Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-sh/2021/09/11

Sabtu, 11 September 2021 (Minggu ke-15 Sesudah Pentakosta)

Matius 18:21-35
Mengampuni seperti Allah Mengampuni

Pernahkah Anda disakiti berkali-kali? Mungkin ada di antara kita yang mengalaminya dan sering bergumul apakah harus terus-menerus memaafkan? Petrus mungkin mengalaminya; itu sebabnya, dia bertanya kepada Yesus, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"

Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang raja yang mengadakan perhitungan utang pada hamba-hambanya dan didapati seorang yang berutang sebanyak sepuluh ribu talenta (23-24). Hamba itu memohon dan sang raja tergerak hatinya oleh belas kasihan, lalu menghapus semua utang hambanya itu (26-27). Namun, hamba itu tidak melakukan hal yang sama kepada orang yang berutang kepadanya; ia malah memasukkan orang itu ke dalam penjara (30). Raja yang tadi membebaskannya dari utang menjadi marah sehingga memberinya hukuman yang sebelumnya sudah dihapus (34).

Dari perumpamaan itu, Tuhan Yesus menegaskan bahwa Allah Bapa juga tidak akan mengampuni jika orang tidak mengampuni saudaranya dengan segenap hatinya (35).

Gambaran utang hamba raja sebesar sepuluh ribu talenta kepada raja itu adalah gambaran dosa manusia di hadapan Allah. Jumlahnya sangat banyak jika dibandingkan dengan seratus dinar, utang orang kepada si hamba raja itu.

Manusia sering tidak bisa mengampuni kesalahan sesamanya yang tidak seberapa. Tetapi, seberapa besar pun dosa manusia, Allah tetap membuka pintu pengampunan-Nya. Allah tidak seperti manusia. Karena, jika demikian, Allah pun tidak akan mengampuni dosa kita.

Harta dan hidup manusia tidak akan bisa untuk membayar besarnya utang dosanya kepada Allah. Namun, Allah dalam belas kasihan dan anugerah-Nya yang besar mau mengampuni dan membayar seluruh utang dosa kita secara sempurna melalui kematian Yesus Kristus. Allah menghendaki, sesudah kita menerima pengampunan-Nya, kita juga mau mengampuni orang yang bersalah kepada kita dengan segenap hati. [RBS]


Baca Gali Alkitab 2

Matius 19:1-15

Mana yang lebih mudah, menjalin sebuah hubungan atau memutuskannya? Menikah di usia muda sering terjadi; orang ingin cepat memiliki pacar kemudian cepat pula menikah, seolah-olah sedang mengikuti perlombaan lari-siapa yang paling cepat dialah pemenangnya. Akibatnya, tidak mengejutkan jika mereka pun cepat juga ingin mengakhirinya dengan perceraian.

Apakah yang paling menonjol dari keduanya? Ego manusia. Menjalin hubungan demi ego: gengsi, malu, takut, terlalu percaya diri, dan banyak lagi lainnya. Memutuskan hubungan juga karena ego; tidak puas dengan pasangan, tidak sesuai dengan yang dibayangkan, tidak cinta lagi, kekerasan, perselingkuhan, dan hal-hal buruk lainnya.

Yesus begitu peduli terhadap kehidupan keluarga umat-Nya, mulai dari hubungan suami-istri hingga hubungan orang tua dan anak.

Apa saja yang Anda baca?
1. Apa yang ditanyakan oleh orang Farisi kepada Yesus? (2, 7)
2. Apa tujuan orang Farisi menanyai Yesus tentang perceraian? (2)
3. Apa jawaban Yesus tentang perceraian? (4-6, 8-9)
4. Bagaimana respons Yesus saat orang membawa anak-anak kecil kepada-Nya? (14)

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Apa yang Allah inginkan dari hubungan pernikahan?
2. Bagaimanakah seharusnya sikap umat Tuhan terhadap pernikahan dan keluarga?

Apa respons Anda?
1. Apa yang Anda lakukan untuk menjaga pernikahan dan keluarga Anda agar tetap harmonis dan utuh?

Pokok Doa:
Mintalah Tuhan memberkati hubungan yang Anda bangun dan memampukan untuk menjaga dan menghormatinya.

 

Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks.
Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org