Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-penulis/195

e-Penulis edisi 195 (2-11-2017)

Kreatif Menulis tentang Natal (I)

e-Penulis -- Edisi 195, 2 November 2017
 
Kreatif Menulis tentang Natal (I)
e-Penulis -- Edisi 195, 2 November 2017
 
e-Penulis

DARI REDAKSI Drama Natal di Gereja

Perayaan Natal di gereja, sekolah, atau persekutuan sering kali dimeriahkan dengan drama. Drama menjadi salah satu pilihan menarik untuk disaksikan. Kemungkinan karena tampilannya yang lebih bisa dinikmati karena bersifat ekspresif, visual, dan nyata. Pernahkah Sahabat menulis naskah drama untuk acara Natal di sekolah atau di gereja. Pernahkah Sahabat menulis drama untuk mengisi acara Natal? Pada sajian e-Penulis kali ini, kami ingin supaya para Sahabat e-Penulis mengetahui bagaimana menulis naskah drama. Untuk itu, silakan membaca sajian ini sampai selesai. Jangan lupa baca juga bahan Pojok Bahasa mengenai pemakaian yang benar antara "perajin" atau "pengrajin" dan resensi buku bertopik kepemimpinan Pharaoh Leadership. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.

Santi T.

Pemimpin Redaksi e-Penulis,
Santi T.

 

ARTIKEL Menulis Naskah Drama Natal

Beberapa Petunjuk Menulis Naskah Drama Natal

Jika Anda seperti saya, selalu kesulitan menemukan naskah drama kelahiran Kristus yang baik untuk gereja, sekolah, atau kelompok Anda, mengapa tidak menulis karya Anda sendiri? Lagi pula, Anda mengerti ceritanya! Ditambah lagi, Anda pasti mempunyai beberapa lagu lama favorit yang dapat Anda pergunakan, dan jika tidak, pakai saja lagu-lagu Natal, semua orang menyukainya, dan penonton dapat menyanyikannya juga. Tertarik untuk mencoba? Baiklah, berikut ini beberapa petunjuk dan saran yang berguna.

Gambar: Karakter drama

  • Bila Anda memiliki kemampuan atau karakter tertentu dalam deretan pemeran Anda, bebaslah menciptakan naskah Anda sendiri untuk membuatnya personal bagi para pemeran. Mungkin seseorang bisa memainkan lagu Away in a Manger dengan gitar; mungkin Anda memiliki seorang anak yang akan mau menyanyikan Twinkle, Twinkle, Little Star secara solo; mungkin, di antara para pemeran Anda, ada tokoh istimewa/khusus dan mau memainkan peran yang kocak atau canggung. Bisa juga Anda menuliskan tentang kunjungan dari seorang komedian lokal, dan kemudian meminta naratornya memperbaiki cerita secara jenaka.
  • Gunakanlah lagu-lagu untuk memecah ceritanya sehingga Anda dapat bersiap untuk sebuah adegan baru dengan lancar. Saya menemukan bahwa jeda natural di bawah ini berfungsi dengan baik pada tiap naskah.
    1. Nada pembuka pilihan (boleh ada boleh tidak).
    2. Perjalanan Maria dan Yusuf (lagu perjalanan).
    3. Seorang bayi telah lahir (Lagu pengantar tidur/Away in a Manger, dll.).
    4. Malaikat berbicara kepada para gembala (lagu malaikat).
    5. Perjalanan para gembala ke Betlehem.
    6. Perjalanan orang Majus ke Betlehem.
    7. Lagu penutup/perayaan pilihan; mungkin menantikan datangnya hari Natal dan seterusnya.
  • Jika musik menyulitkan, manfaatkanlah kidung-kidung Natal, dan mintalah penonton berpartisipasi. Melihat daftar di atas, ada beberapa tip yang jelas: Little Donkey/O Little Town of Bethlehem, dll.; Away in a Manger; Hark The Herald Angels Sing; While Shepherds Watched Their Flocks; We 3 Kings of Orient Are; Twinkle, Twinkle, Little Star; We Wish You a Merry Christmas, dll..

Satu saran terakhir:

Jangan mengharapkan drama ideal, cukup suasana yang sempurna dan semangat kasih. Tujuan drama kelahiran ialah menceritakan kasih Allah. Jadi, jika Anda melihat drama Anda dimainkan, bersiaplah untuk kekacauan dan hal-hal yang berjalan tidak sebagaimana mestinya, itulah kenangan-kenangan yang akan bertahan lama yang dapat Anda tertawakan di kemudian hari. Ingatlah, drama tersebut adalah perayaan kelahiran Yesus, maka hal itu harus sama menyenangkannya dengan ulang tahun siapa pun juga. (t/Joy)

Audio Menulis Naskah Drama Natal

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Zhang Baozz
Alamat situs : http://zhangbaozz.com/uncategorized/points-on-writing-a-christmas-nativity-script/
Judul asli artikel : Points On Writing A Christmas Nativity Script
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 22 Agustus 2017
 

POJOK BAHASA Perajin atau Pengrajin?

Setelah kata pergantian dan penggantian yang membuat kita bingung, kita juga dibingungkan dengan pemakaian kata yang benar antara perajin atau pengrajin, perusak atau pengrusak? Pemakaian kata ini sangat bersaing di masyarakat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV Pusat Bahasa, sublema pengrajin yang diturunkan dari lema rajin bermakna perajin n 1 orang yg bersifat rajin: para ~ itu bekerja keras meningkatkan hasil kerjanya; 2 sesuatu yang mendorong untuk menjadi rajin: perusahaan memberikan hadiah lebaran satu bulan gaji sebagai ~ pegawai; 3 orang yang pekerjaannya (profesinya) membuat barang kerajinan.

Gambar: Perajin atau Pengrajin

Dari cara Pusat Bahasa menuliskan makna pengrajin, yang sama artinya dengan perajin, kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya bentuk pengrajin sah-sah saja dipakai alih-alih perajin. Hal ini semakin membuat kita bingung dan menimbulkan pertanyaan "Mengapa KBBI tidak tegas menentukan kata yang benar?"

Salah satu karakter KBBI adalah merekam semua kata yang ada dan dipakai di masyarakat. Kata pengrajin diketahui banyak dipakai, lalu kata itu memiliki hak menjadi warga kata penghuni KBBI. Hingga tulisan ini saya tayangkan, kata pengrajin ditemukan di mesin pencari Google sebanyak 2.730.000 kali berbanding 1.060.000 kali untuk kata perajin. Pemakaian kata ini sangat bersaing. Mungkin saja, ini menjadi alasan penyusun KBBI memasukkan kata pengrajin sebagai sama dengan perajin.

Dari karakter KBBI seperti itu, kata-kata yang direkam belum tentu benar atau salah. Sejatinya, Pusat Bahasa perlu secara tegas memberikan pencerahan kepada pengguna KBBI untuk bentuk-bentuk kata yang bersaing seperti itu. Seperti halnya kata silahkan, yang memakai tanda panah, merujuk pada kata silakan karena kata dasarnya sila.

Ada beberapa cara bagi kita untuk menentukan bentuk yang benar. Pertama, melihat kelaziman. Umumnya, awalan /pe-/ atau /per-/ yang melekat pada kata berfonem awal /r/ tidak berubah menjadi /peng-/, misalnya: pe + raih --> peraih; pe + rampok --> perampok; pe + ramu --> perenang; pe + rias --> perias; pe + rintis --> perintis; pe + rusak --> perusak.

Dari contoh di atas, bisa kita lihat bahwa bentuk pengraih, pengrampok, pengramu, pengrenang, pengrias, pengrintis ataupun pengrusak adalah bentuk yang salah.

Kedua, melihat proses terbentuknya kata tersebut. Kita ambil contoh kata dasar tulis yang menurunkan bentuk menulis, penulis, penulisan, tulisan. Demikian juga dengan contoh berikut ini:

raih - meraih - peraih - peraihan - raihan
rampok - merampok - perampok - perampokan - rampokan
ramu - meramu - peramu - peramuan - ramuan
rusak - merusak - perusak - perusakan - (tidak ada bentuk rusakan)

Sekarang, kita bisa melihat bahwa bentuk pengraihan, pengrampokan, pengramuan atau pengrusakan tidak kita temukan. Tentu saja, analogi di atas bisa kita coba pada kata rajin: rajin - merajinkan - kerajinan - perajin.

Mari kita bandingkan dengan contoh berikut.

gali - menggali - penggali - penggalian - galian
ganti - mengganti - pengganti - penggantian - gantian
ganti - berganti - pergantian (baca: juga Pergantian atau Penggatian)

Setelah membaca uraian singkat ini, semoga kita bisa bersikap untuk tidak lagi menggunakan pengrajin alih-alih perajin. [Apolonius Lase, Penyelaras Bahasa Harian Kompas; Penyusun Kamus Nias-Indonesia]

Diambil dari:
Nama situs : Forum Bahasa Media Massa (FBMM)
Alamat situs : http://guyubbahasa.blogspot.co.id/
Penulis artikel : Apollo Lase
Tanggal akses : 12 Mei 2017
 

RESENSI BUKU Pharaoh Leadership

Gambar: Pharaoh
Judul buku
:
Pharaoh Leadership
Judul asli
:
--
Penulis/​Penyusun
:
Josua Iwan Wahyudi
Penerjemah
:
--
Penyunting
:
--
Editor
:
Vonny C. Thamrin
Penerbit
:
Get Your Wisdom Publishing
Ukuran buku
:
14,5 x 19 cm
Tebal
:
120 halaman
ISBN
:
979189869 - 3
Buku online
:
--
Download
:
--

Siapa yang tidak mengenal Firaun, raja Mesir pada awal perjalanan kisah Musa? Sistem kepemimpinan yang arogan, tidak mau berkembang, bahkan menutup diri karena merasa diri yang terbaik menjadi ciri kepemimpinan Firaun. Sistem kepemimpinan yang seperti ini sangat dibenci Tuhan sehingga Ia menghancurkan Firaun pada saat itu. Jika kita melihat kehidupan Firaun, kita merasa jauh lebih baik daripada Firaun. Akan tetapi, sadarkah kita bahwa kepemimpinan Firaun ini masih diterapkan sampai sekarang, bahkan sistem ini sudah masuk dalam gereja?

Buku ini menjelaskan lima sistem kepemimpinan Firaun yang diadopsi dalam kehidupan gereja. Sadar atau tidak, banyak gereja yang terjebak dengan sistem seperti ini, yaitu mengamankan posisi, berpikir menang/kalah, memperdayai, memahitkan kelompok/seseorang, dan membunuh potensi. Selain berupa artikel, dalam buku ini juga memuat kutipan-kutipan kepemimpinan dan infografis yang memperjelas isi artikel. Buku ini menarik bagi saya karena dapat membuka pikiran saya tentang kondisi gereja yang memprihatinkan, yang bahkan disamakan dengan kondisi pada zaman Firaun. Melalui buku ini, kita bisa melakukan introspeksi apakah sistem kepemimpinan gereja saat ini masih meniru kepemimpinan Firaun atau tidak.

Peresensi: Ariel

 
Stop Press! Situs Kamus SABDA

Kesulitan untuk mengetahui arti suatu kata tak lagi menjadi tantangan bagi kita. Sebab, situs kamus SABDA menjadi solusinya.

Situs Kamus SABDA

Melalui situs Kamus SABDA, kita bisa belajar tentang jenis kata, arti kata, keluarga kata, bahkan menyelidiki kata-kata tertentu sehingga kita bisa mengetahui maknanya dan bisa memahami penggunaan sebuah kata dengan tepat. Situs Kamus SABDA menyajikan empat jenis kamus dalam bahasa Indonesia, yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Seasite, Kamus Thesaurus, dan Kamus Indonesia; dan dalam bahasa Inggris terbagi menjadi Wordnet Dictionary, Cide Dictionary, Oxford Dictionary, Devil Dictionary, Thesaurus, dan Roget Thesaurus. Situs ini juga bisa Anda akses melalui mobile. Silakan berkunjung ke situs Kamus SABDA dan bagikan berkat-Nya!

Kunjungi sekarang juga
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-Penulis.
penulis@sabda.org
e-Penulis
@sabdapenulis
Redaksi: Santi T., N. Risanti, dan Odysius
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org