Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-penulis/62

e-Penulis edisi 62 (17-12-2009)

Penyunting dan Penulis

__________________e-Penulis (Menulis untuk Melayani)__________________
                       Edisi: 062/Desember/2009
                     Tema: Penyunting dan Penulis

DARI REDAKSI__________________________________________________________

  Shalom,

  Dalam dunia kepenulisan, keterkaitan antara penulis dan penyunting
  (editor) tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan sebuah naskah
  tidak akan bisa lepas dari proses penyuntingan naskah. Tanpa itu,
  tulisan yang siap terbit dari penulis berkaliber pun bisa
  "membahayakan" pembaca. Mengapa? Karena penulis juga manusia, yang
  bisa saja melakukan kesalahan, baik kesalahan ketik maupun kesalahan
  pemaknaan. Penyunting adalah penyaring yang penting dalam
  pengoreksian tulisan sehingga saat sampai di tangan pembaca sebuah
  tulisan dapat dibaca dan dimengerti dengan lebih mudah. Selain itu,
  penyunting juga adalah jembatan yang baik antara penulis dan
  pembaca. Keberadaan penyunting mampu mengurangi timbulnya
  kesalahpahaman antara penulis sebagai pemberi informasi dengan
  pembaca sebagai penerima informasi.

  Sebagai seorang penulis, Anda juga bisa merangkap sebagai seorang
  penyunting. Tidak ada yang mustahil jika kita memiliki niat dan
  usaha yang kuat. Apakah Sahabat Penulis rindu menjadi penyunting
  juga? Ada berita bagus! Bulan ini, e-Penulis menyajikan artikel dan
  kiat-kiat seputar menyunting. Melalui sajian ini, kami ingin
  membagikan hal-hal penting yang harus dilakukan seorang penyunting
  dan tanggung jawab yang harus dijalankan. Untuk memeriahkan perayaan
  Natal, kami angkat pula sebuah renungan Natal yang kiranya dapat
  menghangatkan hati Anda.

  Akhirnya, segenap Redaksi e-Penulis mengucapkan "SELAMAT NATAL 2009
  dan SELAMAT MENYONGSONG TAHUN BARU 2010". Kiranya sukacita dan
  semangat baru selalu mengiringi langkah-langkah kita. Tuhan Yesus
  memberkati.

  Staf Redaksi e-Penulis,
  Sri Setyawati
  http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
  http://pelitaku.sabda.org/
  http://fb.sabda.org/penulis/
______________________________________________________________________

                 Menulis adalah sebuah keterampilan,
             dan ketrampilan dikembangkan dengan latihan.
                       - J. Douglas Perry -

DAFTAR ISI____________________________________________________________

  - Dari Redaksi
  - Daftar Isi
  - Artikel: Penyunting dan Penulis
  - Tips: Tugas Seorang Penyunting
  - Artikel Natal: Tiga Simbol Natal
  - Pojok Bahasa: Aditif Bukan Tambahan

ARTIKEL 1 ____________________________________________________________

                        PENYUNTING DAN PENULIS

  "Persiapkan perangkat kerjamu, Tuhan akan menunjukkan
  pekerjaan-Nya." (Robert Browning)

  Sebuah majalah memunyai kepribadian yang berasal dari penyuntingnya.
  Penyunting itulah yang merupakan pintu gerbang, yang memeriksa
  informasi sebelum disampaikan kepada pembacanya. Cara masing-masing
  penyunting dalam menyajikan informasi dan bahasa yang digunakannya
  akan menentukan keberhasilan penerbitan yang ditanganinya. Prinsip
  ini juga berlaku bagi penerbitan buku, surat kabar, atau brosur.

  Banyak penyunting berbuat kesalahan dengan berpikir bahwa dialah
  yang paling tahu segalanya tentang apa yang harus dipublikasikan
  serta bagaimana cara memublikasikannya. Adalah berbahaya jika
  segalanya tergantung pada satu segi pandang seseorang saja. Seorang
  penyunting majalah yang berhasil jarang memutuskan segala sesuatunya
  sendirian. Setiap ada kesempatan, ia pasti meminta pendapat komite
  redaksi. Mereka membantu merancang isi untuk setiap kali penerbitan
  dan selalu melaporkan apa yang dibutuhkan atau diinginkan oleh
  publik pembaca.

  Seorang penyunting tidak boleh lupa bahwa tugas utamanya adalah
  membuat majalahnya "hidup" bagi pembaca. Ini bukan tugas yang mudah.
  Tetapi kalau ia terus berusaha berhubungan dengan pembacanya, ia
  akan mengetahui artikel apa yang mereka senangi dan artikel mana
  yang tidak mau mereka baca. Ia akan mengerti kebutuhan-kebutuhan
  mereka dan mengetahui tingkat pendidikan mereka.

  Karena setiap majalah harus melayani begitu banyak orang dengan
  berbagai kepentingan, setiap penerbitan seharusnya mengandung materi
  yang cukup seimbang. Seorang penyunting perlu mengajukan pertanyaan
  penting di bawah ini untuk menentukan isi majalahnya:

  1. Apakah isi majalah telah berkaitan langsung dengan masalah
     sehari-hari pembacanya?
  2. Bagaimana tingkat pendidikan pembacanya?
  3. Bagaimana kondisi keuangan pembaca sebagai pembeli potensial
     majalah Anda?
  4. Majalah apa yang menjadi saingan?
  5. Bagaimana caranya agar sirkulasi dan distribusi majalah
     ditingkatkan?

  Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi pembimbing untuk
  menentukan karakter isi majalah, kualitas tulisan, pembagian
  ruangan, dan patokan penampilannya. Karena seorang penyunting
  majalah rohani bekerja dengan keuangan yang terbatas, majalahnya
  memerlukan perencanaan yang baik dan lihai, serta penelitian yang
  saksama agar bisa menjadi majalah yang atraktif.

  Namun, seorang penyunting yang berpengalaman mengetahui bahwa setiap
  karangan dalam literatur Kristen dapat dirancang secara baik,
  disajikan dengan atraktif, dan direncanakan secara sempurna. Setiap
  penerbitan membutuhkan penanganan khusus. Semua bagian, seperti
  pemilihan jenis huruf, ilustrasi, format, dan tata letak muka
  (layout) harus menggiring pembaca ke artikel dan mencegahnya
  berhenti membaca.

  Tanggung Jawab Penyunting

  Lebih sering penyunting sebuah majalah kecil merangkap juga sebagai
  stafnya. Ia harus bisa menjadi seorang penulis, menjadi penerbitnya,
  menjadi pengelola sirkulasi dan penjualan, atau kadang-kadang
  menjadi petugas tata letak. Karena semua pekerjaan itu sangat rumit,
  ia harus memunyai sekian banyak keahlian. Ia perlu memunyai
  kemampuan mengawasi dan melaksanakan penilaian yang bijaksana. Ini
  berarti ia harus tahu bagaimana mengambil keputusan dan mau
  mempertanggungjawabkannya.

  Kerja seorang "penyunting kerohanian" mengandung beberapa tahap. Ia
  harus selalu memberi informasi kepada pembacanya tentang apa yang
  terjadi. Ia sadar bahwa informasi ini mengandung hal yang enak dan
  yang tidak enak. Kadang-kadang itu bisa berarti ia harus memihak dan
  menempatkan dirinya pada keadilan dan kejujuran.

  Kualifikasi terpenting bagi seorang penyunting adalah kemampuannya
  bergaul dengan orang banyak. Ia harus mampu berbaur dengan berbagai
  jenis orang, menyukai, dan mengerti keadaan mereka. Karena ia adalah
  perantara bagi kejadian dengan para pembaca, sering kali ia harus
  melihat, mengalami, mengingat, dan berpikir untuk pembacanya.

  PENYUNTING DAN PENULIS SEBAGAI REKAN

  Seorang penyunting harus mampu menemukan penulis yang potensial. Ia
  harus bangga jika menemukan dan membantu berkembangnya kemampuan
  seorang penulis pemula. Salah satu kebahagiaannya ialah jika ia
  menemukan seseorang yang berbakat, lalu melalui korespondensi dan
  konsultasi ia menyaksikan bagaimana orang yang berbakat itu
  berkembang menjadi penulis pemula. Walaupun ini membutuhkan waktu
  yang banyak dan bimbingan yang sabar, seorang penyunting kawakan
  sadar bahwa tanpa seorang penulis yang jago, penerbitannya akan
  gagal.

  Karena penyunting dan penulis memunyai kesamaan minat dalam banyak
  hal, keduanya harus bekerja sebagai rekan (partner). Keduanya ingin
  menyajikan tulisan yang menarik. Keduanya ingin memikat dan
  memengaruhi pembaca. Keduanya memerlukan pertukaran ide dan
  menerima pandangan orang lain. Keduanya harus mengetahui apa tugas
  masing-masing dalam suatu usaha penulisan (penerbitan).

  Masuk ke percetakan sama halnya dengan masuk perguruan tinggi: harus
  lulus syarat-syarat masuk. Penulis dapat menjual naskahnya hanya
  jika penyuntingnya menjual dulu idenya, kemudian dalam usaha
  tersebut ia menyajikannya. Hal ini merupakan suatu keuntungan bagi
  penulis, karena sebagian besar majalah memerlukan berbagai variasi
  artikel atau cerita.

  Penanganan Naskah

  Penerimaan naskah yang cocok melibatkan kerja akal sehat dan sikap
  yang baik. Tidak ada orang yang menjual jarum kepada tukang kayu,
  atau palu kepada tukang batu permata. Walaupun begitu, seorang
  penyunting sering menerima naskah-naskah yang sebenarnya tidak harus
  dikirimkan apabila pengarangnya pernah membaca majalah atau surat
  kabar yang pernah memuat naskah itu. Memang seorang pengarang
  menulis karena dorongan dalam dirinya dan mengirimkan tulisan itu
  semaunya. Tetapi sama pentingnya, pengarang itu harus menemukan
  pasar yang potensial dan menulis untuk pasar itu dengan
  integritasnya.

  Seorang penyunting juga memunyai hak-hak. Ia harus menerbitkan
  artikel sesuai dengan kebutuhannya. Jelas bahwa hendaknya kebutuhan
  ini diketahui pula oleh para penulis. Dengan begitu, penyunting
  mencoba menginterpretasikan setiap tugas penulisan dalam kaitannya
  dengan seluruh isi majalah. Kalau penyunting dan penulis ingin
  bekerja sama menciptakan karangan yang sempurna, keduanya harus
  saling memercayai. Sebuah pertemuan pribadi seawal mungkin dapat
  membantu mereka melihat spesifikasi dalam konteks yang lebih luas.
  Tujuan, segi pandangan, isi, dan lingkupnya harus diperhatikan
  kembali. Pertemuan seperti itu kemudian berlanjut dengan
  diciptakannya hubungan antara penyunting dengan penulis yang saling
  menguntungkan. Kalau tidak mungkin mengadakan pertemuan seperti itu,
  sebuah surat yang mendetail dan hati-hati dapat menghindarkan setiap
  salah pengertian.

  Sebelum suatu tugas penulisan diterima, baik penyunting maupun
  penulis harus melakukan beberapa hal, antara lain: menetapkan
  besarnya honorarium atas naskah tersebut, waktu penyelesaiannya,
  panjang naskah, hal-hal yang tidak boleh ditulis, gaya penulisan,
  dan hak ciptanya harus disetujui keduanya. Hanya setelah ada
  persetujuan tentang semua hal itulah, baru si penulis siap untuk
  memulai pekerjaannya.

  Setelah penulis siap dengan naskahnya, ia menyiapkan tulisannya
  dengan hati-hati. Kalau ditulis dalam bahasa Inggris, karangan itu
  harus diketik di atas kertas ukuran 8,5 inci kali 11 inci, 2 spasi
  dengan margin 1 inci di kiri-kanan, lebih dari 1 inci untuk margin
  atas-bawah. Nama penulis dan alamatnya dicantumkan pada pojok kanan
  atas. Artikel itu diketik pada satu sisi. Perhatikanlah pemberian
  tanda baca, patokan pengucapan, dan alinea. Setiap halaman harus
  diberi nomor dan penulis menyimpan tiap tembusannya.

  Setelah artikel atau naskah dikirim, sebaiknya biarkan penyunting
  memutuskan, tanpa bantuan penulis, apakah karangan itu diterima atau
  tidak. Sebuah surat pengantar, kalau memang perlu, hendaknya ditulis
  dengan singkat dan mengandung data yang mungkin perlu diketahui
  redaksi. Para penyunting tidak tergerak atas rasa kasihan, sombong,
  atau emosi lainnya. Kepentingan mereka yang utama adalah bahwa
  ketika menerima sebuah naskah, mereka dipenuhi rasa ingin tahu atau
  ketidaktahuan, sampai kemudian mereka membaca artikel yang unik,
  meyakinkan, dan menarik.

  Jika seorang penyunting menerima naskahnya, penulis harus siap
  mengadakan perbaikan. Seperti halnya ada pembedahan tubuh manusia,
  maka ada juga pembedahan naskah. Dengan kemampuan memotong yang
  baik, naskah tidak hanya akan lebih baik, tetapi juga lebih
  memancarkan kepribadian. Sebagian penyunting menggunakan gunting dan
  pensil merah untuk memotong bagian-bagian yang tidak perlu.
  Perbaikan sebuah naskah sering lebih penting daripada penulisan
  pertamanya, dan sering pula lebih banyak waktu diperlukan untuk ini.
  Penulis kawakan tahu bahwa penyunting yang berhasil tidak pernah
  memublikasikan naskah tanpa memeriksa dan memperbaikinya. Dengan
  demikian, penulis dengan senang hati menerima anjuran-anjuran
  penyunting dan berusaha sebaik mungkin memenuhi patokan-patokan
  serta syarat-syarat penerbitannya.

  Penyunting dan Pembacanya

  Seorang penyunting yang menerima tanggung jawab sebagai penyunting
  penerbitan untuk tujuan rohani, setiap hari memerhatikan kata hati
  pembaca maupun kata hatinya sendiri. Ia tidak memperhitungkan uang
  hasil penjualan, besarnya sirkulasi, atau jumlah pendapatan dari
  iklan.

  Tujuannya bukan hanya menyenangkan pembaca. Kerjanya lambat, karena
  sadar bahwa meningkatkan selera dan memperdalam wawasan keagamaan
  orang banyak tidak bisa dilakukan satu malam saja. Sering kali ia
  meluangkan waktu untuk meninjau kembali pengertiannya tentang tugas
  mulia ini. Ini akan menambah semangat dan membuatnya mampu bersandar
  pada sumber-sumber ilahi, yang ada jauh di luar jangkauan
  kemampuannya sebagai manusia biasa.

  Para pembaca penerbitan bacaan rohani bersedia didorong,
  dipengaruhi, dan juga diberi informasi. Mereka mencari
  majalah-majalah dan buku-buku untuk mendapatkan opini-opini yang
  berguna, inspirasi, penerangan, dan untuk pengungkapan iman Kristen --
  pendek kata, untuk ketulusan hati. Para penulis dan penyunting yang
  berhasil memenuhi kebutuhan ini akan menjadi orang-orang yang punya
  penglihatan karena suara penerbitan Kristen bukanlah "suara orang
  banyak", melainkan suara Tuhannya, yang diucapkan dan
  dikomunikasikan melalui orang banyak.

  Tugas yang Tidak Berujung

  Tugas penulis dan penyunting tidak pernah berakhir karena nasib
  dunia ada di tangan orang-orang yang membaca. Berapa banyak lagi
  tujuan spiritual miliaran jiwa orang ada di tangan mereka yang dapat
  menyajikan literatur Kristen yang sangat diperlukan itu.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Menjadi Penulis: Membina Jemaat yang Menulis
  Judul asli buku: Write the Vision
  Penulis: Marion Van Horne
  Penerjemah: Putu Laxman S. Pendit
  Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta 2007
  Halaman: 71 -- 74

TIPS__________________________________________________________________

                     TUGAS-TUGAS PENYUNTING KRISTEN

   1. Seorang penyunting percaya sebuah buku yang baik dapat dibuat
      lebih baik lagi.

   2. Memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya bisa menjadi
      petunjuk objektif bagi penulis.

   3. Tidak takut mengatakan apa yang ia pikirkan tentang sebuah
      naskah dengan jujur, sekaligus menjaga perasaan penulis.

   4. Waspada dalam perhatiannya pada setiap kata, setiap kalimat,
      dan setiap tanda baca di dalam karya penulis.

   5. Menyuarakan karya penulis dengan nada yang lebih simpatik.

   6. Menyesuaikan diri dengan penulis, bukan sebaliknya.

   7. Perlu waktu. Tulisan yang baik membutuhkan waktu, demikian juga
      menyunting.

   8. Memiliki telinga bagi gaya penulis.

   9. Adalah pembaca yang paling objektif bagi buku yang akan
      diterbitkan.

  10. Paham bahwa tulisan yang jelas adalah penting bagi pikiran yang
      jernih.

  11. Mencoba menjadi penulis kedua tanpa mengubah istilah-istilah
      awal yang digunakan penulis.

  12. Menegaskan keunikan penulis.

  13. Dengan lembut memangkas keangkuhan, penilaian subjektivitas,
      kekeraskepalaan, maupun "kegaringan" penulis.

  14. Berkata, "Saya menambahkan ini untuk menunjukkan apa yang
      menurut saya salah, bukannya memaksakan yang menurut saya
      benar.", 15. Tidak pernah berkata, "Sudah saya bilang!"

  Apa Itu Menyunting?

  Tugas yang paling penting tentu saja menyunting. Nah, dalam
  menyunting, tugas apa yang diemban oleh seorang penyunting Kristen?

  1. Mengejar kesempurnaan seteliti mungkin. Usaha membuat penulis
     mengangkat sumber-sumber yang tidak pernah diketahui oleh
     penulis, yang sebenarnya dapat mereka atur.

  2. Mengembangkan hal-hal yang bisa dikembangkan.

  3. Menemukan titik-titik kelemahan dan mempertanyakannya.

  4. Melakukan keselarasan -- cermat meneliti kata-kata,
     kalimat-kalimat, dan paragraf untuk melihat apakah bahasanya pas.

  5. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sangat ingin diketahui
     penulis.
     a. Apakah buku saya enak dibaca?
     b. Apakah tulisan ini mencapai tujuannya?
     c. Di mana bagian-bagian yang tidak perlu?
     d. Apakah saya mampu menulis?

  6. Menanggapi hal yang muncul sebagaimana hal yang absen dalam
     sebuah tulisan.

  7. Mengubah secara halus tanpa mengobrak-abrik gaya penulis namun
     kemajuan hasilnya dapat dilihat.

  8. Menemukan apa yang ingin penulis lakukan, dan menolong dia untuk
     melakukannya sedikit lebih baik.

  9. Menyunting berarti mengatakan sesuatu seperti:
     a. "Saya tidak yakin dengan bagian ini."
     b. "Saya tidak melihat bagaimana bagian itu bila sampai di sini."
     c. "Urutan di sini membingungkan."
     d. "Di bagian ini Anda membuat saya bingung."
     e. "Bagian ini membosankan."
     f. "Anda mengulangnya lagi."
     g. "Karakter ini hanya satu dimensi."
     h. "Ilustrasi anekdot ini tidak pas di sini/tidak ada artinya."
     i. "Bagian awal/akhir lemah."
     j. "Apa yang ingin dikatakan dalam paragraf ini?"
     k. "Bukankah sebaiknya Anda menerangkan hal ini sebelumnya?"
     l. "Apakah ini kata yang tepat untuk konteks ini?"
     m. "Apa maksudnya di sini?"
     n. "Bisakah pernyataan ini Anda pertahankan?", 10. Menyunting selalu melibatkan dua hal: seorang penyunting yang
      percaya bahwa buku yang baik dapat dibuat lebih baik lagi, dan
      seorang penulis yang serius terhadap karyanya.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul makalah: Pelatihan Editor Kristen Indonesia
  Judul artikel: Editor Kristen Rindu Melayani
  Judul asli artikel: Servanthood and the Christian Editor
  Penulis: Judith Markham
  Penerjemah: Tim Bina Kasih
  Halaman: 6 -- 7

ARTIKEL NATAL_________________________________________________________

                          TIGA SIMBOL NATAL

  Ada tiga simbol yang berarti Natal -- yang benar-benar bermakna
  Natal.

  Yang pertama adalah buaian bayi. Dengan kata-kata yang mudah
  dipahami oleh manusia, Alkitab menggambarkan Tuhan dalam bentuk
  manusia dalam sosok seorang bayi kecil! Di sana, di Bethlehem, dalam
  buaian yang berisi harapan dan impian dunia yang sedang sekarat,
  tangan kecil dan montok yang mengenggam jerami dalam palungan-Nya
  itu akan menyembuhkan mata yang buta, telinga yang tuli, dan
  meredakan keganasan lautan; kaki-kaki kecil itu akan
  mengantarkan-Nya ke tempat mereka yang sedang sakit dan membutuhkan.
  Kaki-kaki itu juga yang akan dipaku di kayu salib Kalvari. Palungan
  di Bethlehem yang terpencil menjadi penghubung yang mengikat dunia
  yang terhilang kepada Tuhan yang penuh kasih.

  Yang kedua adalah salib. Memang ada cahaya dan bayangan saat Natal
  yang pertama. Ada sukacita yang diikuti kesedihan karena Yesus lahir
  untuk mati. Yesus mendekat ke salib dan berkata, "Untuk inilah Aku
  dilahirkan dan untuk alasan inilah Aku datang ke dunia." Bagi
  pengikut Kristus, sukacita Natal tidak terbatas pada kelahiran Yesus
  saja. Kematian dan kebangkitan-Nyalah yang memberi arti akan
  kelahiran-Nya. Karena hanya di salib itulah dunia memperoleh jawaban
  atas segala masalah yang menekan.

  Yang ketiga adalah mahkota. Yesus diberi mahkota duri dan
  ditempatkan pada salib yang kejam, namun sang pembunuh-Nya memang
  melakukan suatu hal yang ia sendiri tidak sadari. Mereka meletakkan
  tulisan di atas salib-Nya dalam bahasa Yunani, Latin, dan Ibrani:
  "Di sini disalibkan seorang Raja."

  Ya, Yesus adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan, dan Ia
  akan datang kembali pada suatu hari nanti. Ia tidak akan datang
  sebagai seorang bayi dalam palungan di Bethlehem lagi. Saat Ia
  kembali lagi ke dunia, Ia akan datang dengan penuh kemuliaan dan
  akan dimahkotai sebagai Allah atas segala allah.

  Buaian, salib, mahkota -- biarlah ketiga simbol ini berbicara kepada
  Anda. Biarlah kekuatan Allah yang menghampiri kita saat Natal
  mencengkeram Anda, dan yakinlah Ia pasti akan mengubah kehidupan
  Anda.

  "Mereka yang tidak memikul salib tidak berhak menerima mahkota."
  (Francis Quarles)

  Sumber:
  Judul buku: Guideposts Bagi Jiwa: Kisah-kisah Iman Natal
  Penulis: Billy Graham
  Penerbit: Gospel Press, Batam Centre 2006
  Halaman: 340 -- 342

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama situs: natal.sabda.org
  Alamat URL: http://natal.sabda.org/tiga_simbol_natal

POJOK BAHASA__________________________________________________________

                        ADITIF BUKAN TAMBAHAN

  Selalu saja ada orang yang melontarkan kritik bahwa penutur bahasa
  Indonesia lebih suka mengindonesiakan ejaan kata bahasa asing
  daripada memakai kata padanan "yang sama maknanya" dalam bahasa
  Indonesia. Beberapa kata yang dimaksud antara lain "aditif",
  "komparatif", atau "kumulatif". Ketiganya merupakan hasil
  penyesuaian ejaan dari kata-kata bahasa Inggris "additive",
  "comparative", dan "cumulative". Mengapa tidak mempergunakan kata
  "tambahan", "bandingan", dan "gabungan" saja?

  Kritik itu patut kita pertimbangkan hanya apabila kata-kata di atas
  benar sama hakikat dan maknanya. Apakah kata-kata "aditif" sama
  dengan "tambahan", "komparatif" sama dengan "bandingan", dan
  "kumulatif" sama dengan "gabungan"?

  Dua buah kata, yang satunya merupakan hasil penyesuaian ejaan dan
  yang lainnya merupakan padanan kata, dikatakan sama apabila makna
  keduanya bersesuaian dan kelas/kategori kata keduanya sama. Apabila
  digunakan, kedua kata dapat dipertukarkan. Jika kita mau cermat,
  kelas atau kategori kata justru lebih penting diperhatikan daripada
  makna, bila kita memperbandingkan dua buah kata.

  Dalam bahasa Inggris, kata "additive", "comparative", dan
  "cumulative" jelas kata sifat atau adjektiva, sebab akhiran "-ive"
  yang disandang kata-kata itu mencirikan kata sifat bahasa Inggris.
  Dengan demikian, bentuk-bentuk pengindonesiaan "aditif",
  "komparatif", dan "kumulatif" semestinya merupakan kata sifat pula.

  Pada sisi lain, kata-kata "tambahan", "bandingan", dan "gabungan"
  yang dimaksudkan sebagai padanan kata-kata "aditif, "komparatif",
  dan "kumulatif" sebenarnya bukan kata sifat, melainkan lebih tepat
  digolongkan sebagai kata keterangan atau adverbia. Kata kerja bahasa
  Indonesia, apabila diberi akhiran "-an" memang dapat berubah menjadi
  kata benda (contohnya, "baca" menjadi "bacaan", "makan" menjadi
  "makanan") atau keadaan (misalnya, "buat" menjadi "buatan", "pilih"
  menjadi "pilihan"), tetapi tidak bisa menjadi kata sifat.

  Dalam bahasa Indonesia, perbedaan mencolok antara kata sifat dengan
  kata lain, termasuk kata keadaan, adalah bahwa semua kata sifat
  dapat bertautan dengan kata sandang penunjuk derajat kualitas
  superior "paling". Mari kita uji. Kata "aditif", "komparatif", dan
  "kumulatif" dapat dipasangkan dengan kata "paling", sedangkan kata
  "tambahan", "bandingan", dan "gabungan" tidak. Kesimpulannya,
  "aditif, "komparatif", dan "kumulatif" tidak sama dengan "tambahan",
  "bandingan", dan "gabungan", teristimewa dalam hal kesejajaran kelas
  kata, sehingga tidak dapat dipertukarkan. Walaupun demikian, kata
  sifat maupun keterangan sama-sama dapat dipakai untuk menerangkan
  kata benda (contohnya, "zat aditif" - "zat tambahan", "studi
  komparatif" - "studi bandingan", "hasil kumulatif - "hasil
  gabungan").

  Setepat-tepatnya, "tambahan", "bandingan", dan "gabungan" boleh
  dianggap padanan terhadap kata-kata bahasa Inggris "additionally",
  "comparatively", dan "cumulatively" yang sama-sama tergolong kata
  keterangan.

  Perhatikan kalimat-kalimat berikut.

  * This content is additionally enrich that content.
  * Kandungan ini (secara) tambahan memperkaya kandungan itu.

  * Comparatively A is better than B.
  * Secara bandingan A lebih baik daripada B.

  * Count the scores cumulatively.
  * Hitung nilai-nilai secara gabungan.

  Kehadiran kata "secara" yang dalam beberapa terjemahan di atas
  bersifat mutlak menegaskan kata "tambahan", "bandingan", dan
  "gabungan" sebagai kata keterangan (cara). Sewaktu-waktu, apabila
  kita memakai kata sifat lain, seperti diskriminatif, interaktif,
  atau komunikatif, itu memang lantaran kita tidak (baca: belum)
  menemukan padanannya.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama majalah: Intisari Edisi No. 519 Oktober 2006
  Penulis: Lie Charlie
  Halaman: 94 -- 95
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Davida Welni Dana
Staf Redaksi: Sri Setyawati
Kontak redaksi/kirim bahan: penulis(at)sabda.org
Berlangganan: Kirim e-mail ke: subscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Berhenti: Kirim e-mail ke: unsubscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Arsip e-Penulis: http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
Situs PELITAKU: http://pelitaku.sabda.org/
Facebook: http://fb.sabda.org/penulis/
Forum Penulis: http://pelitaku.sabda.org/forum

Kunjungi Blog SABDA di http://blog.sabda.org
______________________________________________________________________
Melayani sejak 3 November 2004
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
Copyright(c) e-Penulis 2009 / YLSA -- http://www.ylsa.org/
Katalog SABDA: http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org