|
Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
https://sabda.org/https://sabda.org/publikasi/bio-kristi/13 |
|
Bio-Kristi edisi 13 (13-8-2007)
|
|
Buletin Elektronik
______________________________BIO-KRISTI______________________________
Biografi Kristiani
==================
Edisi 013, Agustus 2007
Isi Edisi Ini:
- Pengantar
- Riwayat : Selayang Pandang Y.B. Mangunwijaya
- Karya : Napas Kristen pada Angkatan Pujangga Baru
- Tahukah Anda?
- Sisipan : - Alamat Kontak yang Baru
- Edisi Khusus Bio-Kristi
+ Pengantar __________________________________________________________
Salam sejahtera,
Tidak ada kemerdekaan tanpa tanggung jawab yang mesti diemban. Ini
fakta yang tidak dapat dihindarkan. Itulah sebabnya, setiap alam
kemerdekaan harus diisi dengan berbagai pembenahan dalam berbagai
tataran.
Demikian pula dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen di tengah
masyarakat majemuk di bumi Indonesia ini. Menapaki 62 tahun
kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini, apakah sumbangsih kita
bagi sesama? Sudahkah karya nyata kita menyentuh orang-orang yang
notabene hidup dalam kekurangan? Dalam kemiskinan materi, lagi
rohani? Sudahkah kita melayani mereka?
Kali ini Bio-Kristi hendak berbagian dalam perayaan 62 tahun
kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengangkat dua tokoh nasional.
Keduanya sama-sama pendidik, sama-sama sastrawan, sama-sama
menyatakan iman dalam cara yang berbeda, namun sama-sama mencintai
negerinya. Buah karya mereka mewartakan hal itu. Kiranya sajian kali
ini semakin mendorong kecintaan kita pada nusa dan bangsa, sekaligus
membangkitkan semangat berkarya bagi sesama, terlebih lagi bagi
kemuliaan Tuhan.
Dirgahayu negeriku, dirgahayu bangsaku!
Selamat membaca.
Pengasuh Bio-Kristi
R.S. Kurnia
+ Riwayat ____________________________________________________________
1929 -- 1999, Sastrawan, Budayawan, Arsitek, Pendidik
SELAYANG PANDANG Y.B. MANGUNWIJAYA
Dirangkum oleh: R.S. Kurnia
Ada banyak gelar yang bisa disandangkan pada sosok yang biasa
dikenal sebagai Romo Mangun ini. Ia adalah seorang arsitek, seorang
humanis, seorang sastrawan, juga budayawan. Sebagai pendidik, ia
juga berperan menghadirkan suatu pendidikan alternatif.
SIAPAKAH ROMO MANGUN?
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya adalah nama lengkapnya. Ia dilahirkan
pada tanggal 6 Maret 1929 di Ambarawa, Jawa Tengah, sebagai anak
sulung dari dua belas bersaudara. Ayahnya bernama Yulianus Sumadi,
sedangkan ibunya Serafin Kamdaniyah.
Romo Mangun mengawali pendidikannya di HIS Fransiscus Xaverius,
Muntilan, Magelang (1936 -- 1943). Lalu berturut-turut di STM Jetis,
Yogyakarta (1943 -- 1947), dan SMU-B Santo Albertus, Malang
(1948 -- 1951). Selanjutnya ia menempuh pendidikan seminari pada
Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta, yang dilanjutkan ke Seminari
Menengah Santo Petrus Kanisius di Mertoyudan, Magelang.
Pada masa-masa sekolahnya, Romo Mangun sudah ikut dalam gerakan
kemerdekaan. Ia, misalnya, ikut dalam aksi pencurian mobil-mobil
tentara Jepang. Ia pun bergabung dalam Batalyon X Divisi III sebagai
prajurit TKR. Ia turut pula dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang,
dan Mranggen. Selain menjadi prajurit Tentara Pelajar, ia pernah
pula bertugas sebagai sopir pendamping Panglima Perang Sri Sultan
Hamengkubuwono IX memeriksa pasukan. Pernah pula ia menjabat sebagai
komandan Tentara Pelajar saat Agresi Militer Belanda I pada Kompi
Kedu.
IMAM YANG MENEKUNI ARSITEKTUR
Pada tahun 1951, ia masuk ke Seminar Menengah di Kotabaru. Setahun
kemudian, ia pindah ke Seminari Menengah Petrus Kanisius,
Mertoyudan, Magelang. Ia melanjut ke Institut Filsafat dan Teologi
Santo Paulus di Kotabaru. Di sinilah ia bertemu mentornya, Uskup
Soegijapranata, SJ., sosok yang juga menjadi tokoh Nasional.
Uskup Soegijapranata, SJ. merupakan uskup agung pribumi pertama di
Indonesia. Tidak hanya mengajar, Soegijapranata pulalah yang
menahbiskan Romo Mangun sebagai imam pada tahun 1959.
Meski telah menjabat sebagai imam, cita-cita Romo Mangun sejak lama
untuk menjadi insinyur tidaklah hilang. Itulah sebabnya, setelah
ditahbiskan, ia justru melanjutkan pendidikannya di Teknik
Arsitektur ITB, juga pada tahun 1959. Dari ITB, ia melanjutkan
studinya di universitas yang sama dengan B.J. Habibie, yaitu di
Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman pada
1960, yang diselesaikannya pada tahun 1966. Pendidikan arsitektur
inilah yang kemudian memberinya landasan yang kuat untuk
menghasilkan beragam karya arsitektural yang justru menghadirkan
nuansa baru dalam arsitektur Indonesia. Tidak heran pula bila ia
kemudian dikenal sebagai bapak arsitektur modern Indonesia.
Sebagai arsitek, ia merancang membangun banyak gedung. Sebut saja
kompleks peziarahan Sendangsono, Gedung Keuskupan Agung Semarang,
Bentara Budaya Jakarta, pelbagai bangunan lain, termasuk beberapa
gereja. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pun menganugerahinya IAI
Awards 1991 dan 1993 sebagai penghargaan atas beberapa karyanya.
Adapun karya arsitekturalnya di Kali Code menjadi salah satu
"monumen" Romo Mangun. Ia membangun kawasan pemukiman warga
pinggiran itu tidak sebatas pembangunan fisik, tapi sampai pada fase
memanusiakan manusia.
"Penataan lebih pada segi sosio-politis dan pengelolaan
kemasyarakatan," demikian tutur Romo Mangun, yang dikenal juga
sebagai bapak dari masyarakat "Girli" (pinggir kali) mengenai
"monumen"-nya tersebut.
Penataan lingkungan di Kali Code itu pun membuahkan The Aga Khan
Award for Architecture pada tahun 1992. Tiga tahun kemudian, karya
yang sama ini membuahkan penghargaan dari Stockholm, Swedia, The
Ruth and Ralph Erskine Fellowship Award untuk kategori arsitektur
demi rakyat yang tak diperhatikan.
MEMIHAK RAKYAT KECIL
Sisi humanisme Romo Mangun memang begitu kental. Pada tahun 1986, ia
mendampingi warga Kedungombo yang kala itu memperjuangkan lahannya
dari pembangunan waduk. Pembelaannya kepada nasib penduduk
Kedungombo menyebabkan presiden, yang saat itu masih dijabat oleh
Soeharto, menuduhnya sebagai komunis yang mengaku sebagai
rohaniawan. Berbagai teror dan intimidasi menghampirinya pula.
"Kalau saya dituduh melakukan kristenisasi kepada para santri,
silakan tanyakan langsung kepada warga Kedungombo. Kalau saya
dikatakan sebagai warga negara yang tidak taat kepada pemerintah,
saya jawab, ketaatan itu harus pada hal yang baik. Orang tidak
diandaikan untuk menaati perintah yang buruk. Apa yang saya kerjakan
sesuai dengan Mukadimah UUD 1945 dan Pancasila," komentarnya tenang.
Upaya yang tidak sia-sia mengingat pada tanggal 5 Juli 1994,
akhirnya Mahkamah Agung RI mengabulkan tuntutan kasasi 34 warga
Kedungombo tersebut. Malahan warga memperoleh ganti rugi yang
nilainya lebih besar daripada tuntutan semula.
SEBAGAI PENULIS SEKALIGUS PENDIDIK
Karya tulis yang dihasilkan Romo Mangun bukanlah karya tulis
sembarangan. Semua dihadirkan dengan alam pikir yang kompleks. Hal
ini terwujud pula dari kalimatnya yang panjang-panjang, yang tak
jarang sulit dipahami. Namun, ia berkata, "Tulisan saya realitas.
Realitas itu kompleks, tidak sederhana, tidak satu dimensi, canggih,
rumit, dan banyak segi. Kalimat mestinya begitu juga."
Faruk H.T. berkomentar, "Karya-karya sastra Romo Mangun pada
dasarnya berisi cerita tentang pengorbanan dan penyerahan kekuasaan
yang tidak menutup kemungkinan bagi munculnya pengkhianatan" (Gatra
20 Februari 1999).
Kekayaan tulisan Romo tidak hanya terlihat lewat bingkai sejarah
yang dihadirkan, tetapi juga persoalan kultur turut dibahasnya.
Dalam bukunya, "Pasca-Indonesia, Pasca-Einstein" (1999), masalah
kultur dan dikotomi Barat-Timur, ia bahas secara tajam.
Dalam bidang kesusastraan, buah tangannya tidak dimungkiri pula.
Sebut saja "Burung-Burung Manyar" (1981) yang menuai penghargaan
dari Ratu Thailand Sirikit lewat ajang The South East Asia Write
Award 1983. Ia juga menjadi orang Indonesia kedua setelah Goenawan
Mohammad yang mendapat penghargaan The Professor Teeuw Award di
Leiden, Belanda, untuk bidang susastra dan kepedulian terhadap
masyarakat. Adapun karya sastra terakhirnya berjudul "Pohon-Pohon
Sesawi", yang diterbitkan setahun setelah ia meninggal.
Tidak hanya dalam bidang arsitektur dan penulisan, Romo Mangun pun
memiliki keprihatinan terhadap sistem pendidikan di Indonesia.
Ia mewujudkannya dengan mendirikan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar.
Catherine Mills, yang menulis tesis mengenai Romo Mangun, mengutip
perkataan Romo, "When I die, let me die as a primary school teacher
(kalau saya meninggal, biarkan saya meninggal sebagai guru sekolah
dasar)." Bagi Romo Mangun, pendidikan dasar jauh lebih penting
daripada pendidikan tinggi. Itulah sebabnya, ia pun pernah berujar,
"Biarlah pendidikan tinggi berengsek dan awut-awutan. Namun, kita
tidak boleh menelantarkan pendidikan dasar."
Mengenai cara Romo Mangun mendidik anak-anak, budayawan Mudji
Sutrisno memiliki kenangan tersendiri. Ketika bersama anak-anak
didiknya sedang merayakan ulang tahun salah seorang anak, Romo
melihat bahwa anak-anak kecil tersebut tidak sanggup menghabiskan
makanannya. Akhirnya, Romo mengumpulkan sisa makanan tersebut
menjadi satu dan memakannya agar tidak ada yang terbuang.
"Dengan menghabiskannya serta menjelaskan bahwa makanan adalah
rezeki Sang Pencipta, maka sebuah penghayatan keteladanan dalam
menanamkan nilai syukur dan menghargai nasi tertanam amat menyentuh.
Apalagi, santapan itu dihabiskan sang guru dengan rendah hati,"
kenang Mudji.
ROMO BERPULANG
Romo Mangun sebenarnya telah memasang alat pacu jantung sejak 1990.
Lalu sejak 1994, ia berniat mengurangi aktivitasnya sebagai
pembicara di berbagai seminar dan diskusi. Meski demikian, pada
tahun 1999, ia justru menghadiri kegiatan yang ia hindari itu.
Pada tanggal 10 Februari 1999, Romo Mangun menghadiri Simposiom
"Meningkatkan Buku Dalam Upaya Membentuk Masyarakat Baru Indonesia",
yang diselenggarakan Yayasan Obor Indonesia, di Hotel Le Meridien,
Jakarta. Ia juga berbagian sebagai pembicara pada simposium
tersebut, namun belum lama, badannya limbung, nyaris jatuh.
Budayawan Mohamad Sobary langsung membaringkannya di lantai Ruang
Puri. Dan tepat pukul 13:55 WIB, Romo Mangun dinyatakan meninggal
karena serangan jantung.
Pemakamannya dihadiri oleh ribuan pelayat. Hal ini menunjukkan
betapa ia merupakan pribadi yang sangat dikagumi sekaligus dihormati
masyarakat dari berbagai kalangan. Tidak hanya kalangan rohaniawan
dan penganut Katolik atau masyarakat Yogyakarta, berbagai lapisan
masyarakat dan agama turut menghadiri.
Budayawan Mudji Sutrisno mengapresiasi sosok Romo sebagai seorang
rohaniawan yang menghidupi iman Katolik dan imamatnya dengan
tindakan nyata. Tidak hanya seorang pastor yang melayani misa,
tetapi juga pastor yang terlibat dalam membahasakan cinta. Masih
menurutnya, Romo Mangun benar-benar mempraktikkan karya Yesus yang
menyapa, peduli, berjuang, menyatu dengan kaum terpinggirkan, dan
hidup bersama mereka.
Cita-cita Romo Mangun memang banyak yang terlampaui. Sebagai
arsitek, ia berhasil membangun beragam bangunan yang membuahkan
penghargaan. Sebagai penulis, karyanya pun diakui di tingkat dunia.
Hanya saja, obsesinya tentang pendidikan anak-anak miskin belum
tercapai. Ia memang telah merintis Yayasan Dinamika Edukasi Dasar
sejak tahun 1980-an, sebuah wadah pengajaran bagi anak-anak miskin
dan telantar. Ia juga merintis sekolah di desa Mangunan, Kalasan,
yang menurut Mudji Sutrisno merupakan karya intelektual yang nyata,
yang melakukan penyebaran ide dan kritis. Intelektual yang tidak
saja memiliki "laboratorium" tapi juga mewakili nurani bangsa.
Sayang, perjuangannya harus terhenti oleh penyakit jantung, saat SD
Mangunan tersebut baru berjalan lima tahun, kurang empat tahun untuk
melihat hasil dari kurikulum pendidikan dasar sembilan tahun yang
dirancang dan diaplikasikan oleh Romo Mangun sendiri. Mungkinkah ini
menjadi tongkat estafet bagi semua orang, sebagaimana Yesus
meninggalkan Petrus dan rekan-rekan lainnya untuk melanjutkan karya
mereka bersama. Ya, tongkat estafet itu harus disambut oleh setiap
orang percaya. Andakah itu?
Dirangkum dari
Anonim. 1999. Sang Pastor Pejuang Romo Mangun telah Pergi, dalam
SiaR News Service, Rabu 10 Februari 1999,
http://www.mail-archive.com/siarlist@minipostgresql.org/msg00416.html.
Laksono, Mayong S. Romo Mangun: Merakyat untuk Balas Budi kepada
Rakyat, dalam Intisari on the Net, Maret 2000,
http://www.indomedia.com/intisari/2000/maret/mangun.htm.
Prakosa, Ambara Muji. 2007. Man For Others: Sketsa Mangun (1),
dalam http://orcafilms-inside.blogspot.com/2007/05/man-for-others-sketsa-mangun-1.html.
Wikipedia Indonesia. 2007. Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, dalam
http://id.wikipedia.org/wiki/Y.B._Mangunwijaya.
______________________________________________________________________
Semoga mereka yang telah ditebus-Nya belajar untuk berjalan dan
berbicara dengan Dia ... melalui segala sesuatu yang diciptakan-Nya.
George Washington Carver -- Ahli Botani
+ Karya ______________________________________________________________
1907 -- 1968, Pujangga Baru, Sastrawan
NAPAS KRISTEN PADA ANGKATAN PUJANGGA BARU
Oleh: R.S. Kurnia
Dalam khazanah kesusastraan Indonesia, aspek religi banyak
dikumandangkan dalam bentuk sajak. Ada pula Taufiq Ismail, Emha
Ainun Najib, dan banyak lagi. Apalagi ketika membicarakan Pujangga
Baru, tentulah orang akan teringat akan nama Amir Hamzah, Sang Raja
Pujangga Baru, yang tak kalah sering menulis sajak religi. Namun,
warna Kristen di kesusastraan Indonesia tidaklah banyak[1].
Meski demikian, bukan berarti tidak ada sastrawan Kristen yang
pernah menghias kesusastraan negeri ini[2]. Masih satu angkatan
dengan Sang Raja Pujangga Baru, tercatat pula nama J.E. Tatengkeng.
Bila yang satu berasal dari Indonesia bagian barat, yang lain
berasal dari Indonesia bagian timur. Hanya saja, J.E. Tatengkeng
merupakan satu-satunya sastrawan yang menghadirkan nuansa
kekristenan pada zamannya.
KEHIDUPAN SANG PUJANGGA
Nama lengkapnya Jan Engelbert Tatengkeng. Ia dilahirkan di Kolongan,
Sangihe, Sulawesi Utara, 19 Oktober 1907. Ayahnya seorang guru Injil
sekaligus seorang kepala sekolah zending. Tidaklah mengherankan bila
akhirnya ia terkesan memiliki latar kekristenan yang cukup kental,
yang dihadirkannya dalam berbagai sajaknya.
Ia biasa dipanggil Oom Jan oleh orang-orang dekatnya, panggilan yang
lazim di kalangan masyarakat. Ia mengenyam pendidikan dasarnya di
sekolah Belanda, HIS, di Manganitu. Lalu melanjut ke Christelijk
Middagkweekscool atau Sekolah Pendidikan Guru Kristen di Bandung,
Jawa Barat. Kemudian ia melanjutkan sekolahnya ke Solo, Jawa Tengah,
tepatnya di Sekolah Menengah Tinggi Pendidikan Guru Kristen.
Ketika bersekolah itulah, Tatengkeng mulai mengenal "Tachtigers"[3],
sebuah aliran kesusastraan Belanda yang disebut juga sebagai
Angkatan 80-an. Aliran kesusastraan inilah yang kemudian banyak
memengaruhinya. Meski demikian, ia menentang pandangan Jacques
Perk[4]. Bagi Tatengkeng, seni adalah seni. Seni tidak dapat
dilihat sebagai Tuhan dan tidak sebaiknya dijadikan semata-mata
sebagai alat. Pandangannya ini tertuang dalam tulisannya.
"Penyelidikan dan Pengakuan".
TATENGKENG DAN KEBENARAN
Kedatangan Belanda ke Indonesia, selain membawa kekristenan, tentu
juga membawa arus pemikiran yang berkembang di Barat pada masa itu.
Demikianlah, kegetolannya pada aliran Tachtigers itu membuatnya
dekat pula dengan alam pikiran dunia Barat. Namun semakin lama, ia
meyakini bahwa di sana pun ia tidak menemukan kebenaran. Hal inilah
yang konon membawanya dekat dengan alam yang baginya tetap merupakan
misteri. Meskipun menyampaikan makna yang melebihi dari sekadar
gambaran alam, sejumlah sajaknya tidak terlepas dari nuansa alam.
Lihat saja sajak "Di Pantai, Waktu Petang". Ia merangkaikan kata
demi kata dengan indah, menggambarkan ombak (baris pertama),
matahari (disebutkan "syamsu", bahasa Arab, pada baris kedua),
pegunungan (baris keempat dan sembilan).
Mercak-mercik ombak kecil memecah,
Gerlap-gerlip sri syamsu mengerling,
Tenang-menyenang terang cuaca,
Biru kemerahan pegunungan keliling.
Berkawan-kawan perahu nelayan,
Tinggalkan teluk masuk harungan,
Merawan-rawan lagunya nelayan,
Bayangan cinta kenang-kenangan.
Syamsu menghintai di balik gunung,
Bulan naik tersenyum simpul.
Hati pengarang renung termenung,
Memuji rasa-sajak terkumpul.
Makin alam lengang dan sunyi,
Makin merindu Sukma menyanyi
Meski demikian, ia tidak serta-merta menerima alam sebagai sumber
kebenaran. Dalam perjalanan hidupnya, ia menyadari dan meyakini
bahwa kebenaran itu hanya ada pada Allah semata. Ia mencari jawaban
akan kebenaran yang dicarinya di berbagai tempat: di mata air, di
dasar kolam, di kawanan awan, di indahnya bunga, gunung, dan
bintang. Sampai ia berseru kepada Allah yang Mahatinggi. Itulah yang
ia gambarkan dalam sajaknya, "Kucari Jawab" berikut ini.
Di mata air, di dasar kolam,
Kucari jawab teka-teki alam.
Di kawan awan kian kemari,
di situ juga jawabnya kucari.
Di warna bunga yang kembang.
Kubaca jawab, penghilang bimbang,
Kepada gunung penjaga waktu.
kutanya jawab kebenaran tentu,
Pada bintang lahir semula,
Kutangis jawab teka-teki Allah.
Ke dalam hati, jiwa sendiri,
Kuselam jawab! Tiada tercerai
Ya, Allah yang Maha - dalam,
Berikan jawab teka-teki alam.
0, Tuhan yang Maha - tinggi,
Kunanti jawab petang dan pagi`
Hatiku haus `kan kebenaran,
Berikan jawab di hatiku sekarang ...
Sebagian orang mungkin akan memandang karya-karyanya yang
bernapaskan Kristen itu hanya didasari oleh latar belakang keluarga
dan masyarakat Sulawesi yang notabene Kristen. Namun, kita perlu
mempertimbangkan kenyataan bahwa Roh Kudus memang berkarya dalam
diri orang-orang pilihannya. Lihatlah dalam karyanya yang berjudul
"O Kata" berikut ini.
Sudah genap
O kata
Dua patah,
Yang dikata dengan nyata,
Oleh badan payah patah.
Itu kata
Ada berita,
Terbesar dari sewarta,
Karna oleh kata nyata
Tuhan menang segala titah!
Karna kata,
Aku serta
Oleh Allah diberi harta
Selamat alam semesta
Sajak di atas datang dengan pengenalan akan karya Allah dalam Yesus
Kristus. Tatengkeng menggambarkan betapa Kristus mengerjakan karya
keselamatan dan menyatakannya dengan jelas (baris keempat). Di
tengah rasa sakit derita yang dirasakan-Nya (baris kelima). Lewat
sajak tersebut, Tatengkeng berusaha menangkap makna penderitaan
Kristus di salib, sekaligus hendak berkata bahwa Kristus Yesus
adalah Anak Allah yang mengaruniakan keselamatan. Baris kedua belas
menjadi pernyataan iman, betapa dirinya pun termasuk yang diberi
belas kasihan oleh Allah.
Selain itu, kita tidak bisa menghindarkan fakta bahwa semakin kuat
nilai spiritual seseorang, semakin tergambar pula hal tersebut dalam
karya-karya yang dituangkannya. Meski tidak selalu demikian, ini
merupakan suatu kecenderungan yang selalu hadir di setiap zaman.
Tentu kita mengenal C.S. Lewis, salah seorang apologet Kristen yang
ternama. Semenjak berbalik menjadi seorang Kristen, berbagai
karyanya mulai diarahkan untuk memberi pernyataan dan sikap imannya.
Hal ini pulalah, yang menurut hemat saya, terjadi pada Tatengkeng.
Dalam sajaknya yang lain, "Panggilan Pagi Minggu", Tatengkeng
menyuarakan panggilan Ilahi bagi segenap umat.
Sedang kududuk di ruang bilik,
Bermain kembang di ujung jari,
Yang tadi pagi telah kupetik,
Akan teman sepanjang hari.
Kudengar amat perlahan,
Mendengung di ombak udara,
Menerusi daun dan dahan,
Bunyi lonceng di atas menara.
Katanya:
Kukui apang biahe,
Lulungkang u apang nate
Kupanggil yang hidup,
Kutangisi yang mati,
Pintu jiwa jangan ditutup,
Luaskan Aku masuk ke hati
Masuklah, ya, Tuhan dalam hatiku!
Meskipun berpredikat sebagai salah seorang sastrawan Pujangga
Baru[4], sesungguhnya Tatengkeng juga aktif dalam bidang politik. Ia
sempat pula menjabat sebagai Perdana Menteri NTT pada tahun 1949. Ia
juga berperan dalam dunia pendidikan -- Tatengkeng merupakan salah
satu pendiri Universitas Hasanuddin.
Semenjak 1953, Tatengkeng yang pernah dipenjara oleh Jepang ini[5]
mulai jarang menulis. Namun, ini bukan berarti ia tidak menulis sama
sekali. Kehidupan seorang sastrawan tidak pernah lepas dari kertas
dan pena. Maka sangatlah riskan untuk menyebutkan aktivitas
kepenulisannya terganggu dengan kegiatannya di dunia politik.
Umumnya, para penulis akan menggunakan kertas-kertas untuk
mencorat-coret. Bukan tidak mungkin bila Tatengkeng turut melakukan
hal ini. Perkaranya, seberapa banyak yang tersisa?
Bagaimanapun juga, sejumlah sajaknya yang terbit setelah 1953
menunjukkan bahwa ia masih melakukan aktivitas kepenulisan.
Jan Engelbert Tatengkeng meninggal dunia pada 6 Maret 1968. Ia
dimakamkan di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Kepergiannya 39 tahun
yang lalu itu rasanya pantas direlakan dan dihargai. Ia menjadi
satu-satunya sastrawan pada masanya yang menyatakan imannya kepada
masyarakat Indonesia lewat jalur sastra. Suatu jejak yang patut
disyukuri. Sentuhannya yang sangat khas, rasanya sulit dicari
tandingannya pada masa kini.
Kumpulan puisinya yang terkenal ialah "Rindu Dendam" yang berisi 32
sajak yang ia tulis. Karya ini aslinya diterbitkan untuk pertama
kalinya pada tahun 1934 dan diterbitkan oleh Chr. Derkkerij "Jawi".
Karya-karya lainnya dapat disebutkan di sini.
Dalam majalah Pujangga Baru
- "Hasrat Hati" - "Anak Kecil"
- "Laut" - "Beethoven"
- "Petang" - "Alice Nahon"
- "O, Bintang" - "Gambaran"
- "Sinar dan Bayang" - "Katamu Tuhan"
- "Sinar di Balik" - "Willem Kloos"
- "Tangis"
Dalam majalah lain
- "Anak Kecil" - "Penumpang kelas 1"
- "Gadis Bali" - "Aku Berjasa"
- "Gua Gaja" - "Cintaku"
- "Ke Balai" - "Mengheningkan Cipta"
- "Sekarang Ini" - "Aku dan Temanku"
- "Sinar dan Bayang" - "Kepada Dewan Pertimbangan Kebudayaan"
- "Aku Dilukis" - "Sang Pemimpin (Waktu) Kecil"
- "Bertemu Setan"
Prosa
- "Datuk yang Ketularan"
- "Kemeja Pancawarna"
- "Prawira Pers Tukang Nyanyi"
- "Saya Masuk Sekolah Belanda"
- "Sepuluh Hari Aku Tak Mandi"
Drama
"Lena". Sulawesi. No. 1. Tahun 1. 1958
Catatan akhir
1. Mungkin ini pula yang menyebabkan sastra Indonesia tidak dirasa
dekat dengan kekristenan. Di satu sisi, tidak banyak universitas
Kristen yang membuka program studi sastra Indonesia, khususnya di
Indonesia bagian barat.
2. Salah satu yang sempat saya ingat sebagai sastrawan kontemporer
ialah Saut Sitompul. Kumpulan puisinya berjudul "Kongres Kodok".
Beberapa puisinya disajikan dalam bentuk yang cukup unik. Hampir
seperti karya Sutardji Calzoum Bachri yang menyerupai mantra.
Namun, di beberapa puisi ia menyertakan notasi angka untuk
dilagukan.
3. "Tachtigers" ini tidak hanya diidentikkan dengan negara Belanda
saja, tetapi juga negara-negara lain yang menggunakan bahasa
Belanda sebagai pengantarnya, seperti Belgia, Suriname, Antila
Belanda, termasuk mereka yang berada di Indonesia pada masa itu
(Wikipedia 2007).
4. Pujangga Baru mulanya hanya merupakan nama majalah sastra dan
kebudayaan yang dikelola oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn
Pane, Amir Hamzah, dan Sanusi Pane. Sempat terbit antara 1933
sampai Jepang melarangnya, majalah ini terbit kembali pada 1945.
5. Pada masa pendudukan Jepang, Tatengkeng pernah dipenjara oleh
Jepang tanpa alasan yang jelas (Wasono 1997). Kemungkinan karena
aktivitasnya yang dinilai memberi efek negatif terhadap
pendudukan Jepang kala itu. Saat itu, aktivitas kesusastraan
harus dilakukan secara bawah tanah karena Jepang melarang
kegiatan tersebut.
Daftar Bacaan:
Dunia Sastra. Tanpa Tahun. Sejarah Singkat tentang Pujangga Baru,
dalam http://www.duniasastra.com/historypujanggabaru.htm.
Esten, Mursal. Tanpa Tahun. J.E. Tatengkeng, dalam Sajak-Sajak
Tanah Air, http://www.geocities.com/paris/parc/2713/jet.html.
Mizamunir. Biodata Sastrawan 1900--1949, dalam
http://mizamunir.multiply.com/journal/item/7.
Puitika. 2007. J. E. Tatengkeng, dalam http://puitika.net/item/329.
Wasono, Sunu. 1997. Guru Sejati yang Pernah Digebuk Jepang, dalam
Sisipan Kakilangit Majalah Horison, Oktober 1997. Hal. 11.
Wikipedia. 2007. Tachtigers, dalam
http://en.wikipedia.org/wiki/Tachtigers.
+ Tahukah Anda? ______________________________________________________
J.E. Tatengkeng termasuk sastrawan yang sering berkorespondensi. Rekan
korespondennya yang juga sastrawan ialah Sutan Takdir Alisjahbana,
salah satu dedengkot Pujangga Baru.
Sumber: Majalah Horison, Oktober 1997
+ Sisipan ____________________________________________________________
Alamat Kontak yang Baru
Berkenaan dengan penataan ulang sistem e-mail, dengan ini kami
memberitahukan perihal penggantian alamat kontak Redaksi Bio-Kristi
kepada para pelanggan sekalian. Bila sebelumnya kami menggunakan
alamat < staf-bio-kristi(at)sabda.org >, sekarang kami menggunakan
alamat
biokristi(at)sabda.org
sehingga berbagai jenis korespondensi dapat ditujukan kepada kami
melalui alamat baru tersebut. Kami nantikan masukan maupun kritik
Anda perihal pengembangan Bio-Kristi ini di alamat tersebut.
Edisi Khusus Ulang Tahun
Hampir bersamaan dengan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia,
bulan Agustus ini, Buletin Elektronik Biografi Kristiani genap
berusia satu tahun sejak diluncurkan pertama kali pada 24 Agustus
2006. Oleh karena itu, redaksi mengundang para pelanggan sekalian
untuk menuliskan kesaksian seputar Bio-Kristi. Silakan ceritakan
berkat yang telah Anda peroleh dari 24 tokoh yang telah disajikan
redaksi selama setahun kemarin. Kesaksian Anda akan dirangkum dalam
edisi khusus yang akan diterbitkan 27 Agustus 2007. Bagikanlah
kesaksian Anda selama ini kepada para pelanggan lainnya ke:
biokristi(at)sabda.org
______________________________________________________________________
Pengasuh: R.S. Kurnia
Isi dan bahan menjadi tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) BIO-KRISTI 2007
YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
_________________No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati_________________
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan: < subscribe-i-kan-bio-kristi(at)hub.xc.org >
Alamat berhenti : < unsubscribe-i-kan-bio-kristi(at)hub.xc.org >
Kontak redaksi : < biokristi(at)sabda.org >
Alamat situs : http://biokristi.sabda.org/
Alamat forum : http://biokristi.sabda.org/forum/
Arsip Bio-Kristi : http://www.sabda.org/publikasi/Bio-Kristi
____________________BULETIN ELEKTRONIK BIO-KRISTI_____________________
|
|
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |