Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/kisah/373

KISAH edisi 373 (20-8-2014)

Panggilan Pelayanan

___________PUBLIKASI KISAH (Kesaksian Cinta Kasih Allah)______________
                    Edisi 373, 20 Agustus 2013

KISAH -- Panggilan Pelayanan
Edisi 373, 20 Agustus 2013


Shalom,

Harta, takhta, dan wanita sering menyilaukan kaum laki-laki yang tidak 
memiliki fondasi iman yang benar dalam hidupnya. Seperti dalam edisi 
KISAH kali ini, yang menceritakan tentang pertobatan seorang aktor 
film Indonesia yang bernama Robby Sugara. Bagaimana kisahnya, silakan 
menyimak. Semoga menjadi berkat.

Pemimpin Redaksi KISAH,
Sigit
< http://kesaksian.sabda.org/ >


                         PANGGILAN PELAYANAN

Tahun 1984, industri perfilman Indonesia jatuh dan membuat saya harus 
mencari cara lain untuk tetap mendapatkan penghasilan. Seorang teman 
mengajak saya untuk berbisnis. Kami kemudian membuka sebuah 
perusahaan, dengan harapan nama Robby Sugara sebagai direkturnya bisa 
menjadi hoki dan menarik banyak transaksi bisnis. Akan tetapi, harapan 
perusahaan itu akan menghasilkan keuntungan besar ternyata tidak 
terwujud. Waktu berjalan, perusahaan malah menyedot aset pribadi saya 
untuk membayar gaji karyawan dan biaya-biaya lain dalam menjalankan 
perusahaan setiap bulannya. Keadaan finansial saya semakin terjepit, 
menghidupi seorang istri dan 7 orang anak sungguh sulit karena saya 
tidak memiliki pendapatan, justru pengeluaran sangat besar untuk 
keluarga dan perusahaan. Di tengah krisis tersebut, rekan bisnis saya 
mengenalkan saya dengan seorang wanita, yang menurutnya memiliki 
koneksi dan relasi bisnis luas sampai ke pejabat tinggi dan keluarga 
Cendana pada waktu itu.

Rekan saya berharap dengan nama besar saya sebagai artis dan wajah 
ganteng bisa membuat wanita itu tertarik memberikan banyak bisnis 
besar kepada kami. Harapannya terkabul, wanita itu langsung tertarik 
kepada saya. Bahkan, bukan hanya urusan bisnis saja, hubungan pribadi 
kami semakin hari menjadi semakin dekat dan keluarga semakin 
terabaikan. Nama besar, masalah perusahaan, dan menafkahi keluarga 
menjadi beban yang sangat berat bagi saya, yang saya rasa sudah tidak 
sanggup lagi untuk menanggungnya. Dan, tanpa pikir panjang lagi, saya 
memutuskan untuk meninggalkan istri dan 7 orang anak saya yang masih 
kecil-kecil (yang paling bungsu berusia 9 bulan), untuk menanggalkan 
beban saya. Bagaimana nanti anak-anak saya makan, di mana mereka akan 
tinggal, dan bagaimana mereka akan bersekolah? Saya sudah tidak peduli 
lagi, hanya satu yang saya pikirkan saat itu, yaitu kebebasan dan 
kesenangan yang akan saya dapatkan.

Saya pergi jauh dari Jakarta saat itu, meninggalkan semuanya, memulai 
hidup baru bersama wanita itu. Kami membuka usaha rumah penginapan di 
pinggir pantai, juga berbisnis batu mulia. Usaha itu berjalan sangat 
baik sehingga dari hasilnya, kami dapat jalan-jalan keluar negeri 
setiap tahunnya. Selama lebih dari 10 tahun, saya tidak tahu-menahu 
mengenai keluarga saya, saya tidak tahu sama sekali mengenai anak-anak 
saya, apakah mereka masih hidup, apakah mereka masih makan, apakah 
mereka masih bersekolah, saya tidak tahu sama sekali. Dalam segala 
kelimpahan yang saya miliki, saya bahkan tidak pernah berpikir untuk 
berbagi dengan anak-anak saya dan membantu kehidupan mereka.

Dalam satu kesempatan, saya bertemu dengan mereka semua. Mereka sudah 
besar-besar sehingga saya hampir tidak lagi mengenali mereka. Hati 
saya seperti teriris-iris saat mengetahui mereka dengan susah payah 
berhasil bertahan sepeninggal saya. Mereka semua masih bersekolah, 
bahkan ada yang sudah menyelesaikan sekolahnya dan mulai bekerja.

Apa yang telah saya lakukan, tidak ada satu pun andil saya dalam 
kehidupan mereka. Namun, yang membuat saya semakin tersentuh adalah 
tidak ada satu pun kata-kata kebencian keluar dari mereka, kata-kata 
menyalahkan yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak pernah 
menyinggung mengapa saya begitu tega menelantarkan dan meninggalkan 
mereka. Waktu yang ada dimanfaatkan benar-benar oleh mereka untuk 
melepaskan kerinduannya, yang ada saat itu hanya sukacita luar biasa 
karena pertemuan itu. Hanya satu kata permintaan yang mereka ucapkan 
dalam pertemuan itu, "Papi, pulang ...." Sebuah kata sederhana, tetapi 
sangat sulit untuk saya kabulkan. Seseorang bisa dengan mudah 
terjerumus dalam perselingkuhan. Hanya butuh semenit untuk ia sudah 
terikat dalam perselingkuhan, tetapi sangat sulit, kalau bisa dibilang 
tidak mungkin, untuk lepas dari jerat perselingkuhan.

Namun, setelah pertemuan itu, saat-saat kami bertemu terus mengganggu 
saya. Begitu indah dan tidak dapat terganti oleh apa pun. Begitu 
berlimpahnya hidup saya, tetapi tidak dapat menggantikan momen-momen 
yang indah bersama mereka. Kerinduan saya untuk dapat terus bersama 
mereka semakin lama semakin besar, hingga membuat saya tidak berdaya 
dan hanya mampu berdoa, "Tuhan, persatukan saya kembali dengan 
mereka." Dalam pertemuan berikutnya, dalam haru saya berkata kepada 
mereka, "Papa janji akan pulang ...." Sebuah janji yang saya tidak 
tahu bagaimana saya mewujudkannya. Ternyata, janji itu menyalakan 
kembali harapan mereka yang hampir padam, anak-anak terus dengan 
gencar mendoakan kepulangan saya. Setiap tahun, mereka membeli hadiah 
khusus untuk saya, pada hari ulang tahun putri saya yang sulung, 
karena mereka pikir saya akan memberi kejutan pulang pada hari ulang 
tahun mereka. Akan tetapi, apa yang terjadi, saya tidak pulang. Mereka 
tidak putus harapan, berdoa lagi, lalu membeli kado lagi khusus buat 
saya, siap menghadapi kejutan kepulangan saya. Hal itu terjadi setiap 
tahun, tahun demi tahun, mereka menanti, dan selalu saya kecewakan.

Januari 1998, peristiwa yang dinanti-nantikan mereka pun terjadi, saya 
dipulangkan oleh wanita itu, bahkan diantar sampai ke depan rumah saya 
pada tengah malam. Saya tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak saat 
itu. Peristiwa pemulangan saya itu menunjukkan bahwa bukan kuat dan 
gagah saya yang bisa melepaskan diri dari jerat itu, tetapi itu 
semata-mata karya Tuhan yang ajaib. Bukan saya yang berusaha dan 
pulang sendiri meninggalkan semua kenikmatan duniawi itu, melainkan 
mukjizat Tuhan yang memulangkan saya. Peristiwa itu disambut sukacita 
luar biasa oleh anak-anak saya, penuh haru dan kerinduan. Walaupun 
istri saya tidak merespons kepulangan saya, saya memakluminya. Selama 
14 tahun kami terpisah, dan setelah semua kejahatan yang saya lakukan 
kepadanya, ia butuh waktu untuk menerima saya lagi. Saya tahu bahwa 
Tuhanlah yang menguasai hati keluarga saya, untuk mau menerima orang 
yang telah sekian lama menyakiti hati mereka, tidaklah mungkin jikalau 
bukan karena campur tangan Tuhan. Mereka diberikan-Nya kebesaran hati 
dan kasih untuk dapat menerima saya lagi. Kalau bukan karena campur 
tangan Tuhan, itu tidak mungkin.

Setelah kembalinya saya ke rumah, semuanya tidak selesai begitu saja. 
Saya menghadapi sebuah pergumulan baru. Saya harus mengambil lagi 
beban yang saya tinggalkan, yaitu menghidupi keluarga saya. Saya sama 
sekali tidak punya apa-apa saat pulang kepada mereka. Hanya membawa 
satu kantong plastik kecil berisi baju kotor. Saya memutar otak, 
bagaimana mendapatkan penghasilan. Kemudian, saya mulai menghubungi 
teman-teman lama saya dalam dunia film, berharap nama besar Robby 
Sugara pada masa lalu masih bisa dijual saat ini. Saya menanti-nanti, 
tidak juga ada jawaban. Sampai akhirnya, Tuhan tegur saya agar saya 
tidak mengandalkan kekuatan saya, melainkan mengikuti jejak anak-anak 
saya yang hanya mengharapkan Tuhan untuk memulangkan saya. Saya 
menyadarinya dan meminta ampun kalau saya masih mengandalkan nama 
besar. Dan, akhirnya, saya menyerahkan sepenuhnya, segala sesuatunya 
ke dalam tangan Tuhan.

Tidak lama kemudian, jawaban Tuhan datang, saya mendapat peran dalam 
sebuah sinetron yang sangat terkenal pada saat itu, yaitu 
"Tersanjung". Setelah sinetron itu, berkat Tuhan mulai mengalir 
sehingga saya diizinkan menyelesaikan puluhan judul sinetron. Saya 
sungguh rindu untuk melayani Tuhan, tetapi pelayanan saya sering kali 
terhambat oleh jadwal syuting yang sering berubah-ubah. Saat saya 
sudah dijadwalkan untuk bersaksi di sebuah tempat, jadwal syuting juga 
mendadak berubah dan bentrok dengan jadwal pelayanan. Dengan sangat 
terpaksa, saya harus mengikuti syuting karena sudah terikat kontrak. 
Hal ini membuat saya takut untuk menerima pelayanan kesaksian, saya 
takut mengecewakan jemaat yang mengundang karena saya tidak bisa 
datang, bentrok dengan jadwal syuting yang berubah.

Saya berdoa kepada Tuhan untuk kerinduan besar saya untuk melayani 
Dia, dan keadaan pekerjaan saya saat itu. Dalam sebuah sinetron 
berjudul "Cintailah Aku" yang saya berperan di dalamnya, saya melihat 
judul dari sinetron itu memakai huruf besar untuk tulisan AKU. Saya 
percaya, ini adalah sebuah tanda dari Tuhan, agar saya melayani Dia 
sepenuhnya. Agar saya betul-betul mencintai hanya Dia saja, 
meninggalkan segala sesuatu, dan menyerahkan seluruh pemeliharaan 
hidup saya ke dalam tangan-Nya. Maka, saya memutuskan untuk 
meninggalkan dunia selebritas, dan terjun sepenuhnya ke dalam 
pelayanan. Sungguh sebuah sukacita dapat melayani Tuhan Yesus yang 
telah memulihkan hidup dan keluarga saya. Orang bertanya, lalu dari 
mana saya memenuhi kebutuhan materi keluarga. Saya hanya tersenyum, 
Tuhan Yesus pasti mencukupi segala sesuatunya. Saya sudah melihat dan 
merasakan kebaikan-Nya, Ia selalu mencukupkan apa yang saya butuhkan, 
terpujilah nama-Nya.

Diambil dari:
Nama situs: Setangkai Bunga Kehidupan
Alamat URL: http://setangkaibungakehidupan.blogspot.com/2013/02/panggilan-pelayanan.html
Penulis: Robby Sugara
Tanggal akses: 18 Februari 2014


POKOK DOA

1. Mari kita berdoa kepada Tuhan Yesus untuk keluarga Robby Sugara 
agar Tuhan terus memakai mereka dalam pelayanan dan menjadi berkat 
bagi orang-orang di sekitar mereka.

2. Mari kita berdoa kepada Tuhan Yesus untuk orang-orang yang 
mengalami permasalahan hidup seperti Robby Sugara, yaitu menelantarkan 
keluarga mereka, agar mereka bertobat dan kembali kepada keluarga 
karena keluarga adalah titipan Tuhan.

3. Mari kita berdoa kepada Tuhan Yesus untuk keluarga-keluarga Kristen 
di mana pun mereka berada, agar mereka dapat menjadi terang dan berkat 
bagi orang lain yang menyaksikan hidup mereka.


"Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus 
Kristus dengan kasih yang tidak binasa." (Efesus 6:24)

< http://alkitab.mobi/tb/Ef/6/24/ >
< http://alkitab.sabda.org/?Ef+6:24 >


STOP PRESS: AYO BERGABUNG DENGAN KOMUNITAS BLOGGER REMAJA, SABDA SPACE TEENS!

Kamu remaja? Hobi menulis? Berbagilah berkat melalui tulisanmu dengan 
bergabung di SABDA Space Teens (SS Teens)!  SABDA Space Teens (SS 
Teens) < http://teens.sabdaspace.org > adalah komunitas bagi para 
remaja Kristen untuk  berkarya secara positif dan kreatif melalui 
tulisan. Kamu dapat membagikan tulisan-tulisanmu baik berupa opini, 
artikel, esai, puisi, cerpen, dan lain sebagainya.

Jika kamu mengaku sebagai remaja Kristen yang rindu menjadi teladan 
dan memengaruhi remaja-remaja lainnya, bergabunglah dengan SS Teens! 
Mari menulis, menjadi berkat satu sama lain, dan jangkau jiwa-jiwa 
bagi Kristus!

--> < http://teens.sabdaspace.org >


Kontak: kisah(at)sabda.org
Redaksi: Sigit, Amidya, dan Bayu
Berlangganan: subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/kisah/arsip/
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2014 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org