Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-reformed/18

e-Reformed edisi 18 (2-7-2001)

Pemahaman Alkitab Pribadi
dan Penafsiran Pribadi

MARTIN LUTHER DAN PENAFSIRAN PRIBADI


Dua warisan yang kita peroleh dari gerakan Reformasi adalah prinsip
penafsiran pribadi dan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa setempat.
Kedua prinsip tersebut bergandengan tangan dan baru diselesaikan
setelah terjadi dua perdebatan sengit dan penganiayaan. Banyak orang
menjadi martir dengan menjalani hukuman dibakar hidup-hidup (terutama
di negeri Inggris) karena berani menerjemahkan Alkitab ke dalam mereka
sendiri. Salah satu pencapaian Luther yang terbesar adalah terjemahan
Alkitab ke dalam bahasa Jerman sehingga setiap orang yang melek huruf
dapat membacanya sendiri.


Luther sendirilah yang meruncingkan persoalan penafsiran Alkitab secara
pribadi pada abad ke-16. Di balik respons Bapak Reformasi itu terhadap
penguasa-penguasa gereja dan negara di Majelis Worms, sebenarnya
terdapat prinsip penafsiran pribadi.


Pada waktu Luther diminta untuk menarik kembali tulisan-tulisannya, ia
menjawab, "Kecuali kalau saya diyakinkan oleh Kitab Suci atau oleh
alasan yang nyata, saya tidak dapat menarik diri. Karena hati nurani
saya ditawan oleh Firman Allah, maka tidak benar dan tidak aman melawan
hati nurani itu. Di sini saya berdiri. Saya tidak dapat berbuat lain.
Allah menolong saya." Perhatikan, Luther berkata, "kecuali kalau saya
diyakinkan..." Pada perdebatan-perdebatan yang lebih awal di Leipzig
dan Augsburg, Luther telah berani menafsir Alkitab berlawanan dengan
interpretasi-interpretasi atau penafsiran-penafsiran Paus dan
majelis-mejelis gereja. Begitu beraninya ia, sehingga dituduh congkak
oleh pejabat-pejabat gereja. Luther tidak menganggap enteng
tuduhan-tuduhan itu, melainkan menderita sekali karena mereka. Ia
berpendapat ia dapat saja salah, namun ia juga bersikeras mengatakan
bahwa Paus dan majelis-majelis juga bisa salah. Bagi dia hanya satu
saja sumber kebenaran yang bebas dari salah. Ia berkata, "Alkitab tidak
pernah salah." Jadi, kecuali jika pemimpin-pemimpin gereja dapat
menyakinkan dia mengenai kesalahannya, ia merasa diikat oleh kewajiban
untuk mengikuti apa yang hati nuraninya diyakinkan oleh ajaran Alkitab.
Melalui perdebatan ini lahirlah konsep penafsiran pribadi, yang
langsung dibaptis oleh api.


Setelah deklarasi Luther yang berani dan menyusul karyanya
menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman di Wartburg, Gereja Roma
Katolik tidak tergelimpang mati. Gereja itu memobilisasikan kekuatannya
untuk serangan balasan seolah-olah dengan tombak berujung tiga.
Serangan balasan ini dikenal sebagai "Counter Reformation." Salah satu
ujung tombak yang ditikamkan adalah seperangkat formulasi melawan
Protestanisme oleh Konsili Trent. Trent berbicara melawan banyak pokok
bahasan yang dikemukakan oleh Luther dan tokoh-tokoh Reformasi lainnya.
Di antara pokok-pokok bahasan itu ada yang mengenai penafsiran. Trent
berkata;

		
    Untuk mengekang semangat-semangat liar, Konsili Trent menetapkan
    bahwa tidak ada seorang pun diperbolehkan menafsirkan secara pribadi
    persoalan-persoalan iman dan moral yang berhubungan dengan
    pembangunan doktrin Kristen. Itu berarti membengkokkan Kitab Suci
    menurut pemikirannya sendiri dan berani melawan penafsiran Gereja
    Induk Suci (Katolik Roma). Hak menafsirkan makna Kitab Suci yang
    sebenarnya ada pada Gereja Induk Suci, meskipun penafsiran itu
    berlawanan dengan pengajaran yang telah disepakati bersama oleh
    Bapak-bapak gereja. Tidak seorang pun boleh menafsirkan Kitab Suci
    secara pribadi meskipun tafsirannya itu tidak untuk diterbitkan.


Pernyataan itu antara lain berkata bahwa Gereja Katolik Romalah yang
berkewajiban menguraikan dan menyatakan makna Alkitab serta
mengajarkannya. Pernyataan Trent ini jelas dirancang untuk melawan
prinsip penafsiran pribadi pihak Reformasi.


Namun jika kita memeriksa pernyataan di atas lebih teliti, kita dapat
melihat salah pengertian yang serius tentang prinsip Reformasi. Apakah
tokoh-tokoh Reformasi mengembangkan ide penafsiran liar? Apakah
penafsiran pribadi berarti bahwa setiap orang berhak menafsirkan
Alkitab sesuka hatinya, menuruti apa yang cocok dengan dirinya sendiri?
Bolehkah orang menafsirkan Alkitab dengan cara tidak keruan, tidak
konsisten, tanpa kendali? Apakah setiap pribadi harus menghargai
penafsiran-penafsiran orang lain, misalnya yang berspesialisasi dalam
mengajar Alkitab? Jawaban-jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut jelas.
Tokoh-tokoh Reformasi juga berprihatin terhadap cara-cara dan
sarana-sarana untuk mengekang semangat-semangat liar. Ini jugalah salah
satu alasan mengapa mereka bekerja giat untuk menjelaskan
prinsip-prinsip sehat penafsiran Alkitab sebagai pengekangan dan
keseimbangan menghadapi penafsiran yang fantastis. Tetapi cara mereka
berusaha mengekang semangat-semangat liar bukanlah dengan menyatakan
bahwa pengajaran-pengajaran pemimpin-pemimpin gereja tidak bisa salah.


Mungkin istilah yang paling penting yang muncul dalam deklarasi Trent
tersebut ialah kata membengkokkan. Trent mengatakan bahwa tidak seorang
pun memiliki hak pribadi untuk membengkokkan Alkitab. Para Reformasi
dengan sebulat hati menyetujuinya. Penafsiran pribadi tidak pernah
dimaksudkan agar setiap pribadi berhak membengkokkan Alkitab. Bersama
dengan hak penafsiran pribadi adalah tanggung jawab yang penuh
kesadaran untuk penafsiran akurat. Penafsiran pribadi memberikan izin
menafsir tapi tidak memberikan izin membengkokkan Alkitab.


Jika kita melihat kembali pada zaman Reformasi beserta dengan respons
kejam pihak Inkuisisi (suatu badan milik Gereja Katolik Roma di abad
ke-13 untuk menyelidiki dan menghukum bidat-bidat) dan
penganiayaan-penganiayaan terhadap orang-orang yang mengalihbahasakan
Alkitab, kita menjadi ngeri. Kita heran bagaimana para pemimpin Gereja
Katolik Roma dapat begitu jahat menyiksa orang-orang karena membaca
Alkitab. Namun apa yang sering tidak dilihat dalam perenungan historis
seperti itu adalah itikad baik orang-orang yang terlibat dalam tindakan
tersebut. Roma yakin bahwa jikalau Alkitab diletakkan di tangan kaum
awam yang tidak berpendidikan teologi dan membiarkan mereka menafsir
Alkitab, maka pembengkokan-pembengkokan atau penyimpangan-penyimpangan
besar akan terjadi. Hal ini akan menyesatkan domba-domba, mungkin juga
akan membawa mereka ke neraka kekal. Jadi untuk melindungi domba-domba
supaya jangan memasuki jalan yang membawa kepada pemusnahan diri pada
akhirnya, Gereja menempuh cara hukuman badan, bahkan sampai kepada
hukuman mati.


Luther menyadari bahaya-bahaya gerakan Alkitab di tangan awam, tapi
yakin tentang kejelasan Alkitab. Jadi meskipun bahaya penyimpangan
besar, ia berpendapat bahwa faedah memperlihatkan berita dasar Injil
yang jelas kepada orang banyak akan pada akhirnya lebih banyak membawa
orang kepada keselamatan daripada kepada kebinasaan. Luther bersedia
mengambil resiko mendobrak pintu air yang akan mengakibatkan banjir
kesalahan.


Penafsiran pribadi membuka Alkitab untuk kaum awam, tapi tidak membuang
prinsip pendidikan rohaniwan. Kembali kepada zaman-zaman Alkitab, para
Reformasi mengakui bahwa dalam praktik dan pengajaran Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru ada kedudukan penting untuk para rabi (guru), ahli
Taurat dan pelayanan di bidang pengajaran. Bahwa para guru harus ahli
dalam bahasa-bahasa asli Alkitab, adat istiadat zaman Alkitab, sejarah
suci dan analisis sastra, masih menjadi ciri penting gereja Kristen.
Doktrin Luther yang terkenal, "imamat rajani" sering disalahfahami.
Doktrin ini tidak berarti tidak ada perbedaan antara rohaniwan dan
awam. Doktrin ini hanya menegaskan bahwa setiap orang Kristen harus
berperan dan berfungsi untuk melangsungkan pelayanan gereja secara
keseluruhan. Kita semua dipanggil untuk menjadi "Kristus bagi sesama
kita" dalam pengertian tertentu. Namun ini tidak berarti bahwa gereja
tidak memiliki gembala-gembala atau guru-guru.


Banyak orang telah dikecewakan oleh gereja yang terorganisasi di zaman
kebudayaan masa kini. Sebagian di antara mereka bereaksi melampaui
batas ke arah anarki gereja. Muncul dari revolusi budaya tahun 60-an
dengan kedatangan "Jesus movement" (gerakan Yesus) dan gereja "bawah
tanah" muncul pada slogan-slogan pemuda, "Saya tidak perlu mencari
pendeta. Saya tidak mempercayai gereja yang terorganisasi ataupun
pemerintahan tubuh Kristus yang berstruktur." Di tangan orang-orang
seperti itu prinsip penafsiran pribadi dapat menjadi izin untuk
subjektivisme radikal.



OBJECTIVITAS DAN SUBJECTIVITAS


Bahaya penafsiran pribadi yang besar adalah bahasa subjectivisme dalam
penafsiran Alkitab masa kini. Bahayanya lebih meluas daripada yang
dapat kita lihat secara langsung. Saya telah melihat bahaya yang sulit
dilihat oleh sembarang orang pada waktu saya ikut serta dalam diskusi
dan perdebatan teologis.


Baru-baru ini saya ikut diskusi panel bersama dengan para ahli Alkitab.
Kami sedang mendiskusikan pro dan kontra mengenai Perjanjian Baru
tertentu yang makna dan penerapannya mengundang perdebatan. Dalam
pernyataan pembukaannya, seorang ahli Perjanjian Baru berkata, "Saya
berpendapat bahwa kita harus terbuka dan jujur mengenai bagaimana
metode pendekatan kita terhadap Perjanjian Baru. Pada analisis terakhir
kita akan membacanya seperti apa yang kita ingin baca. Itu tidak
menjadi soal." Hampir saya khawatir salah dengar. Saya begitu kaget
sehingga tidak membantahnya. Keterkejutan saya bercampur dengan
perasaan kesia-siaan dalam mengusahakan kemungkinan bertukar pendapat
yang cukup berarti. Jarang sekali mendengar ahli yang menyatakan
prasangkanya begitu terang-terangan di depan umum. Kita semua mungkin
bergumul melawan kecenderungan yang berdosa melawan keinginan membaca
Alkitab sesuai dengan keinginan kita, namun saya harap kita tidak
selalu memakai cara itu. Saya percaya ada sarana-sarana yang tersedia
bagi kita untuk mengekang kecenderungan itu.


Pada tingkat umum, kemudahan untuk menerima semangat subjectivisme
penafsiran Alkitab ini juga sama lazimnya. Sering terjadi, setelah saya
selesai membahas makna suatu pasal, orang mendebat pernyataan saya
dengan mengatakan, "Ah, itu kan pendapatmu." Komentar itu menunjukkan
apa? Pertama, jelas sekali bagi semua orang yang hadir di situ bahwa
tafsiran yang saya kemukakan adalah pendapat saya sendiri. Saya hanya
seseorang yang baru saja mengemukakan pendapat. Tetapi bukan demikian
pendapat orang lain.


Kedua, mungkin komentar itu menunjukkan perdebatan tanpa suara dengan
memakai asosiasi yang salah. Dengan cara menunjuk bahwa pendapat yang
saya kemukakan itu hanya pendapat saya sendiri, mungkin orang tersebut
merasa bahwa itu saja yang diperlukan untuk mendebat, karena setiap
orang beranggapan sama menganai saya meskipun tidak dikatakan, yaitu
begini: apa saja pendapat yang ke luar dari mulut R.C. Sproul pasti
salah karena ia tidak pernah dan tidak akan pernah betul. Betapapun
bermusuhannya mereka terhadap pendapat-pendapat saya, saya tidak yakin
bahwa itulah yang mereka maksudkan ketika mereka berkata, "Ah, itu kan
pendapatmu."


Saya kira alternatif yang paling mungkin dapat digambarkan dengan
kata-kata ini, "Itu penafsiranmu yang baik untukmu saja. Saya tidak
menyetujuinya, tetapi tafsiran saya sama absahnya. Meskipun
tafsiran-tafsiran kita bertentangan, keduanya mungkin betul. Apa yang
saya sukai itu betul bagi saya dan apa yang saya sukai itu betul
bagimu." Inilah subjektivisme.


Subjektivisme tidak sama dengan subjektivitas. Mengatakan bahwa
kebenaran memiliki elemen subjektif, lain daripada mengatakan bahwa
kebenaran itu sepenuhnya subjektif. Supaya kebenaran atau kepalsuan
dapat bermakna untuk hidup saya, haruslah diterapkan kepada hidup saya
dengan cara tertentu. Pernyataan, "Hujan turun di tempat itu" pada
kenyataannya boleh benar secara objektif, tetapi tidak relevan dengan
hidup saya. Saya baru dapat melihat relevansinya, misalnya, kalau
ditunjukkan bahwa hujan itu begitu derasnya sehingga banjir dan
merusakkan sawah ladang saya di dekat situ yang baru saja saya tanami.
Baru waktu itu pernyataan itu mempunyai relevansi subjektif dengan
hidup saya. Pada waktu kebenaran suatu proposisi memukul dan mencekam
saya, barulah persoalannya menjadi subjektif. Penerapan teks Alkitab
kepada kehidupan saya mungkin bernada sangat subjektif. Tapi ini bukan
yang kita maksudkan dengan subjektivisme. Subjektivisme terjadi jikalau
kita membengkokkan makna objektif istilah-istilah supaya cocok dengan
minat-minat kita sendiri. Mengatakan, "Hujan turun di tempat itu"
mungkin tidak berelevansi dengan hidup saya di sini, tetapi perkataan
itu tetap bermakna. Perkataan itu bermakna bagi kehidupan manusia di
sana, bagi tanaman-tanamannya dan binatang-binatangnya.


Subjektivisme terjadi apabila kebenaran suatu pernyataan tidak hanya
diperluas atau diterapkan pada subjeknya, tetapi apabila kebenaran itu
secara mutlak ditetapkan oleh subjeknya. Jika kita ingin menghindarkan
diri dari pembengkokan atau penyimpangan Alkitab dari awal kita sudah
harus menghindari subjektivisme.


Dalam usaha memahami Alkitab secara objektif, kita tidak dapat
menciutkan Alkitab menjadi sesuatu yang dingin, abstrak dan mati. Yang
harus kita lakukan adalah berusaha memahami apa yang dikatakan olehnya
di dalam konteksnya sebelum kita melaksanakan tugas yang sama
pentingnya, yaitu menerapkan pada diri kita sendiri. Suatu pernyataan
tertentu boleh saja mempunyai kemungkinan adanya sejumlah
penerapan-penerapan pribadi, tetapi pernyataan itu hanya dapat memiliki
satu arti saja yang benar. Penafsiran-penafsiran yang berlain-lainan
yang saling kontradiksi dan tidak dapat disatukan, tidak mungkin benar,
kecuali kalau Allah berbicara dengan lidah bengkok. Kita akan membahas
persoalan kontradiksi dan makna tunggal pernyataan-pernyataan secara
lebih lengkap belakangan. Namun sekarang ini kita membahas penetapan
sasaran-sasaran penafsiran Alkitab yang sehat. Sasaran pertama ialah
kepada makna Alkitab yang objectif dan menghindari perangkap-perangkap
pembengkokan yang disebabkan oleh membiarkan penafsiran-penafsiran
dikuasai oleh subjektivisme.


Ahli-ahli Alkitab membuat perbedaan penting antara apa yang mereka
sebut sebagai eksegesis dan eisogesis. Eksegesis berarti menerangkan
apa yang dikatakan oleh Alkitab. Kata itu berasal dari kata Yunani yang
berarti, "memimpin ke luar." Kunci kepada eksegesis ada pada awalan
"eks" yang berarti "dari" atau "ke luar dari". Melakukan eksegesis
kepada Alkitab berarti mengeluarkan makna yang terdapat pada
kata-katanya, tanpa ditambahi dan tanpa dikurangi. Sebaliknya kata
eisogesis berasal dari akar kata yang sama, tetapi dengan awalan yang
berlainan. Awalan eis, juga berasal dari bahasa Yunani yang berarti "ke
dalam". Jadi, eisogesis menyangkut memasukkan ide sendiri ke dalam teks
yang sebenarnya sama sekali tidak terdapat dalam kata-kata teks
tersebut. Eksegesis adalah usaha yang objektif. Eisogesis menyangkut
praktik subjektivisme.


Kita semua harus bergumul dengan problem subjektivisme. Alkitab sering
mengatakan hal-hal yang tidak ingin kita dengar. Dalam hal ini kita
dapat menutup telinga dan mata kita. Jauh lebih mudah dan jauh lebih
tidak menyakitkan untuk tidak mengkritik Alkitab daripada dikritik oleh
Alkitab. Tidak heran Yesus sering menutup pembicaraan-Nya dengan,
"Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"
(Luk. 8:8, 14:35).


Subjektivisme tidak saja menghasilkan kesalahan dan penyimpangan,
tetapi juga kesombongan. Mempercayai apa yang saya percayai hanya
karena saya mempercayainya, atau mempertahankan kebenaran pendapat saya
hanya karena itu adalah pendapat saya, adalah contoh kesombongan.
Jikalau pandangan-pandangan saya tidak dapat lulus ujian analisis
subjektif dan pembuktian, kerendahan hati menuntut supaya saya
meninggalkan pandangan itu. Seorang penganut subjektivisme memiliki
kesombongan untuk mempertahankan pendapatnya tanpa dukungan atau
bukti-bukti objektif. Perkataan, "jika kau ingin mempercayai apa yang
kau percayai, baiklah. Saya akan ingin mempercayai apa yang saya
percayai," kedengarannya hanya rendah hati di kulit saja.


Pandangan-pandangan pribadi harus dinilai dengan bukti dan pendapat di
luar karena kita cenderung membawa kelebihan bobot kepada Alkitab.
Tidak ada seorang pun di bumi ini yang memiliki pengertian tentang
Alkitab dengan sempurna. Kita semua berpegang pada pandangan-pandangan
dan menyukai ide-ide yang bukan dari Allah. Mungkin jika kita tahu
secara tepat pandangan-pandangan kita yang mana yang salah itu sulit.
Jadi pandangan-pandangan kita memerlukan peralatan yang dapat
mengeceknya, yaitu berupa riset dan keahlian orang-orang lain.



PERANAN GURU


Dalam gereja-gereja Reformed pada abad ke-16 diadakan perbedaan antara
dua macam tua-tua: tua-tua pengajar dan tua-tua pengatur. Tua-tua
pengatur dipanggil untuk memerintah dan mengurus persoalan-persoalan
jemaat. Tua-tua pengajar, atau gembala-gembala, terutama
bertanggung-jawab untuk mengajar dan melengkapi orang-orang suci untuk
pelayanan.


Kira-kira dekade terakhir ini mengalami waktu yang luar biasa dalam
pembaruan di banyak tempat. Organisasi-organisasi para gereja
(organisasi-organisasi Kristen yang tidak dapat disebut gereja tetapi
menjalankan aktivitas-aktivitas yang sejajar dengan gereja) telah
berbuat banyak untuk memulihkan fungsi penting kaum awam bagi gereja
lokal. Konperensi-konperensi pembaruan kaum awam sudah umum.
Penekanannya tidak lagi pada pengkhotbah-pengkhotbah besar, tapi pada
program-program besar untuk dan oleh kaum awam. Ini bukan zaman untuk
pengkhotbah besar, tetapi zaman untuk jemaat besar.


Salah satu perkembangan penting gerakan pembaruan kaum awam ialah
munculnya sejumlah kelompok pemahaman Alkitab kecil-kecil yang
dilaksanakan di rumah-rumah tangga. Di sini suasana keakraban dan
informalitas terasa. Orang-orang yang dengan cara lain di tempat lain
tidak akan tertarik kepada Alkitab di sini maju dalam hal mempelajari
Alkitab. Dinamika kelompok dalam bentuk kecil pada dasarnya merupakan
kunci untuk membuka hati kaum awam. Kaum awam saling mengajar atau
mengumpulkan ide-ide mereka sendiri dalam kelompok-kelompok pemahaman
Alkitab seperti itu. Kelompok-kelompok seperti itu telah berhasil
membarui gereja. Mereka akan lebih berhasil waktu mereka makin ahli
memahami dan menafsir Alkitab. Bahwa orang mulai membuka Alkitab dan
mempelajarinya bersama-sama adalah hal yang luar biasa besar. Tetapi
ini juga sangat berbahaya. Mengumpulkan pengetahuan membangun gereja.
Mengumpulkan ketidaktahuan merusak gereja dan menunjukkan problem orang
buta memimpin orang buta.


Meskipun kelompok-kelompok kecil pemahaman Alkitab di rumah-rumah
tangga dapat menjadi sarana sangat efektif untuk pembaruan gereja dan
perubahan masyarakat, ada waktunya mereka harus menerima pengajaran
sehat dari pihak yang dapat dipertanggungjawabkan. Saya tetap yakin
bahwa gereja memerlukan rohaniwan yang telah terdidik. Studi pribadi
dan interpretasi pribadi harus diimbangi oleh kebijaksanaan guru-guru
secara kolektif. Jangan salah paham. Saya tidak memanggil gereja untuk
kembali pada situasi pra-Reformasi waktu Alkitab ditawan oleh para
rohaniwan. Saya bergembira melihat orang mulai mempelajari Alkitab
secara berdikari. Dengan demikian darah para martir tidak percuma
tumpah. Tapi saya ingin mengatakan bahwa orang awam itu bijaksana kalau
mengadakan pemahaman Alkitab yang tidak lepas dari otoritas
gembala-gembala atau guru-guru mereka. Kristus sendirilah mengaruniai
gereja-Nya dengan karunia mengajar. Karunia itu dan jawatan itu harus
dihormati kalau umat Kristus ingin menghormati Kristus.


Penting bagi para guru untuk mendapatkan pendidikan yang memadai. Sudah
barang tentu kadang-kadang muncul guru-guru yang meskipun tidak
mendapatkan pendidikan formal, namun memiliki wawasan ke dalam Alkitab
yang luar biasa. Namun orang-orang seperti itu jarang sekali. Lebih
sering kita menghadapi problem dari orang-orang yang mengaku dirinya
guru tapi sama sekali tidak berkualitas mengajar. Seorang guru yang
baik harus memiliki pengetahuan yang sehat dan keahlian-keahlian yang
diperlukan untuk menguraikan bagian-bagian Alkitab yang sulit. Di sini
diperlukan penguasaan bahasa asli, sejarah dan teologi, bahkan amat
diperlukan.


Jika meneliti sejarah orang Yahudi zaman Perjanjian Lama, kita melihat
bahwa ancaman yang paling keras dan terus menerus adalah ancaman dari
pihak nabi atau guru palsu. Israel lebih sering jatuh ke dalam
kekuasaan guru pembohong yang membujuk mereka daripada jatuh ke dalam
tangan orang Filistin.


Perjanjian Baru menyaksikan problem yang sama dalam Gereja Kristen
awal. Nabi palsu itu seperti gembala upahan yang hanya berminat kepada
upahnya sendiri daripada kepada kesejahteraan domba-dombanya. Tidak
semua bermaksud menyesatkan umat Allah, atau memimpin mereka untuk
berbuat kesalahan atau kejahatan. Banyak yang melakukannya karena tidak
tahu. Kita harus lari dari pemimpin-pemimpin yang tidak berpengetahuan
dan tidak berpikir panjang.


Sebaliknya, salah satu berkat besar bagi Israel ialah waktu Allah
mengutus kepada mereka nabi-nabi dan guru-guru yang mengajar mereka
sesuai dengan pikiran Allah. Dengarlah peringatan yang sungguh-sungguh
yang Tuhan sabdakan kepada nabi Yeremia:

		
     "Aku telah mendengar apa yang dikatakan oleh para nabi, yang
     bernubuat palsu demi nama-Ku dengan mengatakan: Aku telah bermimpi,
     aku telah bermimpi! Sampai bilamana hal itu ada dalam hati para
     nabi yang bernubuat palsu dan yang menubuatkan tipu rekaan hatinya
     sendiri, yang merancang membuat umat-Ku melupakan nama-Ku dengan
     mimpi-mimpinya yang mereka ceritakan seorang kepada seorang, sama
     seperti nenek moyang mereka melupakan nama-Ku oleh karena Baal?
     Nabi yang beroleh mimpi, biarlah menceritakan mimpinya itu, dan
     nabi yang beroleh firman-Ku, biarlah menceritakan firman-Ku itu
     dengan benar! Apakah sangkut-paut jerami dengan gandum? demikianlah
     firman TUHAN. Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman
     TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?" (Yer. 23:25-
     29).


Dengan perkataan penghakiman seperti ini, tidak heran kalau Perjanjian
Baru mengingatkan, "Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara
kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan
dihakimi menurut ukuran yang lebih berat" (Yak. 3:1). Kita membutuhkan
guru-guru yang memiliki pengetahuan sehat dan hatinya tidak melawan
Firman Allah.


Pemahaman Alkitab pribadi adalah sarana anugerah yang sangat penting
bagi orang Kristen. Itu adalah hak istimewa dan kewajiban kita semua.
Dalam anugerah-Nya dan kebaikan-Nya kepada kita, Allah tidak saja
menyediakan guru-guru yang berkarunia dalam gereja-Nya untuk menolong
kita. Ia juga menyediakan Roh Kudus-Nya sendiri untuk menerangi
Firman-Nya dan untuk menunjukkan penerapan-Nya kepada kehidupan kita.
Allah memberkati pengajaran sehat dan studi yang rajin.


Sumber:
Judul Buku: Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen
Penulis   : R.C. Sproul
Penerbit  : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang
Tahun     : 1997
Halaman   : 26-39

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org