Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-leadership/205

e-Leadership edisi 205 (17-10-2017)

Pelajaran Kepemimpinan dari Musa (II)

Pelajaran Kepemimpinan dari Musa (II) -- Edisi 205/Oktober 2017
 
Pelajaran Kepemimpinan dari Musa (II)
Edisi 205, 17 Oktober 2017
 
e-Leadership

Salam kasih,

Ketika seseorang memimpin, dan sedang dalam kondisi kehidupan yang sulit, ia memerlukan keterampilan khusus dan kebijaksanaan dalam bertindak. Seorang pemimpin yang efektif pasti bisa memimpin dengan baik meski dalam masa-masa sulit. Namun, bagaimana kita melatih diri supaya bisa tetap memimpin dengan baik pada masa-masa sulit? Mari kita belajar dari Musa, yang harus memimpin umat Israel meski dalam kondisi kehidupan yang sangat sulit dan dalam kurun waktu yang lama. Kiranya kita bisa mendapatkan pelajaran berharga untuk menolong kepemimpinan kita. Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati.

Santi T.

Pemimpin Redaksi e-Leadership,
Santi T.

 
"Siapa pun yang setia dalam hal-hal yang kecil, ia juga setia dalam hal-hal yang besar. Dan, siapa pun yang tidak jujur dalam hal-hal yang kecil, ia juga tidak jujur dalam hal-hal yang besar." (Lukas 16:10, AYT)
 

TIP Memimpin Seperti Musa

Dalam keluarga yang tidak sehat di mana relasi suami-istri buruk, masalah anak yang sekecil apa pun berpotensi untuk berkembang akibat tidak adanya kerangka yang dapat menahan lajunya perkembangan masalah. Itu sebabnya, peran pemimpin sangatlah penting. Di setiap organisasi bisa saja timbul masalah dan di setiap organisasi akan ada anggotanya yang memiliki keunikan serta berpotensi bermasalah. Namun, jika pemimpin berfungsi dengan efektif, masalah akan dapat ditangani dengan segera dan sehat. Musa harus memimpin umat Israel dalam kondisi kehidupan yang sangat sulit dan untuk kurun waktu yang panjang. Ada baiknya kita menimba pelajaran dari pengalaman Musa ini.

1. Adanya Panggilan

Gambar: Musa dipanggil oleh Allah

Tuhan memanggil Musa dan mengutusnya untuk memimpin Israel keluar dari Mesir, "Jadi sekarang pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." (Keluaran 3:10) Di sini, kita bisa melihat bahwa kepemimpinan Musa berawal dari panggilan Tuhan. Empat puluh tahun sebelumnya, Musa mencoba menyelamatkan bangsanya. Namun, itu bukanlah waktu dan cara Tuhan. Bagi Musa, 40 tahun yang lalu sewaktu ia berada di Mesir adalah kesempatan terbaiknya, tetapi ternyata itu bukanlah waktu Tuhan. Dari sini, kita bisa menimba satu pelajaran: Kesempatan tidak identik dengan waktu Tuhan! Kendati ada kesempatan, kita tidak boleh langsung berasumsi bahwa Tuhan menghendaki kita untuk melakukannya, apalagi dalam kapasitas memimpin. Terlalu banyak masalah muncul akibat ambisi pribadi untuk menduduki kursi kepemimpinan.

2. Adanya Misi

Bukan saja Tuhan memanggil Musa, Tuhan pun memberinya suatu tugas, yaitu membawa umat Tuhan keluar dari Mesir. Di ayat sebelumnya, Tuhan menjelaskan mengapa Ia memanggil Musa, "Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka." (Keluaran 3:9) Setiap orang yang dipanggil Tuhan untuk memimpin mesti melihat dan menyadari misi yang Tuhan embankan. Tanpa misi, kepemimpinan menjadi tanpa arah. Dalam tugas kepemimpinannya, seorang pemimpin harus jelas dengan misinya sehingga ia dapat mengarahkan dan membawa pengikutnya berjalan bersamanya sampai pada penggenapan misi itu. Banyak pemimpin memulai dengan misi yang jelas, tetapi kemudian berubah santai. Jika tidak ada lagi misi, sebaiknya pemimpin mengundurkan diri agar Tuhan dapat memakai yang lain.

3. Adanya Kesiapan

Tuhan memilih Musa setelah mempersiapkannya terlebih dahulu. Pada penggalan pertama hidupnya, Musa digembleng ilmu kenegaraan dan peperangan di Mesir; pada penggalan kedua hidupnya, Musa mengalami bentukan karakter, yakni kasih dan kesabaran. Pada penggalan ketiga, barulah Tuhan memakai Musa. Seorang yang merasakan panggilan menjadi pemimpin haruslah melihat tangan Tuhan yang telah mempersiapkannya. Dan, kita yang hendak memilih seorang pemimpin juga harus menilai kesiapan orang tersebut. Pada dasarnya, kesiapan terdiri dari dua unsur: kemampuan dan karakter. Ada pemimpin yang memiliki kemampuan, tetapi tidak memiliki karakter yang dibutuhkan. Ia akan merusak orang yang dipimpinnya. Sebaliknya, ada orang yang tidak mempunyai kemampuan, tetapi mempunyai karakter yang mendukung. Ia akan menimbulkan kekacauan.

4. Adanya Kesalehan

Gambar: Firman Tuhan

Apa pun yang Musa lakukan, ia selalu mendasarkannya di atas firman Tuhan. Sewaktu ia berhadapan dengan Firaun, ia menyampaikan firman Tuhan. Sewaktu ia harus berhadapan dengan gejolak di tengah bangsanya, ia pun kembali kepada firman Tuhan. Tidak heran, kita melihat sebuah "dwikepemimpinan", yaitu Tuhan dan Musa. Pemimpin yang efektif berjalan di atas rel firman Tuhan dan bergaul akrab dengan-Nya. Sewaktu pemimpin mulai jauh dari Tuhan, ia akan makin sering memunculkan gagasan yang berasal dari ambisi pribadi dan kehilangan sentuhan dengan kepentingan Tuhan. Ia makin sulit menerima masukan dari pihak lain karena ambisi pribadilah yang lebih berperan. Makin kita dekat dengan Tuhan, makin kita tidak menggenggam posisi maupun pendapat pribadi.

5. Adanya Kasih dan Ketegasan

Berulang kali, Musa harus menghadapi pemberontakan bangsanya dan semua ia hadapi dengan kasih dan ketegasan. Ia mengasihi Israel; itu sebabnya, ia melarang Tuhan memusnahkan bangsanya. Namun, ia pun tegas kepada mereka yang bersalah; ia tidak ragu menghukum orang yang bersalah. Pemimpin yang tidak mengasihi pengikutnya akan terus memobilisasi mereka demi kepentingannya. Pemimpin yang mengasihi pengikutnya memikirkan kepentingan mereka dan bersedia berkorban bagi mereka. Sebaliknya, pemimpin yang tidak mengasihi justru terus meminta pengikutnya untuk berkorban seolah-olah bagi kepentingan bersama, tetapi sesungguhnya untuk kepentingan pribadinya. Pemimpin juga mesti tegas; tanpa ketegasan ia akan menuai kekacauan. Sekali pemimpin tidak tegas, pengikut akan mulai kehilangan respek dan arah. Pada akhirnya, pengikutnya akan berbuat sekehendak hati.

Audio Memimpin Seperti Musa

Diambil dari:
Nama situs : TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga)
Alamat situs : http://telaga.org/berita_​telaga/belajar_​kepemimpinan_​musa
Judul asli artikel : Belajar Kepemimpinan Musa
Penulis : Pdt. Paul Gunadi
Tanggal akses : 24 Juli 2017
 

KUTIPAN

"Tidak ada orang yang mau dipimpin oleh seorang yang tidak memiliki kelebihan." — Robby I. Chandra
 

JELAJAH SITUS Bahan-Bahan Kepemimpinan Pastoral di Ministry 127

Situs Ministry 127 menyediakan bahan-bahan kepemimpinan Kristen, termasuk kepemimpinan pastoral. Situs berbahasa Inggris ini didirikan oleh Pastor Paul Chappel, dan dalam pelaksanaan/pengelolaannya, banyak kontributor, yang adalah pemimpin-pemimpin rohani dari seluruh dunia, turut ambil bagian mengisi situs ini dengan bahan-bahan seputar kepemimpinan yang alkitabiah. Para kontributor ini terlibat dalam pelayanan di gereja-gereja dan persekutuan.

Gambar: Ministry 127

Mengapa situs ini bernama Ministry 127? Penggunaan angka 127 diambil dari Filipi 1:27, yang dalam versi AYT berbunyi, "Namun demikian, hiduplah dengan cara yang layak bagi Injil Kristus supaya kalau aku datang dan bertemu denganmu, atau kalau tidak datang, aku boleh mendengar bahwa kamu tetap berdiri teguh dalam satu roh, dengan satu pikiran, untuk berjuang bersama-sama bagi iman dari Injil." Ayat ini menjadi dasar pelayanan melalui situs ini, dan situs ini diharapkan dapat menjadi berkat bagi para pembacanya. Salah satu kategori yang disajikan dalam situs ini berfokus pada penyediaan bahan-bahan kepemimpinan pastoral berupa artikel. Melalui artikel-artikel yang disediakan, kita bisa belajar bagaimana pemimpin Kristen bisa berelasi, membangun hubungan dengan jemaat. Silakan berkunjung ke situs ini. (Santi T.)

Situs Ministry 127

 
Stop Press! BERGABUNGLAH DALAM KOMUNITAS APPS4GOD!

Komunitas Apps4God

Teknologi terus berkembang dan telah menolong banyak aspek dalam kehidupan kita. Kita percaya bahwa teknologi-teknologi ini tidak hanya menjadi berkat bagi kita, bahkan bisa dipakai untuk memuliakan Allah. Itulah yang menjadi visi dari gerakan Apps4God, sebuah pelayanan yang rindu untuk mengajak orang-orang percaya menggunakan teknologi untuk menolong pelayanan dan perluasan Kerajaan Allah. Mari bergabung dengan komunitas Apps4God dan bersama-sama kita akan saling berbagi informasi seputar perkembangan teknologi dan memikirkan bagaimana kita bisa memakai teknologi tersebut untuk memberkati dan menolong orang-orang untuk mengenal Allah.

Tunggu apa lagi? Segera bergabung dengan komunitas Apps4God di:

App SABDA
@apps4god
@apps4god

Kami tunggu!

 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-Leadership.
leadership@sabda.org
e-Leadership
@sabdaleadership
Redaksi: Santi T., Aji, dan Ariel
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org