Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/197

e-Penulis edisi 197 (4-1-2018)

Menemukan Sukacita dalam Menulis (I)

e-Penulis -- Edisi 197, 4 Januari 2018
 
Menemukan Sukacita dalam Menulis (I)
e-Penulis -- Edisi 197, 4 Januari 2018
 
e-Penulis

DARI REDAKSI Sukacita Bertumbuh dari Menulis Jurnal

Selamat tahun baru 2018 bagi Sahabat e-Penulis. Bersyukur kepada Tuhan atas penyertaan dan pemeliharaan-Nya selama ini. Kami berharap, di sepanjang tahun ini, edisi demi edisi e-Penulis yang kami sajikan dapat memperlengkapi dan memberkati Sahabat e-Penulis.

Berbicara mengenai bersyukur, pernahkah Sahabat menuangkannya ke dalam tulisan? Sajian kali ini akan menginspirasi kita bahwa menulis jurnal pun bisa menjadi salah satu alternatif untuk melakukan hal ini. Menulis jurnal bukan sekadar menuangkan pengalaman kita sehari-hari, atau pengalaman masa lalu, melainkan bisa menjadi cara kita mengingat kasih Allah yang selama ini Ia curahkan bagi kita. Dengan melakukan hal ini, sukacita kita atas kebaikan Allah semakin terbina dan kepekaan kita akan penyertaan Allah atas hidup kita semakin bertambah. Penasaran bagaimana semuanya ini bisa terjadi? Mari menyimak artikel di bawah ini dengan saksama dan jangan lewatkan informasi-informasi lainnya yang akan meningkatkan pengetahuan Anda seputar dunia literasi. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.

Santi T.

Pemimpin Redaksi e-Penulis,
Santi T.

 

ARTIKEL Jurnal Sebagai Jalan Setapak Menuju Sukacita

Mungkin Anda tidak pernah memikirkan penulisan jurnal sebagai suatu disiplin rohani.

Ini tampak seperti sesuatu yang hanya dilakukan oleh orang introvert yang paling narsis, atau sesuatu yang manis bagi gadis-gadis remaja, tetapi sesuatu yang tidak dapat diterapkan oleh orang dewasa. Apa? Saya? Jurnal? Saya terlalu sibuk dengan hari ini dan esok untuk memberi waktu lagi bagi hari kemarin. Mungkin, Anda benar. Mungkin, ide Anda tentang menulis jurnal terlalu berat pada hal-hal tentang diri sendiri dan terlalu ringan pada nilai dunia nyata.

Namun, bagaimana seandainya ada pandangan yang lain? Bagaimana jika menulis jurnal bukan sekadar mencatat masa lalu, melainkan mempersiapkan masa depan? Dan, bagaimana jika, karena anugerah Tuhan pada masa lalu dan janji-janji-Nya untuk masa depan kita, menulis jurnal adalah tentang memperdalam sukacita Anda saat ini?

Mungkin, tidak ada satu pun kebiasaan baru yang akan memperkaya kehidupan rohani Anda sebaik menulis jurnal.

Gambar: Menulis jurnal

Tidak Ada Cara yang Salah

Jurnal yang baik adalah sebagaimana yang Anda buat. Itu bisa berupa dokumen di komputer Anda atau sekadar buku catatan kuno. Bisa formal atau informal, catatan panjang atau pendek, dan dibuat pada akhir hari atau di mana pun Anda berada dalam suatu peristiwa. Hal itu bisa menjadi tempat untuk mengingat pemeliharaan Allah, mengupas lapisan demi lapisan hati Anda, menuliskan doa-doa, merenungkan ayat Kitab Suci, dan membayangkan masa depan.

Tujuannya bukan untuk mewariskan katalog mengesankan tentang pencapaian Anda yang mengagumkan dan pengetahuan Anda yang brilian untuk dibaca dan dikagumi oleh generasi pada masa yang akan datang. Buanglah itu sebelum mengambil pena Anda. Tujuannya adalah kemuliaan Kristus, bukan kemuliaan Anda, dalam kelangsungan perjalanan Anda menjadi makin serupa dengan-Nya, untuk memperluas dan memperkaya sukacita Anda.

Tidak ada Keharusan

Meskipun banyak Mazmur terlihat seperti catatan jurnal yang terinspirasi secara ilahi, tidak ada perintah dalam Kitab Suci bahwa kita harus menulis jurnal. Dan, sebagaimana Don Whitney mengamati, “Yesus bukan hidup dan mati bagi orang berdosa untuk menjadikan kita penulis jurnal” (Spiritual Disciplines, 251). Tidak seperti disiplin-disiplin rohani lainnya, Yesus tidak memberikan contoh untuk menulis jurnal; Dia tidak membuatnya.

Menulis jurnal bukan hal yang esensial dalam kehidupan kristiani. Namun, menulis jurnal merupakan peluang yang berdampak kuat, terutama dengan teknologi yang tersedia bagi kita saat ini. Banyak orang di sepanjang sejarah gereja dan di seluruh dunia mendapati bahwa menulis jurnal merupakan alat anugerah yang biasa dipakai oleh Allah dalam kehidupan mereka.

Mengapa Jurnal?

Dengan mata iman, kehidupan orang Kristen merupakan petualangan yang besar, dan suatu jurnal dapat sangat bermanfaat dalam mematangkan sukacita kita di sepanjang perjalanan itu. Selalu ada lebih banyak yang terjadi dalam diri kita dan di sekitar kita daripada yang bisa kita apresiasi pada saat itu. Menulis jurnal adalah satu cara memperlambat kehidupan untuk sesaat, dan berusaha untuk memproses sedikitnya sepotong dari kejadian tersebut bagi kemuliaan Tuhan, pertumbuhan dan pengembangan diri kita, dan sukacita kita akan detail-detail kejadian itu.

Menulis jurnal memiliki daya tarik untuk menyatukan gerak kehidupan kita dengan pikiran Allah. Bila diresapi dengan doa dan dipenuhi dengan firman Tuhan, hal itu bisa menjadi cara yang kuat untuk mendengar suara Allah dalam Kitab Suci dan menyampaikan permohonan kita kepada Dia. Anggaplah itu sebagai subdisiplin dalam asupan Alkitab dan doa. Kiranya semangat doa meresap, dan kiranya firman Tuhan menginspirasi, membentuk, dan mengarahkan apa yang Anda renungkan dan tuliskan.

Gambar: Menulis

Untuk Menangkap Masa Lalu

Menulis jurnal yang baik lebih dari sekadar menangkap masa lalu, tetapi mencatat kejadian-kejadian pada masa lalu adalah salah satu naluri paling umum di dalamnya. Bagi orang Kristen, kita mengakui hal-hal ini sebagai providensia Allah. Ketika beberapa peristiwa penting terjadi pada kita, atau di sekitar kita, atau sejumlah "kebetulan" terjadi dengan sidik jari ilahi, jurnal menjadi tempat untuk menangkapnya dan menjadikannya sebagai referensi pada masa yang akan datang.

Menuliskannya memberikan peluang untuk pengucapan syukur dan pujian kepada Allah -- bukan hanya pada momen itu, melainkan juga pada suatu hari nanti ketika kita melihat kembali pada apa yang pernah kita catat. Tanpa menangkap catatan singkat tentang pemeliharaan yang baik ini atau jawaban atas doa, dengan cepat kita dapat melupakan berkat itu, atau frustrasi dan kehilangan kesempatan untuk melihat dengan teliti nantinya tentang betapa "anugerah ini telah membawa kita selamat sejauh ini". Suatu jurnal juga bisa menjadi tempat-tempat kita dapat melihat ke belakang, bukan hanya tentang apa yang pernah terjadi, melainkan apa yang kita pikirkan dan rasakan tentang hal tersebut waktu itu.

Namun, menulis jurnal yang baik bukan hanya tentang kemarin, melainkan juga tentang bertumbuh menuju masa depan.

Untuk Membangun Masa Depan yang Lebih Baik

Memikirkan sesuatu dalam momen yang tepat adalah satu hal, tetapi menuliskannya adalah hal lain. Pada saat kita menangkap-dalam-tulisan pikiran kita yang cermat tentang Allah dan Kitab Suci dan diri kita dan dunia, kesan-kesan itu dilekatkan lebih dalam pada jiwa kita dan lebih mengubah kita dalam jangka pendek untuk waktu yang panjang.

Menulis jurnal adalah suatu peluang untuk bertumbuh menuju masa yang akan datang. Kita dapat mengenali ke mana kita harus berubah, menentukan tujuan, menentukan prioritas dengan tepat, serta memantau kemajuannya. Kita bisa mengevaluasi bagaimana kita bertindak dalam disiplin-disiplin rohani lain yang ingin kita lakukan.

Kebiasaan menulis jurnal secara teratur akan membantu Anda bertumbuh menjadi seorang komunikator dan penulis, saat Anda berlatih menuangkan pemikiran-pemikiran Anda ke dalam kata dan halaman. Jurnal Anda adalah bak pasir Anda, tempat Anda bisa menguji tulisan Anda pada metafora dan gaya sastra yang berani. Itu adalah tempat yang aman untuk berlatih sebelum melangkah ke ranah publik.

Untuk Memperkaya Masa Kini

Yang terakhir, tetapi paling signifikan, menulis jurnal bukan sekadar tentang kemarin dan hari esok, melainkan hari ini, dan sukacita kita pada masa sekarang. Berikut adalah tiga cara di antara yang lainnya.

1. Memeriksa

Socrates melebih-lebihkan, tetapi memiliki maksud ketika dia mengatakan bahwa hidup yang tidak diperiksa, tidak layak untuk dijalani. Meskipun terbatas, ada area penting untuk introspeksi dan inspeksi diri dalam kehidupan orang Kristen. Sebagai contoh, itu adalah sebuah peluang bagi orang Kristen untuk belajar “jangan memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman” (Roma 12:3). Ada waktu untuk menguji diri sendiri (2 Korintus 13:5). Kecenderungan kita dalam menulis jurnal adalah memulainya dengan memeriksa-diri sendiri meskipun kita mau bergerak melampaui itu dan melihat Injil menerobos masuk dengan sinar harapan yang baru.

Bagian esensial dari menulis jurnal yang baik bukan hanya memeriksa diri, melainkan juga keluar dari diri sendiri dan ditangkap dalam sesuatu yang besar -- secara khusus, Seorang Pribadi yang Besar. Ketika Anda sedih atau marah atau cemas, biarlah jurnal Anda dimulai dengan keadaan hati Anda. Jujurlah dan bersikaplah realistis, tetapi mintalah Allah memberi anugerah untuk melampaui keadaan Anda, betapa pun suramnya, untuk menemukan pengharapan dalam Dia. Inilah pola yang sering ada dalam Mazmur: diawali dengan kengerian, berakhir dengan penuh harapan. Menulis jurnal adalah peluang untuk menyebarkan Injil dengan cara yang baru pada diri Anda sendiri, dimulai dari tempat Anda berada, tanpa sekadar menyuapi diri Anda dengan pernyataan-pernyataan kebenaran yang biasa Anda dengar, tanpa berhenti sejenak untuk memikirkan serta menuliskannya.

2. Merenungkan

Pikirkan menulis jurnal sebagai pelayan dari disiplin Kristen yang vital yang disebut merenung. “Mungkin kontribusi paling berharga dari disiplin menulis jurnal terhadap pengejaran akan kesalehan,” kata Whitney, “adalah bagaimana menulis jurnal memfasilitasi perenungan Kitab Suci, terutama kemampuan untuk meningkatkan perhatian pada teksnya” (254).

Ambillah beberapa potongan Injil yang menarik dari bacaan Alkitab Anda, atau bagian yang membingungkan tempat Anda terhenti, dan biarkan jurnal Anda menjadi laboratorium pembelajaran Anda. Ajukan pertanyaan yang sulit, kemukakan jawaban berdasarkan Alkitab, dan terapkan itu dalam hati dan hidup Anda.

3. Menguraikan, Mengeluarkan, dan Memimpikan

Terakhir, saat kita menulis jurnal, kita mampu menguraikan pikiran kita, mengeluarkan emosi kita, dan memimpikan usaha-usaha yang baru. Disiplin menulis memfasilitasi pemikiran yang cermat, mengatalisasi perasaan yang mendalam, dan menginspirasi tindakan yang memiliki tujuan.

Sukacita dan kepuasan yang dalam bisa muncul dari menuangkan pemikiran dan perasaan kita yang kompleks dan membingungkan ke dalam kata-kata pada halaman. Kepala dan hati kita membawa begitu banyak pemikiran dan emosi yang tidak terselesaikan yang hanya bisa diselesaikan saat kita menuliskannya. Sama seperti pujian bukan hanya ungkapan sukacita, melainkan perwujudan sempurnanya, demikian juga menulis bagi jiwa. Menulis bukan hanya menangkap apa yang sudah ada dalam diri kita, melainkan dalam tindakan menulis itu kita memampukan kepala dan hati kita untuk melangkah lebih lanjut, satu langkah, dua langkah, lalu sepuluh langkah. Itu memiliki efek kristalisasi. Tulisan yang baik bukan hanya ekspresi dari apa yang sedang kita alami, melainkan juga pendalaman dari pengalaman itu.

Adalah luar biasa bahwa Tuhan menciptakan dunia yang begitu siap untuk kata-kata yang tertulis, serta merancang keberadaan manusia begitu alamiah untuk menulis dan membacanya. Dan, Dia membuat pikiran kita sedemikian rupa sehingga kita mampu berpikir lebih jauh, dan melakukannya dengan lebih mendetail daripada yang bisa dilacak oleh ingatan jangka pendek kita pada saat ini. Ketika kita menulis, kita tidak hanya menguraikan pemikiran kita, mengeluarkan emosi kita, dan bermimpi tentang inisiatif baru, tetapi kita mengembangkan hal-hal tersebut.

Hal ini membuat penulisan jurnal bukan sekadar latihan introspeksi, melainkan juga jalan setapak menuju sukacita -- dan alat yang kuat pengaruhnya dalam tangan-tangan yang penuh kasih. (t/Jing-Jing)

Audio Menulis Jurnal

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/journal-as-a-pathway-to-joy
Judul asli artikel : Journal As a Pathway to Joy
Penulis artikel : David Mathis
Tanggal akses : 8 November 2017
 

POJOK BAHASA Berjualan dan Jualan

Dari kata dasar jual dapat dibentuk kata berjualan. Di samping itu, terdapat pula kata jualan yang sering diperlakukan sama dengan kata berjualan. Benarkah penggunaan kata seperti itu?

Gambar: Berjualan dan jualan

Dalam praktik berbahasa sehari-hari, penggunaan kata berjualan dan jualan memang sering dipertukarkan. Contohnya, sebagai berikut.

1. Mereka sering berjualan pakaian di pinggir jalan.
2. Mereka sering jualan pakaian di pinggir jalan.

Pemakaian kata berjualan seperti pada kalimat (1) sudah benar, sedangkan pemakaian kata jualan seperti pada kalimat (2) tidak benar karena kata jualan bukan verba (kata kerja), melainkan nomina (kata benda). Kata jualan yang benar digunakan seperti dalam kalimat di bawah ini.

Munculnya kata jualan seperti pada kalimat (2) merupakan kebiasaan yang dipengaruhi oleh bahasa daerah. Dalam bahasa Jawa, misalnya, kata sarung 'sarung', kathok 'celana', dan jungkat 'sisir' yang merupakan nomina dapat dibentuk menjadi verba hanya dengan menambahkan akhiran -an sehingga menjadi sarungan 'memakai sarung', kathokan 'memakai celana', dan jungkatan 'bersisir'. Dalam bahasa Indonesia, akhiran -an berfungsi sebagai pembentuk nomina, bukan pembentuk verba, seperti makanan, minuman, atau mainan. Oleh karena itu, penggunaan kata jualan yang diperlakukan sebagai verba dalam komunikasi resmi tidak benar. Namun, dalam komunikasi yang tidak resmi, bentuk verba dengan akhiran -an, seperti jualan, siaran, dan sarapan, dapat digunakan.

Diambil dari:
Nama situs : Forum Bahasa Media Massa (FBMM)
Alamat situs : http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/node/1931
Penulis artikel : Anz
Tanggal akses : 28 November 2016
 

RESENSI BUKU Berpikir, Bertindak, Menjadi Seperti Yesus

Gambar: Pharaoh
Judul buku
:
Berpikir, Bertindak, Menjadi Seperti Yesus
Judul asli
:
Think, Act, Be Like Jesus: Becoming a New Person in Christ
Penulis/​Penyusun
:
Randy Frazee bersama Robert Noland
Penerjemah
:
Okdriati S. Handoyo
Penyunting
:
--
Editor
:
--
Penerbit
:
Yayasan Gloria
Ukuran buku
:
14 x 21,5 cm
Tebal
:
300 halaman
ISBN
:
978-602-60297-0-6
Buku online
:
--
Download
:
--

Alkitab merupakan dasar hidup orang percaya yang memberi banyak petunjuk untuk menjalani hidup seturut kehendak Allah. Tujuan Allah memanggil kita adalah supaya kita menjadi seperti Kristus. Langkah awal untuk hidup kekristenan diawali dengan pengakuan percaya akan anugerah keselamatan yang diberikan melalui Yesus Kristus. Kemudian, menyerahkan hidup dalam bimbingan Roh Kudus agar kita dapat menjadi pelaku Firman yang menghasilkan buah yang baik.

Dalam buku bergenre apologetika setebal 300 halaman ini, Randy Frazee bersama Robert Noland mengulas banyak hal mengenai bagaimana hidup sesuai dengan rencana besar Allah yang ditetapkan-Nya bagi dunia. Dalam buku ini, ada 30 bab pendek yang terdiri dari 10 bab tentang keyakinan pokok, 10 bab tentang penerapan pokok, dan 10 bab terakhir tentang karakter pokok yang dapat membantu murid-murid untuk berpikir, bertindak, dan semakin menjadi seperti Kristus. Penulis menyertakan beberapa kesaksian dan ilustrasi dalam setiap babnya.

Membaca buku ini seperti membaca buku renungan dalam satu tema besar. Kita dapat belajar bagaimana memiliki kesatuan dengan Kristus dan menghidupi iman Kristen, dengan memiliki pola pikir dan tindakan yang mencerminkan Kristus. Dengan demikian, orang lain dapat melihat Kristus melalui hidup kita.

Peresensi: Mei B.M.

 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-Penulis.
penulis@sabda.org
e-Penulis
@sabdapenulis
Redaksi: Santi T., N. Risanti, dan Odysius
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2018 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org