Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/400

e-Konsel edisi 400 (12-9-2017)

Pelayanan kepada Jiwa yang Hancur

e-Konsel -- Pelayanan kepada Jiwa yang Hancur -- Edisi 400/September 2017
 
Gambar: Situs Christian Counseling Center Indonesia (C3I)

Publikasi Elektronik Konseling Kristen
Pelayanan kepada Jiwa yang Hancur

Edisi 400/September 2017
 

Salam konseling,

Banyak tragedi pada masa kini yang menyebabkan banyak orang mengalami kehancuran hati atau jiwa. Bencana alam dan kemanusiaan, tindak kekerasan, berbagai badai dalam kehidupan berkeluarga, kehilangan orang yang dikasihi, dan kegagalan yang teramat besar adalah beberapa faktor yang kerap menjadi pemicu kehancuran hati dan hidup seseorang. Bagaimana sikap kita sebagai konselor awam maupun profesional ketika harus berhadapan dengan mereka? Seperti Kristus, tentu kita mesti berbelas kasih dan menyapa mereka untuk dapat berjumpa dengan Allah, Sang Pemelihara Jiwa. Untuk itu, edisi e-Konsel September ini akan menyajikan dua kolom yang akan membantu pelayanan Anda untuk mendampingi mereka yang sedang mengalami kehancuran dalam hidup supaya dapat menjumpai Allah dan mendapat pemulihan yang sejati dari-Nya. Selamat membaca sajian kami, Tuhan Yesus memberkati.

N. Risanti

Staf Redaksi e-Konsel,
N. Risanti


BIMBINGAN ALKITABIAH Firman Tuhan Mengenai Jiwa yang Hancur

Mempersiapkan Pelayanan bagi Jiwa yang Hancur

Gambar: Jiwa yang Hancur

Karena kita berurusan dengan jiwa yang hancur dari posisi khusus kristiani, menurut saya penting bagi kami untuk menunjukkan di awal bahwa kenyataan akan hati (atau jiwa) yang hancur tidak hanya diakui dalam Alkitab, tetapi juga banyak ditemui. Hal ini terdapat pada beberapa ayat yang paling terkenal dan sering dikutip dalam Alkitab. Beberapa ayat yang kurang dikenal menekankan kebutuhan Allah yang sangat serius dan nyata agar jiwa-jiwa yang hancur disembuhkan di antara umat-Nya.

Seperti yang kami jelaskan di akhir artikel kisah Markus, jiwa yang hancur merupakan hal yang cukup penting bagi Yesus untuk mengutip Yesaya 61:1, tepat di awal pelayanan-Nya. Yesaya 61:1 mengatakan:

"Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara."

Adalah wajar untuk memikirkan ungkapan-ungkapan seperti "remuk hati" sebagai kiasan, seperti saat berkata, "Dia patah hati," ketika hubungan percintaan berakhir. Namun, seperti halnya pada banyak ayat di dalam Alkitab, pengamatan yang lebih dekat mengungkapkan bahwa itu bukanlah kiasan sama sekali.

Para teolog mengajarkan kita bahwa penafsir Alkitab yang terbaik adalah Alkitab itu sendiri. Misalnya, ketika Alkitab menggunakan simbol-simbol, yang terbaik adalah untuk melihat apakah Alkitab menafsirkan simbol itu untuk Anda, daripada membiarkan pembaca menafsirkannya sendiri. Mereka mengajarkan kepada kita untuk pertama-tama melihat konteks langsung dari bagian itu, kemudian kitab yang Anda baca, kemudian ke seluruh Alkitab. Pada banyak tempat, Alkitab menafsirkan sendiri. Kita hanya perlu tahu di mana mencarinya. Ini adalah aturan yang kita harus ikuti jika kita ingin tahu apakah Yesaya 61:1 berbicara secara harfiah tentang patah hati. Saya setuju dengan John Eldredge (penulis Wild at Heart) yang dengan sangat baik menjelaskan hal ini ketika ia menulis:

.... Ketika Yesaya berbicara tentang patah hati, Tuhan tidak menggunakan metafora. Bahasa Ibraninya adalah leb shabar (leb untuk hati, dan shabar untuk patah). Yesaya menggunakan kata shabar untuk menggambarkan semak yang "ranting-rantingnya kering, mereka patah" (27:11); untuk menggambarkan berhala Babel terbaring "hancur di tanah" (21:19), seperti patung hancur menjadi ribuan keping ketika Anda menjatuhkannya dari meja; atau untuk menggambarkan tulang yang hancur (38:13). Allah berbicara secara harfiah di sini. Dia mengatakan, "Hatimu saat ini hancur berkeping-keping. Aku hendak menyembuhkannya."[1]

Perlu dicatat bahwa kata Ibrani leb juga diterjemahkan pikiran dan batin manusia, di samping hati. Para teolog juga memberi tahu kita bahwa Perjanjian Lama dan Baru mengacu pada pikiran, jiwa, dan hati sebagai hal yang hampir sama. Hal ini memungkinkan saya untuk menggunakan istilah "jiwa yang hancur", yang menurut saya adalah istilah yang lebih baik untuk pelayanan penginjilan yang membebaskan.

Jiwa yang Hancur di Seluruh Alkitab

Salah satu ayat yang paling jitu tentang jiwa yang hancur adalah Yakobus 4:8, "... Sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati." Kata Yunani untuk mendua hati adalah dipsuchos. Ketika Anda mencari makna lebih luas dari dipsuchos, Anda menemukan bahwa secara harfiah berarti "terombang-ambing" dan "dua-jiwa", "mendua-jiwa", atau "jiwa-terbagi". Itu berasal dari awalan "dis" yang berarti dua kali, dan "psuche" yang berarti jiwa.

Beberapa ayat lain yang menggunakan kata-kata yang sama leb dan shabar (patah hati) yang digunakan dalam Yesaya 61:1 meliputi:

Mazmur 51:17: "Hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."

Mazmur 147:3: "Ia menyembuhkan orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka."

Mazmur 34:18: "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."

Sebuah Mandat Alkitab

Gambar: Alkitab

Tuhan sangat serius dengan pemulihan luka yang mendalam dari anak-anak-Nya, terutama kehancuran hati mereka. Anda akan melihat dalam informasi di situs ini bahwa jiwa yang hancur dapat menjadi salah satu bentuk yang paling merusak dari penindasan rohani. Namun, saya harus berhadapan dengan orang-orang yang telah didiagnosis dengan gangguan mental ketika saya tidak menemukan gangguan yang terkubur dalam jiwa mereka yang hancur berkeping-keping. Apakah mengherankan bahwa Allah akan menganggap masalah ini dengan sangat serius?

Dalam Yeremia, Allah benar-benar menyebutnya kejijikan ketika para pemimpin Allah tidak menyembuhkan orang yang patah hati sama sekali. Dalam Yeremia 8:7, Allah mengatakan bahwa penyembuhan ini adalah "kebutuhan" dan dengan kejam menghukum umat-Nya karena tidak menyembuhkan ini dalam pasal 6 dan 8.

Yeremia 6:14-15: "Mereka mengobati luka umat-Ku dengan memandangnya ringan, katanya: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera. Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka."

Yeremia 8:11-12: "Mereka mengobati luka puteri umat-Ku dengan memandangnya ringan, katanya: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera. Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka."

Tuhan juga mencurahkan seluruh Yehezkiel 34 untuk mengatasi masalah penyembuhan umat-Nya dengan lembut. Jelas, penyembuhan jiwa yang hancur adalah tanggung jawab yang telah diberikan Allah kepada umat-Nya -- terutama para pemimpin umat-Nya. Saya harus percaya bahwa Dia akan meminta pertanggungjawaban kepada para penatua-Nya untuk ini.

Sebuah Perspektif Praktis

Di Hope Preserved Ministries, kami mendapati bahwa kondisi jiwa yang hancur adalah inti dari hampir semua tekanan serius yang kami hadapi. Hal ini benar, baik ketika kami berhadapan dengan pergumulan emosional, gangguan mental, maupun penyalahgunaan ritual setan. Bagian dari pelayanan langsung ini dengan mudah menyita 90% atau lebih dari waktu yang kami gunakan bersama dengan konseli. Tak perlu dikatakan, kami sangat berkomitmen untuk pelayanan ini dan akan bekerja dengan konseli kami selama diperlukan untuk melihat mereka utuh.

Juga penting disebutkan bahwa kami tidak pernah menemukan jiwa hancur yang tidak membutuhkan penyembuhan di berbagai tingkat. Ini adalah faktor lain yang telah membuat kami mengadopsi pendekatan berdasarkan kebutuhan untuk pelayanan penginjilan yang membebaskan. Sementara hal itu dilakukan melalui rujukan ke beberapa bidang lain, Theophostic Prayer Ministry menjadi komponen penting dalam strategi pelayanan kami bagi orang-orang yang jiwanya hancur. (t/Jing-Jing)

[1] John Eldredge, Waking the Dead, (Nashville, Tennessee: Thomas Nelson, 2003): p. 132

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Hope Preserved Ministries
Alamat situs : http://hopepreserved.org/?page_id=421
Judul asli artikel : What Does the Bible Say About the Broken Soul?
Penulis artikel : Mark and Risa Evans
Tanggal akses : 8 September 2017

 

PARAKALEO Kerapuhan Hidup

Gambar: Kerapuhan Hidup

Sewaktu saya kuliah dahulu, seorang dosen saya pernah menceritakan tentang salah satu kliennya yang mengalami mental breakdown (hilangnya kewarasan) di tengah-tengah proses penyembuhannya. Saya masih teringat komentar dosen itu yang disampaikannya dengan wajah serius, "Jangan berpikir bahwa kita kuat dan hal seperti ini tidak akan pernah terjadi pada kita." Sejak saat itu sampai sekarang, saya sudah menyaksikan beberapa contoh kehidupan ketika kasus tersebut terulang kembali. Ada kalanya, hantaman yang kita terima begitu kuat sehingga kita tak mampu menjaga keseimbangan hidup kita lagi. Kita pun akhirnya mengalami depresi atau bahkan kehilangan kewarasan, sesuatu yang tak pernah terpikir akan menimpa kita.

Banyak orang mengenal lagu rohani It is Well with My Soul (Nyamanlah Jiwaku) yang ditulis oleh H.G. Spafford dan mengetahui latar belakang penulisannya. Konon, lagu itu ditulisnya di atas kapal ketika ia melintasi lautan Atlantik, tempat ketiga putrinya terkubur karena tenggelam. Istri dan ketiga putrinya sedang dalam perjalanan ke Eropa sewaktu kapal mereka karam; si istri selamat, tetapi ketiga putrinya meninggal. Penderitaannya tidak berhenti di situ. Bertahun-tahun kemudian, Spafford kehilangan putranya yang mati karena sakit. Setelah peristiwa itu, gereja tempat Spafford dan istrinya berbakti mengucilkannya karena mereka beranggapan bahwa pasangan Spafford ini pasti berhubungan dengan kuasa gelap. Anggapan yang tidak berdasar ini dilandasi atas keyakinan bahwa hanya orang yang berselingkuh dengan setanlah yang akan kehilangan keempat anaknya. Spafford dan istri terpaksa pindah ke tempat yang jauh untuk memulai hidup yang baru. Hari tua Spafford tidaklah terlalu bahagia, sebab pada akhirnya ia menderita sakit jiwa.

Gambar: H.G. Spafford

Apa yang terjadi dengan Spafford sehingga ia yang dapat menulis lagu yang agung dan mencerminkan iman yang kuat itu bisa mengalami sakit jiwa? Spafford tegar menghadapi kematian ketiga putrinya; ia pun tetap tabah menerima kematian putranya. Namun, ketika ia harus dibuang oleh orang-orang yang seharusnya merangkul dan mendukungnya, ia tak kuasa menahan penderitaannya lagi. Sistem pertahanan hidupnya runtuh dan jiwanya pun retak. Mungkin ada di antara Anda yang berargumen bahwa seharusnya ia tetap waras, sebab bukankah Tuhan mampu menolongnya. Sudah tentu Tuhan membantunya dan jika ia tekun beriman, tidak seharusnya ia mengalami sakit jiwa. Memang betul, tetapi dalam hidup banyak peristiwa yang tidak seharusnya terjadi. Mestinya kita beriman dan bersandar pada Tuhan, tetapi tidak selalu kita beriman dan bersandar pada-Nya. Mungkin itu yang terjadi pada Spafford; di episode terakhir hidupnya, tanggul pertahanannya bobol akibat tekanan arus yang terlalu kuat. Banjir penderitaan pun menggenangi sukmanya dan melumpuhkan kesanggupannya untuk hidup.

Ada beberapa langkah awal yang dapat kita lakukan untuk memelihara kesehatan jiwa. Pertama, kita harus memaklumi keterbatasan kita. Kita mesti menerima fakta bahwa kita tidak selalu kuat dan pada titik tertentu, kita bisa ambruk. Dalam beberapa kasus mental breakdown yang pernah saya saksikan, saya memperhatikan adanya unsur sikap tidak mengenal batas pada mereka yang mengalaminya. Kita perlu mengenali batas kemampuan kita dan memahami tanda atau sinyal yang dibunyikan tubuh kita, misalnya kesulitan tidur yang berkepanjangan, kesukaran berkonsentrasi, pikiran yang berjalan dengan cepat ibarat balapan mobil, atau perasaan yang naik turun tak terkendali, tetapi lebih banyak turunnya. Semua itu adalah tanda awas yang harus kita terima dengan lapang dada bahwa kita memerlukan bantuan ekstra dari luar. Dengan kata lain, kita sedang berada di ambang batas untuk dapat terus bertahan dengan waras.

Kedua, kita mesti menyadari bahwa sebagian besar kekuatan kita sebetulnya berasal dari topangan yang kita terima dari luar, misalnya orang-orang di sekitar kita atau lingkungan hidup yang mendukung. Kehilangan ketiga putrinya dan bahkan kematian putranya tidak meruntuhkan Spafford, tetapi tatkala gereja mencampakkan, ia ambruk. Secara pribadi, saya menyadari bahwa saya sehat seperti sekarang ini dikarenakan dukungan moral yang saya terima dari banyak faktor, seperti: istri dan anak-anak saya, sanak keluarga yang memperhatikan saya, teman-teman yang begitu akrab dan baik, serta pekerjaan yang memuaskan hati. Saya kira hidup saya akan menjadi sangat lain ketika semua unsur di atas ini ditarik keluar dari dalam kehidupan saya. Jadi, memang kita perlu memelihara jalinan persahabatan yang baik dengan orang-orang di sekitar kita. Manusia yang hidup sendiri akan merusak dirinya sendiri.

Sesungguhnya, kita adalah orang yang tidak terlalu kuat; kekuatan yang kita miliki sebenarnya hanyalah sesaat dan sebatas kulit permukaan. Kita adalah penerima kekuatan dari pihak lain: Tuhan, orang lain, lingkungan hidup, dan pekerjaan. Hargailah semuanya itu; bersyukurlah karena Tuhan berkenan memberikan semua itu kepada kita. Saya menyimpulkan bahwa kewarasan kita merupakan hadiah dari Tuhan saja. Saya akan akhiri dengan bait pertama lagu Spafford itu (terjemahan bebas) untuk mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak selalu dipenuhi kekuatan dan bahwa jiwa kita tidak selalu dalam keadaan baik.

Tatkala damai - bak sungai - hadir di jalanku.
Ketika kesusahan - seperti gelombang besar - menggulung.
Apa pun yang terjadi,
Engkau telah mengajarkanku untuk berkata,
jiwaku baik, jiwaku baik.

Sumber asli:
Nama buletin : Parakaleo, Januari Maret 1999, Vol. VI, No. 1
Penulis artikel : Dr. Paul Gunadi
Halaman : 3 -- 4

Audio: Kerapuhan Hidup

Diambil dari:
Nama situs : Christian Counseling Center (C3I)
Alamat situs : http://c3i.sabda.org/kerapuhan_hidup_0
Judul asli artikel: : Kerapuhan Hidup
Tanggal akses : 29 Juli 2016

 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-Konsel.
konsel@sabda.org
e-Konsel
@sabdakonsel
Redaksi: Davida, N. Risanti, Elly, dan Odysius
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org