Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-wanita/163

e-Wanita edisi 163 (20-4-2017)

Karya Salib Kristus bagi Wanita Kristen

e-Wanita -- Edisi 163/April 2017
 
Karya Salib Kristus bagi Wanita Kristen
e-Wanita -- Edisi 163/April 2017
 
e-Wanita

Salam dalam kasih Kristus,

Paskah datang silih berganti dalam kehidupan kita. Setelah bertahun-tahun melaluinya, masihkah kita merasakan perasaan syukur yang besar atas karya Kristus di kayu salib? Ketika Kristus memilih untuk mati di kayu salib, terhitung di antara penjahat, di depan pandangan para pembenci dan orang-orang yang ingin diselamatkan-Nya, sesungguhnya Ia tengah membayar harga untuk meredakan murka Allah atas dosa-dosa kita demi menjadi jalan pendamaian bagi kita kepada Allah. Ia, "yang walaupun memiliki rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan." (Filipi 2:6, AYT), telah menuntaskan rencana Allah yang sedari semula telah ditetapkan dalam kekekalan. Dalam momen Paskah kali ini, mari kita kembali merenungkan sedalam-dalamnya makna karya penebusan Kristus bagi kita. Kiranya apa yang sudah dikerjakan Allah dalam Kristus bagi kita dapat menjadikan perubahan mendasar pada kehidupan yang kita bawa.

Seluruh staf redaksi publikasi e-Wanita mengucapkan Selamat Paskah 2017 kepada segenap pembaca e-Wanita di mana pun Anda berada. Kristus sudah mati bagi kita, maka mari kita hidup dan berkarya bagi Dia.

Ia sendiri telah menanggung dosa kita pada tubuh-Nya di kayu salib supaya kita mati terhadap dosa, dan hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya, kamu disembuhkan. (1 Petrus 2:24, AYT).

N. Risanti

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

 

RENUNGAN PASKAH Mengingat Pengorbanan-Nya

Kemudian, mereka menyalibkan Dia . . ." (Markus 15:24)

Seorang dokter pernah memberikan penjelasan rinci tentang apa yang terjadi ketika seseorang disalibkan:

"Salib ditempatkan di tanah dan orang yang kelelahan itu dengan cepat dibalik dengan bahunya di kayu. Anggota legiun meraba-raba bagian terendah di pergelangan tangan bagian depan. Dia memukulkan paku berat, paku persegi dari besi tempa melalui pergelangan tangan dan jauh menembus ke dalam kayu. Cepat-cepat, ia bergerak ke sisi lain dan mengulangi tindakan itu dengan berhati-hati agar tidak menarik lengan terlalu kencang, tetapi memungkinkan untuk beberapa kelenturan dan gerakan. Salib ini kemudian diangkat ke tempatnya.

Kaki kiri ditekan ke belakang kaki kanan, dan dengan kedua kaki diulurkan, jari-jari kaki ke bawah, paku dipukulkan melalui lengkungan masing-masing, membuat lutut jadi tertekuk. Korban sekarang disalibkan. Saat ia perlahan merosot ke bawah dengan berat badan lebih pada paku di pergelangan tangan, menyiksa, tembakan rasa sakit yang berapi-api sepanjang jari dan sampai lengan meledak di otak -- paku di pergelangan tangan menempatkan tekanan pada saraf median. Saat ia mendorong dirinya ke atas untuk menghindari siksaan peregangan, ia menempatkan berat penuh pada paku melalui kakinya. Sekali lagi, ia merasakan penderitaan membakar dari paku yang merobek melalui saraf di antara tulang-tulang kakinya.

Penderitaan Kristus

Saat lengan kelelahan, kram menjalar melalui otot, mengikat mereka dengan rasa nyeri yang sangat, terus-menerus, dan berdentam. Dengan kram ini, dia tidak mampu mendorong tubuhnya ke atas untuk bernapas. Udara dapat ditarik ke dalam paru-paru, tetapi tidak diembuskan. Ia bertarung untuk mengangkat dirinya untuk mendapatkan bahkan satu napas kecil. Akhirnya, karbon dioksida menumpuk di paru-paru dan dalam aliran darah. Dengan tidak teratur, ia mampu mendorong dirinya ke atas untuk bernapas dan membawa oksigen yang memberi hidup.

Berjam-jam ... sakit, siklus kram yang memelintir dan mengoyak-oyak sendi, sesak napas parsial yang sebentar-sebentar, rasa nyeri yang membakar ketika jaringan tubuh terkoyak kembali saat ia bergerak naik dan turun bergesekan dengan kayu yang kasar. Kemudian, penderitaan lain dimulai. Rasa sakit yang mendalam di dada, menghujam saat kantong jantung perlahan terisi dengan darah dan mulai menekan jantung.

Sekarang, hampir berakhir -- hilangnya cairan jaringan tubuh telah mencapai tingkat kritis -- jantung yang tertekan sedang berjuang untuk memompa darah yang berat, tebal, lembam ke dalam jaringan tubuh -- paru-paru yang tersiksa berusaha dengan kalut menghirup tegukan-tegukan kecil udara. Dia bisa merasakan dinginnya kematian merayap melalui urat daging-Nya ... akhirnya Dia bisa membiarkan tubuh-Nya mati."

Alkitab mencatat proses kematian melalui penyaliban ini hanya dalam kata-kata sederhana. Seberapa sering kita menganggap biasa rasa sakit dan penderitaan yang dialami Yesus ketika Dia mati di kayu salib bagi Anda dan saya. Pada Paskah ini, mari kita mengingat pengorbanan yang telah Dia lakukan.

Tantangan Doa: Bersyukurlah kepada Yesus atas harga yang Ia bayar untuk dosa-dosa Anda melalui kematian-Nya yang menyakitkan di kayu salib. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Crosswalk
Alamat situs : http://www.crosswalk.com/devotionals/easter-devotionals/easter-devotional-march-21.html
Judul asli artikel : Remembering His Sacrifice
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 8 Juli 2016
 

DUNIA WANITA Tiga Wanita dan Salib

Saat kita mempersiapkan hati kita untuk merayakan kebangkitan Tuhan kita pada hari Minggu ini, saya teringat dengan tiga wanita yang berdiri di sekitar salib Kristus -- para wanita seperti Anda dan saya. Meski kita mungkin tidak benar-benar mengetahui apa yang mereka pikirkan dan katakan, barangkali kita bisa membayangkan ....

Ia berdiri dari kejauhan, tetapi setidaknya, ia masih berdiri. Ia tidak membiarkan lututnya rebah ... tidak sekarang. Bertekad untuk berdiri di sana, untuk melihat, untuk menjadi kuat bagi Dia, tidak peduli betapa pun sulitnya, ia tidak akan memalingkan pandangannya dari anaknya, Mesiasnya.

Pada saat Maria berdiri di sana dikelilingi oleh teman-temannya, mungkin pikirannya melayang pada banyak kenangan sejak 30 tahun lebih terakhir. Semenjak dirinya menyadari bahwa ia sedang mengandung dan berdoa bahwa Yusuf akan mengerti, hingga pada malam yang paling ajaib di dalam kandang tempat ia tidak bisa berkata-kata, saya membayangkan ia mengulang kembali perjalanan yang kelihatannya berakhir di sini ... di kayu salib.

Bayangkan Maria mengenang masa hidupnya membesarkan seorang anak yang berbeda dari yang lainnya. Apakah ia mencoba mengingat dengan keras dalam pemikirannya saat mengenang hari ketika mereka kehilangan Yesus dan kemudian menemukan-Nya kembali di Yerusalem, dalam sebuah percakapan seru di Bait Suci dengan para rabi? Respons dari anak laki-laki itu pastinya menggema dengan keras di hatinya saat ini. "Tidak tahukah engkau bahwa Aku pasti berada di rumah Bapa-Ku?" (Lukas 2:49b, AYT). Pada saat Maria berdiri dengan tabah untuk putranya tanpa ragu, ia menyadari bahwa walaupun dirinya bisa menyelamatkan-Nya, dia tetap tidak bisa. Terlebih sekarang, Ia sedang berurusan dengan rencana Bapa-Nya.

Para Wanita di penyaliban Kristus

Perjalanan Maria menuju kayu salib membawanya ke titik ia dapat berdiri teguh ketika rencana Bapa diselesaikan.

Maria meraih dan memegang tangan sahabatnya, Salome, yang terhilang dalam pikirannya sendiri. Sebagai ibu Yakobus dan Yohanes, Salome mungkin tidak memandang Yesus. Sebaliknya, matanya lebih berfokus pada kedua pria yang berada di sebelah kanan dan kiri Yesus, mengulangi pertanyaan yang sama lagi dan lagi, "Apa yang aku tanyakan?"

Belum terlalu lama ketika ibu ini, yang menginginkan hal terbaik untuk anak-anaknya, mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada Yesus apakah Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, bisa mendapatkan kehormatan untuk duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus di kerajaan-Nya. Namun, sekarang, kenyataan dari pertanyaan tersebut ditampilkan secara grafis di depannya. Yesus memperingatkannya bahwa ia tidak tahu apa yang sedang ditanyakannya. Melihat kedua pria di sebelah kanan dan kiri Yesus, mungkin Salome sekarang sedang bertanya-tanya apakah ia benar-benar ingin membiarkan kedua anaknya terus mengikuti Dia, terlebih jika hal ini berarti mengalami penderitaan yang sama (Matius 20:21-22). Respons Yesus selebihnya terhadap permintaan Salome kembali dengan sama kuatnya ketika tentara-tentara Romawi menaikkan secangkir anggur pahit ke mulut-Nya .... "Kamu memang akan minum dari cawan-Ku." (Matius 20:23, AYT)

Perjalanan Salome menuju kayu salib membawanya ke titik ia berserah, tidak hanya hidupnya sendiri, tetapi juga hidup orang-orang yang paling dikasihinya.

Salome dan Maria saling memandang dan keduanya berbalik untuk melihat Maria Magdalena mengambil satu langkah ke depan, menjauh dari kumpulan para wanita. Wajah Maria masih menyandang tepi tajam sebuah kehidupan yang sulit. Belum terlalu lama sejak Maria Magdalena bergabung dengan kelompok wanita yang berjalan bersama-sama dengan Yesus. Dia mungkin menjadi seperti seorang saudari kecil bagi Maria dan Salome karena pengaruh Yesus dalam hidupnya sangat dramatis ketika Ia mengusir tujuh Iblis yang telah menyiksa dia sekian lama dan dia mengalami kehidupan yang nyata untuk pertama kalinya.

Maria Magdalena berdiri, memandang Juru Selamatnya dengan tidak percaya bahwa ia tidak memiliki pemikiran maupun perkataan; hanya emosi yang sangat kasar sehingga ia hampir tidak bisa menjaganya. Yesus, satu-satunya orang yang secara literal menyelamatkan hidupnya dan yang kepada-Nya ia telah memberikan semua yang ia punya, harus diambil darinya. Bayangkan ia berdiri, tercengkeram dalam ketakutan bahwa sekali lagi ia tidak akan memiliki apa-apa. Ia benar-benar tidak bisa mengalihkan pikirannya dari hal itu.

tiga wanita

Menyaksikan bahwa Tuhannya mengembuskan napas terakhir-Nya dan badan-Nya diturunkan dari salib, orang-orang lain pergi dan pulang ke rumah. Mungkin, ia juga berniat begitu ... tetapi ia tidak bisa. Ia justru mengikuti mereka untuk melihat di mana Yesus akan dikuburkan. Maria Magdalena melihat Yusuf Arimatea dan Nikodemus sangat hati-hati membaringkan Yesus di dalam makam dan ia berpikir bahwa pastilah orang-orang ini juga mengasihi-Nya. Dengan matahari terbenam yang menandakan dimulainya hari Sabat, Maria Magdalena terpaksa pulang untuk memulai waktu pribadinya dengan beristirahat dan berdoa, tetapi berjanji akan kembali untuk merawat tubuh-Nya ....

Hari Sabat ini mungkin terlihat seperti sesuatu yang buram. Pastinya, Maria Magdalena merasa sangat tak berdaya, hanya memikirkan tentang kematian-Nya dan makam tersebut, sangat terdorong untuk merawat tubuh Yesus, dia bahkan tidak dapat menunggu matahari segera terbit pada hari ketiga (Yohanes 20:1). Kemudian, sepertinya ketidakberdayaannya tenggelam dalam keputusasaan mutlak ketika ia mendapati tubuh-Nya telah hilang, dan yang dapat ia lakukan hanyalah memandang makam-Nya dan meratap dengan tangisan penuh putus asa (Yohanes 20:12-13).

Hanya ketika ia mendengar-Nya mengucap satu kata, "Maria," maka ia melihat-Nya. Seperti seekor domba yang mendengar suara gembalanya di tengah kekacauan, ia tahu itu adalah suara-Nya. Pada waktu itulah, ia berhenti memandang makamnya dan berbalik melihat Yesus, Mesiasnya, Juru Selamatnya, Tuhannya.

Perjalanan Maria Magdalena menuju kayu salib dan kemudian menuju makam yang kosong membawanya ke titik bahwa ia tidak lagi melihat kehilangan dan kematian, melainkan hanya melihat harapan dan hidup.

Dapatkah Anda berdiri teguh saat pekerjaan Bapa diselesaikan?

Apakah Anda masih berpegang pada sesuatu atau seseorang yang Allah telah meminta Anda untuk menyerahkannya?

Apakah Anda masih memandang pada kematian dan keputusasaan, atau sudahkah Anda menemukan kehidupan?

Minggu ini, jika seandainya Anda bergabung dengan sekelompok wanita di kayu salib dan berdiri bersama-sama dengan mereka, melihat dari kejauhan, apa yang akan menjadi cerita Anda? (t/Illene)

Download Audio Tiga Wanita & Salib
Diterjemahkan dari:
Nama situs : Biblical Woman
Alamat situs : http://biblicalwoman.com/three-women-and-the-cross/
Judul asli artikel : Three Women and The Cross
Penulis artikel : Terri Stovall
Tanggal akses : 14 Oktober 2016
 
Stop Press! Memperlengkapi Diri melalui Bahan-Bahan dari Situs Apps4god

Teknologi merupakan anugerah dari Allah yang dapat kita manfaatkan untuk melayani sesama, mengabarkan Injil, serta mendukung pertumbuhan rohani kita. Lantas, sejauh manakah perkembangan teknologi yang bisa digunakan, dan bagaimanakah kita bisa menerapkannya dalam pelayanan kita secara maksimal? Dapatkan berbagai materi dan bahan seputar pelayanan digital dan pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan di situs Apps4God.org.

Situs Apps4god

Mari semakin memperlengkapi diri dengan informasi terkini seputar pelayanan pada era digital. Tunggu apa lagi? Segera kunjungi situs Apps4God.org!

 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-Wanita.
wanita@sabda.org
e-Wanita
@sabdawanita
Redaksi: N. Risanti, Amidya, dan Margaretha I.
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org