Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2017/01/11

Rabu, 11 Januari 2017 (Minggu ke-1 sesudah Epifania)

Matius 5:21-30
Menangkal dan Menanggalkan Dosa

Konsekuensi dari dosa pembunuhan yang disengaja dan direncanakan (21; lih. Kel. 20:13; Ul. 5:17) adalah hukuman mati (bdk. Bil. 35:31). Namun Yesus memperluas penerapan hukum ini kepada tiga kasus (22), yakni ketika: 1) seseorang marah, atau 2) berkata "kafir" (ungkapan penghinaan), dan 3) "jahil" (degil/bodoh) kepada saudara seimannya di depan publik, ia layak dihukum. Sebab mereka bisa dan telah merusak relasi serta identitas saudaranya di hadapan orang lain. Untuk menangkal dosa ini, Yesus mengilustrasikan agar seseorang berdamai (lih. Rm. 12:18) dengan saudara yang ia lawan (23-24). Berdamai dengan saudara jauh lebih penting daripada mempersembahkan kurban. Seseorang juga harus berdamai dengan orang yang melawannya (25-26). Selama ada kesempatan dan belum terlambat, ia harus segera berdamai.

Dosa perzinaan (27; lih. Kel. 20:14; Ul. 5:17) merupakan dosa seksual yang sangat merusak relasi suami-istri. Yesus tidak membatasi dosa perzinaan hanya kepada orang yang menikah saja (28), tetapi mencakup juga dosa-dosa seksual pada umumnya, yang bersumber dari dalam hati. Untuk menangkal dosa seksual ini, Yesus mengilustrasikan tentang mencungkil dan membuang mata (29), juga memenggal dan membuang tangan (30), jika anggota tubuh itu menyesatkan.

Jangan biarkan dosa melalui perkataan dan dosa seksual merusak relasi yang kita miliki. Tangkal dan tanggalkanlah dosa-dosa itu melalui tindakan drastis, yakni memotong dan membuang sumber dosa yang ada dalam hati kita. Kita harus menghadapi dosa secara tepat, serius, dan segera.

Jaga setiap perkataan kita agar dosa tidak berkesempatan merusak relasi kita! Jika ternyata kita jatuh, segera selesaikan dengan serius dan tuntas. Berdamailah dengan orang kita lukai atau yang melukai kita! Jagailah mata kita dari hal-hal yang tidak suci! Sebab hal tersebut bisa menggoda, bahkan menyeret kita untuk melakukan dosa-dosa seksual yang bisa menghancurkan relasi dengan pasangan kita. [RH]

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org