Di Luar Perkiraan

Aku dan istriku dianugerahi empat orang anak yang hebat. Mereka adalah anak-anak kembar 4, yang terdiri dari 3 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Ketiga anak laki-laki kami ialah Jon, Paul, dan Steven. Sheila adalah satu-satunya anak perempuan dari anak kembar empat kami. Beberapa saat setelah dilahirkan, ketiga anak laki-laki kami didiagnosis mengidap penyakit "Duchenne Muscular Dystrophy". Penyakit ini menyerang otot-otot sehingga otot-otot tersebut melemah sedikit demi sedikit. Prediksi yang paling optimistis menyatakan bahwa mereka hanya bisa hidup sampai usia 17 tahun. Sebagian besar waktu mereka akan dihabiskan di kursi roda.

Ketiga anak laki-laki kami lebih mujur ketimbang anak-anak yang mengidap penyakit yang sama. Kami beruntung bisa bersama mereka selama 22 tahun, 23 tahun, dan 24 tahun. Biasanya, anak-anak yang mengidap penyakit ini tidak bisa melewati sekolah dasar. Ketiga anak laki-laki kami bisa bersekolah di sekolah umum. Mereka selalu masuk dalam daftar ranking siswa yang berprestasi. Bahkan, mereka sedang kuliah di perguruan tinggi ketika mereka meninggal. Mereka baru bergantung pada kursi roda pada usia 12 tahun. Mereka jarang mengeluh meskipun harus memakai penyangga sampai ke dada mereka. Selain itu, tangkai baja ditanam di sepanjang tulang belakang mereka. Mereka bertiga saling menunjang. Tak ada sesuatu pun yang tak dapat mereka pecahkan bersama. Mereka tak pernah mengasihani diri mereka sendiri. Meskipun hidup mereka sangat singkat, mereka menggunakannya sebaik mungkin. Mereka memperkaya hidup semua orang yang berhubungan dengan mereka.

Mukjizat Natal yang kami alami pada 1990 melibatkan putra tertua kami, Jon. Pada bulan November 1990, ia harus masuk rumah sakit Strong Memorial di Rochester, New York, 117 mil jauhnya dari rumah kami di Salamanca. Ia didiagnosis mengidap "pneumonia" dan harus mendapat perawatan yang semestinya. Aku dan istriku, Ginger, menengoknya hampir setiap hari dan keadaannya mulai membaik. Tetapi, kondisinya memburuk pada hari yang kesepuluh. Rumah sakit menelepon kami dan mengatakan bahwa ia telah dipindahkan ke bagian perawatan intensif.

Ketika kami tiba, kami mendapatkan dia dengan alat bantu hidup, tabung "tracheotomy" di tenggorokannya, dan ia hampir tak dapat berbicara. Apa yang dapat kami lakukan hanyalah tidak memerlihatkan air mata kami kepadanya. Malam itu, kami berdoa seperti yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Beberapa hari kemudian, ia hanya bisa menulis dan memberi tahu kami bahwa ia tidak ingin bergantung pada sebuah mesin untuk memertahankan hidupnya. Sebelumnya, Jon bergantung pada kursi roda listrik selama bertahun-tahun. Ia hendak menulis di tanganku, "Ayah, tarik stekernya." Jon bukannya ingin mati. Baginya, hidup pendek tetapi lebih normal tanpa mesin, lebih baik daripada kemungkinan hidup lama dengan mesin yang dapat memertahankan hidup. Permintaan Jon satu-satunya ialah kami mengizinkannya pulang untuk Natal. Kalaupun ia harus mati, ia ingin mati dalam keadaan yang menyenangkan dan dipenuhi cinta di sekelilingnya. Ia ingin terlepas dari semua pipa dan kabel.

Dokternya mengatakan padanya bahwa ia tak mungkin pulang karena di rumah tidak ada perawatan dan peralatan profesional yang diperlukan untuknya. Selain itu, sangat riskan untuk membawanya sejauh 117 mil dengan ambulans. "Saya rasa harus ada suatu mukjizat untuk melakukan itu," kata dokter. Ketika aku melihat mata Jon yang memohon, mata kedua perawatnya yang berdiri di ujung tempat tidurnya, dan mata ibunya yang dipenuhi air mata, mereka sepertinya ingin berkata, "Tak dapatkah kami mencobanya?"

Kami akan mencobanya. Secara tak terduga, mukjizat hari Natal kami mulai memerlihatkan bentuk. Dengan bantuan dr. Moxley, yang telah mengenal Jon selama bertahun-tahun, kami mulai mendapat bantuan yang kami butuhkan. Ahli terapi pernapasan mengajar kami untuk memonitor napas Jon. Para perawat menunjukkan kepada kami bagaimana caranya membersihkan tenggorokan. Para anggota staf rumah sakit menjadi "malaikat yang penuh belas kasih". Mereka melatih kami untuk memberikan perawatan yang terbaik kepada Jon segera setelah ia di rumah. Meskipun demikian, dokter yang merawatnya yakin bahwa Jon akan meninggal dalam perjalanan ke rumah. Mereka tidak mau bertanggung jawab terhadap tindakan kami untuk membawa Jon pulang. Sehari sebelum Jon diizinkan pulang, ia mendesak kami untuk menghubungi pengurus makam dan pegawai yang memeriksa penyebab kematian di wilayah kami.

Aku menghubungi kepala pemadam kebakaran Salamanca, yakni Jack McClune. Ia teman lama kami. Ia akan berusaha untuk mendapatkan seorang pegawai. Keesokan harinya, ia menelepon dan mengatakan bahwa ia mendapat 3 orang yang mau mengadakan perjalanan selama 6 atau 7 jam itu pada hari Natal. Mereka bersedia untuk menjemput dan mengantar Jon pulang ke rumah. Pada pukul lima di suatu pagi yang bersalju dan angin yang berhembus kencang di New York, mereka menjemputku dengan ambulans kota yang sama sekali baru. Dalam keadaan yang sulit, kami mengadakan perjalanan selama 3 jam ke rumah sakit.

Ketika kami tiba, para perawat telah mempersiapkan Jon. Mereka menunggu kepulangan Jon. Ia masih dengan mesin penyangga hidup, tetapi aku melihat senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya. Setelah itu, kami mengucapkan selamat berpisah dan berterima kasih kepada semua dokter dan perawat. Kami mendapat instruksi-instruksi terakhir. Kami berdoa dalam hati dan Jon dilepaskan dari penyangga hidupnya. Ia bertumpu pada dirinya sendiri. Aku mengucapkan selamat Natal kepada semua orang. Para petugas ambulans siap untuk membawa Jon pulang ke rumah.

Kami tiba di rumah dengan selamat kira-kira 3 jam kemudian. Para petugas ambulans menempatkan Jon di tempat tidurnya dan mereka berangkat untuk berkumpul dengan keluarga masing-masing. Meskipun terlambat, mereka masih bisa merayakan Natal. Keempat petugas ambulans itu ialah Jack McClune, Steve Bias, Bill Kendt, dan Gene Haugh. Mereka mengorbankan sebagian besar hari dan waktu mereka secara sukarela. Seharusnya, mereka bisa melewatkan Natal bersama keluarga mereka masing-masing. Tetapi, mereka justru mengantarkan pulang seorang anak laki-laki yang sekarat untuk merayakan Natal. Aku berterima kasih kepada mereka. Mereka mengatakan bahwa ucapan terima kasih yang mereka butuhkan adalah senyum Jon ketika ia diantar ke rumah dengan seluruh keluarga yang mengelilinginya. Mereka semua sependapat bahwa Natal itu adalah Natal yang paling menyenangkan yang pernah mereka alami. Mereka pasti akan tinggal sampai tengah malam jika pertolongan itu diperlukan oleh Jon. Ketika aku menanyakan ongkos ambulans kepada Jack, ia mengatakan bahwa seseorang di kota telah mendengar tentang keadaan kami yang menyedihkan dan orang itu sudah mengurusnya. Tidak ada ongkos yang harus dibayar. Kami tak pernah tahu siapa yang membayar ongkos itu.

Ketika mereka pergi, aku dan Ginger berdiri di ujung tempat tidur Jon. Kami menyampaikan doa terima kasih secara diam-diam. Jon bernapas dengan teratur. Yang terindah, ada senyum di wajahnya yang masih terus kulihat hingga hari ini. Malamnya, adik, kakak, kakek, nenek, bibi, paman, dan sepupu Jon bergabung dengan kami untuk makan malam Natal tradisional kami berupa ayam kalkun. Di atas kursi, diapit oleh aku dan ibunya, duduklah mukjizat Natal kami.

Jon diprediksi akan meninggal pada hari Natal 1990. Ia hidup untuk melihat Natal satu kali lagi. Selain itu, ia sudah didaftarkan ke sekolah tinggi ketika ia meninggal pada Maret 1992. Jon adalah orang yang tak pernah menyerah. Selama 22 tahun, ia telah memberi kebahagiaan, semangat, dan cinta akan hidup kepada semua orang di sekitarnya. Ini tak akan pernah kami lupakan. Dan, ia telah membuktikannya bukan hanya pada satu Natal, melainkan pada dua Natal secara berturut-turut. Ini menunjukkan bahwa mukjizat benar-benar ada.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : The Magic of Christmas Miracles
Penulis : Jamie C. Miller, Laura Lewis, dan Jennifer Basye Sander
Penerjemah : Bambang Soemantri
Penerbit : PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta 2002
Halaman : 153 -- 158
Kategori: 

Tinggalkan Komentar