Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/392

e-Konsel edisi 392 (10-1-2017)

Resolusi Tahun Baru

e-Konsel -- Resolusi Tahun Baru -- Edisi 392/Januari 2017
 
Gambar: Situs Christian Counseling Center Indonesia (C3I)

Publikasi Elektronik Konseling Kristen
Resolusi Tahun Baru

Edisi 392/Januari 2017
 

Salam konseling,

Bagaimana kabar Anda pada tahun yang baru ini, Sahabat e-Konsel? Melalui edisi pertama kami pada tahun ini, kami ingin mengucapkan "Selamat Tahun Baru 2017" kepada Anda semua. Damai sejahtera dan kasih Kristus kiranya selalu melingkupi Anda senantiasa dalam menghadapi tahun 2017

Sudahkah Anda membuat resolusi tahun baru? Bagaimana membuat resolusi tahun baru yang sesuai dengan panggilan kita sebagai orang percaya? Resolusi atau rencana di awal tahun sesungguhnya menjadi hal yang penting dalam memberi kita panduan untuk semakin bertumbuh dan menjadi lebih baik. Namun, seringnya, resolusi atau rencana-rencana itu kemudian hanya menjadi sekadar wacana euphoria di awal tahun yang urung terwujud pada bulan-bulan berikutnya. Atau, saat membuat resolusi atau rencana itu, kita melupakan untuk meletakkan Tuhan dan rencana-Nya sehingga apa yang kita kejar dan lakukan tidak mencerminkan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Nah, terkait dengan permasalahan tersebut, edisi awal publikasi e-Konsel pada tahun 2017 ini akan menyajikan renungan dan tip yang akan memandu kita dalam membuat resolusi tahun baru. Harapan kami, kiranya sajian kami akan membantu kita untuk dapat semakin berfokus dan berjalan di dalam rencana-Nya sehingga hidup kita akan sungguh-sungguh menghadirkan Kristus. Nah, tanpa berlama-lama lagi, mari segera simak edisi e-Konsel 392 kami di bawah ini.

N. Risanti

Pemimpin Redaksi e-Konsel,
N. Risanti


RENUNGAN MEMBUAT RESOLUSI TAHUN BARU BERHASIL Ditulis oleh: N. Risanti

Tahun baru menjadi momen yang digunakan oleh banyak orang percaya untuk membuat resolusi tahun baru demi mencapai tujuan hidup atau menjadi pribadi yang lebih baik. Melakukan disiplin rohani secara lebih teratur, membaca lebih banyak, mengurangi gula, mengurangi berat badan, berhenti merokok, berolahraga, mengurangi kebiasaan, sifat, sikap, dan perilaku yang buruk, belajar lebih banyak, bersikap lebih bijaksana, dan sebagainya. Semua hal yang lebih baik, lebih membangun, lebih bermanfaat, dan lebih sehat biasanya akan menjadi isi resolusi tahun baru bagi kebanyakan orang. Namun, sudah menjadi rahasia umum pula bahwa sebelum menginjak bulan Februari, hal-hal tersebut akan mulai memudar dan malah menjadi hal-hal yang naif dan tidak menyentuh realita saat menginjak bulan Juni.

Gambar:Resolusi Tahun Baru

Lalu, mengapa begitu sulit untuk menjalani komitmen dalam melakukan resolusi tahun baru? Ada banyak jawaban untuk itu, dan salah satunya adalah karena kita mengandalkan kekuatan dan rencana-rencana kita sendiri dibanding mengandalkan kekuatan Tuhan. Seringnya, kita tidak mengindahkan Tuhan ketika membuat rencana bagi kehidupan kita, seolah-olah segala sesuatu dapat berjalan sendiri hanya karena kita menghendakinya. Kita menjadi seperti orang bodoh dalam Yakobus 4:13-14 yang merencanakan segala sesuatu berdasarkan hikmatnya sendiri, tetapi yang lupa bahwa Tuhanlah pemegang kedaulatan dalam hidup ini. Sementara, Amsal 16:3 mengatakan, "Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu". Sebagai seorang manusia yang mengetahui keterbatasan dan kerapuhan diri, sudah selayaknya jika kita membuat rencana, lalu menyerahkannya kepada Tuhan yang berdaulat atas kehidupan ini. Biarkan Dia mengoreksi segala rencana kita karena toh hidup kita sebagai manusia yang sudah ditebus ini, bukan lagi milik kita sendiri. Yang terlebih penting lagi, biarlah kita senantiasa bersandar dan menaruh harapan kepada pertolongan Tuhan dalam melaksanakan rencana-rencana tersebut sehingga seperti dikatakan dalam Yeremia 17:7, kita akan diberkati.

Nah, membuat resolusi tahun baru adalah baik, karena "hanya dengan perencanaan kita dapat berperang ..." (Amsal 24:6). Seperti yang sering dikatakan "Failed to plan, means plan to failed" atau gagal merencanakan berarti berencana untuk gagal. Jangan pula kita terjebak pada prinsip hidup yang "mengalir" dengan alasan untuk menghindari kegagalan dalam menjalani komitmen untuk melakukan resolusi tahun baru. Bersedia menyediakan hidup kita untuk dipakai Allah menjadi hal yang paling penting dalam merencanakan resolusi tahun baru, sebab itulah yang menjadi panggilan hidup orang-orang percaya. Karena itu, mari kita membuat resolusi tahun baru yang berfokus kepada Tuhan, baik pada isi, kemampuan untuk melakukan, dan pada tujuan-Nya. Setelah itu, mari kita menantikan pertolongan Tuhan yang akan menyertai kita di sepanjang tahun 2017 ini.

Soli Deo Gloria.

Sumber referensi:
1. _____. Alkitab SABDA. Dalam http://alkitab.sabda.org/article.php?book=42&id=240
2. Holcomb, Justin. "Mengapa Resolusi Tahun Baru Tidak Berhasil". Dalam http://c3i.sabda.org/mengapa_resolusi_tahun_baru_tidak_berhasil_0

 

TIP EMPAT PRINSIP KRISTIANI UNTUK MEMBUAT RESOLUSI TAHUN BARU

"Apa Resolusi Tahun Baru Anda?"

Jika Anda belum menanyakan pertanyaan itu pada bulan ini, dengan hanya dua hari tersisa pada tahun 2011 (artikel ini dibuat pada tahun 2011 - Red.), kemungkinan akan segera ada pertanyaan kepada Anda. Sebagai sebuah budaya, tampaknya kita terobsesi dengan membuat resolusi Tahun Baru pada bulan Desember, dan kemudian melanggarnya pada bulan Januari. Sebelum Anda mengikuti pola dunia, ada baiknya mempertimbangkan bagaimana seorang Kristen harus berpikir tentang resolusi.

Pada Tabletalk edisi Januari 2009, Burk Parson menulis sebuah artikel yang sangat membantu dengan judul, "Resolved by The Grace of God". Dalam artikel yang mencerminkan beberapa kata dari teolog besar, Jonathan Edwards, tersebut, ditunjukkan empat prinsip-prinsip Kristen untuk membuat resolusi.

Pertimbangkanlah dalam doa sebelum Anda membuat resolusi setiap Tahun Baru.

"Dengan menyadari bahwa saya tidak dapat berbuat apa-apa tanpa bantuan Allah, saya dengan rendah hati memohon kepada-Nya dengan kasih karunia-Nya untuk memungkinkan saya menjaga resolusi-resolusi tersebut, sejauh hal-hal tersebut menyenangkan untuk kehendak-Nya, demi kepentingan Kristus." - Jonathan Edwards

Gambar:berfokus pada Tuhan

1. Membuat Keputusan secara Bijaksana

"Bersikap bijaksana," Edwards memulai dalam pengantarnya -- kita harus bersikap bijaksana, masuk akal, dalam membuat resolusi. Jika kita menetapkan diri sendiri dengan terburu-buru untuk membuat resolusi sebagai hasil dari ilusi yang besar tentang kesempurnaan tanpa dosa, ada kemungkinan bahwa kita tidak akan hanya gagal dalam upaya untuk menjaga resolusi tersebut, dan kita mungkin akan menjadi cenderung kurang membuat resolusi lebih lanjut untuk mencapai tujuan yang sama yang diinginkan. Kita harus bisa membuat resolusi dengan doa yang tulus dan studi menyeluruh dari firman Allah. Resolusi kita harus sesuai dengan firman Tuhan. Oleh karena itu, setiap resolusi yang kita buat harus selalu memungkinkan kita untuk memenuhi semua panggilan khusus dalam hidup kita. Kita harus mempertimbangkan semua implikasi dari resolusi dan berhati-hati untuk membuat resolusi dengan orang lain dalam pikiran, bahkan jika itu berarti menerapkan resolusi baru secara bertahap dari waktu ke waktu.

2. Membuat Keputusan dengan Bergantung

"Saya tidak dapat berbuat apa-apa tanpa bantuan Allah," Edwards mengakui. Kita harus menjadi bijaksana dalam menangkap kebenaran yang sederhana bahwa setiap resolusi harus dilakukan dalam ketergantungan pada Allah. Dan, sementara setiap orang Kristen akan menanggapi dengan mengatakan, "Yah, tentu saja kita harus bergantung pada Allah untuk semua hal," kebanyakan orang Kristen telah terpengaruh dengan prinsip dunia. Mereka berpikir bahwa setelah mereka menjadi tergantung pada Allah, maka mereka akan memiliki kekuatan langsung. Mereka menirukan mantra dunia: "Apa pun yang tidak membunuh saya akan membuat saya lebih kuat". Sementara prinsip tersebut secara umum benar, pemikiran tersebut dapat menumbuhkan sikap kebanggaan yang mandiri. Kita harus memahami bahwa untuk dapat melakukan segala sesuatu melalui Kristus yang menguatkan kita, membuat kita harus bergantung pada kekuatan-Nya secara terus-menerus untuk melakukan segala sesuatu dan untuk menjaga semua resolusi kita (Efesus 3:16; Kolose 1:11). Sesungguhnya, apa pun yang tidak membunuh kita, sesuai dengan kasih karunia Allah, membuat kita lemah sehingga dalam kelemahan kita, kita akan bergantung terus pada kekuatan dari Tuhan kita (2 Korintus 12:7-10).

3. Membuat Keputusan dengan Rendah Hati

"Saya dengan rendah hati memohon Dia dengan kasih karunia-Nya untuk memampukan saya mempertahankan resolusi-resolusi ini." Dalam membuat resolusi untuk kemuliaan Allah dan di hadapan Tuhan, kita tidak harus datang ke hadirat-Nya dengan mengedepankan kesombongan diri seakan-akan Tuhan pasti sekarang lebih mengasihi dan memberkati kita karena kita telah membuat resolusi tertentu untuk lebih mengikuti-Nya. Pada kenyataannya, Tuhan dalam pemeliharaan-Nya, bahkan dapat memilih untuk lebih membiarkan kita masuk dalam ujian untuk memasuki kehidupan kita; dalam kasih sayang-Nya sebagai seorang Bapa yang tidak berubah bagi kita, Dia dapat memutuskan untuk mendisiplinkan kita dengan lebih lagi agar kita dapat lebih membenci dosa kita dan bergembira di dalam Dia. Kita harus mendekati-Nya dalam ketergantungan yang rendah hati pada kasih karunia-Nya saat kita mencari bukan hanya berkat, tetapi Pribadi yang memberkati.

4. Membuat Keputusan demi Kepentingan Kristus

Gambar: <a target='_blank' href='http://alkitab.mobi/?Amsal+16:3'>Amsal 16:3</a>

"Sejauh hal-hal tersebut menyenangkan bagi kehendak-Nya demi kepentingan Kristus." Kita tidak dapat memutuskan untuk melakukan apa saja dengan sikap sombong di hadapan Allah. Seluruh persoalan tentang membuat resolusi tidak hanya merupakan penetapan tujuan agar kita dapat memiliki kehidupan yang lebih bahagia. Kita dipanggil oleh Allah untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak kita sendiri -- demi kepentingan Kristus, bukan kita sendiri --, sebab kemuliaan bukanlah kepunyaan kita, tetapi merupakan milik-Nya (Mazmur 115:1). (t/N. Risanti)

[Download artikel ini dalam versi audio]

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Ligonier
Alamat URL : http://www.ligonier.org/blog/4-christian-principles-making-new-years-resolutions/
Judul asli artikel : 4 Christian Principles For Making New Year?s Resolutions
Penulis artikel : Nathan W. Bingham
Tanggal akses : 3 Desember 2015

 
Stop Press! PUBLIKASI E-LEADERSHIP: BAHAN-BAHAN KEPEMIMPINAN KRISTEN BERKUALITAS

Gambar: Publikasi e-Leadership

Setiap orang adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi diri sendiri, bahkan banyak juga yang sudah menjadi pemimpin bagi kelompok. Untuk itu, kita perlu membekali diri kita dengan prinsip-prinsip kepemimpinan Kristen yang alkitabiah supaya kita bisa memimpin diri sendiri dan orang lain sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Kami mengajak Anda untuk berlangganan Publikasi e-Leadership. Publikasi ini berisi bahan-bahan kepemimpinan Kristen yang akan dikirim ke email Anda setiap Selasa minggu ketiga secara gratis. Yuk, berlangganan sekarang juga! Kirimkan email Anda ke < subscribe-i-kan-leadership@hub.xc.org >.

Tingkatkan pula wawasan dan relasi Anda dengan para pemimpin Kristen yang lain dengan bergabung di komunitas e-Leadership. Selamat memimpin!

Komunitas e-Leadership:

Facebook    Twitter
 
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-Konsel.
konsel@sabda.org
e-Konsel
@sabdakonsel
Redaksi: N. Risanti, Odysius, dan Davida
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org