Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/120

e-Konsel edisi 120 (20-9-2006)

Panggilan untuk Melayani Tuhan

                    Edisi (120) -- 15 September 2006

                               e-KONSEL
======================================================================
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
======================================================================

Daftar Isi:
  = Pengantar            : Panggilan Menjadi Pelayan Sepenuh Waktu
  = Cakrawala            : Apakah Pelayanan Itu Suatu Karier?
  = TELAGA               : Menaati Panggilan Tuhan (II)
  = Info                 : Dating Workshop (LK-3)

                ========== PENGANTAR REDAKSI ==========

  Menjadi pelayan Tuhan sepenuh waktu bukanlah suatu pilihan yang
  mudah diambil. Banyak pergumulan dan rintangan yang harus dilalui
  oleh para hamba Tuhan sebelum akhirnya memutuskan untuk secara total
  menyerahkan diri bagi Tuhan. Jika sejak muda seseorang sudah
  menyadari, menerima, dan melaksanakan panggilan ini, tentu ia lebih
  mudah mengarahkan dirinya kepada panggilan Tuhan. Namun, bagaimana
  jika Tuhan memanggil ketika mereka sudah berkeluarga, memiliki
  kehidupan, dan pekerjaan yang mapan?

  Dalam edisi kali ini kita akan melihat apakah artinya panggilan
  untuk melayani Tuhan, sebagaimana dikemukakan Ben Patterson dalam
  artikel di Kolom Cakrawala. Dalam Kolom TELAGA, ada "sharing" dan
  tanya jawab tentang bagaimana kita harus menaati panggilan Allah
  untuk melayani Dia. Selamat menyimak, semoga menjadi berkat!

  Staf Redaksi e-Konsel,
  Evie

                   ========== CAKRAWALA ==========

                  APAKAH PELAYANAN ITU SUATU KARIER?
                           Ben Patterson *)

  Cara kita memandang tugas dapat mengubah apa yang ada dalam dunia--
                           dan juga gereja.

  Saya sedang berlutut pada anak tangga di altar dengan beberapa
  tangan yang ditumpangkan pada pundak saya. Saat itu adalah upacara
  penahbisan tugas pelayanan saya. Kelihatannya, pendeta sengaja
  menaikkan doa yang panjang sekali agar Tuhan memberkati dan
  memberikan kuasa-Nya pada saya. Kaki saya mulai terasa kram. Peluh
  bercucuran pada jubah hitam saya yang berasal dari Eropa Utara.
  Tidaklah mengherankan mengingat panasnya wilayah Selatan California
  petang itu. Lutut saya pun seolah-olah terasa luluh di karpet merah
  itu.

  "Apakah beliau berpikir kalau saya perlu lebih banyak didoakan
  ketimbang biasanya?" pikir saya. Lalu sepertinya jawaban untuk
  pertanyaan itu pun datang. Dia berdoa, "Tuhan, sebagaimana Ben
  merasakan bobot tangan-tangan ini di pundaknya, kiranya dia juga
  bisa merasakan bobot panggilan yang akan dia lakukan."

  Amin.

  "Tetapi kiranya dia juga bisa merasakan kekuatan abadi dari tangan-
  Mu yang telah menyangganya."

  Amin dan amin.

  Seperti itulah pelayanan berjalan selama ini. Pelayanan menjadi
  sesuatu yang tidak mungkin, pekerjaan yang tidak dapat dipikul dan
  disertai ketidakmungkinan, kekuatan yang tidak dapat diterangkan.

  Rasul Paulus menemukan panggilannya dan berkata, "Siapakah yang
  layak untuk tugas ini?" Versi saya muncul beberapa kali setahun
  setelah saya naik mimbar. "Patterson," saya berkata dalam hati.
  "Coba Anda renungkan, Anda sedang berbuat apa di sini? Siapakah Anda
  di antara orang banyak sehingga mengatakan apa yang dipikirkan Tuhan
  kepada mereka?"

  Pertanyaan ini juga menantang saya pada kesempatan-kesempatan lain.
  Pada suatu hari Minggu, seorang pria dari tempat tinggal saya dulu
  datang berkunjung untuk mengetahui apakah yang berkhotbah benar-
  benar Ben Patterson yang dikenalnya beberapa tahun yang lalu. Saya
  yakin dia ingin tahu apa yang saya lakukan ketika memimpin
  pelayanan. Dengan melihat dia dan mengingat masa lalu, saya
  bertanya-tanya sendiri.

  Berjam-jam saya duduk bersama mereka yang dihantam oleh beban hidup
  yang berat. Saya mencoba memberitahukan kebaikan dan harapan yang
  diberikan oleh Yesus. Jujur saja, Patterson. Untuk apa Anda berada
  di sini?

  Saya tidak punya hak maupun alasan. Tidak ada harapan dalam
  pelayanan jika semuanya tidak diperuntukkan bagi Allah yang
  Mahakuasa dalam kebijaksanaan-Nya yang tak tergambarkan, yang telah
  memanggil saya untuk pelayanan ini. Dialah yang mempunyai rencana,
  bukan saya.

  Dengan kedatangan-Nya, Roh pun bertiup ke mana Dia mau. Demikianlah
  Ia memimpin saya pada pelayanan ini. Seperti lahir baru, saya
  dilahirkan bukan oleh keinginan manusia. Bukan pula oleh keinginan
  suatu institusi, melainkan oleh kemauan Bapaku yang ada di surga.

  PANGGILAN BUKANLAH KARIER
  Saya sering dipusingkan dengan hal yang kita sebut sebagai
  "panggilan". Apa itu panggilan? Bagaimana cara Anda mengetahui
  datangnya panggilan itu?

  Banyak yang tidak saya ketahui. Namun, satu hal yang benar-benar
  bisa saya jelaskan ialah bahwa panggilan bukanlah karier. Ada
  perbedaan mendasar di antara kedua hal ini. Adalah penting bagi kita
  untuk mengerti apa itu panggilan Allah, khususnya pada saat ini.

  Kata "karier" itu sendiri sudah mengacu kepada pembedaan tersebut.
  Kata bahasa Inggris, "career", berasal dari bahasa Perancis,
  "carriere", yang berarti `suatu jalan` atau `suatu highway`.
  Gambaran ini menyiratkan adanya satu tujuan dan peta jalan yang ada
  dalam genggaman, tujuan di depan mata, tempat-tempat berhenti untuk
  makan, penginapan, dan tempat pengisian bahan bakar.

  Dari gambaran sebelumnya, kita bisa menyebutkan bahwa karier
  seseorang ibarat sebuah jalan yang telah dia ambil. Semakin sering
  membicarakannya, semakin terlihat jalur ke depan yang diambil dan
  direncanakan untuk dilalui secara profesional. Ibarat suatu jalan
  yang peta dan rencananya telah dibuat, mencapai tujuan menjadi hal
  yang terutama. Jalannya telah ditandai dengan baik. Selanjutnya,
  terserah kepada orang yang akan melakukan perjalanan tersebut.

  Tidak seperti karier, panggilan sama sekali tidak dipetakan. Tidak
  satu jalur pun yang akan diikuti. Tidak ada tujuan yang dapat
  dilihat. Panggilan lebih bersandar kepada mendengarkan "Suara".
  Organ iman untuk panggilan berupa telinga, bukan mata. Yang pertama
  dan terakhir, itulah sesuatu yang perlu didengarkan oleh seseorang.
  Segala sesuatu hanya bersandar kepada hubungan yang ada antara
  pendengar dan Dia yang memanggilnya.

  Bila karier berarti membuat sebuah formula dan cetak biru, suatu
  panggilan hanya bertujuan untuk membina hubungan. Suatu karier bisa
  didapat hanya dengan memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu,
  sedangkan panggilan tidak.

  Ketika Musa mendengar Allah memanggilnya untuk membebaskan para
  budak di Mesir, tanggapannya yang pertama adalah seolah-olah ia
  muncul dengan keputusan yang bersifat karier. Apakah dia memenuhi
  syarat? Apakah dia mempunyai pengalaman cukup dan kemampuan khusus
  yang diperlukan untuk tugas semacam itu? Dia berbicara dengan Allah
  yang sepertinya sedang mengadakan wawancara untuk suatu pekerjaan.
  Siapakah saya yang melakukan pekerjaan semacam ini? Bagaimana
  jadinya kalau rakyat tidak mau menurut? Dan apakah Allah tidak tahu
  kalau dia itu bukanlah orang yang pintar berbicara di muka umum?

  Semua hal tersebut tidak relevan bagi Allah. Yang terjadi
  selanjutnya adalah Musa yakin bahwa Allah dapat dipercayai sehingga
  ia pun berkata, "Aku akan mengikuti-Mu."

  Pendeknya, yang menjadi perhatian adalah panggilan tersebut--dan
  Musa pun mengikatkan dirinya pada Dia yang menyerukan panggilan itu.

  BAHAYA SEORANG PROFESIONAL
  Jika kita memandang panggilan itu sebagai suatu karier, kita
  merendahkan pelayan-pelayan Yesus sebagai seorang makhluk hambar
  yang disebut "kaum profesional". Berpakaian dan berbicara dengan
  baik, dilengkapi dengan kepandaian, mengerti kepemimpinan, pintar
  dalam manajemen, dan belajar mengenai seluk-beluk pemasaran--tentu
  saja semua itu baik kalau dipergunakan bagi sebuah kerajaan. Kita
  ingin membuat tanda pada dunia, sedikit memberi respek pada para
  profesional, dan untuk selamanya memancarkan citra seperti Pendeta
  Rodley Dangerfield.

  Dengan perasaan yang realistis, kaum profesional berharap agar
  gereja memperlakukan mereka sebagai seorang profesional sehingga
  untuk berhubungan diadakan perundingan tentang gaji dan keuntungan-
  keuntungan yang akan didapat.

  Sungguh suatu hal yang mengerikan ketika kita mendapati seorang
  rohaniwan yang bisa memakai kepandaian dan kecanggihannya dalam
  berdagang dan meningkatkan pendapatan secara luar biasa. Gereja-
  gereja bertumbuh--dan melakukannya tanpa bersandar kepada sesuatu
  pun.

  "Allah memerdekakan kita dari mereka yang memakai sikap
  profesional," kata Pendeta John Piper dari Minneapolis. Dengan
  mengikuti gema suara Paulus dia bertanya, "Apakah Allah membuat
  hamba-hamba Tuhan menjadi yang terakhir dalam keseluruhan ciptaan
  dunia-Nya ini? Demi Kristus kita adalah orang-orang bodoh yang
  lemah. Menjadi seorang profesional memang bijaksana. Mereka yang
  profesional memang diangkat dengan kehormatan .... Namun,
  profesionalisme tidak ada hubungannya dengan inti dan hati pelayanan
  Kristen karena tidak ada seorang profesional yang seperti anak
  kecil. Tidak ada seorang profesional yang lemah lembut. Tidak ada
  seorang profesional yang mencari pertolongan kepada Allah."
  Bagaimana cara Saudara membawa salib secara profesional? Apakah iman
  secara profesional itu?

  Karierisme telah mendorong adanya pemisahan antara Allah yang
  memanggil dan individu yang menjawab-Nya. Hal itu mengarahkan kita
  untuk percaya bahwa penampilan lebih penting daripada diri kita
  sehingga apa yang kita lakukan dalam lingkungan gereja tak ubahnya
  dengan pertemuan antara pembeli dan penjual (tempat seperti itu
  disebut pasar) di mana suasana itu lebih penting dibandingkan posisi
  kita di hadapan Allah.

  Karierisme akan memberikan rasa percaya diri pada kita. Oleh karena
  itu, kita perlu gemetar dan berseru untuk pengampunan. Hal seperti
  itu tidak ada dalam silabus para profesional, padahal Paulus sendiri
  datang ke Korintus dalam kelemahan dan kebodohan. Demikian pula
  Yeremia yang menelan firman Allah dan dari situ ia hanya mengecap
  rasa yang tidak enak. Atau pada Yesus yang mengakhiri hidup-Nya di
  depan umum di atas kayu salib.

  PANGGILAN ADALAH SESUATU YANG KITA DENGAR
  Sebenarnya, hal yang penting dari panggilan digambarkan dalam cerita
  rakyat tentang seorang ayah dan anak laki-lakinya. Mereka melakukan
  perjalanan ke suatu kota yang jauh sedang mereka tidak mempunyai
  peta. Perjalanan itu sangatlah panjang dan tidak mulus, penuh dengan
  bahaya. Jalan-jalan yang ditempuh banyak yang tidak bisa dikenali
  dan sebagian besar sudah tidak berupa jalan lagi.

  Di tengah perjalanan, anak lelakinya bertanya-tanya. Dia ingin
  mengetahui apa gerangan yang ada di balik hutan, jauh di seberang
  tepian? Bisakah dia melintasi dan melihatnya? Ayahnya pun
  mengizinkannya.

  "Tetapi Ayah, bagaimana caranya supaya saya tahu kalau-kalau saya
  telah berjalan terlalu jauh dari engkau? Bagaimana caranya supaya
  saya jangan sampai tersesat?"

  "Setiap menit," kata sang ayah, "Saya akan memanggil namamu dan
  menunggu jawabanmu. Dengarkanlah suaraku, anakku. Di saat engkau
  tidak bisa lagi mendengar suara ayah, engkau akan tahu bahwa engkau
  telah pergi terlalu jauh."

  Pelayanan bukanlah suatu kedudukan, melainkan suatu panggilan. Bukan
  ijazah profesional yang diperlukan, melainkan kemampuan mendengar
  dan memerhatikan panggilan Allah. Cara yang sederhana ialah dengan
  cukup menyempatkan diri untuk mendekat dan mendengar suara-Nya.
  Keteguhan dalam melaksanakan tugas-tugas kita yang tidak terpikul
  hanya bisa diperoleh karena uluran tangan-Nya yang tidak pernah
  berakhir.

  PANGGILAN AKAN TETAP KUAT
  Bersatu dalam panggilan Allah merupakan sesuatu yang kejam yang
  tidak bisa dibantah. Dia memanggil, tetapi Dia tidak bisa dipanggil.
  Hanya Dialah yang melakukan panggilan itu sedangkan kitalah yang
  menjawabnya.

  "Engkau tidak memilih-Ku; Akulah yang memilih kamu," kata Yesus
  kepada murid-murid-Nya. Panggilan Allah ini selalu mengandung
  paksaan. Bahkan sering terkesan kejam.

  Setelah pukulan yang membutakan di jalanan menuju Damaskus, pada
  akhirnya Paulus berkata dengan jelas, "Celakalah aku ini jika tidak
  mengkhotbahkan Injil!" Yeremia meratap bahwa Allah telah memaksakan
  panggilan yang dia terima dan tidak pernah membiarkannya untuk
  ingkar, tidak peduli seberapa parah luka yang terjadi, "Jika aku
  bisa berkata, `aku tidak akan menyebutkan-Nya atau berbicara lagi
  dalam nama-Nya,` kata-kata-Nya seperti api dalam hatiku, api yang
  berada dalam tulang-tulangku. Aku lelah membawa-Nya; sesungguhnya
  aku tidak mampu."

  Spurgeon melihat penawaran secara ilahi ini sebagai tanda yang jelas
  dari suatu panggilan. Maka, dia menasihati orang muda untuk
  mempertimbangkan hal ini dan tidak mengambil jalur pelayanan jika
  mereka merasa bisa melakukan suatu hal yang lain.

  Berkali-kali kami berusaha untuk menyederhanakan panggilan itu
  dengan menyamakannya dengan sebuah posisi staf gereja atau dalam
  organisasi keagamaan. Tetapi panggilan itu selalu mengalahkan segala
  sesuatu yang kami lakukan dengan paksa untuk mendapatkan uang.
  Bahkan jika perlu kami juga melakukan itu di dalam gereja. Kami
  meminta pembedaan yang sama untuk dicatat dalam permohonan yang
  dimintakan pada kami. Panggilan kami di dalam Kristus adalah satu
  hal, sedangkan apa yang kami lakukan adalah dalam kedudukan yang
  benar-benar berbeda.

  Panggilan kami adalah panggilan untuk melayani Kristus. Sementara
  itu, kami juga memiliki kedudukan untuk melakukan pekerjaan
  memperoleh jalan dalam dunia ini. Merupakan panggilan juga bagi kami
  untuk memaksakan kedudukan pelayanan agar bisa masuk dalam panggilan
  kami. Berbahagialah lelaki atau perempuan yang panggilan dan
  kedudukannya saling berdekatan. Tapi tidak akan ada bencana jika
  mereka tidak melakukannya.

  Jika esok pagi saya dipecat dari pekerjaan saya sebagai hamba Tuhan
  di New Providence Presbyterian Church dan saya terpaksa mencari
  pekerjaan di Stasiun SUNOCO itu, panggilan saya akan tetap melekat.
  Saya akan tetap terpanggil untuk berkhotbah. Tidak ada yang dapat
  mengubah panggilan tersebut dengan nyata, kecuali ada situasi yang
  bisa melarutkan saya. Sebagaimana ditunjukkan oleh Ralph Turnbull,
  saya bisa berkhotbah seperti hamba Tuhan yang dibayar oleh gereja,
  tetapi saya tidak dibayar untuk berkhotbah. Saya diberi izin
  sehingga saya bisa lebih bebas berkhotbah.

  Berkali-kali kami mencoba menyederhanakan panggilan itu dengan
  menjadikannya sebagai rohaniwan. Pendidikan seminari (teologia)
  tidaklah membuat seseorang memenuhi syarat untuk ditahbiskan menjadi
  pendeta, tidak juga dengan bertambahnya penguatan oleh tes-tes
  psikologis dan pengalaman kerja. Tentu saja, hal-hal itu bisa
  berharga bahkan perlu bagi pelayanan. Tetapi tak satu pun dari
  persyaratan itu, baik secara terpisah ataupun seluruhnya, bisa
  memenuhi syarat.

  Tidak ada kantor atau posisi yang bisa disamakan dengan panggilan.
  Tidak pula ijazah, pendidikan, ataupun tes yang bisa mempermudahnya.
  Pelatihan, pengalaman, ataupun sukses dalam bergereja tidak akan
  bisa mengambil alihnya.

  "Patterson, coba pikirkan apa yang sedang Anda lakukan saat ini?"
  Jawaban saya adalah mencoba untuk mengikuti panggilan tersebut.

  Hanya panggilan yang bisa memberi kepuasan. Yang lain hanya sekadar
  catatan kaki dan komentar.

  *) Ben Patterson adalah pendeta New Providence (New Jersey)
  Presbyterian Church.

  Sumber disunting dari:
  Judul buletin: Kepemimpinan, Volume 18 Tahun V
  Penulis      : Ben Patterson
  Penerbit     : Yayasan Andi, Yogyakarta 1990
  Halaman      : 46--50

                     ========== TELAGA ==========

  Berikut ini merupakan "sharing" dari Sdr. Ing Ciek (I) dan Ibu Wulan
  (W) tentang pergumulan mereka sebelum masuk seminari dan menjadi
  hamba Tuhan. Perbincangan ini juga menghadirkan narasumber Pdt. Dr.
  Paul Gunadi Ph.D (P). Silakan menyimak, semoga menjadi berkat.

                     MENAATI PANGGILAN TUHAN (II)

  T   : Masih adakah keraguan setelah setahun menenangkan diri dan
        merasa mantap masuk Seminari?

  J(W): Kenyataannya ada beberapa kali, yaitu godaan dari luar berupa
        tantangan, dan dari dalam yaitu pergumulan dari dalam diri
        sendiri. Godaan dari luar beberapa kali memang ada terutama
        pada masa setelah berhenti bekerja. Tawaran atau panggilan
        untuk kembali bekerja dari perusahaan tempat bekerja dulu atau
        tempat-tempat lainnya yang menjadi saingan masih sering
        menelepon dan menanyakan apa masih betah di Seminari. Tidak
        ada keinginan untuk kembali dan lain sebagainya dengan segala
        macam iming-imingnya. Saya memang mau menjalani jalur ini dan
        masih teguh sekali. Pernah setahun setelah suami saya
        meninggal, mungkin dengan maksud baik, beberapa famili dan
        rekan kerja memikirkan bagaimana keadaan finansial saya. Ada
        dua orang yang khusus menawari saya bekerja kembali dengan
        gaji yang amat besar. Itu sempat membuat saya berpikir. Tapi
        tantangan itu tidak hebat dan tidak membuat saya mengundurkan
        diri. Sebenarnya, yang lebih berat adalah tantangan dalam diri
        sendiri. Pernah beberapa kali, ketika saya masih kuliah di
        STRRI ada masa-masa ketika selain banyak tugas yang susah
        dilakukan, juga ada masalah-masalah. Biasanya pada masa-masa
        seperti itu saya mempertanyakan apakah Tuhan benar-benar
        memanggil saya atau tidak. Saya sampai konsultasi dengan
        beberapa dosen hingga saya dikuatkan lagi. Itu pergumulan
        sewaktu kuliah di Seminari. Kedua, beberapa tahun yang lalu
        ketika saudara saya masuk rumah sakit, saya merasa malu sekali
        karena tidak bisa membantu banyak dibandingkan dengan kakak
        saya ataupun yang lain-lain. Kalau mau jujur dikatakan, hal
        ini beda sekali waktu saya masih bekerja, saya bisa membantu
        banyak dan jujur, saya juga menikmati dihormati, dihargai.
        Tapi waktu saya tidak punya apa-apa "untuk bisa membantu",
        nyata sekali perbedaan sikap mereka terhadap kakak saya yang
        bisa memberi banyak ketimbang terhadap saya yang tidak bisa.
        Di situ saya bergumul berat sekali. Tapi saya tidak sampai
        mengundurkan diri. Yang terakhir berkaitan dengan kepergian
        suami saya secara tiba-tiba. Banyak pergumulan lain yang
        membuat saya benar-benar mempertanyakan apakah sungguh-sungguh
        Tuhan memanggil saya ataukah saya yang memaksa diri untuk
        menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan. Bersyukur Tuhan
        menyediakan orang-orang yang menguatkan saya.
--------
    T : Dalam hal bergumul, keraguan itu juga sering dialami oleh
        mereka yang baru lulus dari studi dan melanjutkan ke dunia
        pekerjaan. Sering kali mereka merasakan seolah-olah sekolahnya
        salah sehingga sulit mencari pekerjaan. Bagaimana menghadapi
        hal-hal yang tiba-tiba muncul dan sebenarnya tidak siap
        dihadapi ini?

  J(P): Memang sampai titik tertentu, sebetulnya setiap kita mengalami
        atau harus menanyakan pertanyaan yang sama, yaitu apakah saya
        telah mengambil keputusan yang tepat. Kalau kita langsung
        mendapatkan hasil yang kita inginkan, sudah tentu kita tidak
        lagi mempertanyakan. Biasanya pertanyaan muncul tatkala hasil
        yang kita harapkan tidak terjadi. Dalam kasus menjadi hamba
        Tuhan, memang ada sedikit beban tambahan, yaitu sudah bekerja
        setelah sekolah, sekarang mau menjadi hamba Tuhan berarti
        harus masuk sekolah teologia kembali. Ini berarti pada masa
        menyiapkan diri menjadi hamba Tuhan, tidak bisa tidak, harus
        melepaskan pekerjaan dan tidak ada pekerjaan. Ini berlangsung
        4,5-5 tahun. Masalahnya, bagaimana mencukupi kebutuhan
        keluarga pada masa studi ini ketika sungguh-sungguh memang
        tidak ada penghasilan?

   (I): Boleh dikatakan bergantung kepada iman dan pemeliharaan Tuhan,
        seperti ketika mencari sponsor dan hasilnya tidak begitu
        menggembirakan. Namun, ada satu hal yang memberi kekuatan,
        yaitu walaupun dalam perhitungan secara manusia, pemasukannya
        sangat beda sekali, tetapi setelah dijalani ternyata cukup dan
        kalau ada keperluan mendadak pasti ada penyediaan yang
        mendadak pula. Itu yang terjadi, ada satu pemeliharaan yang
        tidak terlihat pada saat itu juga.
--------
    T : Selain berkonsultasi dengan orang lain mengenai pergumulan
        tentang keraguan dan sebagainya, apakah ada hal lainnya?

  J(W): Pergumulan ternyata tidak semakin reda. Kalau mau jujur,
        sampai menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan pun masih tersisa
        keraguan. Pendeta Josualli mengatakan bahwa kita-kita ini
        sebenarnya sering kali tidak terbuka di hadapan Tuhan, sering
        kali curang. Maksudnya, setiap orang yang mau memilih
        pekerjaan, misalnya, beberapa tawaran kita sortir menjadi
        sekian. Dari sekian ini, akhirnya kita bekerja di satu tempat.
        Bukankah tetap ada kemungkinan salah, walaupun perkiraan kita
        tepat dan sesuai dengan harapan kita? Dari sekian banyak
        peristiwa seperti itu, toh tidak membuat orang jera untuk
        tidak bekerja, tetap melamar dan tetap bekerja, kalau salah
        bisa dicoba lagi. Tapi mengapa ketika kita menyerahkan diri
        menjadi hamba Tuhan, untuk masuk ke seminari, perkiraan
        seperti itu beribu-ribu kali lipat dibandingkan waktu kita
        bekerja yang biasa? Pada saat itu kita benar-benar tidak fair
        di hadapan Tuhan.
--------
    T : Apakah ada hal lain yang bisa dilakukan oleh seseorang dalam
        menghadapi pergumulan seperti ini, selain berkonsultasi dengan
        orang lain dan dia sendiri juga tentunya berdoa di dalam
        pergumulannya?

  J(P): Sebetulnya yang ingin Tuhan lakukan dalam hidup kita adalah
        melenyapkan ego kita. Itu adalah proyek Tuhan yang pertama dan
        yang terutama dalam hidup kita. Dia mau mengikis habis kita
        sehingga benar-benar Dialah yang menempati seluruh sudut
        kehidupan kita dan kita benar-benar menjadi hamba dalam
        pengertian yang sesungguhnya. Seorang hamba kehilangan haknya,
        kehilangan hidupnya, mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan. Dia
        menginginkan pengabdian total dan untuk membayar pengabdian
        total itu kita memang harus kehilangan diri kita. Tuhan memang
        menyediakan atau mengizinkan kita melewati kesulitan,
        kebingungan-kebingungan yang memang seolah-olah pada tahap
        pertama itu menggoyahkan iman kita. Tapi sesungguhnya, tujuan
        Tuhan bukan menjatuhkan, melainkan menguatkan kita, dalam
        pengertian kita lebih benar-benar bisa menanggalkan diri dan
        sepenuhnya bersandar pada Tuhan. Tuhan benar-benar akan ambil
        semua topangan sehingga kita tidak lagi memiliki topangan.
        Ketika tidak ada lagi topangan, kita hanya bisa lari kepada
        Tuhan. Jadi, dalam masa-masa pergumulan itu kita memang mesti
        sepenuhnya bersandar kepada-Nya, bahwa Dialah Allah, yang
        berkuasa, yang akan mencukupi kebutuhan kita meskipun kita
        tidak mengerti bagaimana Dia akan melakukannya.
--------
    T : Bagaimana kalau keraguan itu terjadi setelah seseorang menjadi
        pendeta, menanggalkan jubahnya sebagai pendeta dan bekerja
        seperti biasa, namun pada suatu saat kembali menjadi pendeta
        lagi?

  J(P): Mungkin saja itu adalah bagian dari rencana Tuhan untuknya.
        Tapi selain itu, kita juga melihatnya dari sudut manusia.
        Keseringan, kita akhirnya kehilangan perspektif dalam
        mengikuti Tuhan atau iman kita melemah. Karena iman melemah,
        godaan dan tawaran muncul. Seolah-olah itu adalah jalan keluar
        dari kesulitan yang sedang kita hadapi. Jadi, mungkin inilah
        faktor penyebab yang lebih umum mengapa sebagian hamba Tuhan
        pada akhirnya meninggalkan panggilannya dan masuk lagi menjadi
        seorang awam.

Sumber:
 [[Sajian di atas, kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. #147B
   yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan.
   -- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat
      e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)xc.org>
                                atau: < TELAGA(at)sabda.org >      ]]
 ==> http://www.telaga.org/transkrip.php?menaati_panggilan_tuhan_2.htm

                      ========== INFO ==========

                        DATING WORKSHOP (LK-3)

  Sebelum memasuki kehidupan pernikahan, ada beberapa faktor yang jauh
  lebih penting dan berguna untuk mewujudkan suatu pernikahan yang
  bertumbuh dan sehat. Beberapa faktor tersebut di antaranya: memahami
  tujuan (visi) dan hakikat pernikahan (jangan coba-coba menikah
  dengan seseorang yang tidak jelas visi pernikahannya, itu adalah
  tindakan "bunuh diri" terhadap pernikahan Anda sendiri), memahami
  moralitas dan komitmen pernikahan, mempelajari pohon keluarga calon
  pasangan Anda dan juga persiapan bagaimana menjalankan peran terbaik
  sebagai suami/istri dan menjadi ayah/ibu.

  Jika Anda rindu mengalami hal ini, hadirilah DATING WORKSHOP yang
  diselenggarakan Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK-3) pada:

  Hari/tanggal: Sabtu dan Minggu, 14 dan 15 Oktober 2006
  Tempat      : Kantor LK3, Gedung Mutiara Lt. 3 Jl. Kiai Tapa 99-A,
                Grogol, (seberang terminal Grogol, diapit Bank Mandiri
                dan bengkel/klinik Trisakti )
  Fasilitator : Pdt. Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha
                (Konselor, Mediator, dan Motivator Keluarga)
  Biaya       : termasuk lunch, coffee, dan snack
                sebelum 10 Oktober 2006: Rp. 175.000/orang
                                         Rp. 300.000/pasangan
                sesudah 10 Oktober 2006: Rp. 225.000/orang
                                         Rp. 400.000/pasangan
                Tes kepribadian (optional): Rp. 75.000/orang
                                            Rp. 100.000/pasangan

  Acara ini terbuka bagi Anda yang sudah ataupun belum mempunyai
  pacar/tunangan dan sedang menggumulinya dihadapan Tuhan, juga bagi
  remaja/pemuda yang ingin memperlengkapi diri dengan pengenalan yang
  komprehensif tentang makna berpacaran dan pernikahan kristiani.

  Pendaftaran melalui Rekening BCA: MSH. Lesminingtyas AC: 5730158001
  (mohon tanda bukti di fax ke 021-5644129)

  Bagi 30 pendaftar pertama sebelum 1 Oktober 2006, mendapatkan CD
  LENGKAP P. Point Pembelajaran Konseling dan Parenting LK3 (tahun
  2004-2006) dan semua peserta akan mendapatkan buku pedoman
  "Menjalani Masa Pacaran dengan Sukses".

  Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

  LAYANAN KONSELING KELUARGA DAN KARIER (LK-3)
  Jl. Kiai Tapa 99-A, Telp. 021-5608477; Fax 021-5644129
  Via SMS: 021-68246195, 0819.3212.3738 (Mbak Ning);
           0817.0907.407 (Roswitha)
  Situs: ==>  www.lk3web.info /
  Email: <konseling_lk3(at)cbn.net.id>
  [Materi Workshop: Tersedia bagi mereka yang menginginkan.]

  
============================== e-KONSEL ==============================
                         STAF REDAKSI e-Konsel
                           Ratri, Evie, Raka
                    PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                         Yayasan Lembaga SABDA
                     INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                          Sistem Network I-KAN
                      Copyright(c) 2006 oleh YLSA
                      http://www.sabda.org/ylsa/
                       http://katalog.sabda.org/
                     Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                 No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
======================================================================
Anda punya masalah/perlu konseling?        masalah-konsel(at)sabda.org
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
dapat dikirimkan ke alamat:               owner-i-kan-konsel(at)xc.org
  Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
  Berhenti    : unsubscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
  Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
  ARSIP       : http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
  Situs C3I   : http://c3i.sabda.org/
======================================================================
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org