Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/40hari/1

Doa 40 Hari 2015 edisi 1 (8-6-2015)

Suku Kubu

40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA -- SENIN, 8 JUNI 2015

SUKU KUBU, ORANG DARAT DI INDONESIA

Populasi : 14.000 jiwa
Populasi Kristen : 280 jiwa (2 persen dari total penduduk)
Capaian Penginjilan: 84 jiwa (0,6 persen dari total penduduk)
Agama terbesar : agama etnis
Bahasa utama : Kubu

Suku Kubu hidup di pulau Sumatera, Indonesia. Mereka dipercaya sebagai keturunan ras kerdil pengembara orang Negrito. Pemukiman pertama suku Kubu berada di sungai Lalan. Kini, tempat tinggal mereka yang terutama terdapat di provinsi Jambi.

Legenda menyatakan bahwa pantai Sumatera sering kali dikunjungi oleh para bajak laut dan keluarganya. Suatu kali, salah satu bajak laut berhubungan inses dengan saudara perempuannya yang menyebabkan perempuan itu hamil. Tindakan ini dikutuk oleh para bajak laut lainnya, dan pasangan tersebut ditinggalkan di daerah pesisir yang rimbun di pulau Sumatera. Alhasil, lahirlah suku Kubu sebagai keturunan mereka.

Nama "Kubu" berasal dari kata Ngumbu yang berarti "sulit dipahami". Nama ini diberikan kepada mereka untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang primitif -- mereka makan makanan haram, tidak tinggal di rumah, dan tidak suka mandi. Namun, orang Kubu lebih suka menyebut diri Orang Darat, yang berarti "penghuni tanah" atau "penghuni sungai".

Seperti Apakah Kehidupan Suku Kubu?

Suku Kubu adalah penghuni hutan yang dapat ditemukan terutama di daerah rawa, yang dekat dengan berbagai sungai. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai petani ubi, jagung, beras, dan gula tebu. Karena suku Kubu bukan tipe pekerja keras, hasil ladang mereka hanya sedikit. Mereka lebih banyak mendapatkan makanan dari hasil hutan dan binatang buruan. Makanan utama mereka antara lain babi hutan, ikan, monyet, pisang, dan ubi jalar.

Suku Kubu paling banyak ditemukan di suatu tempat yang mereka sebut sirup-sirup. Rumah-rumah mereka dibangun di atas fondasi tanpa dinding, dan dibuat dari bambu dan daun. Desa mereka biasanya terdiri atas 3 -- 5 rumah. Seorang yang berusia tua berperan sebagai kepala, tetapi tidak memiliki otoritas nyata.

Setiap orang Kubu memiliki nama, tetapi nama tersebut hanya diketahui oleh anggota sirup yang sama. Orang dari desa-desa lain disebut "orang-orang ini atau orang dari sungai kecil". Penduduk desa dari satu permukiman jarang bersentuhan dengan penduduk dari desa lainnya karena mereka tidak memiliki budaya pesta, acara "pertambahan usia" (ulang tahun - Red.), atau pertemuan komunitas lainnya.

Kontak kecil yang mereka miliki dengan tetangga mereka dari suku Melayu secara tradisional berlangsung melalui perdagangan "diam" (tanpa berbincang-bincang - Red.). Pihak suku Kubu akan membawa barang-barang mereka ke tempat yang dapat dilihat para pedagang Melayu. Kemudian, para pedagang akan menempatkan barang-barang yang mereka siapkan untuk ditukar dalam jarak terdekat, lalu mundur ke jarak yang aman. Jika kesepakatan memuaskan, suku Kubu akan mengambil apa yang ditawarkan dan lenyap kembali ke dalam hutan.

Seiring dengan tradisi dan kesederhanaan budaya material mereka, pengembangan kehidupan sosial dan keagamaan suku Kubu juga kurang. Mereka tidak mengetahui alat musik dan tari-tarian apa pun.

Apakah Keyakinan Mereka?

Meskipun suku Kubu dianggap Muslim, mereka masih melakukan berbagai ritual animisme, seperti upacara penyembuhan. (Animisme adalah kepercayaan bahwa benda-benda mati memiliki roh.) Ahli pengobatan mereka, yang disebut dukun, membuat persembahan kepada roh-roh untuk mereka.

Apakah Kebutuhan Mereka?

Kurangnya bahan-bahan kekristenan menyulitkan sejumlah kecil suku Kubu yang beragama Kristen. Sangat penting bagi gereja untuk melakukan studi rinci dalam mengembangkan strategi penanaman gereja yang efektif di tengah-tengah suku ini. Pertolongan di bidang medis dan pertanian adalah dua metode tepat, yang dapat digunakan untuk menjangkau orang Kubu.

Salah satu kesulitan terbesar dalam penginjilan di wilayah ini adalah sikap permusuhan mayoritas penduduk lokal terhadap orang-orang Kristen. Bahkan, ada banyak orang Kristen yang sering dianiaya karena keyakinan mereka. Masalah lain adalah bahwa beberapa orang Kristen di sana masih dipengaruhi oleh agama mayoritas di daerah setempat.

Merupakan tanggung jawab kita sebagai orang Kristen untuk menjangkau suku Kubu dengan menunjukkan cinta dan belas kasih Yesus kepada mereka. Para penginjil membutuhkan doa dan dukungan kita karena mereka bekerja untuk memenangkan kepercayaan rakyat. Meskipun tradisi yang telah berlangsung lama tampaknya menghambat penginjilan, kuasa Tuhan lebih besar dari tradisi apa pun.

POKOK DOA

  1. Berdoalah kepada Tuhan agar hukum di Indonesia tidak membatasi penginjilan bagi suku Kubu.

  2. Mintalah Tuhan untuk membuka hati suku Kubu kepada kekristenan.

  3. Doakanlah agar Tuhan menyediakan berbagai kontak, strategi, dan kebijaksanaan untuk lembaga misi yang mencoba menjangkau suku Kubu. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : Joshua Project
Alamat URL : http://joshuaproject.net/people_groups/11260/ID
Judul asli artikel: Kubu, Orang Darat in Indonesia
Penulis artikel : Tim Joshua Project
Tanggal akses : 22 Mei 2015

Kontak: doa(at)sabda.org
Berlangganan: subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/40hari
(c) 2015 oleh e-DOA dan "MENGASIHI BANGSA DALAM DOA"

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org