|
Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
https://sabda.org/publikasi/e-konsel/53 |
|
e-Konsel edisi 53 (16-12-2003)
|
|
><> Edisi (053) -- 15 Desember 2003 <><
e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Daftar Isi:
- Pengantar : Makna Natal
- Renungan : Alangkah Indahnya ...
- Cakrawala : Kegunaan Baru Pohon Natal
- Bimbingan Alkitabiah : Teladan Tokoh-tokoh Natal
- Tips : Membuat Rekaman Natal
- Kesaksian : Kado Ulang Tahun untuk Yesus
- Info : Program Intensif 2004 STTRII
- Surat : Perlu Materi Konseling
*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*
-*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-
Bulan Desember adalah bulan yang istimewa bagi kita orang-orang
Kristen, karena pada bulan ini kita merayakan Natal, hari peringatan
akan kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Untuk menyambut hari yang
istimewa ini berbagai persiapan dilakukan. Namun sayang sekali,
persiapan Natal sering diartikan sebagai pesta yang meriah, hadiah-
hadiah untuk orang-orang yang dikasihi, baju-baju baru, pohon natal
yang dihiasi dengan lampu-lampu yang berwarna-warni dan kaset-kaset
yang berisi lagu-lagu Natal untuk memeriahkan perayaan Natal. Oleh
karena itu tidak heran kalau para pemilik toko di berbagai pusat
perbelanjaan adalah kelompok orang yang paling antusias dalam
mempersiapkan Natal. Bagaimana dengan Anda semua, persiapan apakah
yang Anda lakukan untuk menyambut Natal tahun ini?
Dalam peringatan perayaan Natal tahun ini, redaksi e-Konsel telah
menyiapkan renungan Natal yang kami harap dapat mengajak para
pembaca untuk merenungkan sejenak arti dari damai yang dibawa oleh
Natal. Selain itu ada juga artikel dan tips yang kami sajikan untuk
dijadikan ide dalam merayakan Natal yang berkesan. Tidak
ketinggalan kami juga menyajikan kesaksian dan pelajaran tentang
tokoh-tokoh Natal dalam Alkitab agar kita dapat memaknai Natal
dengan lebih dalam.
Tanpa perlu basa-basi lagi, kepada para pelanggan e-Konsel kami
segenap tim redaksi e-Konsel ingin juga mengucapkan:
"SELAMAT NATAL 2003 dan SELAMAT TAHUN BARU 2004"
Sampai bertemu di tahun 2004!
Redaksi
*RENUNGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* RENUNGAN*
-*- ALANGKAH INDAHNYA ... -*-
Sudah beberapa hari bukit-bukit di pedalaman Perancis itu menjadi
ajang pertempuran. Perang Dunia ke-2 sedang berkecamuk di tengah
musim dingin yang menusuk. Pasukan Amerika sedang berhadapan
langsung dengan pasukan Jerman. Pada malam itu pasukan kedua belah
pihak tetap siaga di parit penjagaan mereka masing-masing. Jarak
antara kedua pasukan musuh itu hanya beberapa puluh meter saja. Rasa
tegang dan lelah mencekam mereka.
Tiba-tiba kesunyian malam itu pecah. Ada suara seseorang sayup-sayup
mengumandangkan irama "Malam Kudus". Para prajurit itu tertegun.
Mereka saling memandang dengan rasa heran. Betul! Ini malam Natal!
Hari ini tanggal 24 Desember! Lalu prajurit-prajurit itu pun mulai
ikut menyanyi. Beberapa prajurit Amerika berdiri dan keluar dari
parit. Disusul pula oleh beberapa prajurit Jerman. Mereka pun saling
berangkulan. Tentara Amerika bernyanyi "Silent Night, Holy Night";
tentara Jerman bernyanyi "Stille Nacht, Heilige Nacht". Rasa haru
dan gembira langsung memenuhi hati mereka. Mereka mengeluarkan
makanan dan saling bertukar cindera mata.
Keesokan harinya tentara dari kedua pasukan yang bermusuhan itu
bermain sepak bola. Sepanjang hari mereka bergembira.
Tetapi setelah itu para prajurit itu terpaksa kembali lagi ke parit
mereka masing-masing. Komandan masing-masing pasukan mendapat
instruksi untuk meneruskan ofensif. Akibatnya pertempuran meletus
lagi. Kedua pasukan itu terpaksa saling tembak lagi. Natal telah
berakhir, damai pun ikut berakhir.
Cerita ini hanya salah satu dari sekian banyak cerita yang ironis
tentang Natal. Ironis karena seringkali dampak Natal hanya
berlangsung dua atau tiga hari saja.
Suasana Natal memang seolah-olah menyulap perasaan kita. Begitu kita
mendengar lagu-lagu Natal yang khidmat dan agung, hati pun terasa
teduh. Kita jadi lebih bermurah hati kepada orang lain. Kita jadi
lebih ramah. Wajah orang pun tampak lebih cerah dan ceria.
Ketegangan dan keberingasan hidup sehari-hari seolah-olah berhenti
dan diganti dengan kedamaian dan keramahan. Hidup terasa menjadi
lebih indah.
Tetapi ketika suasana Natal itu sudah berakhir, berakhir pulalah
segala kedamaian dan kemurahan hati itu. Hidup kembali menjadi kejam
dan keras, serakah dan selingkuh, benci dan dengki. Sesingkat itukah
nyala api kasih Kristus yang bernyala dalam hati kita?
Dalam Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus mengumpamakan kita sebagai
pelita yang ditempatkan di atas kaki dian supaya menerangi seisi
rumah (baca Matius 5:14-16). Cahaya pelita memang tidak gemerlapan
dan tidak mencolok secara istimewa, namun ia menyala secara langgeng
tiap malam sepanjang tahun. Pelita berbeda dari lampu hiasan Natal
yang berkedap-kedip secara mencolok namun hanya menyala beberapa
hari saja setahun.
Agaknya dalam mengikuti Tuhan Yesus kita perlu belajar menjadi
pelita yang walaupun menyala secara bersahaja namun menyala langgeng
sepanjang tahun, ketimbang lampu hiasan Natal yang gemerlapan namun
menyala hanya selama beberapa hari saja.
Dalam 'Surat dari Taize' Bruder Roger menulis, "Mengikuti Kristu |