Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-reformed/22

e-Reformed edisi 22 (19-12-2001)

Berita Natal: Nubuat yang Digenapkan

(Ditulis oleh David Martyn Llyod-Jones)


	
   "Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah
   disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu
   memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di
   tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit
   bersinar di dalam hatimu." (2 Petrus 1:19)


Di sini rasul Petrus sedang memberikan apologetikanya. Ia sedang
menghibur umat yang dalam kesusahan dan banyak kesukaran. Rasul Petrus
mengingatkan mereka tentang ajaran-ajaran inti dan paling penting dari
iman Kristen. Ia sedang menjawab suatu pertanyaan. Pertanyaan ini
ditanyakan oleh orang-orang pada abad pertama dan hingga kini masih
tetap ditanyakan. Pertanyaan itu adalah: "Bagaimana kita dapat
mengetahui bahwa kedatangan Tuhan Yesus Kristus sebagai raja adalah
benar? Apa dasar atau alasan yang kita miliki sehingga membuat kita
bisa yakin, mempercayai dan menerima hal-hal ini?"

Rasul Petrus memberikan serangkaian jawaban terhadap pertanyaan
tersebut dari ayat 2 Ptr. 1:16-18. Pertama adalah bahwa kita tidak
mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, tetapi kita memiliki
bukti dan kesaksian dari para rasul. Rasul Petrus berkata, "Apa yang
telah kami lihat dan dengar... ketika kami bersama-sama dengan-Nya di
atas gunung yang kudus." Ada bukti dan kesaksian rasuli terhadap
kehidupan dan mujizat Kristus, dan khususnya apa yang terjadi di
Gunung di mana Tuhan Yesus dimuliakan. Kedua, unsur penting lain dalam
keyakinan kita, yakni, fakta pewahyuan, penginspirasian Alkitab (2
Ptr. 1:20-21). Petrus secara khusus mengingatkan orang-orang ini
tentang natur umum nubuat dan Alkitab, yakni, Allah berbicara. Alkitab
bukanlah gagasan dari pikiran dan imajinasi manusia, tetapi semuanya
adalah hasil dari intervensi Allah, di mana Allah yang penuh kemurahan
menyatakan dan memanifestasikan Diri-Nya kepada kita.

Tetapi itu belum semua; karena perlu pertimbangan: "kami makin
diteguhkan oleh Firman yang telah disampaikan oleh para nabi." atau
"kita juga memiliki suatu kata nubuat yang membuat kita lebih yakin".
Ini menjadi suatu sumber penghiburan. Jika rasul Petrus hanya berkata
bahwa nubuat itu lebih meyakinkan daripada dongeng-dongeng yang licik,
ia tidak memberikan ketegasan apa-apa. Karena untuk menunjukkan bahwa
sesuatu itu lebih baik daripada yang tidak ada, sesungguhnya sama
sekali tidak perlu dipuji. Hal itu sudah seharusnya demikian.

Selanjutnya, apakah rasul Petrus berkata bahwa kata nubuatan lebih
meyakinkan daripada kesaksian dan bukti rasuli? Meskipun banyak
ekspositor yang setuju, tetapi bagi saya ini bukanlah penjelasan yang
benar dari kata-kata ini, karena ada suatu pengertian bahwa tidak ada
yang lebih besar dan penuh daripada yang mereka telah lihat di gunung,
di mana Tuhan Yesus dimuliakan. Di sana mereka melihat Anak Allah itu
berubah bentuk, sungguh-sungguh mendengar langsung suara dari surga
yang merupakan sesuatu yang tidak bisa dibandingkan bahkan dengan
suara yang sama yang berbicara melalui para nabi, yang diinspirasikan.
Tetapi bagi saya yang membuat semua pendapat itu tidak dapat diterima
adalah kalimat yang Petrus katakan "kami juga memiliki". Dengan
perkataan lain, rasul Petrus tidak hanya-menunjuk kepada orang-orang
lain, tetapi termasuk dirinya sendiri, dan ia berkata "kami", "para
rasul" memiliki satu kata nubuatan yang lebih meyakinkan. Hanya ada
satu dan satu-satunya penjelasan yang memadai dari kata-kata ini.

Rasul Petrus tidak sedang membandingkan perkataan nubuat ini dengan
apa yang telah ia jelaskan. Sebenarnya ia sedang membandingkan
perkataan nubuat yang diberikan pada zaman dulu kepada umat yang hidup
pada waktu itu, dengan perkataan nubuat yang sama pada zamannya di
mana banyak nubuat yang telah terjadi. Hal ini membuat perkataan
nubuat itu makin diyakini. Ini berarti bahwa perkataan nubuat itu
lebih meyakinkan dibandingkan yang lain karena penggenapannya dan
karena fakta-faktanya. Dengan demikian rasul Petrus berkata bahwa ada
fondasi-fondasi di mana kita berdiri dan mendasarkan segala sesuatu.
Para nabi berbicara tentang hal-hal yang pasti akan terjadi. Bagi para
nabi dan segenap umat yang kepadanya para nabi itu berbicara adalah
suatu hal yang sangat menakjubkan dan ajaib. Tetapi ketika kami
memperhatikan dan merenungkan segala hal-hal itu jelas tetap
menakjubkan. Itulah argumentasi yang sering digunakan dalam Perjanjian
Baru (bandingkan Ibrani 11). Tidak ada cara yang lebih menguntungkan
selain cara yang diberikan Petrus di sini yaitu ketika kita
merenungkan kelahiran Anak Allah dan kedatangan-Nya di dalam dunia,
dengan cara kita merenungkannya dalam terang penggenapan dari
nubuatannya. Rasul Petrus berpendapat ini cara yang paling menguatkan
iman. Sesungguhnya ketika kita mempertimbangkan bukti dan kesaksian
rasul, kita tidak lagi ragu-ragu. Tetapi lebih itu di dalam pengertian
Perjanjian Baru segala sesuatu yang berhubungan dengan Natal
dihubungkan langsung dengan penggenapan, yang sempurna tentang
nubutan-nubuatan. Sebab inilah yang akan memberikan kita keyakinan yang tidak
dapat digoyahkan ketika kita berada di dalam hari gelap dan sukar.

Saya akan menyatakan ini dalam bentuk beberapa preposisi. Pertama,
Kristus dan kelahiran-Nya itu menggenapkan nubuat Perjanjian Lama.
"Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh Firman yang telah
disampaikan oleh para nabi." Dengan perkataan lain, kita mempunyai hak
untuk mengatakan bahwa Perjanjian Lama dapat dimengerti 
sungguh-sungguh hanya di dalam Yesus Kristus. Inilah cara yang benar untuk
membaca Perjanjian Lama; dengan sedapat mungkin memahaminya sebagai
suatu kitab janji, sebuah kitab bayang-bayang, sebuah kitab
contoh/type. Tetapi kejadian-kejadian yang dicatat di dalam Perjanjian
Lama merupakan tindakan-tindakan yang tidak diragukan di dalam diri
mereka sendiri dan mempunyai kepentingan serta signifikansi mereka
sendiri.

Seluruh Perjanjian Lama merupakan buku bayangan dan pengharapan yang
mencari, menunggu dan memperhatikan sesuatu. Sekarang kalimat agung
yang diucapkan oleh rasul Petrus, yakni, kedatangan Kristus ke dalam
dunia adalah menggenapkan segala sesuatu dan setiap hal yang telah
dikatakan di Perjanjian Lama. Saudara tentu ingat bagaimana rasul
Paulus meletakkan hal yang sama di dalam bahasa dan caranya sendiri
ketika ia berkata, "Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah.
Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan
Allah." Ada janji-janji di Perjanjian Lama, di dalam Kristus ada
jawaban "ya" , "amin" membenarkan penggenapan segala sesuatu yang
Allah telah katakan melalui para nabi-Nya di dalam Perjanjian Lama
itu. Ini merupakan salah satu kunci utama untuk mengerti Alkitab yang
sekali lagi mendemonstrasikan kesatuan yang menakjubkan dan ajaib dari
Alkitab.

Kristus adalah pusat dari Alkitab; setiap bagian dari Perjanjian Lama
melihat ke depan, kepada-Nya. Segala sesuatu di dalam Perjanjian Baru
melihat ke belakang, kepada-Nya. Kristus adalah pusat dari sejarah.
Kristus adalah titik api dari seluruh pergerakan umat manusia mulai
dari penciptaan hingga akhir zaman. Saudara dapat mengumpulkan semua
janji Allah sekaligus di dalam Kristus, di dalam Pribadi-Nya. Tetapi
perhatikan momen penggenapan itu secara terperinci; karena ini sekali
lagi merupakan sesuatu yang sungguh-sungguh sangat mengherankan dan
ajaib. Kita juga tidak dapat melakukan sesuatu yang lebih baik selain
mendekati hari Natal dengan mengingatkan diri kita sendiri akan natur
penggenapan secara sangat detail. Bahkan jika hanya satu kalimat umum
saja yang berkorespondensi dengan Perjanjian Baru itu akan menjadi
sangat mengagumkan. Tetapi di sini ada penggenapan secara detail yang
hanya dapat dijelaskan dengan dipandang dari fakta bahwa orang yang
menulis nubuatan-nubuatan ini menulis dengan diinspirasikan oleh
Allah.

Ini merupakan bukti lebih lanjut dari pernyataan bahwa nubuat-nubuat
Kitab Suci itu tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri,
karena nubuat-nubuat masa lalu itu bukan datang dari kehendak manusia,
tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.
Sekarang marilah kita secara cepat dan sepintas meninjau penggenapan
detail ini. Detail-detail penggenapan ini adalah nilai yang agung.
Perhatikan! Bayi yang dilahirkan di Betlehem itu termasuk suku apa?
Jawabannya adalah dari suku Yehuda. Dari keturunan siapa di dalam suku
Yehuda itu? Dari keturunan Daud. Kita berbalik ke belakang ke seribu
tahun sebelum Natal pertama, bahkan sebelum itu, janji itu telah
diberikan bahwa Kristus akan dari suku Yehuda dan dari keturunan Daud.
Ketika Bayi itu lahir di Betlehem merupakan verifikasi dari janji itu.

Kapan kedatangan-Nya yang pertama itu terjadi? Ini adalah suatu hal
yang sangat menarik dan penting jika Saudara mendekati kelahiran
Kristus itu hanya melalui sudut pandang filsafat sejarah. Ketika Anak
Allah, Sang Mesias, itu datang secara umum disetujui bahwa itu
merupakan kemungkinan paling kecil untuk Ia datang. Sebab sesungguhnya
waktu itu adalah waktu dimana tongkat kerajaan akan pindah dari suku
Yehuda. Tetapi tepat apa yang telah dinubuatkan ratusan tahun
sebelumnya, ketika tongkat kerajaan tampaknya lepas dari tangan suku
Yehuda pada hari-hari yang akan datang, maka saat itu Raja dan
Pemerintah yang sesungguhnya datang. Jika membaca sejarah kontemporer
Saudara akan menemukan bahwa ini merupakan pandangan orang-orang
Israel ketika Tuhan kita lahir.

Dipandang dari segi nubuat nabi Daniel (Daniel 9) dengan nubuatan
tentang 70 minggu, maka di sana. Saudara akan menemukan kembali secara
terperinci sekali, keadaan sebelum waktu kedatanganNya secara tepat.
Proses yang luar biasa ini, ketepatan ini, dan nubuat yang disampaikan
oleh nabi yang terperinci sekali ini merupakan suatu yang sangat
mengherankan.

Kemudian mengenai ibu-Nya. Saudara akan ingat nubuat yang mengatakan
bahwa seorang perempuan muda akan melahirkan seorang anak. Saya tahu
bahwa nubuat ini segera dan paling langsung berhubungan dengan suatu
peristiwa yang terjadi dalam sejarah pada saat itu. Namun tidak dapat
membatasi hanya dalam hal itu saja. Ada suatu elemen ganda, fakta yang
segera dan suatu penggenapan tersendiri "seorang anak dara akan
melahirkan seorang anak". Juga mengenai tempat kelahiran-Nya. Saudara
ingat bagaimana tempat itu telah diberikan oleh nabi Mikha; bahwa Ia
harus dilahirkan di Betlehem. Saudara akan ingat kunjungan orang majus
kepada Herodes ketika sudah genap waktunya Tuhan kita lahir. Karena
Herodes tidak mengerti apa yang mereka laporkan maka ia berkonsultasi
dengan para imam kepala dan ahli Taurat. Mereka memberikan jawaban
bahwa Kristus harus lahir di Betlehem, tanah Yehuda, karena
demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi.

Sekarang ketika melihat Perjanjian Lama, kita melihat secara konstan
dibentangkan kepada kita hal-hal yang luar biasa ini - bagaimana Allah
memberikan kepada seseorang suatu fakta, kepada orang lain fakta yang
lain. Hanya Mikha yang menyebutkan Betlehem. Allah memberikan kepada
Mikha untuk menubuatkan fakta dan detail khusus yaitu tempat
kelahiran-Nya.

Sekarang marilah kita memikirkan tentang perkataan-perkataan Tuhan
Yesus sendiri. Jika Saudara membaca Yesaya 61, Saudara akan menemukan
di sana bahwa nabi Yesaya menubuatkan bahwa Mesias akan mengucapkan
kata-kata dan melakukan hal-hal tertentu. Pikirkanlah bahwa kejadian
di rumah ibadat di Nazaret ketika Tuhan kita masuk ke rumah ibadat
menurut kebiasaan­Nya. Kepada-Nya diberikan kitab suci untuk dibaca.
Ia membaca dari Yesaya 61, dan setelah membaca, Ia berkata, "Pada hari
ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.

Setiap perkataan-Nya, metode berbicara-Nya, cara mengajar-Nya, semua
tindakannya ini telah dinubuatkan secara detail. Sekarang kita juga
berpikir tentang karya-karya dan mujizat-mujizat-Nya. Kita membaca
dalam Yesaya 35, bagaimana Ia mencelikkan mata orang-orang buta dan
membuka telinga-telinga orang tuli, dan orang lumpuh akan melompat
seperti rusa, dan orang bisu akan bersorak-sorai. Kemudian kita sampai
ke Perjanjian Baru dan kita membaca laporan tentang hal-hal yang
dikerjakan-Nya. Ingatlah! Yohanes Pembaptis di masa kesukarannya di
penjara mengirim dua orang muridnya kepada Yesus untuk bertanya,
"Engkaukah yang akan datang itu?". Tuhan Yesus berkata kedua orang
ini, "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan
kamu lihat; orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tuli
mendengar," dst. Di sini Yohanes diingatkan kembali kepada Yesaya 35.
Tidak hanya itu, Saudara ingat Yesaya 53 tentang nubuat Hamba Tuhan
yang memikul sakit-penyakit kita, dan ingat bagaimana Matius di dalam
melukiskan mujizat penyembuhan yang dilakukan Tuhan kita dengan
mengacu kepada nubuat itu, bahwa Ia akan memikul sakit-penyakit kita.

Ia memasuki Yerusalem dengan cara bagaimana juga telah dinubuatkan
oleh nabi Zakharia, yaitu, mengendarai seekor keledai, seekor keledai
beban yang muda. Ini terjadi ketika ia memasuki Yerusalem dengan
kemenangan. Ia akan dijual dengan harga 30 keping perak pun telah
dinubuatkan. Penderitaan-Nya dideskripsikan secara detail, tidak hanya
di dalam Yesaya 53 tetapi juga khususnya pada Mazmur 22 - bagaimana
fakta bahwa tangan dan kaki-Nya ditusuk telah dinubuatkan - bagaimana
setiap hal telah dinubuatkan secara detail. Semua nubuat ini telah
dinubuatkan ratusan tahun sebelum semua nubuat itu terjadi. Fakta
bahwa Ia akan dikubur di tempat khusus, kuburan milik orang kaya telah
dinubuatkan. Memang ketika wafat, Ia dikuburkan dalam kubur dari Yusuf
Arimatea. Baik kebangkitan maupun hari Pentakosta telah dinubuatkan
juga. Saudara ingat bagaimana setelah kenaikan-Nya Ia mengirim Roh
Kudus sesuai dengan janji-Nya, dan ketika orang-orang bingung dan
mulai bertanya, apakah artinya ini? Rasul Petrus menjawab, "Itulah
yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel." Segala contoh
ini, dan masih banyak contoh lain, menunjukkan bagaimana, secara
detail, Tuhan Yesus melalui kedatangan-Nya, dan melalui segala yang
dikerjakan dan dikatakan, telah membuat segala nubuat itu lebih
meyakinkan. Semua penggenapan ini menakjubkan di dalam detailnya,
tetapi juga memperlihatkan kemuliaan secara utuh. Saat kedatangan
Kristus, kelahiran-Nya, Hidup-Nya dan segala tindakan-Nya di bumi
menunjukkan Allah memelihara Firman yang telah disampaikan-Nya kepada
orang-orang dalam masa Perjanjian Lama. Orang yang membaca Alkitab
matanya akan terbuka melihat kemuliaan Kitab Suci yang unik

Beberapa dari umat itu berteriak di masa kesesakan, "Berapa lama lagi
Tuhan Engkau lupa untuk bermurah hati?" Kami membaca janji-janji yang
diberikan, tetapi melihat situasi demikian berlawanan. Apakah Allah
lupa, apakah Ia lupa bermurah hati dan lupa akan janji-janji-Nya
itu? Ketika bayi itu lahir di kandang di Betlehem, keputusan agung
yang dibuat ini membuktikan bahwa Allah telah memelihara firman-Nya.
Allah telah membuktikan bahwa janji-Nya adalah benar. Segala sesuatu
yang Allah pernah janjikan digenapi di sini. Ini adalah deklarasi yang
agung tentang ketidakberubahan Allah dalam rencana-Nya. Firman Allah
itu pasti, mutlak dan kekal.

Saya akan coba menunjukkan kemuliaan semuanya ini dengan cara ini.
Kita melihat bahwa Allah telah menggenapi semua janji-janji yang
pernah Ia berikan kepada manusia yang berkenaan dengan keselamatan
manusia. Alkitab adalah sejarah manusia di dalam hubungannya dengan
Allah, sehingga kita dapat mendeskripsikan Alkitab sebagai sejarah
keselamatan. Ini adalah sejarah dari seluruh umat manusia dari awal
hingga akhir. Allah menciptakan manusia itu dengan sempurna, sehingga
manusia memiliki persekutuan yang sempurna dengan Allah. Tetapi dosa
masuk sehingga persekutuan itu hancur. Manusia membuat dirinya sendiri
ada di bawah murka Allah dan menderita. Apa yang akan terjadi pada
manusia?

Di sini Alkitab datang dengan beritanya yang agung. Segera sesudah
kejatuhan itu Allah mulai membuat janji-janji dan semua janji itu
berkenaan dengan manusia dan keselamatannya. Sekarang mulai dari
kelahiran Kristus segala janji-janji itu terlaksana dan tergenapi.
Jadi sejak semula ketika manusia itu jatuh, Allah menerangi kegelapan
itu dengan memberikan suatu janji yang sangat berharga.

Manusia jatuh karena ditipu oleh ular, tetapi suatu saat Allah di
dalam anugerah-Nya yang tidak terbatas itu memberikan suatu janji,
bahwa "keturunan perempuan ini akan meremukkan kepala dari ular." Hal
ini dikatakan sekitar 4000 tahun sebelum kelahiran Kristus. Janji ini
merupakan janji Allah yang pertama, janji yang orisinil. Ketika Bayi
itu lahir di Betlehem janji itu dilaksanakan - benih perempuan itu
telah datang dan Ia telah bertindak menghancurkan kepala dari ular
itu.

Salah satu janji agung yang lain adalah ketika kita ingat di dalam
Ulangan 18:15, bagaimana Musa berkata, "Tuhan Allah akan membangkitkan
bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku."
Orang- orang pada masa Perjanjian Lama menyebutnya sebagai "kedatangan
Nabi". Inilah yang dimaksud Yohanes Pembaptis ketika ia bertanya,
"Engkaukah yang akan datang itu?" Mereka sedang menunggu Nabi itu,
Pemimpin itu. Mereka menunggu seseorang yang lebih besar daripada Musa
yang akan melepaskan mereka dari Mesir, yang akan memimpin mereka
lepas dari perbudakan dosa dan perhambaan kesalahan. Di dalam Bayi
Betlehem itulah kita mendapatkan Seorang yang dirindukan dan
diharapkan yang juga adalah Nabi, Guru dan Pemimpin umat.

Dengan cara yang sama diberikan janji bahwa korban persembahan suatu
hari akan cukup untuk menutup segala dosa. Di dalam periode Perjanjian
Lama banyak tertulis tentang persembahan-persembahan dan korban-
korban, mengenai darah lembu jantan dan domba jantan, mengenai korban
anak domba dsb. Namun itu semuanya bersifat sementara. Seperti yang
dikatakan penulis surat Ibrani, "Sebab tidak mungkin darah lembu
jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa." Diperlukan korban
yang agung, yang sungguh-sungguh berhasil dan yang memuaskan hati
Allah. Hal ini terus berlangsung dalam Perjanjian Lama. "Orang ini"
telah mempersembahkan Diri-Nya sendiri satu kali untuk selamanya dan
yang sempurna. Perjanjian Lama juga menubuatkan bahwa seorang Imam
Besar yang agung akan datang untuk mewakili kita dan memuliakan kita
di hadapan Allah. Saudara ingat bahwa Harun diizinkan masuk ke ruangan
"mahakudus" satu kali setahun, dan ia masuk dalam keadaan takut dan
gentar. Tetapi Dia adalah merupakan Imam Besar yang sempurna, yang
mengerti kelemahan kita, namun tidak berdosa.

Dia telah masuk ke dalam ruang yang mahakudus dengan suatu persembahan
dan korban, yakni darah-Nya sendiri. Ia mewakili kita selama-lamanya
dan terus menerus melayani, sehingga Ia dapat menyelamatkan semua
orang yang datang kepada Allah melalui Dia. Ada suatu janji tentang
Perjanjian baru. Allah membuat suatu perjanjian dengan manusia melalui
Musa. Ini adalah suatu perjanjian hukum yang tidak dapat diperlihara
oleh siapapun. Tetapi Allah juga berkata melalui nabi Yeremia, "Aku
akan membuat perjanjian yang baru dengan kamu", bukan seperti
perjanjian yang lama, yang menggunakan hukum-hukum yang di luar,
tetapi Aku akan menulis hukum itu dalam hati dan batinmu, yakni suatu
perjanjian yang baru. Nabi mana yang dapat menjadi pengantara
perjanjian yang demikian? Tidak ada satu manusiapun yang layak; bahkan
malaikatpun tidak memadai. Tetapi di sini, Bayi Betlehem itu adalah
pengantara dari Perjanjian yang baru, seseorang yang akan memberikan
Roh Kudus dan yang akan meletakkan hukum Allah itu ke dalam batin dan
hati serta memberikan hidup kepada kita. Ia akan mengangkat hati yang
membatu dan memberikan kita hati yang baru yang dengan hati itu kita
dapat mengasihi Dia.

Tetapi di atas semua itu, ada suatu janji tentang datangnya suatu
kerajaan. Melalui Perjanjian Lama gagasan tentang seorang raja yang
akan datang dan memerintah, yang akan menaklukkan semua musuh dari
umat serta menegakkan suatu kerajaan kebenaran dan damai sejahtera. Di
mana Oknum yang demikian dapat ditemukan? Ia hanya dapat ditemukan di
satu tempat. Ia adalah Bayi yang ada di palungan di Betlehem, yang
adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan. Karena itu orang Majus
datang dan bersembah sujud serta memberikan persembahan mereka. Ia
telah menaklukkan semua musuh, Setan, kematian dan neraka. Segala hal
yang jahat telah dikalahkan - Ia adalah Raja universal, Yang
Mahakuasa, dan Ia akan memerintah dari kutub ke kutub dan kerajaan-Nya
tidak akan berakhir. Anak Allah, Raja yang kekal. Dengan demikian
Saudara lihat bahwa Allah telah menggenapi, telah menyelesaikan segala
janji-Nya. Akhir kata, apa yang saya simpulkan dari kata nubuat yang
makin meneguhkan kita ini? Ada beberapa kesimpulan yang jelas dan
tidak dapat ditolak. Keselamatan jelas hanya ada di dalam Kristus dan
hanya di dalam Kristus. Kristus telah menggenapi semua janji itu. Di
dalam Dialah Allah menyelamatkan umat manusia. Allah berjanji untuk
menyelamatkan manusia. Kristus adalah penggenap segala janji.

Tidak ada juruselamat yang lain, dan tidak ada jalan yang lain seperti
yang dikatakan rasul Petrus (Kis 4:12). Bayi Betlehem itu menggenapkan
segala janji. Ia satu-satunya Juruselamat, satu-satunya jalan kepada
Allah, satu-satu pengharapan akan pelepasan. Ia adalah Nabi, Ia adalah
Imam, dan Ia adalah Raja. Kedua kita menyimpulkan bahwa seperti halnya
kedatangan-Nya dan segala yang telah dilakukan dan dikatakan-Nya
merupakan penggenapan dari semua yang telah dijanjikan oleh Allah,
sehingga fakta itu sendiri telah memberikan suatu jaminan yang pasti
bahwa segala sesuatu yang lain yang telah dijanjikan akan digenapi-Nya
juga. Segala sesuatu yang telah dinubuatkan, diberitahukan lebih dulu,
dijanjikan berkenaan dengan kedatangan-Nya yang pertama telah
dilaksanakan secara tepat. Tetapi yang akan datang ada sesuatu yang
lebih. Petrus sedang berbicara mengenai kedatangan-Nya yang kedua; dan
meskipun kedatangan-Nya yang kedua aneh bagi kita saat ini sama
seperti kedatangan-Nya yang pertama bagi orang-orang Perjanjian Lama,
mari kita mengerjakan logika yang tidak dapat ditolak ini. Meskipun
mereka tidak mengharapkan Dia, Ia tetap datang; meskipun banyak
menertawakan gagasan itu, tidak menyiapkan Kedatangan-Nya; dan
meskipun hal-hal ini tampak sebagai hal yang tidak mungkin bagi kita,
apa yang telah terjadi merupakan bukti bahwa semua janji itu akan tiba
juga.

Terakhir, mengenai penghiburan, kemuliaan dan sukacita. Karena
inkarnasi Kristus dan segala sesuatu yang mengikuti meneguhkan nubuat.
Ini memberitahukan saya bahwa Allah memelihara Firman-Nya dan
melaksanakan rencana, janji dan maksud-Nya sendiri secara penuh di
atas bumi. Maka saya mengambil kesimpulan bahwa, Firman Allah
merupakan sesuatu yang terus dapat saya percaya. Firman Allah
merupakan "janji-janji yang berharga dan yang sangat besar". 
Janji-janji yang diberikan kepada kita tatkala sakit, kehilangan, menjadi
janda, yatim-piatu, menghadapi masalah, berduka-cita atau setiap
kondisi yang mungkin terjadi dalam hidup anda dan saya itu dapat
diselesaikan dengan janji-janji tersebut. Saudara, percayalah kepada
janji­janji-Nya, simpanlah janji-janji itu dalam hatimu, buktikan
bahwa Allah selalu setia kepada janji-janji-Nya. Ia tidak pernah gagal
untuk memelihara Firman-Nya; setiap janji yang Ia berikan kepadamu
adalah suatu janji yang bisa dipercaya dan turuti. Karena itu ketika
saya membaca Firman-Nya lagi dan saya melihat janji-janji yang
demikian seperti "Aku sekali-kali tidak pernah meninggallkanmu", "Aku
akan menyertai kamu senantiasa", saya akan mempercayai janji-janji
itu, Saya akan menerimanya. Saya menyatakan bahwa kedatangan Kristus
membenarkan segala janji-Nya dan membuktikan bahwa segala janji-Nya
itu benar. Ia. telah memberikan Firman-Nya, dan Firman-Nya dapat
disandari; karena itu saya menerima-Nya berdasarkan pada Firman-Nya.
Puji Tuhan! "Bersyukurlah kepada Tuhan atas karunia-karunia yang tak
terkatakan itu" Bersyukurlah kepada Allah karena Kristus, di mana di
dalam Dia segala janji Allah adalah ya dan amin tanpa suatu keraguan
dan ketidaktentuan.

Catatan:

   David Martyn Llyod-Jones (1899-1981) adalah pengkotbah eksposisi
   sistematis di Westminster Chapel, London. Kotbah Eksposisinya
   tentang Efesus (8 vol.), Roma 3-8 (6 vol) telah diterbitkan. Artikel
   ini disadur dari bukunya 2 Peter yang diterbitkan oleh "The Banner
   of Truth Trust".


Sumber:
Majalah Momentum, yang diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili
Indonesia, edisi Natal.
Artikel ini terdapat juga di Situs:
http://www.geocities.com/reformed_movement/artikel/natal02.html

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org