (Kebebasan seorang
  Kristen), 1520.

  Tanggal 15 Juni 1520, bulla (surat resmi) ekskomunikasi dari Paus
  keluar. Bulla itu bernama "Exurge Domine". Paus menyatakan bahwa
  dalam pandangan-pandangan Luther terdapat 41 pokok yang sesat. Ia
  meminta agar Luther menariknya kembali dalam tempo 60 hari, jika
  tidak ia akan dijatuhi hukuman gereja. Namun, Luther membalas bulla
  itu dengan suatu karangan yang berjudul "Widder die Bullen des
  Endchrists" (Melawan bulla yang terkutuk dari si Anti-Kris). Pada 10
  Desember 1520 Luther membakar bulla Paus tersebut bersama-sama
  dengan Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik Roma di depan gerbang kota
  Wittenberg dengan disaksikan oleh sejumlah besar mahasiswa dan
  mahaguru Universitas Wittenberg. Tindakan ini merupakan tanda
  pemutusan hubungannya dengan Gereja Katolik Roma. Kemudian keluarlah
  bulla kutuk Paus pada tanggal 3 Januari 1521. Luther kini berada di
  bawah kutuk gereja.

  April 1521, Kaisar Karel V mengadakan rapat kekaisaran di Worms.
  Luther diundang untuk mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya
  dan karangan-karangannya. Kaisar Karel V menjanjikan perlindungan
  atas keselamatan jiwa Luther. Pada 18 April 1521, Luther menyatakan
  pembelaannya. Wakil Paus meminta agar Luther menarik kembali ajaran-
  ajarannya, namun Luther tidak mau. Kaisar Karel V ingin menepati
  janjinya kepada Luther sehingga sebelum rapat menjatuhkan keputusan
  atas dirinya, Luther diperintahkan untuk meninggalkan rapat. Pada 26
  Mei 1521, dikeluarkanlah Edik Worms yang berisi antara lain: Luther
  dan para pengikutnya dikucilkan dari masyarakat; segala karangan
  Luther harus dibakar; dan Luther dapat ditangkap dan dibunuh oleh
  siapa pun, kapan pun, dan di mana pun juga.

  Ketika Luther melintasi hutan, tiba-tiba ia disergap oleh pasukan
  kuda yang bersenjata. Luther dibawa untuk disembunyikan di istana
  Wartburg atas perintah Frederick yang Budiman. Di sini Luther
  tinggal selama sepuluh bulan dengan memakai nama samaran Junker
  Georg. Di sini pulalah Luther mengerjakan terjemahan Perjanjian Baru
  dari bahasa Yunani (naskah asli PB) ke dalam bahasa Jerman.

  Sementara Luther bersembunyi di Wartburg terjadilah huru-hara di
  Wittenberg. Carlstadt muncul ke depan. Ia menilai bahwa Luther tidak
  berusaha untuk menghapus segala sesuatu yang berbau Katolik Roma. Ia
  menyerang hidup membiara dan menganjurkan agar para biarawan
  menikah. Ia sendiri melayani misa dengan pakaian biasa dan roti
  serta anggur diberi kepada umat. Perubahan-perubahan ini memang
  didukung Luther. Tetapi kemudian Carlstadt dipengaruhi oleh nabi-
  nabi dari Zwickau yang berpandangan radikal. Mereka menyerbu gedung-
  gedung gereja, menghancurkan altar-altar gereja, salib-salib,
  patung-patung, dan sebagainya. Huru-hara ini tidak dapat
  dikendalikan oleh Frederick yang Budiman. Luther mendengar huru-hara
  ini dan segera menuju Wittenberg. Luther berkhotbah selama seminggu
  di Wittenberg untuk meneduhkan suasana kota. Ia mengecam tindakan
  kekerasan serta radikal itu. Menurut Luther pembaharuan gereja tidak
  dapat dilakukan dengan kekerasan atau dengan jalan revolusi. Luther
  menghardik Carlstadt sehingga ia pergi ke Swiss.

  Pada tahun 1525 terjadilah pemberontakan petani di bawah pimpinan
  Muntzer. Luther mengecam dengan keras pemberontakan ini. Ia mengajak
  agar para bangsawan memadamkan pemberontakan ini. Dengan demikian
  Luther memisahkan dirinya dengan golongan-golongan radikal. Setelah
  pemberontakan itu, Luther menikah dengan Katharina von Bora, seorang
  bekas biarawati, pada tahun yang sama.

  Perkembangan reformasi Luther berkembang dengan pesat. Namanya bukan
  saja terkenal di Jerman tetapi juga di luar negeri. Pada tahun 1537
  Luther menulis suatu karangan yang berjudul "Pasal-Pasal Smalkalden"
  yang menguraikan pokok-pokok iman gereja reformatoris. Untuk
  keperluan jemaat dan pemimpin gereja (pendeta), Luther menyusun
  Katekismus Kecil dan Katekismus Besar. Ia kemudian meninggal pada 18
  Februari 1546 dalam usia 62 tahun di Eisleben.

Diringkas dari:
Judul buku    : Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja
Judul artikel : Luther, Martin
Penulis       : Drs. F. D. Wellem, M.Th.
Penerbit      : BPK Gunung Mulia, Jakarta 1999
Halaman       : 168 — 175
Situs penerbit: http://www.bpkgm.com

______________________________________________________________________

 Kita dibenarkan oleh iman dan oleh iman pula memperoleh damai, bukan
 oleh usaha, silih, dan pengakuan
                                            Martin Luther — reformator

+ Karya ______________________________________________________________
Himne

                         BATU PENJURU GEREJA


  Penulis lagu: Samuel J. Stone
  Komposer    : Samuel S. Wesley, 1810-1876
  Nama nada   : "Aurelia"
                Meter-76.76 Ganda

  ... Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
  (Efesus 5:23)

  Seseorang tidak bisa dikatakan mempelajari sejarah gereja tanpa
  memerhatikan gangguan dan penganiayaan yang dialami oleh Gereja
  Kristen dari awal hingga sekarang. Sebagai umat Protestan, kita
  harus menaruh perhatian khusus pada salah satu klimaks terpenting
  dalam perjuangan ini, yaitu peristiwa sejarah tanggal 31 Oktober
  1517. Pada hari itu Martin Luther memakukan 95 dalil di pintu
  Katedral Wittenberg sebagai bentuk protes atas praktik dan
  pengajaran gereja Abad Pertengahan. Namun, sebelum dan juga sejak
  saat itu, amatlah penting bagi orang-orang percaya untuk
  mempertahankan Gereja dari orang-orang yang akan mengotori dan
  menghancurkannya dengan doktrin dan praktik-praktik sesat.

  Seperti itulah peristiwa yang mendasari penulisan himne ini.
  Penulisnya adalah seorang pendeta Gereja Inggris, Samuel J. Stone,
  pada tahun 1866. Selama periode itu, ada banyak masalah yang muncul
  di dalam Gereja Anglikan gara-gara sebuah buku yang ditulis tiga
  tahun sebelumnya oleh salah seorang pendeta Anglikan yang
  berpengaruh, John William Colenso. Dalam buku tersebut, pendeta yang
  liberal ini menyerang keakuratan sejarah Lima Kitab Musa. Bukunya
  yang berjudul "The Pentateuch and The Book of Joshua, Critically
  Examined", ditentang keras oleh pemimpin Anglikan lainnya, Pastor
  Grey. Segera perseturuan teologis antarpemimpin tersebut menjadi
  kontroversi yang tersebar luas ke seluruh Gereja Anglikan.

  Samuel Stone sangat tergugah melihat masalah ini sehingga pada tahun
  1866 dia menulis sekumpulan himne, Lyra Fidelium ("Lyra of the
  Faithful"). Kumpulan ini terdiri dari dua belas himne pengakuan iman
  berdasarkan Pengakuan Iman Rasuli untuk melawan serangan dari
  liberalisme dan pengetahuan modern yang dirasanya akan memecah belah
  dan menghancurkan gereja. Himne khusus ini didasarkan pada "The
  Ninth Article of the Creed" (Artikel Pengakuan Iman ke-9) yang
  berbunyi, "Gereja Katolik (universal) yang Kudus; Perjamuan Kudus
  Orang-Orang Suci: Dialah Kepala dari Tubuh ini." Ini adalah
  keyakinan Stone bahwa kesatuan gereja semata-mata harus terletak
  pada pengenalan akan ketuhanan Kristus sebagai Kepala gereja dan
  bukannya pada pandangan dan interpretasi manusia.

  Himne tersebut menjadi terkenal di seluruh Inggris Raya dan juga
  diterjemahkan ke dalam beragam bahasa, termasuk bahasa Latin. Dua
  tahun kemudian semua pendeta Anglikan berkumpul di London untuk
  sebuah pertemuan teologis yang dikenal sebagai Lambeth Conference
  (Konferensi Lambeth). Himne karya Stone dipilih sebagai prosesi dan
  himne tematis untuk pertemuan bersejarah tersebut. Stone menjadi
  terkenal secara luas dan dihargai sebagai seorang penulis himne yang
  produktif dan banyak dipublikasikan. Stone menulis total tujuh buku
  tentang ayat dan melayani dalam komite yang mempersiapkan edisi 1909
  dari himne Anglikan yang terkenal, Hymns Ancient and Modern (Himne
  Kuno dan Modern). Meskipun demikian, himne tersebut adalah satu-
  satunya himne ciptaannya yang masih digunakan secara rutin sampai
  sekarang.

  Samuel John Stone lahir Whitmore, Staffordshire, Inggris, pada tahun
  1839. Setelah lulus dari Oxford, dia melakukan sebagian besar
  pelayanannya hanya di dua paroki di London, di mana dia sangat
  dikenal sebagai pendeta untuk orang-orang miskin. Di sini waktunya
  dihabiskan untuk melayani orang-orang miskin dan kurang mampu di
  pinggiran Timur London. Di wilayah tersebut dikatakan "dia
  menciptakan satu tempat penyembahan yang indah untuk rakyat kecil
  dan membuatnya menjadi cahaya di tengah kegelapan". Stone dikenal
  sebagai pribadi yang tak bercela; dia sangat sopan terhadap orang
  yang lemah dan membutuhkan, sekaligus pejuang keras bagi kepercayaan
  konservatif yang diserang bertubi-tubi pada masa tersebut. Dia
  menolak untuk berkompromi sebelum Kritik Tinggi (Higher Criticism)
  dan filosofi evolusioner menjadi populer. Keyakinan pribadi terhadap
  firman Tuhan sudah cukup baginya. Seluruh tulisannya digambarkan
  sebagai "perkataan yang sangat terus terang yang muncul karena
  kepercayaan yang berani, di mana dogma, doa, dan pujian saling
  terjalin melalui beragam kemampuan".

  Naskah asli karya Stone sebenarnya terdiri dari tujuh bait. Namun,
  kebanyakan himne yang dipakai sekarang ini hanya menggunakan syair
  pertama, kedua, dan kelima; bait terakhir adalah kompilasi empat
  baris pertama dari syair keenam dan ketujuh. Bait ketiganya yang
  asli, yang diabaikan dalam himne-himne sekarang, juga cukup menarik:

    Gereja tidak akan pernah punah! Tuhanlah yang membela,
    yang memimpin, yang mempertahankan dan menghibur,
    Tuhan menyertai gereja-Nya sampai akhir;
    Meski ada yang membencinya, dan anak-anak palsu dalam pangkuannya,
    melawan musuh atau pengkhianat, dia tak pernah terkalahkan,

  Komposer musik ini, Samuel S. Wesley, lahir di London, Inggris, pada
  14 Agustus 1810. Dia adalah cucu Charles Wesley dan dikenal sebagai
  salah satu musisi gereja yang terkemuka pada masanya. Dia memperoleh
  gelar Doctorate in Music (doktor di bidang musik) dari Universitas
  Oxford saat masih berusia 29 tahun. Dia menulis sejumlah besar musik
  pelayanan gereja dan juga sejumlah nada himne asli. Nada ini, yang
  dikenal dengan sebutan "Aurelia", diambil dari kata "aureus", kata
  Latin untuk "emas", aslinya ditulis untuk teks himne "Jerusalem the
  Golden" (Yerusalem kota emas). Untuk pertama kalinya, nada ini
  digabungkan dengan teks Stone pada tahun 1868 dan dikumandangkan di
  Bishops` Lambeth Conference (Konferensi Lambeth para Pendeta).
  (t/lanny)


Diterjemahkan dari:
Judul buku   : 101 Hymn Stories
Judul artikel: The Church`s One Foundation
Penulis      : Kenneth W. Osbeck
Penerbit     : Kregel Publications, Grand Rapid, MI 1995
Halaman      : 243 — 244

+ Tahukah Anda? ______________________________________________________

  Bahwa Sepuluh Hukum merupakan perkataan Allah yang pertama kali
  disampaikan dalam bahasa tulisan? Musa menuliskan Sepuluh Hukum ini,
  diperkirakan pada tahun 1.400 SM.

Dari: http://www.greatsite.com/

+ Apa Kata Mereka ____________________________________________________

                     MENELADANI JOHANNES KEPLER

  Komentar dari: Puji Arya <puji(at)xxxx>

  Jujur saja, saya tidak mengenal banyak tokoh-tokoh Kristen zaman
  dulu. Karenanya, saya bersyukur kepada Bio-Kristi yang mengenalkan
  dan menyajikannya melalui setiap edisinya.

  Dalam Kolom Riwayat Bio-Kristi Edisi 2, ada seorang tokoh yang
  bernama Johannes Kepler. Dari artikel tersebut, ada hal yang bisa
  saya pelajari darinya, khususnya tentang imannya yang tetap
  berpegang teguh pada Allah meski mengalami penderitaan; Kepler yang
  tetap rendah hati meski semua hal yang telah dikerjakannya, dan
  tetap sadar bahwa semuanya itu bukan hasil usahanya sendiri tapi
  kemuliaan adalah milik Allah semata. Kepler juga merupakan tokoh
  yang mau mengikuti kehendak Allah dengan mengesampingkan rencana
  hidupnya.

  Oke, demikian kesan saya. Tuhan memberkati pelayanan Bio-Kristi.


+ Undangan Berpartisipasi ____________________________________________

  Sejauh ini, Bio-Kristi telah mengangkat profil Augustinus, Sir Isaac
  Newton, Ignatius dari Antiokhia, Johannes Kepler, Martin Luther, dan
  Samuel J. Stone penulis salah satu himne klasik, Batu Penjuru
  Gereja. Kami mengundang sidang pembaca untuk berpartisipasi dengan
  memberikan komentar, tanggapan, pertanyaan, dll. mengenai
  tokoh-tokoh dan karya mereka tersebut untuk dimuat di kolom "Apa
  Kata Mereka". Bila memungkinkan, sertakan pula sumber-sumber yang
  kiranya bisa mendorong pembaca lainnya untuk studi lebih lanjut.
  Silakan kirimkan komentar Anda, paling lambat 17 Nopember 2006.

                 < komentar-bio-kristi(at)sabda.org >

  Catatan:
  Redaksi berhak menyunting komentar yang masuk dari pembaca tanpa
  mengurangi esensi isinya.

+ Sisipan ____________________________________________________________

                SABDA Space: Wadahnya Blogger Kristen

  Anda suka membagikan berkat dari sejumlah pengalaman Anda? Suka
  menulis puisi? Suka membagikan tips dalam dunia penginjilan? Senang
  dengan pengajaran? Atau berbagi pengalaman tentang keluarga? Semua
  itu bisa Anda lakukan di situs blog SABDA Space. Situs blog yang
  dirilis pertama kali pada Agustus 2006 ini telah menjadi wadah bagi
  sejumlah blogger yang telah membagikan banyak hal kepada sesama
  blogger dan pengunjung. Selain hal-hal menyangkut kesaksian,
  penginjilan, pengajaran, dan keluarga, Anda juga bisa menuangkan
  pemikiran atau menimba wawasan dari sejumlah artikel mengenai bahasa
  dan kaum muda. Untuk mendapatkan akses penuh ke situs ini, segeralah
  mendaftarkan diri Anda dan mengisi halaman profil yang telah
  disediakan. Sekali mendaftar, Anda tidak hanya bisa sekadar
  mengirimkan artikel, namun juga memberi komentar kepada sejumlah
  artikel yang telah tersedia.

  ==> http://www.sabdaspace.org/
______________________________________________________________________
                      Staf Redaksi: Raka, Ratri
  Isi dan bahan menjadi tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
             Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                     Copyright(c) BIO-KRISTI 2006
                    YLSA -- http://ylsa.sabda.org/
                      http://katalog.sabda.org/
                    Rekening: BCA Pasar Legi Solo
_________________No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati_________________

Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan : < subscribe-i-kan-bio-kristi(at)xc.org >
Alamat berhenti     : < unsubscribe-i-kan-bio-kristi(at)xc.org >
Arsip Bio-Kristi    : http://www.sabda.org/publikasi/Bio-Kristi/

____________________BULETIN ELEKTRONIK BIO-KRISTI_____________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org