Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-sh/2012/03/16

Jumat, 16 Maret 2012

Markus 12:41-44
Besar-kecilnya persembahan

Judul: Besar-kecilnya persembahan
Di dalam kehidupan berjemaat, tolok ukur keterlibatan seseorang di dalam kehidupan jemaat kadang diukur dari besar persembahan yang ia berikan. Jika ia secara rutin memberikan persembahan dalam jumlah yang cukup besar, ada kemungkinan orang tersebut diajak untuk ikut aktif di dalam aneka program jemaat, bahkan kalau perlu menjadi anggota majelis jemaat. Nilai seperti ini dijungkirbalikkan oleh contoh yang Yesus berikan ini.

Kehidupan janda di Palestina zaman Yesus memang tidak mudah. Jika si wanita tetap menjadi bagian dari keluarga suaminya, ia akan bergeser ke posisi yang lebih tidak terhormat. Tak jarang, para janda menjadi target penindasan sosial kalangan berkuasa seperti para ahli Taurat di masa itu (lihat ayat 40). Konteks ini membuat perbuatan sang janda yang disebut Yesus kian mengejutkan. Yang dilihat bukan besar nominal sumbangan yang diberikan, tetapi pengurbanan yang diakibatkan oleh pemberian itu: jumlah besar rupanya tak berpengaruh bagi orang kaya, tetapi menghasilkan kehormatan sosial yang besar, sementara jumlah kecil pemberian sang janda sangat berarti baginya, walaupun tak mendatangkan kehormatan sosial apa pun.

Nas ini mengajak kita merenungkan beberapa hal. Pertama, warga Kerajaan Allah seharusnya siap berkurban, seperti teladan sang janda. Walau pemberian itu secara angka begitu kecil, tetapi pengurbanan sang janda, dari sudut pandang jumlah penghasilan, terbukti sangat besar. Kita pun dipanggil berbuat demikian. Kedua, teladan sang janda tak hanya dikontraskan dengan tindakan orang kaya, tetapi juga ahli Taurat. Persembahan besar atau penampilan saleh tak berguna jika tak diwarnai pengu`rbanan diri. Ini memperingatkan kita untuk tidak bersikap demikian. Terakhir, teladan sang janda menunjukkan bahwa seremeh apa pun orang di mata masyarakat, apa yang dia lakukan niscaya berharga di mata Allah. Ini merupakan cambuk, khususnya kita yang merasa bukan siapa-siapa di tengah jemaat. Allah tak memandang status sosial kita, melainkan kesungguhan hati dan pengorbanan kita.

Diskusi renungan ini di Facebook:
http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2012/03/16/

 

Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks.
Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org