Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/misi/2016/12

e-JEMMi edisi No. 12 Vol. 19/2016 (22-12-2016)

Kabar Sukacita Natal

Kabar Sukacita Natal -- Edisi 12/Desember/2016
 
e-JEMMi
Kabar Sukacita Natal -- Edisi 12/Desember/2016
 
DARI REDAKSI: KABAR YANG DINANTI

Shalom,

Lebih dari 2000 tahun yang lalu, Sang Misionaris pertama telah memulai perjalanan membawa Kabar Baik bagi bumi. Ia adalah Sang Firman yang telah menjadi daging, diutus oleh Bapa membawa jaminan keselamatan bagi bangsa-bangsa. Kisah kelahiran-Nya menjadi perbincangan serius bagi banyak kalangan, mulai dari raja, kaum intelektual, hingga kalangan bawah. Sang Bayi Kristus telah lahir menggenapi segala nubuat yang telah dibawa sejak kejatuhan manusia di dalam dosa.

Secara khusus, pada akhir tahun ini dan untuk mengisi bulan Natal ini, Redaksi e-JEMMi menyajikan sebuah artikel menarik dan sebuah renungan Natal yang akan membawa kita untuk memaknai Natal dengan lebih dalam. Di akhir edisi, kita juga akan membaca kesaksian misi iman Kristen Sudan, negara yang terus mengalami pertumbuhan jemaat dan gereja. Mari kita menyambut Natal dengan hati yang siap dan bersukacita. Segenap Redaksi e-JEMMi mengucapkan "Salam damai bagi bumi dan bangsa-bangsa. Selamat merayakan kelahiran Sang Juru Selamat dunia!" Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.

Ayub T.

Staf Redaksi e-JEMMi,
Ayub T.

 
ARTIKEL: ADVEN DAN INKARNASI

Inkarnasi mengacu secara harfiah kepada perwujudan Anak Allah yang kekal dalam daging -- Yesus "mengenakan daging dan darah seperti kita dan menjadi manusia seutuhnya". Doktrin inkarnasi mengatakan bahwa pribadi kedua Trinitas yang kekal mengambil rupa manusia dalam pribadi Yesus dari Nazaret. Sebuah cara yang membantu untuk mengingat aspek-aspek penting dari inkarnasi adalah kesimpulan pernyataan dari Yohanes 1:14, "Firman itu menjadi daging."

Alkitab dibelenggu

Firman

Firman mengacu pada Anak Allah yang kekal yang "pada mulanya ada bersama dengan Allah" dan yang diri-Nya adalah Allah (Yohanes 1:1). Dari kekekalan sampai Dia mengambil rupa manusia, Anak Allah memiliki kasih yang sempurna, sukacita, dan harmoni dalam persekutuan Tritunggal. Seperti Bapa dan Roh Kudus, Dia adalah Roh, dan tidak punya substansi materi. Namun, pada inkarnasi, Firman yang kekal masuk ke dalam penciptaan sebagai manusia. Ia menjadi seorang Yahudi abad pertama.

Menjadi

Menjadi bukan berarti bahwa Dia tidak lagi menjadi Tuhan. Saat menjadi manusia, Dia tidak meninggalkan sifat ilahi-Nya, seakan-akan ada pilihan (lain) bagi-Nya. Sebaliknya, Dia menjadi manusia dengan mengambil sifat manusia, selain sifat ilahi-Nya. Penting dalam inkarnasi -- dan sangat membantu dalam seluruh studi teologi -- untuk mengakui bahwa keilahian dan kemanusiaan tidak saling terpisah. Anak Allah tidak harus memilih antara menjadi Tuhan dan menjadi manusia. Dia bisa menjadi keduanya pada saat yang sama. Firman yang kekal menjadi manusia.

Daging

Daging bukan hanya sekedar referensi untuk tubuh manusia tetapi keseluruhan dari apa yang menjadikan manusia —- tubuh, pikiran, emosi, dan kehendak. Ibrani 2:17 dan 4:15 mengajarkan bahwa untuk menyelamatkan manusia Yesus harus dijadikan seperti kita "dalam segala hal" kecuali dosa kita. Dalam inkarnasi, segala sesuatu yang tepat untuk kemanusiaan dipersatukan ke Anak Allah. Anak Allah tidak hanya menjadi seperti manusia; Dia benar-benar menjadi manusia sesungguhnya dan sepenuhnya.

Firman Menjadi Daging

Jadi, Anak Allah yang kekal, tanpa berhenti menjadi Allah, mengambil sifat manusia sepenuhnya. Inilah yang sejak lama disebut orang Kristen sebagai "inkarnasi".

Dan, betapa agungnya doktrin dan bahan bakar untuk ibadah ini! Yesus tidak hanya menjadi manusia karena Dia bisa. Ini bukan pertunjukan sirkus, hanya untuk tontonan/pertunjukan. Ia menjadi manusia, dalam dunia dengan kredo lama, "bagi kita dan bagi keselamatan kita." Firman yang kekal menjadi manusia dengan darah dan daging yang lemah untuk menyelamatkan kita dari dosa kita dan untuk membebaskan kita dalam mengagumi dan menikmati kesatuan unik keilahian dan kemanusiaan dalam satu Pribadi yang spektakuler.

Inkarnasi bukan satu-satunya cara di mana Yesus menjadi Immanuel -- Allah beserta kita -- tetapi itu adalah kesaksian kekal bahwa Dia dan Bapa-Nya adalah teguh untuk kita.

Diambil dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : http://www.desiringgod.org/blog/posts/advent-and-the-incarnation
Judul asli artikel : Advent and the Incarnation
Penulis artikel : David Mathis
Penerjemah : Jing-Jing
Tanggal akses : 17 Juni 2016
 
RENUNGAN: INI NATAL!

Menjelang Perayaan Natal

Perayaan Natal sudah bukan hanya diramaikan oleh kalangan gereja (baca: Orang Kristen) di dunia ini. Kalangan bisnis menggunakan momen ini dan menciptakan banyak warna kegiatan dan tradisi dalam merayakan Natal. Setiap tahun, kita akan melihat bagaimana dunia merayakan tradisi "Natal" ini dengan begitu meriah dengan hiasan, dekorasi, dan acara-acara yang menarik khalayak ramai. Saking meriahnya, persiapan-persiapan dilakukan begitu spesifik dan detail di toko-toko, mal-mal besar, dan tempat umum lainnya. Gereja mungkin tidak semeriah dan seawal itu dalam mempersiapkan aksesori dalam rangka merayakan Natal.

Maria

Namun, menjadi satu pertanyaan dasar adalah apa yang dirayakan? Hanya sebuah perayaan hari besar keagamaan dari agama Kristen, atau hanya sebuah momen untuk mendapatkan keuntungan dalam suasana ini? Apa istimewanya perayaan Natal bagi orang secara umum (umat manusia)? Apa makna perayaan Natal bagi kita orang-orang pilihan Allah?

Menelusuri Malam Natal Pertama

Bagi orang percaya, Natal adalah sebuah penggenapan janji Allah bagi pemulihan relasi antara Sang Pencipta yang kudus dan adil, dengan ciptaan (manusia) yang berdosa, yang akan dibinasakan, yang tidak memiliki pengharapan dalam hidupnya. Natal adalah jembatan antara Allah dan manusia. Kelahiran Sang Juru Selamat dunia 2000 tahun lebih yang lalu. Penggenapan janji Allah ketika manusia Adam dan Hawa jatuh dalam dosa di Taman Eden. Penggenapan janji Allah kepada orang Israel dalam kitab Yesaya. Kristus lahir, Sang Juru Selamat dunia lahir, itulah yang dirayakan oleh orang percaya.

Mari kita telusuri, bagaimana Kristus hadir dalam dunia ini, pada malam Natal yang syahdu, seperti ungkapan puji-pujian Natal yang sering kita nyanyikan pada waktu Natal. Malam yang kudus, malam yang tenang ketika Sang Juru Selamat lahir di kota Betlehem, di kandang domba yang hina. Maria yang hamil tua diantar oleh calon suaminya, Yusuf. Mereka harus pergi ke kota Betlehem karena keturunan Daud, untuk memenuhi sensus yang sedang dilaksanakan pemerintah. Dengan penuh perjuangan, tubuh yang sudah lelah karena menempuh perjalanan dari Nazaret ke Betlehem, mereka mencari tempat menginap. Sudah seharian mencari, ternyata setiap tempat penginapan yang biasa dipakai orang telah penuh. Mungkin karena banyak orang yang datang ke kota ini untuk disensus maka penginapan-penginapan penuh terisi. Yusuf, sebagai calon suami yang bertanggung jawab, tentu harus menemukan tempat untuk Maria dan bayi Yesus yang masih dalam kandungan. Setelah sekian lama mencari, akhirnya ada juga pemilik penginapan yang berbelas kasihan.

Pemilik penginapan mengantar Yusuf dan Maria melihat tempat yang akan mereka gunakan malam ini. Mereka perlu istirahat sebentar sambil menunggu waktu sensus, dan siap-siap kalau Maria melahirkan. Ternyata, sebuah tempat yang begitu sederhana. Saking sederhana, mungkin kita pun tidak akan menggunakan tempat seperti ini untuk berteduh. Tempat menginap malam ini adalah kandang binatang. Bayangkan baunya ruangan itu walaupun tidak basah seperti daerah tropis, seperti di Pontianak. Daerah Timur Tengah lebih kering, dan kandang binatang tidak sumpek, tempat cukup luas. Apa pun kondisinya, tetap sebuah kandang binatang, yang sebenarnya tidak layak untuk seorang anak manusia.

Akhirnya, Maria melahirkan Yesus di kandang tempat mereka menginap. Kondisi tidak mendukung. Akan tetapi, atas seizin Allah, semua boleh berjalan lancar. Bayi Yesus dilahirkan dan diletakkan di tempat makanan binatang, sebuah palungan, bukan tempat tidur bayi yang mewah dan indah. Malam itu, tidak ada upacara penyambutan bayi, tidak ada ucapan selamat dari lingkungan, selain para binatang yang tempatnya dipakai. Walaupun demikian, Lukas menggambarkan ada gembala-gembala yang di sekitar daerah Betlehem digerakkan oleh Allah melalui malaikat yang menampakkan diri kepada mereka. Para gembala, orang yang sederhana, tidak membawa hadiah apa pun. Mereka juga orang susah, hanya pekerja-pekerja yang mungkin tidak memiliki ternak sendiri. Allah menggerakkan mereka, menyambut sukacita kelahiran seorang bayi yang sangat penting. Kedatangan mereka meramaikan suasana kandang tempat Yesus dilahirkan. Kita bisa bayangkan, Yusuf dan Maria bersyukur di tengah pergumulan mereka. Ada orang-orang yang mereka tidak kenal sama sekali mau datang besuk mereka. Tidak ada hadiah yang mewah. Tidak ada juga "door prize". Tidak ada kue-kue dan minuman yang enak. Yang ada hanya berita kesukaan bahwa lahir seorang penyelamat dunia, Yesus Kristus.

Jesus

Malam itu, di kandang, semua tercatat. Lukas mencatat dengan teliti bagaimana suasana penuh sukacita, diikuti oleh nyanyian malaikat. Maria yang begitu saleh, menyimpan semua pengetahuan dan janji Tuhan dalam hatinya, menerima tugas pelayanannya dengan penuh sukacita. Kristus yang lahir di kandang domba ini adalah Anak Allah. Allah yang bermisi, datang kepada umat-Nya. Allah Sang Pencipta mau menjelma menjadi ciptaan. Paulus dalam surat Filipi mengatakan bahwa Dia menjadi manusia, dari keagungan ke dalam kehinaan, dari kemahakuasaan ke dalam keterbatasan. Sungguh, sebuah momen yang sangat mengharukan. Kasih yang tidak tergambarkan dengan panca indra manusia. Allah telah datang ke dunia ini.

Memasuki Perenungan Kita

Natal bukanlah sebuah perayaan dan peringatan hari agama Kristen semata-mata. Natal adalah sebuah jembatan manusia kepada Allah. Ketika Kristus lahir, Allah menjadi manusia, Allah yang datang untuk menyelamatkan manusia yang berdosa, yang tidak berdaya, yang akan bermasa depan suram karena hukuman kekal. Yesus Kristus yang lahir, juga Yesus Kristus yang akan mati menggantikan kita di kayu salib. Dia membayar utang dosa kita kepada murka dan keadilan Allah. Dia sekaligus representasi sebuah kasih yang sejati dari Allah yang tidak terlepas dari sifat adilnya Allah. Manusia yang telah ditebus oleh darah Kristus boleh datang kepada Allah secara bebas. Kita bisa bersekutu kembali dengan Allah.

Bayangkanlah diri kita pernah menjadi orang yang Alkitab sebut "musuh" Allah. Setelah kita berada di dalam Kristus, kita menjadi "sahabat" Allah. Sebuah perubahan yang sangat signifikan. Peristiwa Natal inilah yang menjadi titik awal bagi kita untuk kembali merenungkan bagaimana proses pemulihan antara kita dan Allah telah terjadi. Kita boleh disebut sebagai sahabat, yang bebas datang kapan saja. Apakah kita sedih, senang, susah, sukacita, marah, bingung, dan berbagai perasaan yang ada? Kita bisa datang kepada Kristus Juru Selamat kita.

Mari kita rayakan Natal dengan perenungan dan bukan sekadar acara dan pesta yang meriah. Berkumpulah bersama keluarga untuk mengucap syukur kepada Allah karena Kristus mau datang ke dunia, mau mati di kayu salib, mau mengulurkan tangan-Nya untuk menyelamatkan kita yang berdosa. Naikkanlah puji-pujian dengan penuh ucapan syukur dan luapan gembira dalam hati kita, seperti para malaikat yang menerima berita Natal pada malam Natal yang pertama. Dengan ucapan syukur, kita melihat hasil dari pekerjaan Allah ini, kita menjadi orang-orang yang memiliki pengharapan. Tanyakan pada diri kita, apa yang bisa kita kerjakan untuk merayakan kehadiran Kristus ini. Apakah kita berbagi dengan anggota keluarga kita yang belum menerima Hadiah Indah dari Allah ini (Kristus)? Datanglah dan berbagilah dengan mereka! Jangan takut lagi! Bawalah mereka bersama pada malam Natal yang ada di gereja atau perayaan di rumah. Apakah kita berkesempatan untuk menolong rekan-rekan kita di mana pun untuk melewati kesulitan dalam hidup mereka?

Diambil dari:
Nama situs : Gereja Kristen Kalimantan Barat
Alamat situs : http://www.gkkb.or.id/renungan/76-it-s-christmasgkkb.or.id
Judul asli artikel : It's Christmas
Penulis artikel : Belinda
Tanggal akses : 30 Juli 2015
 
KESAKSIAN MISI: KEBANGUNAN ROHANI DI TENGAH ANIAYA (SUDAN)

Tak ada negara lain di seluruh dunia di mana begitu banyak warga agama-lain berpindah agama menjadi orang Kristen. Di negara Sudan (sebelah selatan Mesir) ini, warga Kristen hanya berjumlah sekitar 20% dan umumnya tinggal di wilayah selatan bersama dengan warga pribumi lainnya yang masih mempunyai kepercayaan animisme.

Jesus

Tampaknya, seperti juga terjadi dengan jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul, salah satu faktor dari pertumbuhan yang memesonakan itu ialah aniaya berat yang mereka alami. Justru dalam keadaan demikian, umat Kristen di Sudan meningkatkan kegiatan penginjilan mereka, bahkan sampai ke bagian utara negeri itu. Tidaklah mengherankan, banyak sekali jiwa baru yang berhasil dimenangkan. Memang, mereka tidak akan bisa menahan diri untuk bersaksi mengenai perubahan yang terjadi dalam hidupnya setelah Yesus menjadi Raja di hati mereka! Kerajaan Allah telah hadir!

Salah satu faktor yang menyulut pertumbuhan gereja di Sudan adalah pemutaran film mengenai kisah hidup Yesus (menurut Injil Lukas). Film itu telah dipertunjukkan kepada lebih dari 3,5 juta warga Sudan, dan banyak di antaranya dahulu adalah penyembah berhala. Sekitar 35 -- 40 persen dari orang-orang itu mengikuti bimbingan dan penggembalaan sesudah menerima Yesus.

Sudah bertahun-tahun lamanya pertumbuhan kekristenan di Sudan jauh melebihi pertambahan penduduk. Pada dasawarsa 1970-an, hanya ada satu juta umat Kristen, sekitar 5% dari jumlah penduduk. Pada pertengahan dasawarsa 1980-an, jumlah orang Kristen sudah meningkat menjadi dua juta jiwa, sedangkan menurut perhitungan tahun 1996 saja, jumlah orang Kristen sudah mencapai 3,5 juta jiwa, 15 -- 20% dari seluruh jumlah penduduk Sudan.

Diambil dari:
Nama majalah : Frontline Faith
Judul asli artikel : Kebangunan Rohani di Tengah Aniaya (Sudan)
Penulis artikel : Tim Open Doors
Penerbit : Open Doors Indonesia
Halaman : 11
Stop Press! Yuk Gabung PA e- Santapan Harian

FB Group Santapan Harian

Bahan renungan SANTAPAN HARIAN yang diterbitkan oleh Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA) bisa Anda temukan dalam Facebook Grup e-Santapan Harian (e-SH) yang dibentuk oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Karena itu, dengan gembira, kami mengundang Anda untuk bergabung dengan Facebook Grup e-Santapan Harian

Selain setiap anggota bisa membaca bahan renungan e-SH setiap hari, mereka juga diajak untuk berbagi berkat dan berdiskusi seputar bahan e-SH dengan anggota yang lain setiap hari. Ajaklah juga teman-teman Anda yang rindu bersaat teduh bersama dengan mengundang mereka untuk bergabung dalam Facebook Grup e-SH.

Mari kita bertumbuh bersama dalam Facebook Grup e-Santapan Harian!

Saya ingin bergabung
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-JEMMi.
misi@sabda.org
e-JEMMi
@sabdamisi
Redaksi: Ayub. T, Elizabeth N., dan N. Risanti
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2016 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org