Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/berita_pesta/50

Berita PESTA edisi 50 (31-1-2011)

Januari/2011

BERITA PESTA
Edisi 50/Januari/2011

DAFTAR ISI
BERITA PESTA: KELAS DIK & KELAS PASKAH
ARTIKEL: BUAH IMAN YANG MENJADI BERITA
FAKTA ALKITAB: BAGAIMANA SEBENARNYA ALKITAB DITULIS?
POKOK DOA

Shalom,

Apa kabar? Kiranya kasih Tuhan senantiasa menyertai Anda semua.

Mulai Januari 2011, Berita PESTA tampil dengan format baru. Hal ini
kami lakukan karena kami melihat ada banyak pelanggan yang sekarang
mulai lebih suka mengakses email lewat media Mobile (Handphone/Telepon
genggam). Nah, perubahan format ini kami harap dapat membuat Anda
lebih nyaman untuk membaca Berita PESTA. Jika ada di antara Anda yang
ingin memberikan usulan agar tampilan Berita PESTA bisa lebih baik
lagi, silakan menghubungi Redaksi. Kami akan senang sekali
menerimanya.

Selamat menyimak berita-berita kegiatan PESTA dan juga sebuah artikel
panjang yang sangat menarik. Jangan lupa menghubungi Sdri. Kusuma
< kusuma(at)in-christ.net > untuk menanyakan lebih jelas atau untuk
mendaftarkan diri ke kelas-kelas diskusi PESTA. Tuhan memberkati.

Pimpinan Redaksi Berita PESTA,
Desi Rianto
< ryan(at)in-christ.net >
< http://pesta.org >


           BERITA PESTA: KELAS DIK & KELAS PASKAH

1. Kelas Diskusi Dasar-dasar Iman Kristen (DIK) akan Berlangsung

Sesuai dengan kalender akademik PESTA, diskusi kelas DIK telah dimulai
pada tanggal 13 Januari 2011, dan saat ini kelas diskusi DIK sedang
melangsungkan proses diskusi. Kelas diskusi ini diikuti oleh 22
peserta. Untuk itu, kami berharap melalui hasil diskusi tersebut
setiap peserta dapat semakin rindu untuk belajar kebenaran firman
Tuhan.

Beberapa topik utama yang akan didiskusikan, antara lain: penciptaan,
manusia dan dosa, rencana keselamatan dan penebusan melalui Yesus
Kristus, serta hidup baru dalam Kristus. Doakan agar melalui kelas
diskusi ini para peserta dapat semakin memahami pentingnya pengajaran
yang berpusat kepada firman Tuhan sebagai standar kehidupan orang
percaya.

2. Pendaftaran Kelas Diskusi Paskah Maret 2011

Menjelang Paskah 2011, PESTA juga akan membuka kelas khusus Paskah,
yang akan mempelajari pokok-pokok penting tentang karya penebusan
Kristus. Kami berharap melalui kelas diskusi ini peserta semakin
memahami makna Paskah yang kita rayakan setiap tahun sehingga tidak
hanya menjadi sekadar tradisi saja. Kelas ini terbuka untuk umum,
silakan segera mendaftarkan diri ke: < kusuma(at)in-christ.net >

Kelas diskusi Paskah ini akan berlangsung pada 2 Maret - 4 April 2011.
Selama masa diskusi, peserta akan diminta untuk menulis renungan
Paskah sebagai syarat kelulusan kelas diskusi Paskah. Peserta yang
lulus akan mendapat serfitikat sebagai penghargaan kami atas kesediaan
Anda belajar bersama di Pesta. Nah, tunggu apa lagi? Segeralah
mendaftar dan Anda akan bertemu dan bersekutu dengan saudara-saudara
seiman dari berbagai latar belakang denominasi. Mari kita jalin
persatuan Tubuh Kristus dengan belajar kebenaran firman Tuhan
bersama-sama.

             ARTIKEL: BUAH IMAN YANG MENJADI BERITA
         (Sebuah Renungan Berdasarkan Matius 9:18-26)

I. Pendahuluan

Apakah pernyataan iman itu berbeda-beda? Ya, tentu saja! Itulah yang
dikisahkan Matius dalam pasal 9 ayat 18-26. Dibandingkan dengan
tulisan Markus dan Lukas mengenai peristiwa ini, tulisan Matius adalah
yang terpendek. Agaknya Matius sengaja meniadakan
keterangan-keterangan yang dianggapnya kurang penting agar
kekontrasan dari iman dua tokoh dalam kisah ini bisa menonjol. Kedua,
tokoh itu adalah kepala rumah ibadat dan perempuan yang sakit
pendarahan. Jika pernyataan iman itu berbeda-beda, apakah hasil dari
iman itu akan berbeda-beda pula? Sekali-kali tidak! Itulah yang
dibuktikan oleh Yesus dalam Matius 9:1-26 terhadap iman kepala rumah
ibadat dan iman perempuan yang sakit pendarahan. Akan tetapi, apakah
Yesus sendiri adalah orang beriman? Janganlah terburu-buru menjawab
pertanyaan ini, jika Anda tidak dapat membuktikannya. Matius telah
membuktikannya. Lalu, jika Yesus memang orang beriman, apakah hasil
dari iman Yesus? Apakah sama dengan hasil iman kepala rumah ibadat dan
iman perempuan yang sakit pendarahan? Matius tidak menyatakannya
secara tersurat. Ia hanya mengakhiri kisahnya dengan kalimat: Maka
tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu (ayat 26).

II. Kepala Rumah Ibadat dan Perempuan yang Sakit Pendarahan

Perbedaan antara kedua tokoh ini terlihat dari segi identitasnya,
penyantunannya, imannya, dan reaksi Yesus terhadap mereka
masing-masing. Namun, di antara perbedaan-perbedaan ini, ada satu
persamaannya, yaitu hasil dari iman mereka.

Perbedaan Identitas

Perbedaan yang paling nyata adalah bahwa yang satu adalah seorang
laki-laki dan yang seorang lagi perempuan. Perbedaan jenis kelamin ini
saja sudah menunjukkan suatu perbedaan status, karena pada zaman itu
ada kecenderungan untuk memandang laki-laki lebih tinggi kedudukannya
dibandingkan dengan perempuan. Misalnya saja, dalam pencatatan jumlah
orang, biasanya hanya jumlah laki-laki saja yang disebut. Dalam
peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang, seperti dalam Matius
14:21 berbunyi: Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak
termasuk perempuan dan anak-anak. Perbedaan identitas ini menegaskan
lagi oleh perbedaan status sosial. Tokoh yang pertama bukan saja
seorang laki-laki, tetapi juga seorang yang menjabat sebagai kepala.
Ia tentu adalah orang terpandang dalam masyarakatnya dan sekaligus
terpelajar. Sedangkan perempuan itu, apa kedudukannya? Tidak disebut.
Penulis mengasumsikan bahwa perempuan ini bukan orang terpandang.
Alasan pertama, seandainya perempuan ini punya status sosial yang
tinggi, maka sebagai penulis, Matius tentu akan menyebutkannya, karena
tokoh yang satu sudah dia beritahukan status sosialnya. Alasan kedua:
sakit pendarahan bukanlah suatu penyakit yang bisa diakui tanpa rasa
malu. Secara sederhana, kita dapat membayangkan apabila seseorang
menderita sakit pilek, misalnya, ia tidak perlu merasa malu untuk
mengakui penyakitnya itu. Bila dilihat orang pun, ia tidak perlu malu.
Tidak demikian halnya dengan penderita sakit pendarahan. Jika kita
mengaitkan penyakit ini dengan konteks Yahudi. Situasinya akan menjadi
lebih berat lagi. Hukumnya tertulis dalam Imamat 15:25-27. Apabila
seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan lelehan, yakni
darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, ... maka selama lelehannya
yang najis itu ... ia najis. Setiap tempat tidur yang ditidurinya...
dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis .... Setiap orang
yang kena kepada barang-barang itu menjadi najis ....

Perempuan ini telah menderita dua belas tahun lamanya dan selama itu
pula ia dianggap najis! Orang-orang di sekitarnya pun harus
berhati-hati terhadap dia. Jika ia sudah bersuami, besar kemungkinan
suaminya terpaksa meninggalkannya, karena jika suaminya tetap tidur
bersama dengan dia, suaminya juga akan menjadi najis. Jika ia belum
menikah, laki-laki mana yang sudi menikah dengan perempuan seperti
ini? Perempuan ini bukan saja menderita secara lahiriah, tetapi juga
secara batiniah. Jiwanya tentu sakit dan kesepian. Mungkin juga,
orang-orang segera menyingkir dengan perasaan jijik setiap kali
melihat perempuan ini. Maka, seandainya perempuan ini punya pesuruh,
dia akan lebih baik tinggal di rumah dan menyuruh suruhan menemui
Yesus. Berhubung ia orang biasa saja, ia harus bersusah payah menahan
malu dan pergi mencari Yesus.

Perbedaan Pendekatan

1. Kepala Rumah Ibadat

... datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan
berkata: .... (ayat 18) Cara pendekatan ini pun menunjukkan bahwa ia
memang adalah seorang terpelajar. Ia tahu cara yang sopan untuk
menghadap orang yang dihormati.

2. Perempuan yang Sakit Pendarahan

Pada waktu itu, seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya
menderita pendarahan, maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah
jumbai jubah-Nya. (ayat 20) Jangankan untuk sujud menyembah, untuk
bicara pun perempuan ini tak berani. Ia hanya mendekati Yesus dari
belakang dan menjamah jubah-Nya -- jumbai jubah-Nya. Sesuai gambaran
di atas, dapatlah kita bayangkan bagaimana rasa malu yang berkecamuk
dalam dada perempuan ini karena penyakitnya. Lalu kini, ia bukan saja
harus berhadapan dengan Yesus, tetapi juga dengan murid-murid-Nya.
Murid-murid Yesus itu mungkin kadang-kadang sok tahu dan kasar juga
sikap mereka. Anda masih ingat, bagaimana sikap kasar mereka ketika
mereka memarahi orang-orang yang membawa anak-anaknya untuk diberkati
oleh Yesus (Matius 19:13). Perempuan ini tentu bisa membaca sikap
murid-murid Yesus, atau mungkin juga ia pernah mendengar
komentar-komentar orang tentang mereka yang notabene laki-laki semua.
Perasaan mindernya semakin menjadi-jadi. Sebagaimana biasanya orang
minder, karena minder, malah jadi salah tingkah. Demikianlah yang
dialami perempuan ini. Ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah
jumbai jubah-Nya. Ini sama sekali bukan cara yang sopan.

Perbedaan Pernyataan Iman

1. Kepala Rumah Ibadat

"Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan
letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup." (ayat 18) Anak
perempuannya baru saja meninggal. Itu fakta. Tetapi, ia percaya bahwa
apabila Yesus datang dan meletakkan tangan-Nya atas anaknya, maka
anaknya akan hidup. Sungguh, iman yang luar biasa! Iman kepala rumah
ibadat itu tidak perlu diragukan lagi.

2. Perempuan yang Sakit Pendarahan

Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan
sembuh." (ayat 21) Ternyata bukan saja ia tidak berani menyembah.
berkata-kata pun ia tak berani. Tetapi, apa yang dikatakan dalam
hatinya itu sungguh luar biasa. "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan
sembuh." Ia sungguh beriman sekalipun ia tak berani mengatakannya
secara terang-terangan seperti kepala rumah ibadat itu.

Perbedaan Reaksi Yesus

1. Terhadap Kepala Rumah Ibadat

Lalu Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan
murid-murid-Nya.(ayat 19) Kepada kepala rumah ibadat ini Yesus tidak
mengatakan apa-apa, dan juga, terhadapnya Yesus tidak menguji imannya.
Yesus segera bertindak. Ia bangkit dan mengikuti kepala rumah ibadat
ini.

2. Terhadap Perempuan yang Sakit Pendarahan

Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah
hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." (ayat 22)
Perempuan ini telah menghampiri Yesus dengan cara yang kurang sopan.
Ia datang mengendap-endap dari belakang. Tetapi, Yesus sudi berpaling
dan memandang perempuan ini. Yesus mengerti bagaimana gundah gulananya
hati perempuan ini, sehingga Ia mengatakan, "Teguhkanlah hatimu, ...."
Lebih dari itu, ketika semua orang menutup mukanya terhadap perempuan
ini dengan perasaan jijik, Yesus sudi memandang perempuan ini. Betapa
lembutnya hati Yesus!

Persamaan Hasil dari Iman

1. Kepala Rumah Ibadat

Yesus masuk dan memegang tangan anak itu. lalu bangkitlah anak itu
(ayat 25). Yesus melakukan tepat seperti apa yang diimani oleh kepala
rumah ibadat ini, yaitu datang dan meletakkan tangan-Nya atas anak
dari kepala rumah ibadat ini (memegang tangannya). Hasilnya pun tepat
seperti apa yang telah diimani.

2. Perempuan yang Sakit Pendarahan

Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu. (ayat 22b) Kata "sejak
saat itu" di sini menunjukkan bahwa penyakit perempuan ini tidak
pernah kambuh lagi. Dua belas tahun lamanya ia menderita dan dipandang
najis. Tetapi, sejak saat itu ia menjadi sembuh dan tahir. Haleluya!

Berikut ini adalah bagan yang menggambarkan kekontrasan kedua tokoh
tersebut.

Bagan 1

Perbedaan dan Persamaan antara Kepala Rumah Ibadat dan Perempuan yang
Sakit Pendarahan

Kepala Rumah Ibadat

Identitas
- Jenis kelamin: Laki-laki
- Status sosial: Kepala Rumah Ibadat

Cara Pendekatan
- Menyembah

Pernyataan Iman
- Melalui perkataan yang tegas

Reaksi Yesus
- Segera bangun dan mengikutinya

Hasilnya
- Anaknya bangkit

Perempuan Sakit

Identitas
- Jenis kelamin: Perempuan
- Status sosial: Orang najis

Cara Pendekatan
- Menjamah jumbai jubah Yesus dari belakang.

Pernyataan Iman
- Hanya dalam hati

Reaksi Yesus
- Berpaling dan memandang dia

Hasilnya
- Sembuh

III. Reaksi Yesus terhadap Penolakan sebagai Bukti Iman

Sebagaimana di sepanjang sejarah selalu saja ada pro dan kontra,
demikian pula Matius tidak luput mengisahkan mereka yang meremehkan
Yesus justru pada saat ada dua orang yang begitu mengagumi Yesus.
Namun, sebelumnya, marilah kita menyelami dahulu bagaimana suasana di
rumah kepala rumah ibadat itu ketika Yesus datang. Beginilah tutur
Matius pada ayat 24: Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat
itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, ....
Mereka yang punya budaya serupa pada saat ada yang meninggal dapat
membayangkan betapa riuh rendahnya suasana rumah kepala rumah ibadat
itu. Para peniup seruling itu adalah para peratap yang dalam budaya
Tiongkok disebut "caima". Mungkin ada pula orang-orang yang khusus
disewa untuk meratap pada saat itu.

Tamu-tamu yang datang turut meratap sebagai tanda simpati terhadap
keluarga kepala rumah ibadat itu. Tidak ketinggalan pula para bawahan
kepala rumah ibadat itu menyatakan berbelasungkawa. Istri kepala rumah
ibadat itu sendiri mungkin sedang menangis meraung-raung dan kaum ibu
memeluknya berganti-ganti sambil meratap dan menghibur. Orang-orang
yang tidak mudah menangis akan memasuki ruangan itu paling tidak
dengan wajah tertunduk, lalu duduk bersama merasakan kesedihan yang
meliputi keluarga itu. Nah, di tengah-tengah riuh rendahnya bunyi
seruling dan ratap tangis inilah tiba-tiba datanglah Yesus tanpa wajah
pucat, apalagi setetes air mata, melainkan dengan kata-kata:
"Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Oh, tentu, tentu
mereka menertawakan Yesus! (ayat 24). Mereka menertawakan Yesus,
karena mereka tidak tahu siapa Yesus. Mereka tidak tahu bahwa Yesus
memiliki kuasa baik atas hidup maupun atas maut. Bahkan, Ia memiliki
kuasa atas setiap tarikan dan hembuskan napas yang dihasilkan untuk
mewujudkan suara tawa itu!

Para pembaca yang budiman, andaikan kita ada dalam posisi Yesus pada
saat itu, apakah yang akan kita perbuat? Dapatlah kita bayangkan
bagaimana rasanya setelah seorang yang berkedudukan sebagai kepala
rumah ibadat begitu percaya kepada kita dan juga setelah seorang
perempuan begitu yakin akan kehebatan kita, kita lalu ditertawakan.
Akankah kita memaki-maki mereka, "Hei, tidak tahukah kalian siapa aku
ini? Kepala rumah ibadat saja begitu percaya padaku. Berani-beraninya
kalian menertawakan aku. Belum tahu yah, apa yang bisa kuperbuat?"
Lain halnya dengan Yesus, Ia tidak kehilangan wibawa-Nya. Ia mengusir
mereka, tetapi tidak buang-buang waktu untuk berkhotbah kepada mereka,
orang-orang yang tidak percaya itu. Ejekan orang banyak tidak mampu
menggeser fokus dari satu orang yang membutuhkan pelayanan-Nya.
Tujuan-Nya pasti. Ia masuk dan memegang tangan anak itu, dan
bangkitlah anak itu. Betapa agungnya Dia! Yesus tidak mungkin bersikap
seperti ini jika Ia tidak memiliki iman kepada Bapa-Nya yang mengutus
Dia. Ia tidak menjadi bimbang ketika orang banyak menertawakan Dia,
karena Ia percaya bahwa inilah pekerjaan yang dikehendaki oleh
Bapa-Nya.

IV. Penutup

Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu (ayat 26).
Inilah akhir dari penuturan Matius. Saat itu belum ada radio,
televisi, atau pun surat kabar. Namun, orang-orang tidak jemu-jemu
menyampaikan berita itu dari mulut ke mulut hingga seluruh daerah itu
mengetahuinya karena memang sungguh banyak hal baru yang telah
dibukakan melalui peristiwa itu. Pertama, di mata Yesus ternyata tidak
ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal memperoleh
belas kasihan-Nya. Yesus pun tidak memandang kedudukan atau status
sosial. Identitas pribadi bukan masalah bagi-Nya. Oleh karena itu,
siapapun kita, janganlah ragu untuk datang kepada Yesus. Kedua, Yesus
tidak mempermasalahkan cara atau tata krama dalam menghadap Dia. Yang
Yesus perhatikan adalah hati. Adakah Ia mendapati iman dalam hati
kita? Ketiga, Yesus tidak akan berlambat-lambat menanggapi iman kita
sekalipun iman kita hanya sebesar biji sesawi.

Bagian akhir dari kisah ini merupakan hal yang sangat perlu
penghayatan kita, para hamba Tuhan, yaitu tentang iman dan keagungan
Yesus. Sekalipun kita diberi kepercayaan untuk suatu pelayanan yang
besar, keakuan kita tidak jadi melambung. Kita tidak jadi lupa kepada
mereka yang meskipun termasuk kaum minoritas tetapi sungguh-sungguh
mengharapkan pelayanan kita. Fokus pelayanan kita bukan pada orang
banyak -- entah mereka menyanjung atau mengejek -- tetapi pada Sang
Guru Agung itu sendiri karena Dialah yang mengutus kita dan
kepada-Nyalah kita mengarahkan iman kita. Ingatlah, bahwa Sang Guru
Agung telah berpesan: "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang
mengutus Aku, selama masih siang. Sama seperti Bapa mengutus Aku,
demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." (Yohanes 9:4a, 20:21) Akhir
kata, demikianlah kiranya terjadi di akhir pelayanan kita:

"Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan
pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan
malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan
tidak ada kata, Suara mereka tidak terdengar, tetapi gema mereka
terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung
bumi." (Mazmur 19:1-5)

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul Jurnal: PELITA ZAMAN, Volume 12, Nomor 2 (November 1997)
Penulis: Shunny Vashti Karuniadi
Penerbit: Yayasan Pengembangan Pelayanan Kristen Pelita Zaman,
          Bandung 1997
Halaman: 32 - 40

       FAKTA ALKITAB: BAGAIMANA SEBENARNYA ALKITAB DITULIS?

Kita mengetahui Alkitab masa kini dari kaca spion. Kita bisa berpaling
pada sejarah dan melihat proses terjadinya. Namun, agar semakin
memahami Alkitab, kita harus mampu melihat dari sudut pandang penulis
karena merekalah yang mengalaminya.

Orang-orang yang menulis Alkitab tidak tahu kalau karya mereka kelak
disusun menjadi Kitab Suci. Mereka tidak berpikir bahwa mereka masuk
dalam daftar penulis terlaris.

Mereka sama seperti kita, digerakkan oleh masalah yang ingin mereka
pecahkan dan ideologi yang mereka junjung.

1. Musa menulis karena ia tidak ingin sejarah tentang ketetapan Tuhan
dilupakan. Ia menulis dengan gaya yang disukainya -- naratif. Ia hanya
mengatakan fakta sebagaimana itu terjadi, atau sebagaimana difirmankan
Tuhan. Dialah satu-satunya orang yang mengambil tulisan tangan Tuhan,
setidaknya saat ia menulis Sepuluh Perintah Allah.

2. Daud tidak diperintahkan untuk menulis Mazmur yang dapat
diterjemahkan menjadi pujian saat ini. Ia hanya menulis perjalanan
hidupnya (bahkan yang kelam) dan semuanya menjadi bagian Kitab Mazmur.

3. Yeremia tidak berencana menulis kitab yang menurunkan tiga kitab
setelah Pengkhotbah. Hati Yeremia sakit karena rakyatnya terus-menerus
menjauh dari Tuhan. Yeremia tahu bahwa hal itu akan membawa mereka
pada kehancuran. Maka, saat Tuhan memanggil Yeremia untuk menjadi
nabi, ia berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan agar mereka berbalik.
Ia memakai perumpamaan. Ia memakai bahasa yang dramatis. Ia
menubuatkan akibat perilaku mereka. Gaya penulisannya menggambarkan
jati dirinya dan caranya berkomunikasi.

Setiap orang yang menulis satu bagian dalam Alkitab dipengaruhi asal
usulnya dan zaman. Hal yang membuat tulisan mereka unik adalah Tuhan
mengilhami kebenaran-Nya melalui mereka. Dia memakai mereka
sebagaimana adanya. Dia memimpin mereka untuk menulis apa yang Dia
kehendaki. Saat ini kita berpikir kalau hal ini adalah perintah,
prosesnya bukanlah demikian (kecuali suatu saat bersama Musa). Tuhan
tidak berfirman, lalu dicatat oleh penulis. Bahkan lebih ajaib
daripada hal itu! Dia mengilhami firman-Nya dalam kehidupan mereka
sehingga saat mereka menuliskannya dari hati mereka, Tuhan ada di
dalamnya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Bible from A to Z
Judul bab: Asal Usul Alkitab
Penulis: Carol Smith
Penerbit: ANDI Yogyakarta, 2009
Halaman: 59 -- 60

POKOK DOA

1. Berdoalah agar kelas diskusi DIK (Dasar-dasar Iman Kristen) yang
akan dimulai Januari 2011 ini dapat berjalan dengan baik. Biarlah
berkat-berkat yang peserta terima menjadi berlipat ganda bagi jemaat
Tuhan yang ada di sekitar mereka.

2. Dukunglah dalam doa setiap peserta yang akan mengikuti diskusi
kelas PKS (Pernikahan Kristen Sejati). Semoga pasangan suami Istri
yang mengikuti kelas ini, siap membuka hati dan pikiran mereka agar
firman Tuhan berakar dan berbuah dalam pernikahan mereka.

3. Doakan juga untuk tim moderator agar Tuhan membimbing sehingga
mereka dapat mengarahkan para peserta untuk berdiskusi dengan baik.

4. Bersyukur atas pemeliharaan Allah yang diberikan bagi setiap
peserta PESTA dan pengurus PESTA. Kiranya Tuhan senantiasa mendorong
kita semua untuk semakin bersungguh-sungguh melayani-Nya.

5. Doakan untuk orang-orang Kristen yang rindu belajar kebenaran
firman Tuhan, agar mereka dituntun Tuhan untuk menemukan pelayanan
PESTA.

Kontak: < beritapesta(at)sabda.org >
Redaksi: Desi Rianto, Yulia Oeniyati, dan Anik
(c) 2011 Yayasan Lembaga SABDA
< http://www.ylsa.org >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org >
< http://fb.sabda.org/pesta >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-berita-pesta(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-berita-pesta(at)hub.xc.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org