Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-sh/2017/09/08

Jumat, 8 September 2017 (Minggu ke-13 sesudah Pentakosta)

Sering kali kita mendengar orang berkata begini, "tetangga adalah saudara terdekat". Ya, dalam banyak hal, tetangga kitalah yang menjadi "saudara".Sebab tetanggalah yang pertama-tama akan mengetahui keadaan kita, dan menolong tatkala kita sedang sakit atau membutuhkan sesuatu.

Hal ini tidak berlaku bagi bangsa Israel. Mereka sedang berada di tanah pembuangan dan kini sebagian tanah air mereka (Yehuda) telah diduduki oleh negara tetangga, yaitu Edom (1). Rasanya sudah jatuh, ditimpa tangga pula. Teman dan musuh tidak dapat dibedakan lagi. Sebab orang-orang yang selama ini duduk, bercakap, dan makan sehidangan dengan mereka pun merencanakan niat jahat terhadap mereka (7). Sebab itu, Allah melalui Nabi Obaja menubuatkan penghakiman bahwa Allah akan mengadili bangsa-bangsa, termasuk Edom (lih. Ob.1:15).

Memang di tengah situasi demikian tidak ada hal lain yang bisa diharapkan selain seseorang yang memiliki otoritas dan kewenangan untuk menegakkan keadilan atas mereka. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adil adalah tidak berat sebelah, berpihak kepada yang benar, dan tidak sewenang-wenang. Tidak ada manusia yang memiliki kualifikasi seperti itu selain Allah. Hanya Allah yang mampu menghukum dengan adil, benar, dan tidak memihak. Hal ini telah dibuktikan Allah melalui penghukuman terhadap Israel. Karena itu, bangsa-bangsa lain pun tidak akan luput dari penghakiman-Nya.

Kita sering kali lupa bahwa bersikap adil merupakan cara hidup yang menjunjung tinggi kebenaran. Pada kenyataannya, banyak orang mempraktikkan ketidakadilan demi keuntungan pribadi. Tidak heran apabila ketidakadilan bisa terjadi pada siapa saja dan dalam relasi mana pun. Misalnya, sahabat, rekan kerja, keluarga, tetangga, kerabat, dan lainnya.

Kecenderungan untuk berbuat tidak adil biasanya muncul saat kita memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada orang lain. Di sinilah tantangannya agar kita dapat mengendalikan diri, memilki hikmat, dan berlaku adil pada semua orang tanpa memandang status sosialnya. [LL]

 

Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks.
Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org