Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/212

e-Leadership edisi 212 (15-5-2018)

Membangun Kerja Sama Antarpemimpin (I)

Membangun Kerja Sama Antarpemimpin (I) -- Edisi 212/Mei 2018
 
Membangun Kerja Sama Antarpemimpin (I)
Edisi 212,15 Mei 2018
 
e-Leadership

Salam kasih,

Sebagai seorang pemimpin, kita memang harus bertanggung jawab kepada orang-orang yang kita pimpin. Tanggung jawab itu memang sepenuhnya milik kita, tetapi tidak ada salahnya jika kita berbagi beban kita dengan orang lain. Seperti Musa yang atas nasihat Yitro akhirnya mau membagikan "bebannya", demikian juga kita harusnya mau membagikan beban kita kepada orang lain. Berbagi beban bukan berarti bahwa kita bisa beristirahat dan berleha-leha, sebaliknya kita harus bisa mencapai hal yang lebih besar. Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain untuk mencapai hal-hal yang lebih besar.

Pada edisi kali ini, Anda dapat menyimak artikel tentang pendakian di Pegunungan Himalaya dan cerita dari seorang pilot Amerika tentang pentingnya kerja sama dalam suatu tim. Tuhan memberkati.

Ariel

Pemimpin Redaksi e-Leadership,
Ariel

 
“Sebab, Aku telah memberikan contoh kepadamu supaya kamu juga melakukan seperti yang Aku lakukan kepadamu.” (Yohanes 13:15, AYT)
 

ARTIKEL Orang Lain Adalah Sumber supaya Seorang Pemimpin Mencapai Hal yang Lebih Besar

Pada 22 April 2010, saya tiba di Pokhara, Nepal. Kepada teman saya, Hom Tamang, seorang Gurkha, saya telah menyampaikan keinginan untuk melakukan perjalanan mendaki salah satu kaki gunung di barisan Himalaya. Ia tersenyum, dan menawarkan suatu perjalanan menyusuri desa-desa di kaki Himalaya yang dapat dilakukan dalam tiga hari. Saya menyetujui hal itu, tetapi ia tiba-tiba menawarkan kemungkinan lain untuk mencoba mendaki lereng Himalaya, ke arah Poon Hill melalui Ghorepani dalam tim yang terdiri dari dua orang, yaitu saya dan keponakannya. Menurut banyak orang, tracking di sana terasa mudah pada hari pertama, tetapi jalur pada hari kedua terkenal sulit karena terus-menerus mendaki selama tujuh jam. Mengingat pengalaman menelusuri bukit-bukit di Puncak, Bromo, Sibayak, serta Semeru, saya memutuskan untuk memilih melakukan hal yang menantang itu karena mengira bahwa modal saya cukup kuat.

Gambar: Naik gunung

Dalam tiga jam pertama saja, saya sudah mulai mempertanyakan akal sehat saya untuk menjadi anggota tim dua orang ini. Bahkan, seorang yang masih berusia 23 tahun belum tentu sanggup berjalan cepat dan mendaki terus-menerus di bawah hujan. Apalagi, perut saya berkali-kali melilit akibat diisi kari dan Coca-Cola. Sementara itu, keponakan teman saya yang bernama Raju sebagai pemandu melangkah seakan berada di mal yang datar. Raju adalah ketua komisi pemuda di gerejanya.

Syukurlah ... pada pukul 18.00, saya tiba di penginapan, dan langsung tidur. Dalam benak saya, saya berkata lagi, bila jujur pada hari kedua disebut akan lebih sulit dibandingkan hari pertama, akan bagaimanakah beratnya tantangan itu?

Pada hari kedua, kesengsaraan yang ada jauh melebihi siksaan pada hari pertama. Dari pukul 06.30 pagi, kecuraman pendakian mendekati 60 derajat. Jalan tanah tertutup dengan lempengan batu yang indah seperti marmer dan batu jane. Namun, setiap kali mengangkat badan, otot perut harus bekerja keras. Lebih gila lagi, Raju, sang Ghurka berusia 20 tahun, sambil terus-menerus bernyanyi Silent Night maju dengan kecepatan seorang kepala kantor mengejar gajinya ... dan semakin lama ia semakin cepat. Himbauan agar ia memperlambat langkahnya hanya dijawab, "Kita hampir sampai, sedikit lagi." Dengan terengah-engah, sedikit pusing, perut hampir kejang, dan kaki pegal, saya maju mencoba mengejarnya. Akhirnya, setelah sejam terlambat dari jadwal, kami berhasil tiba di tempat tujuan.

Saya yakin bahwa bila saya berjalan sendiri, saya tidak sanggup dan termotivasi melanjutkan langkah saya, apalagi sewaktu menembus hutan yang gelap berjam-jam. Raju, rekan dalam tim pendakian saya itu membuat saya mencapai hal yang sewajarnya tidak akan mungkin saya lakukan. Ia menghibur saya dengan berbagai cerita, celoteh, teka-teki, nyanyian, dan penjelasannya mengenai budaya setempat untuk mengatasi kesengsaraan dan mencapai tempat setinggi Poon Hill. Yang terutama, ia berhasil membuat saya terinspirasi dengan cerita bahwa banyak orang yang sudah setua saya pun masih melakukan pendakian yang lebih spektakuler, dan berhasil.

Gambar: Menuju puncak

Dalam perjalanan pulang pada hari keempat, giliran saya banyak berbicara kepada dirinya. Ia bermimpi menjadi seorang pemandu gunung profesional. Namun, untuk mendapatkan sertifikat dan mengikuti kursus pemandu, ia tidak memiliki dana untuk membiayai kursus itu. Nilainya setara dengan uang satu juta rupiah, yang wajarnya bagi seorang Indonesia merupakan jumlah uang yang dapat dijangkau.

Sepanjang perjalanan, ia menanyakan banyak hal tentang anak-anak muda seusianya di Indonesia. Akhirnya, saya bertanya, bila ada seorang yang bersedia memberikan padanya seratus dolar Amerika, apakah ia akan mengambil kursus untuk mendapatkan sertifikat yang ia impikan. Wajahnya bersinar, dan ia menjawab, "Tentu saja!" Lima hari kemudian, ia mulai mencari kursus yang ia inginkan setelah dana yang dibutuhkan sudah tiba dari seorang donatur Indonesia. Ketika kemudian kami berpisah sesudah kami mendaki bersama selama empat hari, kami menyadari bahwa masing-masing dari kami mendapatkan berkat yang berharga.

Keempat aspek dari peran orang lain bagi diri kita membuat saya mengingat cerita Musa yang begitu mengesankan. Walaupun ia telah dipilih dan diutus Tuhan untuk membebaskan bangsanya dari perbudakan Mesir, Musa jugalah yang kemudian menjadi seorang yang memimpin bangsanya dengan amat lamban. Di bawah pimpinannya, mula-mula bangsa Israel, yang sudah berhasil meninggalkan Mesir, tidak dapat maju dengan kecepatan yang seharusnya. Mengapa? Karena Musa membuat dirinya menjadi pusat kehidupan bangsanya. Syukurlah, kehadiran dan kata-kata Yitro mengubah dirinya, dan melalui perubahan Musa, terjadi perubahan potensi bangsa Israel. Mereka dapat maju dengan kecepatan yang lebih tinggi menuju Kanaan.

Audio Orang Lain adalah Sumber

Diambil dari:
Judul buku : Kamu Juga Meraih! Cara Meraih Mitra dan Menghasilkan Kerjasama
Judul asli artikel : Orang Lain Adalah Sumber supaya Seorang Pemimpin Mencapai Hal yang Lebih Besar
Penulis : Robby I. Chandra
Penerbit : Young Leaders Indonesia, Jakarta 2011
Halaman : 92 -- 95
 

KUTIPAN

“Tak ada masalah yang tak dapat diatasi. Dengan sedikit keberanian, kerja sama, dan tekad, seseorang dapat mengatasi apa pun.” B. Dorge
 

INSPIRASI Pendaratan yang Mulus

Gambar: Pesawat tempur

Tidak seorangpun lebih sadar akan pentingnya kerjasama daripada seorang pilot pesawat tempur. Ambillah, umpamanya, Charlie Plumb. Setiap pilot sangat sadar akan upaya tim yang dibutuhkan untuk meluncurkan sebuah jet ke udara. Dibutuhkan ratusan orang menggunakan lusinan keahlian teknis untuk meluncurkan, memantau, mendukung, mendaratkan, dan memelihara sebuah pesawat. Bahkan, lebih banyak lagi yang dilibatkan kalau pesawat tersebut dipersenjatai untuk bertempur. Charlie Plumb, seorang lulusan Annapolis yang bertugas di Vietnam pada pertengahan tahun enam puluhan, dan akhirnya pensiun sebagai kapten, jelas sadar bahwa ada banyak orang yang tiada lelahnya bekerja untuk membuatnya dapat terbang. Akan tetapi, terlepas dari upaya-upaya kelompok pendukung udara yang paling terlatihpun di dunia, Plumb menemukan dirinya di penjara Vietnam Utara sebagai tawanan perang setelah jet F-4 Phantomnya tertembak jatuh pada 19 Mei 1967 dalam misinya yang ke-75.

Plumb ditahan selama enam tahun penuh, antara lain di Hanoi Hilton yang terkenal mengerikan itu. Selama tahun-tahun itu, ia dengan sesama tahanan lainnya dihina, dibiarkan kelaparan, disiksa, dan dipaksa hidup dalam kondisi-kondisi yang tidak layak. Akan tetapi, pengalaman tersebut tidaklah mematahkan semangat Plumb. Sekarang, Plumb berkata, "Kesatuan kami lewat iman kami kepada Allah dan kecintaan kami kepada negara kamilah yang menjadi kekuatan besar, yang membuat kami bertahan pada masa-masa sulit itu."

Plumb dibebaskan dari penjara pada 18 Februari 1973, dan melanjutkan kariernya di Angkatan Laut. Akan tetapi, suatu insiden bertahun-tahun setelah ia kembali ke Amerika Serikat menandai kehidupannya sama pastinya seperti pengalamannya di penjara itu. Pada suatu hari, ia dan isterinya, Cathy, sedang makan di restoran ketika seorang pria datang ke mejanya, dan berkata, "Anda Plumb, bukan? Anda menerbangkan pesawat tempur di Vietnam."

"Benar," kata Plumb.

"Skuadron tempur 114 di atas Kitty Hawk. Anda tertembak jatuh. Anda terjun dengan parasut ke dalam tangan musuh," kata pria ini. "Anda menghabiskan enam tahun sebagai tawanan perang."

Mantan pilot inipun terkejut. Ia memandangi pria ini, berusaha mengenalinya, tetapi tidak bisa. "Bagaimana Anda tahu?" tanya Plumb.

"Sayalah yang mengemas parasut Anda."

Plumb tersentak. Yang dapat ia perbuat hanyalah bangkit berdiri dan menjabat tangan pria ini. "Harus saya katakan," kata Plumb, "bahwa saya telah memanjatkan banyak doa syukur atas pekerjaan tangan Anda, tetapi tidak saya sangka bahwa saya akan berkesempatan mengucapkan terima kasih secara langsung."

Gambar: Kerjasama

Sekarang, Plumb menjadi pembicara motivasional bagi perusahaan-perusahaan yang terdaftar dalam Fortune 500, aparat pemerintahan, dan organisasi lainnya. Ia sering menceritakan kisah tentang pria yang mengemas parasutnya, dan ia menggunakan itu untuk menyampaikan pesan tentang kerja sama. Katanya, "Di dunia tempat perampingan perusahaan memaksa kita berprestasi dengan lebih sedikit tenaga kerja, kita harus memberdayakan tim. 'Mengemas parasut sesama' mungkin saja sangat membuat perbedaan dalam keselamatan Anda ataupun keselamatan tim Anda!"

Diambil dari:
Judul asli buku : Teamwork Makes the Dream Work
Judul buku terjemahan : Kerja Sama Membuat Impian Menjadi Kenyataan
Penulis : John C. Maxwell
Penerjemah : Drs. Arvin Saputra
Penerbit : Interaksara, Batam 2003
Halaman : 27 -- 29
 
Stop Press! Situs Kamus SABDA

Kesulitan untuk mengetahui arti suatu kata tak lagi menjadi tantangan bagi kita. Sebab, situs kamus SABDA menjadi solusinya.

Situs Kamus SABDA

Melalui situs Kamus SABDA, kita bisa belajar tentang jenis kata, arti kata, keluarga kata, bahkan menyelidiki kata-kata tertentu sehingga kita bisa mengetahui maknanya dan bisa memahami penggunaan sebuah kata dengan tepat. Situs Kamus SABDA menyajikan empat jenis kamus dalam bahasa Indonesia, yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Seasite, Kamus Thesaurus, dan Kamus Indonesia; dan dalam bahasa Inggris terbagi menjadi Wordnet Dictionary, Cide Dictionary, Oxford Dictionary, Devil Dictionary, Thesaurus, dan Roget Thesaurus. Situs ini juga bisa Anda akses melalui mobile. Silakan berkunjung ke situs Kamus SABDA dan bagikan berkat-Nya!

Kunjungi sekarang juga
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-Leadership.
leadership@sabda.org
e-Leadership
@sabdaleadership
Redaksi: Ariel, Aji, dan Santi T.
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2018 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org