Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-penulis/1 |
|
![]() |
|
e-Penulis edisi 1 (26-10-2004)
|
|
<><=============================><>*<><============================><> ><><>< e-Penulis ><><>< (Menulis untuk Melayani) Edisi 001/Nopember/2004 <><================================================================><> MOTIVASI UNTUK MENULIS <><=============================><>*<><============================><> =#= DAFTAR ISI =#= * Dari Redaksi : Salam Kenal * Artikel : Motivasi untuk Menulis * Kesaksian : Menulis Menyelamatkan Hidup Saya * Pojok Bahasa : Penggunaan Huruf Kapital * Info dari "Christian Writer´s Club" <><=============================><>*<><============================><> =#= DARI REDAKSI =#= Salam Perkenalan! Puji syukur kepada Tuhan Yesus, oleh karena pertolongan-Nya, maka publikasi elektronik "e-Penulis" ini bisa terbit untuk memperlengkapi orang-orang Kristen yang gemar menulis. Kerinduan untuk menerbitkan Publikasi e-Penulis ini berawal dari keyakinan bahwa setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan untuk menulis. Namun, banyak yang tidak tahu bagaimana menulis dengan baik atau bagaimana membuat tulisannya menjadi berkat bagi orang lain sehingga memuliakan nama Tuhan. Oleh sebab itu, visi publikasi e-Penulis ini adalah untuk membuka wawasan para penulis Kristen, baik pemula atau yang sudah senior, untuk dapat mengenal pelayanan literatur Kristen dengan lebih baik. Selain itu, melalui wadah ini diharapkan mereka juga dapat melatih ketrampilannya di bidang tulis- menulis. Kiranya kerinduan kami ini mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat Kristen Indonesia. Karena itu, kami mengajak semua orang yang tertarik dalam bidang tulis-menulis untuk bergabung bersama dalam Milis Publikasi "e-Penulis". Mari kita saling berbagi ilmu dan pengalaman dan mengasah ketrampilan menulis kita untuk kemuliaan nama Tuhan. Sebagai persembahan perdana, Redaksi e-Penulis telah menyiapkan artikel yang akan menolong pembaca mengetahui apa yang seharusnya menjadi daya pendorong dalam menulis. Ketika seseorang bertanya kepada Anda, "Mengapa Menulis?", apa jawaban Anda? Kami harap, artikel yang disajikan di sini dapat menjadi perenungan bagi Anda yang sedang bergumul dengan pertanyaan tersebut. Kami juga ingin mengajak Anda untuk membaca kesaksian Caryn Mirriam Goldberg, Ph.D. tentang pengalamannya, bagaimana ia terjun dalam dunia penulisan. Sajian kami yang lain adalah Pojok Bahasa yang secara praktis mengulas tentang pemakaian huruf kapital sesuai dengan aturan EYD. Nah, selamat bergabung dengan Milis Publikasi "e-Penulis". Kiranya Tuhan akan terus memperjelas panggilan Anda untuk menulis, sehingga dapat menjadi berkat yang akan memuliakan nama-Nya. Tuhan memberkati! Tim Redaksi [Kami mohon maaf, oleh karena masalah teknis, maka Publikasi e-Penulis Edisi Perdana baru bisa diterbitkan pada awal Nopember 2004. Terima kasih atas perhatian dan pengertian Saudara.] <><=============================><>*<><============================><> =#= ARTIKEL =#= MOTIVASI UNTUK MENULIS ====================== Kata "motivasi" sering digunakan orang tanpa mengetahui arti yang sebenarnya. Padahal, kata ini sangat berkaitan dengan penulisan. Oleh karena itu, coba kita perhatikan apakah arti kata motivasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Menurut kamus ini, "Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu; atau usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya." Pengertian yang diberikan dalam kamus ini cukup memadai untuk mendukung pembicaraan dalam tulisan ini. Banyak orang menulis karena dorongan sesuatu yang kurang jelas baginya, yang secara sadar atau tidak sadar, merekam dorongan hatinya dalam bentuk tulisan. Dorongan yang kuat dan tidak terbendung itu adalah modal utama bagi seorang penulis yang ingin berhasil untuk menuangkan buah pikirannya. Tanpa dorongan itu, hasilnya kurang memuaskan. Tetapi bila dorongan yang kuat itu diwujudkan untuk mengejar kepuasan batiniah, dilahirkan dalam bentuk yang diinginkan, maka kepuasan yang tiada taranya akan diperoleh. Dorongan itu diperoleh mungkin secara tiba-tiba, mungkin pula secara kebetulan karena terlibat dalam percakapan atau ketika membaca sebuah buku, atau mendengarkan sebuah kabar yang menarik. Ada sesuatu yang mendesak-desak dalam dadanya yang hendak dicetuskan, suatu kobaran yang tidak terbendung. Dan seorang penulis yang sudah "jadi" akan memanfaatkan kesempatan ini untuk melahirkan karyanya. Tidaklah mengherankan apabila ia dapat menuliskan karyanya dalam tempo yang relatif "singkat". Dadanya serasa sesak dan tangannya bergerak dengan lincah di atas mesin ketik. Segalanya terasa berjalan dengan mudah dan lancar, hanya karena adanya suatu motivasi yang kuat di dalam dirinya. Jika motivasinya bersifat religius, maka "Injil" yang dianggap ´Kabar Baik´ itu akan mendesaknya untuk memberitakan-Nya kepada orang lain yang belum pernah mendengar. Ia tidak akan pernah dapat tidur nyenyak sebelum ia mencurahkan kabar baik itu dari dalam hati dan pikirannya. Ia akan menuliskan pesan yang mengetuk hatinya, dalam bentuk artikel. Suatu rasa puas yang luar biasa akan dirasakannya setelah melihat tulisan atau artikel itu muncul dalam majalah. Di sini ada sesuatu yang mendorongnya, dorongan untuk menuliskan kabar Injil, sesuatu berita baik yang mendatangkan kebahagiaan kepada orang lain. Tetapi ada juga orang yang terdorong menulis sebuah artikel karena uang. Pengharapan yang diletakkannya di depan ialah uang, setiap kali ia menyelesaikan bagian demi bagian dari tulisannya, ia mengharapkan tulisannya segera selesai, karena tidak lama lagi ia akan mendapatkan uang sebagai imbalannya. Maka pikirannya dipenuhi dengan uang. Pada umumnya, dorongan seperti ini tidak mendatangkan hasil yang memuaskan. Ia cenderung menulis dengan cepat hanya sekedar untuk memperoleh imbalan. Berbeda dengan dorongan "Injil" yang dikatakan di atas, yang membuat orang meletakkan pengharapan di depan, kepuasan batin karena orang lain akan memperoleh berita keselamatan. Kita tahu bahwa uang memang penting, tetapi uang bukan tujuan utama. Uang adalah imbalan yang menyusul kemudian. Yang diutamakan ialah penyampaian ide dan sesuatu yang amat berharga bagi sesama. David E. Hensley menyebutkan empat kata yang penting untuk diingat dan diperhatikan oleh seorang penulis atau calon penulis. Keempat kata itu adalah sikap, perspektif, disiplin, dan visi. Keempat kata itu sangat erat kaitannya dengan motivasi dalam penulisan. Berikut ini saya akan menjabarkan pemikiran yang disampaikannya itu. 1. Sikap -------- Seorang penulis ataupun pemula harus memiliki keyakinan atas kerja ataupun karya yang digarapnya. Ia harus memiliki suatu sikap tertentu yang jelas dan unik. Ibarat fisik penulis itu sendiri, ia bisa saja memiliki organ yang serupa dengan organ tubuh orang lain, tetapi yang jelas, ia berbeda dari siapa pun. Ia tidak akan pernah sama dengan orang lain. Tuhan telah menciptakan manusia dalam wujud yang unik. Ia tidak sama dengan orang lain, dan orang lain tidak sama dengan dia. Ia merupakan suatu unikum. Setiap individu adalah unik, memiliki ciri kepribadian sendiri; dan karena itu, memiliki sikap hidup yang jelas dan berbeda dari corak yang dimiliki orang lain. Di dalam berkarya pun ia harus bersikap demikian. Ia memiliki sikap hidup yang telah terbentuk. Sebagai orang Kristen, ia memiliki sikap hidup yang tidak dapat ditawar-tawar. Sikap hidup yang unik inilah yang melahirkan karya yang unik pula, karya yang memiliki corak yang Kristiani. Ia dapat melakukan sesuatu yang mungkin tidak dapat dilakukan orang lain, tentu dengan caranya sendiri. Karena hal ini telah menjadi bagian dari hidupnya, maka sadar atau tidak sadar, sikapnya akan tampak dalam karya-karyanya. Keyakinannya memberi warna pada karyanya, suatu unikum yang tidak dimiliki orang lain. Barangkali, sikap ini memberi warna yang dominan bagi karya-karyanya, karena apa yang dihayatinya, itulah yang diungkapkannya. Karya yang unik dan mandiri itu senantiasa menunjukkan kesegarannya. Ia memiliki nafas yang menghidupi setiap gerak-geriknya. Orang yang membacanya akan hanyut di dalam sajiannya! Para editor pada umumnya menginginkan naskah yang demikian. 2. Perspektif ------------- Seorang penulis pemula harus memiliki stamina. Ia harus menjadi pembaca yang baik, yang sanggup merendahkan hati untuk berguru kepada orang lain, lingkungan, dan pengetahuan. Ia memiliki pandangan yang jauh ke depan. Ibarat sebatang pohon, ia tidak tumbuh dalam satu malam saja lantas berbuah. Pohon itu tumbuh dari benih, mengalami proses pertumbuhan alami, melalui deraan hujan dan terik matahari. Mungkin juga tiupan badai akan mengukuhkan akarnya sehingga menukik ke dalam tanah untuk mempertahankan pertumbuhannya. Tahun demi tahun tantangan itu dihadapi, sampai akhirnya dahan- dahannya mengeluarkan buah. Tidak semua buahnya matang dengan sempurna, sebagian mungkin gugur sebelum waktunya, sebagian lagi dimakan burung, serangga, ulat, atau dijolok oleh anak-anak. Yang hanya sisa sebagian saja, itulah yang mendatangkan kebahagiaan bagi pemiliknya yang berusaha keras memeliharanya! Penulis pemula tidak memandang naskah-naskah yang dikembalikan redaksi sebagai suatu penolakan terhadap dirinya. Redaksi atau editor naskah, editor artikel, dan sebagainya, menolak sebuah naskah yang terdiri dari beberapa halaman yang ada di atas mejanya. Ia tidak pernah berpikir untuk menolak penulisnya! Surat ataupun kartu penolakan adalah sesuatu yang lumrah, apalagi bagi penulis pemula. Ada yang menganggapnya sebagai tangga untuk meraih sukses. Abraham Lincoln meraih tangga sukses melalui kegagalan yang bertubi- tubi. Untuk menjadi senator saja, ia harus berjuang mati-matian, dikalahkan berulang-ulang, sampai akhirnya ia menjadi presiden Amerika Serikat! Kartu penolakan naskah adalah jenjang pertama menuju sukses! Orang lain mengatakan bahwa kegagalan adalah langkah praktis menuju sukses. Atau ada pula yang mengatakan bahwa kegagalan itu bagaikan tonjolan-tonjolan batu di bukit karang terjal, tanpa tonjolan batu itu, pendaki tidak mungkin dapat mendakinya. Bukankah banyak dari antara penulis yang menerima hadiah Nobel semula menerima kartu penolakan dan pengembalian naskah? Seandainya artikel Anda dikembalikan, anggaplah bahwa editornya memiliki naskah yang cukup di mejanya mengenai bidang itu. Oleh karena itu, garaplah bidang yang lain yang mungkin belum ditulis orang atau belum banyak di dalam persediaan editor. Kadang-kadang, ada juga editor yang sedang kebingungan, lalu ia menolak naskah apa saja yang datang ke mejanya pada hari ia dongkol itu! Penolakan kecil adalah bagian dari proses perkembangan. Tetaplah memiliki tekad yang membara. Jangan berharap memperoleh imbalan yang cepat pada awal karier. Penulis, pada awal karier penulisannya, menulis hampir sepuluh tahun di pelbagai media massa tanpa memperoleh imbalan satu sen pun. Setiap kali honorarium diminta, selalu tidak mendapat jawaban dari redaksinya. Entah mengapa, penulis tidak tahu. Padahal media massa itu bukanlah milik sebuah perusahaan. Namun, sikap mereka tetap satu: membisu setiap kali honorarium diminta! Setelah tahun kesebelas, penulis baru mendapat imbalan. Imbalan itu datang dengan sendirinya, setelah merasa bahwa menulis bukanlah untuk memperoleh uang. Entah mengapa, situasi itu bagaikan koor saja! Editor dan staf redaksi adalah manusia juga. Stamina memang diperlukan. 3. Disiplin ----------- Seorang penulis sejak mengangkat penanya, berkenalan dengan teknik dan disiplin. Ia memegang pena, atau menekan tuts mesin ketik. Semua alat itu sudah didisiplinkan dan dimekaniskan. Pelakunya harus mengenal disiplin yang berkaitan dengan benda itu. Apalagi penulis sudah menuliskan kalimat. Maka ia pun berkenalan dengan disiplin lain, konvensi dan lambang-lambang huruf. Ia mulai "mempermainkan" huruf dalam batas-batas pengertian. Ia memberi makna kepada huruf. Ia harus mengetahui aturan, struktur kalimat, dan bentuk-bentuk yang berkaitan dengan itu. Apa yang terkandung dalam benaknya diungkapkan melalui alat yang memiliki disiplin itu! Penulis yang baik, sejak awal menggoreskan penanya sudah harus menyiapkan diri dengan disiplin penulisan. Ia harus menjadi pembaca yang setia dan mengenal tanda-tanda baca. Orang yang menghadiri pertemuan-pertemuan, seminar-seminar penulisan, dan penataran- penataran, jika tidak mempraktikkannya tidak akan memperoleh manfaat daripadanya. Orang yang menghadiri pertemuan seperti itu cenderung menganggap dirinya penulis atau pengarang, namun tidak pernah menulis. Hal yang demikian adalah lamunan kosong belaka. Orang yang tidak mengenal disiplin tidak akan memperoleh imbalan sama sekali! Langkah-langkah yang ditempuhnya tidak akan beraturan dan hasilnya pun tidak akan memuaskan. 4. Visi ------- Seorang penulis Kristen harus memiliki visi, yaitu suatu kemampuan untuk memandang jauh ke depan dengan mengetahui apa yang sudah terjadi. Ini menyangkut daya nalar dan daya khayal. Raja Salomo pernah berkata, "Jika tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat" (Amsal 29:18). Menulis bagi seorang Kristen berarti memiliki misi tertentu yang membentuk visinya. Bobot tulisannya diresapi oleh tujuan misi tersebut. Berangkat dari situlah, ia mengembangkan kemampuannya untuk mencapai target yang paling luhur: menyampaikan berita keselamatan. Orang yang memiliki visi akan mempunyai pengharapan. Orang yang memiliki pengharapan akan memiliki tujuan, dan orang yang memiliki tujuan yang luhur akan memandang jauh ke depan kepada sebuah cita- cita yang tinggi, memuliakan Tuhan dan meluhurkan jiwa manusia di dunia yang fana ini. Karena ada visi, maka manusia memiliki kreativitas. Manusia yang kreatif akan senantiasa mencari kebaruan yang membahagiakan manusia. Bahan dikutip dari sumber: Judul Buku : Bagaimana Menjadi Penulis Artikel Kristiani yang Sukses Judul Artikel: Motivasi untuk Menulis Penulis : Drs. Wilson Nadeak Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1989 Halaman : 16 - 23 <><=============================><>*<><============================><> =#= KESAKSIAN =#= Mengapa menulis? Apakah menulis memberikan manfaat? Kesaksian dari Caryn Mirriam Goldberg, Ph.D. berikut ini membantu kita untuk melihat bagaimana menulis bisa menjadi pusat hidupnya. Dikatakannya bahwa menulis menyelamatkan hidupnya, ..... apakah juga mungkin dapat menyelamatkan hidup Anda?? Selamat membaca! MENULIS MENYELAMATKAN HIDUP SAYA ================================ "Saya berusia empat belas tahun sewaktu duduk di tangga beton di depan apartemen sahabat karib saya yang segera akan menjadi mantan sahabat saya. Kami baru saja bertengkar hebat. Lomba berteriak ini akan mengakhiri persahabatan pertama saya, dan sampai saat itu, itulah satu-satunya persahabatan dalam hidup saya. Di rumah, kedua orangtua saya menghadapi perceraian terburuk abad ini, (begitulah pikir saya) telah membuat batas dengan membagi dua rumah kami, dan saya tidak yakin harus berada di sisi mana. Saya pikir, hidup saya hancur, dan saya tidak tahu harus berbuat apa." "Maka saya pun mulai menulis." Puisi pertama saya, tidak mengherankan, yaitu tentang bagaimana seseorang dapat berubah menjadi sangat kejam. Begitu pula dengan puisi saya yang kedua dan yang ketiga. Namun, dalam proses memegang pena dan menuntunnya maju mundur di atas setiap baris, saya mulai merasakan adanya suatu harapan. Saya mulai merasa ketakutan saya berkurang, tidak terlalu merasa sendiri. Saya menyukai perasaan ini, maka saya pun terus menulis. Selama dua puluh lima tahun terakhir, saya terus menulis -- kadang- kadang cepat dan tidak rapi, kadang selambat lalu lintas yang macet. Kini, saya punya rak-rak yang dipenuhi catatan harian, dan laci-laci yang dipenuhi puisi, esai, cerita, dan surat-surat. Menulis telah menjadi pusat hidup saya melebihi segala yang saya ketahui tentang diri saya sendiri dan dunia, bagaikan debar jantung di seluruh tubuh, membawa saya berulang-ulang pada kekosongan halaman dan kebutuhan untuk mengisinya. Menulis telah menyelamatkan hidup saya. Saya percaya, dengan menuangkan pikiran, puisi, dan cerita kadang berjam-jam setiap harinya, mencegah saya terlalu banyak berpikir untuk bunuh diri di saat-saat sulit dan sedih. Sebagai seorang remaja, saya bertanya-tanya, apakah saya layak hidup, dan menulis membantu saya memahami luka hati saya. Saat menulis, saya dapat mengumpulkan ketakutan dan emosi saya yang meluap-luap di atas kertas, menciptakan semacam cermin. Cermin ini menunjukkan mengapa saya merasa seperti yang saya rasakan, di mana saya sebelumnya berada, di mana saya pernah berada, dan bahkan ke mana saya mungkin pergi selanjutnya. Saya adalah salah satu siswa yang menerima catatan dalam rapor, "Dapat meraih prestasi lebih baik, seandainya lebih berkonsentrasi dan tidak terlalu banyak melamun." Meskipun saya tidak pernah belajar berkonsentrasi tanpa melamun, namun menulis membantu saya untuk berkonsentrasi dengan menunjukkan kepada saya mengenai cara melamun yang lebih baik -- dan di atas kertas. Cerita-cerita dan puisi-puisi saya menunjukkan bahwa saya benar-benar dapat memercayai diri sendiri dan mimpi-mimpi saya. Menulis juga membantu saya dalam memahami banyak mata pelajaran di sekolah, memungkinkan saya menyuarakan perasaan saya, tentang apa yang saya pelajari dalam pelajaran filsafat, sejarah, dan lainnya. Dalam kehidupan keluarga, menulis menunjukkan saya, sekilas, bahwa saya baik-baik saja. Saya banyak menulis tentang keluarga saya, bagaimana mereka berperilaku dan bagaimana saya menanggapinya. Sering saya tidak mengetahui apa yang sesungguhnya saya rasakan sampai saya mulai menulis. Kata-kata yang saya coretkan mencegah saya untuk merasa tidak berdaya, mencegah saya menutup diri dari dunia. Menulis, ketika itu dan sekarang, membantu saya merasakan- kadang-kadang sakit, sering kebingungan, selalu bimbang, dan sekali- sekali benar-benar gembira. Menulis membuka hati saya, dan dalam prosesnya, saya mulai menemukan diri saya sendiri. Menulis juga menyelamatkan hidup saya dalam hal ... kesempatan untuk terus menulis. Ia memberi saya cara membuat sesuatu yang terasa kreatif dan hidup -- sesuatu dengan daging dan tulang dan darah yang mungkin hidup dengan sendirinya, seperti monster Dr. Frankenstein. Yang terpenting, menulis membawa saya pulang. Saat mengisi catatan harian, saya merasa hidup ini berarti. Saya merasa menjadi bagian dari halaman-halaman kertas itu dan merasa diterima di sana. Tak seorang pun dapat merebut perasaan ini dari saya. Bahan dikutip dari sumber: Judul Buku : Daripada Bete Nulis Aja Judul Artikel : Menulis Menyelamatkan Hidup Saya Penulis : Caryn Mirriam-Golberg, Ph.D. Penerbit : Kaifa Halaman : 17 - 18 <><=============================><>*<><============================><> =#= POJOK BAHASA =#= PENGGUNAAN HURUF KAPITAL ======================== Huruf kapital (huruf besar) dipakai sebagai huruf pertama dalam: 1. Petikan langsung. Contoh: Andi berkata, "Lihat Bu, apa yang telah saya buat di sekolah.", 2. Dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan. Contoh: - Sejauh mana Anda sudah mengenal Alkitab? - Ia mengasihi umat-Nya sedemikian rupa, sehingga Ia rela mengorbankan nyawa-Nya untuk mereka. 3. Nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. Contoh: Rasul Paulus, Nabi Musa, Raden Ajeng Kartini dan sebagainya. 4. Unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Contoh: Presiden Megawati, Wakil Presiden Hamzah Haz, Sekretaris Jendral Pertanian, Gubernur Irian Jaya, dan sebagainya. 5. Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Contoh: bangsa Indonesia, suku Jawa, bahasa Inggris, dan sebagainya. 6. Nama hari, bulan, tahun, hari raya, dan peristiwa sejarah. Contoh: hari Senin, bulan Agustus, tahun Hijriah, hari Natal, Perang Padri, dan sebagainya. 7. Nama geografi. Contoh: Asia Tenggara, Bukit Barisan, Jalan Diponegoro, dan sebagainya. 8. Semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi. Contoh: Republik Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 9. Setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Contoh: Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, dan sebagainya. 10. Semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal. Contoh: Ia telah menyelesaikan Asas-Asas Hukum Perdata. 11. Unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Contoh: Dr. (doktor), S.S. (sarjana sastra), Prof. (profesor), dan sebagainya. 12. Kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti ´bapak, ibu, saudara, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan. Contoh: - Surat Saudara sudah saya terima. - Besok Paman akan datang. 13. Kata ganti Anda. Contoh: Jangan menaruh barang-barang Anda di meja ini. Bahan diedit dari sumber: Judul Buku : Berbahasa Indonesia dengan Benar Penulis : Dendy Sugono Penerbit : Puspaswara, Jakarta, 1994 Halaman : 236 - 241 <><=============================><>*<><============================><> =#= INFO DARI "CHRISTIAN WRITER´S CLUB" =#= Bersamaan dengan terbitnya Publikasi Elektronik e-Penulis, Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) juga menyediakan wadah dimana diharapkan dapat terbentuk komunitas bagi para penulis Kristen. Dalam wadah ini para anggota yang tergabung dapat saling berbagi visi, pengalaman dan pengetahuan. Wadah ini adalah sebuah situs yang diberi nama "Christian Writer´s Club", di alamat: ==> http://www.ylsa.org/cw/ Bagi Anda yang telah menjadi anggota Milis e-Penulis, mari berkunjung ke "Christian Writers´ Club" untuk saling berkenalan dan saling menyapa. Kami juga akan senang sekali memuat kiriman Anda yang berupa kesaksian, khususnya tentang pengalaman Anda dalam mengembangkan talenta tulis-menulis. Nah, selamat berjumpa di CWC! <><=============================><>*<><============================><> Staf Redaksi: Tessa, Krist, Dhono, dan Puji Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: subscribe-i-kan-penulis@xc.org Berhenti : Kirim e-mail kosong ke: unsubscribe-i-kan-penulis@xc.org Kirim bahan : Kirim e-mail ke <staf-penulis@sabda.org> Arsip e-Penulis: http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/ <><=============================><>*<><============================><> Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA. Didistribusikan melalui sistem network I-KAN. Copyright(c) e-Penulis 2004 YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/ <><=============================><>*<><============================><>
|
|
![]() |
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |