Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/misi/2017/10

e-JEMMi edisi No. 10 Vol. 20/2017 (24-10-2017)

Menjangkau Melalui Media Sosial

e-JEMMi -- Edisi 10/Oktober/2017
 
Menjangkau Melalui Media Sosial
e-JEMMi -- Edisi 10/Oktober/2017
 

e-JEMMi

DARI REDAKSI:

Menjangkau Dunia Melalui Teknologi

Shalom,

Martin Luther mengungkapkan rasa syukurnya atas penemuan teknologi mesin cetak dengan mengatakan bahwa penemuan baru ini merupakan anugerah Tuhan yang tertinggi karena Kabar Baik akan dapat menjangkau lebih banyak orang. Martin Luther sangat memanfaatkan kemajuan teknologi bagi Kerajaan Allah. Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita juga sudah memanfaatkan teknologi bagi kepentingan Kerajaan Allah? Ingatlah bahwa teknologi adalah dari Tuhan dan harus dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Salah satu teknologi yang saat ini dapat kita gunakan untuk mewartakan Kabar Baik adalah media sosial. Mungkinkah media sosial dapat digunakan untuk melaksanakan Amanat Agung Kristus? Mari simak artikel dalam edisi ini dan pikirkan bagaimana teknologi dapat dipakai untuk menjangkau dunia bagi Kerajaan Allah.

Davida

Redaksi e-JEMMi,
Davida

 

ARTIKEL
Media Sosial dan Pelayanan Orang Kristen: Menjangkau Dunia bagi Kerajaan Allah

Justin Wise, Pendiri Think Digital, membagikan pemikirannya tentang pentingnya menggunakan media sosial bagi Kerajaan.
—Ed Stetzer

Justin Wise adalah seorang pendeta yang menjadi ahli strategi media sosial yang berfokus menolong gereja-gereja untuk mencapai hasil dari konten media sosial mereka. Dia mendirikan Think Digital Academy, meraih gelar M.Div., bekerja pada satu gereja besar, melatih para komunikator gereja, dan menulis sebuah buku berjudul The Social Church.

Justin juga terlibat dalam Social Ecclesia, yang melaluinya saya mendapatkan postingan blog beberapa minggu yang lalu. Hari ini saya mendapat kesempatan istimewa untuk bertemu dengan Justin secara singkat dan besok di National Radio Broadcasters Digital Media Summit, di Nashville.

Berikut postingan blog Justin:

Orang Kristen selama ini ada di tempat terdepan pada teknologi komunikasi. Saya tahu apa yang Anda pikirkan, "Ah, yang benar saja!" Namun, bersabarlah terhadap saya sebentar.

Waktu kita melihat halaman-halaman di Perjanjian Baru, kita melihat tulisan-tulisan Rasul Paulus. Tahukah Anda dengan apa dia menulis? Sebuah pena. Tahukah Anda di atas apa dia menulis? Kertas (secara teknis papirus, tetapi Anda mengerti maksudnya). Percaya atau tidak, keduanya adalah teknologi inovatif pada zaman itu.

Martin Luther menggunakan mesin cetak agar firman Tuhan sampai ke tangan orang-orang biasa seperti Anda dan saya. Sebenarnya, Luther mengatakan bahwa mesin cetak adalah "tindakan anugerah Allah yang tertinggi".

Pendiri denominasi Foursquare Aimee Semple McPherson merasakan sentakan ilahi untuk menggunakan siaran radio guna menyebarkan kabar tentang Yesus. Billy Graham terkenal karena kebaktian kebangunan rohani penginjilan melalui siaran televisi.

Sejak permulaan kita yang sederhana, gereja menemukan cara untuk menyampaikan berita Injil melalui berbagai macam alat yang tersedia. Sekarang adalah giliran kita untuk menuliskan era berikutnya dalam sejarah gereja. Anda memiliki peran untuk menentukan ke mana gereja akan melangkah selanjutnya dan hal itu tergantung dari respons Anda terhadap dua kata ini: media sosial.

Anda telah melihat platformnya (Twitter, Facebook, Instagram, Snapchat, dll.). Anda sudah menyaksikan video-video viral (Carilah di Google "Atlanta grape lady" dan bersiaplah untuk tertawa terpingkal-pingkal). Anda mungkin bahkan menjadi peserta yang aktif (bahkan membuat tweet tentang makan siang Anda?).

Akan tetapi, kekuatan yang mendasar pada media sosial bukanlah teknologi atau platform atau Gangnam style. Kekuatannya berasal dari manusia yang terhubung dengan manusia lain di seluruh dunia.

Seperti Rasul Paulus, Luther, McPherson, dan Graham, gereja abad ke-21 memiliki peluang yang tak terbayangkan di media sosial untuk memperpanjang batasan Kerajaan Allah secara daring. Metodenya berubah, tetapi pesannya masih tetap sama.

Akan tetapi, tidak semua orang akan menangkap peluang ini. Kenyataannya, beberapa gereja akan memilih untuk tidak mau tahu daripada menghadapi perubahan ke depan. Sejarah akan membuktikan penolakan ini sebagai ledakan yang mematikan untuk gereja lokal yang tidak mau menyesuaikan metode mereka dalam menyampaikan berita Injil.

Anda mungkin bertanya-tanya, "Seperti apakah menjadi komunitas iman yang berpusat pada media sosial?"

Anda bisa melakukan pendekatan seperti Focus on the Family yang menginvestasikan sumber signifikannya pada label mereka yang baru, Digital Engagement Center, atau DEC. DEC berfokus pada interaksi daring secara langsung dengan orang-orang di seluruh dunia yang sedang bergumul dengan keputusan, pertanyaan, atau penyesalan dalam relasi keluarga. Focus on the Family mempekerjakan cukup banyak tim penuh waktu untuk mencari orang-orang dan bertemu dengan mereka saat mereka membutuhkan -- semuanya serba daring.

Jika Anda mencari contoh gereja lokal, lihatlah Gateway Church di Austin, TX. Dipimpin melalui internet oleh pendeta Vince Marotte, gereja menenun media sosial menjadi kain budaya mereka. Entah dilakukan secara sukarela oleh tim digital gereja atau ikut serta dalam chat gereja secara langsung di app mobile Gateway, mereka menempatkan prioritas yang jelas menjadi sebuah gereja sosial.

Gateway, Focus on the Family, dan ratusan gereja lain di seluruh dunia memahami kebenaran mendasar tentang era Media Baru: Anda tidak dapat mengendalikan percakapan daring yang mengelilingi gereja Anda. Anda hanya dapat bertindak untuk memengaruhinya.

Media sosial memerlukan cara berpikir yang baru. Media sosial menggerakkan gereja dari posisi penyebar ajaran religius ke apa yang disebut oleh blogger Wall Street Journal Gary Hamel sebagai, "Komunitas yang kuat dan fleksibel, (yang) berpartisipasi dan "open source".

Pertanyaannya masih sama sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari kita semua -- apa yang akan gereja lakukan selanjutnya? (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Christianity Today
Alamat situs : http://www.christianitytoday.com/edstetzer/2014/february/social-media-and-christian-ministry-reaching-world-for-king.html
Judul asli artikel : Social Media and Christian Ministry
Penulis artikel : Ed Stetzer
Tanggal akses : 4 Agustus 2017
 

PROFIL SUKU LOKAL
Tausug, Joloano Sulu

Pendahuluan/Sejarah

Sejumlah kelompok orang yang berbeda, yang dikenal secara kolektif sebagai muslim Filipina Selatan (atau Orang Moro), tinggal di Kepulauan Sulu, sebuah rantai kepulauan antara Filipina dan pulau Kalimantan. Sejauh ini, Tausug adalah yang paling dominan dari semua kelompok ini. Joloano Sulu adalah subkelompok Tausug.

Istilah Tausug berarti "orang-orang arus laut". Mereka mungkin datang ke pulau-pulau dari Mindanao timur laut sebagai hasil perdagangan China pada abad ke-13 dan ke-14. Mayoritas Tausug tinggal di Pulau Jolo, dan satu kelompok penting lainnya tinggal di Sabah, Malaysia Barat. Kapan persisnya agama sepupu diperkenalkan ke Tausug tidaklah diketahui. Namun, mungkin terjadi pada awal abad ke-10 ketika perdagangan Arab berlangsung secara aktif dengan China Selatan melalui pulau-pulau. Sementara Joloano Sulu dari Indonesia dan Tausug dari Malaysia memiliki kebebasan beragama yang signifikan, sepupu Tausug mereka di Filipina dikepung dalam pertempuran sengit dengan orang Filipina yang kebanyakan Kristen.

Seperti Apa Kehidupan Mereka?

Mata pencarian Joloano Sulu terutama didasarkan pada perikanan dan pertanian skala kecil. Selain itu, beberapa hewan seperti sapi, ayam, dan itik diternakkan. Hasil utama pertanian adalah kelapa, kopi, dan buah. Sementara beberapa petani masih menggunakan metode "tebang dan bakar", sebagian besar menanam padi di lahan irigasi. Perikanan, baik paruh waktu maupun penuh waktu, dilakukan dari kapal bermotor di perairan pantai lepas pantai. Jaring, kail dan tali, dan berbagai jenis perangkap bambu digunakan.

Sebagian besar orang Joloano Sulu tinggal di komunitas pesisir kecil. Unit teritorial terkecil adalah rumah tangga, dan unit terbesar berikutnya adalah lungan (permukiman desa), yang kerap mengikutsertakan anggota keluarga yang terkait. Yang lebih besar adalah kauman (masyarakat), yang memiliki nama yang umum dan kepala desa. Kesatuan kauman tergantung pada faktor-faktor seperti jumlah perkawinan antarsesama anggotanya, otoritas efektif kepala desa, dan kehadiran di masjid umum.

Tempat tinggal khas Joloano Sulu dibangun enam sampai delapan kaki di atas tanah. Umumnya, rumah itu terdiri dari sebuah ruangan persegi panjang yang terbuat dari kayu dan bambu, dengan atap jerami. Rumah itu dikelilingi oleh serangkaian serambi tinggi yang mengarah ke dapur terpisah. Biasanya, pagar dibangun di sekitarnya untuk perlindungan.

Pernikahan ideal antara Joloano Sulu masih diatur oleh orangtua. Namun, di kalangan orang muda, pacaran bisa terjadi, dan kaum muda bebas memilih pasangan mereka sendiri. Sepupu pertama dan kedua lebih disukai sebagai pasangan.

Anak-anak terkadang belajar Alquran dengan guru pribadi, dan sebuah upacara publik diadakan saat mereka siap untuk membacakan ayat suci. Anak laki-laki disunat pada usia remaja awal, dan dilaporkan bahwa anak perempuan juga disunat pada usia enam atau tujuh tahun. Anak perempuan membantu ibu mereka dengan tugas rumah tangga, sementara anak laki-laki membantu ayah mereka di ladang atau dengan memancing.

Apa Kepercayaan Mereka?

Joloano Sulu beraliran Muslim Sunni dari cabang Syafi'i. Namun, seperti banyak Muslim Asia, mereka mempertahankan banyak kepercayaan dan ritual keagamaan pra-Islam mereka. Dunia mereka penuh dengan roh di sekitar yang menyebabkan penyakit atau keberuntungan. Konsep hidup mereka setelah kematian adalah campuran antara kepercayaan Islam dan pribumi. Mereka percaya bahwa seseorang memiliki empat jiwa yang meninggalkan tubuh pada saat kematian. Mayat almarhum masuk neraka, dengan lamanya hukumannya ditentukan oleh kesalahannya saat masih hidup. Akhirnya, bagaimanapun, mereka percaya bahwa semua Joloano Sulu akan sampai di surga.

Apa Kebutuhan Mereka?

Joloano Sulu tetap setia pada Islam karena hampir semuanya Muslim. Perjanjian Baru telah diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. Orang yang baru bertobat sedikit jumlahnya.

Pokok-Pokok Doa:

  • Mintalah agar Tuhan mengirim pekerja Kristen penuh waktu untuk melayani masyarakat Joloano Sulu.
  • Mintalah agar Roh Kudus memberikan hikmat dan bantuan kepada badan-badan misi yang memusatkan perhatian pada mereka.
  • Berdoalah agar siaran radio Kristen dapat segera tersedia bagi Joloano Sulu.
  • Berdoalah agar Tuhan menguatkan, membesarkan hati, dan melindungi beberapa orang percaya Joloano Sulu.
  • Mintalah kepada Tuhan agar membangkitkan tim doa yang akan mulai membuka dan menyiapkan jalan melalui ibadah dan doa syafaat. (t/Jing-Jing)
Diterjemahkan dari:
Nama situs : Joshua Project
Alamat situs : https://joshuaproject.net/people_groups/15295/ID
Judul asli artikel : Tausug, Joloano Sulu in Indonesia
Penulis artikel : Tim Joshua Project
Tanggal akses : 20 Februari 2017
 
Stop Press! Ikutilah Diskusi Online "Alkitab dan Reformasi" di Grup Facebook Teologi Reformed

Grup Diskusi Reformed

Sebelum Reformasi, kaum awam jelas tidak memiliki kedudukan yang penting dalam gereja. Semua urusan gereja merupakan tugas "para klerus" (pendeta-pendeta yang ditahbiskan), sedangkan kaum awam (jemaat) hanya menjadi objek. Setelah Reformasi, terjadi perubahan yang radikal karena prinsip-prinsip gereja yang salah dan tidak alkitabiah didobrak, salah satu hasilnya adalah konsep "keimaman orang percaya".

Melalui grup ini, Anda dapat belajar dan membuka wawasan dengan para peserta untuk menumbuhkan pengetahuan yang benar dan alkitabiah melalui artikel "Alkitab dan Reformasi". Diskusi ini akan berlangsung pada 30 Oktober 2017 -- 13 November 2017. Anda juga dapat berbagi pengalaman serta memperluas jaringan pelayanan melalui komunitas ini sehingga kita senantiasa bergairah dalam Kristus untuk mewartakan Injil kepada sesama.

Nah, bergabunglah dan dapatkan wawasan dan berbagai pengajaran yang benar seputar Teologia Reformed melalui: Grup Diskusi Reformed

Kami tunggu!

 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-JEMMi.
misi@sabda.org
e-JEMMi
@sabdamisi
Redaksi: N. Risanti, Davida, Yulia O. dan Ayub T.
Berlangganan|Berhenti|Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org