Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-reformed/20

e-Reformed edisi 20 (3-10-2001)

John Calvin Mencari Istri Yang Tepat,
Idelette

Kita melihat kehidupan John Calvin sebagai suatu kehidupan yang
serius, akan tetapi pada saat kita melihat dia mencari seorang calon
istri, ini merupakan suatu hal yang menarik yang cukup menggegerkan
khususnya pada abad 20 ini. Sangatlah sulit ditentukan secara pasti
kapan masa pencarian itu dimulai. Setelah Calvin menginjak usia 29
tahun dan menjalani masa kependetaanya di gereja berbahasa Perancis di
pengungsian Strasbourg, dia tidak mempunyai banyak waktu untuk
memikirkan masalah perkawinan. Di samping itu, dia pernah menulis
bahwa, "Saya tidak akan pernah bercampur dengan orang-orang yang
dituduh menyerang Roma, seperti orang-orang Yunani yang bertempur
melawan Troy, yang hanya bisa mengambil istri orang lain." Jadi dia
sama sekali tidak terburu-buru.


Akan tetapi Strasbourg lebih dari sekedar tempat pengungsian bagi
Calvin. Tidak berapa lama setelah dia berada di kota itu, dia tinggal
bersama dengan Martin dan Elizabeth Bucer. Martin adalah seorang
pendeta yang ramah dari gereja St. Thomas di kota tersebut. Dan
Elizabeth adalah seorang tuan rumah yang ramah juga seperti Martin.
Rumah mereka terkenal sebagai "pondok kebenaran". John Calvin tidak
pernah melihat suatu pernikahan yang begitu bahagia. Bucer sangat
bahagia sehingga dia menganjurkan tentang pernikahan kepada semua
rekan sepelayanannya "Calvin, kamu harus mencari seorang istri."
Martin mengatakan ini kepada Calvin lebih dari satu kali.

Philip Melanchthon pernah sekali memperhatikan bahwa John Calvin
kelihatan seperti seorang yang pendiam dan pelupa, walaupun itu bukan
merupakan karakternya, setelah menghadiri suatu konprensi yang
melelahkan sepanjang hari. "Baiklah! Baiklah!", kata Melanchthon,
"...sepertinya theolog kita ini sedang memikirkan seorang calon
istri." Pada saat itu, Melanchthon telah menikah selama 19 tahun dan
pernikahannya merupakan suatu pernikahan yang bahagia. Ny.
Melanchthon, adalah seorang yang humoris, yang merawat Philip dengan
sangat baik. Satu-satunya keluhan yang pernah disampaikan Philip
kepada John Calvin, adalah, "Dia (Ny. Melanchthon) senantiasa
mempunyai pikiran bahwa saya akan mati kelaparan jika saya tidak
selalu diberi makan yang banyak."

Demikian juga Calvin, menyadari bahwa dia memerlukan seseorang untuk
memperhatikannya. Ketika dia pindah keluar dari "pondok kebenaran"
Bucer, dia menyewa satu rumah untuk dirinya sendiri, saudara-
saudaranya, adik tirinya dan beberapa murid yang tinggal bersama
dengan dia. Dia merasa bahwa beban untuk mengurus suatu rumah tangga
sangatlah sulit, dan pada saat yang bersamaan dia juga harus melayani
sebagai seorang pendeta di gereja yang sedang berkembang. Ini
merupakan alasan lain yang menunjang Calvin untuk mencari seorang
pendamping. Oleh sebab itu, dia memberitahukan pada koleganya bahwa
dia sekarang siap untuk dicarikan seorang istri dan dia terbuka untuk
semua saran-saran.

Tentu saja, seperti biasa, dia tahu apa yang dikehendakinya.
Kwalifikasi dari "pekerjaan" tersebut adalah : "Harus diingat bahwa
apa yang saya harapkan dari istri saya - dia harus merupakan seseorang
yang halus di dalam budi bahasanya, tidak terlalu rewel, hemat, sabar
dan apabila memungkinkan dia harus bisa memperhatikan kesehatan saya
juga. Saya tidak seperti anak-anak muda umumnya yang hanya jatuh cinta
dan tertarik dengan keadaan fisik dari seseorang."

Pada saat itu, Calvin sedang menghadapi masalah sehingga dia berharap
bebannya akan sedikit ringan apabila dia mempunyai seorang istri;
walaupun sebenarnya tidak menyelesaikan masalahnya. "Saya tidak pandai
menyimpan uang. Sangatlah mengherankan bagaimana uang saya semuanya
habis untuk semua keperluan di luar keperluan biasa". Seperti apa yang
dituliskan oleh T.H.L Parker, "...kesehatan Calvin sangatlah menurun,
dia juga bukan merupakan seorang yang bisa mengatur diri sendiri, dia
seorang yang tidak sabaran dan kemungkinan akan berubah menjadi lebih
baik apabila dia menikah."

Pada kenyataannya, Calvin sangat yakin bahwa langkah berikut di dalam
kehidupannya untuk tahun 1539 adalah menikah, sehingga dia menetapkan
satu tanggal, beberapa hari setelah Paskah adalah merupakan hari
pernikahannya. William Farel, teman dekatnya, yang akan melangsungkan
upacara pernikahan tersebut. Tapi kita tidak tahu adalah apakah dia
sudah memilih seorang calon istri?

Beberapa bulan kemudian, calon pertama dipertemukan dengan Calvin. Dia
adalah seorang wanita Jerman yang kaya, yang mempunyai seorang kakak
yang menjadi manajer kampanye wanita itu. Mereka merupakan pendukung
Calvin yang setia, dan kakaknya berpendapat bahwa pernikahan di antara
mereka berdua akan merupakan suatu pernikahan yang saling
menguntungkan. Calvin sering mengatakan bahwa dia ingin sekali hidup
sebagai seorang ilmuwan. Dan hasil dari royalti penjualan buku-bukunya
tidak memberikan hasil yang cukup memuaskan; ini akan merupakan suatu
hal yang membantu kehidupannya apabila dia menikah dengan seorang
wanita yang kaya.

Akan tetapi, Calvin mempunyai dua permasalahan dengan calon pertama
ini; alasan yang pertama - dia tidak mengerti sama sekali mengenai
bahasa Perancis dan tidak menunjukkan itikad untuk mempelajarinya;
alasan yang kedua - seperti yang dia jelaskan kepada Farel bahwa, "Dia
pasti akan membawa emas kawin yang banyak dan hal tersebut akan sangat
memalukan bagi diri saya, sebagai seorang hamba Tuhan yang miskin. Dan
saya juga berpendapat bahwa dia juga tidak akan merasa puas hanya
dengan menjadi seorang istri hamba Tuhan yang sederhana."

Farel mempunyai seorang calon yang cukup memenuhi syarat untuk
dikenalkan dengan Calvin. Dia cukup mahir dalam bahasa Perancis, dan
merupakan seorang Protestan yang saleh; akan tetapi berbeda usia
mereka cukup jauh, di mana Calvin 15 tahun lebih muda dari wanita
tersebut. Calvin tidak pernah menginginkan yang ini.

Calon berikutnya merupakan seorang wanita yang mahir di dalam bahasa
Perancis dan dia juga tidak mempunyai harta yang berlimpah; teman-
teman Calvin sangat menyetujui. Calvin kelihatannya sangat tertarik,
dan merupakan suatu alasan yang cukup kuat untuk mengundang dia ke
Strasbourg untuk berkenalan. Calvin sekali lagi mengingatkan Farel,
"Apabila semuanya berjalan dengan lancar, dan ini yang sungguh-sungguh
kita harapkan semua, maka upacara pernikahannya tidak akan ditunda dan
melewati tanggal 10 Maret." Pada saat itu, Calvin telah berusia 31
tahun, tepatnya pada tahun 1540. "Saya harapkan kamu bisa hadir dan
memberkati pernikahan ini," tetapi Calvin menambahkan, "saya akan
kelihatan seperti orang bodoh apabila semua yang kita harapkan kali
ini tidak akan berjalan sesuai dengan rencana." Dan ternyata rencana
pernikahan tersebut tidak pernah terlaksana sesuai dengan yang telah
ditetapkan.

John sangat malu dengan semua masalah yang ditimbulkannya dan semua
surat-surat yang dikirimnya kepada William Farel; dia menulis di salah
satu suratnya kepada Farel, "Saya masih belum menemukan seorang istri
pun dan saya merasa sungkan untuk melanjutkan "pencarian" tersebut."
Akan tetapi, pada saat dia berhenti untuk mencari, dia menemukan
pasangannya. Di antara para jemaatnya ada seorang janda muda, Idelette
de Bure Stordeur. Dia, suaminya dan kedua anaknya, datang ke
Strasbourg sebagai penganut Anabaptis. Setelah mendengarkan khotbah-
khorbah dari John Calvin mengenai eksposisi-eksposisi Alkitab,
pandangan mereka berubah menjadi pandangan Reformed.

Jean Stordeur, suami Idelette, merupakan seorang pemimpin Anabaptis
dan tidak diragukan bahwa John Calvin sering mendiskusikan masalah-
masalah theologi dengan keluarga Stordeur di tempat kediaman mereka.
Pada tahun 1537, ketika Calvin masih berada di Geneva, Stordeur telah
datang ke kota itu untuk berdebat dengan para Reformator di kota itu.
Stordeur kalah di dalam perdebatan tersebut dan diperintahkan untuk
keluar dari kota itu dan kembali ke Strasbourg. Tidak kita ragukan
bahwa diskusi itu dilanjutkan ketika dua tahun kemudian Calvin tiba ke
Strasbourg. Pada akhirnya, Calvin berhasil menyakinkan mereka dengan
ayat-ayat dari Alkitab mengenai perbedaan-perbedaan yang ada tetapi
tidak semuanya. Di dalam beberapa hal, Calvin memasukkan beberapa hal
mengenai pemikirannya sendiri. Tetapi setelah itu suami istri Stordeur
mengikuti kebaktian di gereja Calvin, dan turut serta di dalam
Perjamuan Kudus, anak mereka kemudian di baptis oleh Calvin - setelah
melalui diskusi yang cukup lama; pada akhirnya seluruh keluarga
Stordeur menjadi anggota jemaat di gereja tersebut yang mana anggota
jemaatnya telah mencapai 500 orang pelarian dari Perancis dan negara-
negara yang letaknya di bawah Perancis.

Kemudian pada tahun 1540 di musim semi, Jean Stordeur diserang oleh
penyakit pes dan tiba-tiba meninggal. Idelleta menangisi kematian
suaminya, John Calvin merasa sedih karena kehilangan seorang teman.
Pada saat John Calvin sudah menyerah mengenai rencana pernikahan oleh
karena kegagalan-kegagalan sebelumnya pada saat itulah teman-
temannya, pendeta Martin Bucer menganjurkan kepada Calvin, "Mengapa
tidak mempertimbangkan Ideletta sebagai calon istrimu?". Dan John
Calvin benar-benar mempertimbangkan saran tersebut.

Idelette adalah seorang wanita yang menarik, cerdas, seorang yang
berbudi bahasa, dan dia berasal dari kalangan kelas menengah atas. Dia
juga seorang wanita yang berkarakter dan sangat bersemangat. Tidak
memerlukan waktu terlalu lama bagi sang Reformator untuk menulis surat
kepada William Farel, meminta kesediaan dia untuk datang dan
melangsungkan upacara pernikahan tersebut. Kali ini bukanlah alarm
yang salah lagi; dan pada bulan Agustus, John dan Idelette resmi
dinikahkan.

Untuk Idellette, dia lebih memperhatikan kesejahteraan anak-anaknya
bahwa mereka memiliki seorang ayah yang baik, sedangkan untuk John,
dia merasa lega oleh karena telah menemukan seorang istri yang baik.
Penyesuaian besar pertama bagi Idellete adalah pindah ke asrama Calvin
dan tinggal bersama dengan para murid-muridnya, dan belajar untuk
menyesuaikan diri dengan pengurus rumah tangga yang mempunyai lidah
yang "tajam".

Idellete juga harus dihadapkan dengan masalah kesehatan. Mereka
berdua, jatuh sakit tidak lama setelah hari pernikahan mereka dan
diharuskan untuk tinggal di tempat tidur. Calvin mengirimkan kartu
ucapan terima kasih kepada William Farel dan mencantumkan,
"...sepertinya semua ini telah diatur, sehingga pernikahan kami tidak
berkesan terlalu "menggembirakan", Tuhan telah memberikan suatu
kebahagiaan yang sepantasnya kami dapatkan."

Di dalam tulisan-tulisannya, John Calvin tidak pernah banyak
menyinggung masalah-masalah pribadinya, dan demikian juga mengenai
istrinya. Sama sekali berbeda dengan Martin Luther - akan tetapi
melalui surat-suratnya kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa
Idellete adalah adalah seorang istri yang benar-benar memperhatikan
suaminya, demikian juga kepada anak-anaknya. Penulis biografi Calvin
menyimpulkan bahwa Idelette adalah seorang wanita yang kuat dan
berpribadi; dan John Calvin sendiri menggambarkan dia sebagai seorang
penolong yang setia darinya, serta merupakan seorang teman hidup yang
paling menyenangkan. John Calvin pastilah tidak kecewa dengan
pernikahannya tersebut.

Walaupun dia sangat menikmati kebersamaan Idelette di sampingnya, akan
tetapi pada tahun pertama pernikahan mereka - dia tidak begitu
mempunyai banyak waktu. Setelah mereka sembuh, John Calvin harus
berkeliling, meninggalkan Idellete untuk mengurusi permasalahan-
permasalahan yang timbul di asrama, demikian juga kedua anak-anaknya
sendiri. Sebenarnya John Calvin tidak ingin pergi, tetapi Raja
Charles, penguasa Holy Roman Empire telah memanggil para pemimpin-
pemimpin Roma Katholik dan para Sarjana Protestan untuk berkumpul dan
mendiskusikan bagaimana mereka bisa menghentikan perdebatan di antara
mereka dan membentuk satu kesatuan untuk melawan kerajaan Turki yang
hendak menguasai pemerintahannya.

Setelah tiga bulan kemudian, John Calvin kembali ke rumah untuk
sebulan lamanya, sebelum dia harus kembali melanjutkan tugas
pelayanannya untuk menghadiri suatu konferensi yang dihimpun oleh Raja
Charles. "Saya dipaksa untuk pergi", dia menuliskannya, tetapi dia
berangkat juga.

Ketika dia menghandiri konprensi tersebut, dia menerima kabar bahwa
Strasbourg diserang oleh wabah penyakit pes. Dia sangat mencemaskan
istrinya. "Siang dan malam, saya selalu memikirkan istri saya." Dia
menyadari bahwa penyakit pes ini telah mengambil nyawa suami Idelette
setahun yang lalu, ada kemungkinan Idellete akan terserang oleh
penyakit tersebut oleh karena dia belum pulih benar setelah sembuh
dari sakitnya. Dia menulis surat kepada istrinya dan meminta dia untuk
meninggalkan Strasbourg, sampai wabah penyakit tersebut berlalu.

Akan tetapi, Idelette telah bertindak duluan. Dia telah membawa anak-
anaknya untuk mengungsi ke rumah kakaknya, Lambert. Lambert dulunya
adalah seorang tuan tanah yang kaya di Liege, sebelum dia dipaksa
untuk pergi dan meninggalkan semua yang dimilikinya. Tetapi hanya
dalam beberapa tahun saja semenjak kedatangannya di Strasbourg, dia
kembali memulihkan reputasinya menjadi seorang penduduk yang
terhormat.

Pada penghujung tahun tersebut, John Calvin dipanggil kembali untuk
menghadiri suatu konprensi. Dia dan Idelette terpisah selama 32 minggu
dari 45 minggu pertama semenjak hari pernikahan mereka. Walaupun
demikian, John Calvin masih dihadapkan pada suatu tantangan yang lebih
besar daripada hanya sekedar perpisahan mereka yang cukup lama. John
Cavin dihadapkan pada suatu dilema dimana dia disuruh untuk kembali ke
Geneva. Dia tidak mau pergi, "Saya lebih baik menghadapi "100 kali
kematian" daripada diberi kebebasan untuk memilih, saya lebih baik
melakukan apa saja yang lain di dunia ini."

Tetapi pada bulan September, tahun 1541. John Calvin menuju Geneva
untuk melihat kemungkinan apakah dia harus merubah pikirannya. "Saya
menyerahkan hati saya kepada Tuhan sebagai persembahan", dia
menuliskan. Idelette tinggal di Strasbourg untuk sementara, sampai
Calvin merasa yakin kalau Geneva akan aman untuk Idelette dan anak-
anaknya. Geneva memberikan John Calvin banyak hadiah. "Ada jubah baru
dari kain beludru hitam, yang dihiasi dengan bulu domba. Dan
disediakan rumah di Rue de Chanoines, yang terletak di suatu jalan
kecil dekat katederal. Di belakang rumah tersebut didapati taman yang
menghadap ke danau yang biru." Para dewan anggota mengirimkan kereta
kuda mewah untuk menjemput Ideletta, anak-anaknya dan membawa semua
perabotan dari Strasbourg ke Geneva. Ini merupakan suatu perpindahan
yang traumatis baik bagi Idelette maupun John Calvin sendiri.
Strasbourg telah menjadi rumah bagi Ideletta dan juga anak-anaknya.
Apalagi kakaknya, Lambert, beserta keluarganya juga tinggal di
Strasbourg. Semua yang diketahui oleh dia mengenai Geneva adalah
berdasarkan cerita pengalaman John Calvin selama dia berada di Geneva,
dan semuanya itu menggambarkan suatu ketidakpastian dan kebimbangan,
jika bukan pencobaan dan penderitaan.

Pada akhirnya, Idelette pergi juga menuju Geneva. Dan setelah dia
mulai menetap di rumah baru mereka di Rue de Chanoines No. 11, dia
merasa bahagia. Keadaan di Geneva sama sekali berbeda dengan keadaan
di asrama Strasbourg yang penuh sesak.

Para dewan kota meminjamkan Calvin perabotan-perabotan, oleh karena
mereka tidak memiliki banyak perabotan. Di belakang rumah mereka ada
kebun yang ditanami sayur, pohon-pohon untuk obat dan bumbu masak dan
juga ditanami berbagai bunga yang mengharumkan udara, semua ini
dirawat oleh Idelette. Ketika para tamu berkunjung, dengan bangga John
Calvin menunjukkan kepada mereka kebun yang dirawat oleh Idelette.

Pada musim panas mereka yang pertama di Geneva, Idelette melahirkan
seorang bayi laki-laki prematur. Si kecil Jacques meninggal dunia pada
usia 2 minggu. Ini merupakan suatu pukulan yang berat untuk mereka
berdua. "Tuhan memberikan suatu pelajaran kepada kami melalui kematian
putera kami." John menuliskan kesedihannya kepada sesama koleganya.
"Tetapi Dia sendiri sebagai seorang Bapa, mengetahui apa yang terbaik
untuk anak-anak-Nya."

Tiga tahun kemudian, putri mereka juga meninggal pada saat dilahirkan,
dan dua tahun kemudian, ketika John dan Idelette menginjak usia 39
tahun, lahirlah anak ketiga yang prematur, yang juga meninggal
kemudiannya. Setelah semua kejadian yang menimpa mereka, kondisi
kesehatan Idelette mulai menurun; yang disertai dengan batuk-batuk
yang memberatkannya.

Walaupun kehidupan di Geneva bagi John Calvin lebih baik, akan tetapi
ini juga bukan merupakan suatu kehidupan yang mudah. Dia mempunyai
banyak musuh di kota tersebut sama seperti ia mempunyai banyak
sahabat. Beberapa penduduk kota tersebut memanggil anjing-anjing
mereka "Calvin". Tetapi yang membuat Calvin lebih marah, apabila
mereka juga mengikutsertakan Idelette di dalam gunjingan mereka.

Pernikahan Idelette yang pertama dengan John Stordeur bukanlah
merupakan suatu pernikahan yang bersifat suatu upacara pemberkatan
resmi, oleh karena ajaran Anabaptis mempercayai bahwa pernikahan itu
merupakan suatu hal yang sakral, bukan merupakan suatu tindakan hukum.
Beberapa tahun kemudian, gunjingan-gunjingan tersebut makin meluas ke
seluruh kota dan mereka berpendapat bahwa Idellete adalah seorang
wanita yang mempunyai reputasi yang jelek, dan bahwa kedua anaknya
tersebut itu lahir di luar nikah. John Calvin dan Idelette pada saat
ini tidak bisa mempunyai anak, mereka mengatakan bahwa Tuhan sedang
menghukum mereka oleh karena perbuatan-perbuatan amoral Idelette di
waktu lampau.

Walaupun kesehatan Idelette  semakin menurun, Idelette tetap berusaha
unuk menjaga supaya John tetap berada pada keadaan emosi yang stabil.
Teman-teman mereka mengatakan bahwa John berada pada keadaan di mana
dia bisa mengontrol emosinya dengan baik, walaupun dia harus
dihadapkan dengan berbagai macam serangan.

Idelette masih berusia 30 tahunan ketika dia diserang oleh penyakit,
kemungkinan tuberkulosa (TBC), yang merupakan penyebab utama dari
kemunduran kesehatannya. Di bulan Agustus 1548, John Calvin menulis,
"Dia begitu dikuasai rasa sakitnya sehingga dia sendiri hampir sama
sekali tidak mampu untuk mendukung dirinya sendiri." Pada tahun 1549,
ketika dia berusia 40 tahun, dia terbaring dengan lemahnya. Idelette
hanya baru menikah dengan John untuk 9 tahun, pada saat dia terbaring
sakit. Di tempat tidurnya, Idelette mempunyai dua masalah yang sangat
diperhatikannya. Salah satunya adalah bahwa sakit penyakitnya
janganlah sampai menghalangi pelayanannya Jon Calvin. Yang satunya
lagi adalah anak-anakNya.

Di kemudian hari, di salah satu surat John Calvin, dia menuliskan,
"Semenjak saya mengetahui bahwa kekhawatirannya terhadap anak-anaknya
akan sangat menghabiskan tenaganya, saya mengambil kesempatan ini,
tiga hari sebelum hari kematiannya untuk mengatakan bahwa saya tidak
akan mengecewakan dia di dalam bertanggungjawab terhadap anak-
anaknya." Dia kemudian membalas saya dengan berkata bahwa, "Saya
(Idelette) telah mempercayakan anak-anak saya ke dalam tangan Tuhan."
Ketika saya menjawab dia bahwa biarpun demikian, saya (John Calvin)
tidak akan hanya berpangku tangan dan tidak melakukan apa-apa.
Kemudian dia menjawab, "Saya mengetahui bahwa kamu tidak akan
melalaikan itu semua, walaupun engkau tahu telah saya serahkan
sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan."

Pada hari kematiannya, John sangat terkesan dengan ketenangannya. "Dia
tiba-tiba berseru sehingga semua orang bisa melihat bahwa rohnya telah
meninggalkan dunia ini. Inilah seruan terakhirnya,"Ya kebangkitan yang
mulia! Ya Allah Abraham dan Bapa dari kami semua, sungguh semua orang
percaya sepanjang abad yang telah percaya kepada-Mu tidak menaruh
pengharapan kepada hal yang sia-sia. Dan sekarang saya memusatkan
pengharapan hanya kepada-Nya." Kalimat pernyataan yang singkat ini
lebih diserukan secara nyaring daripada hanya sekedar suara bisikan.
Ini bukan merupakan suatu pernyataan yang didiktekan oleh orang lain
kepada dia. Pernyataan tersebut merupakan kata-kata yang keluar dari
pemikirannya sendiri."

Satu jam kemudian, Idelette sudah tidak dapat berbicara dan dia
berada dalam keadaan setengah sadar. "Akan tetapi raut wajahnya masih
mencerminkan suatu tanda kesadaran mentalnya", John berusaha untuk
mengingat peristiwa pada saat itu. "saya membisikkan beberapa kata
kepada dia mengenai anugerah Kristus, pengharapan akan kehidupan
kekal, pernikahan kami dan kematiannya yang diambang pintu. Kemudian
saya berpindah ke samping dan berdoa. Tidak lama kemudian, dia secara
perlahan-lahan menghembuskan nafasnya yang terakhir."

John menghadapi masa-masa kesedihan yang sangat mendalam. Dia menulis
kepada temannya, Viret, "Kamu mengetahui bagaimana pekanya perasaan
saya. Jika saya tidak mengontrol diri saya dengan kuat, saya tidak
akan mampu menghadapi masa-masa sulit tersebut sampai saat ini.
Kesedihannku sangat mendalam. Teman hidupku yang terbaik telah
"diambil" dari kehidupanku. Apabila saya menghadapi kesulitan, dia
selalu siap untuk mendengarkannya dan saling berbagi-rasa, bukan
hanya dalam pembuangan dan kemiskinan bahkan sampai pada saat terakhir
kepergiannya pun dia masih mendengarkan saya."

Surat kepada temannya, William Farel, dia menuliskan bahwa "Saya tidak
dapat menjauhi diri saya dari kesedihan yang sangat memukul ini.
Teman-teman yang lain juga berusaha untuk menghibur saya...Sekiranya Tuhan
Yesus... memberikan saya kekuatan di dalam pencobaan yang berat ini."
John Calvin baru berusia 40 tahun pada saat Idelette meninggal dunia,
tetapi dia tidak pernah menikah lagi. Di kemudian hari, dia
menceritakan tentang  keunikan Idelette dan dia bermaksud untuk
menghabiskan sisa hidupnya di dalam "kesendirian".

Kehidupan Idelette de bure Calvin merupakan suatu kehidupan yang
dipenuhi dengan kepedihan, tetapi dia tidak pernah merajuk, dia
membawa kebahagiaan dan damai di manapun dia berada. John telah
mengetahui banyak mengenai Allah Bapa itu berdaular, tetapi melalui
kehidupan dan kematian Idelette, Idelette mengajari dia mengenai Roh
Kudus sebagai Penghibur.


William J. Petersen adalah senior editor pada penerbit Revell Books


Sumber:
Artikel tulisan William J. Petersen yang diambil dari 
Majalah Christian History Volume V. No. 4 th. 1986

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org