Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-wanita/159

e-Wanita edisi 159 (15-12-2016)

Wanita dan Natal

e-Wanita -- Edisi 159/Desember 2016
 
Wanita dan Natal
e-Wanita -- Edisi 159/Desember 2016
 
e-Wanita

Salam Natal,

Memperingati kelahiran Kristus dengan sukacita tentu adalah keinginan seluruh umat Kristen. Akan tetapi, pernahkah kita merefleksi nilai-nilai di balik kelahiran Yesus? Kidung Jemaat No. 111 menuliskan, "Di palungan dibaringkan Putra Allah yang kudus; tidur-Nya di kandang hewan, kandang domba dan lembu. Berbahagialah gembala mendengar beritanya, segera pergi ke sana dan pada-Nya menyembah". Kutipan dari Kidung Jemaat ini sarat akan makna dan peringatan bagi umat Kristen pada masa kini. Putra Allah yang kudus dibaringkan di kandang hewan. Putra Allah datang dengan sangat sederhana, tetapi semua umat yang mendengar kelahiran-Nya akan bersukacita dan sujud menyembah kepada-Nya.

Sajian e-Wanita kali ini kiranya boleh mengingatkan kita akan makna Natal yang sejati. Mari kita menghayati kedatangan Putra Allah di dalam hidup kita. Sudahkah Ia masuk ke dalam hati kita? Sudahkah hati kita menjadi rumah bagi Dia? Selamat merayakan Natal dengan sukacita dan damai sejahtera dari Allah. Gloria in excelsis Deo.

Amidya

Staf Redaksi e-Wanita,
Amidya

 

RENUNGAN WANITA Natal Sejati

Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan." (Lukas 2:34)

Sebuah kutipan dalam pedoman kebaktian Adven gereja kami membuat saya berpikir ulang tentang pendekatan saya terhadap Natal:

"Marilah kita dengan sekuat tenaga menghindari godaan untuk menjadikan ibadah Natal kita sebagai sarana menarik diri dari tekanan dan dukacita kehidupan guna memasuki keindahan yang barangkali berbeda dengan pikiran kita. Kristus datang ke dunia nyata, ke kota di mana tak ada tempat bagi-Nya, dan ke negeri di mana Herodes, pembunuh orang-orang tak berdosa, menjadi raja."

Kelahiran Yesus

"Dia datang kepada kita, bukan untuk melindungi kita dari kekejaman dunia, melainkan untuk memberikan kepada kita keberanian dan kekuatan untuk menanggungnya. Bukan untuk, dengan ajaib, merenggut kita dari konflik kehidupan sehari-hari, melainkan untuk memberi kita rasa damai -- damai-Nya -- di dalam hati kita. Dengan demikian, kita tetap dapat tetap tenang dan tabah pada saat konflik sedang merajalela, dan kita dapat membawa kesembuhan, yaitu kedamaian, bagi dunia yang tercabik."

Ketika Maria dan Yusuf menyerahkan bayi Yesus kepada Tuhan, Simeon berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang" (Lukas 2:34,35).

Natal bukan dimaksudkan untuk menjauhkan kita dari kenyataan hidup, melainkan untuk masuk ke dalamnya bersama Sang Raja Damai.

Diambil dari:
Nama situs : Alkitab SABDA
Alamat situs : http://sabda.org/publikasi/e-rh/2007/12/19/
Judul asli renungan : Natal Sejati
Penulis renungan : DCM
Tanggal akses : 21 September 2016
 

DUNIA WANITA Harapan pada Saat Natal

Natal adalah tentang pengharapan. "Datanglah Engkau Yesus, yang lama dinantikan" adalah doa dari umat pilihan Allah karena mereka menunggu Sang Mesias. Dalam merayakan Adven, kita masuk ke dalam pengharapan-pengharapan itu dan bersukacita dalam pemenuhannya.

Pada sisi inkarnasi ini, kita sering memuat Natal bersama dengan pengharapan-pengharapan lainnya. Saya dapat memberikan contoh-contoh, tetapi mungkin itu adalah apa saja yang sedang Anda pikirkan sekarang ini. Dan, ketika orang-orang atau hadiah-hadiah tidak memenuhi pengharapan dari masa-masa Natal kita, hal itu akan mengarah pada segala macam gejolak emosi.

When Hope Was Born

Pengharapan yang tidak realistis = Emosi yang tidak terkendali.

Apa yang harus kita harapkan di Natal ini?

Pertama, kita seharusnya tidak mengharapkan apa-apa. Jika kita pergi berlibur tanpa berekspektasi tentang bagaimana suami kita akan berbelanja untuk kita atau bagaimana anak-anak kita akan berperilaku atau bagaimana saudari kita akan memperlakukan kita, emosi kita tidak akan dipengaruhi oleh orang lain.

Dengan kata lain, cara terbaik untuk mempersiapkan emosi kita untuk Natal adalah dengan bertobat dari penyembahan berhala. Ingat, seperti yang telah John Calvin peringatkan kepada kita, kejahatan dari hasrat kita seringnya bukanlah terletak pada apa yang kita inginkan, tetapi karena kita terlalu menginginkan hal itu. Kita sering menyebut keinginan ini "pengharapan". Dan, ketika Anda memiliki "pengharapan yang mengecewakan", -- yang lebih sering terjadi daripada tidak -- Anda akan menemukan berhala yang mengintai di dekatnya.

Ketika kita mengesampingkan pengharapan yang egois, atau yang disebutkan Alkitab sebagai "berhala yang tidak berharga", kita dapat mengharapkan emosi yang damai pada saat Natal ini.

Kedua, kita harus mengantisipasi kesulitan. Bagi orang-orang Kristen, masalah sekitar liburan tidak harus tak terduga. Tuhan kita telah berjanji bahwa, "Di dunia, kamu akan mengalami penganiayaan" (Yohanes 16:33, AYT); dan, untuk memparafrasekan ayah saya, "dosa tidak pernah berlibur".

Bersiaplah bahwa anak-anak Anda akan bersikap tidak berterima kasih atau bahwa paman Anda akan bersikap kasar. Antisipasikan masalah pada saat Natal ini dan Anda akan lebih siap untuk menanganinya secara emosional.

Budaya sekuler kita mencoba untuk mengabaikan realitas kesulitan selama masa libur Natal, menutupi mata mereka dengan sentimentalitas:

Have yourself a Merry little Christmas/Milikilah sedikit keceriaan Natal.
May your heart be light/Kiranya hatimu akan menjadi bersukacita.
From now on our troubles will be out of sight/Mulai sekarang masalah-masalah kita tidak akan terasa.
From now on our troubles will be miles away/Mulai sekarang masalah-masalah kita akan menjauh."

Bagi orang-orang Kristen, masalah kita akan menjauh dan tidak akan dirasakan lagi -- pada suatu hari nanti. Namun, itu adalah janji dari surga, bukan dari Natal. Kecuali pada saat Tuhan kembali atau memanggil kita pulang, masalah merupakan realitas yang selalu hadir, kadang-kadang terutama terjadi pada saat Natal.

Natal adalah tentang merayakan pengharapan yang terpenuhi akan kedatangan Kristus ke dunia, bahkan sembari kita menunggu dalam pengharapan akan kedatangan-Nya kembali yang mulia. Saat kita merayakan yang "sudah terjadi", kita juga harus mengharapkan yang "belum terjadi".

Bukan hanya kita harus mengantisipasi masalah, tetapi karena Natal, kita juga dapat mengharapkan anugerah. Kristus telah datang! Tuhan ada bersama kita! Ibrani 2, AYT menyoroti anugerah yang dapat kita harapkan oleh karena inkarnasi:

"Karena itu, dalam segala hal Yesus harus menjadi seperti saudara-saudara-Nya supaya Ia dapat menjadi Imam Besar yang penuh belas kasihan dan setia dalam pelayanan kepada Allah. Dengan demikian, Ia dapat membawa penebusan atas dosa-dosa umat. Sebab, Yesus sendiri menderita ketika dicobai, maka Ia dapat menolong mereka yang sedang dicobai."

Imanuel

Dalam masalah kesulitan dan pencobaan Natal, kita dapat mengharapkan pertolongan dari Allah yang berinkarnasi. Tuhan beserta kita dan Tuhan bersama kita untuk membantu kita. Dia telah menjadi jalan pendamaian bagi setiap dosa, dan Ia mampu membantu kita melawan setiap godaan emosional.

Ketika kita menetapkan pengharapan Natal kita pada Kristus, kita tidak akan kecewa. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Girls Talk Home
Alamat situs : http://www.girltalkhome.com/blog/what-to-expect-at-christmas/
Judul asli artikel : What to Expect at Christmas
Penulis artikel : Nicole Whitacre
Tanggal akses : 13 April 2016
 
Stop Press! Renungan e-RH PSM

Renungan PSM

Apakah Anda rindu untuk senantiasa memiliki waktu-waktu teduh bersama Allah dengan gawai Anda? Anda ingin mendapatkan aplikasi Renungan Harian yang diisi dengan Firman Tuhan dan kebenaran-Nya? Yayasan Lembaga SABDA bekerja sama dengan mitra-mitra membuat Aplikasi Renungan PSM yang setiap hari menyediakan tiga bacaan 'renungan harian' Kristen untuk Pagi, Siang, dan Malam. Terdiri lebih dari 4.000 renungan, aplikasi ini terbagi menjadi 4 modul (Tahun Pertama -- Keempat), yang masing-masing berisi 3 x 366 renungan. Renungan ini dapat bekerja secara luring sehingga Anda tidak perlu terhubung ke internet karena semua sudah termasuk di dalam satu aplikasi ini!

Nah, unduh aplikasinya sekarang juga untuk menjalani waktu-waktu Anda setiap hari bersama Tuhan!

Dapatkan di Google Play Store: e-Renungan PSM (Harian) Informasi lebih lengkap di situs SABDA Android
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-Wanita.
wanita@sabda.org
e-Wanita
@sabdawanita
Redaksi: Amidya, N. Risanti, dan Margaretha I.
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2016 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org